Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.
Tampilkan postingan dengan label Wali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wali. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 September 2012

KH Hamim Jazuli (Gus Mik): Kiai Nyentrik dan Musafir Pecinta Al-Quran

Panggilan akrabnya Gus Mik. Ia pelindung rakyat jelata. Kebeningan hati Kiai ini mempu menembus batas kelas dan agama
Di Hotel Elmi Surabaya, suasana kafe gaduh. Hentakan musik menggebrak setiap sudut ruangan. Kepulan asap rokok menyesakkan dada. Bau alkohol menusuk hidung. Seorang lelaki berwajah teduh duduk mengobrol di pojok kafe, tubuhnya sedang, rambutnya ikal. Sebatang rokok terselip di antara jari-jarinya. Ia ditemani beberapa orang.
Dari mulutnya meluncur kalimat-kalimat menyejukkan. Terkadang terdengar tawa segar. Kata banyak orang lelaki itu sering menghabiskan waktunya di kafe tersebut. Bahkan tidak hanya di Kafe Elmi, di beberapa diskotik Surabaya pun namanya banyak dikenal. Ia juga dikenal sebagai Kiai yang nyentrik.
Itulah dunia Kiai Hamim Jazuli alias Gus Mik. Ia adalah tokoh sentral kegiatan Semaan Al-Quran yang pengikutnya ribuan orang. Semaan adalah kegiatan membaca dan mendengarkan Al-Quran bersama-sama, dilakukan oleh banyak orang dalam sebuah majelis. Ia dikenal sebagai Kiai yang mengayomi umat, terutama rakyat jelata. Kekhasan gayanya dalam menyebarkan kebenaran sangat unik. Tidak seperti ulama lainnya, lahan garapannya adalah orang-orang pinggiran yang sering disebut “Manusia Malam.”
Banyak cerita yang beredar tentang almarhum Gus Mik. Mulai dari kehidupan sehari-harinya sampai keanehan-keanehan yang sering di luar nalar. Ia memang memiliki kelebihan yang unik. Hampir di sepanjang hayatnya ia dekat dengan kaum lemah dan papa, kaum pinggiran atau yang terpinggirkan. Ia lebih suka berpakaian trendi ketimbang surban, jubah atau sarung. Pergaulannya sangat luas. “Saya merasa dituntut untuk menguasai bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati,” katanya suatu ketika.
Tentang hal ini ia pernah berkata kepada sebuah majalah, “Kalau saya masuk ke tempat-tempat seperti diskotik, karaoke, saya hanya tertawa. Saya sendiri senang. Tetapi saya lebih tertarik pada pendapat seorang ulama terdahulu, jika tidak salah namanya Imam Ahmad bin Hambal. Kalau masuk ke tempat hiburan yang diharamkan oleh Islam, justru Imam Ahmad bin Hambal berdoa, di pintu pertama ia berdoa: Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta-pora di tempat seperti ini, semoga berpesta poralah di akhirat nanti.”
Sewaktu ia masih hidup, banyak orang memburunya, bahkan tidak sedikit yang merelakan waktunya berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk dapat bertemu dengannya, walau hanya sekedar bersalaman. Tamunya berdatangan dari berbagai golongan, mulai dari tukang becak, santri, politikus, pejabat sampai jenderal. Mereka percaya bertemu dengan Gus Mik akan membawa berkah tersendiri. Mereka kebanyakan datang untuk minta nasihat tentang berbagai persoalan hidup.
Gus Mik juga sering diminta memberikan nama seorang bayi yang baru lahir. “Dulu, pada usia 10 tahun, saya banyak didekati orang. Entah dikira saya itu apa, atau bagaimana. Bahasa orang-orang yang datang kepada saya ya ini-itu saja, minta restu, mengungkapkan kekurangan, banyak juga yang meminta doa supaya banyak rezeki. Orang yang mau melahirkan juga datang kepada saya, dikira saya ini bidan,” tuturnya suatu ketika.
Meski dikenal sebagai kiai kondang, Gus Mik sesungguhnya rendah hati. “Saya ini bukan kiai, bukan ulama. Saya adalah orang yang dipaksakan untuk dipanggil kiai. Saya cuma ingin benar dan tak ingin terlalu banyak salah,” katanya. Ia juga tak segan-segan membantu orang yang dalam kesusahan. Bisa dimakluni jika tamunya berjubel. Sampai-sampai pernah 18 hari 18 malam tidak tidur karena sibuk menerima tamu. Ia mengaku tak kuasa menolak tamu, yang minta doa untuk menyelesaikan berbagai masalah, mulai dari bisnis sampai soal perjodohan.
Selain rendah hati, sesungguhnya ia adalah orang yang sangat sederhana. Meski keluarganya tinggal di Kediri –dan tak seorangpun tahu alamatnya– jika suatu saat ia berada di Surabaya lebih suka tidur beralaskan kertas koran di rumah Pak Syafii, salah seorang sahabatnya. Kadang-kadang tidur di kursi plastik jebol ditemani sebuah teko kuningan berisi teh kental dan dua gelasnya, tak lupa sebuah asbak pebuh puntung rokok kretek. Ia memang perokok berat.
Dalam sebuah wawancara Gus Mik bilang, dia bukan apa-apa. “Kita jangan sekali-kali sok suci atau super bersih. Sebab di bumi ini ada dua penampilan. Pertama, penampilan sebagai manusia satu-satunya di bumi yang paling top, paling sukses, paling suci, paling bersih. Kedua, sebaliknya, sebagai manusia penghuni bumi yang bukan apa-apa. Saya hanyalah saya. Insyaallah kalau dalam jiwa kita sudah tertanam perasaan sebagai hamba Allah, akan tertanam pula rasa dosa, rasa salah, rasa kekurangan, sehingga keinginan untuk mohon pengampunan kepada Allah akan lebih besar dan meningkat, dan itu ternyata sulit. Termasuk saya sendiri, yang ngomong belum tentu bisa apa-apa,” katanya.
Gus Mik lahir di Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, sekitar 1940. Tanggal lahirnya tidak pernah disebutkan. Ia adalah anak lelaki ketiga KH. Ahmad Jazuli, pendiri Pondok Pesantren Al-Falah di kampung halamannya, Ploso. Sejak kecil ia memang sudah terlihat aneh. Ia mengaku sering dianggap aneh, bahkan tidak jarang ada yang mengatakan tidak waras. “Dari usia 11 tahun saya seperti orang sakit. Saya dianggap tidak waras. Kerja saya hanya di sungai, mancing terus menerus,” tuturnya.
Memang sejak kecil ia suka mengembara, sehingga orang tuanya tidak tahu di mana Khamim kecil berada. Bahkan oleh ayahnya ia pernah dianggap sebagai anak hilang, kebiasaan ini berlanjut hingga masa tuanya. Bukan rahasia lagi, orang sulit mencarinya. Bahkan banyak orang mengatakan, bisa bertemu dengan Gus Mik “jodoh-jodohan”. Kalau memang jodoh ya gampang. Kalau jodoh tak dicaripun ia muncul. Tetapi kalau tidak jodoh, dicari sampai sebulan pun belum tentu ketemu, ujar seorang wartawan yang pernah mengubernya.
Salah satu peninggalan Gus Mik yang tumbuh pesat sampai saat ini ialah semaan Al-Quran. Forum semaan mula-mula didirikan pada 1986 di Kampung Burengen, Kediri. Mula-mula pengikutnya hanya 10-15 orang, lama kelamaan ribuan. Tempatnya pun tidak hanya di masjid atau di rumah, tetapi sudah memasuki pendopo Kabupaten sampai Keraton. Tentang berdirinya jemaah semaan ini, Gus Mik bercerita:
“Dari berkelana, timbullah gagasan semaan Al-Quran. Saya ingin benar dan tak ingin salah terlalu banyak. Lalu saya mengambil langkah silang dengan mengatakan kepada pafa santri agar berkumpul sebulan sekali, mengobrol, guyon, santai. Syukur-syukur bisa menghibur diri dengan hiburan yang berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan pakem bahwa pertemuan seperti itu dibarengi membaca dan mendengarkan Al-Quran. Syukur dari awal sampai akhir Allah akan memberikan rahmat dan nikmat-Nya. Jadi secara batiniyah, semaan Al-Quran adalah hiburan yang hasanah, yang baik, juga sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah, sebagai tabungan di hari akhir. Itu harus benar-benar diyakini oleh jemaah semaan Al-Quran.”
Al_Quran memang mempunyai barakah. Dan menurut Gus Mik, orang yang mendengarkan dan membaca Al-Quran mendapat pahala yang sama. “Malah dalam sebuah ulasan, seorang ulama dikatakan, orang yang mendengarkan bacaan Al-Quran pahalanya lebih besar daripada yang membaca. Sebab yang mendengar lebih main hati, pikiran dan telinga. Pendengar dituntut lebih menata hati, pikiran, dan lebih memfokuskan pendekatan diri kepada Allah,” katanya. “Satu-satunya upaya untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah majelis semaan Al-Quran. Hal ini berdasarkan sebuah hadits, “Barang siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, beradalah dia dalam alunan Al-Quran.”
Sewaktu Gus Mik masih hidup, para samiin, pengikut jemaah samaan, selalu menunggu kehadirannya. Tetapi dalam banyak kesempatan Gus Mik jarang hadir pada acara semaan itu, kalaupun hadir, ia hanya sebentar. Itupun biasanya diakhir acara. “Saya ini samiin yang tidak konsekuen,” katanya merendah dengan nada lirih. Begitu ia datang, Gus Mik langsung dikerubuti ribuan jemaah. Sampai-sampai suatu kali ia pernah diselundupkan ke jemaah wanita untuk menghindari serbuan para samiin.
Di samping semaan Al-Quran, beliau juga mendirikan majelis “Dzikrul Ghafilin”. Maksudnya, dzikir orang-orang yang lupa kepada Allah. Seperti halnya majelis semaan, acar dzikir bersama yang lazim disebut mujahadah ini juga di ikuti ribuan orang dengan sangat khusuk. Orang berdatangan dari berbagai pelosok desa. Sampai sekarang, baik semaan maupun majlis dzikir tetap diminati ribuan kaum muslimin, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sayang dua kegiatan rohaniah yang semula dimaksudkan sebagai ritus di kalangan kaum yang terpinggirkan ini kini berkembang menjadi “upacara” resmi di kalangan pejabat.
Banyak cerita tentang karamah atau kemuliaan yang muncul di sekitar kehidupan Gus Mik, yang oleh kalangan awam dianggap aneh. Di antaranya, kemampuan Gus Mik bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan air putih. Banyak juga yang percaya, Gus Mik bisa terlihat di dua tempat. Salah satunya ketika KH Mustain Romli, pendiri Pesantren darul Ulum Jombang, dan seorang Mursyid sebuah tarekat, meninggal dunia.
Ketika itu, KH Ahmad Jazuli, ayahnda Gus Mik, berangkat untuk takziyah bersama keluarganya. Gus Mik kecil yang diajak ikut serta menolak, ia memilih tinggal di rumah. Tetapi setelah keluarga KH Jazuli tiba di rumah duka, betapa terkejutnya, karena mendapatkan Gus Mik sudah berada di sana. Yang lebih mengherankan lagi, keluarga KH Mustain menuturkan, Gus Mik sudah menemani KH. Mustain sejak seminggu sebelum almarhum wafat.
Ada cerita unik lainnya, suatu hari ketika shalat jumat tiba, Gus Mik hilang. Orang-orangpun bingung dibuatnya, setelah salat jumat usai, mereka berusaha mencari Gus Mik, tiba-tiba Gus Mik muncul dengan membawa seonggok kurma yang ranting-rantingnya masih meneteskan getah segar. Mereka meyakini, Gus Mik shalat Jumat di Makkah.
Banyak orang yang pernah melihat Gus Mik Memberi uang kepada fakir miskin. Anehnya uang tersebut diberikan setelah ia secepat kilat menggerakkan tangan kanannya ke udara. Secara mendadak ia sudah menggenggam segepok uang. Meski dikenal nyentrik, Gus Mik banyak melakukan aktivitas rekigius.
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, pernah menulis Gus Mik sering terlihat berziarah ke makam Syekh Ihsan di Jampes, Kediri, 40 hari sekali. Syekh Ihsan dikenal sebagai ulama yang sangat rajin menulis kitab-kitab agama. Atau berziarah ke makam Mbah Mesir di Trenggalek, pembawa tarekat Syadziliyah, dua abad lampau. Menurut Gus Dur, Gus Mik mengidolakan ulama yang perduli kepada kaum dhuafa atau kaum lemah.
Kiai kharismatik yang hidupnya sangat sederhana, kaya dengan karamah, sangat dekat dengan orang-orang kebanyakan pembela dan pelindung kaum papa dan miskin ini, tak ayal lagi dianggap sebagai orang wali, orang suci, sosok yang pergaulannya sangat luas ini wafat di Rumah Sakit Budi Mulia, Surabaya, pada 5 Juni 1993, dan dimakamkan di pemakaman para wali di Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kediri.

Sumber : http://www.sufiz.com/jejak-wali/kh-hamim-jazuli-gus-mik-kiai-nyentrik-dan-musafir-pecinta-al-quran.html

Kamis, 06 September 2012

Kisah Karomah Mbah Ma’shum Lasem

Mbah Ma’shum Lasem, Jawa Tengah, adalah ulama besar yang tindakannya sering sulit dicerna nalar awam. Setelah peristiwanya, barulah orang mengerti apa sesungguhnya yang terjadi.

Diperkirakan, Mbah Ma’shum lahir pada tahun 1868. Dia adalah anak bungsu pasangan Ahmad dan Qosimah. Oleh orangtuanya dia kemudian diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama, karena sejak kecil diatelah ditinggal wafat oleh ibunya. Dari Kiai Nawai dia mendapat pelajaran dasar ilmu alat (nahwu) yang diambil dari kitab Jurumiyyah dan Imrithi.

Pengembaraannya mencari ilmu tidak sebatas di Lasem, melainkan sampai ke Jepara, Kajen (Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, dan Kiai Siroj), Kudus (Kiai Ma’shum dan Kiai Syarofudin), Sarang Rembang (Kiai Umar Harun), Solo (Kiai Idris), Termas (Kiai Dimyati), Semarang (Kiai Ridhwan), Jombang (Kiai Hasyim Asy’ari), Bangkalan (Kiai Kholil), hingga Makkah (Kiai Mahfudz At-Turmusi), dan kota-kota lain.

Suatu saat, di Semarang, dia tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Ketika di Bojonegoro, dia tidak hanya bermimpi, melainkan, antara tertidur dan terjaga, dia bertemu dengan Nabi, yang memberikan ungkapan La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, yang artinya “Tidak ada kebaikan (yang lebih utama) daripada menyebarkan ilmu”.

Di rumahnya sendiri, dia bermimpi kembali. Dalam mimpinya, ia bersalaman dengan Nabi Muhammad SAW, yang berpesan, “Mengajarlah, segala kebutuhanmu insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.”

Di kemudian hari, Mbah Ma’shum menjadi ulama besar yang dikenal memiliki banyak karamah. Inilah beberapa kisah karamahnya:

Walisanga Bertamu

Ada satu kisah karamah lain yang menunjukkan ketinggian kedudukan spiritualnya. Hari itu datang sembilan orang tamu ke Lasem. Mereka ingin berjumpa dengan Mbah Ma’shum.

Namun, karena tuan rumah sedang tidur, Ahmad, seorang santrinya, menawarkan apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan. Ternyata mereka menolak.

Lalu mereka semua, yang tadinya sudah duduk melingkar di ruang tamu, berdiri sambil membaca shalawat, kemudian berpamitan.

“Apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan?” tanya Ahmad sekali lagi.

“Tidak usah,” ujar me­reka serempak lalu pergi.

Rupanya saat itu Mbah Ma’shum mendusin dan bertanya kepada Ahmad perihal apa yang baru saja terjadi.

Setelah mendapat penjelasan, Mbah Ma’shum minta kepada Ahmad agar mengejar tamu-tamunya.

Tapi apa lacur, mereka sudah menghilang, padahal mereka diperkirakan baru sekitar 50 meter dari rumah Mbah Ma’shum.

Ketika Ahmad akan melaporkan hal tersebut, Mbah Ma’shum, yang sudah bangun tapi masih dalam posisi tiduran, mengatakan bahwa tamu-tamunya itu adalah Walisanga dan yang berbicara tadi adalah Sunan Ampel.

Setelah mengucapkan kalimat terse­but, Mbah Ma’shum tertidur pulas lagi.

Beras Melimpah

Di depan para cucunya, Mbah Ma’shum memimpin pembacaan istighatsah dan membaca potongan syair Al-Burdah yang artinya, “Wahai makhluk paling mulia (Muhammad), aku tak ada tempat untuk mencari perlindungan kecuali kepadamu, pada kejadian malapetaka nan besar nanti.”

Syair tersebut dibaca 80 kali, dilanjutkan dengan doa sebagai berikut: “Ya Allah, orang-orang yang ada dalam tanggungan kami sangat banyak, tetapi beras yang ada pada kami telah habis. Untuk itu kami mohon rizqi dari-Mu.”

Selain mengamini, Nadhiroh, salah seorang cucunya, berteriak, “Mbah, tambahi satu ton.”

Ditimpali oleh Mbah Ma’shum, “Tidak satu ton, tepi lebih….”

Beberapa hari kemudian, beras seolah mengalir dari tamu-tamu yang datang dari berbagai kota, seperti Pemalang dan Pasuruan, ke tempat Mbah Ma’shum.

Masih soal beras. Pada kali yang lain, setelah mengajar 12 santrinya lalu diikuti dengan membaca Alfiyah, Mbah Ma’shum minta mereka mengamini doanya, karena persediaan beras sudah habis.

“Ya Allah, Gusti, saya minta beras….”

“Amin…,” ke-12 santri itu, yang ditampung dan ditanggung di rumah Mbah Ma’shum, khidmat menyambung doanya.

Jam sebelas siang, datang sebuah becak membawa beberapa karung be­ras. Tanpa pengantar, kecuali alamat ditempel di karung-karung beras itu. Di sana tertera jelas, kotanya adalah Banyuwangi.

Kepada santrinya yang bernama Abrori Akhwan, Mbah Ma’shum minta agar mencatat alamat yang tertera di karung itu.

Suatu saat ketika berkunjung ke Banyuwangi, Mbah Ma’shum bermaksud mampir ke alamat itu. Saat alamat tersebut ditemukan, tempat itu ternyata kebun pisang yang jauh di pedalaman. Ironisnya, masyarakat di sana hampir- hampir tak ada yang kelebihan rizqi. Lalu siapa yang mengirim beras?

“DuaTahun Lagi Saya Menyusul”

“Seandainya Paman wafat pada hari ini, saya akan menyusui dua tahun kemudian,” demikian reaksi Mbah Ma’shum ketika mendengar kabar bahwa pamannya, Kiai Baidhowi, meninggal hari itu, 11 Desember 1970.

Bahkan ucapan itu ditegaskan sekali lagi langsung di telinga almarhum ketika dia menghadiri pemakamannya, “Ya, Paman, dua tahun lagi saya akan menyusui.”

Mbah Ma’shum tutup usia pada 28 Oktober 1972 atau 12 Ramadhan 1332, sepulang dari shalat Jum’at di masjid jami’ Lasem, tak jauh dari rumahnya.

Persis seperti ucapannya, menyusui dua tahun setelah pamandanya wafat.

Mengajar atau Menolong Orang juga “Dzikir”

Kisah lain, sambil memijit badan Mbah Ma’shum, Abrori Akhwan, yang kala itu, awal dekade 1960-an, masih menjadi santri di pesantren Mbah Ma’shum, Al-Hidayat, dalam benaknya terlintas pertanyaan, kenapa Mbah Ma’shum tak pernah menggunakan peci haji atau sorban bila keluar rumah, tidak pernah berdzikir dalam waktu yang lama, dan tidak banyak kitab kuning di rumahnya.

Pikiran itu rupanya terbaca oleh Mbah Ma’shum. Tak lama kemudian, ia berujar, “Seorang kiai tidak harus meng­gunakan peci haji atau sorban. ‘Berdzikir’ kepada Allah bisa dilakukan langsung secara praktek, seperti misalnya kita mengajar atau menolong orang, tidak harus dalam waktu lama dengan bebe­rapa bacaan tertentu. Kitab kuning sebenarnya banyak, tapi dipinjam oleh Ali, anak sulungku.”

Insya Allah akan Kembali

Ketika dalam perjalanan silaturahim ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, Mbah Ma’shum kehilangan kacamata di kereta api yang tengah meluncur, antara Tegal dan Pekalongan. Menyadari hal itu, ia kemudian mengajak para pengikutnya membaca surah Adh-Dhuha. Dan ketika sampai ayat wawajadaka dhaallam fahada, ayat tersebut dibaca delapan kali.

“Dengan membaca surah tersebut, insya Allah barang kita yang hilang akan kembali. Setidaknya Allah akan memberikan ganti yang sesuai,” katanya kemudian.

Ketika rombongan mampir ke rumah Kiai Faturrahman di Kebumen, Mbah Ma’shum melihat sebuah kacamata di lemari kaca tuan rumah, persis miliknya yang hilang. Dengan spontan ia berkata, “Alhamdulillah.”

Kepada Faturrahman, ia bertanya, “Apa ini kacamata saya?”

Dijawab Kiai Faturrahman dengan terbata-bata, “Ya mungkin saja, Mbah….”

Kemudian kacamata itu diambil dan dipakai oleh Mbah Ma’shum.

Kendaraan Soal Belakang

Kali ini soal dokar. Santri yang mengawal Mbah Ma’shum kebingungan. Se­telah maghrib, sudah menjadi kebiasaan, dokar di daerah Batang, Pekalongan, tidak akan ada yang berani keluar ke­cuali kalau dicarter. Namun Mbah Ma’shum berkata, “Shalat dulu, kendaraan soal belakang.”

Ketika itu rombongan Mbah Ma’shum sudah sampai di sebuah mushalla. Maka shalatlah mereka secara berjama’ah. Bahkan dilanjutkan hingga shalat Isya.

Setelah semua selesai, rombongan pun melanjutkan perjalanan. Dan, tanpa diduga, begitu rombongan keluar dari halaman mushalla, lewatlah sebuah do­kar kosong. Mereka pun menaikinya. Subhanallah,…

(Disadur dari Majalah Alkisah No. 26/Tahun VII)

Jumat, 10 Agustus 2012

Syekh Jangkung, Wali Lugu dari Pati

Wali yang termasuk murid Sunan Kalijaga ini terkenal dengan keluguannya. Sifat itu membawanya pada ketulusan sejati seorang manusia.

Masyarakat Desa Miyono gempar. Branjung, salah satu warga yang cukup terpandang karena kekayaannya, ditemukan tewas di kebun belakang rumahnya. Segera petugas dari desa mengusut ke tempat kejadian perkara, menyelidiki sebab kematian Branjung dan siapa pembunuhnya.

Di saat warga Desa Miyono sudah berkerumun di rumah Branjung tiba-tiba muncul Saridin. Masyarakat langsung menunjukkan pandangan pada adik ipar Branjung yang terkenal melarat itu. Saridin datang dengan sebilah bambu runcing yang ujungnya berlumuran darah. Segera Saridin dipanggil. “Kemari kamu, Din,” ujar seorang petugas.

“Ya… saya tuan,” jawab Saridin.

“Kamu tahu siapa yang membunuh Branjung?” ujar petugas itu sambil menunjuk mayat Branjung dengan sikap menyelidik. Saridin menggeleng. Tapi petugas yang sudah curiga itu tak mau menyerah. Mayat Branjung yang mengenakan baju macan ia rapikan lagi hingga tubuh Branjung yang terbaring itu kini menyerupai macan. “Nah, kalau ini kamu tahu siapa yang membunuh?” tanya petugas itu lagi.

“Lha, kalau macan ini saya membunuh,” jawab Saridin. Tak ayal warga Desa Miyono gempar dengan pernyataan Saridin itu. Berarti Saridin-lah yang membunuh Branjung.

Semalam memang telah terjadi peristiwa pembunuhan di kebun belakang rumah Branjung. Ceritanya diawali ketika Saridin menjagal buah durian yang kepemilikannya ia bagi dua dengan abang iparnya, Branjung. Perjanjiannya adalah setiap durian yang jatuh pada siang hari dimiliki oleh Brajung, sedang yang jatuh pada malam hari dimiliki oleh Saridin. Branjung yang mengajukan perjanjian itu. Rupanya Brajung salah mengira, ia pikir pada siang hari durian jatuh dari pohon. Padahal durian jatuh pada umumnya pada malam hari.

Jelas saja setiap siang Branjung tidak mendapat durian satu pun. Sedangkan pada malam hari ia mengintip ke kebun dan melihat Saridin selalu mendapatkan durian jatuh dalam jumlah cukup banyak. Kenyataan ini membuat Brajung memiliki niat licik. Merasa telah rugi ia berencana menakut-nakuti Saridin dengan menyamar sebagai macan. Dan tanpa pikir panjang segeralah ia bergerak sambil berjalan meniru macan.

Pertama Saridin tidak menyadari keberadaan abang iparnya yang menyamar jadi macan itu, tapi Saridin mulai curiga saat ia tidak menemukan durian dari arah suara jatuh yang ia dengar. Begitu sampai beberapa kali, sampai ia memergoki seekor macan yang membawa durian di tangannya. Tahulah Saridin sekarang, si macan yang kurang ajar itulah yang telah menyusup ke kebunnya. Merasa terancam dengan keberadaan macan itu Saridin langsung membunuhnya dengan bambu di genggamannya.
Dijebloskan ke Penjara

Dibawalah Saridin menghadap kepala desa untuk disidang secara adat. “Saridin, benar kamu telah membunuh kakak iparmu?” tanya kepala desa menegaskan.

“Pak kepala desa, demi Tuhan saya tidak membunuh kakak ipar sendiri,” jawab Saridin polos. Sebagaimana dilakukan petugas keamanan desanya, kepala desa lalu menutup lagi tubuh Branjung dengan pakaian macannya. “Nah, kalau macan ini kamu yang membunuh?” tanya kepala desa. “Ya, betul saya yang membunuh macan ini sebab ia mencuri durian saya,” jawab Saridin. Begitu terus sampai berulang-ulang. Saridin tetap tidak mengakui telah membunuh Branjung. Ia hanya membunuh macan, sebab memang itulah yang terjadi.

Kepala desa merasa bingung apa yang harus ia putuskan. Di satu sisi ia mengetahui bahwa Branjung telah dibunuh oleh Saridin, tapi Saridin tidak bisa dihukum sebab yang ia bunuh adalah macan, samaran kakak iparnya. Karena merasa tidak bisa mencari solusi masalah yang baru pertama kali terjadi ini, Kepala Desa Miyono membawa kasus ini ke Kadipaten Pati.

Di hadapan Joyo Kusumo, Bupati Pati, kejadian tadi kembali berulang. Kalau pakaian macan Branjung dibuka, Saridin tidak mengakui ia telah membunuh, sedang kalau pakaian Branjung dirapatkan Saridin mengakui ia telah membunuh. Tahulah Bupati, Saridin yang dihadapannya ini adalah orang desa yang lugu dan dungu maka dengan sedikit berbohong ia berkata.

“Ya sudah, Din, kalau begitu macan yang salah, karena macan salah, ia harus dikubur, kamu sendiri akan saya beri penghargaan karena telah membunuh macan. Kamu nanti akan saya pindahkan ke bangunan besar, di sana kamu akan diberi makan gratis setiap hari, kamu bebas tidur atau mengerjakan apa saja, tapi kamu tidak boleh keluar, kamu hanya boleh keluar kalau kamu bisa. Nanti kalau kamu mau mandi akan ada orang yang mengantar dan menjaga kamu,” ujar Joyo Kusumo kepada Saridin.

Sebagai orang yang melarat tentu saja Saridin senang mau diberi makan gratis. Apalagi kalau mandi akan diantar, “Wah, mirip Priyayi,” ujar Saridin gembira. Maka dibawalah Saridin ke tempat enak yang tidak lain adalah penjara itu. Di sana ia mendekam sebagai tahanan. Disitulah Saridin mulai menyadari apa yang menimpanya. Karena Bupati membolehkan dirinya keluar dari penjara kalau ia bisa. Saridin ingin keluar untuk minta maaf pada istrinya sebab telah menjadi suami yang berulah. Di sana pula Saridin menghayati wejangan Sunan Bonang, yang mengatakan, jika seorang manusia telah menyatukan rasa dengan Sang Pencipta, apa yang diingnkan pasti akan terlaksana.

Begitulah Saridin dapat pulang dan minta maaf kepada istrinya. Beberapa kali itu ia lakukan. Tapi dasar lugu dan jujur, setelah menengok sang istri, Saridin pulang kembali ke penjara. Sampai akhirnya kelakuannya ini diketahui petugas dan membuat berang Bupati, Saridin dijatuhi hukuman mati tapi berhasil meloloskan diri karena Bupati memperbolehkan dirinya kabur bila berhasil lolos dari kepungan prajurit.

Demikianlah satu babak dalam cerita Saridin yang turun temurun dalam tradisi masyarakat Pati. Tokoh ini dikenal masyarakat sebagai seorang wali yang memiliki keluguan tiada tara. Ia memang rakyat biasa yang polos, tapi justru karena kepolosannya itulah yang membuat menguasaai ilmu hakikat.

Saridin yang juga dinamai Syekh Jangkung, hidup di daerah Kajen, Pati. Daerah itu masih ada sampai sekarang. Mengenai kelahirannya tidak ada data yang kongkrit yang m,encatatnya. Tapi menurut kisah turun temurun yang hidup subur dikalangan masyarakat dan pesantren di Pati. Saridin diyakini hidup se zaman dengan para walisongo, yakni pada abad ke-15.
Cerita Lucu di Kudus

Keberadaan Syekh Jangkung amat terkait dengan Sunan Kalijaga. Wali keramat inilah yang mengajarkan Saridin ilmu hakikat. Konon, Sunan Kalijaga juga yang menolongnya saat bayi dibuang oleh ibunya di sungai. Makanya kemudian Saridin mengamalkan beberapa wejangan sufistik dari Sunan Bonang yang ia dapatkan dari Sunan Kalijaga.

Keberadaan Saridin juga tidak bisa lepas dari Sunan Kudus. Saat melarikan diri ke kabupaten Pati, Saridin bertemu dengan Sunan Kalijaga yang menyuruhnya belajar di pesantren Sunan Kudus di Kudus. Maka berangkatlah Saridin untuk menuntut ilmu.

Sekalipun ia murid baru, Saridin sudah menguasai dasar-dasar agama. Seperti syahadat dan rukun iman yang didapatnya dari Sunan Kalijaga. Kepada Sunan Kudus Saridin menggali lagi makna kalimat suci itu. Saat mengaji itulah beberapa peristiwa unik terjadi.

Karena murid baru dikerjai oleh murid-murid lama. Para santri setiap hari diwajibkan mengisi tempat air untuk wudu. Nah, Saridin yang juga terkena kewajiban itu rupanya tidak kebagian ember. Para santri lama tak ada satupun yang mau meminjamkan ember padanya.

Melihat Saridin bingung kesulitan mendapatkan ember, seorang santri bilang dengan maksud mengolok. “Din, kamu tidak kebagian ember ya, tuh ada keranjang…. Bawa saja air di sumur itu pakai keranjang,” ujar santri itu sambil menahan senyum. Terdorong melaksanakan kewajibannya Saridin membawa saja keranjang itu. Ajaib, air yang seharusnya lolos di sela-sela lubang keranjang itu, malah dapat tertampung hingga Saridin dapat mengisi tempat wudu sampai penuh. Para santri yang melihat hanya melongo melihat ulah Saridin.

Berita itu akhirnya sampai kepada Sunan Kudus. Di hadapan mursyidnya itu Saridin dengan jujur menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang tertinggal. Menganggap Saridin sedang menyombongkan diri dengan kelebihannya, Sunan Kudus lalu mengetes Saridin. “Din… kamu ;kan tadi mengisi air, sekarang di tempat wudu itu apakah ada ikannya?” tanya Sunan Kudus. “Setiap air pasti ada ikannya, Kanjeng Sunan, begitu pula di tempat air wudu itu,” jawab Saridin polos. Para santri yang mendengar jawaban Saridin kontan tertawa. “Mana mungkin tempat wudu ada ikannya,” pikir mereka. Tapi setelah di cek memang betul ditemukan ikan di dalamnya.

Sunan Kudus gusar melihatnya, kali ini Sunan Kudus merasa ditantang. “Baik, Saridin, sekarang apa yang ada ditanganku ini?” ujar Sunan Kudus. “Buah kelapa, kanjeng,” jawab Saridin pelan.

“Katamu setiap air ada ikannya, kelapa ini didalamnya ada airnya, apakah kau tetap mengatakan bahwa dalam kelapa ini ada ikannya?” tanya Sunan Kudus lagi. “Ada Kanjeng,” jawab Saridin polos. Kembali hadirin tertawa karena menganggap Saridin dungu. Tapi setelah kelapa itu dibelah kagetlah mereka semua, termasuk Sunan Kudus, karena didalamnya ada ikan hidup yang berenang di air kelapa. Menganggap Saridin melakukan hal-hal yang tak patut, yaitu memperlihatkan karomah diri pada orang lain. Sunan Kudus marah, dan Saridin pun di usir dan tidak boleh menginjak tanah Kudus lagi.

Dengan putus asa Saridin pergi, rupanya hal yang dialaminya diketahui Sunan Kalijaga. Wali yang bijak ini lalu menasehati Saridin untuk sabar sekalipun perbuatannya tadi dilakukan tanpa maksud menyombongkan diri. Sikap Sunan Kudus juga dijelaskan oleh Sunan Kalijaga sebagai sikap yang wajar seorang manusia biasa yang merasa malu jika dipermalukan di depan orang lain di hadapan murid-muridnya. Setelah peristiwa itu Sunan Kalijaga Menyuruh Saridin mengasingkan diri untuk lebih dalam mengenal Allah SWT serta menjalani latihan-latihan rohani untuk menyatu dengan-Nya.

Setelah lulus Saridin kembali ke masyarakat, ia kemudian dikenal sebagai sufi yang namanya cukup disegani di masa Kerajaan Mataram. Ia mengajarkan konsep-konsep tasawuf pada orang-oarang yang ingin mengaji padanya. Ia menetap kembali di Kajen, tanah kelahirannya, sampai wafat. Makamnya masih sering diziarahi orang sampai sekarang.

Sumber kisah Alkisah Nomor 07 / 29 Maret – 11 April 2004

Mbah Kyai Musyafa’ Orang “Gila” yang Penuh Karomah

Sebelum dikenal sebagai Wali, Mbah Kiai Musyafa’ dianggap orang Gila. Namun kemudian banyak orang yang menemukan Karomahnya. Karena itu, setelah dia meninggal, makamnya kerap didatangi peziarah.
Kota Kaliwungu, tepatnya di wilayah Kecamatan Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah, tampak sangat anggun bila dilihat dari bukit yang terletak di Desa Proto Mulyo, sebelah timur Kampung Gadukan, Kutoarjo, Kaliwungu. Masjid Al-Muttaqin yang berada di pusat kota terlihat sangat dominan dan lebih besar dibanding bangunan lain yang ada di sekitarnya. Menara dan kubah masjid tampak sangat kukuh, seperti menegaskan betapa Allah SWT Mahabesar.
Dari ketinggian bukit itu, tampak kecantikan kota Kaliwungu yang mempesona. Disana terdapat makam alim ulama dan para penyiar agama Islam tempo dulu. Masyarakat menyebutnya sebagai makam Jabal (bukit), sebuah kawasan perbukitan. Salah seorang ulama besar yang dimakamkan disana adalah Kiai Musyafa’ bin Haji Bahram.
Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa’, demikian beliau biasa disapa, inipun  kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah datang kesana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melaksanakan riadah.
Selama hidup (antara tahun 1920 – 1969), Mbah Syafa’ dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, membuat sebagian orang menganggap Mbah Syafa’ sebagai Kiai yang sangat miskin. Tidak jarang orang juga mengatakan bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila, karena ia memang kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu berperilaku diluar kebiasaan manusia pada umumnya.
Anggur Mekkah
Sangkaan orang bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya. Pada suatu hari tetangga disekitar rumah Mbah Syafa’ di bikin geger. Pasalnya setelah musim haji, ada seorang haji yang datang ke sana, ia mengaku di titipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa’, yang baru saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa’ menyaksikan sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa’ berada di rumahnya.
Sejak itu pandangan orang pada dirinya berubah, apalagi setelah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang disekitarnya. Suatu saat Mbah Syafa’ menjamu tamu yang datang. Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu di rasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.
Dalam kisah yang lain, sekitar tahun 1060-an, Mbah Syafa’ kedatangan seorang tentara. Tentara itu bermaksud memohon restu, karena sebagai pembela negara dia mendapat tugas ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda. Saat dia sampai di tempat tinggal Mbah Syafa’, dan mengemukakan maksudnya, Mbah Syafa’ tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengambil sebuah wajan yang telah di bakar hingga merah membara.
Oleh Mbah Syafa’ wajan itu di dekatkan ke kepala orang tersebut sambil dipukul beberapa kali. Sesaat kemudian beliau masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (Klentheng), lantas menyerahkannya pada orang itu. Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa’, namun ia tetap menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa’.
Di belakang hari, isyarat tersebut bisa diketahui setelah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut selamat.
Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940an, suatu hari Mbah Syafa’ menggali tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya merasa heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian mengira tempat itu akan digunakan untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan dibuat sumur.
Setelah beberapa saat, orang baru sadar bahwa Mbah Syafa’ mengetahui peristiwa yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama berselang, tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.
Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya). Suatu ketika saat sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon, Mbah Rasyid, tukang sapu kantor tersebut, ditemui  Mbah Syafa’ tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa’ memberinya uang seribu rupiah, padahal ia telah meninggal dunia.
Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada di saku Mbah Rasyid begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang hingga tiga kali, membuat gundah Mbah Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia kembalikan ke kuburan Mbah Syafa’.

Sabtu, 07 Juli 2012

Ciri-Ciri Wali yang Mursyid

oleh: verarl 
Pengarang : Syaikhul Akbar Ibnu Araby

ciri-ciri dari seorang mursyid yang wali :

>Syarat lainya yang mutlak harus dimiliki seorang wali yang mursyid adalah mereka berpegang teguh pada Qu’ran dan Hadist tidak pernah meninggalkan syariah dan sunnah. Karena tak ada tariqah tanpa syariah, karena seumpama syariah adalah penerang untuk menjalani jalan tariqah agar tak tersesat dan menuju hakikat. Imam Malik, Imam Mazhab Maliki mengatakan Syariat tanpa tasawuf adalah zindik, dan tasawuf tanpa syariat adalah sesat.

>Dan salah satu ciri para wali biasanya mereka tersembunyi, meskipun begitu mereka sangat terkenal diantara para kekasih Allah.

>Selama bermursyid dengan seorang yang wali anda akan menganggap kematian adalah sebuah anugerah dan hadiah dari Allah, tapi jika anda semakin takut mati maka carilah mursyid yang lain.

>Seorang yang wali dapat mengetahui dan menyembuhkan penyakit fisik dan jiwa muridnya.

>Bila mendengarkan ceramah dari Mursyid tasawuf yang Wali Allah, maka ia akan mendapatkan ilmu sekaligus Hikmah. Hikmah didapatkan dari mendengarkan langsung dan bersama Wali Allah, Ketika kita mendengar seorang Kekasih Allah/Wali Allah bicara, maka ilmu rasa yang ditransfer langsung kedalam kalbu kita. Hikmah adalah RASA, pertemuan langsung dengan Para Wali Allah. Berjamaah dengan wali Allah, bagaikan ibadah 70 tahun, maka carilah para Wali Allah. Itulah sebabnya Umar ra ketika berencana membunuh Nabi saw dan ketika berhadapan langsung dengan Nabi saw, maka ia masuk islam. Inilah ilmu Rasa yang ditransfer melalui tatapan mata, melalui pertemuan langsung, ilmu para Nabi dan Kekasih Allah, yang merubah benci menjadi cinta. Ilmu Wali Allah bekerja dengan dua cara , dari luar dan dari dalam, dari luar berupa ucapan, dari dalam berupa ilham ilahiah yg dimasukkan kehati setiap muridnya. Dan ketika muridnya melakukannya ia merasakan hal itu dari inspirasinya sendiri sehingga ia ihklas melakukannya tanpa beban sedikitpun. Itulah cara kerja Wali Allah dalam membersihkan dan membenahi para muridnya.

>Bila Awliya Allah duduk berdampingan dengan orang lain, maka orang itu akan merasa “senang” karena pada saat duduk dengan Awliyaullah, mereka akan diberikan energi positif yang mereka peroleh dari ibadah-ibadah mereka di malam dan siang hari sedangkan energi negative berupa beban-beban orang tersebut akan dibawa Awliyaullah. Karena duduk bersama oranglain bagi Awliyaullah adalah ibadah, meskipun kadang kala mereka tidak mau duduk dengan orang lain karena mereka sepenuhnya ambruk. Seperti dikisahkan Mawlana Syaikh Nazim qs "Aku tidak akan menyebutkan siapa, tapi sebuah delegasi mufti dari sebuah Negara di Eropa, bukan di Eropa tapi ditempat lain mereka datang kepadaku dan duduk bersamaku selama 5 jam. Mereka penuh dengan energi negatif. Semua bicara kepadaku dan aku tidak mampu bergerak lagi “ sehingga beliau perlu istirahat untuk kembali memulihkannya.

>Ada Syaikh yang memberikan nasehat dan ada Syaikh atau Wali yang memberikan bimbingan. Syaikh yang memberikan nasehat, maka bila nasehat tersebut akan kalian terima atau kalian tolak, maka mereka tidak peduli lagi. Tetapi Syaikh atau Wali yang memberikan bimbingan, maka dia akan membimbing kalian suka atau kalian tidak suka, dia akan mengawasi kalian dan menjaga sampai kalian sanggup untuk melakukannya sendiri, dia menjaga kalian sadar atau pun kalian tidak menyadarinya.

>Sang Pembimbing Ruhani Sejati para Wali Allah. tak butuh uang anda, tak butuh pujian, mereka orang yg ikhlas bekerja sepanjang hari tak kenal lelah tanpa bayaran, cukup Allah dan Rasulullah saw bagi mereka. Ketika kalian akan menyebrang padang pasir yang tak dikenal, kalian perlukan penunjuk jalan, agar tak tersesat, agar tahu bahaya yg menanti disetiap langkah. Tentu saja penunjuk jalan itu telah berhasil melalui padang pasir itu berkali2. Mereka yang dikuasai ego, memerlukan bimbingan guru ruhani sejati yg telah mengalahkan egonya, dan mengetahui cara memotong tangan2 gurita ego dari korbannya. Setiap orang perlu mencari Wali Allah sebagai pembimbing, bukan hanya ulama biasa yang terkadang masih memiliki ego yang tinggi.

Ilmu Ulama biasa dibanding Wali Allah, ilmunya bagai setetes air dari samudera ilmu wali Allah, ilmu Wali bagai setets dari samudera ilmu para sahabat, sedang ilmu para Sahabat bagai setetes dari samudera ilmu para Nabi, dan ilmu para Nabi bagai setetes dari samudera ilmu Rasulullah dan ilmu Rasulullah bagai setetes dari samudera ilmu Allah SWT. Carilah seorang mursyid yang Wali Sejati yang hidup semasa dengan murid yang akan membimbing kalian. Karena begitu banyak jalan tariqah sufi ini telah ditunjukkan, tetapi ego selalu menolak. Ketika kita akan melangkah kepada yang Haqq, maka seratus setan dalam bentuk manusia, jin mencegah kalian untuk mendekati yang Haqq. Berjuanglah untuk mencari yang Haqq. Ada dua kubu dalam islam, Islam yang Penuh Cinta dan Islam yang penuh kebencian. Hanya jalan CINTA yang nanti akan Allah ridhoi. Hanya jalan cinta yang merupakan jalan Nabi saw. Mengapa kalian tak megikuti Nabi saw ketika dihujani batu di Thaif tetapi tetap mendoakan umatnya agar selamat, tanpa dendam, itulah jalan cinta.

Semoga Allah menyampaikan kita pada jalan Nya yang benar dan semoga kita memperoleh mursyid dari Wali Allah sejati amin. Alhamdulillah kami juga telah merampungkan “ Menghadirkan Wajah Mursyid Sebagai Adab yang Utama “ yang pada akhirnya akan membawa murid menemukan realitasnya yaitu mengenal Allah SWT, seperti sabda Rasulallah SAW :“ Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah maka jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah “. (HR. Abu Daud)


Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=359990014072582&set=at.239031306168454.56103.100001847580504.100000570175472&type=1&theater

Senin, 20 Februari 2012

MANAKIB ALAWIYYAH KE-1 ( AL-IMAM AS-SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN BIN ‘ALWI AMMUL FAQIH)

As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini
Majelis Wali Songo

NASAB BELIAU
Sayyid Abdul Malik bin Alawi (Ammil Faqih) bin Muhammd Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi Baitu Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shouma’ah bin Alawi Al-Mubtakir bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra’ binti Muhammad Rasuli-Llahi Shalla-Llahu Alaihhi wa-Sallam

TEMPAT DAN TAHUN KELAHIRANNYA
Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Beliau juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berda’wah sebagaimana kakek beliau, Al-Imam As-Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah.

ORANGTUA AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Ayah dari Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Al-Imam Alawi Ammul Faqih bin Muhammad lahir di Tarim. Beliau adalah seorang ulama besar, pemimpin kaum Arifin, hafal al-Qur’an, selalu menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak bermanfaat, dermawan, cinta kepada fakir miskin dan memuliakannya, banyak senyum. Imam Alwi bin Muhammad dididik oleh ayahnya dan belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Syaikh Salim Bafadhal, Sayid Salim bin Basri, Syaikh Ali bin Ibrahim al-Khatib. Beliau wafat pada hari Senin bulan Zulqaidah tahun 613 hijriyah di Tarim dan dimakamkan di perkuburan Zanbal.

Al-Imam ‘Alawi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath, memiliki empat orang anak, yaitu:
1. Abdullah (keturunannya terputus)
2. Ahmad (anaknya Fathimah ibu dari Ali dan Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam),
3. Abdul Malik Azmatkhan keturunannya menyebar di India dan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Asia tenggara yang dikenal dengan nama Azmatkhan (leluhur Wali Songo).
4. Abdurahman, keturunannya keluarga al-Bahasyim, al-Bin Semith, al-Bin Thahir, al-Ba’bud Maghfun, al-Bafaraj, al-Haddad, al-Basuroh, al-Bafaqih, al-Aidid, al-Baiti Auhaj.

ISTRI AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Istri dari Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Putri Raja Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, yang bernama Ummu Abdillah.

ANAK-ANAK AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Imam Abdul Malik Azmatkhan memiliki 4 anak, 2 laki-laki, dan 2 Perempuan:
1. Sayyid Abdullah Azmatkhan (Leluhur Walisongo)
2. Sayyid Alwi Azmatkhan (Leluhur Azmatkhan India)
3. Syarifah Zainab Azmatkhan (nasabnya terputus)
4. Syarifah Fathimah Azmatkhan (nasabnya terputus)

GELAR – GELAR AL-IMAM AS-SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN
Menurut As-Sayyid Bahruddin Al-Husaini, menjelaskan bahwa gelar yang disandang oleh As-Sayyid Abdul Malik azmatkhan adalah:
1. Al-Malik Lil Muslimiin = Raja Bagi Kaum Muslimin
2. Al-Malik Min ‘Alawiyyiin = Raja dari Kalangan Keturunan Imam Ali bin Abi Thalib
3. Al-Khalifah Lil Mukminiin = Khalifah bagi Kaum mukmin
4. Al-Mursyid = Mursyid bagi beberapa tarekat
5. An-Naaqib = Pakar dalam Ilmu Nasab
6. Al-Muhaddits = Menghafal Ribuan Hadits
7. Al-Musnid = Memiliki sanad keilmuan dari berbagai ulama’ dan guru
8. Al-Qutub = Wali Qutub pada masanya
9. Al-Wali = Seorang Waliyullah
10. Abu Al-Muluuk = Ayah dan datuk bagi para Raja
11. Abu Al-Awliyaa’ = Ayah dan datuk bagi para Wali Songo
12. Abu Al-Mursyidiin = Ayah dan datuk bagi para Mursyid
13. Syaikhul Islam = Guru Besar Islam
14. Imamul Mujaahidiin = Imam Mujtahid
15. Al-Faqiihul Aqdam = Ahli Fiqih Yang paling utama
16. Al-Mujahid Fii Sabiilillah = Pejuang di Jalan Allah
17. Al-Hafiizhul Qur’an = Penghafal Qur’an
18. Shohibul Karomah = Raja dan Wali Allah yang memiliki Karomah
19. Amirul Mukminin= Pemimpin Pemerintahan Islam (Sumber Data: Kitab Ansabi Wali Songo, karya Sayyid Bahruddin)

NAMA FAM AZMATKHAN DALAM ILMU NASAB
Nama Azmatkhan berasal dari penggabungan dua kata dalam bahasa Urdu. “Azmat” berarti; mulia, terhormat. Dan “Khan” memiliki arti setara seperti Komandan, Pemimpin, atau Penguasa. Nama ini disandangkan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik setelah beliau menjadi menantu bangsawan Nasarabad. Mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” sebagai bangsawan sekaligus penguasa setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan apa yang dialami Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan keturunan Al-Husain putra Fathimah binti Rasulillah SAW, maka mereka menambah kalimat “Azmat” sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.

KESAKSIAN PARA AHLI NASAB TENTANG FAM AZMATKHAN

KESAKSIAN PERTAMA
Menurut As-Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini (Ulama’ asli Tarim, Hadramaut, Yaman), berkata: “Keluarga Azmatkhan (Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal hadhramaut Yaman gelombang pertama yang masuk di Nusantara dalam rangka penyebaran Islam (Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati keluarga Azmatkhan) Sesuai dengan namanya, yang berarti “Pemimpin dari keluarga Mulia” .

KESAKSIAN KEDUA
Menurut H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”, dia berkata:
“Sayyid Abdul Malik bin Alwi lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia meninggalkan Hadhramaut pergi ke India bersama jama’ah para Sayyid dari kaum Alawiyyin. Di India ia bermukim di Naserabad. Ia mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, di antaranya ialah Sayyid Amir Khan Abdullah bin Sayyid Abdul Malik, lahir di kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di sebuah desa dekat Naserabad. Ia anak kedua dari Sayyid Abdul Malik
Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India.
Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.
Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda’wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah
Nama putra Sayyid Abdul Malik adalah “Abdullah”, penulisan “Amir Khan” sebelum “Abdullah” adalah penyebutan gelar yang kurang tepat, adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmatkhan. Al-Amir adalah gelar untuk pejabat wilayah. Sedangkan Azmatkhan adalah marga beliau mengikuti gelar ayahanda. Sebagian orang ada yang menulis “Abdullah Khan”, mungkin ia hanya ingat Khan-nya saja, karena marga “Khan” (tanpa Azmat) memang sangat populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan “Abdullah Khan” itu kurang tepat, karena “Khan” adalah marga bangsawan Pakistan asli, bukan marga beliau yang merupakan pecahan marga Ba’alawi atau Al-Alawi Al-Husaini.
Ada yang berkata bahwa di India mereka juga menulis Al-Khan, namun yang tertulis dalam buku nasab Alawiyyin adalah Azmatkhan, bukan Al-Khan, sehingga penulisan Al-Khan akan menyulitkan pelacakan di buku nasab.
Sayyid Abdullah Azmatkhan pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan didalam memperkenalkan sebuah budaya. Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya Barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. Maka bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa.
Ia (Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’azhzham Syah Maulana Ahmad.” Nama beliau adalah Ahmad, adapun “Al-Amir Al-Mu’azhzham” adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang diagungkan, sedangkan “Syah” adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang Raja, bangsawan dan pemimpin, sementara “Maulana” adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang Ulama besar.Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar “Syah Jalaluddin”.
Maulana Ahmad Syah Mu’azhzham adalah seorang besar, Ia diutus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia diangkat sebagai wazir (menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, Kamboja, Siam (Tailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari (?) meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezhaliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah.
Di antara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya disertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu Syarif Qamaruddin. Konon, dialah yang bergelar ‘Tajul-muluk’. Yang kedua ialah Sayyid Majiduddin dan yang ketiga ialah Sayyid Tsana’uddin.”
Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa disebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tembahan, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin”. Adapun “Syahansyah” artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahansah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasulullah SAW melarang pemberian gelar Syahan-syah pada selain Allah.
Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama Sulaiman, beliau medirikan sebuah kesultanan di Tailand. Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, barangkali beliau pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek moyang daripada keluarga Azmatkhan Indonesia, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini.

KESAKSIAN KETIGA

Menurut Sayyid Ali bin Abu Bakar As-Sakran dalam Kitab Nasab yang bernama Al-Jawahir Al-Saniyyah, berkata: “Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih”.

KESAKSIAN KEEMPAT:

Menurut Ad-Dawudi dalam Kitab Umdatut Thalib berkta, “”Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih, dan keturunannya masih ada sampai sekarang ini melalui jalur Walisongo di Jawa”.

KESAKSIAN KELIMA:

Penelitian sayyid Zain bin abdullah alkaf yg dikutip dalam buku khidmatul ‘asyirah karangan Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf; MEMBENARKAN & MEM-VALID-KAN nasab jalur Azmatkhan.

KESAKSIAN KEENAM:

Penelitian Al-Alammah As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Husain Al-Masyhur dalam Kitab Syamsud Zhahirah, yang memvalidkan nasab jalur Azmatkhan.

KESAKSIAN KETUJUH

Kesaksian dari Sayyid Ali bin Ja’far Assegaf Palembang.

Bermula silsilah wali songo ditemukan oleh sayid Ali bin Ja’far Assegaf pada seorang keturunan bangsawan Palembang. Dalam silsilah tersebut tercatat tuan Fakih Jalaluddin yang dimakamkan di Talang Sura pada tanggal 20 Jumadil Awal 1161 hijriyah, tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Mansur mengajar ilmu ushuluddin dan alquran. Dalam silsilah tersebut tercatat nasab seorang Alawiyin bernama sayid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang mempunyai tujuh anak laki. Di samping itu tercatat pula nasab keturunan raja-raja Palembang yang bergelar pangeran dan raden, nasab Muhammad Ainul Yaqin yang bergelar Sunan Giri.

KESAKSIAN KEDELAPAN:

Penelitian As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif

Keluarga Azmatkhan sejauh ini tercatat memimpin banyak Kesultanan atau Kerajaan di Asia Tenggara. Diantaranya :

1. Kesultanan Nasirabad – India
2. Kesultanan Adipati Bagelen
3. Kesultanan Adipati Bangkalan – Madura (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
4. Kesultanan Adipati Gerbang Hilir
5. Kesultanan Adipati Jayakarta
6. Kesultanan Adipati Manonjaya (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
7. Kesultanan Adipati Pajang
8. Kesultanan Adipati Pakuan (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
9. Kesultanan Adipati Sukapura (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
10. Kesultanan Adipati Sumenep (Sebagian dari Raja-Raja Sumenep adalah Keturunan Azmatkhan dari Jalur Fadhal Ali Al-Murthadha)
11. Kesultanan Adipati Tasikmalaya (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
12. Kesultanan Ampel Denta – Surabaya
13. Kesultanan Banten
14. Kesultanan Campa (Kamboja)
15. Kesultanan Cirebon Larang / Carbon Larang
16. Kesultanan Demak Bintoro (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
17. Kesultanan Giri Kedaton
18. Kesultanan Kacirebonan – Cirebon
19. Kesultanan Kanoman – Cirebon
20. Kesultanan Kasepuhan – Cirebon
21. Kesultanan Kedah – Malaysia (Ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
22. Kesultanan Kelantan – Malaysia
23. Kesultanan Mangkunegaran (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
24. Kesultanan Mataram Islam (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
25. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
26. Kasunanan Surakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
27. Kesultanan Pakualaman
28. Kesultanan Palembang Darusalam
29. Kesultanan Patani – Thailand
30. Kesultanan Sumedang Larang / Sunda Larang
31. Kesultanan Surabaya (Kelanjutan Kesultanan Ampel Denta)
32. Kesultanan Ternate
33. Keratuan Darah Putih, Lampung
34. Kerajaan Islam Tawang Alun Macan Putih, Banyuwangi
35.

DAFTAR KEPUSTAKAAN (BUKU-BUKU YANG MENJELASKAN) TENTANG AZMATKHAN :

1. Sayyid Ahmad bin Anbah,Umdatuth Thaalib Fii Ansaabi Aali Abi Thaalib
2. Sayyid Aki As-Samhudiy, Jawaahir Al-Aqdaini Fii Ansaabi Abnaai As-Sibthaini
3. Sayyid Abu Thalib Taqiyyuddin An-Naqiibi, Ghaayatu Al-Ikhtishoori Fii Al-buyuutaati Al-’Alawiyyati Al-Mahfuzhati Min Al-Ghayyaari.
4. As-Sayyid Al-Muhaddits Husain bin Abdurrahman Al-Ahdali, Tuhfatuz Zaman Fii Taariikhi Saadaatil Yamani
5. As-Sayyid Abu Fadhal Muhammad Al-Kazhimi Al-Husaini, An-Nafkhah Al-Anbariyyah Fii Ansaabi Khairil Bariyyah
6. As-Sayyid Dhoomin bin Syadqam, Tuhfatul Azhaari Fii Ansaabi Aal An-Nabiyyi Al-Mukhtaari
7. As-Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Attas, Uquud Al-Almaas
8. Sayyid Jamaluddin Abdullah Al-Jurjaani Al-Husaini, Musyajjarah Al-Mutadhammin Ansaabi Ahlilbaiti Ath-Thaahiri
9. As-Sayyid Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin ‘Amiiduddin Al-Husaini An-Najafiy, Kitab Bahrul Ansaabi
10. As-Sayyid Murtadha Az-Zabiidi, Al-Musyajjir Al-Kasysyaaf Li Ushuulis Saadah Al-Asyraaf
11. As-Sayyid Husain bin Muhammad Ar-Rifaa’i Al-Mishri, Bahrul Ansaabil Muhiith
12. As-Sayyid ‘Ali bin Abi Bakar asy-Syakran, Al-Jawaahir As-Saniyyah Fii Ansaabi Al-Husainiyyah
13. As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur Al-Husaini Al-Hadrami, Kitab Syamsuzh Zhahiirah
14. As-Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff, Khidmah Al-’Asyiirah Bi Tartiibi wa Talkhiishi Wa Tadzliili Syamsizh Zhahiirah
15. As-Sayyid Dhiyaa’u Syihaab, Ta’liiqaat Mabsuuthah Wa Mufashsholah ‘Alaa Syamsizh Zhahiirah
16. As-Sayyid Umar bin Alawi Al-Kaff, Al-Faraayid Al-Jauhariyyah Fii Tarraajumi Asy-Syaharah Al-’Alawiyyah
17. As-Sayyid Umar bin Abdurrahman bin Shihabuddin, Syajaratul Alawiyyah
18. As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif
19. As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini, Ansaabi Wali Songo,
20. As-Sayyid Abi Al-Mu’ammar Yahya bin Muhammad bin Al-Qasim Ba’alawi Al-Husaini, Kitab Abnaaul Imam Fii Mishra Was Syaami Al-Hasani Wal Husaini,
21. As-Sayyid Al-Qalqasandiy Al-Hasani, Nihaayatul Urabi Fi Ma’rifati Al-Ansaabi Al-’Arabi,
22. Al-Imam Abi Sa’di Abdil Karim bin Muhammad bin Mansur At-Tamimiy As-Sam’aaniy, Kitab Al-ansaab
23. Al-Imam Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-Balaadiri,Kitabu Al-Jumali Min Ansaabil Asyraaf

Sumber : http://majeliswalisongo.wordpress.com/

Selasa, 10 Januari 2012

KYAI TELINGSING

Sebelum berdirinya Kerajaan Islam di Demak, terjadilah kejadian yang menggemparkan di daerah Kudus. Peristiwa itu terjadi pada diri Kanjeng Sunan Sungging. Pada suatu hari Kanjeng Sunan Sungging bermain layang-layang tersiratlah niat beliau untuk melihat dan berkeliling Wilayah Nusantara. Maka mulailah beliau merambat melalui benang layang-layang yang sedang melayang diangkasa. Pada waktu Kanjeng Sunan Sungging sampai ditengah-tengah angkasa, putuslah benang tersebut dan melayanglah beliau bersama layang-layang tersebut hingga sampai ke Tiongkok. Selang beberapa tahun, Kanjeng Sunan Sungging mempersunting seorang gadis Tiongkok. Dalam beberapa tahun kemudian hamillah istri tersebut dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama The Ling Sing. Setelah The Ling Sing menginjak dewasa, maka ayahandanya Kanjeng Sunan Sungging memberi petuah kepada anak tersebut. Apabila engkau ingin menjadi orang yang mulia di dunia dan akherat, maka ikutilah jejakku. Apakah yang ayahanda maksudkan ? Pergilah kau ke Kudus yang termasuk wilayah Nusantara, disanalah aku pernah berdiam. Maka berangkatlah The Ling Sing ke Kudus. Setelah ia sampai ketempat yang dituju, maka mulailah The Ling Sing menyiapkan diri untuk membenahi sekelilingnya dan berdakwah. Dimana pada waktu itu masyarakat Kudus masih kuat memeluk agama hindu. The Ling Sing yang lebih terkenal dengan sebutan Kyai Telingsing yang telah lama berdakwah telah lanjut usia dan ingin segera mencari penggantinya. Pada suatu hari Kyai Telingsing berdiri sambil menengok kekanan dan kekiri. (bahasa Jawa Ingak-Inguk) seperti mencari sesuatu. Tiba-tiba Sunan Kudus muncul dari arah selatan, dan secara tiba-tiba Sunan Kudus membangun masjid dalam waktu yang amat singkat, bahkan ada yang mengatakan masjid itu muncul dengan sendirinya. Berhubung dengan hal tersebut desa tempat masjid tersebut berdiri dinamakan desa Nganguk dan masjidnya dinamakan masjid nganguk wali. Akhirnya kedua tokoh tersebut bekerja sama dalam mengembangkan dakwah di Kudus. Dan dengan taktik dan siasat dari Kyai Telingsing dan Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) akhirnya berhasillah cita-cita keduanya untuk menyebarkan Islam di Kudus. Pada suatu hari Sunan Kudus akan kedatangan rombongan tamu dari Tiongkok. Maka dipanggillah Kyai Telingsing untuk membuat sebuah kenang-kenangan kepada tamu tersebut. Oleh Kyai telingsing dibuatlah sebuah kendi yang bertuliskan indah di dalamnya. Setelah kendi tersebut jadi, maka segera diberikan kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus setelah melihat kendi yang menurutnya kurang bagus dan biasa-biasa saja yang tidak pantas untuk dihadiahkan kepada tamu dari Tingkok tersebut, wajahnya berubah sinis dan menerimanya dengan kurang berkenan dan dilemparlah kendi tersebut. Setelah kendi tersebut pecah, terdapatlah lukisan yang indah, dimana ditengah-tengahnya tertulis kalimat syahadat. Seketika itu terperanjatlah beliau menunjukkan kekagumanya, sehingga beliau menyadari, betapa kyai Telingsing adah seorang yang memiliki karomah. Diantara sabda dari Kyai Telingsing, “Sholat Sacolo Saloho Donga sampurna", artinya : Sholat adalah sebagai do’a yang sempurna Lenggahing panggenan Tersetihing ngaji artinya : Menempatkan diri pada sesuatu yang benar, suci dan terpuji. Beliau kini makamnya di kampung sunggingan-Kudus. Ada sebagian orang yang mengatakan kalau beliau adalah seorang pemahat yang masuk dalam aliran Sun Ging. Dari nama Sun Ging inilah kemudian terjadi kata Nyungging yang artinya memahat atau mengukir, dan dari kata Sung Ging itu pulalah terjadi namanya Sungingan sampai sekarang ini. ( H. Zawawi Mufid)


Sumber : http://barokahwali.blogspot.com/search/label/KYAI%20TELINGSING

Jumat, 06 Januari 2012

Ra Lilur, Kiai Nyleneh asal Bangkalan

Siapa yang tak kenal KH Kholilurrahman. Ra Lilur demikian biasa dipanggil, merupakan ulama yang sering didatangi orang penting negeri ini. Tak itu saja, warga biasa pun sering minta barokah kepada Ra Lilur hanya untuk urusan sehari-hari, mulai dari urusan minta hari untuk pernikahan sampai minta obat alternarif, pilkades.
Ra Lilur, demikian masyarakat menyebut kiai ini. Nama lengkapnya KH. Kholilurrahman. Kalau dirunut nasabnya ke atas, ia adalah cicit ulama besar Indonesia, KH Kholil Bin Abd Latief, atau Syaikhona Kholil Bangkalan, atau Mbah Kholil.
Bergelar Syaikhona, karena KH Kholil merupakan guru mayoritas ulama Indonesia.

Masyarakat Madura menilia Ra Lilur dalam maqom jadab. Dalam terminologi sufi (tassawuf), jadab merupakan suatu tahapan untuk mencapai tingkat karamah (keistimewaan) yang biasanya disebut wali.
Namun sebagian masyarakat menilai Ra Lilur adalah sudah mencapai tingkat wali. Mana yang benar? wallahu a’lam. Yang pasti, kiai ini memang luar biasa. Penampilannya yang sangat bersahaja – bahkan jauh di bawah kehidupan normal – membuat hati orang yang melihatnya bergetar. Wajahnya memang memancarkan Nur Ilahi. Ia bagai magnet kehidupan sehingga membuat orang lupa segala gemerlap duniawi. Duh, Gusti, inikah ulama sebenarnya?
Ya, ia zuhud, tak perduli gemerlap duniawi dan tanpa pamrih. Hidupnya hanya untuk Allah, berkelana dari satu tempat ke tempat lain.
Orang yang tak paham bisa jadi mengira ia gila. Maklum, penampilannya apa adanya. Apalagi perilakunya cenderung aneh. Ia kadang hidup di tengah laut, merendam diri sampai berhari-hari. Namun justru sikapnya inilah yang kemudian mengingatkan orang pada Nabi Khidlir.
Ia seolah mengasingkan dari hiruk pikuk kehidupan yang kian renta, tanpa nurani. Dari tengah-tengah arus gelombang laut itu ia membaca tanda-tanda kehidupan. Apa yang akan terjadi terhadap negeri ini.
“Tamunya beragam, tapi jangan kaget kalau tak kesokan (tidak mau,red), beliau tak mau menemuinya,” tegas KH Badrus Sholeh, salah seorang ulama Bangkalan bercerita soal kenyelenehan cicit ulama Bangkalan, KH Syaikhona Mohammad Kholil bin Abdul Latif ini.
Menurut pengakuannya, tak sedikit pejabat penting, mulai regional, Jatim bahkan nasional berusaha menemui kiai yang berpenampilan nyeleneh ini. “Bahkan Pak Imam sebelum pilgub 2003 lalu sowan ke kiai,” tegas wakil ketua PCNU Bangkalan ini.
Pengasuh Ponpes Wali Songo, Kwanyar Bangkalan ini melanjutkan ceritanya soal tamu-tamu penting Ra Lilur. Belakangan, orang kepercayaan Abu Rizal Bakri, bos PT Lapindo berusaha sowan ke La Lilur.
Keinginan kuat bos itu bisa ditebak, yakni minta saran agar semburan lumpur yang sangat meresahkan itu bisa dihentikan.
“Namun kiai tak kesokan (tak berhasrat) tamu utusan bos Lapindo itu,”tambahnya.
Kalangan warga biasa tak sedikit ingin sowan ke La Lilur. Mulai urusan mencari rezeki, jodoh sampai ingin agar penyakitnya sembuh.
Ada pengalaman menarik, salah seorang warga pernah sakit tak komplikasi penyakit dalam stadium akut.
Bahkan sang pasien sudah hampir satu bulan opname di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Karena terapi penyembuhan kedokteran tak ada perkembangan mengembirakan. Salah seorang anggota keluarga pasien memutuskan untuk minta barokah La Lilur. “Kiai memberikan obat maaq dan obat puyer sakit kepala, setelah diminum Alhamdulillah sembuh,” tegas Salim, saudara si pasien menjelaskan.

——————————————————
Ra Lilur memang benar-benar misterius. Ia tak menghiraukan pakaian, apalagi harta benda. Ia tak peduli penilaian orang tentang dirinya. Hidupnya hanya untuk Allah, Allah, Allah..
Ia juga jarang – untuk tak mengatakan tak pernah – bergaul dengan orang seperti umumnya ulama masa kini. Ia juga jarang disorot TV, apalagi berebut memberi komentar di koran seperti umumnya “ulama milenium.”
Namun begitu ia muncul di tengah keramaian orang, suaranya adalah “sabda.” Apa yang diucapkan sering terjadi. Karena itu ia lantas berpesan agar hati-hati.
Namun tak jarang ia bertindak tanpa bicara. Pernah suatu ketika ia tiba-tiba membakar bangunan pondok pesantren yang diasuh KH. Abdullah Schaal Bangkalan Madura. Pesantren yang lokasinya berdekatan dengan masjid Jami’ dan alun-alun kota Bangkalan itu pun hangus dilalap api.
Anehnya, Kiai Abdullah Schaal yang dikenal sangat berpengaruh di Bangkalan itu diam saja. Ia tak bereaksi, apalagi marah. Kenapa?

Perilaku Ra Lilur memang mirip Nabi Khidlir. Selain suka bertempat di kawasan berair juga isyaratnya selalu kontroversial. Nabi Khidlir pernah menumpang kapal bersama Nabi Musa. Tiba-tiba ia mengkampak dan membocori kapal yang ia tumpangi. Karuan saja Nabi Musa menegur dan marah. Sudah menumpang kapal secara gratis, kok masih bikin ulah melubangi kapal. Apalagi kapal itu sangat bagus.
Namun kemudian Nabi Musa mengerti isyarat Nabi Khidlir yang aneh itu. Ternyata itu dilakukan Nabi Khidlir justru menyelamatkan kapal tersebut. Karena dalam pelayaran selanjutnya ada beberapa aparat raja dzalim yang merampas kapal yang ditumpangi Nabi Musa dan Khidlir sudah berlubang, meski masih bagus, akhirnya lolos, tak dirampas.
Tampak apa yang dilakukan Ra Lilur itu juga ada kemiripan dengan perilaku aneh Nabi Khidlir.
Buktinya, setelah ia membakar pesantren itu kemudian terjadi peristiwa naas yang menimpa bangsa ini. “Banyak terjadi aksi pembakaran di mana-mana,” kata KH. Imam Buchori, ketua PCNU Bangkalan yang juga keponakan Ra Lilur. Aksi anarki pembakaran ini terjadi mengiringi konflik politik yang terus berkepanjangan di negeri ini. Misalnya pembakaran pertokoan, kantor-kantor partai politik, dan banyak lagi. Isyarat Ra Lilur itu kian kongkrit ketika terjadi pembakaran yang dilakukan orang-orang Dayak terhadap gubuk-gubuk orang Madura yang mengungsi dari Sampit dan Sambas.
Tak jelas, apa karena Kiai Abdullah Schaal yang dikenal sangat berpengaruh di Bangkalan itu paham terhadap keistimewaan Ra Lilur sehingga ia lalu diam saja, meski pondoknya dibakar Ra Lilur. Yang pasti, setelah gubuk santri di pesantrennya dibakar, pesantren Kiai Abdullah Schaal semakin maju pesat. Bilik-bilik santri yang semula berupa gubuk-gubuk kini dibangun mentereng. Bahkan pesantren putri yang menyatu dengan tempat istirahat Kiai Schaal persis hotel. Bangunannya megah dan menjulang tinggi, penuh tingkat. Siapa pun yang tak pernah ke Madura akan mengira bangunan itu hotel, karena memang didesain cukup artistik.

Admin TreTans.com:

“Iya.. saya melihat dengan mata kepala sendiri saat pondok Alm. Abdullah Schal terbakar, rumah saya pada saat itu memang berdekatan dengan pondok Pesantren KH. Moch. Cholil”

Kiai Abdullah Schaal sendiri tampak sangat hormat terhadap Ra Lilur. Maklum Ra Lilur cenderung misterius dan kontroversial. Apalagi ia memiliki keistimewaan kasyaf luar biasa. Bahkan kabarnya Ra Lilur sering memberi isyarat-isyarat kepada Kiai Abdullah terutama tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Biasanya, kalau menyangkut persoalan besar, Ra Lilur minta Kiai Abdullah Schaal hati-hati.
Yang menarik, sinyal Mega akan jadi Presiden pun sudah terdeteksi Ra Lilur sejak awal. Isyaratnya waktu itu sangat aneh. Apa? Ikuti besok!

Isyarat ala Nabi Khidlir yang dilakukan Ra Lilur memang luar biasa. Lebih-lebih bila menyangkut peristiwa politik nasional. Selain selalu tepat isyarat itu juga terjadi pada peristiwa-peristiwa besar nasional. Yang menarik, isyarat itu tidak disampaikan dalam bentuk kata-kata atau ramalan. Melainkan melalui perilaku aneh. Jadi, ia tak pernah membuat pernyataan, apalagi prediksi. Justru itulah hebatnya.
Semua isyarat itu hanya tampak dalam perilakunya yang nyeleneh. Ia sendiri bahkan tampak tak peduli. Maklum, ia tak punya kepentingan sama sekali dengan urusan duniawi, apalagi peristiwa-peristiwa nasional.
Tampaknya tingkah anehnya itu semata transfer dari Tuhan begitu saja. Bahkan bisa jadi ia sendiri tak menyadarinya. Buktinya, ia tak pernah melontarkan kata-kata. Kalau ada peristiwa besar yang akan terjadi hanya perilakunya saja yang tiba-tiba aneh. Seolah semua perilakunya menjadi radar peristiwa masa depan.
Benarkah? Ini bisa dilihat pada perilaku anehnya ketika Gus Dur akan jatuh dan diganti Megawati. Isyarat itu muncul sekitar akhir tahun 2000. Jadi jatuh sebelum Gus Dur benar-benar jatuh. Saat itu perilaku aneh Ra Lilur muncul secara tak terduga. Ia tiba-tiba selalu diikuti dan ditempel oleh istrinya (nyai) kemanapun pergi. Mau pergi kemanapun, ia terus dibuntuti oleh sang bu nyai.
Menurut keterangan tiga haddam (penjaga rumah) Ra Lilur di Desa Banyu Buneh Banjar dan Pakaan Dajah Kecamatan Galis, saat itu Ra Lilur selalu tidur satu kamar dengan istrinya. Namun anehnya, Ra Lilur tidak tidur dalam satu tempat tidur (lencak, bahasa Madura). Ia tidur terpisah dengan istrinya, meski dalam satu kamar. Lebih aneh lagi, istrinya tidur diatas ranjang, sedangkan Ra Lilur malah selalu tidur di tanah. “Jadi, Ra Lilur tidur di bawah, sedang istri beliau di atas,” jelas KH. Imam Buchori, keponakan Ra Lilur, kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan Madura. Lalu apa makna perilaku nyeleneh Ra Lilur itu? Jawabannya sangat jelas. Bahwa di Indonesia akhirnya terjadi pergantian kepemimpinan, dari Presiden pria, yakni Gus Dur, ke Presiden wanita, Megawati.
Isyarat ini masih bisa dirinci lagi dalam kontek kekeluargaan. Yaitu terjadi pergantian kepemimpinan dari Presiden ke Wakil Presiden. Bukankah istri hakikatnya adalah wakil atau pembantu suami dalam keluarga? Namun yang lebih jelas, tentunya, perilaku aneh itu merupakan isyarat pergantian kepemimpinan dari pria ke pemimpin wanita. “Terlepas benar atau salah, banyak kalangan yang memprediksi isyarat tersebut berkaitan dengan kursi presiden,” jelas Kiai Imam Buchori yang sehari-harinya aktif sebagai ketua PCNU Bangkalan.
Sayangnya, waktu itu tak ada yang tanggap terhadap isyarat yang terjadi lewat perilaku aneh Ra Lilur itu. Tak jelas, apakah karena masyarakat kurang peka atau karena isyarat aneh itu hanya diketahui kalangan terbatas. Yang pasti, isyarat itu cukup nyata dan jelas.
Masih banyak isyarat lain dari Ra Lilur yang berhubungan dengan peristiwa nasional. Apa itu?

Isyarat yang muncul dari Ra Lilur tampaknya memang bukan berasal dari kemauan pribadi. Lalu dari mana? Bisa jadi “titipan” Allah. Buktinya, isyarat itu lebih sering muncul dari perilaku aneh ketimbang kata-kata.
Isyarat dengan perilaku memang cenderung lebih obyektif. Sebaliknya, isyarat melalui kata-kata selalu subyektif, bercampur nafsu pribadi. Bahkan bisa jadi ditambah-tambahi. Karena itu mudah dipahami jika isyarat-isyarat yang muncul melalui perilaku aneh Ra Lilur sering terjadi pada kemudian hari.
Yang menarik, perilaku aneh Ra Lilur sering tak masuk akal. Menjelang pemilu 1999, misalnya, Ra Lilur tiba-tiba mengenakan pakaian aneh. Cicit ulama besar Syaikhona Kholil Bangkalan itu mengenakan pakaian serba merah. Bajunya berwarna merah. Begitu ikat kepalanya, berwarna merah. Lebih unik lagi, ia memakai sarung wanita yang juga berwarna merah. “Pakaian itu dikenakan pada menjelang Pemilu,” tutur KH. Imam Buchori, keponakan Ra Lilur kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan.
Ternyata isyarat itu kemudian terbukti. PDIP yang warna kebesarannya merah menjadi pemenang Pemilu.
Apakah Ra Lilur pendukung PDIP? Tentu saja tidak. Kalau ia memakai pakaian serba merah semata ingin menunjukkan bahwa pemenang pemilu 1999 adalah PDIP. Ra Lilur malah berasal dari keluarga fanatik NU dan PKB. Bahkan semua anggota keluarganya pengurus dan warga PKB. Begitu juga keluarga ndalem Ra Lilur, baik dari haddam (pembantu) sampai keluarga intinya, pendukung berat PKB.
Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa isyarat melalui perilaku cenderung obyektif. Buktinya, betapapun Ra Lilur berasal dari PKB ternyata malah berpakaian serba merah untuk menunjukkan peristiwa yang akan terjadi.
Kecenderungan Ra Lilur berperilaku seperti Nabi Khidlir memang cukup tinggi. Akibatnya, masyarakat cenderung tak paham. Bahkan ada yang nggrundel menyalahkan. Mereka baru sadar setelah peristiwa itu terjadi kemudahan. Ini terjadi juga ketika Ra Lilur membakar pondok pesantren yang diasuh KH. Abdullah Schaal. Seperti dilaporkan HARIAN BANGSA kemarin, Ra Lilur tiba-tiba membakar pondok pesantren.
Pesantren (PP) Syaikhona Kholil Demangan Barat Bangkalan. Karuan saja masyarakat geger. Karena dalam pandangan masyarakat umum, hanya orang gila yang berani membakar pondok pesantren. Apalagi, masyarakat Bangkalan sangat fanatik terhadap dunia pesantren. Kala itu memang belum diketahui siapa orang yang berani membakar pesantren milik Kiai Abdullah yang terkenal sangat kharismatis di Bangkalan itu.
Aparat keamanan pun kewalahan. Mereka langsung mencari siapa sebenarnya pelaku pembakaran itu. Namun, belum sempat tahu siapa pelakunya, KH. Amin Imron (kini almarhum) langsung mencegatnya. “Sudah biar saja Pak, yang bakar pondok itu keponakan saya sendiri kok,” kata Kiai Amin, ayah anggota DPR Fuad Amin.
Mendengar itu polisi langsung balik kucing. Begitu juga Kiai Abdullah Schaal. Ia tenang-tenang saja. Kiai yang sangat dihormati masyarakat Madura itu bahkan hanya senyum-senyum saja.
Memang. Peristiwa pembakaran pesantren yang terjadi pada 1979 itu ternyata menyimpan isyarat penuh misteri. Meski demikian, kala itu muncul ramalan bahwa suatu hari nanti akan berdiri bangunan pesantren setinggi ujung bara api, bekas pembakaran. Tinggi api ketika pesantren itu dibakar setinggi pohon kelapa.
Ternyata benar. Kini berdiri bangunan berlantai 7 mirip hotel. Pesantren itu untuk menampung para santri yang terus membludak dari tahun ke tahun. Pada tahun 1970, misalnya jumlah santri hanya berkisar 20 sampai 30 orang.
“Itu pun hanya santri putra,” tutur Kiai Imam Buchori. Kini santri pesantren itu telah mencapai ratusan terdiri terdiri dari santri putera dan puteri.

Banyak sekali kisah tak masuk akal disaksikan banyak orang tentang Ra Lilur. Suatu ketika ia bersama banyak orang masuk hutan. Kala itu bulan puasa. Begitu tiba di dalam hutan ternyata adzan maghrib bergema. Orang-orang bingung. Sebab tak ada makanan sama sekali untuk buat buka. Ra Lilur mengisyaratkan agar tak resah. Benar. Tanpa diduga tiba-tiba terhampar tikar semacam permadani. Yang menakjubkan, di atas tikar itu tersedia berbagai macam makanan. Karuan saja orang-orang itu heran. Meski demikian mereka tetap saja lahap berbuka puasa.
Peristiwa aneh lain terjadi pada seorang dokter dari Malaysia. Dokter ini sengaja datang untuk menemui cicit Syaikhona Kholil tersebut. Tak jelas, dari mana dokter itu kenal nama Ra Lilur.
Dokter itu bersama seseorang yang bertindak sebagai pengantar. Dokter itu kemudian diajak Ra Lilur masuk ke dalam bilik rumahnya. Di situ terjadi pembicaraan cukup lama, sekitar satu jam. Sehingga pengantar dokter itu mengaku capek menunggu di luar. Apa yang dibicarakan? Menurut pengakuan sang dokter, Ra Lilur ternyata menguasai ilmu kedokteran secara luar biasa. Semua ilmu kedokteran dia pahami. “Saya belajar puluhan tahun, tidak seperti ilmu yang dimiliki beliau,” kata sang dokter.
Yang membuat si dokter kaget, Ra Lilur memberikan sebuah foto berukuran poscard dengan pakaian putih lengkap dengan stetoskop tergantung di leher. Sang dokter heran menerima foto Ra Lilur. “Kalau dipikir, kapan beliau berpose seperti itu.”
Keanehan Ra Lilur memang telah banyak yang menyaksikan. Habib Ali Zainal Abidin Bin Anis Al Muchdor mengaku pernah menyaksikan keajaiban Ra Lilur. Kepada Yudi Eko Purnomo, wartawan HARIAN BANGSA di Mojokerto, Habib ini bercerita banyak tentang Ra Lilur. Habib kelahiran Jember 33 tahun lalu itu berkisah tentang Ra Lilur di kediamannya di kawasan Jalan Empunala Mojokerto.
Tiga tahun lalu, tutut Habib, dirinya bersama istrinya, MN Hidayah, melanglang buana. Ia penasaran ingin bertemu Ra Lilur. Ketika sampai di kediaman kiai nyentrik itu ia diterima ajudan Ra Lilur. Ia mengutarakan maksud kedatangannya. Namun Ra Lilur tak langsung menerima begitu saja. “Kiai tidak bisa menemuinya sekarang,” tolak sang ajudan.
Ra Lilur, pada waktu itu memang banyak menerima tamu-tamu ulama dan masyarakat di rumahnya. Habib semakin penasaran. Karena itu si Habib tak langsung pergi meninggalkan rumah itu. Sambil merenung, ia bersikeras bagaimana caranya bertemu. Ia kemudian pergi ke sebelah samping rumah tersebut. Saat berjalan di bawah rimbun bambu, ia teringat pesan salah satu gurunya. “Saya kemudian mengamalkan perintah. Waktu itu saya segera membaca Al-Fatihah, saya tujukan kepada Nabi Muhammad SAW, para wali, dan Syaikhona Kholil Bangkalan.
Bacaan saya tutup dengan permintaan saya, kalau kamu – Ra Lilur – memang cucu Kiai Kholil, keluarlah,” tutur Habib.
Masyaallah. Tak disangka, seketika itu juga pundak Habib ada yang menepuk. Karuan saja Habib terkejut. Lebih terkejut lagi Habib menoleh. Ternyata yang menepuk itu Ra Lilur.
“Saya terkejut bukan main, usai membaca Al-Fatihah, mendadak pundak saya ditepuk Ra Lilur, yang sudah berdiri tepat dibelakang saya,” kenangnya.
Habib semakin tak percaya ketika tiba-tiba Ra Lilur berkata, ” Sudah lama kita tak bertemu. Kamu yang saya tunggu beberapa hari ini.” Padahal Habib Ali merasa tak pernah bertemu dengan Ra Lilur.
Setelah itu Ra Lilur mengajak Habib duduk di atas gubug di tengah sawah.
Saat itu mereka ditemani salah satu ajudan Ra Lilur. Namun tiba-tiba keanehan muncul lagi.
Karena mendadak diantara Ra Lilur dan Habib tersedia susu. Padahal tak ada pelayan yang mengantarkan. Ajudan yang tadi menemani juga tak beranjak pergi.
“Silakan susunya diminum,” kata Ra Lilur seolah tak terjadi apa-apa.

Lalu apa saja keanehan Ra Lilur yang lain? Berikut laporan Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan Madura.
Sampai kini Ra Lilur kabarnya masih sering terlihat berendam di air. Tak jelas, apakah ini suatu bagian dari tirakat, atau memang digerakkan begitu saja oleh Tuhan. Yang pasti, kebiasaan Ra Lilur berendam di tengah laut ini tergolong tirakat tingkat tinggi. Siapa sih yang mau kedinginan di tengah laut. Apalagi pada malam hari. Belum lagi gangguan-gangguan hewan baik kecil maupun yang buas. Karena itu tirakat jenis ini hanya bisa dilakukan makhluk Allah yang memiliki kemampuan fisik dan jiwa luar biasa.
Namun bagi Ra Lilur itu tampaknya sangat sepele. Maklum, ia telah mencapai tingkat gila Tuhan. Nah, kegilaannya terhadap Allah itulah yang menyebabkan ia kebal dan tak merasakan apa-apa, terutama dari segi fisik. Yang bergelora dalam jasad dan jiwanya hanyalah Allah, Allah, Allah… Ia memang benar-benar telah gila Tuhan.
Cukup banyak orang yang menyaksikan Ra Lilur berendam di tengah laut, meski ia sendiri tak pernah menghiraukan sorotan masyarakat. Bahkan suatu ketika pernah terjadi peristiwa menarik yang dialami para nelayan ikan. Kala itu seorang nelayan di Kecamatan Sepulu sontak kaget. Karena jaring yang ia tebar di tengah laut tiba-tiba terasa berat ketika diangkat. Dengan harap-harap cemas ia menarik jaringnya. Dalam pikirannya, ini pasti ikan besar. Namun betapa ia tertegun begitu jaring itu berhasil diangkat ke atas. Masyaallah, ternyata bukan ikan, melainkan tubuh manusia. Yang lebih mengagetkan lagi, ternyata tubuh itu adalah tubuh Ra Lilur yang sedang membujur. Kontan nelayan itu menceburkan kembali tubuh Ra Lilur ke laut.
Si nelayan terus tertegun. Ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin tubuh manusia berendam dalam air sekian lama, apalagi itu jelas tubuh Ra Lilur. Sejenak ia sempat menduga, jangan-jangan Ra Lilur telah meninggal karena tenggelam di laut. Tapi dugaan nelayan itu meleset. Karena Ra Lilur sehat wal-afiat, tubuhnya tetap segar bugar sampai kini.
Menyaksikan kenyataan itu si nelayan semakin percaya betapa Ra Lilur itu waliyullah (kekasih Allah). Apalagi, sejak peristiwa itu hasil tangkapan nelayan tersebut langsung melimpah. Bahkan, setiap kali turun melaut, hasil tangkapannya lebih banyak dari pada nelayan lainnya. Ia pun yakin bahwa dirinya telah mendapat barakah. Yakni terus bertambahnya kebaikan. Bukankah sebagian orang menyebut barakah sebagai zidayatul khoir (semakin bertambahnya kebaikan)?

Dalam terminologi ilmu sufi ada empat jenis keistimewaan yang diberikan kepada manusia. Pertama, mukjizat. Mukjizat ini hanya diberikan kepada para Nabi. Seperti kita pahami, bentuk mukjizat bermacam-macam. Umumnya tak masuk akal. Misalnya, dari jari Nabi Muhammad tiba-tiba bisa memancar air dan sebagainya.
Kedua, karamah. Karamah ini diberikan kepada manusia istimewa di bawah Nabi. Jadi diberikan kepada orang tertentu yang memang disayang Tuhan. Karena itu mereka disebut wali (kekasih Allah). Wali sebenarnya tak bisa dideteksi. Bahkan dalam ajaran sufi disebutkan bahwa tak ada yang bisa mengetahui wali kecuali sesama wali. Karena itu kalau tiba-tiba ada orang mengaku wali patut diragukan.
Ketiga, mau’nah. Yaitu keistimewaan untuk orang biasa. Jadi orang biasa, tapi punya keistimewaan tertentu. Misalnya, bisa terbang atau sejenisnya.
Keempat, istidraj. Keistimewaan ini diberikan kepada orang-orang yang menentang Allah. Jadi orang-orang yang sesat pun oleh Allah diberi keistimewaan. Hanya saja keistimewaan itu hakikatnya sekedar untuk memanjakan mereka (me-lulu-bahasa Jawa). Karena kelak di akhirat ia akan disiksa habis-habisan.
Lalu bagaimana dengan Ra Lilur? Wallahu a’lam. Tapi kalau dilihat dari keluarbiasaan kehidupan sehari-harinya ia memang telah memasuki proses wali. Atau paling tidak, ia masuk dalam kategori jadab, yakni orang gila Allah yang masuk tahapan menuju proses wali.
Buktinya, ia sudah tak peduli masalah duniawi. Ia total kepada Allah melalui proses spiritual kontroversial. Diantaranya berendam di air laut siang malam. Maka mudah dipahami jika ia memiliki mukasafah (kemampuan meneropong masalah yang akan terjadi) cukup tinggi. Bahkan untuk melihat peristiwa yang akan terjadi pada masa datang seolah melihat di balik tirai saja.
Isyarat-isyarat Ra Lilur memang banyak yang terjadi. Lalu bagaimana tentang kondisi negara ini? Ternyata ketika ditanya tentang kondisi negara Ra Lilur serta merta menangis. “Beliau mengajak berdo’a. Dalam do’anya, beliau menangis prihatin,” tutur Ali Zainal Abidin Bin Anis, seorang kiai dari Jember.
Seperti diberitakan HARIAN BANGSA sebelumnya, Habib ini pernah datang ke Ra Lilur, namun tak ditemui langsung. Ra Lilur baru keluar menemui setelah Habib mengirimkan surat Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad, para wali dan Syaikhona Kholil Bangkalan, buyut Ra Lilur.
Menurut Habib, Ra Lilur menyatakan bahwa dalam kondisi multikrisis ini banyak wali menyembunyikan diri. Meski begitu, ia dengan memakai bahasa Arab sempat mengungkapkan kebanggaannya karena di Indonesia masih banyak orang bermunajat, ingat Allah.

Kemudian Ra Lilur – dengan bahasa Madura – mengajak Habib makan.
Ra Lilur segera beranjak meninggalkan gubug, tempat mereka duduk di tengah sawah. Ra Lilur tampaknya menyiapkan makanan sendiri. Tentu saja Habib penasaran. Masak seorang kiai terhormat mau menyiapkan makanan sendiri. Habib penasaran. Karena itu ia mengendap-ngendap berusaha mengintip apa yang diperbuat Ra Lilur. Ia terus membuntuti tuan rumah tersebut. Ra Lilur ternyata terus berjalan menuju sebuah gubug mirip kandang. Anehnya, hanya dalam sekejap ia sudah keluar membawakan masakan ala Timur Tengah. Yaitu sedandang nasi kebuli. Ini luar biasa, pikir Habib. “Bayangkan, sekian banyak porsi makanan disiapkannya dalam tempo sekian menit,” katanya. Namun Habib mengaku tak nafsu makan. Ia lebih banyak terpaku heran. “Ya, saya terlalu banyak disuguhi kejadian tak masuk akal,” kata Habib kepada Yudi Eko Purnomo, wartawan HARIAN BANGSA di Mojokerto.
Apalagi sebelumnya juga terjadi peristiwa aneh. Ketika itu Habib sedang berbincang-bincang dengan Ra Lilur. Nah, pada saat asyik ngobrol itu rokok si Habib habis. Anehnya, ketika itu juga tiba-tiba tangan Ra Lilur memegang rokok kesukaan Habib. Di tangan Ra Lilur ada sebungkus rokok. Lebih aneh lagi, rokok itu baru dibuat dua hari sebelumnya. Itu tampak dari nomer register rokok tersebut.
“Saya tiap kali beli rokok, memang selalu melihat nomer register, kapan rokok itu dibuat.” kata Habib.

Perilaku aneh Ra Lilur tidak hanya terjadi pada persoalan-persoalan negara, tapi juga berkaitan dengan orang kampung. Suatu ketika seorang penduduk di desa terpencil kehilangan sapi. Ia sedih karena sapi itu merupakan satu-satunya harta yang paling berharga bagi keluarganya.
Karena ingin sapinya kembali, dia sowan ke kediaman Ra Lilur. Maksudnya untuk minta barokah agar sapinya bisa kembali lagi.
Kebetulan waktu itu Ra Lilur sedang berada di rumah. Ia langsung ditemui oleh kiai nyentrik itu. Padahal, tamu yang hendak sowan ke Ra Lilur, biasanya baru bisa ketemu minimal setelah tiga kali sowan. Tapi, kali ini aneh. Ra Lilur malah dengan senang hati membantu orang yang malang itu. Lalu apa yang dilakukan Ra Lilur ketika diminta barokah agar sapi orang itu kembali lagi? Lagi-lagi Ra Lilur bertindak tak masuk akal.
Warga yang kehilangan seekor sapi itu diberi pil mencret atau murus. Tentu saja orang itu bingung dan dongkol. “Orang kehilangan sapi kok diberi obat murus. Ini sungguh tak masuk akal,” kata orang yang kehilangan sapi itu tak habis pikir. Namun sebelum pulang pil itu tetap diminum sesuai petunjuk Ra Lilur. Meski demikian ia tetap saja pikirannya tak bisa menerima.
Ia kemudian pulang. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba perutnya mules. Tanpa pikir panjang ia lantas pergi ke sungai untuk membuang hajat.
Ajaib, ternyata setelah buang hajat, dia melihat beberapa ekor sapi ditambatkan di semak-semak di sekitar sungai itu. Ketika diperiksa, salah satu sapi yang ditambatkan itu adalah miliknya. Ia girang bukan main. Namun di balik kegirangan itu ia juga merasa berdosa. Ia gelo karena hatinya sempat dongkol pada Ra Lilur ketika diberi obat murus.
Keajaiban Ra Lilur memang sering dalam bentuk perilaku tak masuk akal. Ini mirip peristiwa-peristiwa Nabi Khidlir ketika melakukan perjalanan bersama Nabi Musa. Tiba-tiba Nabi Khidlir mencekik seseorang anak yang sedang main. Karuan saja Nabi Musa kaget. Ia menegur Nabi Khidlir. Namun Nabi Khidlir mengingatkan bahwa sejak awal Nabi Musa memang tak akan kuat melakukan perjalanan bersama Nabi yang suka tinggal di kawasan berair itu. Nabi Musa pun diam.
Mereka kemudian kembali melakukan perjalanan. Sampai di tengah jalan mereka haus.
Mereka kemudian minta air ke orang kampung untuk menghilangkan rasa hausnya itu. Tapi orang-orang di kampung tersebut tak satu pun yang mau memberi air. Anehnya, Nabi Khidlir ketika menyaksikan bangunan tua di kampung itu tiba-tiba memperbaikinya. Nabi Musa heran, kenapa Nabi Khidlir mau memperbaiki bangunan di kampung itu, padahal masyarakatnya sangat pelit, minta air saja tak mau mengasih.
Karena itu ia menegur lagi. “Iya, kan kamu tak akan kuat melakukan perjalanan bersama saya,” kata Nabi Khidlir lagi mengingatkan Nabi Musa.
Setelah sampai di suatu tempat Nabi Khidlir menjelaskan tentang perilaku anehnya itu. “Saya bunuh anak itu karena nanti kalau sudah besar ia akan menjadi orang jahat, durhaka pada Allah,” kata Nabi Khidlir.
Lalu kenapa mau memperbaiki gedung di masyarakat yang pelit? “Karena di bawah bangunan itu ada harta anak yatim yang kelak bisa diambil. Karena itu gedungnya harus tetap terawat,” katanya.

Habib Ali Zainal Abidin termasuk orang yang banyak menyaksikan peristiwa ajaib tentang Ra Lilur. Maklum, ia ketika bertamu sempat tak ditemui oleh Ra Lilur. Namun begitu baca fatihah – seperti dilaporkan dalam edisi lalu – Ra Lilur langsung muncul. Ra Lilur yang cicit ulama terkenal Syaikhona Kholil itu serta merta mengajak Habib berbincang akrab. Namun justru karena banyak peristiwa ajaib itulah selera makan Habib langsung hilang. Karena itu ketika Ra Lilur menyuguhkan makanan ia menolak. “Saya masih kenyang kiai,” kata Habib kepada Yudi Eko Purnomo, wartawan HARIAN BANGSA di Mojokerto. Ra Lilur tak tersinggung. Ia malah tersenyum.
Habib merasa kenyang karena selain sudah banyak disuguhi keajaiban-keajaiban juga proses makanan yang dikeluarkan itu tak wajar. Ra Lilur – seperti diberitakan edisi lalu – hanya sebentar masuk dapur. Namun tiba-tiba nasi kebuli, masakan khas Timur Tengah itu, sudah siap santap. Karena itu hati Habib curiga, jangan-jangan makanan itu berasal dari haddam sejenis jin. Namun belum selesai Habib menuntaskan kecurigaannya itu tiba-tiba Ra Lilur berkata, “Ini dari Allah.” Karuan saja Habib kaget. Ia malu sehingga wajahnya merah.
Habib semakin penasaran ketika Ra Lilur menyinggung istrinya, Ny MN Hidayah. “Disela-sela obrolan selama empat jam tersebut Ra Lilur menanyakan keadaan istri saya selama ditinggal merantau. Ia tahu, selama ini istri saya selalu tinggal sendiri di rumah, meski dia bekerja di PT Askes Kota Mojokerto,” tutur Habib semakin terbata-bata.
Yang membuat Habib semakin heran ketika Ra Lilur menyebut alamat rumahnya secara lengkap baik di Pamekasan maupun di Jember. “Padahal, sekali lagi, beliau sama sekali tidak pernah tahu saya, apalagi alamat saya. Itu membuat saya heran,” katanya.
Kemampuan menebak gerak hati lawan bicara itu memang sering ditunjukkan para wali. KH. Abdul Hamid Pasuruan, misalnya, kerap menunjukkan peristiwa aneh seperti itu. Semasa hidup kiai ini pernah kedatangan KH. Yusuf Hasyim (Pak Ud), putera pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Saat itu Pak Ud – yang sehari-harinya aktif sebagai pengasuh pesantren Tebuireng Jomban itu – bersama tokoh NU KH. Munasir. Begitu Pak Ud datang Kiai Hamid langsung menyongsong. Kiai Hamid bahkan sempat merangkul Pak Ud. Akibatnya, Kiai Munasir seolah terabaikan. Nah, saat itulah dalam hati Kiai Munasir secara tak sengaja menggerutu. “Ya, wajar kalau Pak Ud diperlakukan (dihormati, red) seperti itu. Sebab Pak Ud putera macan (Kiai Hasyim Asy’ari, red). Jadi macan ketemu macan,” kata Kiai Munasir dalam hati.
Ternyata tanpa diduga Kiai Hamid langsung berbalik ke arah Kiai Munasir. “Jangan begitu. Manusia itu sama saja. Ayo,” kata Kiai Hamid sembari merangkul Kiai Munasir. Karuan saja Kiai Munasir terkejut. Ia tak menyangka gerundelan dalam hatinya diketahui oleh Kiai Munasir.
Menurut Habib, Ra Lilur sering menunjukkan firasat-firasat aneh sehingga orang tak habis pikir. Misalnya menangis. Habib menuturkan, jika Ra Lilur menangis, berarti ada kaum aulia (wali) wafat. Ra Lilur menangis karena jika wali meninggal berarti syiar Islam berkurang. Selain itu dunia kehilangan ‘pahlawan’ penyebar agama.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (10)
Di Kepala Kiai Ada Nasi ketika Jadi Imam Shalat

Perilaku aneh yang ditampakkan Ra Lilur tampaknya memang berkaitan dengan leluhurnya yang memang wali. Syaikhona Kholil Bangkalan, buyut Ra Lilur juga dikenal berperilaku aneh-aneh. Kiai Kholil dikenal sebagai ahli nahwu (gramatika Arab). Konon, ketika masih kecil Kiai Kholil sudah menunjukkan tanda-tanda aneh. Suatu ketika ia shalat berjama’ah bersama para santri dan kiainya. Seperti biasa, yang jadi imam adalah kiainya. Namun tiba-tiba Kholil kecil tertawa terbahak-bahak. Usai shalat kiainya memarahi Kholil. “Orang lagi shalat kamu malah tertawa. Apa maumu,” bentak sang kiai.
Kholil menjawab enteng. “Sewaktu kiai shalat tadi saya lihat ada nasi di atas kopyah kiai, karena itu saya tertawa,” jawab Kholil.
Seketika kiainya kaget sekaligus malu. Ia sadar bahwa shalatnya tak khusuk karena ingin cepat-cepat pergi menghadiri kenduri. Sejak itu kiainya mulai menaruh perhatian besar pada Kholil. Ia sadar bahwa diantara santrinya ada yang punya kemampuan luar biasa. Yakni punya kasafah.
Dugaan kiai itu betul. Kholil kemudian berkembang menjadi kiai besar. Bahkan menjadi kiai hampir seantero Jawa, karena kiai-kiai besar di Jawa adalah santri atau pernah nyantri pada Kiai Kholil.
Keanehan Kiai Kholil terus terjadi ketika sudah kesohor. Suatu ketika Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mau nyantri ke pesantren yang diasuh Kiai Kholil di Bangkalan. Kiai Hasyim yang waktu itu masih muda langsung dites. Kiai yang kemudian menjadi pendiri NU itu, konon, disuruh naik ke atas pohon bambu. Sementara Kiai Kholil terus mengawasi dari bawah sembari memberi isyarat agar terus naik sampai ke puncak. Kiai Hasyim terus naik sesuai perintah gurunya itu. Ia tak peduli apakah pohon bambu itu melur atau bagaimana. Yang jelas, ia hanya patuh pada perintah kiainya.
Anehnya, begitu sampai di puncak Kiai Kholil mengisyaratkan agar Kiai Hasyim meloncat ke bawah. Tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung meloncat. Ternyata ia selamat.
Yang menarik, dua kiai besar ini sama-sama tawadhu’ alias rendah hati. Mereka sama-sama saling berguru. Kiai Hasyim terkenal sebagai ahli hadits. Biasanya Kiai Hasyim mengajarkan hadits itu pada santri sebulan penuh bila bulan puasa. Ternyata Kiai Kholil, meski dikenal sebagai guru Kiai Hasyim, ikut juga jadi santri. Ia tak gengsi memperdalam ilmu meski kepada muridnya sendiri. Sebaliknya, ia malah sangat menghormati Kiai Hasyim.
Tradisi tawadhu’ (rendah hati) itu ternyata terus menurun ke generasi berikutnya. Gus Dur – cucu Kiai Hasyim – sangat menghormati keturunan Kiai Kholil. Begitu juga KH. Fuad Amin – cicit Kiai Kholil – sangat menghormati keturunan Kiai Hasyim.
“Kalau saya salaman mencium tangan Gus Dur langsung ditarik,” tutur Fuad Amin.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (11)
Gagal Temui Nabi Khidlir, Bertekad Mengembara

Ra Lilur memang berasal dari keluarga sufi. Dalam arti, leluhurnya dikenal dekat dengan Nabi Khidlir. Karena itu mudah dipahami jika keajaiban-keajaiban Ra Lilur mirip dengan perilaku Nabi Khidlir.
KH. Imron, kakek Ra Lilur, konon, pernah ditemui Nabi Khidlir, Kiai Imron adalah putera Syaikhona Kholil Abdul Latif Bangkalan.
Kala itu Nabi Khidlir menjelma sebagai orang berpenyakit yang menjijikkan. Orang itu kemudian minta gendong pada Kiai Imron. Namun Kiai Imron menolak. Karena menolak orang itu lantas minta gendong ke Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang waktu itu masih mondok di pesantren Kiai Kholil.
Kiai Hasyim menggendong hampir sampai ke pesantren. Menjelang sampai ke pesantren orang itu minta diturunkan. Orang tersebut kemudian berkata,” Sampaikan kepada Kiai Imron, saya ini Nabi Khidlir.” Setelah itu orang tersebut lenyap.
Begitu kabar disampaikan, Kiai Imron terkejut. Ia menyesal telah menolak menggendong orang berpenyakit itu yang tak lain adalah Nabi Khidlir. Sejak itu, kabarnya, Kiai Imron bertekad untuk mencari Nabi Khidlir. Ia terus mengembara untuk mencari Nabi Khidlir.
Kasus seperti Kiai Imron ini memang banyak terjadi. Seseorang pernah ingin bertemu Nabi Khidlir. Ia datang kepada kiai yang dikenal wali. Orang tersebut kemudian disuruh pergi ke trotoar gedung bioskop. Namun begitu sampai di tempat yang ditunjuk. Ternyata Nabi Khidlir tak ada. Orang tersebut kemudian kembali ke rumah sang kiai. Ia melaporkan bahwa di depan gedung bioskop itu tak ada Nabi Khidlir. Yang ada hanya orang jual bakso.
Lalu apa kata sang kiai? “Ya, itu Nabi Khidlir. Yang menjelma jadi tukang bakso itu,” kata kiai itu. Kontan saja orang sudah lama ingin bertemu Nabi Khidlir itu gelo.
Konon, KH. Abdul Hamid Pasuruan yang dikenal sebagai wali itu sering didatangi orang yang ingin bertemu dengan Nabi Khidlir. Suatu ketika ia kedatangan tamu yang ngotot mau bertemu Nabi Khidlir. Kiai Hamid lantas minta orang itu datang kembali besok.
Karena memang sangat ingin melihat Nabi Khidlir, orang tersebut datang seperti perintah Kiai Hamid. Ia lantas duduk di sela-sela tamu yang banyak. Kiai Hamid terus asyik bercakap-cakap dengan para tamunya. Kemudian para tamu itu pulang sehingga tinggal orang yang ingin bertemu Nabi Khidlir itu.
“Kiai, mana Nabi Khidlirnya,” katanya tak sabar setelah menunggu tak muncul-muncul.
“Lho, tadi sewaktu kamu ke sini ada orang nggak di depan?” tanya Kiai Hamid.
“Ada, tapi orang membersihkan got,” kata orang itu jujur.
“Ya, itu tadi Nabi Khidlir,” jelas Kiai Hamid. Karuan saja orang itu terkejut. Ia tak menyangka orang yang ia sepelekan tadi ternyata Nabi Khidlir.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (12)
Nangis Ngguguk, Ulama Kejar Harta, Telantarkan Fakir Miskin

Belum ada informasi jelas tentang pendidikan Ra Lilur. Tapi ia menguasai bahasa Arab. Kehidupan Ra Lilur memang agak berbeda dengan keluarga Syaikhona Kholil lainnnya yang pendidikannya jelas. KH. Abdullah Schaal, saudara Ra Lilur, misalnya, sejak kecil nyantri secara teratur. Kemudian mengasuh pesantren warisan Syaikhona Kholil. Karena itu pesantren yang terletak di kota Bangkalan itu dinamakan Pesantren Syaikhona Kholil. Pesantren inilah yang pernah dibakar oleh Ra Lilur.
Ra Lilur sejak muda dikabarkan suka mengembara. Ia sering tak jelas dimana tempatnya. Ia hanya muncul ketika mau mengabarkan peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi. Untuk proses penyampaian kabar itu ia kadang datang kepada Kiai Abdullah Schaal. “Biasanya ia minta agar Kiai Abdullah hati-hati,” ujar salah seorang keluarga Kiai Abdullah kepada HARIAN BANGSA. Setelah itu ia kembali ke kediamannya. Atau meneruskan laku-nya, merendam diri di tengah laut.
Yang menarik, di kediaman Ra Lilur cukup banyak tamu berkunjung. Di depan tamunya – terutama yang khusus – ia kadang bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting. Misalnya tentang ulama yang kini mulai lebih suka mengejar-ngejar harta ketimbang memikirkan nasib umat. Cicit Syaikhona Kholil itu bahkan menangis sampai ngguguk ketika bicara tentang ulama yang hanya mengejar harta. “Kalau ulama sudah lupa kepada kedudukannya dan mencintai harta serta kemewahan, berat, berat, dihadapan Allah SWT. Dampaknya, mereka akan pecah. Ya, Allah, selamatkanlah mereka,” kata Ra Lilur sembari menangis sesenggukan. Ia menyampaikan itu kepda tamunya dalam bahasa Arab.
Soal bahasa Ra Lilur melihat tamunya. Kalau tamunya paham bahasa Arab kadang bicara dalam bahasa Arab. Tapi jika tamunya orang Madura, biasanya ia cukup bahasa Madura.
Berbeda dengan ulama milenium yang berebut posisi dan sibuk dengan politik, Ra Lilur sangat sederhana. Baik pakaian maupun kehidupan sehari-harinya sangat bersahaja. Ra Lilur memang lebih tepat jika disebut sebagai ulama rohani.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (13)
Pengusaha Besi Kapok Datang, Rugi Rp 100 Juta, Ayah Mati

Banyak cerita menarik yang dialami Habib Ali Zainal Bin Anis Al Muchdor ketika berkunjung ke kediaman Ra Lilur di Tanah Merah Bangkalan Madura. “Waktu itu saya melihat pakaian Ra Lilur yang sederhana. Saya lantas ingat satu hadits yang mengatakan agar hati-hati terhadap orang yang berpakaian compang-camping. Karena orang itu mulya di sisi Allah. Uniknya, seketika itu Ra Lilur menjawab Salallahalaihi Muhammad,” tutur Habib. Sontak Habib takdim kepada Ra Lilur. Karena apa yang ada dalam hati Habib, ternyata Ra Lilur tahu.
Tak lama kemudian Ra Lilur bertanya kenapa seorang pengusaha besi tua bernama H. Hasan yang tinggal di Cililitan Jakarta tak pernah datang lagi kepadanya.
Habib Ali menjawab mungkin sudah jera karena banyak pengalaman pahit yang dialami ketika datang ke Ra Lilur.
Menurut Habib, Hasan pernah mengalami tekanan ekonomi. Karena ia mendengar kejadian-kejadian aneh yang dialami Habib bersama Ra Lilur, ia kemudian memutuskan datang kepada kiai jadab itu.
Ia minta do’a kepada Ra Lilur. Ia berharap, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu, mau mendo’akan, agar usahanya tetap langgeng. Begitu juga kalau ada job baru sukses.
Singkat cerita, setibanya di rumah sang kiai, segera ia disambut ajudan sekaligus dihadapkan kepada Ra Lilur. Hasan lantas menceritakan masalahnya. Ra Lilur mendengar semua cerita Hasan. Namun yang membuat Hasan tak habis pikir, ketika hendak pulang, ia diberi obat sakit kepala Paramex.
Tentu ia bertanya-tanya dalam hati. Dengan diliputi tanda tanya, Hasan pulang ke rumahnya di Jakarta. “Di dalam bus, saya terus mikir. Mau diapakan obat ini. Kenapa pula kiai memberi saya ini,” gumam Hasan seperti ditirukan Habib.
Seminggu kemudian, H. Hasan ternyata tertimpa musibah. Usahanya rugi Rp 100 juta. “Mati aku. Rupanya itu maksud kiai memberi obat,” kata Hasan tersenyum kecut. Sebulan kemudian, di rumahnya, telepon H. Hasan mendadak berdering. Telepon itu dari saudaranya di Tanah Merah, Madura. Ia mengabarkan bahwa abahnya (ayah), yang murid Habib Sholeh Tanggul, Jember, sakit keras. Dilanda rasa gundah tak terkira, ia pun pergi menemui abahnya.
Abahnya terbaring sakit di atas pembaringan. Ia lantas menemui guru abahnya, yaitu Habib Sholeh Tanggul, H. Hasan diminta membawa tasbih. Menurut Habib Sholeh, tasbih itu, selain untuk wirid juga sangat manjur untuk mengobati orang sakit. Sesuai dengan pesan guru, tasbih itu dicelupkan ke dalam segelas air. Selanjutnya, air bekas celupan itu diminumkan kepada orang yang sakit. Semula, penyakit itu memang berkurang. Badan abahnya sedikit enakan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian, bapaknya kembali jatuh sakit. H. Hasan pun segera beranjak pergi meminta do’a kepada Ra Lilur. Yang tak membuat H. Hasan heran lagi, ketika Ra Lilur, memberinya kapas, berikut minyak telon. Itu diberikan ketika H. Hasan hendak pulang. Seperti sebelumnya, dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya di Tanah Merah, hati H. Hasan, diliputi tanda tanya yang hebat. Begitu tiba di rumah abahnya, ia mendapati banyak orang menangisi kepergian orang tua lelakinya itu. Rupanya, kapas dan minyak telon itu, sebagai perlambang bahwa penyakit orang tuanya tak dapat disembuhkan. “Kapok sudah saya bertemu Ra Lilur,” kata H. Hasan setengah menggerutu.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (14)
Geger, Wanita Misterius Penjemur Ikan Dinikahi Kiai

Di kawasan pesisir Bangkalan ada seseorang wanita yang sehari-harinya membersihkan ikan. Wanita itu tak ubahnya seorang buruh. Ia tiap hari membersihkan dan menjemur ikan milik orang. Ia hanya dapat upah sekian rupiah dari jerih payahnya itu.
Kesibukan di kawasan pesisir itu membuat orang tak pernah memperhatikan wanita itu. Apalagi wanita itu memang tampil seperti umumnya buruh; kusut dan agak kotor. Karena itu masyarakat tak pernah memperdulikan.
Masyarakat baru terhenyak ketika wanita berpenampilan kumal itu dinikahi Ra Lilur. Rasan-rasan pun ramai. Mereka seolah tak percaya kiai seterhormat Ra Lilur mau menikahi wanita buruh itu.
Yang menarik, begitu berita pernikahan Ra Lilur dengan wanita itu tersebar, masyarakat mulai bertanya-tanya, dari mana asalnya wanita tersebut. Sebab meski setiap hari bertemu dan berkumpul masyarakat di sekitar pesisir itu tak ada yang tahu asal muasal wanita tersebut. Masyarakat pun mulai geger. Wanita itu dianggap misterius karena tak diketahui asal usulnya.
Ajaibnya, begitu masyarakat heboh tiba-tiba muncul informasi bahwa wanita tersebut berasal dari kesultanan Demak. Karuan saja masyarakat kembali ramai.
Tapi benarkah ia berasal dari kesultanan Demak? Wallahu a’lam. Tapi masyarakat di sekitar pesisir itu yakin ia berasal dari Demak. Yang juga unik wanita itu tetap sederhana meski dinikahi Ra Lilur. Padahal ia telah jadi istri orang terhormat dan disegani masyarakat. Bahkan Ra Lilur bukan saja disegani masyarakat tapi juga dihormati para ulama. Toh istri Ra Lilur tetap bersahaja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ia berjualan es lilin. Dagangannya itu kadang dijajakan kepada para santri KH. Abdullah Schaal di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan. “Ia sering ke sini (pesantren) jual es lilin,” kata salah seorang keluarga Kiai Abdullah Schaal.
Aneh, memang. Padahal, kalau mau, bisa saja ia kaya raya mengingat tamu Ra Lilur yang terus membludak. Ia juga bisa ongkang-ongkang, tak usah kerja keras, seperti umumnya istri kiai. Tapi itu tak ia lakukan. Ia lebih suka makan dari hasil keringatnya sendiri ketimbang menunggu pemberian masyarakat.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (15)
Terjangkit Penyakit Menahun, Diobati dengan Tiga Korma

Ra Lilur ternyata tak hanya piawai mendeteksi masa depan. Ia juga ahli mengobati orang sakit. Tak aneh jika banyak tamu yang minta tolong untuk mengobati penyakitnya. Bahkan semenjak hijrah ke sebuah desa di kecamatan Galis Bangkalan, tamu yang hadir meminta barokah semakin bejibun saja. Uniknya, yang datang tidak hanya dari kalangan santri dan masyarakat biasa, namun juga kiai pengasuh pesantren yang punya masalah.
Salah satunya, seorang kiai asal Surabaya. Kiai ini sudah puluhan tahun mengidap penyakit aneh. Awalnya dikira terkena serangan syaraf. Menurut analisis dokter spesialis syaraf terkenal yang praktik di Jl. Diponegoro Surabaya, kiai ini, syaraf rahangnya terganggu, sehingga sulit mengatupkan lidahnya. Kalau berbicara harus dipegang. Pendek kata penderitaan itu sudah lama.
Sebelum memeriksakan ke dokter neurolog tersebut, kiai ini melanglang buana berkonsultasi dengan berbagai ahli, baik ahli medis, maupun paranormal. Tapi hasilnya nol besar. Bahkan pernah juga berkonsultasi ke KH. Ghofur, pengasuh ponpes Sunan Drajat Paciran Lamongan.
Juga gagal. Salah seorang santrinya, pernah menyarankan agar berobat ke suatu daerah di Jabar. Tapi setelah dijalankan, perkembangannya hanya sesaat. Usai berobat, hanya sepekan kondisinya sehat, setelah itu kambuh lagi.
Karena penyakit yang menahun inilah, kemudian timbul syak swasangka, jangan-jangan penyakit aneh ini, bukan penyakit lahir, karena tak terdeteksi secara medis, tetapi penyakit kiriman, alias terkena sihir atau sejenisnya.
Namun kiai ini terus berikhtiar sembari tetap pasrah. Di tengah-tengah kepasrahan itulah, tiba-tiba timbul wisik-wisik dari seorang tamu yang agak aneh. Tamu itu menyarankan, agar meminta barokah ke Ra Lilur.
Tanpa pikir panjang, maka berangkatlah rombongan kiai itu ke tempat pedepokan Ra Lilur di sebuah desa Banjar kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan. Biasanya orang yang tak pernah sowan ke Ra Lilur, sulit langsung ditemui. Tapi khusus yang satu ini, Ra Lilur langsung menyanggongnya. “Lenggi-lenggi pada parlo napa (mari silakan duduk, ada maksud apa ke sini),” sapanya.
Kiai ini langsung mengutarakan niatnya. Ia juga menceritakan perjalanannya berobat ke mana-mana, namun hasilnya nihil.
Mendengar keluhan itu, Ra Lilur langsung memberi tiga buah korma dari dalam rumahnya. “Da’ar pa tada’ (silakan makan dihabiskan),” kata Ra Lilur.
Saat dialog itu tak begitu cair. Maklum Ra Lilur memang sering memperlihatkan suasana yang sulit ditebak. Kadang-kadang tertawa, tapi kadang-kadang tak banyak bicara.
Mungkin saat itu, Ra Lilur paham, betapa menderitanya kiai ini lantaran merasakan sakit menahun.
Usai menyuguhkan tiga korma, Ra Lilur memberi wejangan, agar kiai tadi, berobat ke seorang dokter kiai di sebuah kawasan sekitar Pasar Turi Surabaya. Kenapa disebut dokter kiai, karena dokter itu, selain memberi obat, juga memberi bacaan-bacaan.
Hasilnya? Alhamdulillah, penyakit menahun kiai sederhana itu akhirnya berangsur-angsur sembuh.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (16)
Aparat Nangis, Minta Tolong Ditunjukkan Tommy Soeharto

Keanehan Ra Lilur semakin menjadi-jadi. Ini terkait dengan kondisi nasional yang masih belum menentu. Yang menarik, keanehan Ra Lilur itu kini banyak mengundang perhatian aparat. Bahkan ada anggota Polri berpangkat perwira menengah (Pamen) datang ke kiai yang dikenal punya kasaf itu untuk minta tolong. Si pamen itu rela bepergian tengah malam dengan sepeda motor menuju desa Banjar untuk menemui Ra Lilur.
Apa tujuan sang Polisi? Ajudan (haddam) Ra Lilur, H. Husni Madani, bercerita kepada Taufiqurrahman wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan Madura tentang keinginan pamen berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu. Menurut Husni ia minta tolong agar ditunjukkan tempat persembunyian Tommy.
Namun Ra Lilur – seperti laporan HARIAN BANGSA sebelumnya – sulit ditemui. Karena itu pamen itu menyampaikan maksudnya itu melalui Husni. Diceritakan, sebelum menyampaikan keinginannya, selama tiga malam berturut-turut petinggi polri itu melakukan wirid dan mengaji di mushallah milik H. Husni. “Malah dia (petinggi Polri itu) sampai menangis ketika membaca Al-qur’an,” tuturnya.
Lantas bagaimana tanggapan Ra Lilur ketika ajudannya menyampaikan keinginan sang tamu? Dengan tegas Ra Lilur mengatakan, untuk memburu Tommy sangat sulit, karena memang ada yang membuatnya sulit. “Sulit karena memang dibuat sulit,” jawab Ra Lilur singkat seperti ditirukan H. Husni. Jawaban itu diberikan Ra Lilur melalui ajudannya.
Dari jawaban Ra Lilur itu tersirat bahwa Tommy memang ada yang melindungi. Karena itu mudah dipahami jika beberapa pihak ragu terhadap upaya polisi menangkap Tommy. Bahkan kini muncul analisis bahwa gerakan aparat yang mau menangkap Tommy itu sekedar basa-basi belaka, yakni untuk meredam kekecewaan atau mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan politik di tubuh Polri sendiri maupun seputar di Mega.
Perilaku Ra Lilur kini memang kian aneh. Sudah dua minggu ini, Ra Lilur mengunci diri di sebuah gubuk di atas gunung. Bahkan pintu pagarnya pun digembok. Sehingga, tamu yang hendak sowan ke Ra Lilur sulit untuk bertemu. Selama ini hanya ada dua orang haddam yang bisa menemui Ra Lilur. Seorang tamu yaitu kiai dari Jember, KH. Nawawi Abdul Jalil, hanya bisa bertemu dengan ajudan. “Sudah dua minggu kiai tidak ngomong. Beliau berkomunikasi hanya dengan tulisan tangan saja. Kalau ada tamu, saya hanya bisa menyampaikan keinginan sang tamu. Tapi kiai hanya memberikan tulisan atau barang,” papar haddam yang sudah mengabdi sejak tahun 1989 ini.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (17)
Serahkan Dekrit pada Kiai Abdullah Schaal

Keanehan Ra Lilur memang sulit ditebak. Terutama menyangkut peristiwa politik negara. Buktinya, jauh sebelum Gus Dur memberikan dekrit ia telah menyerahkan dekrit kepada dua kiai kharismatik Madura yakni KH. Abdullah Schaal dan KH. Zubair Muntasor.
Menurut haddam kepercayaan Ra Lilur, H. Husni Madani, kiai yang sudah mencapai tahapan mukasafah ini enam bulan lalu pernah mengeluarkan sebuah dekrit. Dekrit tersebut berisi persoalan penerapan demokrasi yang tengah diperjuangkan oleh Gus Dur yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden.
Sayang selembar kertas dekrit asli tulisan tangan Ra Lilur itu diminta kembali. Sedangkan KH. Abdullah dan KH. Zubair hanya diberi salinannya (fotokopi) saja. H. Husni hanya ingat penggalan kalimat yang tersirat dalam dekrit Ra Lilur. Antara lain, demokrasi sulit dipraktikkan. Yang terakhir, berisi kalimat berat sama dipikul, setelah ringan tidak kebagian. “Saya hanya ingat dua kalimat itu, sedangkan yang lain saya lupa,” katanya.
Mengapa tidak difotokopi lebih? H. Husni mengatakan, sebenarnya dekrit itu difotokopi lebih dua lembar. Tapi setelah menghadap Ra Lilur, lembaran yang asli diminta sedangkan yang dua lembar fotokopi disimpannya.
“Anehnya, dua lembar fotokopi dekrit itu hilang. Padahal saya ingat dimana saya simpan,” tuturnya keheranan. “Ya mungkin, kiai tidak kasokan (tidak mengijinkan, red),” katanya mengira-ngira.
Haddam kepercayaan Ra Lilur menjelaskan, fotokopi dekrit diberikan kepada KH. Abdullah sebanyak 5 lembar dan 5 lembar lainnya diserahkan kepada KH. Zubair. Dan setiap mengeluarkan surat, Ra Lilur selalu meminta surat asli tulisan tangannya.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (18)
Surati HARIAN BANGSA, Meski Tak Baca Koran

Keanehan-keanehan Ra Lilur yang diberitakan HARIAN BANGSA ternyata mendapat tanggapan dari cucu Syikhona Kholil Bangkalan Madura itu. Secarik kertas berisi tulisan tangan dengan lafal arab itu diberikan begitu saja kepada H. Husni Madani, haddam (ajudan) kepercayaannya.
Karuan saja Husni kaget. Karena selama ini Ra Lilur tidak pernah keluar dari biliknya di sebuah pegunungan di Desa Banjar Galis. Kawasan ini jauh dari kota. Jaraknya sekitar 35 km dari kota Bangkalan. Kondisinya penuh bebatuan.
Selain itu Ra Lilur sudah lebih dua minggu ini tidak pernah berkomunikasi melalui lisan alias puasa bicara. Ra Lilur juga mengunci diri didalam kamarnya. Tak pernah keluar.
Jadi kiai yang suka berendam di tengah laut itu tak pernah baca koran. Tapi anehnya, kiai kasaf berumur lebih dari setengah baya ini tahu kalau saat ini dirinya sedang menjadi salah satu berita di rubrik Religia HARIAN BANGSA. Lebih aneh lagi, Ra Lilur tahu persis apa saja yang pernah dimuat tentang dirinya.
Menurut H. Husni, selama ini Ra Lilur tidak pernah diberi tahu soal pemuatan dirinya di HARIAN BANGSA. Memang Husni sendiri pernah membaca tulisan tentang Ra Lilur di HARIAN BANGSA. Tapi dia tidak berani memberikan koran HARIAN BANGSA yang memuat tentang dirinya itu karena takut tidak setuju dimuat di media massa.
Karena itu ia ketakutan ketika secara tiba-tiba dipanggil Ra Lilur. “Saya sempat ketar-ketir ketika dipanggil oleh Kiai (Ra Lilur, red). Karena saat itu kiai langsung bertanya dimana alamat redaksi HARIAN BANGSA,” tutur H. Husni kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan.
Bahkan, sambungnya, Ra Lilur, juga menanyakan siapa wartawan yang menulisnya. “Saya berpikir kiai dukah (marah, red), tapi ternyata tidak,” papar haddam kepercayaan Ra Lilur yang sudah mengabdi puluhan tahun di rumahnya, Desa Banjar Galis. Lalu bagaimana isi suratnya? Ikuti lanjutannya besok.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (19)
Jatuh dari Pematang, Minta Dibelikan Kosmetik

Isyarat Ra Lilur seputar perkembangan politik di Indonesia ternyata masih ada yang menarik untuk disimak. Ini terutama terkait dengan peristiwa jatuhnya Gus Dur dan naiknya Megawati sebagai Presiden belum lama ini.
Menurut H. Husni Madani, haddam Ra Lilur, dua bulan lalu cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu pernah mengalami peristiwa aneh. Diluar dugaan, ketika berjalan menuju biliknya di atas gunung, kiai jadab ini tiba-tiba jatuh dari pematang yang cukup tinggi.
“Peristiwa ini terjadi pada malam hari selepas isya. Saat berjalan di atas pematang, tiba-tiba kiai jatuh. Saking tingginya, sikut kiai sampai luka,” tutur Husni kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan. “Saya heran, soalnya pematangnya lebar dan kiai biasa berjalan melewatinya,” katanya seraya geleng-geleng kepala.
Saat itu Husni masih belum berpikir isyarat yang bakal terjadi kelak dikemudian hari. Dia hanya berpikir, kiai yang sudah mencapai tingkat mukasafah ini hanya terjatuh biasa. “Saya pikir hanya jatuh biasa. Eh, ternyata Gus Dur dijatuhkan,” kata Husni dengan logat Madura yang kental.
Begitu juga naiknya Megawati sebagai Presiden. Peristiwa Mega jadi Presiden tak luput dari isyarat aneh Ra Lilur. Dijelaskan, sepuluh hari menjelang sidang istimewa (SI) MPR, Ra Lilur minta dibelikan tiga meter kain warna merah. Dan keinginan itupun langsung diiyakan H. Husni.
Keesokan harinya, Ra Lilur kembali meminta ajudan kepercayaannya itu untuk membeli perlengkapan kosmetik. Ra Lilur berpesan agar semua kebutuhan kosmetik wanita dibeli lengkap dan dibungkus rapi.
“Pokoknya, keinginan kiai saya ibaratkan seseorang yang hendak melamar seorang wanita. Saat itu saya hanya berpikir kiai punya niat untuk meminangkan salah satu putri saya dengan seorang lelaki pilihan kiai,” tukasnya.
Ternyata SI memutuskan Megawati sebagai Presiden RI menggantikan Gus Dur.
Lalu bagaimana dengan pembelian kain warna merah sepanjang tiga meter? Mungkinkah Mega bisa bertahan 3 tahun di kursi Presiden, yang berarti sampai 2004? Atau mungkin ada isyarat lain yang akan ditunjukkan oleh kiai jadab yang suka berendam di tengah laut dan mirip Nabi Khidlir ini? Wallahu a’lam.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (20)
Main Drama, Ada di Dua Tempat dalam Waktu Sama

Namun ada yang lebih unik lagi dibalik peristiwa itu. Ceritanya begini. Salah seorang kiai tidak bisa pada undangan Ra Lilur di resepsi anak Husni itu. Keesokan harinya, sang kiai datang ke rumah tuan rumah (H. Husni Madani) untuk minta maaf karena tidak bisa hadir dalam pesta pernikahan anaknya. Lho, kenapa? Inilah yang ajaib. Ternyata kiai tersebut mengaku tidak bisa hadir karena kedatangan Ra Lilur ke rumahnya. Padahal 300 kiai yang diundang menyaksikan bahwa Ra Lilur sedang pentas main drama.
“Saya heran, lha wong pada malam itu bersama saya, tapi ternyata ada seorang kiai yang mengatakan Ra Lilur sedang bertamu ke rumahnya,” kata Husni. Kejadian serupa juga terjadi pada salah seorang kerabat Husni di Jakarta. Itu terjadi saat acara haul KH. Amin Imron. Pada acara tersebut, tiba-tiba Ra Lilur datang dan mengikuti acara tersebut. Kontan saja tuan rumah keheranan melihat kehadiran kiai yang jarang muncul di depan publik itu.
Tak hanya itu, Ra Lilur juga bertanya kepada tuan rumah soal foto dirinya yang dipajang didalam kamar. “Mana foto saya yang dipajang di dalam kamar,” sergah Ra Lilur seperti ditirukan Husni. Padahal, sebelumnya Ra Lilur tidak pernah sowan ke rumah kerabat Husni itu. Yang mengherankan Husni, karena ketika Ra Lilur dikabarkan ada di Jakarta menghadiri acara haul itu, sebenarnya kiai aneh itu berada di ndalem (sebutan rumah kiai) di Desa Banjar Galis. Ini berarti, lagi-lagi Ra Lilur berada di dua tempat dalam waktu bersamaan.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (21)
Naik Kendaraan Keliling Surabaya Tanpa Bensin

Keanehan yang ditunjukkan oleh Ra Lilur memang seolah tak pernah habis. Orang-orang yang pernah menyaksikan langsung perilaku Ra Lilur selalu dibuat geleng-geleng kepala.
Maklum, banyak peristiwa tak masuk akal, namun terjadi secara nyata. Suatu ketika, Ra Lilur memanggil ajudan kepercayaannya, H. Husni Madani. Saat cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu minta agar Husni menemaninya jalan-jalan di Surabaya. Permintaan itu langsung diiyakan.
Berikutnya, Ra Lilur minta agar ajudannya menyewa sebuah mobil berikut sopirnya. Setelah rampung, keduanya berangkat ke Surabaya. Anehnya, ketika sang sopir hendak mengisi bensin, Ra Lilur melarang. “Sudah tak usah isi bensin,” kata Ra Lilur.
Karena tahu siapa Ra Lilur sebenarnya, sang sopir langsung tancap gas menyeberangi Selat Madura. Ia melesat ke Surabaya. Di kota pahlawan ini sehari penuh kendaraan yang ditumpangi Ra Lilur melaju. Tapi uniknya, tak sedikitpun jarum spido penunjuk bensin turun.
“Sepanjang jalan saya terus mengawasi jarum penunjuk bensin. Tapi bensinnya tetap penuh. Saya jadi heran, lha wong bensin tidak diisi sama sekali, tapi tidak habis,” tutur Husni heran.
Uniknya lagi, ketika kembali ke Desa Banjar Galis, Bangkalan Madura, tangki bensin tetap tidak berubah alias full tang. “Kalau dipikir, bahan bakar kendaraan itu siapa yang ngisi ya,” kata ajudan kepercayaan kiai jadab ini.
Kejadian seperti itu sering disaksikan Husni. Pernah suatu ketika Ra Lilur mengajak Husni keliling Kabupaten Bangkalan. Saat itu, Ra Lilur menyewa sebuah mobil pick up. Sang sopir diminta untuk menuruti permintaannya.
Seperti halnya kejadian yang lalu, ketika sang sopir hendak mengisi bahan bakar, Ra Lilur melarang. Lagi-lagi orang yang mengikuti perjalanan kiai kasaf ini terheran-heran. Karena sejak berangkat hingga pulang bensinnya tetap pada posisi awal.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (22)
Gara-gara Bicara Kasar, Sial, Lantas Meninggal

Ini merupakan peringatan keras kepada siapa saja yang melakukan tindakan konyol dengan berkata kasar dan membohongi Ra Lilur. Kalau hal tersebut dilakukan, bisa-bisa naas peristiwa yang dialami seorang sopir pick up. Ajudan Ra Lilur, H. Husni mengatakan, sopir itu diketahui meninggal setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Kabar itupun terkuak setelah sopir lain menceritakan nasib yang menimpa temannya. Kisah tersebut berawal ketika Husni bersama Ra Lilur melakukan perjalanan dari Kecamatan Sepuluh menuju Desa Banjar Galis Bangkalan Madura. Di tengah perjalanan, motor yang ditumpangi macet karena mengalami kerusakan pada bagian mesin.
Karena tak bisa memperbaiki, Husni memutuskan untuk beristirahat seraya menunggu tumpangan untuk Ra Lilur. Beruntung, setelah beberapa menit beristirahat, ada sebuah mobil pick up melintas di sebuah jalan desa. Ra Lilur kemudian meminta agar ajudannya menyetop mobil itu untuk ikut. Namun setelah dicegat, sang sopir berkata kalau mobilnya tidak dibuat angkutan. “Lok muwak (tidak mau muat, red),” kata sang sopir dengan kasar.
Karena ditolak, Husni kembali istirahat sembari menunggu tumpangan yang lain. Ternyata setelah beberapa meter dari tempat istirahat, mobil yang dicegatnya tadi mengangkut beberapa karung kedondong milik pedagang. Setelah kejadian itu, Husni tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi pada sang sopir di balik kata-kata kasar dan bohong yang diucapkan kepada seorang kiai jadab itu.
Beberapa bulan berikutnya, Ra Lilur berniat untuk melakukan perjalanan keliling kota Bangkalan. Seperti biasa, kiai kasaf ini memerintahkan ajudannya untuk mencari mobil tumpangan.
Tapi anehnya, sebelum diperintah mencari mobil, Ra Lilur berpesan agar memilih mobil pick up deretan ketiga dari belakang. “Karena itu perintah kiai, saya tidak bisa menolaknya,” tuturnya.
Perjalananpun dilakukan, setelah sampai di daerah pesisir barat Kecamatan Socah, Bangkalan, Ra Lilur berhenti. Ia langsung melakukan perjalanan ke tengah laut. “Saya tidak tahu kemana kiai berjalan. Tapi beliau terus berjalan hingga tidak kelihatan,” kata Husni.
Ditengah penantian tersebut, Husni ngobrol dengan sopir pick up yang menjadi pilihan Ra Lilur. Ternyata, sang sopir bercerita panjang lebar soal peristiwa yang pernah dialami temannya yang juga sopir pick up itu. Dikatakan, setelah sopir pertama menolak permintaan Ra Lilur dengan kata-kata kasar dan bohong, dia terus mengalami banyak peristiwa sial. Mula-mula hasil uang dari nyopir itu selalu habis hanya untuk membayar biaya tilang polisi.
Berikutnya, dia terus mengalami sakit yang tak kunjung sembuh hingga akhirnya meninggal. “Mantuan (paman haji, red), sopir pertama yang pegang mobil ini meninggal setelah menolak permintaan kiai,” kata sopir itu lirih.
Mendengar penjelasan itu, Husni teringat peristiwa yang pernah dialaminya. Ternyata, Ra Lilur memilih mobil pick up pada deret ketiga itu merupakan tebusan dari penolakan sopir yang pernah berkata kasar itu. Karena sopir yang berkata kasar itu dulu juga menyopir mobil yang sekarang dipakai itu.

Ra Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir (23-Habis)
Inilah Isi Surat Ra Lilur kepada HARIAN BANGSA

Ra Lilur akhirnya berkirim surat kepada HARIAN BANGSA. Meski cicit Syaikhona Kholil itu tak pernah membaca koran, namun ia tahu betul isi berita HARIAN BANGSA yang menulis keunikan dirinya.
Surat itu dititipkan kepada seseorang kemudian diberikan kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan. Surat itu sangat sederhana, namun isinya cukup mengena dan mendalam. Hanya satu lembar, tapi diketik dengan mesin ketik manual. Selain berisi saran juga disertai kaidah-kaidah agama dalam bentuk huruf Arab.
Surat ini penting dimuat karena tulisan tentang Ra Lilur mendapat sambutan luar biasa dari pembaca. Bahkan ada pembaca yang menelepon kepada redaksi HARIAN BANGSA menanyakan, apakah koran ini sudah seijin Ra Lilur ketika menulis kiai jadab yang suka berendam di tengah laut itu.
“Karena surat kabar BANGSA tertanggal 4 Agustus 2001 halaman 6, dengan judul “Tiba-tiba Berpakaian Serba Merah” memuat pengungkapan nama saya dikategorikan yang berlebihan.
Maka perlu saya membuat uraian (bukan sanggahan) untuk menjaga tetap baiknya i’tikad orang awam. Ini sebagian yang tertera di surat kabar itu kolom I tanggal 4 bulan Agustus tahun 2001 halaman 6:
“Ra Lilur tampaknya memang sudah mencapai tingkat kasyaf dst… dst…”,” tulis Ra Lilur mengawali suratnya.
Yang menarik, surat Ra Lilur minta agar tak menafsirkan terlalu jauh tentang perilaku manusia. Ia minta agar perilaku manusia dipandang dari segi dhahiriyahnya saja, tak usah ditafsirkan macam-macam.
“Inilah uraian saya: Martabat manusia tak akan melebihi Nabi. Tak akan luas pengaruh manusia individu kecuali manusia yang berkedudukan resmi dan berkarya resmi pula. Pengumandangan agama Islam adalah Dhohiriyah, pandanglah manusia dan perilakunya dengan apa yang terpandang tak usah mengungkit-ungkit apa yang tersirat cukup dengan yang tersurat,” tulis Ra Lilur lebih lanjut.
Ra Lilur kemudian menulis, “Selain niat dan syarat-syarat dan rukun Ibadah serta muamalat hanyalah dhahiriyah. Sebab itu maka tak layak bagi manusia mengungkap-ungkap batiniyah seperti watak, dan jiwa yang bergairah buruk. Kecuali orang teranugerah padahal itu.
Ra Lilur kemudian mengutip kaidah bahasa Arab yang artinya, “Dan manusia hanya diperintah mengikuti kaidah-kaidah agama, makanya tak usah isyarat-isyaratan.”
Ra Lilur juga mengetengahkan kaidah yang ditulis dalam bahasa Arab. Kaidah itu ia beri arti sebagai berikut:

“Dan Nabi sendiri tak suka terlalu diagung-agungkan seperti tersebut.”

Ra Lilur juga kembali menulis dengan bahasa Arab yang artinya:

“Pandanglah manusia dan muammalah dengan dhahiriyah, kalau dukun itu dengan batiniyah maka itu hal dukun sendiri.”

sedikti tambahan dari Admin TreTans.com:

saya juga mendengar beberapa kelebihan Beliau diantaranya:

“Suatu hari salah seorang Kyai [klo gak salah Kyai Abdullah Schal] memberitahu kepada Beliau untuk sholat Jumat, tapi Beliau tetap di kamarnya diam tak bergeming, dengan jengkel Kyai Abdullah Schal meninggalkan beliau untuk segera menunaikan Sholat Jumat. Nah, ketika Kyai pulang dari tempat beliau sholat Jumat, Ra Lilur memberikan beberapa tangkai buah kurma yang dari tangkai tersebut masih mengucur getah. [ini mengindikasikan bahwa Beliau baru saja Sholat Jum'at di daerah yang ada kurmanya dan kemungkinan besar di Arab atau mungkin Sholat Jumat di Mekkah].”

“Suatu hari ada 2 orang yang memperdebatkan mengenai halal haramnya memakan kepiting karna bisa hidup di 2 tempat yaitu Laut dan Darat, mengetahui hal itu Ra Lilur menghampiri mereka dan melempar kepiting yang ada di hadapan mereka, seketika itu berubahlah kepiting tadi menjadi roti yang berarti kepiting halal untuk di makan.”


Sumber : http://tretans.com/ra-lilur-kiai-nyleneh-asal-bangkalan-madura

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons