Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.
Tampilkan postingan dengan label Waliyulloh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waliyulloh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juli 2012

SILSILAH PARA WALISONGO

Tulisan ini kami terjemahkan dan kami intisarikan dari kitab kecil yang berjudul Tarich al-Auliya susunannya K.H. Bisyri Musthofa Rembang
Untuk mengawali silsilah para wali di nusantara, maka tidak terlepas dari ke-empat tokoh besar, yaitu :
1). Sayyid Jamaluddin Husain as-Samarqandiy
2). Raden Arya Galuh Pajajaran
3). Raja Kuntara Cempa Kamboja
4). Prabu Brawijaya V Raja Majapahit
A. Silsilah dari Asmaraqondiy
Sayyid Jamaluddin Husain atau Maulana Muhammad Jumadil Kubro atau Ahmad Syah as-Samarqandiy adalah putra Abdulloh Khon, putra Amir Abdul Malik, putra Sayyid Alwi,, putra Sayyid Ali, putra Sayyid Muhammad, putra Sayyid Alwi, putra Sayyid Muhammad, putra Sayyid Alwi, putra Sayyid Abdulloh, putra Sayyid Ahmad al-Muhajir al-Faqih al-Muqoddam, putra Sayyid Isa al-Bashriy, putra Sayyid Muhammad ar-Rumiy, putra Sayyid Ali al-’Aridhiy, putra Sayyid Ja’far as-Shodiq, putra Sayyid Muhammad al-Baqir, putra Sayyid Ali Zainul Abidin, putra Sayyid Husain, Putra Kholifah Ali bin Abu Tahlib dengan Sayyidah Fathimah binti Nabi Muhammad SAW.
Dua orang putra dari Sayyid Jamaluddin Husain yang berdakwah di nusantara adalah Maulana Ishaq dan Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy.
B. Silsilah dari Jawa
Raden Arya Galuh putra Arya Randu Kuning, putra Arya Metahun, putra Arya Banjaran, putra Mundi Sari, putra Raden Laliyan (Pajajaran), putra Rawis Renggo (Jenggala), putra Tebu, putra Lembu Amiluhur (Jenggala), putra Resi Kentuyu, putra Gandihawan, putra Serima Punggung, putra Sila Jalu, putra Panca Deriya, putra Citra Suma, putra Suma Wicetra, putra Gendra Yana, putra Jaya Amijaya, putra Jaya Darma, putra Hudayana, putra Parikesit, putra Angka Wijaya, putra Arjuna, putra Pandu, putra Habi Washa, putra Pula Sara, putra Raden Sahri, putra Raden Sekutrem, putra Raden Sutopo, putra Raden Mana Wasa, putra Raden Mari Gena, putra Sang Hyang Trusthili, putra Seri Kati, putra Wisnu, putra Sang Hyang Guru hingga ke Nabi Adam AS.
Raden Arya Galuh memiliki dua orang anak, yaitu : Arya Penanggungan dan Ronggolawe.
Arya Penanggungan memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Arya Baribin, 2). Arya Teja (Adipati Tuban, dan 3). Ki Ageng Tarub.
Arya Baribin memiliki dua orang anak, yaitu : Raden Ayu Maduretno, dan Raden Jakandar (Sunan Bangkalan Madura).
Arya Teja (Adipati Tuban) memiliki dua orang anak, yaitu : Dewi Candrawati (Diperistri oleh Sunan Ampel), dan Raden Sahur Tumenggung Wilatikta Tuban (Ayahanda Raden Syahid Sunan Kalijaga).
Ki Ageng Tarub memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Dewi Nawang Sih, 2). Dewi Nawang Sasi, dan 3). Dewi Nawang Arum.
Dewi Nawang Sasi menikah dengan Raden Jakandar (Sunan Bangkalan) putra Arya Baribin memiliki dua orang anak, yaitu : 1). Dewi Hisah (Istrinya Sayyid Abdul Qodir Sunan Gunung Jati), dan 2). Dewi Hirah (Istrinya Raden Mahdum Ibrohim Sunan Bonang).
Dewi Nawang Arum menikah dengan Raden Sahur Tumenggung Wilatikta putra Arya Teja memiliki dua orang anak, yaitu : Raden Syahid (Sunan Kalijaga), dan Dewi Sari (Istrinya Sunan Ngudung)
C. Silsilah dari Cempa
Raja Kuntara Cempa Kamboja memilki tiga orang anak, yaitu : 1). Dwarawati Murdaningrum (diperistri oleh Prabu Kartawijaya atau Prabu Brawijaya Majapahit), 2). Dewi Candra Wulan (diperistri oleh Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy), dan 3). Raden Cingkara.
D. Keturunan Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy
Maulana Malik Ibrohim dengan Dewi Candra Wulan putrinya Raja Cingkara memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Raja Pendita, 2). Raden Rahmat (Sunan Ampel), dan 3). Siti Zainab.
Raja Pendita Menikah dengan Raden Ayu Madu Retno putrinya Arya Baribin memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Haji Utsman (Sunan Manyuran Mandalika), 2). Utsman Haji (Sunan Ngudung), dan 3). Nyai Gede Tanda.
Raden Rahmat (Sunan Ampel) memiliki dua orng istri, yaitu : Dewi Candrawti putinya Arya Teja Adipati Tuban, dan Dewi Karimah putrinya Ki Bang Kuning.
Dengan Dewi Candrawati beliau memiliki lima orang anak, yaitu : 1). Siti Syari’ah (Menikah dengan Haji Utsman Sunan Manyuran), 2). Siti Muthmainnah (Menikah dengan Sayyid Muhsin Sunan Wilis), 3). Siti Hafshah (Manikah dengan Sayyid Ahmad al-Yamaniy),
4). Raden Mahdum Ibrohim (Sunan Bonang), dan
5). Raden Qosim (Sunan Derajat Sidayu).
Dan dengan Dewi Karimah beliau memiliki dua putri, yaitu :
1). Dewi Murtasiyah (Menikah dengan Sunan Giri), dan
2). Dewi Murtasimah (Menikah dengan Raden Fatah Sultan Demak).
E. Keturunan Maulana Ishaq bin Sayyid Jamaluddin Husain
Maulana Ishaq berdakwah di daerah Pasai memiliki dua orang anak, yaitu : Sayyid Abdul Qodir (Sunan Gunung Jati Cirebon) dan Dewi Saroh (diperistri oleh Sunan Kalijaga). Kemudian Maulana Ishaq berdakwah ke Blambangan Banyuwangi menikah dengan Dewi Sekar Dadu putrinya Minak Sembuyu Adipati Blambangan memiliki seorang putra yang bernama Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri).
F. Silsilah Perpaduan Antara Asmaraqandiy dengan Jawa dan Cempa
1). Sunan Ngudung (Utsman Haji putra Raja Pendita putra Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy) menikah dengan Dewi Sari putrinya Raden Sahur Tumenggung Wilatikta) memiliki dua orang anak, yaitu : 1). Dewi Sujinah (Istrinya Sunan Muria), dan 2). Raden Amir Haji (Sunan Kudus).
2). Sunan Bonang (Raden Mahdum Ibrohim) putra Sunan Ampel menikah dengan Dewi Hirah putrinya Raden Jakandar memiliki satu orang putri bernama Dewi Ruhil yang menikah dengan Amir Haji Sunan Kudus.
3). Sunan Gunung Jati (Sayyid Abdul Qodir putra Maulana Ishaq) menikah dengan Dewi Hisah putrinya Raden Jakandar memiliki dua orang anak, yaitu : Sayyid Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar Jepara), dan Dewi Shufiyah (Istrinya Raden Qosim Sunan Derajat)
4). Sunan Kalijaga (Raden Syahid) putra Raden Sahur (Tumenggung Wilatikta Tuban dengan Dewi Nawang Arum putrinya Ki Ageng Tarub), Raden Sahur putra Arya Teja (Adipati Tuban), putra Arya Penanggungan, putra Arya Galuh, putra Arya Randu Kuning, putra Arya Metahun, putra Arya Banjaran (Sudara Prabu Mundi Wangi Pajajaran dan sekaligus menjadi patih di kerajaannya), putra Mundi Sari (Pajajaran). Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh putrinya Maulana Ishaq memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Raden Sa’id (Sunan Muria), 2). Dewi Ruqoiyah, dan 3). Dewi Shofiyah
G. Silsilah Keturunan Prabu Brawijaya V Raja Majapahit Terakhir
Prabu Brawijaya atau Kartawijaya atau Kertabhumi adalah putra dari Raden Suruh (Adipati Majalengka), putra Prabu Mundi Wangi (Raja Pajajaran), putra Mundi Sari, putra Raden Laliyan (Pajajaran), putra Rawis Renggo (Jenggala), dan untuk seterusnya lihat silsilah Raden Arya Galuh.
Prabu Brawijaya memiliki anak banyak sekali, karena di dalam satu riwayat diceritakan bahwa istrinya berjumlah lebih dari 25 orang. Dan adapun anaknya yang dapat disebutkan, maka beberapa diantaranya adalah :
Dari Istri Permaisuri adalah Raden Arya Damar (Adipati Palembang). Dari Istri Dwarawati Murdaningrum putrinya Raja Kuntara Cempa adalah : 1). Putri Hadiy (Istrinya Adipati Dayaningrat Pengging), 2). Raden Lembu Peteng (Madura), dan 3). Raden Gugur.
Dan dari Istri Putri Cempa yang lain keturunan China putrinya Ma Hong Fu (Kyai Batong) adalah Raden Jin Bun atau Raden Hasan atau Raden Fatah (Sultan Demak Bintara)
Dari Istri Ponorogo adalah : Betara Katung dan Adipati Luwanu. Dari Istri Bagelain adalah : Raden Jaran Penoleh (Sampang Madura).
Raden Fatah (Sultan Demak) menikah dengan Dewi Murtasimah putrinya Sunan Ampel memiliki lima orang anak, yaitu :
1). Pangeran Purba
2). Pangeran Trenggana
3). Raden Bagus Sida Kali
4). Raden Kanduruhan
5). Dewi Ratih
Seperti inilah yang telah disebutkan oleh K.H. Bisyri Musthofa Rembang di dalam kitabnya yang berjudul Tarikh al-Auliya. Dan adapun menurut naskah babad dan serat disebutkan bahwa Raden Fatah memiliki tiga orang istri, yaitu :
1). Putri Sunan Ampel menjadi permaisuri utama, memiliki dua putra, yaitu : Pangeran Surya (Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor), dan Pangeran Trenggana.
2). Putri Raden Sanga, memiliki satu putra, yaitu Raden Kanduruwan. 3). Putri Bupati Jipang Panolan, memiliki dua anak, yaitu : Pangeran Kikin (Pangeran Sekar Seda Lepen), dan Ratu Mas Nyawa.

Sumber : kitab Tarikh Auliya' karya  K.H. Bisyri Musthofa Rembang dan http://infotekkom.wordpress.com/2012/04/04/silsilah-para-wali-nusantara/

Sabtu, 26 Mei 2012

Kasyaf Terbukanya hijab antara seorang Hamba dengan Alloh

Saya teringat ketika masih Ta’lim di Pesantren darul hadist Alfaqihiyyah Malang Jawa timur, ketika musim liburan tiba para santri akan pulang ke daerahnya masing masing. Menjelang liburanpun Konsentrasi belajar sudah mulai terganggu , bayangan rumah dan bertemu dengan sanak saudara begitu terlintas dalam benak para santri. Seakan para Santri merasakan kebebasan sesaat . Ada beberapa Santri nakal yang meluapkan kebebasan dirumah dengan Nonton di Bioskop, mendengarkan Musik, Ngetrek dengan Gang Motor, Jalan jalan ke Mall Dll yang semua itu di larang di Pesantren. Termasuk saya yang bandel . Begitu memasuki tahun ajaran baru dimana semua santri harus kembali ke pesantren untuk kembali belajar dan harus melepas segala atribut kebebasan untuk konsentrasi belajar , membersihkan hati menuju ridho Alloh guna mendapat ilmu yang bermanfaat dan mendapat keberkahan dari Pendiri pesantren darul Hadist Alfaqihiyyah Al habib Abdul qodir bil Faqih dan Al habib Abdulloh Bil Faqih .

Suatu hari semua santri berkumpul di Aula untuk mendengarkan tausiyah yang di sampaikan oleh Putra guru Pon-pes Darul hadist Al faqihiyyah. Saya dan teman teman santri yang lain Habis di Marahi beliau , Beliau mengatakan kalau Muka saya dan teman teman yang lain hitam lebam karena kemaksiatan yang dilakukan sewaktu mengisi liburan di rumah. Saya tidak habis pikir bagaimana beliau bisa tahu kebandelan yang saya lakukan pada waktu libur bersama teman teman ?? . Saya jadi teringat cerita cerita kawan kawan santri bahwa ayahanda beliau Alhabib Abdulloh bil faqih pernah sholat di Masjid Agung kota Malang yang beliau lihat para jamaah yang sedang sholat wujud kepala mereka dalam Wujud binatang seperti babi dan monyet. Saya jadi merinding mendengar cerita Karomah beliau , Apa mungkin Wajah saya terlihat seperti seekor babi dalam pandangan mata guru saya ?? Kasyaf itulah sebutan yang pas untuk peristiwa seperti di atas.

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Alloh yang diberikan seorang hamba yang dikasihinya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Alloh untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal hal ghoib yang sangat sulit diterima oleh akal sehat . Nabi Muhammad saw pun mendapatkan karunia tersebut namun di sebut Mukjizat . ketika Nabi Muhammad SAW bepergian bersama Abu Bakar. Ketika melewati areal pemakaman, tiba-tiba Nabi berhenti di salah satu makam. Abu Bakar bertanya, kenapa kita berhenti di sini? Nabi kembali bertanya, apakah engkau tidak mendengarkan bahwa orang di bawah makam ini sedang disiksa dan menjerit kesakitan lantaran pada waktu hidupnya tidak bersih ketika ia habis membuang hajat kotoran. Ini pertanda bahwa ada telinga yang mampu mendengar suara-suara alam ghaib (di alam barzakh) dan yang lainnya tidak bisa.

Peristiwa Kasyaf juga pernah terjadi masa masa khalifah Umar bin khotob ketika beliau menjadi Khotib pada sholat Jumat , tiba tiba beliau berteriak “ Hai Sariah ….hai Tentaraku larilah kebukit itu…bukit itu….

Tentu saja sikap Umar tersebut membuat heran para Jamaah dan ketika selesai sholat Jumat Sayyidina Umar ditanya oleh sahabat Abdurrahman bin Auf “Ya Amirul mu’minin kenapa engkau berteriak teriak seraya pandangan matamu menatap jauh ketika berkhutbah ?? Kata Sayyidina Umar “ Beberapa waktu yang lalu aku mengutus Sariah dan bala tentaranya untuk membereskan gerombolan pengacau , tadi ketika aku sedang Khutbah tiba tiba di hadapanku tampak Sariah dan tentaranya terkepung oleh gerombolan pengacau dan tidak ada tempat untuk bertahan, maka aku melihat sebuah Bukit ..maka aku berteriak Hai Sariah…Hai Tentaraku Larilah ke bukit itu…bukit itu.. Sahabat Abdurrahman bin Auf hanya menganggukkan kepala antara percaya dan tidak. Maka beberapa lama kemudian datanglah rombongan Tentara yang dipimpin Sariah dan menceritakan dasyatnya peperangan yang mereka lakukan. Dan Sariahpun menceritakan bahwa Dia dan pasukannya di kepung gerombolan pengacau waktu itu terjadi pada saat waktunya kami Sholat Jumat , di saat pasukan kami kepepet Dia mendengar Suara Ghoib dari balik bukit “ Hai Sariah…Hai Tentararaku larilah kebukit itu…bukit itu, maka kamipun menuju bukit tersebut sebagai benteng pertahanan hingga kami memperoleh kemenangan.

Kasyaf yang menurut para Sufi adalah merupakan buah dari Zuhud yang membawa kita melintas alam Syahadah dan memasuki alam ghaib dengan menggunakan istilah sufi Zuhud yang mengantarkan kita pada alam Mukasyafah, tetapi Kasyaf tidak bisa diperoleh dengan usaha dan latihan .Kasyaf merupakan Karunia alloh yang diberikan kepada hambanya yang di Cintai dan di kasihi. Perasaan cinta kepada Alloh terus menerus diwujudkan sampai dapat mencapai ketingkat yang tinggi dan ini mengakibatkan dirinya dapat menguasai jiwanya, setidak tidaknya dapat mengurangi rasa cinta kepada perkara-perkara yang lain, sehingga selalu ingat dan tafakur kepada Alloh beserta sifat sifatnya serta keagungannya, didalam hati sanubarinya sudah tiada lagi sedikitpun ruangan untuk memikirkan hal hal lain diluar itu.

Kasyaf lebih merupakan akibat dari pada sebab. Kasyaf juga bukan merupakan tujuan para pencari Tuhan atau salikin. Namun kasyaf mempunyai peran penting untuk meningkatkan efektifitas dan kualitas diri sang sufi. Kasyaf juga merupakan salah satu jenis pengetahuan langsung, yang dengan itu pengetahuan tentang Hakikat diungkapkan pada hati seorang sufi dan kekasih yang mencintai Allah.

Dengan sifat rahmat-Nya, Allah memberikan kepadanya sebuah Pengungkapan diri Allah. Tidak hanya menambah pengetahuannya tentang Allah, melainkan juga menambah kerinduannya yang bergelora dalam lautan cintanya kepada Allah. Disinilah seorang sufi sampai pada sebutan Ahli al-kasyaf wa al-wujud (Kaum Penyingkap dan Penemu). Dalam penyingkapan itulah mereka “menemukan” dan “bertemu” Allah.

Lalu bisakah orang awam seperti kita memperoleh karunia tersebut ?? Kenapa tidak ? Alloh maha rahman dan rohim , siapapun seorang hamba yang dikehendaki oleh Alloh mendapatkan karunia kasyaf tersebut tentu akan diberikan . dan tentunya ibadah serta amaliah semuanya semata mata untuk mendapatkan ridho alloh yang harus dikerjakan secara istiqomah. wallohualam


Sumber : http://alhabaib.blogspot.com/search/label/Habaib

Jumat, 09 Maret 2012

HABIB SYAIKHON BIN MUSTHOFA ALBAHAR Kelakuan Nyeleneh seorang Wali

Saya penasaran ingin sekali berjumpa dengan Habib Syaikhon bin Mustofha Al bahar, ada cerita- cerita menarik yang saya dengar dari guru guru dan teman teman saya yang pernah berjumpa dengan beliau bahwa ,beliau seorang ulama min Awliyaillah yang Mazdub . Kelakuan yang sering diperlihatkan memang terasa aneh dan ganjil diluar kebiasaan manusia (khorikul a’dah ) bagi pandangan mata awam kita. Sebut saja ketika Habib Syaikhon menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada saat Mahalul qiyam sedang berlangsung , Habib Syaikhon hanya duduk dan nampak asyik makan dan mengacak acak hidangan yang ada di hadapannya. Para jamaah terperanjat di buatnya namun bagi yang mengerti dan memahami beliau hal tersebut di diamkan saja dan tak ada satupun jamaah yang menegurnya. Dan yang lebih mengherankan lagi sewaktu adzan magrib berkumandang tepat di depan Musholla Habib Syaikhon membawa gitar dan teriak teriak di saat jamaah akan melangsungkan sholat maghrib, tentu saja hal ini membuat marah sang Marbot Mushollah dengan lantang sang Marbot mencaci maki Habib Syaikhon habis habisan. Tiba tiba Habib Syaikhon menjepit leher Marbot tersebut dan di benamkan kedalam ketiaknya, dan tiba tiba marbot tersebut menangis sambil mengatakan ” saya lihat Mekkah….saya lihat Ka’bah dan Marbot tersebut meminta maaf kepada Habib Syaikhon.Menurut seorang kerabat beliau bernama Sania ibrahim , bahwa untuk dapat bertemu dengan Habib syaikhon mudah saja asalkan punya niat yang baik untuk bersilahturahim , karena Habib Syaikhon sering berpindah pindah tempat , kadang beliau ada di Makam Ayahnya di Masjid Baidho di lubang buaya jakarta timur dan terkadang ada di Gang Nangka Bintara 3, dan menurut cerita kalau bertemu beliau akan di sambut Khodam ( jin ) di depan pintu dan hanya orang orang yang sholeh dan punya niat yang baik yang dapat berjumpa dengan beliau dan apapun kata kata Habib Syaikhon dan kelakuan beliau jangan di terjemahkan dan diartikan seenaknya karena yang tahu maksudnya hanya Alloh swt.

Berbicara tentang sosok Waliyulloh di jaman sekarang memang sangat sulit di nalar oleh akal sehat, Kalau jaman dahulu sosok Waliyulloh dapat di jumpai di setiap daerah karena derajatnya di tinggikan dan di tampakkan karomahnya oleh Alloh SWT sebagai “Himmatul Ummah” sosok manusia yang mempunyai kharisma dan karomah tinggi di hadapan Ummat seperti kisah perjuangan Wali songo tapi di jaman sekarang Derajat dan Karomah kewaliaan tidak semua di tampakkan dan banyak Para Waliyulloh menutup diri dari pandangan sifat manusia karena takut terjadi Fitnah di tengah umat karena kehidupan manusia yang selalu berubah cendrung kepada kehidupan duniawiyah dan jauh dari ilmu agama. Ada beberapa pendapat dari teman teman saya yang mengangap bahwa apa yang saya ceritakan tentang Habib Syaikhon mengada ada , mengandung Kufarat, tahayyul akan tetapi bagi Waliyulloh kemampuan tersebut bukanlah sesuatu yang beliau cari itu adalah anugrah alloh yang diberikan kepada para waliyulloh ,Karena mereka telah melakukan pengembangan potensi ruh dengan cara melakukan amal khariqul ‘adah (amal ibadah yang melampaui lazimnya kesanggupan manusia), lalu Allah pun menganugrahkan kepada mereka kemampuan khariqul ‘adah (kemampuan melakukan sesuatu hal yang berada di luar kemampuan lazimnya manusia).

Teman teman saya yang menolak karamah al-awliya’, disebabkan mereka tidak mengetahui persoalan ini kecuali kulitnya saja. Mereka tidak mengetahui perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya orang tersebut mengetahui hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah terhadap mereka, niscaya mereka tidak akan menolaknya. Penolakan mereka terhadap karamah al-awliya’, disebabkan oleh kadar akses mereka terhadap Allah hanya sebatas menegaskan-Nya bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan kejujuran (al-shidq); bersikap benar dalam mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi al-qurbah (dekat dengan Allah). Sementara mereka buta terhadap karunia dan akses Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta (mahabbah) dan kelembutan (ra’fah) Allah kepada para wali. Apabila mereka mendengar sedikit tentang hal ini, mereka bingung dan menolaknya.

karomah yang dimiliki para Wali adalah merupakan sesuatu perkara yang terjadi diluar kemampuan akal manusia biasa untuk memikirkan atau menciptakan .perkara itu ( karomah) diberikan Alloh kepada hambanya yang sudah terang kebaikannya( shalehnya), setiap sikap perbuatan dan ucapannya serta keadaan hatinya selalu bergerak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang dibawa oleh Rosululloh SAW baik dalam segi syaria’t atau aqidah serta akhlaknya.

Oleh karena itu bagi Waliyulloh dengan Karomahnya kadang-kadang tampak keanehan-keanehan baik dalam sikap tindakan dan ucapan yang tidak begitu saja mudah bagi akal manusia biasa untuk memahaminya. Sebagai contoh karomah ialah seperti dapat dilihat adanya peristiwa Maryam yang disebut dalam surat Ali Imron ayat 37, juga peristiwa Ashabul Kahfi dalam surat al kahfi ayat 25 dan tidak berbeda pula halnya dengan Karomah-karomah Para Habaib dan Para Ulama yang saya tulis tersebut seperti karomahnya Al Habib Abduloh bil Faqih yang selalu bertemu langsung dengan Rosululloh begitu pula dengan KH.Hamim Djazuli (Gus Miek) yang melakukan dakwahnya ditempat hiburan malam/diskotik begitupun dengan Habib syaikhon al bahar. Semoga Alloh dapat mempertemukan saya dan mungkin para muhibbin dengan Habib Syaikhon Al bahar sekedar mencium tangan dan menjabat tangannya sebagai rasa Mahabbah dan cinta terhadap Ulama dan waliyulloh. Wallohu a’lam
Sumber : http://sachrony.wordpress.com

Sabtu, 28 Januari 2012

SUHRAWARDI AL-MAQTUL: SANG GURU CAHAYA

Wali Allah yang sekaligus filsuf besar, dikenal dengan julukan Syaikh al-Isyraq atau “Guru Cahaya,” yang mengharmonisasikan spiritualitas dengan filsafat. Beliau menciptakan sintesis filosofis yang bersumber dari berbagai sumber, khususnya pemikiran Islam dan mistisisme Islam enam abad sebelum dirinya. Beliau sendiri memandang dirinya adalah penerus tradisi kuno Iran dan Mesir. Konon beliau mendapat pencerahan dan ilmu langsung dari Hermes atau Nabi Idris. Karya besarnya adalah Hikmah al-Isyraq (Filsafat Iluminasi), yang sangat mempengaruhi mistisisme , terutama di kawasan Persia (Iran). Beliau mendapat julukan al-maqtul (yang dibunuh) karena dihukum mati.

Syaikh al-Isyraq Syihab al-Din Yahya ibn Habasy ibn Amirak al-Suhrawardi lahir di kota kecil bernama Suhrawardi, Persia Barat sekitar tahun 1153 M (549 H). Sejak kecil beliau sudah tertarik dengan ilmu pengetahuan dan laku spiritual. Pada masa remaja beliau berkelana untuk mendalami ilmu pengetahuan dan hikmah ke Maraghah, berguru kepada Majd al-Din al-Jili, dan kemudian ke Isfahan. Beliau mendalami kitab Bashair al-Nashiriyyah, karya Ibn Sahlan as-Sawi, yang berisi pelajaran logika. Selain itu beliau menguasai pula ajaran fiqh mazhab Syafi’i. Pada periode yang hampir sama beliau juga mulai bergabung dengan kelompok sufi, berkelana dari satu tempat ke tempat lain, beruzlah dan melakukan riyadhah dam mujahadah spiritual yang keras, berpuasa sepanjang hari, serta banyak bertafakur dan merenungkan persoalan-persoalan filsafat. Beliau menyukai sama’ atau musik spiritual. Pada usia yang relatif muda beliau telah mencapai maqam spiritual yang tinggi, dan menunjukkan banyak karamah. Beliau juga melakukan perjalanan ke Anatolia dan kemudiantinggal di Aleppo.

Syekh Suhrawardi al-Maqtul selain dikenal cerdas dalam berdebat juga amat pemberani dan cenderung tak peduli pada dunia dan suka berterus-terang. Karena keberaniannya inilah beliau mendapat banyak masalah, terutama dari para ahli hukum (faqih) yang tidak suka kepadanya lantaran merasa tersaingi dan sering kalah dalam perdebatan melawannya. Keberaniannya inilah yang membuatnya dihukum mati. Kisah sebab-musabab kematiannya ada beberapa versi. Salah satunya yang terkenal adalah sebagai berikut. Saat di Aleppo Syekh Suhrawardi biasa berceramah di hadapan banyak ulama dan ahli fiqh. Dalam ceramah-ceramahnya beliau secara blak-blakan mengecam keyakinan beberapa filsuf dan ulama, dan menunjukkan kesalahan mereka. Bahkan beliau tak segan-segan beradu mulut dengan sengit dan menunjukkan kesalahan mereka di muka umum. Selain itu kadang-kadang Syekh Suhrawardi menunjukkan kekuatan spiritualnya kepada mereka. Karena tak mampu menandingi kecerdasan dan keluasan ilmunya, akhirnya para ulama bersatu untuk menyingkirkannya. Mereka menuduh beliau sebagai ahli sihir dan punya pandangan filsafat yang menyesatkan dan membahayakan umat Islam. Mereka bahkan menuduh Syekh Suhrawardi mengaku-aku sebagai nabi. Mereka kemudian mendesak sultan, yakni Malik al-Zhahir, putra Shalahuddin al-Ayyubi, untuk menghukum mati Syekh Suhrawardi. Sultan Malik al-Zhahir kemudian mengundang para ulama dan Syekh Suhrawardi untuk berdebat di istana. Tetapi dalam perdebatan ini Syekh Suhrawardi muncul sebagai pemenangnya, sehingga Sultan Malik menjadi sahabatnya.

Akhirnya para ulama dan fuqaha mengirim surat kepada Shalahuddin al-Ayyubi yang isinya memfitnah Syekh Suhrawardi. Dalam surat itu, secara garis besar, dikatakan bahwa Syekh Suhrawardi menipu Sultan Malik al-Zhahir, dan jika dibiarkan hidup akan merusak iman Sultan Malik, dan jika beliau diusir akan merusak setiap tempat yang didatanginya. Akhirnya Sultan Shalahuddin menyurati putranya (Sultan Malik) agar Syekh Suhrawardi dihukum mati dalam usia 38 tahun. Hukuman matinya dijatuhkan pada tahun 1191 atau 586 H. Versi kematiannya berbeda-beda; sebagian mengatakan beliau mogok makan di tahanan sampai meninggal; sebagian mengatakan beliau digantung; dan sebagian mengatakan beliau dipancung dengan pedang. Tubuhnya konon dibakar dan dijatuhkan dari atas benteng. Belakangan Sultan Malik al-Zhahir, yang sesungguhnya tidak ingin membunuh Syekh Suhrawardi, membalas dendam kepada para pemfitnah – mereka dimasukkan ke penjara dan semua hartanya disita.

Karya dan ajaran dan karamah

Syekh Suhrawardi al-Maqtul meyakini bahwa pengetahuan (filsafat) sejati, atau pengetahuan tertinggi, tidak bisa dicapai hanya dengan olah intelektual semata, tetapi juga harus diiringi dengan laku spiritual untuk mensucikan hati (Tasawuf). Hanya dengan cara itulah pengetahuan hakikat akan bisa diperoleh dengan lebih sempurna. Menurut beliau, di dalam diri manusia sesungguhnya telah tersimpan kebijaksanaan kekal, yang bersumber dari sesuatu yang tidak diciptakan dan tidak dapat diciptakan. Itu berarti bahwa seseorang mesti melangkah melampaui tataran empiris-intelektual rasional dan material menuju ke alam yang lebih tinggi dan sublim. Proses pelepasan dari sifat-sifat material ini adalah semacam ziarah, bukan ke dunia eksternal, bukan ke belantara akal dan perdebatan intelektual yang berdasarkan definisinya sendiri adalah terbatas, tetapi perjalanan menjelajahi dunia batin, ke dalam diri. Secara paradoks, perjalanan ke “dalam” diri ini pada akhirnya akan membawa seseorang “keluar” dari dirinya sendiri dan “ke luar” dari dunia material, masuk ke dunia spiritual dan pengetahuan abadi yang tak ada batasnya. Dalam perjalanan ke “dalam” diri ini seseorang mesti membersihkan daya-daya yang bersifat “gelap” atau mengaburkan visi yang sejati: sifat-sifat kebinatangan, nafsu dan syahwat, ego, bahkan imajinasi “keakuan” sebagai sesuatu yang eksis tersendiri, harus dienyahkan. Jika ini sudah tercapai, maka akan terbukalah daya-daya ruhaniah, yang bisa melihat, mendengar, merasakan, mencium segala sesuatu tanpa bantuan indera dan memahami segala sesuatu yang ada di luar dunia material dan indera. Ini adalah pengetahuan dari Cahaya tentang Cahaya, dan inilah hikmah al-siyraq, pengetahuan dan filsafat cahaya. Pada titik tertentu dalam perjuangan ruhani ini, seseorang akan dipenuhi dengan cahaya pengetahuan ilahiah ini hingga mencapai batas yang mampu ditanggungnya.

Pada tahap ini orang akan melihat dirinya sendiri (esensinya) dan ia akan senang karena menyaksikan cahaya yang memancar dari dirinya sendiri. Ia akan menyadari bahwa pada dasarnya seluruh semesta adalah cahaya yang bersumber dari satu Cahaya abadi. Dari sumber ini muncul hirarki cahaya vertikal yang memuat tingkatan-tingkatan eksistensi universal. Kata isyraqi itu sendiri juga berarti iluminasi, pancaran yang menerangi, seperti cahaya pertama di pagi hari yang memancar dari Timur (syarq). Dalam pengertian filosofis dalam ajaran Syekh Suhrawardi, ini bukanlah sekedar “Timur” geografis, tetapi “Timur” asal realitas (eksistensi).

Pada saat inilah cahaya itu seakan-akan tak mau pergi lagi, tetapi hendak menetap dalam dirinya, dan pada momen ini seseorang akan merasakan sakinah atau cahaya ketenangan: “Allah lalu menganugerahkan sakinah-Nya kepadanya” (Q. S. 9:40). Para pemilik sakinah adalah “orang-orang yang beriman (mukmin), yang hatinya menjadi tenteram dengan berzikir kepada Allah” (Q.S. 13: 28). Orang mukmin ini bukan mukmin nominal atau awam, namun mukmin yang sesungguhnya (Para Nabi/Rasul dan Wali Allah) yang memiliki ketajaman hati dan pikiran (firasat) dan kasyaf. Rasulullah bersabda “hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, sebab dia melihat dengan Cahaya Tuhannya.” Dengan kata lain, karena Cahaya pengetahuan Ilahiah sudah “menetap” di dalam dirinya, maka seseorang akan melihat segala sesuatu dengan cahaya-Nya, dan karena Allah adalah “Cahaya Langit dan Bumi” (Q. S. 24: 35) maka tak ada sesuatupun yang tersembunyi di bawah Cahaya-Nya – sebab kegelapan tabir telah enyah. Karenanya, menurut Syekh Suhrawardi, para pemilik sakinah, para Wali Allah, dapat membaca pikiran orang lain, mengetahui dan memahami hal-hal ghaib, dan kecerdasannya akan disempurnakan melalui karunia firasat dan kasyaf ini. Mereka bisa melihat dan mendengar langsung isyarat dan panggilan yang lembut dari Allah Yang Maha Suci. Tetapi ini belumlah sempurna.

Jika orang itu melangkah lebih jauh, dia akan sampai pada tahap di mana dia mengira bahwa esensi dan kesadaran dirinya akan terhapus. Ini dinamakan fana i-akbar (fana besar). Tetapi jika dia kemudian lupa pada kelupaaannya itu, maka ini dinamakan fana dalam fana. Ketika totalitas kesadarannya lenyap dalam obyek kesadaran barulah dia akan mencapai kesempurnaan; sebab, jika seseorang masih menyadari tindak kesadaran dan juga menyadari obyek kesadaran, ini berarti dia memiliki dua obyek. Karenanya untuk mencapai kesempurnaan seseorang mesti “meninggalkan dirinya” demi obyek kesadarannya, hingga yang tersisa hanyalah obyek kesadarannya. Ini adalah keadaan penghapusan sepenuhnya: “Segala yang ada di bumi ini akan lenyap musnah. Yang kekap hanyalah Wajah Tuhanmulah yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan” (Q. S. 55: 26-27). Ini adalah persatuan, realisasi sejati dari doktrin Keesaan Allah, Tauhid.

Menurut Syekh Suhrawardi al-Maqtul, Tauhid itu sendiri terbagi menjadi lima tingkatan: (1) “La ilaha illa Allah,” tiada tuhan selain Allah, Tauhidnya orang awam; (2) “La ilaha illa hu,” Tauhidnya golongan yang terpilih di antara yang awam. Tingkatan ini lebih tinggi dibanding yang pertama, sebab yang pertama menyangkal tuhan selain Allah, sedangkan golongan kedua ini tidak hanya berhenti pada pengakuan bahwa selain Allah itu bukan tuhan, tetapi juga menyangkal semua identitas obyektif dalam kaitannya dengan identitas Tuhan; (3) “La ilaha illa anta,” tiada tuhan selain Engkau, Tauhidnya golongan ketiga, yang mengacu kepada kehadiran Tuhan (“engkau” adalah pihak kedua yang hadir); (4) “La ilaha illa ana,” tiada tuhan selain Aku, Tauhid orang-orang yang telah menghapus diri mereka sendiri; dan (5) yang tertinggi adalah Tauhid yang tak terungkapkan dalam kata-kata. “Ke-Engkau-an,” “Ke-Aku-an,” dan “Ke-Dia-an” semuanya adalah representasi istilah, yang dari sudut pandang Tuhan tetap tidak bisa mewakili Eksistensi-Nya. Golongan orang ini telah menenggelamkan ketiga cara pembicaraan itu dalam samudera penghapusan. Mereka menghancurkan ungkapan-ungkapan, meninggalkan semua acuan yang masih menunjukkan “arah” dan “representasi.” Karena semuanya sudah musnah, “Dan segala sesuatu akan musnah kecuali Dia” (Q. S. 28:88), maka tidak ada lagi yang tersisa untuk diucapkan, lantaran kata-kata tak lagi bermakna. Seperti dikatakan dalam salah satu keterangan tentang Tasawuf, “Tasawuf pada awalnya adalah Tuhan, dan pada akhirnya adalah tanpa batas, tanpa isyarat, tanpa arah, tanpa pembicaraan.”

Karamah Syekh Suhrawardi ada banyak, namun tidak banyak diungkapkan secara detail. Menurut salah seorang sahabatnya, Syekh Suhrawardi telah sampai pada maqam di mana beliau, selain punya firasat yang amat tajam, juga bisa mewujudkan setiap bentuk yang dikehendakinya, seperti mengubah batu menjadi emas.


Sumber : http://rumahcahaya.blogspot.com/search?updated-min=2011-01-01T00:00:00-08:00&updated-max=2012-01-01T00:00:00-08:00&max-results=50

AYN AL-QUDAT AL-HAMADZANI

Beliau adalah cendekiawan dan wali Allah yang syahid karena dihukum mati oleh Sultan Saljuk, Mahmud. Meski meninggal dalam usia yang muda (33 tahun) namun kemasyhurannya sebagai wali Allah menarik banyak pengikut dari banyak tempat. Beliau kadang menampakkan karamah-karamahnya, termasuk menghidupkan kembali orang mati. Syekh Ayn al-Qudat al-Hamadzani dihukum mati karena dituduh mengajarkan ajaran panteisme atau menyamakan Tuhan dengan makhluknya. Menurut seorang sarjana, Syekh Ayn al-Qudat tergolong dalam tradisi teo-erotisisme dalam tasawuf, yakni “mazhab” tasawuf yang menekankan pada cinta (mahabbah), rindu (syawq), cahaya (nur), api (nar), dan kesatuan (wahdah) – yang berpuncak pada “kesatuan” antara pecinta dan yang dicintai, antara Tuhan dan makhluknya. Sebagian besar ajaran Syekh Ayn al-Qudat didasarkan pada sistem penafsiran ganda, yakni “wilayah akal” (thawr al-aql) dan “di luar akal” (thawr wara’ al-aql).

Tiada wujud selain wujud al-Haqq [Allah]. Maka wujud segala yang ada bukan diluar wujud al-Haqq, tetapi ia [yakni wujud segala sesuai itu] adalah dia [yakni wujud al-Haqq] juga.
[Zubdat al-Haqaiq]

Nama lengkapnya adalah Syekh Abu al-Ma’ali Abdullah ibn Abi Bakr Muhammad ibn Ali ibn al-Hassan ibn Ali Al-Hamadzani, dilahirkan di Hamadzan pada 1098 (492 H) dari keluarga terpelajar. Kakeknya adalah qadhi Hamadzan yang mati syahid saat terjadi serangan tentara Saljuk. Ayah Ayn al-Qudat, seorang sufi, juga meninggal karena kekerasan. Tidak banyak yang diketahui tentang masa kecilnya, namun yang jelas Syekh ini dikaruniai kecerdasan luar biasa. Bahkan dalam usia 20 tahun beliau sudah menulis banyak kitab, sebagian diantaranya, menurut keterangannya sendiri, adalah “kitab yang bahkan sulit dipahami oleh orang seumur 50 atau 60 tahun, apalagi menyusunnya.” Syekh Ayn al-Qudat menguasai tata bahasa Arab, filologi, sastra Arab, tafsir al-Qur’an, hadits, teologi (kalam), fiqh mazhab Syafi’i (dan telah memenuhi syarat menjadi qadhi) – ringkasnya semua cabang ilmu pengetahuan telah dikuasainya dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari 10 tahun saja. Bahkan risalah-risalah yang memicu kontroversi telah ditulisnya saat beliau berusia 14 tahun.

Syekh Ayn al-Qudat mengatakan bahwa beliau meninggalkan studi sekular pada usia akil baligh dan “dengan tekun menelaah ilmu keagamaan” serta menyibukkan diri di jalan sufi. Sejak usia 21 tahun, setelah menulis risalah tentang sifat kenabian, selama tiga tahun berikutnya beliau dikaruniai segala macam pengetahuan ruhaniah dan ilham-ilham yang tak mungkin terlukiskan. Beliau mengatakan bahwa dirinya “nyaris di pinggir neraka seandainya Allah tidak menolongku dengan rahmat dan kemurahan-Nya.” Telaahnya terhadap ilmu kalam justru menambah kekacauan dan kebingungan. Pertolongan Allah datang setelah beliau menelaah kitab karya Hujjatul Islam, Imam ABU HAMID AL-GHAZALI, terutama karya besarnya, Ihya Ulum al-Din. Sedemikian berpengaruhnya kitab ini hingga Syekh Ayn al-Qudat menulis, “mata batinku mulai terbuka (kasyaf).” Selama setahun beliau terus dikuasai olehh pengetahuan ruhaniah lantaran berkah mengaji kitab Ihya ini. Kemudian datanglah adik Imam al-Ghazali, yakni Syekh Abu al-Futuh AHMAD AL-GHAZALI, ke Hamadzan. Kehadirannya yang hanya kurang dari 20 hari telah menyempurnakan pengetahuan ruhaniah Syekh Ayn al-Qudat. Hingga Syekh Ahmad al-Ghazali meninggal, beliau terus berhubungan dengannya melalui surat-surat dan beberapa pertemuan. Melalui bimbingan Syekh Ahmad al-Ghazali Syekh Ayn al-Qudat mencapai kemajuan spiritual yang melampaui batas-batas penalaran rasional dan membawanya ke alam ilahiah. Guru lainnya yang mendidiknya adalah Syekh Abu Abdullah Muhammad ibn Hamawaih al-Juwaini (w. 1220), penulis kitab Salwat at-Thalibin. Menurut Syekh Ayn al-Qudat, kehadiran guru yang hidup, bukan hanya kitab-kitab sufi, adalah syarat utama bagi kehidupan di jalan Sufi.

Prestasi dan kecemerlangan intelektual, serta pandangan-pandangan sufinya yang kontroversial, menyebabkan banyak kalangan iri dan memusuhinya. Syekh Ayn al-Qudat secara resmi diadukan kepada menteri Saljuk dari Irak, Abu al-Qasim Qiwamuddin Nashir ibn Ali al-Daragazini yang terkenal zalim dan haus darah. Menteri inilah yang menjebloskan Syekh Ayn al-Qudat ke dalam penjara. Selama di penjara ini Syekh Ayn al-Qudat menulis kitab pembelaan atas pandangan-pandangannya. Setelah beberapa bulan ditahan, beliau dkirim kembali ke Hamadzan dan dihukum mati secara biadab pada 1131.

Syekh Ayn al-Qudhat menulis banyak risalah, dan sebagian besar telah hilang. Tetapi kitabnya yang amat terkenal adalah Tamhidat. Kitab ini, yang dipengaruhi oleh kitab Sawanih karya gurunya, Syekh Ahmad al-Ghazali, banyak dibaca di dunia Muslim. Tamhidat adalah kitab yang disukai para sufi Chistiyyah di Delhi pada akhir abad ketiga belas. Seorang wali Allah dari tarekat Chistiyyah, yakni Gisudaraz, menulis ulasan tentang buku ini, dan kemudian seorang wali Allah bernama Miran Husain Shah dari Bijapur menerjemahkannya ke bahasa Urdu. Syekh Jami’ mengatakan tentang Ayn al-Qudhat, “hanya sedikit orang yang dapat menyingkap hakikat kenyataan dan penjelasan tentang hal-hal yang pelik seperti Syekh Ayn al-Qudhat.” Kitab lainnya adalah Syakwa al-Gharib, pembelaan atas ajarannya yang ditulis saat di penjara, yang dipuji keindahan bahasanya, sehingga dikatakan secara metaforis, “jika kitab ini dibacakan kepada bebatuan, maka bebatuan itu akan bergetar [oleh keindahan ungkapannya],” dan kitab Nama-ha, yang berisi koleksi ratusan surat Syekh Ayn al-Qudhat kepada beberapa muridnya.

wa Allahu a'lam
Tri Wibowo BS / Mbah Kanyut al-Jawi
Ikhwan TQN Suryalaya
Arsip Manaqib Ringkas lainnya ::
http://www.facebook.com/note.php?note_id=126331078339
http://www.facebook.com/note.php?note_id=123371558339
http://www.facebook.com/note.php?note_id=123235338339
http://www.facebook.com/note.php?note_id=121816338339
http://www.facebook.com/note.php?note_id=121403668339
Sumber :  http://rumahcahaya.blogspot.com/search?updated-min=2009-01-01T00:00:00-08:00&updated-max=2010-01-01T00:00:00-08:00&max-results=22

Kamis, 08 Desember 2011

Mengenal Wali Allah yg Tertutupi

Kisah Hikmah Penyejuk jiwa :Almarhum KH. Ahmad Asrory RA ; diceritakan oleh ustaz imam subekti.

SEPUTAR KEMATIAN KYAI MAHMUD

Awal 1998. Masa itu berjalan kebiaasaan rutin, setiap hari Minggu pagi, YAI RA menyempatkan diri menghormat menemui para tetamu, atau diistilahkan dengan sebutan “Majlis Sowanan”. Tempatnya di Ndalem Sepuh – Ponpes RM Jatipurwo Surabaya. Isi majlis itu : satu demi satu tamu “matur” (bertanya/melapor/mengeluhkan) kepada YAI RA. Berbagai hal yang dimaturkan para tamu, untuk memohon Dawuh jawaban tuntunan dari Beliau RA ; mulai dari masalah pribadi/rumah tangga, masalah pekerjaan, sampai masalah jamaah atau ummat. Tapi ada satu hal yang hampir selalu muncul dimaturkan ke Beliau RA, yakni konfirmasi tentang kesiapan Panitya/Pengurus Jamaah dari tempat/daerah yang bakal ketempatan acara Majlis Mubaya’ah/Haul/Manaqiban dsb, sesuai jadwal tahunan yang telah tersusun.


Alkisah, pada suatu hari Minggu, Pengurus Jamaah Lamongan mematurkan tentang kesiapan Majlis Mubaya’ah untuk jadwal hari Selasa pagi pada pekan berikutnya. Jadi dari hari Minggu itu, ada Selasa depan – lalu Selasa berikutnya lagi. Setelah dimaturkan, YAI RA lantas Dawuh (dalam bahasa Jawa kromo, yang terjemah lebih kurang dalam bhs Indonesianya sbb) :

“Ooh, Iya. Kebetulan. Saya mau memberitahu kalau pada Selasa itu, saya tidak bisa untuk hadir. Bagaimana kalau diundurkan dua hari, jadi hari Kamis?“

Spontan salah satu Pengurus Lamongan menjawab : “Yaa, Yai. Insya Allah Kamis, siap”.

Tapi kemudian YAI RA menimpali :

“Jangan diputusi sendiri dulu. Jangan mentang-mentang karena Pengurus, karena berbesar hati di depan saya, terus mutusi sendiri. Jangan. Sekarang Sampean pulang. Rembug dulu dengan yang ketempatan, juga dengan semua yang terkait di sana. Duduk jadi Pengurus itu begitu. Yang “sumeleh”. Semakin dibutuhkan orang, justru semakin bisa jadi wadah. Begitu.”

Kemudian YAI RA meneruskan Dawuhnya :

“Yaa? Begitu saja yaa ..? Ya sudah. Minggu depan, saya minta Sampean datang ke sini lagi. Saya tunggu laporannya, bagaimana hasil musyawarahnya.”

Pada hari Minggu berikutnya, benar, Pengurus datang, sowan dan melaporkan bahwa hasil musyawarahnya menyetujui jika diundur menjadi hari Kamis. Kemudian YAI RA Dawuh :

“Itu tempatnya di mana?”

“Di Lamongan Selatan, Yai” jawab Pengurus

“Seingat saya, saya koq sering mendatangi jadwal Lamongan yang Selatan itu. Malah, yang Lamongan Utara, ingat saya sih, jarang. Sudah lama sekali saya tidak ke Lamongan Utara. Sampai kangen, saya. Yaapa? Apa bisa, khusus untuk jadwal yang ini, saya yang minta, dipindah ditempatkan di daerah Lamongan Utara?”

Pengurus tampak sejenak bingung. Mereka saling menoleh dan berbisik, lantas salah satu memberanikan diri matur : “Inggih Yai. Akan kami pindah, ganti yang Lamongan Utara”

Lantas YAI RA malah balik bertanya :

“Lha, terus … ? Apa siap tempat baru di Utara itu, ketempatan acara? Waktunya kan sudah dekat, tinggal 3-4 hari? Apa tidak “keteteran” bagi yang mau ketempatan?”

3 Orang Pengurus yang datang itu benar-benar diam “klekep”, gak bisa jawab. Mereka jadi seperti “matikutu” dengan pola didikan YAI RA yang sarat maneuver seperti itu. Tapi akhirnya Beliau RA memberikan solusi, dengan Dawuh :

“Begini saja, sudah. Sekarang saya yang memutuskan. Tolong rembug lagi, untuk memilih salah satu tempat di Lamongan Utara. Pelaksanaanya saya tunda pada Kamisnya lagi. Jadi, kamis depan ini – Kamisnya lagi. Sudah. Itu keputusan saya.”

Dalam sowanan pada hari Minggu berikutnya, Si 3 orang pengurus itu datang lagi. Kepada mereka, YAI RA bertanya :

“Sudah dirembug? Jadi di mana tempat di Utara yang dipilih?”

Jawab mereka : “Sampun, Yai. Jadi di Masjid sebelah Zawiyahnya Kyai Mahmud”.

Karena dilihat di Majlis sowanan itu juga tampak hadir Kyai Mahmud yang disebut-sebut mau ketempatan itu, Beliau RA sambil setengah bercanda memecah ketegangan, Dawuh :

“Lha itu kan, ada Mahmud. Yaa, Mud … Marmuuud … He..he..he.. Siap ta kamu, Mud?

Spontan Kyai Kyai Mahmud menjawab : “Ngih, Yai. Alhamdulillah. Nyuwun berkah Yai. Insya Allah siap.”

Beliau RA lalu menegaskan :

“Ya begitu. Bagus. Untuk Ke Allah itu, “ kudu kendel” (harus berbesar hati). Siap Yai, begitu”

Tibalah saatnya hari Kamis yang dinanti-nantikan. Seperti biasanya, YAI RA berangkat pagi ba’da Shubuh dari Ndalem Kedinding Surabaya, menuju Gresik untuk sejenak transit, sekaligus mengajak dari teman “Orong-Orong” (sebelum dijuluki “Al-Khidmah”) yang memang sudah siap untuk diajak ikut serta “Nderek” Yai.

Waktu itu, tempat transitnya di salah satu ruko di Multi Sarana Plaza – Gresik, tempat yang sudah biasa dijadikan jujugan. Oleh pemiliknya, di ruko tersebut memang dikondisikan untuk lantai 2-nya disiapkan khusus buat istirahat YAI RA. Sedangkan pendereknya siap menunggu di bawah.

Pada kebiasaan sebelum-sebelumnya, kalau lokasi acaranya di Lamongan, YAI RA turun dari lantai 2 itu sekitar pukul 06.00 atau paling lambat 06.30. Namun syahdan, tidak biasanya, Kamis itu, hingga pukul 07.30 YAI RA belum juga tampak turun. Dua orang penderek yang menunggu di bawah, gelisah. “Tidak biasanya Yai begini”. Tapi juga tidak berani “ngapa-ngapain”. Tetap menunggu saja.

Pada sekitar jam 08.00, YAI RA turun dan langsung mengajak berangkat. Sambil berjalan menuju mobil, sempat Beliau berbasa-basi dengan salah satu pendereknya : “Saya telat, yaa Fulan? Gak apa-apa wis. Enggak, koq, Insya Allah”. Si penderek cuma senyum, gak berani jawab apa-apa, dan merasa bahwa toh tidak paham apa maksudnya dan kenapanya.

YAI RA sampai di lokasi acara pada sekitar pukul 09.15. Apa yang kemudian kita saksikan, atas apa yang terjadi di lokasi, saat Beliau RA rawuh? Seluruh jamaah yang hadir, yang jumlahnya ribuan itu, menangis histeris, sambil melihat dan membukakan jalan bagi YAI RA, yang terus berjalan dengan langkah cepat menuju Peimaman Masjid.

Kenapa jamaah pada menangis histeris? Sub-haanallaaHh Wa Inna LillaaaHh. Ternyata, Kamis pagi jam 08.00 hari itu, di tempat acara itu, Sang Shahibul-Bait, KYAI MAHMUD, WAFAT, DIPANGGIL OLEH ALLAH, SECARA MENDADAK. Saat Beliau RA berjalan, dari turun mobil menuju ke dalam Masjid, beberapa Panitya sempat berusaha mengejar untuk maksud mau matur menceritakan yang tengah terjadi. Tapi, antara tidak berani dan memang tidak ada kesempatan karena begitu cepatnya langkah YAI RA.

Lagi-lagi Sub-haanallaaHh, saat YAI RA melihat bahwa di peimaman ada peti jenazah, wajah Beliau sedikit pun tidak menampakkan perasaan kaget samasekali. Beliau RA langsung Dawuh :
“Ayo, sudah. Kita sholati … !!” Dan Beliau RA sendiri yang mengimami, kemudian memimpin tahlil serta doa, dengan diikuti dan diamini oleh sekian ribu jamaah itu.

Selesai sholat jenazah, tanpa kata-kata lagi, YAI RA mengajak jamaah untuk langsung ber-Mubaaya’ah. Dan seusai prosesi Mubaya’ah, YAI RA meminta agar jenazah langsung dibawa ke makam. Tempat makam yang telah disiapkan ternyata tidak jauh, yakni di belakang Masjid. Beliau RA juga ikut berjalan mengiring jenazah ke pemakaman. Setelah selesai semuanya, maka Beliau RA sendiri yang memimpin melakukan Talqin untuk Almarhum, juga memimpin tahlil sampai lengkap dengan doanya.

Pengakuan dari salah satu penderek Beliau sewaktu perjalanan pulang seusai itu : “Seumur-umur, baru ini saya menyaksikan jenazah, yang sejak sholat jenazah, proses pemakaman, sampai talqin hingga selesai, Yai sendiri yang memimpin.”

Secara tampak dlohir, Almarhum Kyai Mahmud ini orang “biasa-biasa saja”. Beliau salah satu Imam Khususi, tapi tampilan dan “gawan” dirinya tidak tampak sebagai seorang Kyai. Kesana-kemari seringkali jalan kaki dengan memakai “gamparan” (sandal japit dari kayu). Dalam pergaulan juga biasa. Seringkali tampak mengajak atau diajak bercanda teman muda-muda penderek Yai, dan mereka tanpa ada beban rasa sungkan atau kecanggungan. Tapi yang pasti, dari statement yang sering diucapkannya, tampak bahwa keyakinannya kepada Gurunya luar biasa.

Barangkali memang Kyai Mahmud ini bukan “orang sembarangan” di mata Allah. Dan bukankah kisah tentang kematiannya ini bukti yang sudah bukan isyarat lagi (?). Maka benarlah apa yang pernah di-Dawuhkan YAI RA, ketika menirukan Dawuh dari Ibnu Atho’illah RA : “Mahasuci Allah, Dzat Yang Menutupi atau Menyembunyikan keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada hamba-Nya yang dipilih-Nya, melalui cara, justru, menampakkan sifat-sifat manusiawi (basyariyah)-nya.”

Terakhir, yang mencengangkan lagi, ialah jika kita runtut kisah di atas dari awal. Kenapa YAI RA waktu dimaturi awal itu terus meminta untuk ditunda dari Selasa ke Kamis? lantas ditunda lagi ke Kamis berikutnya? Juga meminta untuk dipindahkan lokasinya dari Lamongan Selatan ke Utara? Dan orang-orang Panitya dan Pengurus diminta musyawarah untuk menentukan lokasinya sendiri, tapi kemudian, Sub-haanallah, keputusan mereka akhirnya memilih tempat di Kyai Mahmud, sehingga itu seolah memang bukan pilihan atau keputusan dari YAI RA? Dan, ini hanya copy-paste dari Dawuh YAI RA yang telah tertulis pada bagian cerita di atas, tapi mungkin makna yang kita tangkap jadi sudah beda, setelah semuanya terjadi :

“Ya begitu. Bagus. Untuk Ke Allah itu, “ kudu kendel” (harus berbesar hati)”.

Abu Nawas sang wali Allah yang pandai bersyair

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami.
Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan. Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan.
Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman. Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab.
Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab. Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan.
Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa. Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim.
Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad). Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.
Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami.
Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin. Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.
Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.
Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.
Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.
Berikut salah satu kisah Jenaka Abu Nawas. Demi Tata Krama Kepada Raja Konon di Zaman Raja Harun Al Rasyid dulu tidak ada yang namanya WC, yang ada cuma sungai atau kali untuk buang hajat. Suatu ketika sang raja merasa perutnya sedang sakit, dan sudah tidak bisa lagi untuk diajak kompromi. Seketika itu juga raja meminta para pengawal untuk mendampinginya ke sungai demi menuntaskan hajatnya.
Kebetulan sungai disitu mengalir ke arah selatan. Dan Sudah masyhur di kalangan masyarakat , jika sang raja sedang buag hajat di sungai, maka rakyat dilarang keras berak di sebelah utaranya raja, karena di khawatirkan kotoran tersebut akan mengalir ke arah selatan dan mengenai badan sang raja. Dan kalau ada yang melanggar, maka akan mendapatkan hukuman berat dari sang raja.
Namun kali ini, peraturan tersebut tidak di indahkan oleh sang tokoh kocak Abu Nawas, Abu Nawas dengan santainya juga ikut berak di sebelah utara agak jauh dari posisi sang raja, sehingga sang raja tidak melihatnya. Disaat asyik buang hajat, tiba – tiba saja ada suatu benda yang menyenggol pantat sang raja, tanpa berpikir panjang, benda tersebut langsung dipegang dan dilihat oleh sang raja, alangkah terkejutnya, ternyata benda tersebut adalah kotoran manusia.
kontan saja hal itu membuat sang raja naik pitam. seketika itu juga raja menyuruh para pengawalnya untuk menelusuri sungai di sebelah utara,dan menangkap orang yang berak . Benar saja, di sebelah utara agak jauh dari posisi sang raja, terlihat sosok abu nawas sedang berak dengan santainya. Saat itu juga para pengawal langsung menangkap dan membawanya ke hadapan raja untuk di hukum.
Ketika di hadapkan pada raja, Abu Nawas memprotes pada raja kenapa dia di tangkap dan akan dihukum.
Raja pun menjawab : ”Apakah kamu tidak tahu wahai Abu Nawas, perbuatanmu itu telah melecehkan privasiku, kamu telah menginjak – injak harga diriku, kamu memang tidak punya tata krama !!! bentak sang raja. “Berani – beraninya kamu berak di sebelah utaraku, sehingga kotoranmu mengenai badanku, selama ini tidak pernah seorangpun dari rakyatku berani melakukan perbuatan sepertimu” wahai Abu Nawas” Tambah sang raja dengan nada sangat kesal. “Kini kamu harus menerima hukuman dariku”
“Maaf, tunggu sebentar wahai raja ” sela Abu nawas. “Ada apa? tanya raja, “kali ini tidak ada lagi ampun bagimu Abu nawas” “Tunggu sebentar, tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskannya. “Saya melakukan itu semua, karena saya sangat menghormati engkau wahai raja” mendegar hal itu, raja harun Al Rasyid langsung sedikit tertegun dengan apa yang disampaikan oleh abu nawas.
“Lho perbuatan seperti itu , kamu bilang malah untuk menghormati aku???” tanya raja dengan ekspresi agak sedikit keheranan. “Ya benar raja ” jawab abu nawas dengan tegasnya. Rajapun semakin keheranan dan penasaran dengan abu nawas. “Baiklah kali ini aku kasih kamu kesempatan untuk menjelaskan alasannya, jika alasanmu tidak masuk akal maka aku tidak segan – segan untuk memperberat hukumanmu.”
“Baiklah raja, begini alasannya. Raja tahu, selama ini jika raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau bersama pengawal , tidak ada satupun dari rakyat atau pengawal raja yang berani mendahului jalannya raja, begitu juga dengan saya, ketika saya ikut rombongan raja , posisi saya ketika berjalan tidak berani mendahului raja, itu saya lakuakan karena saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada raja”
“Ya bagus, lha terus apa hubungannya dengan perbuatanmu yang sekarang ini??” tanya raja dengan nada semakin penasaran dengan akal cerdik abu nawas. “Begini raja, saya menghormati engkau tidak setengah – setengah, melainkan saya menghormati engkau dengan sepenuh hati . Ketika saya buang hajat , saya memilih di sebelah utara raja, dan sama sekali , saya tidak berani berak berada di sebelah selatan raja. Hal ini saya lakukan karena saya kuatir, jika saya berak di sebelah selatan raja, maka nanti kotoran saya berlaku tidak sopan kepada kotoran raja, karena sudah berani berjalan mendahuli kotoran raja.
sehingga saya memilih berak di sebelah utara, agar supaya kotoran saya tidak sampai mendahului kotoran raja. Ini semua saya lakuakan tidak lain, hanya demi Tata krama saya kepada kotoran raja. Terus terang wahai baginda, kotoran saya tidak berani mendahului kotoran raja, karena hal itu merupakan perbuatan su’ul adab. Ketika raja berjalan, saya tidak berani mendahului jalan raja, begitu juga ketika kotoran raja mengalir, maka kotoran saya pun tidak berani mendahului kotoran raja.
Ini semua saya lakuakn karena Sopan santun dan tata krama saya yang sepenuh hati kepada raja.” “Malah yang seharusnya diberi hukuman bukan saya wahai raja , melainkan rakyat engkau yang tidak punya tata krama, karena mereka berani berak di sebelah selatanmu, sehingga kotoran mereka mendahului kotoranmu. “ Mendengar penjelasan Abu nawas, raja pun tersennyum. dia tidak jadi marah dan menghukum Abu nawas, tetapi oleh sang raja Abu Nawas malah diberi hadiah karena alasannya masuk akal. Sejak kejadian itu, raja pun menginstruksikan kepada rakyatnya untuk berak di sebelah utara sang raja, demi menjaga kesopanan kepada kotoran sang raja.

Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu
Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar kepada shahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: “tidak mau ruku’ dan sujud dalam shalat.” … Lebih-lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa, … “khalifah yang suka fitnah!” … Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar syariat Islam dengan menebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung, ada seorang pembatunya yang nampaknya biasa-biasa saja (orangnya sangat besahaja) memberi saran, … hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) terlebih dahulu kepada Abu Nawas. Tak berapa lama, … Abu Nawas pun dipanggil dan digeret menghadap Khalifah, … Kini, ia menjadi pesakitan. “Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” .. tanya Khalifah dengan keras.
Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar Saudaraku.”
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”
Abu Nawas menjawab, … “Benar Saudaraku.”
Khalifah berteriak dengan suara yang menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menerbarkan fitnah tentang khalifah!”
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, … “Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya, kabar yang sampai padamu tidak lengkap, … kata-kataku diplintir, … dijagal, … seolah-olah aku berkata salah.”
Khalifah berkata dengan ketus, … “Apa maksudmu, jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya!”
Abu Nawas beranjak dari duduknya, dan menjelaskan dengan tenang, … “Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam shalat, tapi dalam shalat apa? … Waktu itu, aku menjelaskan tata-cara shalat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”
… “Bagaimana soal aku yang suka fitnah?”, … tanya Khalifah.
Abu Nawas menjawab dengan senyuman, … “Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat al-Anfal, yang berbunyi “ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian) bagimu.” Sebagai khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka “fitnah” (ujian) itu.” … Mendengar penjelasan Abu Nawas yang juga kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.
Rupa-rupanya kedekatan Abu Nawas dengan khalifah Harun al-Rasyid menyulut rasa iri dan dengki di antara pembatu-pembatu khalifah lainnya. Kedekatan hubungan ini nampak ketika Abu Nawas memanggil Khalifah Harun al-Rasyid dengan kata “ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan lagi seperti hubungan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutar-balikkan berita.
Perjalanan Abu Nawas dalam Pencarian Allah
Abu Nawas memang sudah terganggu akal fikirannya. Banyak persoalan mengenai mengenal diri masih belum terjawab. Makin banyak dia berusaha makin banyak lagi persoalan yang timbul. Sahabat handai sudah mula berkata-kata yang Abu Nawas kurang siuman.

Namun begitu Abu Nawas tidak mengindahkan mereka. Yang penting dia akan sampai ke matlamatnya yaitu mengenal diri dan Tuhannya. Kini Abu Nawas terus berusaha dan cuba menempatkan dirinya sebagai fakir iaitu orang yang berjalan mencari Tuhan.

Setiap hari dia berbaju putih dari kain yang agak kasar. Mengikat kepala dengan serban putih, berseluar putih dan bahkan segala-galanya putih. Kemana-mana dia berjalan kaki. Dia tahan tidak makan kerana dia beranggapan apabila kurang makan maka dia kan dapat mengawal nafsunya. Nafsu perlu dikawal untuk perjalanan bertemu Tuhan katanya. Setiap orang yang dijumpainya diajaknya senyum. Tingkah lakunya tidak ubah seperti cerita sufi di zaman Andalusia.

“Saya mesti bersih kerana Allah itu juga bersih. Saya juga mesti didalam keadaan berwuduk, sebab Allah adalah Maha Suci. Dan Allah juga Maha Pengasih, sebab itulah aku melihat orang dengan senyuman”.

Melihat tingkah lakunya yang demikian, maka orang-orang yang tidak mengerti sudah menilai Abu Nawas sebagai seorang sufi. Atau setidak-tidaknya orang berkata bahawa dia seorang ahli tasawwuf. Padahal dia baru bertarekat berjalan sendiri tanpa dibimbing oleh seorang Guru Mursyid atau Syeikh, apalagi tidak merujuk kepada Al Qur’an dan Hadith sebagai pegangan utama. Sudah pasti dia akan sesat jalan. Bahkan fikirannya terganggu seperti orang yang kurang siuman.

Didalam perjalanan ini, ada juga orang yang meminum air tongkat gurunya dan bahkan ada yang menginap tujuh hari tujuh malam di makam guru. Itu pun sudah dilakukan oleh Abu Nawas. Abu Nawas sudah semakin jauh dari tujuan asalnya. Namun begitu, Abu Nawas masih tetap pada pendiriannya bahawa menginap di makam para Wali sebagaimana orang lain melakukannya mungkin ada kebenarannya.

Dengan tiba-tiba dia berteriak, “Memang gila !”. Orang-orang yang berada disekelilingnya terperanjat dan melihat kepadanya. “Apanya yang gila Abu ?” Tanya mereka yang sama-sama menginap di makam wali itu. “Cuba kamu lihat ayat ini”, tunjuk Abu Nawas kepada mereka tentang sepotong ayat dari tafsif Al Qur’an yang dipinjamnya dari penjaga kunci makam tersebut.

“Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dan kami mengetahui apa-apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Qaf, 50:16)

“Jadi kenapa ?”, tanya mereka yang hadir. “Memang kamu semua lembab fikiran ! Kan ayat ini mengatakan bahawa pada setiap umat manusia ada Allah. Pada saya ada Allah, pada kamu juga ada Allah. Bukankah Allah menjadi Maha Banyak. Padahal semua guru mengatakan bahawa Allah itu Maha Esa”.

Mereka semua tercengang dan terdiam. Didalam hati masing-masing mereka berkata betul juga kata orang gila ini. Yang lain-lainnya ada juga berpendapat tidak mungkin Allah itu banyak. Kalau Allah itu banyak, maka Allah akan bergaduh sesama sendiri. Bukankah Nabi Ibrahim pernah bertanya soalan yang sama kepada bapanya. Yang hadir semua berfikir dan ada yang akan bertanya kepada gurunya nanti.

Bagi Abu Nawas bertambah lagi satu penyakit dalam dirinya. Pertanyaan yang tersimpan dan tidak terjawab akan membuatkan seseorang semakin terganggu saraf pemikirannya. Namun begitu yang semakin parah adalah apabila orang awam sudah mula menghormati Abu Nawas sebagai seorang Syeikh. Kata mereka memang orang-orang yang hampir dengan Tuhan tidak boleh difahami dan selalu bersikap eksentrik.

Ketika Abu Nawas asyik termenung memikirkan persoalannya, tiba-tiba dari sebelah kanan datang seseorang berbisik kepada Abu Nawas. “Bermohonlah kepada Allah untuk mendapatkan kemudahan dan bimbingan. Mudah-mudahan nanti seorang Guru akan datang untuk menjawab pertanyaan yang merungsingkan kamu”. Kemudian orang itu terus menghilang.

Ambillah pelajaran yang betul dari perjalanan Abu Nawas ini. Gilaplah cermin diri kita untuk kembali kepada Tuhan.

Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menejelang sakaratulmautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan. "Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama."

Tentu ini hanyalah sebuah lelucon menurut pandangan orang yang awam tetapi bukanlah sebuah lelucon bagi seorang Wali Allah, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa
Salah satu Syairnya :
Syair Al 'Itiraf [Pengakuan] Abu Nawas


Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu

Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka

Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku

Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar

Dosaku seperti jumlah pasir

Maka terimalah pengakuan taubatku Wahai Pemilik Keagungan

Dan umurku berkurang setiap hari

Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu

Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu

Seandainya Engkau mengampuni

Memang Engkaulah Pemilik Ampunan

Dan seandainya Engkau menolak taubatku

Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-MU

Yakni, ia merasa menyesal sekali atas perbuatannya yang sia-sia. Salat lima waktu tak pernah dihiraukan. Dan hanya kepada Allah, Yang Maha Tinggi ia berdoa mohon pengampunan, seperti yang telah Allah berikan kepada Nabi Yunus.
Keyakinan agamanya banyak dibahas orang. Mereka menilai penyair ini dari puisi-puisinya yang beraneka ragam. Hampir semua yang dialaminya dan yang begejolak dalam pikirannya tertuang secara gamblang dalam puisi-puisinya. Orang menilai, bahwa keimanannya kepada Allah kuat sekali, begitu juga terhadap pengampunan-Nya lebih besar:
Begitu besar dosaku
Setelah kubandingkan dengan sifat kepengampunan-Mu
Ya Allah
Pengampunan-Mu lebih besar.
Mengenai harapan akan pengampunan Allah sajak berikut ini terkenal sekali, dijalin dalam kata-kata yang sangat mengharukan:
Tuhanku, kalau pun dasaku sudah begitu besar, begitu banyak
Aku pun tahu, sifat pengampunan-Mu lebih besar
Kalau yang berharap kepada-Mu hanya orang yang saleh
Kepada siapa orang yang berdosa ini akan berlindung?
Seruanku hanya kepadamu, ya Allah
Dengan sepenuh hati, seperti perintah-Mu
Kalaupun tanganku ini Kautolak
Siapalagi yang akan mengampuniku?
Tak ada jalan lain bagiku kepada-Mu
Hanya harapan dan pengampunan-Mu yang begitu indah
Di samping semua itu, aku seorang muslim (berserah diri).
Puisi-puisi zuhud-nya atau puisi keagamaan Abu Nawas memang tidak begitu banyak jumlahnya, dan dibuat pada masa tuanya. Tetapi dari segi kedalamannya dinilai banyak kritikus sastra melebihi puisi-puisi keagamaan para penyair lain yang sejaman dengannya. Sebagi penyair, baik dalam puisi mujun atau puisi zuhud, dari segi ungkapan, penggunaan kata, dan kedalaman isi, dalam sejarah sastra Islam.

Senin, 05 Desember 2011

Manaqib Syed Jamaluddin al-Akbar bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan al-Husaini

Oleh :Abd Rashid Al-Kubrawiy Al-Husaini

Dengan nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puja dan puji dipersembahkan kepada Allah, tuhan yang mentadbir sekalian alam. Selawat dan salam buat rasul junjungan, ahli keluarga dan para sahabatnya yang di kasihi.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (At Thur- 21)

Di sini adalah Manaqib bagi Ad Daa’I IlaLLAH, as-Syekhul Kabir, al-Qutub al-Habib as-Syed Jamuluddin al-Akbar al-Husaini atau yang lebih masyhur namanya di Nusantara ini dengan nama Syed Hussin Jumadil Kubra atau Jamaluddin Agung atau Sunan Agung. Manaqib ini telah diambil data dan maklumatnya dari beberapa kitab ahli sirah dan nasab yang masyhur. Sesungguhnya telah berlaku banyak ikhtilaf dikalangan para sejarawan tentang beberapa hal yang berkaitan Syed Jamuluddin Hussin al-Akbar ini. Hal ini adalah kerana, kehadiran beliau itu pada abad yang ke 13 masihi, yang sewaktu itu nasab belum tercatit pada dustur yang teratur. Walau bagaimanapun kami telah mengambil jalan yang aslam serta meninggalkan ikhtilaf yang gharib dari perbahasan sejarawan itu dan mencatitkan apa yang semampu kami sahaja pada manaqib Ulama dan Mujahid yang berjasa ini.

Nasab beliau ialah Syed Jamaluddin Hussin al-Akbar @ Syed Jamaluddin al-Hussin @ Syed Hussin Jumadil Kubra Bin Ahmad Jalaluddin Syah @ Ahmad Syah Jalal Bin Abdullah Amir Azamat Khan @ Abdullah al-Amir @ Abdullah Azamat Khan @ Abdullah Khan Bin Al Muhajir Ilal Hindi Abdul Malik Bin Alwi Aamul Faqih Bin Muhammad Sahibul Mirbath Bin Ali Khali’ Qassam Bin Alwi Bin Muhammad Bin Alwi Bin Ubaidillah Bin Ahmad al-Muhajir Bin Isa as-Syakir Bin Muhammad Bin Ali Uraidhi Bin Jaafar Shodiq Bin Muhammad al-Baqir Bin Ali Zainul Abidin Bin Syaidina Hussin Syahid Karbala Sibtu Fatimah Az Zahra’ Al Batul Bin Syaidul Mursalin Muhammad Khatamun Nabiyyin.

Terhadap tarikh kelahiran beliau ini terdapat banyak perselisihan diantara para pengkaji sejarah dan ahli nasab. Tetapi mengikut Syeikh Waliyuddin Khan ( Tarikh Aghrariah: 1923), beliau dilahirkan pada tahun 1336 di Kota Agra India. Beliau dilahirkan bersama limpahan harta dan kemewahan kerana ayahanda beliau, Syed Ahmad Jalaluddin Syah adalah Gabenor Agra di bawah pemerintahan Kesultanan Mughal yang berpusat di New Delhi pada masa itu. Walaupun kehidupan beliau dilimpahi kemewahan dunia, tetapi hal itu tidaklah melalaikan beliau dari istiqamah pada landasan Aslaf beliau yang terdahulu. Dari umur belasan tahun, beliau banyak mengembara ke pelusuk India khasnya di Syaharanfur, Karachi dan Nizamuddin untuk mendalami ilmu khususnya dalam bidang Hadith dan Tasauf. Beliau juga sering mendapat ru’yah bertemu dengan Syaidul Makhluq dan di anugrahkan ALLAH ilmu laduni[1].

Sewaktu beliau berumur 25 tahun, beliau di tunjukkan untuk menjadi gabenor di Haidrabad. Beliau dengan sedaya- upaya berusha untuk menolak jawatan tersebut dan akhirnya terpaksa beliau terima dengan berat dan kecewa[2]. Sewaktu beliau menjadi Gabenor Haidrabat itulah, beliau telah menerapkan Prinsip Islam dalam pemerintahan beliau dan mencontohi para Khalifah ar-Rasyidun. Hasil dari itulah, dalam masa beberapa tahun sahaja, Haidrabad telah termashur sebagai pusat perdagangan. Sewaktu beliau menjawat jawatan gabenor ini juga, telah beberapa kali beliau di amanahkan untuk menjadi panglima perang dalam menentang pemberontakan dari kerajaan Hindu India[3].

Ketika umur beliau 30 tahun, beliau telah melaksanakan Ibadah Haji di Makkah dan melangsungkan ziarah ke Madinah. Sewaktu beliau berziarah Datuk beliau di Madinah inilah, beliau telah bertemu dengan Baginda secara sedar ( Yakazoh) dan di tunjukkan supaya meninggalkan jawatan yang beliau duduki sekarang dan dianjurkan supaya membawa dakwah ke timur. Hal ini adalah bertepatan dengan satu sabda Baginda RasulaLLAH SAW dalam satu hadith yang masyhur:


Dari Abi Masu'd r.a bahawa Rasulullah s.a.w telah bersabda:

Akan datang pada akhir zaman pembawa-pembawa panji hitam dari timur.[4]


Lalu sewaktu pulang dari haji dan ziarah itu, beliau tidak langsung pulang ke Hadrabad, tetapi ke Mughal untuk berziarah kakek beliau Syed Abdullah Amir Azamat Khan. Semasa berada di Mughal inilah, beliau telah bertemu dengan beberapa orang saudara sepupu beliau dan mereka telah diajak untuk bersama-sama melaksanakan dakwah ke timur. Semasa berbincang tentang hala tuju mereka ke timur ini, mereka telah bersepakat untuk menjadikan Kepulauan Nusantara ini sebagai daerah dan lembangan dakwah mereka.Setelah persetujuan di ikat, berangkatlah beliau ke Nusantara ini bersama 6 saudaranya yang lain. Perjalanan mereka ini telah di kenali sebagai “ Wali Tujuh Dengan Perancangan Islam Di Timur”.[5] Semasa dalam pelayaran ke Nusantara ini, mereka telah di uji oleh Sang Yang Maha Mencipta dengan beberapa ujian yang berat dan hal itu tidak mematahkan hasrat mereka.

Setelah tiba di Nusantara ini, mereka telah berpacah untuk mendirikan lembangan dakwah kepada beberapa kepulauan dan Syed Jamaluddin Hussin al-Akbar bersama beberapa saudaranya telah memilih daerah dakwahnya yang pertama di Empayar Langkasuka iaitu yang meliputi Champa (Indo China/ Kemboja sekarang) sehingga ke Kepulauan Mindanao di Filipina, manakala ibukotanya pula adalah Tanah Serendah Sekebun Bunga (Kelantan Tua). Semasa berdakwah di sini, beliau tidak sahaja mendekati para rakyat dan marhain, tetapi turut berdakwah kepada golongan pembesar dan istana. Berhasil dari sinilah, beliau telah diminta oleh Raja Sang Tawal (Sultan Baqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah), Sultan yang memerintah Tanah Serendah Sekebun Bunga pada masa itu untuk tinggal di istana dan menjadi penasihat Sultan.

Semasa beliau berdakwah dan menjadi Penasihat Sultan di Kerajaan Langkasuka, beliau telah dikahwinkan dengan dua orang puteri dari Tanah Serendah Sekebun Bunga iaitu Puteri Linang Cahaya yang merupakan Putri Raja Sang Tawal dan Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) serta seorang Putri Diraja Champa yang bernama Putri Ramawati dan seorang Putri Diraja Johor. Puteri Ramawati (Champa) isteri kedua beliau dan Putri Selindung bulan (Kelantan Tua) isteri ketiga ini adalah saudara sebapa yang dikahwini oleh beliau setelah kematian isterinya yang kedua.

Dari perkahwinan dengan Putri Diraja Kelantan Tua ini beliau mendapat dua orang putra yang bernama Abdul Malik (Gerisik) dan Ali Nurul Alam (Fathoni) serta seorang putri yang bernama Putri Siti Aisyah (Putri Ratna Kesuma)[6] . Dari perkahwinan beliau dengan Putri Ramawati yang merupakan Putri Sultan Zainol Abidin Syah (Che Bong Nga), beliau mendapat seorang putra yang bernama Ibrahim Zainol Akbar[7] (Ibrahim Asmaro @ Ibrahim as-Samarqandi)[8]. Adapun perkahwinan beliau dengan Putri Diraja Johor telah memberikan dua orang putra, iaitu Syarif Muhammad Kebungsuan(Mindanao Filipina) dan Sultan Berkat(Zainol Alam Barakat).[9]

Dari keturunan beliaulah lahirnya para pejuang dan pendakwah di seluruh pelusuk Nusantara kita ini. Contohnya, dari Abdul Malik, lahirnya para Wali Sembilan (Wali Songo) di Indonesia dan dari Ali Nurul Alam, lahirnya para pemerintah, ulama dan pendakwah di Fathoni. Di setiap tempat dan negeri yang mereka kunjungi, mereka langsung membaur dengan rakyat setempat dan menggunakan nama dan gelaran yang dipakai oleh masyarakat secara umum.[10] Mereka mengorbankan gelaran Syed, Syarif dan Habib demi melihat bersatunya jiwa masyarakat dalam dakwah Islami. Dari hal itulah, mereka kini lebih dikenali sebagai Tengku, Tuan, Nik dan Wan. Mereka membaur bersama masyarakat dengan keluhuran akhlak dan kehidupan bersahaja serta ketaatan pada agama seperti yang diwarisi dari leluhur mereka telah memikat hati masyarakat peribumi sehingga Islam tersebar dalam masa yang reletif singkat.[11]

Dari hasil dakwah beliau bersama saudaranya beserta perancangan yang berhikmah, Islam tersebar dengan meluas sehingga Empayar Langkasuka lebih dikenali sebagai Empayar Chermin Jeddah, manakala ibu negerinya (Tanah Serendah Sekebun Bunga/ Kelantan Tua) dikenali sebagai Negeri Serambi Mekah. Ini jelas pada masa itu, yang mana penyebaran ilmu agama amat pesat serta terbinanya Madrasah Diniah ( pondok pasenteren ) bagaikan cendawan selepas hujan serta mereka yang datang belajar agama di sini disamakan tarafnya dengan mereka yang belajar agama di Mekah[12]. Perkembangan Islam di bawah pimpinan beliau tidak terhenti setakat itu sahaja, bahkan beliau berjaya melatih para kader dakwah dan menghantarnya ke seluruh pelusok Asia Nusantara ini.

Dikalangan keturunan beliau yang masyhur sebagai pendakwah diantaranya dari keturunan Ibrahim Zain al-Akbar (Champa) ialah Maulana Ishak, Muhammad Ainul Yakin (Sunan Giri), Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel), Ibrahim (Sunan Bonang), Hasyim (Sunan Derajat), Jaafar Shadiq(Sunan Kudus) . Manakala dari keturunan Ali Nurul Alam (Fatoni) lahirnya Wan Hussin (Tok Masjid Telok Manok/ Tok Syed Quran), Wan Abdullah (Wan Bo/ Tok Raja Wali), Wan Demali, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan Wan Demali (Temenggung Laut). Dari keturunan Abdullah (Wan Bo/ Tok Raja Wali) inilah yang telah melahirkan keturunan Abd Malik @ Muluk (Tok Ku Hitam/ Pakcu Keling).

Setelah beberapa lama beliau melaksanakan jihad dan dakwahnya di utara Nusantara maka beliaupun belayar kembali dan memilih kawasan selatan yang meliputi kepulauan Jawa pula. Semasa berada di Pulau Jawa inilah, beliau sempat melihat kejayaan dakwah yang dilaksanakan oleh adakanda dan cucunda beliau. Setelah beberapa lama berada di Pulau Jawa akhirnya beliau merantau dan berdakwah kedaerah Bugis(Makasar/ Ujung Padang) di Sulawesi Selatan. Semasa melaksanakan daawahnya disini, beliau telah dipanggil oleh Qadhi Haqiqi Rabbul Jalil menghadapNya. Maka kembalilah insan yang telah banyak berjasa untuk Agama ALLAH ini dalam keadaan redha lagi diredhai pada tahun 1415 m dan dimakamkan di hadapan masjid beliau di Jalan Masjid Tua, Desa Teroja,Kacamatan Manjeuleng, Kabupaten Wajo, Propensi Sulawesi Selatan.

Semoga ALLAH tetap mencurahkan Rahmat dan berkahNya kepada beliau serta menerima semua hasanah beliau dan memaafkan segala khilaf beliau juga mengangkat beliau kedarjah yang selayaknya bersama datuk beliau Syaidul Mursalin Wakhatamun Nabiyyin.

Aduhai para keturunan yang mulia ini. Apakah kita mengerti betapa menggunungnya tanggungjawab yang terpikul dibahu kita. Betapa leluhur dan sesepuh kita dahulu telah membina empayar dakwah dan penghambaan ke Hadirat Rabbul Jalil. Tersebarnya Islam yang tercinta dibumi Nusantara ini adalah dari keringat, darah dan air mata mereka ini. Apakah cukup kita pada hari ini berbangga dengan nasab al-Akbar atau al-Kubra yang kita miliki atau dengan galaran bangsawan Syed, Habib, Tengku, Tuan, Nik, Wan atau Che yang tersemat di pangkal nama kita dan membiarkan apa yang telah dibina oleh Aslaf kita terdahulu terlekang dek panas, tereput dek hujan, terkakis dek udara. Apakah tugas dan tanggungjawab ini tidak akan disoal ke atas kita di Yaumul Hisab nanti. Apakah memadai untuk kita hari ini berbangga dengan harta,pangkat,gelaran,sijil-sijil akademik dan gelaran akademik yang kita miliki. Apakah untuk itu moyang kita dahulu meninggalkan pangkat,darjat,kekayaan dan tanah tumpah darahnya berlayar ke bumi melayu ini??????????. Tidak sekali-kali!!!!!!!!!!!!!! Tidak sekali-kali wahai anak cucu Syed Jamuluddin Hussin al-Akbar @ Syed Hussin Jumadil Kubra. Beliau meninggalkan segalanya itu adalah demi cinta beliau kepada ALLAH dan RasulALLAH yang merupakan Datuknya dan Datuk kita.

Sedari dan insafilah duhai ansab Jamuluddin Hussin Al Akbar. Tanggungjawab adalah amanah dan amanah akan ditanya di akhirat nanti. Di mana pun kita, pada posisi apa pun kita, dengan seragam apa pun kita, wadah dan jalan kita adalah satu. Melihat Islam tetap mekar mewangi di Asia Nusantara, Bumi Melayu kita ini.


[1] )Ad Dahlawi, Syekh Waliyullah : Fatawa Alhindi

[2] ) Waliyuddin Khan,Syekh: Tarikh Agrariah-1923. Matbaah Beirut

[3] ) Al Malbari, Nazimul Hakim: Sirajul Muluk Lil Hindi-1980, Matbaah Darul Hikam Deoband
[4] ) Turmuzi,Al Muhaddith Mahyuddin: Soheh Turmuzi

.[5] ) Haji Ibrahim (IBHAR), Hj Abd Halim Bashah Bin: Wali Songo Dengan Perkembangan Islam Di Nusantara. Pustaka Al Hijaz Malaysia.

[6] ) Ibid

[7] ) Al Haddad, Syed Alawi Bin Tohir: Al Madkhal Ila Tarikhil Islam Bissyarqil Aqsha.(edisi Indonesia,sejarah perkembangan islam di timur jauh. Alih bahasa Dziya Syahab. Maktab Ad Daimi Jakarta.

[8] ) Al Gadri,Mr Hamid: C Snouck Hurgronje. Politik Belanda Terhadap Islam Dan Keturunan Arab. Sinar Harapan Jakarta 1984.

[9] )Al Khaf, Syed Zain Bin Abdullah: Khidmatul Asyirah

[10] )Al Baqir, Muhammad: Pengantar Thariqah Menuju Kebahagiaan diterjemah dari Risalah Al Muawanah Wal Muzhaharah Wal Muawazarah Lir Raghibin Minal Mu’minin Fi suluki Ala Tariqah Al Akhirah.Syed Abdullah Bin Alawi Al Haddad.

[11] )Ibid

[12] ) Haji Ibrahim (IBHAR), Hj Abd Halim Bashah Bin: Wali Songo Dengan Perkembngan Islam Di Nusantara. Pustaka Al Hijaz Malaysia.

Asal-Usul Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M

(Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817),


Dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.


Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]…


Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.
Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.


Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.
Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.


Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.


Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.

Nasab Syekh Siti Jenar Bersambung Sampai ke Rasulullah diakui oleh Robithoh Azmatkhan

Abdul Jalil Syeikh Siti Jenar bin

1. Datuk Shaleh bin

2. Sayyid Abdul Malik bin

3. Sayyid Syaikh Husain Jamaluddin @ Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan (Gujarat, India) bin

4. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin

5. Sayyid Abdullah AzhmatKhan (India) bin

6. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir AzhmatKhan (Nasrabad) bin

7. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut, Yaman) bin

8. Muhammad Sohib Mirbath (lahir di Hadhramaut, Yaman dimakamkan di Oman) bin

9. Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin

10. Sayyid Alawi Ats-Tsani bin

11. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin

12. Sayyid Alawi Awwal bin

13. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin

14. Ahmad al-Muhajir (Hadhramaut, Yaman ) bin

15. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi (Basrah, Iraq) bin

16. Sayyid Muhammad An-Naqib bin

17. Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin

18. Sayyidina Ja’far As-Sodiq (Madinah, Saudi Arabia) bin

19. Sayyidina Muhammad Al Baqir bin

20. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin {menikah dengan (34.a) Fathimah binti (35.a) Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib, kakak Imam Hussain} bin

21. Al-Imam Sayyidina Hussain bin

(22.a) Imam Ali bin (23.a)Abu Tholib dan (22.b) Fatimah Az-Zahro binti (23.b) Muhammad SAW

Ulasan Silsilah Genealogys Akbar Ke Berbagai Jalur Leluhur Dari Sunan Kalijaga & Para Pemimpin Awal Tuban

oleh Nurfadhil Al-Alawi Al-Husaini



Selama ini beredar berbagai versi silsilah Sunan Kalijaga, ada yang menyambungkan beliau sebagai keturunan Jawa Asli, ada yang menyebut beliau sebagai Keturunan Nabi Muhammad & ada yang menyebut beliau sebagai Keturunan Sayyidina Abbas Paman Nabi. Maksud tulisan ini adalah sebagai penengah dan untuk memperjelas bahwasanya Sunan Kalijaga secara nasab memang betul keturunan Nabi Muhammad namun memang mempunyai silsilah tautan dr garis perempuan yang bersambung ke bangsawan Jawa & ke Paman Nabi Sayyidina Abbas,..

I. SILSILAH TAUTAN SUNAN KALIJAGA KE LELUHUR PARA PEMIMPIN LOKAL NUSANTARA

Ketika Penulis mempelajari data yang obyektif dalam sejarah para Bupati Tuban, dalam Babad Tuban (6). Penulis menemukan titik temu antara data silsilah Sunan Kalijaga dari berbagai versi. Penulis menyebutnya obyektif karena data tersebut sebenarnya bukanlah data subyektif silsilah Sunan Kalijaga yang versinya amat tergantung dengan keyakinan masing-masing penjaganya, bahkan data tersebut hanya menyebutkan tentang nama para bupatinya saja tanpa menyebut nama Sunan Kalijaga yang bukan merupakan bupati Tuban. Namun demikian karena sudah teramat masyhur di semua versi bahwasanya Sunan Kalijaga adalah putra kandung bupati Tuban yang bernama Wilatikta, sehingga data sejarah tersebut dapat disusun sebagai silsilah genealogis yang akan kita didapati sebagai berikut :

1. Prabu Banjaransari
2. Raden Arya Metahun
3. Bupati Lumajang Tengah Raden Arya Randu Kuning./ Kyai Ageng / Kyai Gede Lebe Lontong
4. Bupati Gumenggeng Raden Arya Bangah; Bekas kabupaten tersebut sekarang menjadi Desa Banjaragung (Kecamatan Rengel)
5. Bupati Lumajang Raden Arya Dandang Miring
6. Bupati Tuban ke-1 Raden Dandang Wacana / Kyai Gede Papringan, BERPUTRI
7. Nyai Ageng Lanang Jaya / Nyai Lanang Baya [Istri Kyai Lanang Baya lihat Jalur Silsilah III, point 20]
8. Bupati Tuban ke-2 Haryo Ronggo Lawe / Rangga Teja Laku / Syeikh Jali Al-Khalwati / Syekh Khawaji [Dimasa ini Tuban di bawah kekuasaan Majapahit]
9. Bupati Tuban ke-3 Haryo Siro Lawe
10. Bupati Tuban ke-4 Haryo Siro Wenang
11. Bupati Tuban ke-5 Haryo Lana / Arya Teja I
12. Bupati Tuban ke-6 Haryo Dikoro / Arya Teja II BERPUTRI
13. Raden Ayu Hariyo Tejo berputra (Istri dari Bupati Tuban ke-7 Hariyo Tejo / Maulana Mansur, Lihat jalur Silsilah II point)
[Di masa ini & masa putra beliau adalah masa transisi kepenguasaan akan Tuban dari Majapahit ke Demak]
14. Bupati Tuban ke-8 Raden Hariyo Wilatikta / Raden Ahmad Sahuri berputra
15. SUNAN KALIJAGA

Ternyata dari data tersebut di atas point 7 & 13 adalah nenek moyang dari garis perempuan Sunan Kalijaga yang datanya akibat kesubyektifitas dan atau distorsi informasi & komunikasi terbaur antara leluhur dari garis laki & perempuan dalam versi lain. Hal ini kerap terlewatkan, lantas begitu saja menghubungkan Silsilah Sunan Kalijaga ke leluhur beliau sebagai garis laki padahal ada yang berasal dari tautan perempuan dan sebaliknya. Sehingga data ini menjadi acuan penting dalam mencari titik temu tiap-tiap versi yang penulis yakini masing2 memiliki latar belakang kebenaran & latar belakang historis akan penjagaannya.

Bila kita perhatikan data di atas pada point 12-13 dari sumber (6) Babad Tuban, disebutkan bahwa Hariyo Tejo menjadi pemimpin Tuban dikarenakan menikahi putri pemimpin Tuban sebelumnya. Babad Tuban, menyebutkan pula bahwa Arya Teja bukanlah seorang pribumi jawa. Ia berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama sedangkan muasal beliau disebut sebagai saudara / masih memiliki kekerabatan dengan Sunan Ampel, sehingga data ini amat pas dan menjadi titik temu dengan versi silsilah Sunan Kalijaga sebagai sayyid keluarga Azmatkhan yang bisa dilihat di Jalur Silsilah II.
Lantas bila kita perhatikan data di atas point 6,7, 8 maka akan kita dapati titik temu dengan versi Silsilah Sunan Kalijaga yang bersambung ke Sayyidina Abbas sebagaimana dapat dilihat di Jalur Silsilah III khususnya point 20 & 21. Karena nama terkait di berbagai sumber, masyhur bersambung secara nasab garis laki ke Sayyidina ABBAS.

Sehingga dapat disimpulkan berbagai versi muasal genealogis Sunan Kalijaga baik yang dari versi keturunan local pribumi Jawa, keturunan Nabi Muhammad & keturunan Sayyidina Abbas ternyata sama2 memiliki latar belakang kebenarannya dan titik temunya masing-masing yang selama ini terbaur lantas tidak difahami tautan jalurnya. Hal ini diakibatkan kebudayaan & kebiasaan nusantara yang menisbatkan leluhur baik dari garis laki maupun perempuan lantas terbaur. Ketika ini terfahami & diletakkan pada tempatnya masing-masing, penulis malah menghargai kebiasaan penisbatan tersebut sehingga bisa mengenali leluhur dari suatu tokoh bersejarah secara objektif mana yang dari garis lakinya maupun yang dari garis perempuannya.

II. SILSILAH NASAB SUNAN KALIJAGA AZMATKHAN KE NABI MUHAMMAD

Data Pendukung bahwasanya Sunan Kalijaga sayyid keturunan Nabi adalah dari keselarasan dgn kisah Babad Tuban sebagaimana disebut di atas. Kitab Syajaroh & Tarikh Al Azamat Khan dikutip dalam “Sejarah & Silsilah dari Nabi Muhammad SAW ke Walisongo oleh Drs. Aburumi Zainal Lc. – Habib Zainal Abidin Assegaf menuliskan secara jelas nasab beliau sebagaimana di bawah ini, begitu pula Kitab Syamsud Dhahirah, Karya Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain Al-Masyhur sebagai data Rabithah Alawiyyah dan Kitab Nasab Wali Songo, juga Karya Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini.

Silsilah ini juga sesuai dengan keterangan Profesor Husaini Jayadiningrat didalam bukunya yang menceritakan bahwa dalam tradisi Cirebon terdapat Silsilah Sunan Kalijogo yang diurutkan hingga sampai kepada Rasulullah SAW, begitu pula keterangan Van Den Berg dan Hj de Graff, sesuai dengan kisah Tome Pires.
Sunan Kalijaga juga menikahi 4 Syarifah putri para anggota Walisongo sehingga secara fiqih mengenai pernikahan kafaah nasab pd syarifah, makin menguatkan fakta bahwasanya Sunan Kalijaga adalah Sayyid turunan Nabi Muhammad.

1. Nabi Muhammad Rasulullah
2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra
3. Al-Husain
4. Ali Zainal Abidin
5. Muhammad Al-Baqi
6. Ja’far Shadiq
7. Ali Al-Uraidhi
8. Muhammad
9. Isa
10. Ahmad Al-Muhajir
11. Ubaidillah
12. Alwi
13. Muhammad
14. Alwi
15. Ali Khali’ Qasam
16. Muhammad Shahib Marbath
17. Alwi Ammil Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdullah
20. Ahmad Jalaluddin
21. Ali Nuruddin
22. Maulana Mansur (8.a,b,c)/ Tumenggung Tuban (8.a,b)/ Bupati Tuban ke-7 Hariyo Tejo (1,2,3,4,5,6) / Syekh Subakir alias Muhammad Al-Baqir (8c)
23. Ahmad Sahuri alias Raden Sahur alias Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban ke-8)
24. SUNAN KALIJAGA alias Raden Said alias Lokajaya alias Syekh Malaya alias Pangeran Tuban alias Muhammad Abdussyahid (Generasi ke-24 dari Rasul, Turunan Rasul ke-23)

III. SILSILAH TAUTAN SUNAN KALIJAGA KE SAYYIDINA ABBAS PAMAN NB MUHAMMAD

1. Sayyidina ABBAS r.a bin Abdul Muthalib [Paman dari Nabi Muhammad SAW] (Sumber sebagai leluhur Sunan Kalijaga 1,2,3,5)
Menurut sumber 7.b Abbas memiliki 5 orang keturunan, diantaranya adalah

a. Abdullah bin Abbas, yang kerap disebut pula Ibnu Abbas. Dia pernah menjadi gubernur di Basrah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia meninggal dan dikuburkan di Thaif, Arab Saudi.
b. Ubaidillah bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Yaman pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Madinah.
c. Fahdl bin Abbas, dikuburkan di Syam.
d. Qutsam bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Bahrain pada masa Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Samarkand
e. Ma'bad bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Mekkah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Afrika
Silsilah Sunan Kalijaga yang bersambung ke Abbas menyebutkan melalui nama Abdullah, ada yang menuliskan dengan tambahan “Al-Baghdadi” yang bermaksud leluhur beliau pernah di negeri Irak, secara fakta Abdullah bin Abbas adalah satu2nya Putra Abbas yang pernah menjabat sebagai Gubernur di Irak, namun lebih tepatnya di Basrah-Irak. Istilah Al-Baghdadi pada silsilah leluhur Sunan Kalijaga mengindikasikan leluhur beliau adalah keturunan dari Sayyidina Abbas yang dari jalur daerah Irak. Ada yang menduga leluhur Sunan Kalijaga adalah dari Dinasti Abbasiyah Baghdad, namun penelitian penulis dari nama-nama leluhur yang tercantum tidak mengindikasikan kepada para Sultan Dinasti Abbasiyyah Baghdad yang penulis juga pegang datanya. Data leluhur Sunan Kalijaga versi ke Sayyidina Abbas yang ada, hanya mengindikasikan leluhur beliau dari daerah Irak, tidak ada yang mengindikasikan sebagai keturunan para atau beberapa Sultan Dinasti Abbasiyyah. Lantas bila kemudian kita temukan nama leluhur Sunan Kalijaga yang tidak lazim secara bahasa Arab, itu mengindikasikan leluhur beliau ada yang pindah & berbaur ke daerah Persia yang tidak begitu jauh dari Irak, bahkan pada masa tertentu Irak adalah bagian dari Persia. (Contoh nama Kharmia / Kharmis dll adalah nama dari daerah Persia).

2. Abdullah ibnu Abbas ra (Sepupu Nabi Muhammad & Ali bin Abi Thalib) (7.b&c)
3. Ali bin Abdullah (7.c&d) [Satu2 nya keturunan dari Abdullah bin Abbas yang tercatat sejarah secara resmi & mayshur]
4. Abdullah “Al-Akbar” (7.d) / Abdallah “Azhar” (2) / Abdul “Wakhid” (3) / Syekh Abdul “Wahid” Qurnqin Al Baghdadi (1)

(Istilah Al-Akbar, Azhar, & Wahid sama2 mempunyai makna yang merujuk sebagai yang paling besar, karena beliau mempunyai adik yang lebih kecil juga bernama sama yakni Abdullah dengan gelar Abdullah Al-Ashgar yang pergi ke daerah Syam 7.d)

5. Wakhis (2) / Syekh Waqid Arumni (1)
6. Mudzakir (2&3)/ Syekh Mudzakir Arumni (1)
7. Abdullah (2&3)
8. Kharmia (3) / Kharmis (2)
9. Mubarak (2&3)
10. Abdullah (2&3)
11. Ma'ruf (2) / Madhra’uf (3)
12. Arifin (2&3)
13. Hasanuddin (2&3)
14. Jamal (2&3)
15. Ahmad (2&3)
16. Abdullah (2&3)
17. Abbas (2&3)
18. Kouramas (3)/ Khurames (2)/ Syekh Kharamis (1)
19. Syekh Abdullah (1)
20. Syekh Abdurrahman (1&2)/ Abdur Rakhim (3)/ Kyai Lanang Baya (5&6)

[Suami dari Nyai Lanang Baya dengan jalur lihat Silsilah I Point 7]

21. Bupati Tuban ke-2 Haryo Ronggo Lawe (4,5,6)/ Rangga Teja Laku (1,2,3) / Syeikh Jali Al-Khalwati (1&5)/ Syekh Khawaji (1)

[Sumber 4&6 tidak membahas silsilah beliau ke atas, sebagaimana ditulis diatas, namun hampir semua sumber silsilah Kalijaga yang terkait, baik ke data leluhur local maupun ke leluhur zuriyyat bani Abbas memiliki titik temu pada nama terakhir diatas. Sumber 5&6 menyebut beliau sebagai cucu dari garis ibu beliau ke penguasa lokal Tuban sebelumnya yakni Raden Dandang Wacana / Kyai Gede Papringan. Semua sumber lain yang terkait, masyhur mengenal beliau sebagai keturunan arab melalui Sayyidina Abbas yang bekerja di bawah pemerintahan Majapahit dengan silsilah secara garis besar sebagaimana tersebut di atas]

[Pada masa ini Tuban memang berada di bawah kekuasaan Majapahit]

22. Bupati Tuban ke-3 Haryo Siro Lawe (5&6)
23. Bupati Tuban ke-4 Haryo Siro Wenang (5&6)
24. Bupati Tuban ke-5 Haryo Lana (5&6)/Arya Teja I (1&4)
25. Bupati Tuban ke-6 Haryo Dikoro (5&6)/ Arya Teja II (1&4) BERPUTRI *(6)

[Putri beliau sebagai istri dari penguasa Tuban selanjutnya yang dari Arab secara objektif dapat kita temukan pada sumber no.6 pada Babad Tuban yang menjelaskan tentang sejarah para Bupati Tuban]

26. Raden Ayu Haryo Tejo [Istri dari Bupati Tuban ke-7 Haryo Tejo Kusumo (1,2,4,5,6) / Arya Teja III (4)/

[Pada masa ini & masa putra beliau adalah masa transisi kepenguasaan akan Tuban dari Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Demak]

27. Bupati Tuban ke-8 Tumenggung Wilatikta
28. SUNAN KALIJAGA / Raden Said / Jaka Said / Syekh Malaya / Lokajaya / Raden Abdurraman / Pangeran Tuban / Muhammad Abdussyahid

Sebagai perbandingan Sunan Kalijaga disini sebagai turunan sepupu nabi Abdullah bin Abbas ke 26 generasi ke 27 sedangkan dari Nabi Muhammad turunan ke 23 generasi ke 24.. Hal ini masih masuk akal secara karena diantara sesame turunan nabi lazim ditemukan sejamannya generasi ke 38 dgn yg ke 42.

Alasan-alasan Silsilah ke atas Sunan Kalijaga ke Rasul di kalangan keluarga besar keturunannya kurang dikenal adalah karena :
1. dikarenakan kerabat keluarga besar beliau amat jarang mengedepankan nasab, demi dakwah membaur & merakyat, sehingga sebagian besar keturunan kehilangan data silsilah ke atas beliau yang bersambung ke Nabi Muhammad, apalagi Sunan Kalijaga merupakan anggota Walisongo yang paling membaur dengan rakyat kebanyakan, termasuk dalam budayanya.
2. Selain itu kerabat keluarga besar beliau di daerah asal beliau Tuban, para penguasa Tuban selepas ayahnya adalah dzuriyyat keturunan Haryo Dikoro yang bukan merupakan itrah keturunan Nabi Muhammad. Sehingga jalur silsilah leluhur para pemimpin Tuban ke Abbas atau ke leluhur lokal Jawa mereka lebih dikenal, lantas silsilah nasab keturunan Sunan Kalijaga terbaur dengan silsilah nasab keluarga besar mereka di Tuban, dikarenakan pula pembauran dengan budaya Jawa yang menyambungkan keturunan baik dari garis laki & perempuan sehingga datanya terbaur
3. Kemungkinan lain akibat pengaruh penjajah pula sehingga silsilah Sunan Kalijaga ke Rasul amat jarang dikenal oleh keluarga keturunannya kecuali oleh sedikit yang terpercaya kredibilitasnya dalam kepedulian akan pelestarian data nasab keluarga ini serta telah banyak berkorban, sehingga Habaib ahli nasab yang meneliti & mempelajari secara hati-hati Silsilah Walisongo ke Rasul turut pula yakin menyertakan Sunan Kalijaga & putra beliau Sunan Muria sebagai Sayyid keturunan Nabi Muhammad, bagian dari Keluarga Besar garis laki Azmatkhan Ba’alawy Al-Husaini.
4. Ada yang meyakini Sunan Kalijaga bukan keturunan langsung Nabi akibat kisah subjektif daerah tertentu yang mengisahkan Sunan Kalijaga tidak dapat bertahan sebagai Wali Qutub sebagaimana gurunya akibat bukan keturunan langsung Nabi. Menurut pendapat penulis setiap kisah tentang posisi maqam spiritual anggota walisongo tertentu yang lebih tinggi dari yang lain lantas berbeda-beda di tiap daerah & tiap keturunannya, merupakan hal yang dekat dengan peranan pengaruh penjajah dalam memecah belah dzuriyyat keluarga besar keturunan Walisongo. Al-Quran saja di ayat terakhir ke-2 Surat Al-Baqarah melarang kita untuk membeda-bedakan nabi-Nya, begitu pula seharusnya terhadap Wali-Nya.

IV. PARA BUPATI TUBAN SELEPAS WILATIKTA YANG MERUPAKAN DZURIYYAT AHLUL BAYT ITRAH SAYYIDINA ABBAS RA

(Pergantian kepemimpinan selain antara ayah ke anak juga antara mertua ke menantu, kakak ke adik serta paman ke keponakan)
§ Bupati Tuban ke-9 Kyai Ageng Ngraseh BIN Bupati Tuban ke-6 Haryo Dikoro (Adik Ipar Bupati Tuban ke-7, Paman jalur ibu sekaligus menantu dari Bupati Tuban sebelumnya / Bupati ke-8 Tumenggung Wilatika)
§ Bupati Tuban ke-10 Kyai Ageng Gegilang BIN Bupati Tuban ke-9
§ Bupati Tuban ke-11 Kyai Ageng Batabang BIN Bupati Tuban ke-10
§ Bupati Tuban ke-12 Raden Hariyo Balewot BIN Bupati Tuban ke-11; mempunyai 2 orang putra yakni Pangeran Sekartanjung (Bupati Tuban ke-13) dan Pangeran Ngangsar (Bupati Tuban ke-14)
§ Bupati Tuban ke-13 Pangeran Sekartanjung BIN Bupati Tuban ke-12 [mempunyai putra 2 orang yaitu Pangeran Hariyo Permalat (Bupati Tuban ke-15) dan Hariyo Salampe (Bupati Tuban ke-16)
§ Bupati Tuban ke-14 Pangeran Ngangsar BIN Bupati Tuban ke-12 (adik dari Bupati sebelumnya)
§ Bupati Tuban ke-15 Pangeran Hariyo Permalat BIN Bupati Tuban ke-13 (keponakan dari Bupati sebelumnya); menikahi putri Sultan Pajang Jaka Tingkir berputra Pangeran Dalem (Bupati Tuban ke-17)
[Pada masa ini Tuban berada di bawah kekuasaan kerajaan Pajang, karena Kerajaan Pajang tidak bertahan lama, lantas penguasaan akan daerah Jawa secara umum dan Tuban secara khusus, digantikan oleh Kerajaan Mataram]
§ Bupati Tuban ke-16 Hariyo Salampe BIN Bupati Tuban ke-13 (adik dari Bupati sebelumnya)
§ Bupati Tuban ke-17 Pangeran Dalem BIN Bupati Tuban ke-15 (keponakan dari Bupati sebelumnya)
[Pada masa ini Tuban melakukan perlawanan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram]

Tahun 1619 Pangeran Dalem kalah dalam perlawanan beliau melawan Pasukan Mataram di bawah pimpinan Pangeran Pojok (lantas menjadi Bupati Tuban ke-18) dari Mataram pada masa kekuasaan Sultan Agung Mataram. Pangeran Dalem lantas melarikan diri ke Pulau Bawean. Tetapi di Pulau Bawean beliau tidak lama tinggal, kemudian pergi ke Desa Rajekwesi (Bojonegoro sekarang). Pada waktu itu Rajekwesi masih merupakan hutan dan di bawah pemerintahan Jipang Panolan. Setelah menetap 5 tahun lamanya di Rajekwesi, Pangeran Dalem mangkat dan dimakamkan di Desa Kadipaten terletak di sebelah timur Kota Bojonegoro. Hingga kini makam tersebut masih ada, terkenal dengan nama makam Buyut Dalem. (Dengan sebutan “buyut” besar kemungkinan beliau meninggalkan keturunan yang masytur)

Selepas Bupati Tuban ke-17, Tuban tidak lagi dipimpin oleh Trah keturunan dari leluhur pemuka Tuban di atas, namun oleh para pemimpin yang ditunjuk Penguasa yang memiliki otoritas akan Tuban. Seandainya pun memiliki kekerabatan dengan keluarga ini setidaknya hubungan tersebut belum dikenal.

V. MENGENAI LEMBU SURO – [HUBUNGAN KEKERABATAN ANTARA PEMIMPIN TUBAN - RAJA SURABAYA - RAJA MAJAPAHIT & KELUARGA SUNAN AMPEL]

Terdapat versi yang menyebutkan diantara leluhur Sunan Kalijaga ke para pemimpin Tuban diantaranya terdapat yang menjadi Pemimpin Surabaya di masa lalu, yakni Lembu Suro (ada yang menyebut beliau sebagai Gubernur ada yang menyebut beliau sebagai RAJA), Hal ini merupakan pembauran data. Berdasarkan Data dari (5)poster silsilah Rabitah Azmatkhan yang disusun dari berbagai sumber, ternyata Lembu Suro adalah Ayah mertua dari Haryo Tejo (kakek Sunan Kalijaga) dari istri lain beliau.

Jadi Haryo Tejo tercatat memiliki 2 istri yakni :
1. Putri Bupati Tuban (binti Haryo Dikoro)
2. Putri Raja Surabaya (binti Haryo Lembu Suro).

Kedua istri beliau tersebut ternyata diketahui sama-sama berjalur keturunan dari Ronggo Lawe alias Teja Laku alias Syeikh Jali Khalwati keturunan Sayyidina Abbas. Namun karena berbeda ibu, Tumenggung Wilatikta & putra beliau Sunan Kalijaga sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengan Lembu Suro, namun diakibatkan Lembu Suro dikenal di beberapa masyarakat umum sebagai ayah dari Haryo Tejo, (padahal ayah mertua dr istri lain beliau) sehingga nama beliau di sebagian versi terbaur dalam data silsilah Sunan Kalijaga.

Putri dari Lembu Suro hasil dari pernikahannya dengan Putri dari Prabu Brawijaya III Majapahit ; dinikahi oleh Haryo Tejo Bupati Tuban ke-7 lantas menghasilkan seorang Putri (saudari lain ibu dari wilatikta) bernama Dewi Condrowati yang lantas dinikahi Sunan Ampel dan menghasilkan beberapa keturunan antara lain Sunan Bonang, Sunan Drajat dll. Dari sini menjadi jelas beberapa keturunan Sunan Ampel (beliau juga punya beberapa istri lainnya) memiliki tautan darah dari garis perempuan ke Sayyidina Abbas pula, namun bukan melalui para Bupati Tuban di atas Haryo Tejo seperti yang diduga sebelumnya namun melalui jalur Lembu Suro Raja Surabaya yang juga keturunan Sayyidina Abbas.

VI. SUMBER-SUMBER :

1. Silsilah Sunan Kalijaga keluaran Yayasan Sunan Kalijaga Kadilangu Demak anggota dari Perhimpunan Pemangku Makam Auliya’ se-Jawa (PPMA), tanpa mengurangi rasa hormat silsilah versi ini belum lengkap, namun amat berharga sebagai acuan dasar jalur leluhur Al-Abbas ke Sunan Kalijaga dan para Bupati Tuban pada masa-masa awal.
2. Silsilah Sunan Kalijaga jalur Arab versi Al-Abbas yg tertulis di buku Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia karya Prof. H.S. Tharick Chehab
3. Silsilah Sunan Kalijaga jalur Arab versi Al-Abbas yang tertulis di “De Handramaut et les Colonies Arabes dan’l Archipel Indian” Karya Mr. C.L.N. Van den Berg, yang dikutip Umar Hasyim, dalam Sunan Kalijaga, Penerbit Menara, Kudus, 1974, hlm. 4
4. Silsilah Sunan Kalijaga sbg turunan Jawa yg bersumber dr keturunannya sendiri yg tertulis dalam : Sunan Kalijaga, Penerbit Menara, Kudus, 1974, hlm. 5 karya Umar Hasyim
Hanya tertulis jalurnya (belum dilengkapi ke atasnya) : adipati Ronggolawe (Bupati Tuban) -> Aria Teja I (bupati Tuban) -> Aria Teja II (Bupati Tuban) -> Aria Teja III (Bupati Tuban) -> Raden Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban) -> Raden Mas Said (Sunan Kalijaga).
5. Poster Silsilah Nasab Rabithah Azmatkhan / IKAZHI
6. Sejarah para Adipati Tuban dari BABAD TUBAN disarikan di :
http://adipatironggolawe.blogspot.com/2008/09/tuban-ii.html
7. Wikipedia mengenai Bani Abbas dan keturunannya :
a. http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Abbasiyah
b. http://id.wikipedia.org/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib
c. http://en.wikipedia.org/wiki/%60Abd_Allah_ibn_%60Abbas
d. http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abdullah
8. Silsilah Sunan Kalijaga yang bernasab ke Rasulullah, bersumber pada:
a. Kitab Syajaroh & Tarikh Al Azamat Khan dikutip dalam “Sejarah & Silsilah dari Nabi Muhammad SAW ke Walisongo oleh Drs. Aburumi Zainal Lc. – Habib Zainal Abidin Assegaf sebagai data Naqobatul Asyrof
b. Kitab Syamsud Dhahirah, Karya Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain Al-Masyhur sebagai data Rabithah Alawiyyah
c. Kitab Nasab Wali Songo, Karya Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons