Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juli 2012

Adzan

Adzan adalah media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap Maha yang Maha Kuasa dan risalah (kenabian) Nabi Muhammad saw. Adzan juga merupakan panggilan shalat kepada umat Islam, yang terus bergema di seluruh dunia lima kali setiap hari. Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan merupakan sebuah fakta yang telah mapan. Indonesia misalnya, sebagai sebuah negara terdiri dari ribuan pulau dan dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

1. Kalimat Penyeru Yang Mengandung “Kekuatan Supranatural”
Ketika azan berkumandang, kaum yang bukan sekedar muslim, tetapi juga beriman, bergegas meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak mereka mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi) mereka bersimpuh, luruh dalam kesyahduan ibadah shalat berjamaah.

2. Asal Mula Yang Menakjubkan:
Pada jaman dulu, Rasulullah Saw. kebingungan untuk menyampaikan saat waktu shalat tiba kepada seluruh umatnya. Maka dicarilah berbagai cara. Ada yang mengusulkan untuk mengibarkan bendera pas waktu shalat itu tiba, ada yang usul untuk menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan bahkan membunyikan lonceng. Tetapi semuanya dianggap kurang pas dan kurang cocok.
Adalah Abdullah bin Zaid yang bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan yang sudah kita ketahui sekarang. Mimpi itu disampaikan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah Saw. Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: ”Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda: ”Segala puji bagimu.”
yang kemudian Rasulullah menyetujuinya untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu untuk menyerukan panggilan shalat.

3. Adzan Senantiasa Ada Saat Peristiwa2 Penting:
Adzan Digunakan islam untuk memanggil Umat untuk Melaksanakan shalat. Selain itu adzan juga dikumandangkan disaat-saat Penting. Ketika lahirnya seorang Bayi, ketika Peristiwa besar.

Peristiwa besar yang dimaksud adalah
-Fathu Makah:
Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah. Lalu Bilal Mengumandangkan Adzan Diatas Ka’bah

-Perebutan kekuasaan Konstatinopel:
Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman, mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur. Lalu beberapa perajurit ottoman masuk kedalam Rampasan terbesar Mereka Sofia, lalu mengumandangkan adzan disana sebagai tanda kemenangan mereka.

4. Adzan Sudah Miliyaran kali Dikumandangkan:
Sejak pertama dikumandangkan sampai saat ini mungkin sudah sekitar 1500 tahunan lebih adzan dikumandangkan. Anggaplah setahun 365 hari. Berarti 1500 tahun x 365 hari= 547500 dan kalikan kembali dengan jumlah umat islam yang terus bertambah tiap tahunnya. Kita anggap umat islam saat ini sekitar 2 miliyar orang dengan persentase 2 milyar umat dengan 2 juta muadzin saja.
Hasilnya = 547500x 2.000.000 = 1.095.000.000.000 dikalikan 5 = 5.475.000.000.000

5. Adzan Ternyata Tidak Pernah Berhenti Berkumandang
Begitu fajar fajar menyingsing di sisi timur Sulawesi, di sekitar 5:30 waktu setempat, maka adzan subuh mulai dikumandangkan. Ribuan Muadzin di kawasan timur Indonesia mulai mengumandangkan tauhid kepada yang Maha Kuasa, dan risalah Muhammad saw.

Proses itu terus berlangsung dan bergerak ke arah barat kepulauan Indonesia. Perbedaan waktu antara timur dan barat pulau-pulau di Indonesia adalah satu jam. Oleh karena itu, satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula sumatra. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India. Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, (Dawn) adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.
Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan. Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan Adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam. Sebelum Adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul. Dan tidak lama setelah waktu Maghrib mencapai Sumatera, maka waktu adzan Isya telah dimulai di Sulawesi! Bila Muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Fajar, maka muadzin di Afrika mengumandangkan adzan untuk Isya.

Maa syaa Allah Laa quwwata Illa Billaah

Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=416668978384727&set=a.149713835080244.48352.100001248845371&type=1

Minggu, 18 Maret 2012

Kisah Nyata : orang Kristen yang masuk Islam dan sekarang menjadi santri di PP al-anwar Sarang

"Sampai matipun aku tidak akan pernah pindah agama!!!",

kata-kata itu sempat keluar dari mulutku. Karena memang aku tidak mau pindah agama, sebab awalnya agamaku adalah kristen protestan. Aku terlahir dalam keluarga kristen, aku tumbuh dewasa dalam suasana kristiani. Aku pernah menjadi ketua pemuda-remaja kristen di daerahku, aku juga pernah menjabat sebagai ketua mahasiswa kristen dikampusku. Bahkan aku pernah berkeinginan menjadi seorang pendeta. Sebagai aktivis gereja, aku juga menjadi penggerak atau motorik dalam perkembangan iman kristen di gerejaku, tak heran jika aku berkeinginan menjadi seorang pendeta. Yah... menjadi pendeta adalah cita-citaku, impian yang aku inginkan dari dulu. Dan seakan tubuh kristen itu sudah melekat dalam diriku. Berbagai seminar dan workshop tentang kekristenan sering aku ikuti. Semakin hari aku semakin ingin mengepakkan sayapku di bidang pelayanan gereja, mulai dari pembawa/penyampai khotbah dalam ibadah pemuda-remaja kristen, pemain musik dalam ibadah, pemimpin ibadah sampai menjadi pengurus dalam beberapa organisasi kristen. Entah bagaimana awalnya, yang pasti dulu semua itu aku percayai semata-mata hanya berasal dari tuhanku, yesus kristus.



Aku benar-benar percaya bahwa yesus-lah tuhanku, dan tidak ada tuhan selain yesus kristus. Itulah aku, dan aku bangga menyebut diriku sebagai umat kristen. Begitu banyak pengalaman suka duka dalam pelayananku, dan semua itu aku yakini menjadi jalan hidupku yang terakhir, jalan hidup dalam memeluk agama kristen. Apapun resikonya dan apapun kondisinya, aku tetap ingin menjadi orang kristen. Orang kristen yang bukan biasa-biasa saja, orang kristen yang bukan hanya KTP saja. Aku ingin menjadi tombak dalam perkembangan umat kristen, dalam pergerakan misionaris kristenisasi, itulah harapanku. Sering aku marah-marah kepada anggota keluargaku termasuk kepada orangtuaku sendiri jika mereka tidak berangkat ke gereja, aku sering memberikan motivasi kepada teman-teman kristen-ku dengan memberikan doktrin kepada mereka tentang mengapa kita harus datang ke gereja dan mengapa kita harus percaya kepada yesus kristus, bahkan aku menjadi tempat curhat dan tempat bertanya teman-temanku tentang beberapa hal dalam kekristenan. Dengan bermodalkan keyakinan, aku lakukan semua itu semata-mata karena imanku kepada yesus kristus. Dengan pelajaran saling mengasihi adalah sebagai modal dasar untuk terus bekerja melayani yesus.

Saling mengasihi, itulah yang aku pegang. Entah bagaimanapun sakitnya dan apapun resikonya, aku ingin terus melayani yesus kristus. Disamping ada bakat seni dalam diriku, tak jarang dalam suatu ibadah seringnya aku mengiringi ibadah tersebut dengan beberapa alat musik seperti keyboard, gitar dan drum. Karena ibadah tanpa nyanyian dan iringan musik seperti masak tanpa bumbu, hambar dan tak berasa apapun bagiku. "Only jesus in my heart, no matter how or what, ‘coz I just wanna live forjesus christ", itulah slogan atau motto dalam hidupku dulu. Menjadi seorang pemuda kristen yang militan dan kuat dalam segala cobaan adalah bagian dari keinginanku, seakan membuat jiwa kristen itu terus tumbuh dalam diriku. Tidak mudah memang mempertahankan kepercayaan seseorang yang telah diberikan kepadaku untuk mengemban tugas-tugas tersebut, namun aku sendiri juga tidak pernah ada niatan untuk mengundurkan diri meski terkadang timbul konflik dalam organisasi yang aku pegang. Karena aku menjalankan organisasi tersebut atas dasar kasih, dan dengan kasih tersebut tumbuh rasa ikhlas yang membuat semuanya menjadi mudah dan terlalu indah untuk ditinggalkan. "Bangga" itulah yang aku rasakan, bisa menjadi pengurus inti dan penggerak di berbagai bidang keagamaan khususnya agama kristen.
ISYAROH DARI ALLAH
Seiring berjalannya waktu, hingga aku kuliah di salah satu universitas di Malang Jawa Timur, membuat rasa ingin tahu tentang kristen itu semakin kuat. Sekuat keinginanku menjadi ujung tombak pelayanan rohani kristen, yang pada akhirnya aku ingin menjadi umat pemenang (sebutan bagi orang kristen yang percaya akan yesus kristus seutuhnya). Dengan rasa ingin tahu yang kuat, membuat aku semakin ingin mempelajari apa sih sebenarnya kristen itu. Namun disaat aku ingin mendalami tentang kristen dan ingin serius mempelajari Kristen, disaat itu pula aku mengalami isaroh dari Allah
Tahun 2005, adalah tahun dimana aku mengalami sesuatu yang sangat sulit dimengerti. Ketika itu aku tidur, tiba-tiba terdengar suara adzan yang berkumandang di telingaku. Sangat keras, seperti sebuah speaker besar tepat berada ditelingaku, sehingga membuat hati dan tubuhku bergetar mendengarnya. Suara adzan, suara yang seringkali aku dengar dari mushola atau masjid di sekitar rumahku. Suara adzan yang sama sekali tidak aku kenal dan tidak aku mengerti, tetapi pada saat mendengarkannya, seakan hatikupun ikut mengumandangkannya. Ini bukan mimpi saat tidur, tapi benar-benar nyata yang aku alami. Karena setelah aku mendengar suara adzan tersebut, aku langsung terbangun dan suara adzan tersebut masih berkumandang ditelingaku. Dalam penghilatanku seakan-akan tidak percaya, karena waktu itu waktu menunjukkan tengah malam, mungkin sekitar jam 3 malam. Yang setahuku, jam itu tidak ada adzan yang dikumandangkan. Semakin aku menolak untuk mendengarkannya, suara adzan tersebut malah semakin keras terdengar. Hatiku ingin terus mendengarkannya, namun tubuh dan pikiranku seakan menolaknya. Sepertinya hatiku memiliki jalan pemikirannya sendiri. Karena saking takutnya, tubuhku mulai gemetaran mendengarkannya. Dan aku sendiri tidak tahu, kenapa hatiku sepertinya bisa untuk mengumandangkan dan mengikuti suara adzan tersebut. Malam itu adalah malam yang sangat aneh bagiku, suara adzan yang berkumandang benar-benar mengoyakkan jalan pikiranku. Setelah kejadian itu, aku berusaha untuk melupakannya. Karena aku menyadari, aku bukan orang yang beragama Islam, aku adalah orang yang beragama kristen jadi sudah sewajarnya jika aku berusaha untuk melupakan kejadian tersebut. Tak mudah memang untuk melupakannya, karena seakan aku terus dihantui kejadian malam itu. Dengan berbagai kegiatan dan ibadah kristen, aku berusaha untuk melupakan kejadian tersebut
Tahun 2006, tahun ini adalah tahun yang sungguh membuat aku semakin merasa bingung. Suatu malam, aku tertidur seperti biasa. Sepulang mengajar komputer di salah satu SMK di tempatku, aku merasa sangat lelah sekali karena ada pekerjaan yang sangat menumpuk hingga membuat aku harus lembur. Sekitar jam 10 malam aku tiba di rumah, waktu itu aku langsung persiapan tidur, seperti bersih-bersih badan dan berdoa sebelum tidur, berdoa dengan cara kristen tentunya. Akupun tertidur, dalam tidurku aku bermimpi. Lagi-lagi ini adalah kejadian yang aneh. Seakan-akan kedua tanganku ada yang memegang, aku merasa keluar dari tubuhku sendiri. Akupun bisa melihat tubuhku sendiri, aku bisa menembus genting rumah dan aku pun bisa melihat-lihat keadaan disekitar rumahku pada malam itu. Sepi dan dingin, itulah yang aku rasakan. Semakin lama semakin aku semakin menuju keatas, tanpa kusadari ternyata aku menuju keatas langit. Bahkan terasa sesak didada karena bertabrakan dengan langit malam itu, dan seakan nafaskupun sedikit tersengal karena berada di atmosfir yang baru aku rasakan. Dalam hitungan beberapa detik, ternyata aku sudah berada diluar angkasa. Tiba-tiba terdengar suara yang merdu dan lantang, seraya berkata "Inilah matahari, inilah bulan, inilah planet, inilah bintang dan lihatlah kebawah, itulah bumi...", dan memang benar, yang dihadapanku memang semua yang disebutkan tersebut. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana matahari, bulan, planet-planet, bintang dan bumi. Lalu muncul pertanyaan dalam hatiku, kenapa bumi ada dibawah. Ingin rasanya memalingkan kepalaku, dan ingin melihat siapa yang memiliki suara indah dan merdu itu, namun aku seperti terkunci, tidak bisa bergerak kemana-mana. Yang aku lihat hanyalah sinar yang sangat terlihat terang dari belakangku. Setelah itu, terdengar suara lagi, "Akulah Tuhanmu, Aku adalah satu, Tuhan Yang Maha Esa...". Sungguh sangat sulit dimengerti memang, meski sebenarnya aku sangat sulit untuk menggambarkan bagaimana suasana malam itu
Kemudian aku dibawa turun, dan tangankupun dipegang lagi. Saat melintasi langit, aku pikir langsung menuju ke tempatku semula atau kembali ke tubuhku, namun ternyata tidak, aku diajak terbang ke arah barat. Ternyata aku sudah berada di atas Mekkah hanya dalam hitungan beberapa detik saja, dari atas langit kulihat beribu-ribu orang mengitari sebuah bangunan kotak hitam, yang sekarang aku sudah tahu bangunan itu adalah Ka'bah. Aku benar-benar diatas orang-orang tersebut, mereka seperti semut karena begitu banyaknya. Karena penasaran, dalam hatiku, aku ingin sekali turun ke bawah, namun langsung ada suara lagi berkata : "Sekali-kali kamu tidak boleh menyentuh tanah disitu, kamu hanya boleh menyentuh kepala orang-orang disitu", kemudian aku mengangguk. Selang beberapa detik setelah aku mengangguk, aku sudah berada di atas kepala orang-orang yang dibawahku tadi. Kemudian aku berjalan mengitari Ka'bah dengan berjalan diatas kepala orang-orang tersebut. Dalam mimpiku, aku masih agak bingung juga karena pada saat aku berjalan di atas kepala orang-orang tersebut dalam pikiranku pasti akan terjatuh tapi ternyata tidak, yang ada malah orang-orang tersebut mempersilahkan kepalanya untuk kuinjak. Sepertinya mereka membentuk sebuah barisan agar aku bisa melewati diatas kepalanya dan sepertinya mereka sudah tahu kalau aku akan datang. Karena sebagian ada yang senyum kepadaku, ada yang melihatku dengan tatapan tajam, ada yang melihatku dengan tatapan lembut. Kemudian aku mengitari Ka'bah. Karena penasaran, aku ingin masuk ke dalam Ka'bah. Aku tidak bicara apa-apa, tapi hatiku yang berbicara. Tiba-tiba, pintu di Ka'bah tersebut terbuka pintunya ke arah kiri dan kanan secara perlahan-lahan yang sebenarnya aku tidak tahu bagaimana bentuk dan letak posisi pintu Ka'bah yang sebenarnya. Dan dalam hitung detik aku sudah berada di dalam Kabah. Yang aku lihat adalah kaligrafi yang mengelilingi tembok yang sekarang aku sudah tahu kaligrafi itu adalah kaligrafi tulisan arab. Tulisannya besar dan bercahaya, berwarna emas terang benderang. Yang keindahannya tak dapat ku sampaikan dengan tulisan. Aku terkagum-kagum melihat keindahan tulisan tersebut. Kemudian aku melihat-lihat di sekelilingku, ternyata ada yang lebih menarik lagi. Ada tumpukan mutiara yang berbentuk seperti gunung, ada tumpukan emas batangan yang berjejer rapi dan menggunung, ada setumpuk perhiasan yang cahayanya terang benderang yang bentuknya seperti gunung juga, kemudian ada kursi emasnya juga tapi aku tidak tahu kursi apa itu. Tanpa kusadari, ternyata lantai yang aku injak sangatlah berbeda dengan lantai-lantai yang biasa. Lantainya benar-benar berkilau bak mutiara yang cahayanya tak bisa terbayangkan banyaknya. Sebenarnya aku sulit mengutarakan keindahan yang terjadi pada waktu itu, namun aku ingin menceritakan semampuku dalam mengingat kejadian tersebut. Tak lama kemudian aku terbangun dari tempat tidur. Ku lihat jam sekitar 02.00 dini hari. Aku terus terbayang-bayang akan mimpi tersebut, apakah artinya, adakah petunjuk di dalam mimpi tersebut, gerangan apakah yang berbicara dalam mimpiku tadi, begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku. Entah mimpi atau bukan, yang pasti kejadian ini benar-benar seperti nyata. Sebenarnya masih ada banyak lagi kejadian yang aku alami pada waktu mimpi ini. Tapi yang pasti secara garis besar, inilah yang aku alami
Tahun 2008 - 2009, adalah tahun yang semakin memberikan titik terang, salah satunya adalah dalam mimpiku aku selalu di datangi seorang lelaki tua, berjenggot, tinggi besar, hidung mancung, memakai baju putih seperti jubah, memakai sorban di kepalanya serta membawa tasbih. Dari kejadian ini aku terus berfikir, kenapa sosok orang tua tersebut sering muncul dalam mimpiku. Dan pakaian yang beliau kenakan juga tidak pernah berubah, selalu sama dengan mimpi-mimpiku sebelumnya. Lelaki tua disini bukan lelaki yang sudah tua renta dengan mamakai tongkat ditangannya, akan tetapi seorang lelaki yang sudah cukup tua dengan badan tegap, tinggi dan berbadan besar. Hidungnya mancung, kulitnya putih bersih, memiliki mata yang indah dan tajam tapi tetap terlihat lembut.
Ada dua mimpi dari beberapa mimpi yang lain yang membuat aku tak bisa melupakannya. Yang pertama suatu malam aku bermimpi berada disebuah tanah lapang yang tak ada seorangpun disekitarku. Yang kulihat hanyalah kabut putih yang membuat samar penglihatanku, seakan sunyi sepi dan tak berpenghuni. Namun saat aku melihat disekeliling tempat tersebut, ada sesosok lelaki tua yang memakai baju putih, dan benar lelaki tua tersebut adalah orang tua yang sering muncul dalam mimpiku. Beliau tersenyum padaku, sambil membawa baju di kedua tangannya. Beliau mendekat padaku, sehingga aku bisa jelas melihat wajahnya dalam mimpi, meskipun begitu aku tidak tahu kenapa kalau di dunia nyata seperti ini aku tidak bisa mendiskripsikan bagaimana wajah dan paras orang tua tersebut. Beliau mendekat padaku, kemudian beliau mengulurkan kedua tangannya. Di masing-masing tangan terdapat baju, disebelah kiri ada baju yang berwarna hitam atau merah kehitaman, aku sudah agak lupa yang pasti baju tersebut berwarna gelap, kemudian tangan yang disebelah kanan terdapat baju yang berwarna putih. Beliau tidak berkata apa-apa, hanya menatapku tajam dan seakan menyuruhku untuk memilih baju tersebut. Kemudian aku sempat berfikir, baju yang mana yang harus aku pilih, beliau tidak menyuruhku untuk memilih yang sebelah kiri ataupun kanan, beliau menyuruhku untuk memilih sendiri dan memberikan kebebasan untukku. Aku sempat memandang wajahnya, begitu lembut dan mententramkan hati, tak bisa kuceritakan bagaimana wajahnya, yang pasti saat melihat wajahnya ada kepuasan yang belum pernah aku dapatkan, ada ketenangan yang kurasakan. Kemudian aku melihat kedua baju tersebut, aku bingung harus pilih yang mana. Kulihat orang tua tersebut menungguku dengan sabar, seakan beliau memberikan kebebasan kepadaku baju mana yang akan pilih dan tak ada rasa kesal atau marah saat beliau menungguku untuk memilih baju yang berada tepat dihadapanku. Entah kenapa, dalam hatiku ingin sekali memilih baju yang berwarna putih. Akhirnya aku mengambil baju yang berwarna putih yang berada ditangan kanan orang tua tersebut. Dan saat kupegang, tiba-tiba baju tersebut menyala. Semakin kupegang semakin menyala, dan timbul rasa penasaran dalam hatiku, kemudian aku langsung mengambil dan memakainya. Ternyata baju putih yang aku pakai tersebut menyala seperti lampu terang benderang dan memancarkan sinar putih hingga menerangi sekitarku. Sekitarku yang awalnya sunyi sepi dan berkabut putih, seketika berubah menjadi terang benderang karena sinar yang muncul dari bajuku. Aku pernah melihat film-film yang menceritakan seorang putri/putra raja yang mendapatkan jubah kebesaran atau mahkota raja dan putri/putra raja tersebut langsung berputar-putar karena bahagia, begitu juga denganku, saat aku memakai baju tersebut aku begitu bahagia, aku langsung berputar-putar sambil tertawa bahagia. Perasaanku waktu itu sulit untuk aku ceritakan, karena ada rasa kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Benar-benar luar biasa, baju yang awalnya biasa-biasa saja yang hanya berwarna putih biasa langsung berubah bercahaya dan memancarkan sinar yang terang benderang, padahal pada waktu itu mimpi, namun aku sendiri sulit mempercayai bahwa itu adalah mimpi karena benar-benar terasa nyata bagiku. Karena terlalu bahagia, aku sampai lupa dengan beliau yang tadi memberikan baju tersebut. Saat kusadari, ternyata beliau sudah tidak ada didepanku. Kulihat disekelilingku namun tak kutemukan sosok beliau lagi. Namun yang aku ingat adalah, saat aku memilih baju warna putih yang berada ditangan kanan beliau, hal terakhir yang aku lihat adalah beliau tersenyum padaku. Senyumnya begitu lembut, seakan lelaki tua itu juga bahagia karena aku memilih baju putih tersebut. Inilah mimpiku yang sebenarnya sulit untuk aku mengerti, karena kejadian di alam mimpi tersebut seakan benar-benar nyata. Namun aku tidak pernah menceritakannya kepada siapapun, karena takut tidak ada yang percaya. Mimpi ini aku alami pada tahun 2008
Mimpi yang kedua adalah aku bermimpi bertemu dengan orang lelaki tua itu lagi dan lelaki tua tersebut masih tetap mengenakan pakaian yang sama, mimpi ini aku alami pada pada tahun 2009. Suatu malam aku bermimpi, aku berada didalam suatu rumah. Rumah tersebut begitu bersih dan indah, meja kursi serta korden penutup cendela tertata dengan rapi, lantai dan temboknya terlihat begitu bersih dan terawat. Akupun melihat-lihat isi rumah tersebut, ternyata seperti rumah pada umumnya. Ada ruang tamu, kamar tidur, dapur, hiasan dinding dan lain sebagainya. Aku berfikir dalam mimpi, rumah siapakah ini? Disaat aku sibuk dengan pertanyaan-pertanyaanku sendiri, terdengar suara ada yang mengetok pintu dari luar. Aku agak takut, kok ada yang mengetok pintu padahal aku tidak tahu rumah siapakah ini. Kemudian dengan mengumpulkan keberanian, akupun berusaha memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut. Dan ternyata yang mengetuk pintu itu adalah lelaki tua yang sering kali muncul dalam mimpiku. Aku langsung tertunduk, dan beliaupun melihatku dengan tatapan yang sangat tajam. Aku seperti masih sulit untuk mempersilahkan beliau masuk, namun beliau begitu sabar menunggu didepan pintu sambil berdiri. Aku seperti sulit untuk mempersilahkan beliau untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian aku beranikan diri untuk memandang wajahnya kembali, dan aku tak bisa berkutik sedikitpun saat aku memandang wajahnya. Mungkin aku benar-benar terpesona memandang wajahnya, karena wajahnya benar-benar seperti lembut dan enak dipandang. Begitu halus dan bersih, wajahnya putih bersih, kulitnya begitu indah, pakaian yang beliau pakai begitu halus dan indah, putih bersih itu yang terlihat. Entah seperti apa aku harus menceritakan bagaimana sosok beliau, karena benar-benar aku tak bisa menceritakan secara gamblang dan detail. Karena apabila dilihat dengan jelas, ternyata kulit dan pakaian yang beliau pakai memancarkan sinar, meski tak begitu terang benderang, namun dapat terlihat ada cahaya yang muncul dari kulit beliau. Selang beberapa lama, akupun mempersilahkan beliau masuk ke dalam rumah, seperti orang-orang jawa biasanya, aku mempersilahkan dengan mengacungkan jempolku tanda untuk mempersilahkan beliau masuk. Beliau pun tersenyum padaku sambil berjalan masuk ke dalam rumah, dan beliaupun langsung duduk di kursi yang sudah ada. Aku pun menyusul beliau untuk duduk, dan kamipun duduk secara berhadap-hadapan. Beliau duduk dikursi yang panjang, dan aku duduk di kursi yang pendek. Aku tidak berani melihat beliau, akupun hanya tertunduk diam. Beliaupun tak berkata-kata satu katapun. Jadi kondisinya kami berdua saling diam. Beliau memandangku dengan tajam, akan tetapi aku tak berani memandang beliau. Namun aku bisa merasakan, bahwa tatapan beliau adalah tatapan sayang, seperti tatapan seorang ayah yang sedang melihat anaknya. Dan akupun merasakan bahwa beliau masih tetap tersenyum padaku, padahal aku menunduk saat itu dan tidak memandang wajahnya, namun aku bisa tahu bahwa beliau tersenyum padaku. Beliau masih tetap tak berkata apapun juga dan hanya tersenyum melihatku. Kemudian aku terbangun dari tidurku. Inilah mimpiku yang tak bisa aku lupakan hingga saat in
Dari kejadian-kejadian tersebut, membuat aku semakin penasaran dan semakin ingin tahu apakah maksud dari suara adzan dan mimpi-mimpiku. Kemudian aku mencoba bertanya kepada orang yang ahli di bidang agama Kristen tentang hal tersebut, namun seakan jawaban yang aku terima tidak memberikan rasa puas bagiku. Masih ada sesuatu yang tidak aku mengerti, bahkan aku ingin mencoba mencari jawaban yang lain. Aku tidak berani sembarangan memilih orang untuk aku menceritakan tentang hal yang aku alami ini. Makanya aku terus berusaha untuk mencari orang yang tepat kepada siapa aku harus bercerita tentang yang aku alami tersebut. Kemudian aku menemukan salah satu orang yang memang hatiku seakan ingin sekali menceritakan kepada beliau, beliau adalah salah orang yang paham dan mengerti tentang agama Islam, sebagai salah satu tokoh agama di daerah beliau, beliau juga menjadi salah satu penggerak atau motorik dalam perkembangan agama Islam di daerah beliau. Beliau adalah salah satu anggota dari keluarga angkatku, karena memang sebelum aku pindah agama, aku memiliki keluarga angkat. Dan keluarga angkatku ini adalah beragama Islam semua, namun diantara kami tidak ada dinding pemisah, karena kami saling menyayangi dan menghormati. Hanya agama kami saja yang berbeda, selebihnya aku sudah seperti keluarga sendiri layaknya orang tua dan anak. Kemudian singkat cerita, secara perlahan-lahan aku mencoba menceritakan kejadian-kejadian yang aku alami secara detail kepada beliau, dan tidak hanya yang aku ceritakan dalam tulisan ini, namun juga beberapa kejadian lainnya yang aku alami. Saat pertama kali beliau mendengar ceritaku, beliau sangat kaget. Bahkan beliau seakan tidak percaya, beliau juga sempat berkata : "Masyaallah..., Subhanallah..., apa yang kamu alami benar-benar adalah hidayah dari Allah. Bahkan saya sendiri yang bertahun-tahun menjadi Islam belum pernah mengalami seperti yang kamu alami. Memang Alloh-lah yang berkendak atas segala sesuatunya...", dari apa yang beliau katakan tersebut, membuat aku kembali berfikir, ternyata apa yang aku alami ini adalah sesuatu yang tidak biasa, bisa dibilang tidak semua orang mengalami apa yang aku alami. Dari beberapa penjelasan beliau, aku mencoba merenungkan dan mencoba untuk memahaminya. Entah kenapa saat beliau menerangkan kejadian-kejadian yang aku alami, aku benar-benar merasa puas. Namun aku tetap saja bertahan dengan keegoisanku, yang seakan mengenyampingkan keterangan dari beliau. Karena memang jelas sekali bahwa beliau memberikan penjelasan bahwa semua yang aku alami tersebut dari Allah swt, dan itu adalah sebuah petunjuk untukku, agar aku bisa berjalan dijalan yang benar, yaitu di jalan Islam, apalagi setelah beliau berkata : "InsyaAllah, apa yang kamu alami adalah benar-benar dari Allah, dan Allah ingin kamu tahu, bahwasannya kamu diberikan isaroh untuk menjadi seorang Muslim yaitu dengan menjadi Mualaf", aku tahu apa maksud dari mualaf, karena dulu aku pernah kenal dan tahu dengan kata-kata mualaf. Aku berontak, karena aku sudah menjadi kristen lebih dari 15 tahun. Bagaimana mungkin aku menjadi mualaf hanya karena kejadian - kejadian tersebut, sangat bodoh bagiku. Itu yang aku alami saat itu dan aku tidak ingin mencari jawaban dari kejadian-kejadian yang alami lagi. Karena sudah jelas, apabila aku mencari jawaban kembali, jawaban yang aku dapatkan adalah jawaban yang mengajak aku untuk menjadi mualaf. Bagi orang lain mungkin mudah untuk mengatakannya, tapi bagiku itu adalah sesuatu yang sangat berat. Aku hidup dan berkembang dalam lingkungan kristen, jiwa kristen itu sudah terus bertumbuh dalam diriku dan aku tidak mungkin meninggalkan kristen begitu saja. "Apa kata dunia???!!!", dalam hatiku berkata demikian karena memang aku benar-benar merasa tidak mungkin meninggalkan kristen. Seiring berjalannya waktu, membuat aku semakin tak mengerti, ada perang bathin yang aku rasakan. Bagaimana perang bathinku ini, tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Karena memang yang aku rasakan begitu sulit dan sangat tidak masuk akal bagiku waktu itu, aku terus saja dihantui rasa bersalah karena kenapa aku bertanya kepada orang tersebut. Tapi ada satu hal yang membuat aku tak mengerti, semakin aku ingin menjauhi perasaan pindah agama, hatiku terus ingin menuju kesana. Aku berperang dengan hatiku sendiri, dan itu membuat sangat tidak nyaman. Saat aku beribadah kristen pun, aku merasa ada yang kurang. Hatiku sudah menolak dengan beberapa liturgi (jalannya suatu ibadah kristen) yang aku ikuti ataupun yang aku pimpin. Hatiku seakan mempunyai jalan pikirannya sendiri, yang pada akhirnya aku terus berperang dengan kata hatiku. Bingung dan penat, itu yang aku alami. Karena memang aku merasa ada sesuatu yang harus aku temukan, harus ada sesuatu yang aku dapatkan. Tapi tidak mungkin aku menjadi Islam, karena latar belakangku saja adalah aktivis gereja, sangat tidak mungkin sekali aku menjadi mualaf. Ditambah aku adalah Ketua Mahasiswa Kristen dikampusku, apa kata teman dan dosenku apabila aku menjadi mualaf, pasti sangat memalukan sekali. Setiap malam aku terus saja berperang dengan kata hatiku, dan seakan aku ingin teriak sekencang-kencangnya karena aku sudah tidak kuat. Akibat dari perang bathin tersebut aku malah merasa sudah menjadi seorang yang atheis (tidak percaya adanya Tuhan), karena sekitar 2 minggu aku terus saja tidak ingin berdoa apapun dan tidak ingin beribadah apapun. Aku benar-benar meninggalkan kegiatan ibadah apapun. Dan itu sangat menyakitkan bagiku
Singkat cerita, pada suatu malam, tepatnya pada hari Jum'at pukul 01.00 WIB dini hari, seperti ada yang membangunkan aku, sangat terasa sekali ada yang seperti menyentuhku dan membangunkan aku dari tidur. Kemudian aku terbangun dari tidur, aku pikir salah satu keluarga angkatku yang membangunkan aku karena waktu itu aku tidur dirumah keluarga angkatku. Namun saat aku terbangun, ternyata tidak ada siapa-siapa. Aku sempat kaget dan langsung merinding, karena sangat aneh bagiku kejadian tersebut. Disaat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, siapakah yang membangunkan aku tadi, tiba-tiba ada suara yang lembut dan sangat menggetarkan hati berkata : "Islam adalah agama yang benar, Islam adalah agamamu. Apa salahnya kamu pindah Islam? Karena sesungguhnya Islam adalah baik bagimu", saat aku menulis inipun, aku kembali merinding apabila mengingat kejadian tersebut. Waktu itu hatiku sungguh merasa tenang mendengarkan suara yang lembut tersebut, namun sebenarnya aku sangat kaget dan sangat takut, karena ada suara namun tidak ada orangnya. Kemudian suara itu berkata, "Bangun dan ambillah wudhlu. Karena itu baik bagimu", kemudian aku terbangun dari tempat tidurku dan pergi kekamar mandi, waktu itu aku sebenarnya bingung kenapa aku seperti menuruti suara tersebut, namun memang sebenarnya hatiku yang menggerakkan agar pikiran dan tubuhku untuk mengikuti suara tersebut. Setelah dikamar mandi aku kembali dihadapkan dengan pertanyaan, bagaimana caranya ber-wudhlu, karena aku benar-benar tidak tahu. Selang beberapa detik, suara lembut itu muncul kembali seraya berkata, "Bersihkanlah wajah, tangan dan kakimu dengan air, sebagaimana yang sudah kamu ketahui", mendengar suara tersebut, aku langsung teringat sebuah tayangan di televisi, apabila adzan maghrib, tayangan tersebut menampilkan orang-orang yang ber-wudhlu, meski tidak semua ditayangkan, namun aku masih ingat apa saja yang harus dibersihkan. Kemudian aku membasuh wajah, tangan dan kaki, yang sebenarnya aku tidak tahu sama sekali bagaimana caranya ber-wudhlu, hanya saja aku yakin sekali bahwa apa yang aku lakukan adalah benar. Setelah ber-wudhlu aku kembali ke tempat tidur, aku bingung mau apa lagi. Kemudian suara tersebut muncul kembali, "Berdoalah kepada Allah, sebagaimana orang Islam berdoa. Mintalah kepada Allah apa yang ada dalam hatimu, karena sesungguhnya Allah melihatmu sekarang ini dan Allah tahu apa yang kamu lakukan, karena Allah menunggumu", setelah itu aku mencoba untuk duduk dengan keadaan kaki seperti bersujud, rasanya ingin sekali sholat, namun karena aku tidak bisa sholat, aku hanya duduk lalu melakukan sujud 3 kali seperti orang sholat yang pernah aku lihat. Setelah sujud 3 kali, kemudian aku menengadahkan tanganku, sambil berdoa : "Ya Allah, inilah hamba, apa adanya hamba, hambamu yang penuh dengan dosa ini, mengharapkan kasih sayang dariMu. Jika memang Engkau mengijinkan hamba mualaf, berikanlah kesempatan kepada hamba untuk melakukan syahadat sekarang ini juga, namun jika Engkau tidak menginginkan hamba mualaf, ambillah nyawa hamba sekarang juga, daripada hamba hidup dalam keadaan yang lebih berdosa karena tidak beragama dan tidak bertuhan, amin.", dengan air mata yang terus mengalir, aku sendiri sebenarnya bingung kenapa aku bisa berdoa seperti itu, namun itu yang ada dalam hatiku dan memang itu yang ingin aku sampaikan. Aku tahu kata "syahadat" dari salah satu anggota keluarga angkatku, namun beliau tidak memberikan isi atau mengajarkan kalimat syahadat bagiku. Yang hanya disampaikan, bila ingin masuk Islam, harus membaca kalimat syahadat. Jadi pada intinya aku sama sekali tidak bisa membaca kalimat syahadat, itu saja. Tapi malam itu, aku sangat yakin sekali untuk membaca syahadat. Karena rasa keyakinanku tersebut, selang beberapa detik setelah aku berdoa, ada suara yang muncul kembali berkata, "Syahadat-lah, Karena sesungguhnya syahadatmu itu dari hatimu", kemudian suara tersebut berkata kembali, "Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh, wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh", kemudian aku pun mengikuti suara tersebut secara perlahan-lahan dan berulang-ulang kali, suara tersebut tidak hanya terdengar satu kali, namun beberapakali muncul hingga aku bisa membaca syahadat sendiri dengan hati dan mulutku sendiri, dengan penuh keyakinan akupun berkata : "Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh, wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh". Setelah aku membaca kalimat syahadat tersebut, aku langsung merasa puas, lega dan tenang. Aku seperti merasakan sesuatu yang baru, sesuatu kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan, seakan semua beban dalam hidupku seperti hilang begitu saja, seperti tidak ada masalah dan tidak ada beban hidup yang aku rasakan. Benar-benar perasaan yang tidak dapat terkatakan. Kemudian sekitar pukul 08.00 WIB pagi aku berkata kepada keluarga angkatku, bahwasannya aku siap menjadi mualaf, namun aku tidak menceritakan kejadian tadi malam yang aku alami. Semua anggota keluarga angkatku langsung menangis histeris dan langsung memelukku dan menciumiku, semua terasa bahagia waktu itu. Kebahagiaan yang tidak dapat kugambarkan dengan tulisan, karena tangisan mereka adalah tangisan bahagia yang sungguh sangat menggetarkan hati. Kemudian aku disuruh untuk mandi taubat, dengan diberitahukan cara-caranya. Setelah mandi aku diajarkan untuk berwudhlu, dan setelah wudhlu aku diberi sarung dan baju koko. Dimana sarung dan baju koko adalah pakaian Islam yang baru pertama kali aku pakai, dan kemudian keluarga angkatku menyuruhku untuk mengikuti setiap apa yang dilakukan nanti, maksudnya aku harus mengikuti gerakan-gerakan sholat apabila dimasjid nanti, karena aku akan diajak sholat Jum'at. Setelah itu aku diajak ke sebuah masjid yang ternyata masjid tersebut sudah lumayan penuh dengan jama'ah sholat Jum'at. Awalnya aku takut untuk masuk masjid, karena seakan prosesnya terlalu cepat bagiku, aku yang baru saja masuk Islam barusan, tiba-tiba sudah harus masuk ke dalam masjid, yang notabene-nya adalah tempat ibadah yang baru kenal. Namun aku tetap diajak untuk masuk dan duduk serta mengikuti gerakan-gerakan sholat Jum'at. Setelah sholat Jum'at, kemudian anggota keluarga angkatku tersebut maju kedepan dan membisikkan sesuatu kepada orang yang menjadi pemimpin sholat Jum'at, kemudian beliau memberikan pengumuman bahwa ada seorang yang mualaf, semua jama'ah bingung, toleh sana toleh sini, karena bingung siapa yang menjadi mualaf. Kemudian namaku disebut, dan aku disuruh maju. Dengan didampingi keluarga angkatku, akupun memberanikan diri untuk maju kedepan. Kemudian didepan para jama'ah aku diajak untuk mengucapkan kalimat syahadat kembali, dengan berlinangkan air mata, semua para jama'ah pun ikut dalam suasana yang sangat luar biasa bagi mereka siang itu. Semua para jama'ah menangis, bahkan sampai ada yang tersedu-sedu karena melihatku akan mengucapkan kalimat syahadat. Kemudian aku dibimbing untuk membaca kalimat syahadat, "Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh, wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh". Setelah aku mengucapkan kalimat tersebut, semua para jama'ah maju kedepan dan memberikan ucapan selamat, tak sedikit juga yang merangkulku, semua terbawa suasana waktu itu, isak tangis yang mengiringi jabat tangan kami, akupun tidak kuat menahan air mata. Sungguh benar-benar kejadian yang luar biasa bagiku, aku seperti hidup baru, dan aku pun seperti lahir baru dan seolah-olah baru terlahir di dunia ini. Entah bagaimana untuk menggambarkan suasana waktu itu, namun tak perlu aku menggambarkan suasana tersebut, aku yakin para pembaca sekalian pasti paham dengan keadaan suasana tersebut. Hari itu adalah hari yang berharga bagiku, bahkan menjadi hari yang luar biasa bagiku. Hari yang menjadi awal dan pertama kali aku masuk Islam, hari yang pertama kali aku memakai sarung dan baju koko, hari yang pertama kali aku belajar wudhlu dan belajar sholat. Sungguh sangat istimewa bagiku. Hari itu adalah Hari Jum'at tepatnya tanggal 24 Juli 2009 / 2 Syaban 1430 H. Hari yang tak kan pernah ku lupakan seumur hidupku
And I would like to say, "that day is the best day I ever had" atau hari itu adalah hari yang terbaik yang pernah aku alami atau aku miliki. Dan sungguh awal yang sangat indah sekali, Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk menjadi mualaf pada hari Jum'at, yang sekarang aku telah tahu bahwa hari Jum'at adalah hari yang istimewa bagi umat Muslim. Dan alhamdulillah sekarang aku adalah seorang yang beragama Islam, dan aku bangga menjadi orang Muslim. Inilah sebagian cerita hidupku yang menjadi salah satu alasan kenapa aku pindah agama. Cerita hidup dari seorang hamba Allah, yang sebenarnya tidak layak untuk menjadi hamba-NYA karena aku sadar, bahwa hidupku sangatlah berdosa dan sangatlah hina, aku bukan siapa-siapa, dan akupun bukan keturunan dari pembesar-pembesar atau tokoh-tokoh yang besar. Namun aku yakin, bahwa semua itu adalah skenario dari Allah, dan sesungguhnya Allah tahu yang terbaik bagi setiap ummat-NYA serta Allah berhak kepada siapa Allah akan memilih untuk menjadi ummat-NYA. Dan kini, Islam adalah jalan hidupku yang terakhir, tak akan pernah kugantikan jalan hidupku ini dengan apapun juga. Seperti ada tertulis : "............................. Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus" ((Terjemahan dari QS. Al Baqarah : 142 ))
Kini, aku berada ditempat ini, disebuah daerah yang bernama Sarang, sebuah daerah yang baru aku kenal dan aku pijak sekarang ini, tempat yang begitu banyak menampilkan berbagai kegiatan islami, tempat dimana ajaran Islam ditegakkan dan disyi'arkan dengan berbagai bedah ilmu Islam, Lembaga Pendidikan serta adanya beberapa ulama besar yang salah satunya adalah seorang syaikina yang patut menjadi panutan yang sudah diakui oleh dunia, KH. Maimoen Zubair. Aku merasa menemukan ilmu yang sudah sepatutnya aku pelajari, bahkan aku merasa, hakikatnya mencari ilmu adalah di sini. Tempat yang sebenarnya baru aku kenal, namun aku sepertinya tidak ingin meninggalkan tempat ini. Tempat dimana orang menyebutnya sebagai Kota Santri atau Kaum Sarungan, dengan ilmu salaf yang diajarkan, aku merasa "tepat" berada disini. Pun juga sebenarnya ada cerita tersendiri mengapa aku bisa sampai ditempat ini. Sungguh rahasia Allah yang sulit untuk aku mengerti, namun aku tak perlu tanya mengapa, karena semua ini adalah bagian dari rencana Allah dalam hidupku. Meskipun semua anggota keluargaku masih beragama kristen. Namun alhamdulillah sekarang anggota keluargaku sudah mau menerimaku dalam keadaan Islam. Dan semoga merekapun mendapatkan hidayah seperti yang aku alami, amin
Aku ingin belajar, aku ingin mencari ilmu serta aku ingin mendalami ilmu Islam yang sebenar-benarnya. Dengan mengikuti salah satu Lembaga Pendidikan di PP. Al-Anwar Sarang, aku ingin belajar agama Islam dasar, meski awalnya sulit, namun aku yakin aku pasti bisa. Lembaga Pendidikan yang baru aku kenal dengan nama LP. Muhadhoroh, dan berada disalah satu kelasnya dengan sebutan SP, sungguh sangat menorehkan semangat tersendiri bagiku. Meski terasa lucu, karena semua teman-temanku umurnya jauh dibawahku, namun tak mengapa bagiku. Karena sesungguhnya teman-teman kecilku itu telah memberikan warna yang indah dalam coretan pena cerita hidupku, dan kini mereka menjadi salah satu semangatku untuk belajar. Meski setiap hari harus menahan marah dan jengkel karena sikap mereka yang terkadang diluar batas, seperti kenakalan mereka, keramaian mereka didalam kelas, namun sebenarnya mereka sudah menjadi bagian dalam hidupku. Berada dikelas SP, sudah menunjukkan siapa aku yang sebenarnya, seseorang yang ingin belajar Islam dari dasar. Karena aku tahu, mencari ilmu tidak pandang usia dan latar belakang, yang ada hanya keinginan yang kuat dan kesempatan. Teman-teman kecilku, aku bangga kepada kalian dan sesungguhnya keberadaan kalian adalah semangatku saat ini. Disaat aku jenuh dengan aktifitas dan pekerjaanku, karena tingkah laku kalian yang lucu, seakan kejenuhanku itu hilang begitu saja disaat aku bersama mereka. Terimakasih teman-teman kecilku, kalian sudah menjadi teman dalam hidupku yang tak mungkin aku lupakan. Dan mari kita bersama-sama belajar untuk memahami dan memaknai kehidupan dengan ilmu Islam yang kita pelajari saat ini
 Inilah cerita hidupku, mualaf, yang semata-mata cerita ini bukan untuk sesuatu yang dibangga-banggakan untuk kesombongan, namun tulisan ini aku buat untuk mensyi'arkan kabar baik, tentang kebaikan dan kebesaran Allah swt. Semoga saja tulisanku ini bermanfaat dan dapat memberikan nilai tersendiri bagi setiap pembaca sekalian, amin.

Sumber : http://ahadan.blogspot.com/2011/12/kisah-nyata-orang-yang-masuk-islam-yang.html

Kitab-Kitab Maulid Nabi Muhammad

Meneliti kembali sejarah, ditemukan banyak ulama yang membahas topik mawlid Nabi SAW. Topik mawlid sebenarnya adalah sebagian daripada ilmu sirah Nabi SAW. Namun, lama-kelamaan ia menjadi satu disiplin penulisan yang mempunyai konsep yang sedikit berbeda dengan kitab-kitab sirah. Di mana kebanyakan kitab-kitab mawlid ini ditulis dengan gubahan gaya bahasa yang tinggi, puitis dan berima.

Mawlid Nabi SAW merupakan suatu topik yang dapat dianggap evergreen di sepanjang zaman. Ini karena ia datang pada setiap tahun yaitu pada bulan Rabiul Awwal. Soal setuju atau tidak setuju menyambutnya menjadi isu yang masyhur di kalangan ahli ilmu. Bagaimanapun, mawlid menceritakan keindahan peribadi dan riwayat hidup Nabi SAW bagi orang yang cinta tidak akan mendatangkan rasa jemu dan bosan. Apatah lagi seseorang itu akan bersama dengan orang yang dikasihi dan dicintai di akhirat kelak.

Berdasarkan kajian, didapati amat banyak kitab-kitab yang telah dikarang oleh para alim ulama berkaitan mawlid Nabi SAW. Berikut adalah sebahagian di antara kitab-kitab berkenaan yang disusun menurut kronologi:

Abad Ketiga Hijrah

Menurut al-‘Allamah Sayyid Ahmad al-Ghumari di dalam kitabnya Ju’nah al-‘Attar (hlm. 12-13):

1- “Orang pertama yang aku tahu telah menyusun mengenai mawlid ialah Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, pengarang kitab al-Maghazi dan kitab al-Futuh, meninggal dunia tahun 206 H, dan ada yang menyebut tahun 209 H. Beliau mempunyai dua buah kitab tentangnya, iaitu kitab al-Mawlid al-Nabawi dan kitab Intiqal al-Nur al-Nabawi, sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Suhaili di dalam al-Rawdh sebahagian daripadanya.

2- Demikian juga telah menyusun mengenai mawlid dari kalangan ulama terdahulu; al-Hafiz Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘A’id, pengarang al-Sirah yang masyhur, meninggal dunia tahun 233 H.

3- Dan al-Hafiz Abu Bakr ibn Abi ‘Asim, pengarang banyak kitab, meninggal dunia tahun 287 H” – tamat nukilan.

Kitab al-Hafiz Abu Bakr ibn Abi ‘Asim ini pernah diriwayatkan oleh Imam al-Ghazali. Kata muridnya al-Hafiz ‘Abd al-Ghafir al-Farisi (w. 529H) mengenai gurunya itu: “Beliau telah mendengar berbagai-bagai hadis secara formal bersama-sama para fuqaha’. Antara yang saya temukan bukti sama‘nya ialah apa yang beliau dengar daripada kitab Mawlid al-Nabi SAW karangan Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr ibn Abi ‘Asim al-Syaybani, riwayat al-Imam Syeikh Abu Bakr Muhammad bin al-Harith al-Asbahani, dari Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja‘far ibn Hayyan, dari pengarangnya. Imam al-Ghazali telah mendengarnya dari Syeikh Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Khawari - Khawar Tabaran - rahimahullah, bersama-sama dua orang anaknya, Syeikh ‘Abd al-Jabbar dan Syeikh ‘Abd al-Hamid serta sekumpulan para fuqaha’… Kitab tersebut di dalam dua juzuk yang didengar oleh beliau”. (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/212-214)

Abad Keempat dan Kelima Hijrah

Karya-karya mawlid di dalam abad keempat dan abad kelima setakat ini belum ditemukan oleh al-faqir penulis. Jika ada, mohon diberitahu. Namun, penulisan mengenai mawlid ini terus dilakukan di kalangan ramai ulama pada abad-abad kemudiannya.

Abad Keenam Hijrah

4- al-Durr al-Munazzam fi Mawlid al-Nabi al-A‘zam oleh al-‘Allamah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Mu‘id bin ‘Isa al-Uqlisyi al-Andalusi (w. 550H).

5- al-‘Arus oleh al-Hafiz Abu al-Faraj ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali al-Hanbali, yang terkenal dengan panggilan Ibnu al-Jawzi (w. 597H). Kitab ini telah disyarah oleh Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Jawi (w. 1315H) dengan judul: (بغية العوام في شرح مولد سيد الأنام عليه الصلاة والسلام المنسوبة لابن الجوزي) atau (البلوغ الفوزي لبيان ألفاظ مولد ابن الجوزي).

Abad Ketujuh Hijrah

6- al-Tanwir min Mawlid al-Siraj al-Munir oleh al-Hafiz Abu al-Khattab ibn Dihyah al-Kalbi (w. 633 H). Beliau telah menghadiahkan kitab ini kepada al-Malik al-Muzaffar, raja Arbil yang selalu menyambut malam mawlid Nabi SAW dan siangnya dengan sambutan meriah yang tidak pernah didengar seumpamanya. Baginda telah membalas beliau dengan ganjaran hadiah yang banyak.

7- (المولد النبوي) oleh al-Syeikh al-Akbar Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali ibn al-‘Arabi al-Hatimi (w. 638H).

8- ‘Urfu al-Ta‘rif bi al-Mawlid al-Syarif oleh Imam al-Hafiz Abu al-Khair Syams al-Din Muhammad bin ‘Abd Allah al-Jazari al-Syafi‘i (w. 660H).

9- (الدر النظيم في مولد النبي الكريم) oleh Syeikh Abu Ja‘far ‘Umar bin Ayyub bin ‘Umar ibn Arsalan al-Turkamani al-Dimasyqi al-Hanafi, yang dikenali dengan nama Ibn Taghru Bik (w. 670H).

10- (ظل الغمامة في مولد سيد تهامة) oleh Syeikh Ahmad bin ‘Ali bin Sa‘id al-Gharnati al-Maliki (w. 673H).

11- (الدر المنظم في مولد النبي المعظم) oleh al-‘Allamah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Husain al-‘Azfi. Ia disempurnakan oleh anaknya, Abu al-Qasim Muhammad (w. 677H).

Abad Kelapan Hijrah

12- (المورد العذب المعين/ الورد العذب المبين في مولد سيد الخلق أجمعين) oleh Syeikh Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-‘Attar al-Jaza’iri (w. 707H).

13- (المنتقى في مولد المصطفى) oleh Syeikh Sa‘d al-Din Muhammad bin Mas‘ud al-Kazaruni (w. 758H). Ia di dalam bahasa Parsi, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh anaknya, Syeikh ‘Afif al-Din.

14- (الدرة السنية في مولد خير البرية) oleh al-Hafiz Salah al-Din Khalil ibn Kaykaldi al-‘Ala’i al-Dimasyqi (w. 761H).

15- Mawlid al-Nabi SAW oleh Imam al-Hafiz ‘Imad al-Din Isma‘il bin ‘Umar ibn Kathir (w. 774H). Ia telah ditahqiq oleh Dr. Solah al-Din al-Munjid. Ia juga telah disyarahkan oleh al-Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafiz, mufti Tarim, dan diberi komentar oleh al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Syria tahun 1387 H.

16- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Sulayman bin ‘Awadh Basya al-Barusawi al-Hanafi (w. sekitar 780H), imam dalam wilayah Sultan Bayazid al-‘Uthmani.

17- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad ibn ‘Abbad al-Randi al-Maliki (w. 792H), pengarang Syarah al-Hikam.

Abad Kesembilan Hijrah

18- al-Mawrid al-Hani fi al-Mawlid al-Sani oleh al-Hafiz ‘Abd al-Rahim bin Husain bin ‘Abd al-Rahman, yang terkenal dengan nama al-Hafiz al-Iraqi (w. 808 H).

19- (النفحة العنبرية في مولد خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Majd al-Din Muhammad bin Ya‘qub al-Fairuz abadi (w. 817H).

20- (جامع الآثار في مولد المختار) oleh al-Hafiz Muhammad ibn Nasir al-Din al-Dimasyqi (w. 842H). Ia di dalam 3 juzuk. Beliau juga telah menulis dua buah kitab mawlid lain, iaitu: (المورد الصادي في مولد الهادي) dan (اللفظ الرائق في مولد خير الخلائق).

21- (تحفة الأخبار في مولد المختار) oleh al-Hafiz Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852H), dicetak di Dimasyq tahun 1283H.

22- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Afif al-Din Muhammad bin Muhammad bin ‘Abd Allah al-Husayni al-Tibrizi (w. 855H).

23- (الدر المنظم في مولد النبي المعظم) oleh Syeikh Syams al-Din Muhammad bin ‘Uthman bin Ayyub al-Lu’lu’i al-Dimasyqi al-Hanbali (w. 867H). Ia di dalam 2 jilid, dan kemudian telah diringkaskan dengan judul (اللفظ الجميل بمولد النبي الجليل).

24- (درج الدرر في ميلاد سيد البشر) oleh Syeikh Asil al-Din ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Latif al-Husayni al-Syirazi (w. 884H).

25- (المنهل العذب القرير في مولد الهادي البشير النذير صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Abu al-Hasan ‘Ali bin Sulaiman bin Ahmad al-Mardawi al-Maqdisi (w. 885H), syeikh Hanabilah di Dimasyq.

26- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-Sayyid ‘Umar bin ‘Abd al-Rahman bin Muhammad Ba‘alawi al-Hadhrami (w. 889H).

Abad Kesepuluh Hijrah

27- al-Fakhr al-‘Alawi fi al-Mawlid al-Nabawi oleh al-Hafiz Syams al-Din Muhammad bin ‘Abd al-Rahman yang terkenal dengan nama al-Hafiz al-Sakhawi (w. 902H).

28- (درر البحار في مولد المختار) oleh Syeikh Syihab al-Din Ahmad bin ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Karim al-Nabulusi, yang masyhur dengan nama Ibn Makkiyyah (w. 907H).

29- Al-Mawarid al-Haniyyah fi Mawlid Khair al-Bariyyah oleh al-‘Allamah al-Sayyid ‘Ali Zain al-‘Abidin al-Samhudi al-Hasani (w. 911H).

30- (المرود الأهنى في المولد الأسنى) oleh Syeikhah ‘A’isyah bint Yusuf al-Ba‘uniyyah (w. 922H). Barangkali ini satu-satunya kitab mawlid karya seorang syeikhah!

31- (الكواكب الدرية في مولد خير البرية) oleh Syeikh Taqiy al-Din Abu Bakr bin Muhammad bin Abi Bakr al-Hubaisyi al-Halabi al-Syafi`i (w. 930H).

32- Mawlid al-Nabi SAW oleh Mulla ‘Arab al-Wa‘iz (w. 938H).

33- Mawlid al-Nabi SAW atau Mawlid al-Daiba‘i oleh al-Muhaddith Syeikh ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali bin Muhammad bin 'Umar al-Daiba‘i al-Syafi`i (w. 944H), murid al-Hafiz al-Sakhawi. Mawlid al-Daiba‘i ini antara kitab mawlid yang banyak dibaca orang sehingga kini. Ia telah ditahqiq dan ditakhrij hadisnya oleh al-‘Allamah Dr. al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

34- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh ‘Abd al-Karim al-Adranahwi al-Khalwati (w. 965H).

35- Itmam al-Ni‘mah ‘ala al-‘Alam bi Mawlid Sayyid Walad Adam dan al-Ni‘mah al-Kubra ‘ala al-‘Alam fi Mawlid Sayyid Walad Adam oleh Imam al-‘Allamah Ahmad ibn Hajar al-Haytami al-Makki al-Syafi‘i (w. 974H). Ia telah disyarah oleh beberapa ulama, antaranya oleh:

- Syeikh Muhammad bin ‘Ubadah bin Barri al-‘Adawi al-Maliki (w. 1193H) (حاشية على مولد النبي لابن حجر).

- Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri al-Syafi‘i (w. 1277H), Syeikhul Azhar dengan kitabnya (تحفة البشر على مولد ابن حجر).

- Syeikh Hijjazi bin ‘Abd al-Muttalib al-‘Adawi al-Maliki (w. sesudah 1211H) (حاشية على مولد الهيثمي).

- Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Mansuri al-Syafi‘i al-Khayyat (اقتناص الشوارد من موارد الموارد في شرح مولد ابن حجر الهيتمي), selesai tahun 1166H.

Ibn Hajar al-Haytami juga telah mengarang kitab (تحرير الكلام في القيام عن ذكر مولد سيد الأنام) tentang masalah bangun berdiri ketika bermawlid.

36- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad al-Khatib al-Syirbini al-Syafi‘i (w. 977H).

37- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Syeikh Najm al-Din Muhammad bin Ahmad bin ‘Ali al-Ghiti al-Syafi‘i (w. 981H). Ia telah disyarahkan oleh Syeikh ‘Ali bin ‘Abd al-Qadir al-Nabtini al-Hanafi (w. 1061H) (شرح على مولد النجم الغيطي).

Abad Kesebelas Hijrah

38- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Syams al-Din Ahmad bin Muhammad bin ‘Arif al-Siwasi al-Hanafi (w. 1006H).

39- al-Mawrid al-Rawi fi al-Mawlid al-Nabawi oleh al-‘Allamah Nur al-Din ‘Ali bin Sultan al-Qari al-Harawi al-Hanafi (w. 1014H). Kitab ini telah ditahqiq oleh al-‘Allamah Dr. al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

40- (المنتخب المصفي في أخبار مولد المصطفى) oleh al-‘Allamah al-Sayyid ‘Abd al-Qadir bin Syeikh bin ‘Abd Allah bin Syeikh al-‘Aidarusi (w. 1038H).

41- (مورد الصفا في مولد المصطفى صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Muhammad ‘Ali bin Muhammad Ibn ‘Allan al-Bakri al-Siddiqi al-Makki al-Syafi‘i (w. 1057H).

Abad Kedua Belas Hijrah

42- (الجمع الزاهر المنير في ذكر مولد البشير النذير) oleh Syeikh Muhammad bin Nasuh al-Askadari al-Khalwati, yang masyhur dengan nama Nasuhi al-Rumi (w. 1130H).

43- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad bin Sa‘id, yang masyhur dengan nama Ibn ‘Aqilah al-Makki (w. 1150H).

44- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh Sulaiman bin ‘Abd al-Rahman bin Solih al-Rumi (w. 1151H).

45- (المورد الروي في المولد النبوي) oleh Syeikh Qutb al-Din Mustafa bin Kamal al-Din bin ‘Ali al-Siddiqi al-Bakri al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1162H). Beliau turut menyusun kitab (منح المبين القوي في ورد ليلة مولد النبوي).

46- (الكلام السني المصفى في مولد المصطفى) oleh Syeikh al-Qurra’ ‘Abdullah Hilmi bin Muhammad bin Yusuf al-Hanafi al-Muqri al-Rumi, yang masyhur dengan nama Yusuf Zadah (w. 1167H).

47- (رسالة في المولد النبوي) oleh Syeikh Hasan bin ‘Ali bin Ahmad al-Mudabighi al-Syafi‘i (w. 1170H). Kitab ini telah diberi hasyiah oleh:

- Syeikh ‘Umar bin Ramadhan bin Abi Bakr al-Thulathi (w. sesudah 1164H).

- Syeikh ‘Abd al-Rahman bin Muhammad al-Nahrawi al-Muqri (w. 1210H).

48- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Ahmad bin ‘Uthman al-Diyar bakri al-Amidi al-Hanafi (w. 1174H).

49- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad Nida’i al-Kasyghari al-Naqsyabandi al-Zahidi (w. 1174H).

50- Mawlid al-Barzanji atau (عقد الجوهر في مولد النبي الأزهر) oleh al-Sayyid Ja‘far bin Hasan al-Barzanji (w. 1177H), mufti Syafi‘iyyah di Madinah. Kitab ini adalah antara kitab mawlid yang termasyhur. Saudara pengarangnya, al-Sayyid ‘Ali bin Hasan al-Barzanji (w. 11xxH) telah menggubahnya menjadi nazam. Ia juga telah diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antaranya:

- Al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin Ahmad ‘Illisy (atau ‘Ulaisy) al-Syazili al-Maliki (w. 1299H) dengan judul (القول المنجي حاشية على مولد البرزنجي).

- al-Sayyid Ja‘far bin Isma‘il al-Barzanji (w. 1317H), mufti Syafi‘iyyah di Madinah dengan judul (الكوكب الأنور على عقد الجوهر في مولد النبي الأزهر).

- Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H) dengan judul (مدارج الصعود إلى اكتساء البرود) atau (أساور العسجد على جوهر عقد للبرزنجى) dan juga (ترغيب المشتاقين لبيان منظومة السيد البرزنجي في مولد سيد الأولين والآخرين).

- Syeikh ‘Abd al-Hamid bin Muhammad ‘Ali Kudus yang diberi judul: Mawlid al-Nabi SAW ‘ala Nasij al-Barzanji.

- Syeikh Mustafa bin Muhammad al-‘Afifi al-Syafi‘i yang diberi judul (فتح اللطيف شرح نظم المولد الشريف), dicetak di Mesir tahun 1293H.

Kitab al-Barzanji ini juga telah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan berbagai bahasa lain.

51- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-Sayyid Muhammad bin Husain al-Jufri al-Madani al-‘Alawi al-Hanafi (w. 1186H).

52- (المولد الشريف) oleh Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Maghribi al-Tafilati al-Khalwati (w. 1191H), mufti Hanafiyyah di al-Quds.

53- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Mun‘im al-Khayyat (w. 1200H), mufti wilayah Sa‘id, Mesir.

54- (الدر الثمين في مولد سيد الاولين والآخرين) oleh Syeikh Muhammad bin Hasan bin Muhammad al-Samannudi al-Syafi‘i, yang masyhur dengan nama al-Munayyir (w. 1199H).

55- (الدر المنظم شرح الكنز المطلسم في مولد النبي المعظم) oleh Syeikh Abu Syakir ‘Abdullah Syalabi, selesai tahun 1177H.

Abad Ketiga Belas Hijrah

56- (المولد النبوي) oleh Imam Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad al-‘Adawi al-Dardir al-Maliki (w. 1201H). Kitab beliau ini telah diberi hasyiah oleh:

- al-‘Allamah Muhammad al-Amir al-Saghir bin Muhammad al-Amir al-Kabir al-Maliki (w. sesudah 1253H) (حاشية على مولد الدردير).

- al-‘Allamah Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri al-Syafi‘i (w. 1277H).

- Syeikh Yusuf bin ‘Abd al-Rahman al-Maghribi (w. 1279H), bapa Muhaddith al-Syam Syeikh Badr al-Din al-Hasani dengan judul (فتح القدير على ألفاظ مولد الشهاب الدردير).

57- (تذكرة أهل الخير في المولد النبوي) oleh al-Sayyid Muhammad Syakir bin ‘Ali al-‘Umari al-Fayyumi, yang masyhur dengan nama al-‘Aqqad al-Maliki (w. 1202H).

58- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh Najib al-Din ‘Abd al-Qadir bin ‘Izz al-Din Ahmad al-Qadiri al-Hanafi yang masyhur dengan nama Asyraf Zadah al-Barsawi (w. 1202H).

59- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Ali bin ‘Abd al-Barr al-Husaini al-Wana’i al-Syafi‘i (w. 1212H), murid al-Hafiz Murtadha al-Zabidi.

60- (منظومة في مولد النبي صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Mustafa Salami bin Isma‘il Syarhi al-Azmiri (w. 1228H).

61- (الجواهر السنية في مولد خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin ‘Ali al-Syanawani al-Syafi‘i (w. 1233H).

62- (مطالع الأنوار في مولد النبي المختار صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh ‘Abdullah bin ‘Ali Suwaydan al-Damliji al-Syazili al-Syafi‘i (w. 1234H).

63- (تأنيس أرباب الصفا في مولد المصطفى) oleh al-Sayyid ‘Ali bin Ibrahim bin Muhammad bin Isma‘il al-Amir al-San‘ani al-Zaydi (w. sekitar 1236H).

64- (تنوير العقول في أحاديث مولد الرسول) oleh Syeikh Muhammad Ma‘ruf bin Mustafa bin Ahmad al-Husaini al-Barzanji al-Qadiri al-Syafi‘i (w. 1254H).

65- (مولد نبوي نظم) oleh Syeikh Muhammad Abu al-Wafa bin Muhammad bin ‘Umar al-Rifa‘i al-Halabi (w. 1264H).

66- (السر الرباني في مولد النبي) oleh Syeikh Muhammad ‘Uthman bin Muhammad al-Mirghani al-Makki al-Husaini al-Hanafi (w. 1268H).

67- (قصة المولد النبوي) oleh Syeikh Muhammad bin ‘Abd Allah Talu al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1282H).

68- Al-Mawrid al-Latif fi al-Mawlid al-Syarif oleh Syeikh ‘Abd al-Salam bin ‘Abd al-Rahman al-Syatti al-Hanbali (w. 1295H). Ia berbentuk gubahan qasidah ringkas.

69- (مطالع الجمال في مولد إنسان الكمال) oleh Syeikh Muhammad bin al-Mukhtar al-Syanqiti al-Tijani (w. 1299H).

70- (سمط جوهر في المولد النبوي) oleh Syeikh Ahmad ‘Ali Hamid al-Din al-Surati al-Hindi (w. 1300H). Beliau mengarang kitab ini dalam sekitar 100 muka surat tanpa menggunakan huruf alif!

71- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Ahmad bin Qasim al-Maliki al-Hariri. Kitab ini telah disyarah oleh:

- Syeikh Abu al-Fawz Ahmad bin Muhammad Ramadhan al-Marzuqi al-Husayni al-Maliki (masih hidup tahun 1281H) dengan judul: (بلوغ المرام لبيان ألفاظ مولد سيد الأنام), cetakan Mesir tahun 1286H.

- Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H) dengan judul: (فتح الصمد العالم على مولد الشيخ أحمد بن قاسم), cetakan Mesir tahun 1292H.

72- Mawlid Nabi SAW oleh al-‘Allamah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani (w. 1263 @ 1297H), diselesaikan pada tahun 1230H. Beliau turut menyusun sebuah lagi kitab mawlid yang hanya diberi tajuk al-Muswaddah, diselesaikan pada tahun 1234H. (Wawasan Pemikiran Islam 4 - Hj. Wan Mohd. Saghir, h. 132)

73- Kanz al-’Ula [fi Mawlid al-Mustafa?] oleh Syed Muhammad bin Syed Zainal Abidin al-‘Aidarus yang terkenal dengan nama Tokku Tuan Besar Terengganu (w. 1295H).

Abad Keempat Belas Hijrah

74- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah al-Muhaddith al-Sufi Abu al-Mahasin Muhammad bin Khalil al-Qawuqji al-Tarabulusi (w. 1305H).

75- (سرور الأبرار في مولد النبي المختار صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh ‘Abd al-Fattah bin ‘Abd al-Qadir al-Khatib al-Dimasyqi al-Syafi‘i (w. 1305H).

76- (العلم الأحمدي في المولد المحمدي) oleh Syeikh Syihab al-Din Ahmad bin Ahmad Isma‘il al-Hilwani al-Khaliji al-Syafi‘i (w. 1308H).

77- (منظومة في مولد النبي صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Ibrahim bin ‘Ali al-Ahdab al-Tarabulusi al-Hanafi (w. 1308H).

78- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad Hibatullah bin ‘Abd al-Qadir al-Khatib al-Dimasyqi al-Syafi‘i (w. 1311H).

79- (الإبريز الداني في مولد سيدنا محمد السيد العدناني صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H). Beliau juga telah mengarang kitab:

- (بغية العوام في شرح مولد سيد الأنام عليه الصلاة والسلام المنسوبة لابن الجوزي),

- (مدارج الصعود إلى اكتساء البرود) atau (أساور العسجد على جوهر عقد للبرزنجى) dan juga

- (ترغيب المشتاقين لبيان منظومة السيد البرزنجي في مولد سيد الأولين والآخرين).

80- (تحفة العاشقين وهدية المعشوقين في شرح تحفة المؤمنين في مولد النبي الأمين - صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Muhammad Rasim bin ‘Ali Ridha al-Mullatiyah-wi al-Hanafi al-Mawlawi (w. 1316H).

81- (قدسية الأخبار في مولد أحمد المختار) oleh Syeikh Muhammad Fawzi bin ‘Abd Allah al-Rumi (w. 1318H), mufti Adrana. Beliau turut menyusun (إثبات المحسنات في تلاوة مولد سيد السادات).

82- (حصول الفرج وحلول الفرح في مولد من أنزل عليه ألم نشرح) oleh Syeikh Mahmud bin ‘Abd al-Muhsin al-Husaini al-Qadiri al-Asy‘ari al-Syafi‘i al-Dimasyqi, yang masyhur dengan nama Ibn al-Mawqi‘ (w. 1321H).

83- Simt al-Durar fi Akhbar Mawlid Khair al-Basyar min Akhlaq wa Awsaf wa Siyar atau Maulid al-Habsyi oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (w. 1333H).

84- (لسان الرتبة الأحدية) oleh Syeikh Mahmud bin Muhyi al-Din Abu al-Syamat al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1341H). Ia sebuah kitab mawlid menurut lisan ahli sufi.

85- al-Yumnu wa al-Is‘ad bi Mawlid Khair al-‘Ibad oleh al-‘Allamah al-Muhaddith Syeikh Muhammad bin Ja‘far bin Idris al-Kattani al-Hasani (w. 1345H), cetakan Maghribi tahun 1345H.

86- Jawahir al-Nazm al-Badi‘ fi Mawlid al-Syafi‘ oleh al-‘Allamah Syeikh Yusuf bin Isma‘il al-Nabhani (w. 1350H).

87- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh Muhammad Sa‘id bin ‘Abd al-Rahman al-Bani al-Dimasyqi (w. 1351H).

88- (شفاء الأسقام بمولد خير الأنام صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Hajjuji al-Idrisi al-Hasani al-Tijani (w. 1370H). Ia diringkaskan dengan judul (بلوغ القصد والمرام في قراءة مولد الأنام). Beliau turut menyusun kitab (قصة المولد النبوي الشريف).

89- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad al-‘Azb bin Muhammad al-Dimyati.

90- Mawlid Syaraf al-Anam – belum ditemukan pengarang asalnya.

91- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh Muhammad Naja, mufti Beirut.

92- (الجمع الزاهر المنير في ذكر مولد البشير النذير) oleh Syeikh Zain al-‘Abidin Muhammad al-‘Abbasi al-Khalifati.

93- (الأنوار ومفتاح السرور والأفكار في مولد النبي المختار) oleh Abu al-Hasan Ahmad bin ‘Abd Allah al-Bakri.

94- (عنوان إحراز المزية في مولد النبي خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh Abu Hasyim Muhammad Syarif al-Nuri.

95- (فتح الله في مولد خير خلق الله) oleh Syeikh Fathullah al-Bunani al-Syazili al-Maghribi.

96- (مولد المصطفى العدناني) oleh Syeikh ‘Atiyyah bin Ibrahim al-Syaybani, dicetak tahun 1311H.

97- (المولد النبوي) oleh Syeikh Hasyim al-Qadiri al-Hasani al-Fasi.

98- (خلاصة الكلام في مولد المصطفى عليه الصلاة والسلام) oleh Syeikh Ridhwan al-‘Adl Baybars, dicetak di Mesir tahun 1313H.

99- (المنظر البهي في مطلع مولد النبي) oleh Syeikh Muhammad al-Hajrisi.

100- (المولد الجليل حسن الشكل الجميل) oleh Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad al-Munawi al-Ahmadi al-Syazili, dicetak di Mesir tahun 1300H.

101- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Himsi.

102- (الفيض الأحمدي في المولد المحمدي) oleh Syeikh Ibrahim Anyas (w. 1975).

103- (شفاء الآلام بمولد سيد الأنام) oleh al-‘Allamah Syeikh Idris al-‘Iraqi.

104- (شفاء السقيم بمولد النبي الكريم) oleh Syeikh al-Hasan bin ‘Umar Mazur.

105- (تنسم النفس الرحماني في مولد عين الكمال) oleh Syeikh Sa‘id bin ‘Abd al-Wahid Binnis al-Maghribi.

106- al-Sirr al-Rabbani fi Mawlid al-Nabiy al-‘Adnani oleh Syeikh Muhammad al-Bunani al-Tijani.

107- al-Nawafih al-‘Itriyyah fi Zikr Mawlid Khayr al-Bariyyah oleh Syeikh Salah al-Din Hasan Muhammad al-Tijani.

Abad Kelima Belas Hijrah

108- al-Rawa’ih al-Zakiyyah fi Mawlid Khayr al-Bariyyah oleh al-‘Allamah Syeikh ‘Abdullah al-Harari al-Habsyi (w. 1429H).

109- Mawlid al-Hadi SAW oleh Dr. Nuh ‘Ali Salman al-Qudhah, mufti Jordan.

110- al-Dhiya’ al-Lami‘ bi Zikr Mawlid al-Nabi al-Syafi‘ oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Umar bin Hafiz al-Ba‘alawi. Ia antara kitab mawlid yang mula luas tersebar, serta pengarangnya masih hidup.


Imam Muhammad ‘Abd al-Hayy al-Kittani di dalam kitabnya al-Ta’alif al-Mawlidiyyah telah menyenaraikan hampir 130 buah kitab mawlid yang disusun menurut abjad. Manakala Dr. Salah al-Din al-Munjid telah menyenaraikan sekitar 181 buah kitab mawlid di dalam kitabnya (معجم ما أُلف عن النبي محمد صلى الله عليه وسلم). Namun, kedua-duanya belum dapat saya telaah ketika menulis entri ini. Dijangkakan masih ada banyak lagi kita mawlid yang tidak disenaraikan. Sepertimana yang dapat kita lihat, sebahagian besar alim ulama yang disebutkan adalah tokoh-tokoh ulama tersohor di zaman mereka. Tidak dinafikan juga bahawa ada setengah kitab mawlid tersebut yang dipertikaikan nisbahnya kepada pengarangnya. Sekurang-kurangnya jumlah karya-karya mawlid yang besar ini menunjukkan kepada kita bukti keharusan memperingati mawlid Nabi SAW di kalangan ramai para alim ulama.

Juga tidak dinafikan bahawa sesetengah kitab-kitab mawlid ini mengandungi perkara-perkara yang dianggap batil atau palsu oleh sebahagian ahli ilmu. Namun sangka baik kita kepada pengarang-pengarangnya, mereka tidak akan memuatkan di dalam kitab-kitab tersebut perkara-perkara yang mereka yakin akan kepalsuan dan kebatilannya. Maka, setidak-tidaknya mereka hanya mengandaikan perkara-perkara tersebut hanya daif sahaja yang harus diguna pakai dalam bab sirah dan hikayat, selain fadha’il, sepertimana yang masyhur di dalam ilmu mustalah al-hadith. Setengahnya pula adalah masalah yang menjadi khilaf di kalangan para ulama. Justeru, agak keterlaluan jika ada yang melabelkan kebanyakan kitab-kitab tersebut sebagai sesat, munkar dan bidaah secara keseluruhan dengan tujuan untuk menyesat dan membidaahkan para pengarangnya. Sedangkan kritikan tersebut dapat dibuat dengan cara yang lebih berhemah dan beradab. Semoga Allah SWT memberi kita petunjuk.

Sumber
sawanih.blogspot.com

Kamis, 08 Desember 2011

Resolusi Jihad Dalam Peristiwa 10 November

Peristiwa 10 November 1945 adalah tonggak sejarah sangat penting bagi bangsa Indonesia, terutama umat Islam.
Sebab, pada momentum 10 November itulah, nasionalisme mendapat pemaknaan sangat signifikan dalam paradigma keagamaan. Nasionalisme yang semula dipahami sebagai wilayah di luar agama ternyata bagian dari kewajiban syar’i yang harus diperjuangkan. Tampaknya, kerangka pemikiran itulah yang kemudian menjadi salah satu dasar umat Islam untuk terus merawat Pancasila dan UUD ’45, terutama NU yang memang punya saham besar bagi lahirnya negeri ini.

Sejarah mencatat, meski bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, 53 hari kemudian NICA (Netherlands Indies Civil Administration) nyaris mencaplok kedaulatan RI. Pada 25 Oktober 1945, 6.000 tentara Inggris tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Pasukan itu dipimpin Brigadir Jenderal Mallaby, panglima brigade ke-49 (India). Penjajah Belanda yang sudah hengkang pun membonceng tentara sekutu itu.

Praktis, Surabaya genting. Untung, sebelum NICA datang, Soekarno sempat mengirim utusan menghadap Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, Jombang. Melalui utusannya, Soekarno bertanya kepada Mbah Hasyim, “Apakah hukumnya membela tanah air? Bukan membela Allah, membela Islam, atau membela Alquran. Sekali lagi, membela tanah air?”

Mbah Hasyim yang sebelumnya sudah punya fatwa jihad kemerdekaan bertindak cepat. Dia memerintahkan KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syamsuri, dan kiai lain untuk mengumpulkan kiai se-Jawa dan Madura. Para kiai dari Jawa dan Madura itu lantas rapat di Kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO), Jalan Bubutan VI/2, Surabaya, dipimpin Kiai Wahab Chasbullah pada 22 Oktober 1945.

Pada 23 Oktober 1945, Mbah Hasyim atas nama Pengurus Besar NU mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah, yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad. Ada tiga poin penting dalam Resolusi Jihad itu. Pertama, setiap muslim – tua, muda, dan miskin sekalipun- wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, maka harus dihukum mati. Jadi, umat Islam wajib hukumnya membela tanah air. Bahkan, haram hukumnya mundur ketika kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya qashar salat). Di luar radius itu dianggap fardu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardu ain, kewajiban individu). Fatwa jihad yang ditulis dengan huruf pegon itu kemudian digelorakan Bung Tomo lewat radio. Keruan saja, warga Surabaya dan masyarakat Jawa Timur yang keberagamaannya kuat dan mayoritas NU merasa terbakar semangatnya. Ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah -seperti ditulis M.C. Ricklefs (1991), mengalir ke Surabaya. Perang tak terelakkan sampai akhirnya Mallaby tewas.

Sedemikian dahsyat perlawanan umat Islam, sampai salah seorang komandan pasukan India Zia-ul-Haq (kelak menjadi presiden Republik Islam Pakistan) heran menyaksikan kiai dan santri bertakbir sambil mengacungkan senjata. Sebagai muslim, hati Zia-ul-Haq trenyuh, dia pun menarik diri dari medan perang. Sikap Zia-ul-Haq itu membuat pasukan Inggris kacau.

Fatwa Mbah Hasyim sebenarnya ditulis 17 September 1945. Namun, kemudian dijadikan keputusan NU pada 22 November yang diperkuat lagi pada muktamar ke-16 di Purwekorto, 26-29 Maret 1946. Dalam pidatonya di hadapan peserta muktamar, Mbah Hasyim menyatakan, syariat Islam tidak akan bisa dilaksanakan di negeri yang terjajah. “…tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negeri jajahan,” tegas Mbah Hasyim. Mengapa Bung Karno meminta fatwa kepada Mbah Hasyim? Agaknya, ada beberapa alasan. Pertama, Mbah Hasyim ulama karismatis yang menjadi pusat kiai se-Jawa dan Madura sehingga fatwanya sangat efektif untuk rakyat. Kedua, Surabaya adalah pusat pergerakan NU, sedangkan Mbah Hasyim adalah rais akbar NU. NU didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Kota Surabaya inilah yang menjadi pusat pergerakan awal NU sebelum kemudian berpindah ke Jakarta. Ketiga, NU pimpinan Mbah Hasyim sangat nasionalis. Sebelum RI merdeka, para pemuda di berbagai daerah mendirikan organisasi bersifat kedaerahan, seperti Jong Cilebes, Pemuda Betawi, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, dan sebagainya. Tapi, kiai-kiai NU justru mendirikan organisasi pemuda bersifat nasionalis. Pada 1924, para pemuda pesantren mendirikan Syubbanul Wathon (Pemuda Tanah Air). Organisasi pemuda itu kemudian menjadi Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) yang salah satu tokohnya adalah pemuda gagah, Muhammad Yusuf (KH M. Yusuf Hasyim -Pak Ud). Saat itu, posisi ketua ormas belum menjadi rebutan seperti sekarang. Sebab, ketua ormas, terutama pemuda, harus berani mati. Jadi, taruhannya nyawa. Pak Ud pernah mengungkapkan anekdot kepada penulis dan teman-teman. Menurut dia, saat itu memang dilematis. Kalau maju mati, kalau mundur haram. “Agar tak kena hukum haram, ada yang memilih mundur dengan cara berjalan miring,” katanya, lantas tertawa. Demikianlah, peran Resolusi Jihad dalam merebut kemerdekaan sangat besar. Tapi, -seperti kritik Martin Van Bruinessen- NU tak pernah mendapat tempat memadai dalam berbagai kajian pada tingkat lokal dan regional mengenai perjuangan kemerdekaan.

Penulis : Mas’ud Adnan, direktur umum Harian Bangsa, wakil direktur Komunitas Tabayun.

Tulisan diambil dari Jawa Pos.

Sumber : teguhtimur.com

Selasa, 06 Desember 2011

11 Tanda Mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam

Seseorang yang mengklaim bahwa dia mencintai seseorang akan lebih memilih yang dicintai dibanding semua orang, ia juga akan lebih memilih apa yang disukai oleh yang dicintainya, jika tidak demikian maka dia tidak akan bertindak sesuai yang dicintanya dan artinya cintanya juga tidak akan tulus.
Tanda-tanda berikut ini akan menjadi jelas pada mereka yang benar-benar mencintai Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam,

Pertama: Tanda pertama cinta kepada Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah bahwa dia akan mengikuti contoh-contohnya, menerapkan cara Nabi saw dalam kata-kata, perbuatan, ketaatan kepada perintah-Nya, menghindari apa pun yang dilarang dan mengadopsi sikap Nabi saw pada saat diberi kemudahan, sukacita, kesulitan, dan penderitaan. Allah berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) dan Allah akan mencintaimu.” [Al-Imran: 31]

Kedua: Tanda kedua adalah bahwa dia akan menyingkirkan keinginan sendiri dan nafsunya dengan mengikuti hukum yang didirikan dan didorong oleh Nabi SallAllah alaihi wa Sallam. Allah berfirman, “Kepada orang-orang sebelum mereka yang telah membuat tempat tinggal mereka di tempat tinggal (Kota Madinah), dan karena keimanannya mereka mengasihi orang yang telah beremigrasi ketempat mereka, mereka tidak menemukan irihati dan dengki dalam dada mereka untuk apa yang telah diberikan dan lebih memilih mereka atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri memiliki kebutuhan. ” [Al Hasyr: 9]

Ketiga: Tanda ketiga adalah bahwa kemarahan seseorang karena orang lain hanya demi mencari keridhaan Allah. Anas, putra Malik diberitahu oleh Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, “Anakku, jika Anda dapat menahan diri dari dendam di hati Anda dari pagi hingga sore, kemudian melakukannya.” Dia kemudian menambahkan, “Anakku, yang merupakan bagian dari jalan kenabian bahwa barang siapa yang menghidupkan kembali cara saya dan mengasihi Aku, dan barangsiapa mencintaiku akan bersama dengan saya di surga.” [Sunan Tirmidh, Kitab al-Ilm, Vol 4, Halaman 151]

Jika seseorang memiliki kualitas baik ini, maka dia memiliki cinta yang sempurna untuk Allah dan Rasul-Nya. Jika dia menjadi sedikit kurang dalam kualitas ini maka cintanya tidak sempurna. Bukti ini ditemukan dalam ungkapan Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, ketika seseorang menghadapi hukuman karena mabuk. Sebagaimana orang itu akan menerima hukuman seorang pria mengutuk sang pelaku, dan Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata, “Jangan mengutuk dia. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” [Sahih Bukhari, Kitab al-Hudud, Vol 3, Halaman 133]

Keempat: Tanda keempat adalah bahwa seseorang yang mencintai selalu menyebutkan nama Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, dalam kelimpahan – siapa mencintai sesuatu, terus-menerus pada lidahnya bersalawat kepada Nabi saw. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 32]

Kelima: Tanda kelima adalah kerinduan untuk bertemu Nabi SallAllahu Alaihi wa Sallam. Setiap kekasih rindu untuk bersama mereka yang tercinta. Ketika suku Asy’ariyah mendekati Madinah, mereka mendengar nyanyian, “Besok, kita akan bertemu dengan orang yang kita cintai, Muhammad saw dan para sahabatnya!” [Dalail an-Nabuwwah lil Baihaqi, Jilid 5, Halaman 351]

Keenam: Tanda keenam adalah bahwa setiap mengingat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, seseorang yang mencintainya akan ditemukan memuji dan menghormati setiap kali namanya disebutkan dan kemudian menampilkan kerendahan hatinya dan lebih merendahkan dirinya sendiri ketika ia mendengar namanya. Kami diberitahu oleh Isaac at-Tujibi bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, setiap kali para sahabat mendengar namanya disebutkan mereka menjadi lebih rendah hati, kulit mereka gemetar dan mereka menangis karena cinta. Adapun para pengikut lain dari Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, beberapa sahabat mengalami rasa cinta yang luar biasa sehingga meneriakkan salam kerinduan untuknya, sedangkan yang lain melakukannya karena rasa hormat dan penghargaan pada Rasulullah sawi. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 33]

Ketujuh: Tanda ketujuh adalah ungkapan kasih yang diungkapkan untuk Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, dan para ahlul bayt (keturunan Nabi saw) dan sahabatnya – para Muhajirin dan bani Ansar sama besarnya demi kehormatan Nabi saw. Seseorang dengan tanda ini akan ditemukan memusuhi orang-orang yang membenci mereka.

Nabi saw berkata kepada umatnya sambil menunjuk cucunya Sayidina Al Hasan dan Al Husain, semoga Allah senang dengan mereka, Nabi Alaihi SallAllaho alaihi wa Sallam, berkata, “Ya Allah, aku mencintai mereka, maka cintailah mereka.”

Sahih Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 23
Sahih Muslim, Kitab al Fadhail, Vol 4, Halaman 1883
Sunan Tirmidzi, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 327

Al-Hasan mengatakan bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, juga mengatakan, “Ya Allah, aku mencintainya, dan cinta orang yang mencintainya.” Dua cucunya, Nabi saw juga mengatakan, “Barangsiapa mencintai mereka, maka mencintai aku.” Kemudian ia berkata. Barang siapa mencintaiku, maka dia mencintai Allah. Barang siapa yang membenci mereka membenci saya dan barangsiapa membenci saya artinya membenci Allah. ”

Muqaddam Sunan Ibn Maja, Vol 1, Page 51
Majma ‘az-Zawaid, Vol 9, Halaman 180

Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata, “Jangan membuat teman saya sebagai sasaran setelah kepergian ku! Barangsiapa mengasihi mereka, maka mengasihi mereka itu karena mereka mencintaiku, dan barang siapa membenci mereka, adalah juga kebencian mereka terhadap aku, Barangsiapa merugikan mereka, maka mereka merugikan aku. Barangsiapa yang melukai sahabatku dan keluargaku, seolah-olah itu adalah menyakitiku (Nabi saw) dan artinya juga Allah. Barang siapa menyaikiti Allah, maka mereka akan dibuang.

Sunan Tirmidzi, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 358
Musnad Ahmad, Vol 5, Halaman 54

Keluarga Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah berasal dari Sayidah Fathimah, semoga Allah senang dengan dia, “Dia adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang membenci dia, maka mereka membenci saya.”

Sahih al Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 24
Sahih Muslim, Kitab Fadhail as-Sahaba, Vol 4, Halaman 1903

Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, mengatakan kepada Sayidina Aisyah untuk mencintai Osama, putra Zaid karena dia mencintainya. [Sunan Tirmidzi, Kitab al-Manaqib, Vol 5, Halaman 342]

Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berbicara kepada Ansar, berkata, “Tanda iman adalah mencintai Anshar, sedangkan tanda kemunafikan adalah kebencian kepada mereka.”

Sahih al Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Page 27
Sahih al Bukhari, Kitab al Iman, Vol 1, Page 9
Sahih Muslim, Kitab al Iman, Vol, Halaman 85

Anak Omar mengatakan kepada kita bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata, “Barang siapa mencintai orang-orang Arab dan mengasihi mereka karena dia mencintaiku, dan barangsiapa membenci mereka, itu adalah karena kebencian mereka terhadap aku..” [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 34]

Faktanya adalah ketika seseorang mencintai yang lain, dia mencintai segala sesuatu yang dicintai orang itu, dan ini memang terjadi dengan para sahabat. Ketika Anas melihat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, makan sepotong labu, ia berkata, “Dari hari itu maka akupun mencintai labu.” [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 34]

Al-Hasan, cucu Nabi, semoga kedamaian Allah atas mereka, pergi dengan Jafar Salma dan memintanya untuk menyiapkan beberapa makanan Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, yang biasa digunakan untuk makan. [Shamail Tirmidzi, Halaman 155]

Omar pernah melihat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, mengenakan sepasang sandal berwarna kuning, sehingga dia juga mengenakan sepasang sandal dengan warna yang sama.

Sahih al Bukhari, Kitab al-libas, Vol 7, Halaman 132
Sahih Muslim, Kitab al-Hajj, Vol 2, Halaman 844

Kedelapan: Tanda kedelapan, kebencian terhadap siapa saja yang membenci Allah dan Rasul-Nya. yaitu dengan membenci orang-orang yang menunjukkan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Orang beriman memiliki tanda ini menghindari semua yang menentang cara kenabian, dan bertentangan dengan orang-orang yang memperkenalkan inovasi dalam cara kenabian (yang bertentangan dengan semangat Islam) dan menemukan hukum yang memberatkan. Allah berkata, “Anda akan menemukan tidak ada umat yang beriman kepada Allah dan Hari Terakhir yang mencintai siapapun yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” [Al Mujadilah: 22]

Kesembilan: Tanda kesembilan ditemukan pada mereka yang mencintai Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi saw, dimana mereka dibimbing. Ketika ditanya tentang Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, Sayidah Aisyah, ra dia, berkata, “karakter Nabi adalah Al-Qur’an.” Bagian dari cinta Al-Qur’an adalah mendengarkan bacaan, bertindak sesuai dengan itu, pemahaman itu, menjaga dalam batas-batas dan cinta cara Nabi Muhammad. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 35]

Sahal, putra Abdullah berbicara tentang tanda ini mengatakan, “Tanda mencintai Allah adalah cinta Al-Qur’an Tanda mencintai Al-Qur’an adalah cinta Nabi.Tanda mencintai Nabi SallAllahu alaihi wa sallam, adalah cinta cara kenabiannya. Tanda mencintai cara kenabian adalah cinta akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah membenci dunia ini. Tanda kebencian bagi dunia ini adalah bahwa Anda tidak mengumpulkan semua kecuali untuk sedikit saja sesuai ketentuan dan apa yang Anda butuhkan untuk tiba dengan selamat di akhirat. ” [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 35]

Anak Mas’ud mengatakan, “Tidak ada yang perlu bertanya pada diri sendiri tentang apa pun, selain Al-Qur’an, jika ia mencintai Al Qur’an maka dia mencintai Allah dan Rasul-Nya” pujian dan damai besertanya. [Baihaqi fil Aadaab, Hal 522]

Kesepuluh: Tanda kesepuluh cinta untuk Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah untuk mengasihani umatnya dengan menasihati mereka dengan baik, berjuang untuk kemajuanmereka dan menghapus segala sesuatu yang berbahaya dari jalan mereka dan dalam cara yang sama bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata “kasih sayanglah kepada orang yang beriman.” [Al-Taubah: 128]

Kesebelas: Tanda kesebelas kasih yang sempurna ditemukan dalam membatasi siapa dirinya melalui penyangkalan diri, lebih memilih kemiskinan dari kenikmatan atraksi dunia. Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata Abu Sa’id Al Khudri, “Kemiskinan akan datang kepada Anda yang mencintai saya, mengalir lebih cepat daripada banjir dari puncak gunung ke dasarnya.” [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]

Seorang pria datang kepada Nabi Alaihi wa Aalihi SallAllaho wa Sallam, dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mencintaimu.” Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, memperingatkan, “Hati-hati dari apa yang Anda katakan.” Pria itu mengulangi cintanya sampai tiga kali, dimana Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Jikalau kamu mengasihi ku maka persiapkan diri mu dengan cepat untuk kemiskinan.” [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]

Ya ALLAH SWT! Kami memohon kepadaMU untuk mengisi hati kita dengan Kasih yang benar dan besar dari sifat Karim yang terkasih, Habibullah. Kita tetap hidup pada Sunnah-nya dan memberkati kita dengan kematian pada Iman di Kota terkasih Nabi Terkasih saw dan kuburkan kami dengan Ahl al-Baqi ‘asy-Syarif … Aamin!
Sumber : Majelis Shalawat Samudera Cinta Rasulullah saw

Jumat, 19 Agustus 2011

Habib Husein bin Mohammad Alhabsyi (saudara Habib Ali Alhabsyi sohibul maulid Simtud Duror) biasa memimpin Dalail Khoiroot di Mekkah Mimpi Nabi SAW seraya bersabda bhw membaca Burdah sekali lebih afdlol daripada mmbaca Dala'il Khoiroot 70 kali

Burdah artinya mantel dan juga dikenal sebagai Burdah yang berarti shifa (kesembuhan). Imam Busyiri adalah seorang penyair yang suka memuji raja-raja untuk mendapatkan uang. Kemudian beliau tertimpa sakit faalij (setengah lumpuh) yang tak kunjung sembuh setelah berobat ke dokter manapun.

Tak lama kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah S.A.W. yang memerintahkannya untuk menyusun syair yang memuji Rasulullah. Maka beliau mengarang Burdah dalam 10 pasal pada tahun 6-7 H. Seusai menyusun Burdah, beliau kembali mimpi bertemu Rasulullah yang menyelimutinya dengan Burdah (mantel). Ketika bangun, sembuhlah beliau dari sakit lumpuh yang dideritanya.

Qoshidah Burdah ini tersebar ke seluruh penjuru bumi dari timur ke barat. Bahkan disyarahkan oleh sekitar 20 ulama, diantaranya yang terkenal adalah Imam Syaburkhiti dan Imam Baijuri.
Habib Husein bin Mohammad Alhabsyi (saudara Habib Ali Alhabsyi sohibul maulid Simtud Duror) biasa memimpin Dalail Khoiroot di Mekkah. Kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah yang memerintahkannya untuk membaca Burdah di majlis tersebut. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah bersabda bahwa membaca Burdah sekali lebih afdol daripada membaca Dalail Khoiroot 70 kali.

Ketika Hadramaut tertimpa paceklik hingga banyak binatang buas berkeliaran di jalan, Habib Abdulrahman Al Masyhur memerintahkan setiap rumah untuk membaca Burdah. Alhamdulillah, rumah-rumah mereka aman dari gangguan binatang buas.
Beberapa Syu’araa (penyair) di zaman itu sempat mengkritik bahwa tidaklah pantas pujian kepada Rasulullah dalam bait-bait Burdah tersebut diakhiri dengan kasroh/khofadz. Padalah Rasulullah agung dan tinggi (rofa’). Kemudian Imam Busyiri menyusun qoshidah yang bernama Humaziyyah yang bait-baitnya berakhir dengan dhommah (marfu’).

Imam Busyiri juga menyusun Qoshidah Mudhooriyah. Pada qoshidah tersebut terdapat bait yang artinya,

“Aku bersholawat kepada Rasulullah sebanyak jumlah hewan dan tumbuhan yang diciptakan Allah. Kemudian dalam mimpinya, beliau melihat Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya malaikat tak mampu menulis pahala sholawat yang dibaca tersebut.

Habib Salim juga bercerita tentang seseorang yang telah berjanji kepada dirinya untuk menyusun syair hanya untuk memuji Allah dan Rasulullah. Suatu ketika ia tidak mempunyai uang dan terpaksa menyusun syair untuk memuji raja-raja agar mendapat uang. Ia punmimpi Rasulullah berkata, ”
Bukankah engkau telah berjanji hanya memuji Allah dan Rasul-Nya?! Aku akan memotong tanganmu.”

Kemudian datanglah Sayidina Abubakar r.a. meminta syafaat untuknya dan dikabulkan oleh Rasulullah. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia pun langsung bertobat. Kemudian ia melihat di tangannya terdapat tanda bekas potongan dan keluar cahaya dari situ.

Habib Salim mengatakan bahwa Burdah ini sangat mujarab untuk mengabulkan hajat-hajat kita dengan izin Allah. Namun terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi. Yaitu mempunyai sanad ke Imam Busyiri, mengulangi bait ” maula ya solli wa sallim “, berwudhu, menghadap kiblat, memahami makna bait-bait, dibaca dengan himmah yang besar, beradab, memakai wewangian.


(Disampaikan di Majlis Burdah Hb Syeikh Alaydrus Jl. Ketapang Kecil Surabaya).
sumber:http://www.facebook.com/note.php?note_id=397648466024
Baca juga:

http://blog.its.ac.id/syafii/2009/09/30/fadhilah-burdah/

http://blog.its.ac.id/syafii/2009/02/24/streaming-mp3-burdah/

http://blog.its.ac.id/syafii/2009/02/21/download-mp3-teks-burdah-imam-busyiri/

http://www.qasidaburdah.com/Qasidat_al-Burda.pdf

Al-Habib M. Luthfi Bin Yahya>Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar

BULAN ramadan, kesibukan masjid dan mushala mengalami peningkatan kegiatan yang luar biasa. Jika di hari-hari biasa, sehabis shalat isya suasana nyaris sepi tak ada kegiatan. Jangankan kegiatan membaca Alquran, jamaah shalat isya hampir dipastikan hanya satu shaf depan saja tidak penuh. Akan tetapi di bulan ramadan yang merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan, hampir dapat dipastikan jumlah jamaah dan volume kegiatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Mengapa? Di samping Allah telah menjanjikan dalam Alquran, barang siapa yang menjalani amal ibadah di bulan ramadan, akan dilipatgandakan pahala ibadahnya yang nilainya terserah Allah sendiri.

Baik itu untuk amalan ibadah mahdlah (yang sudah ditentukan) seperti shalat tarawih, witir, tahajud, puasa dan sejenisnya maupun amalan ibadah ghairu mahdlah (selain yang tidak ditentukan) seperti shadaqah, berbuat baik, hingga memberi makan anak yatim.

Kegiatan masjid dan mushala menjadi semakin ramai menjelang sepuluh terakhir di bulan ramadan, meski jamaah yang mengikuti tarawih mulai berkurang. Tetapi hamba hamba Allah rela tidak tidur dan menahan kantuk untuk menantikan sesuatu yang sangat diidam-idamkan.

Tidak hanya tarawih dan tadarus Alquran, pada malam-malam ganjil yakni tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29 ramadan, aktivitas ditambah dengan iktikaf (berdiam diri dalam masjid), shalat tasbih dan lain-lain.

Pada tengah malam di atas jam 00.00 para pengurus takmir membuka pintu dan pagar masjid mushala lebar-lebar dan mengumumkan melalui pengeras suara membangunkan umat untuk shalat tasbih, tahajud, hajat dan shalat sunat lainnya dengan satu tujuan sama, yakni sama sama ingin meraih lailatul qadar.

Malam Istimewa

Siapa pun umat Islam tak ingin melewatkan dan meraih lailatul qodar. Betapa tidak, malam yang yang sangat istimewa sebagaimana disebutkan dalam Alquran adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu 83 tahun lebih 4 bulan (lailatul qadri khairun min alfi sahr).

Seumpama sehari orang shalat fardlu 17 rakaat, maka selama seribu bulan pahalanya identik dengan shalat 510.000 rakaat. Padahal rata-rata usia umat Muhammad berkisar 60 tahun. Kalau sehari melaksanakan shalat wajib 17 rakaat, maka dalam usia 60 tahun hanya mampu melaksanakan 367.200 rakaat. Betapa besar kemuliaan yang dijanjikan Allah pada lailatul qadar.

Pertanyaannya, kapan sebenarnya malam kemuliaan (lailatul qadar) itu? Dalam Alquran Allah bertanya, tahukah kamu apakah malam kemuliaan (lailatul qadar) itu? Allah menjawab pada ayat berikut (lailatul qodri khoirun min alfi sahr) Allah tampaknya sengaja merahasiakan kapan hari “H” lailatul qadar agar manusia berpikir. Karena kerahasiaan Allah itu sampai sekarang berkembang kontroversi atau polemik tentang malam seribu bulan.

Ada yang berpendapat, hari “H” sengaja dirahasiakan Allah agar umat Islam menghidupkan ramadan sejak awal hingga akhir. Andaikan para kiai dan ulama sepakat lailatul qadar pada malam 27 misalnya, mungkin umat Islam di dunia pilih beribadah habis-habisan pada malam itu saja. Malam-malam ramadan yang lain bisa diabaikan.

Ada juga yang menerjemahkan salamun hiya hatta mathlail fajr atau malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Tidak hanya sampai terbitnya matahari, tetapi panjang sampai hitungan yang tidak terbatas. Walhasil kontroversi itu semakin panjang untuk didiskusikan. Bahkan mungkin kalau dibahtsulmasailkan (membahas masalah masalah agama) tidak akan ada habis-habisnya.

Umat Islam yang meyakini lailatul qadar berada di malam likuran atau malam ganjil di atas tanggal 20 ramadan mungkin dilandasi oleh sebuah hadits yang artinya carilah lailatul qadar pada malam ganjil, sepertiga yang terakhir dari bulan ramadlan.

Jadi, tidak perlu disalahkan kalau kemudian para kiai, ulama dan mubalig di masjid dan mushala mengekploitasi hadits tersebut besar-besaran.

Dampaknya tentu pada malam likuran semangat beribadah terasa tertambah seperti mendapat energi baru di tengah tengah kelesuan menjalankan amalan-amalan di bulan ramadan.

Cara Menghitung

Untuk mengetahui kapan hari “H” lailatul qadar, Imam Asy-Syaíroni memberi pedoman dengan melihat awal ramadan. Kalau awal ramadan jatuh pada Jumat atau Selasa, berarti lailatul qadar jatuh pada malam 29 ramadan.

Kalau awal ramadan jatuh pada Ahad atau Rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam 27 ramadan.

Jika awal ramadan Kamis, maka lailatul qadar jatuh pada malam 25 ramadan. Kalau awalnya Sabtu jatuh pada malam 23 ramadan dan jika awal ramadan pada Senin maka jatuh pada malam 21 ramadan.

Imam Asy-Syaíroni juga memberikan tanda-tanda, yaitu pada malam itu cuaca dalam keadaan terang benderang dan cerah, tidak ada hujan dan bintang di langit menampakkan sinarnya, angin semilir dan tidak panas.

Pagi harinya matahari terbit tidak langsung memancarkan sinar panas tetapi agak redup dan tidak mendung.

Pada prinsipnya, saya setuju kalau ada yang berpendapat malam kemuliaan itu sejak awal hingga akhir ramadan. Yang penting, gelora semangat untuk beribadah terpompa tidak hanya di bulan suci ramadan, akan tetapi juga 11bulan lain di luar bulan suci ramadlan.

Insya Allah kalau sejak awal ramadan kita membiasakan qiyamul lail, shalat tasbih, tahajud, hajat, tawarih dan lain-lain kita akan mendapat berkah lailatul qadar. Amin ya rabbal alamin.(77)

sumber:http://ahlulkisa.com/tanda-tanda-malam-lailatul-qadar.html

Selasa, 26 Juli 2011

Komentar Tokoh Dunia tentang : Sayyidina wa Maulana Muhammad SAW

Apa kata mereka tentang :
Sayyidina wa Maulana
Muhammad SAAW

Mahatma Gandhi:
“Saya ingin mengetahui tentang manusia paling berpengaruh dalam hati jutaan umat manusia… Saya semakin bertambah yakin bahkan kemenangan yang didapat oleh Islam pada masa-masa itu bukanlah dari ayunan pedang. Kemenangan itu buah dari kesederhanaan Nabi yang gigih, keikhlasan Nabi yang telah mencapai puncaknya, kehati-hatian terhadap semua amanat yang diembannya, pengabdian yang mendalam terhadap para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, ketidaktakutannya, keyakinan yang sempurna terhadap Tuhan dan misinya. Inilah semua dan bukanlah jalan pedang yang mengatasi semua halangan-halangan itu. Ketika saya menyelesaikan Bab ke-dua dari biografi sang Nabi, saya menyesal: sudah tidak ada lagi kehidupan agung lain yang bisa saya pelajari.” - Young India, 1922.

Edward Gibbon:
“Citra baik Muhammad mengalahkan ketenaran raja-raja. Nabi yang diutus Tuhannya ini melakukan pekerjaan sehari-hari. Ia menyalakan api, menyapu lantai, memeras susu kambing, dan menambal sendiri sepatu dan pakaiannya yang terbuat dari wol. Seakan menolak pencitraan dirinya sebagai seorang pertapa suci yang diagungkan, ia menjalani hidup seperti seorang bangsa Arab dan seorang prajurit - dengan sedikit makan.
Dalam suatu acara yang hikmat, ia menjamu para tamunya dengan cara sederhana dan penuh keramahan. Namun dalam kehidupan pribadinya, minggu-minggu terlewatkan dengan serba kekurangan di dalam rumahnya. Ia tidak mengenal anggur dalam kebiasaan hidupnya. Rasa laparnya cukup terpuaskan oleh sepotong roti: ia merasa amat bahagia dengan seteguk susu dan madu, sebab kurma dan air adalah menu sehari-harinya.” - Edward Gibbon, The History of the Decline And Fall of The Roman Empire, Vol. VI, London: The Folio Society, p.264.

Bosworth Smith:

“Dia adalah kepala negara sekaligus pemimpin agama, dia adalah Kaisar dan Paus jadi satu. Tapi, dia adalah Paus tanpa kekuasaan kepausan, dan Kaisar tanpa pasukan kekaisaran, tanpa bala-tentara yang siap tempur, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pemasukan yang tetap. Jika ada seorang manusia yang berhak untuk menyatakan bahwa ia memerintah atas perintah ilahi, maka itu adalah Muhammad, karena ia memiliki seluruh kekuasaan tanpa perangkat dan pendukung yang dibutuhkan bagi sebuah kekuasaan seperti itu." - Bosworth Smith, Mohammad and Mohammadanism, London, 1874, p. 92.

Annie Besant:

“Adalah tidak mungkin bagi seseorang yang mempelajari kehidupan dan karakter seorang Nabi besar dari bangsa Arab itu - yang mengetahui bagaimana ia mengajar dan menjalani hidup - hanya akan tiba pada sekedar rasa hormat saja atas kemuliaan Nabi yang menakjubkan ini, salah seorang utusan Tuhan yang teragung. Dan walau pun dalam karya-karya saya yang mungkin dikenal banyak orang, saya menulis banyak tentangnya tetap saja ketika saya membacanya berulang kali, rasa hormat, penghargaan dan takjub saya tak pernah ada habisnya bagi mahaguru dari bangsa Arab itu.” - Annie Besant, The Life and Teachings of Muhammad, Madras, 1932, p.4.

Dr. TVN Persaud:

Menurutku, Muhammad adalah seorang lelaki biasa. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Dia buta huruf. Tetapi kita sedang membicarakan masa 1.400 tahun yang lalu. Dimana sesorang yang buta huruf membuat pernyataan-pernyataan menakjubkan, yang secara ilmiah luar biasa akurat. Saya secara pribadi tidak bisa melihat hal ini sebagai sebuah kebetulan belaka. Terlalu banyak akurasi yang dia berikan, seperti Dr. Moore, saya tidak punya keraguan dalam fikiran saya bahwa adalah wahyu Tuhan yang membimbing Muhammad dalam membuat pernyataan-pernyataan itu” - Dr. TVN Persaud, Profesor Anatomi, Ahli Kesehatan dan Penyakit Anak, Kanada. Mempublikasikan lebih dari 181 tulisan ilmiah. Tahun 1991 menerima penghargaan tertinggi bidang anatomi di Kanada.

Profesor Tagata Tagasone:

“Dari penelitian-penelitian saya dan apa yang telah saya pelajari dari konferensi ini, saya percaya bahwa segala yang telah ditulis di Qur’an 1.400 tahun yang lalu adalah kebenaran yang dapat dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Karena Muhammad tidak dapat menulis dan membaca, Muhammad pastilah seorang utusan yang menyampaikan kebenaran yang diwahyukan kepadanya sebagai pencerahan dari yang Maha Pencipta. Sang pencipta ini pastilah Tuhan, atau Allah. Karena itu, saya rasa inilah waktunya saya mengucapkan “Laa ilaaha illallah, dan tidak ada Tuhan yang pantas disembah melainkan Allah, ‘Muhammad Rasool Allah’, Muhammad adalah utusan Allah …” - Profesor Tagata Tagasone, Mantan Kepala Fakultas Anatomi dan Embriologi di Universitas Chiang Mai, Thailand.

Lamartine: “ Adakah yang lebih hebat dari dia? ”

Apabila tujuan yang luarbiasa besar, dengan bekal memulai yang amat minim, dan hasil yang juga luarbiasa besar, adalah tiga syarat untuk sesorang disebut jenius, siapa yang berani membandingkan manusia hebat mana pun dalam sejarah modern ini dengan Muhammad? Orang-orang yang paling terkenal hanya menghasilkan senjata, hukum dan kekaisaran. Mereka menemukan tak lain hanya kekuatan material yang seringkali lenyap begitu saja di depan mata.
Orang ini (Muhammad) tidak hanya mengendalikan pasukan, undang-undang, kerajaan-kerajaan, orang-orang dan dinasti, tetapi jutaan manusia di sepertiga dunia yang dihuni masa itu; dan lebih dari itu. Dia menggoyangkan altar-altar, dewa-dewa, agama-agama, ide-ide, kepercayaan-kepercayaan dan jiwa-manusia... keuletannya untuk mencapai kemenangan, tekadnya... kesemuanya semata dicurahkan untuk satu gagasan mulia, dan samasekali bukan untuk membangun sebuah kekaisaran.
Doanya yang terus-menerus, wahyu yang dia peroleh dari Tuhan, kematiannya dan pencapaiannya setelah kematian, semuanya ini tidak lain membuktikan pendiriannya yang gigih, yang memberikannya kekuatan untuk menegakkan sebuah ajaran. Ajaran ini ada dua sisi: Keesaan Tuhan dan Tuhan sebagai dhzat yang immaterial. Ajaran yang pertama manjelaskan tentang apa Tuhan itu, ajaran kedua menjelaskan tentang apa yang bukan Tuhan. Yang pertama menghancurkan tuhan-tuhan palsu melalui perlawan, yang kedua menjelaskan tentang Tuhan melalui kata-kata.
Filosof, orator, rasul, pembuat undang-undang, pejuang, pencetus ide-ide, pelestari ajaran yang rasional dan keyakinan tanpa simbol-simbol, pendiri duapuluhtiga kerajaan dengan satu agama, itulah Muhammad. Dengan menggunakan standar manusiawi apa pun, kita boleh bertanya, adakah orang yang lebih hebat dari dia? - Lamartine, Histoire de la Turquire, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277.
Maxime Rodinson: “ Sang penyeru dan politisi handal ”
Muhammad yang dulunya seorang bocah dan pria muda yang gelisah telah menjadi Muhammad Sang Nabi. Berkat kepatutan pendekatan, baik secara pribadi, agama mau pun sosial, pesannya disambut dengan penuh semangat oleh sekelompok kecil orang yang selanjutnya menjadi sahabat setia. Kelompok ini kemudian menjadi sebuah komunitas, komunitas agama. Di Madinah, Muhammad menemukan dirinya dalam situasi yang memungkinkan – bahkan mengharuskan dia melakukan perjuangan untuk memperoleh kekuasaan di daerah oase itu… Lima tahun kemudian setelah peristiwa hijrah, kelompok tadi telah mentransformasikan dirinya menjadi sebuah negara yang dihormati oleh para tetangganya...
Sejarah, dan khususnya sejarah Islam, mengenal para tokoh pembaharu lainnya di bidang agama, yang memiliki posisi untuk memainkan peran politik. Namun sering mereka terbukti tak mampu beradaptasi pada bekerjanya kekuatan-kekuatan “political interplay” yang ada. Mereka telah gagal bertindak pada saat dan tempat yang diperlukan, mereka tidak tahu cara bagaimana “membaca” berbagai tujuan jangka panjang, dan juga tidak berhasil menjalankan kegiatan praktis yang terus-menerus dapat berubah, untuk memenuhi kebutuhan yang juga terus-menerus berubah sesuai kebutuhan pada saat itu juga. Terkadang para pemimpin agama itu pun harus bekerjasama dengan orang yang memiliki kepiawaian menyiasati – yang tinggi tingkat kesulitannya – dan yang mampu mewujudkan rencana-rencana. Tetapi Muhammad menemukan dalam dirinya semua hal itu: dia memiliki semua bekal yang dibutuhkan untuk memenuhi peran gandanya tersebut.
Di Medina, sang penyeru kebenaran abadi tersebut telah muncul pula sebagai seorang politisi yang ulet dan handal. Mampu mengendalikan perasaannya dan tidak memperbolehkan perasaan tersebut terlihat kecuali pada waktunya yang tepat. Mampu menunggu sekali pun untuk waktu yang lama, dan bertindak cepat jika saat yang tepat datang... Dengan cara yang sama - sebagian besarnya - dia juga telah membuktikan dirinya sebagai jendral piawai, yang mampu, dalam merancang peperangan secara cerdik, dan mengambil langkah tepat yang diperlukan di setiap pertempuran”. – Maxime Rodinson, Muhammad, diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Anne Carter, London.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons