Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.

Jumat, 22 Maret 2013

Biografi Singkat Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi

Gaya bahasanya istimewa. Tulisannya proporsional dengan tema-tema yang diusungnya. Isinya tidak melenceng dan keluar dari akar permasalahan dan kaya akan sumber-sumber rujukan.

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI`UN, Kita telah kehilangan ulama terbaik kita masa kini AL'ALIM AL`ALLAMAH ASY SYAIKH SAID RAMADLAN AL BUTHI rahimahullahuta'ala tepat saat beliau mengisi Ta`lim di Masjid Al Iman di Kota Damaskus, Suriah, ba`da maghrib Kamis, 21 Maret 2013. Beliau Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi adalah salah seorang tokoh ulama dunia yang menjadi sumber rujukan masalah-masalah keagamaan.

Ketika kritikan terhadap tradisi Maulid dan dzikir berjama’ah, misalnya, dilontarkan para pengklaim “muslim sejati”, Al-Buthi hadir menjawab kritikan itu. Tak tanggung-tanggung, dalil yang digunakan sama persis dengan dalil yang diambil para pengkritik itu.

Pada sisi lainnya, ia juga mengkritik dengan tajam pola pikir Barat. Ujaran-ujarannya membuat stereotip yang negatif tentang Islam dan ketimuran pun luruh.

Siapakah tokoh ulama kontemporer yang begitu alim ini? Sa’id Ramadhan Al-Buthi lahir pada tahun 1929 di Desa Jilka, Pulau Buthan (Ibn Umar), sebuah kampung yang terletak di bagian utara perbatasan antara Turki dan Irak. Ia berasal dari suku Kurdi, yang hidup dalam berbagai tekanan kekuasaan Arab Irak selama berabad-abad.

Bersama ayahnya, Syaikh Mula Ramadhan, dan anggota keluarganya yang lain, Al-Buthi hijrah ke Damaskus pada saat umurnya baru empat tahun. Ayahnya adalah sosok yang amat dikaguminya.

Pendidikan sang ayah sangat membekas dalam sisi kehidupan intelektualnya. Ayahnya memang dikenal sebagai seorang ulama besar di Damaskus. Bukan saja pandai mengajar murid-murid dan masyarakat di kota Damaskus, Syaikh Mula juga sosok ayah yang penuh perhatian dan tanggung jawab bagi pendidikan anak-anaknya.

Dalam karyanya yang mengupas biografi kehidupan sang ayah, Al-Fiqh al-Kamilah li Hayah asy-Syaikh Mula Al-Buthi Min Wiladatihi Ila Wafatihi, Syaikh Al-Buthi mengurai awal perkembangan Syaikh Mula dari masa kanak-kanak hingga masa remaja saat turut berperang dalam Perang Dunia Pertama. Kemudian menceritakan pernikahan ayahnya, berangkat haji, hingga alasan berhijrah ke Damaskus, yang di kemudian hari menjadi awal kehidupan baru bagi keluarga asal Kurdi itu.

Masih dalam karyanya ini, Al-Buthi menceritakan kesibukan ayahnya dalam belajar dan mengajar, menjadi imam dan berdakwah, pola pendidikan yang diterapkannya bagi anak-anaknya, ibadah dan kezuhudannya, kecintaannya kepada orang-orang shalih yang masih hidup maupun yang telah wafat, hubungan baik ayahnya dengan para ulama Damaskus di masa itu, seperti Syaikh Abu Al-Khayr Al-Madani, Syaikh Badruddin Al-Hasani, Syaikh Ibrahim Al-Ghalayayni, Syaikh Hasan Jabnakah, dan lainnya, yang menjadi mata rantai tabarruk bagi Al-Buthi. Begitu besarnya atsar (pengaruh) dan kecintaan sang ayah, hingga Al-Buthi begitu terpacu untuk menulis karyanya tersebut.



Dari Damaskus ke Kairo

Sa’id Ramadhan Al-Buthi muda menyelesaikan pendidikan menengahnya di Institut At-Tawjih Al-Islami di Damaskus. Kemudian pada tahun 1953 ia meninggalkan Damaskus untuk menuju Mesir demi melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana S1 di bidang syari’ah. Pada tahun berikutnya di universitas yang sama, ia mengambil kuliah di Fakultas Bahasa Arab hingga lulus dalam waktu yang cukup singkat dengan sangat memuaskan dan mendapat izin mengajar bahasa Arab.

Kemahiran Al-Buthi dalam bahasa Arab tak diragukan. Sekalipun bahasa ini adalah bahasa ibu orang-orang Arab seperti dirinya, sebagaimana bahasa-bahasa terkemuka dalam khazanah peradaban dunia, ada orang-orang yang memang dikenal kepakarannya dalam bidang bahasa, dan Al-Buthi adalah salah satunya yang menguasai bahasa ibunya tersebut. Di samping itu, kecenderungan kepada bahasa dan budaya membuatnya senang untuk menekuni bahasa selain bahasa Arab, seperti bahasa Turki, Kurdi, bahkan bahasa Inggris.

Selulusnya dari Al-Azhar, Al-Buthi kembali ke Damaskus. Ia pun diminta untuk membantu mengajar di Fakultas Syari’ah pada tahun 1960, hingga berturut-turut menduduki jabatan struktural, dimulai dari pengajar tetap, menjadi wakil dekan, hingga menjadi dekan di fakultas tersebut pada tahun 1960.

Lantaran keluasan pengetahuannya, ia dipercaya untuk memimpin sebuah lembaga penelitian theologi dan agama-agama di universitas bergengsi di Timur Tengah itu.

Tak lama kemudian, Al-Buthi diutus pimpinan rektorat kampusnya untuk melanjutkan program doktoral bidang ushul syari’ah di Al-Azhar hingga lulus dan berhak mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu-ilmu syari’ah.

Aktivitasnya sangat padat. Ia aktif mengikuti berbagai seminar dan konferensi tingkat dunia di berbagai negara di Timur Tengah, Amerika, maupun Eropa. Hingga saat ini ia masih menjabat salah seorang anggota di lembaga penelitian kebudayaan Islam Kerajaan Yordania, anggota Majelis Tinggi Penasihat Yayasan Thabah Abu Dhabi, dan anggota di Majelis Tinggi Senat di Universitas Oxford Inggris.

Penulis yang Sangat Produktif

Al-Buthi adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karyanya mencapai lebih dari 60 buah, meliputi bidang syari’ah, sastra, filsafat, sosial, masalah-masalah kebudayaan, dan lain-lain. Be­berapa karyanya yang dapat disebutkan di sini, antara lain, Al-Mar‘ah Bayn Thughyan an-Nizham al-Gharbiyy wa Latha‘if at-Tasyri’ ar-Rabbaniyy, Al-Islam wa al-‘Ashr, Awrubah min at-Tiqniyyah ila ar-Ruhaniyyah: Musykilah al-Jisr al-Maqthu’, Barnamij Dirasah Qur‘aniyyah, Syakhshiyyat Istawqafatni, Syarh wa Tahlil Al-Hikam Al-‘Atha‘iyah, Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah, Hadzihi Musykilatuhum, Wa Hadzihi Musykilatuna, Kalimat fi Munasabat, Musyawarat Ijtima’iyyah min Hishad al-Internet, Ma’a an-Nas Musyawarat wa Fatawa, Manhaj al-Hadharah al-Insaniyyah fi Al-Qur‘an, Hadza Ma Qultuhu Amama Ba’dh ar-Ru‘asa‘ wa al-Muluk, Yughalithunaka Idz Yaqulun, Min al-Fikr wa al-Qalb, La Ya‘tihi al-Bathil, Fiqh as-Sirah, Al-Hubb fi al-Qur‘an wa Dawr al-Hubb fi Hayah al-Insan, Al-Islam Maladz Kull al-Mujtama’at al-Insaniyyah, Azh-Zhullamiyyun wa an-Nuraniyyun.

Gaya bahasa Al-Buthi istimewa dan menarik. Tulisannya proporsional dengan tema-tema yang diusungnya. Tulisannya tidak melenceng dan keluar dari akar permasalahan dan kaya akan sumber-sumber rujukan, terutama dari sumber-sumber rujukan yang juga diambil lawan-lawan debatnya.

Akan tetapi bahasanya terkadang tidak bisa dipahami dengan mudah oleh kalangan bukan pelajar, disebabkan unsur falsafah dan manthiq, yang memang keahliannya. Oleh karena itu, majelis dan halaqah yang diasuhnya di berbagai tempat di keramaian kota Damaskus menjadi sarana untuk memahami karya-karyanya.

Walau demikian, sebagaimana dituturkan pecinta Al-Buthi, di samping mampu membedah logika, kata-kata Al-Buthi juga sangat menyentuh, sehingga mampu membuat pembacanya berurai air mata.



Pembela Madzhab yang Empat

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengasuh halaqah pengajian di masjid Damaskus dan beberapa masjid lainnya di seputar kota Damaskus, yang diasuhnya hampir tiap hari. Majelis yang diampunya selalu dihadiri ribuan jama’ah, laki-laki dan perempuan.

Selain mengajar di berbagai halaqah, ia juga aktif menulis di berbagai media massa tentang tema-tema keislaman dan hukum yang pelik, di antaranya berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh para pembaca. Ia juga mengasuh acara-acara dialog keislaman di beberapa stasiun televisi dan radio di Timur Tengah, seperti di Iqra‘ Channel dan Ar-Risalah Channel.

Dalam hal pemikiran, Al-Buthi dianggap sebagai tokoh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang gencar membela konsep-konsep Madzhab yang Empat dan aqidah Asy’ariyah, Maturidiyah, Al-Ghazali, dan lain-lain, dari rongrongan pemikiran dan pengkafiran sebahagian golongan yang menganggap hanya merekalah yang benar dalam hal agama. Berbekal pengetahuannya yang amat mendalam dan diakui berbagai pihak, ia meredam berbagai permasalahan yang timbul dengan fatwa-fatwanya yang bertabur hujjah dari sumber yang sama yang dijadikan dalil para lawan debatnya. Ujaran-ujaran Al-Buthi juga menyejukkan bagi yang benar-benar ingin mema­hami pemikirannya.

Al-Buthi bukan hanya seorang yang pandai di bidang syari’ah dan bahasa, ia juga dikenal sebagai ulama Sunni yang multidisipliner. Ia dikenal alim dalam ilmu filsafat dan aqidah, hafizh Qur’an, menguasai ulumul Qur’an dan ulumul hadits de­ngan cermat. Sewaktu-waktu ia melakukan kritik atas pemikiran filsafat materialisme Barat, di sisi lain ia juga melakukan pembelaan atas ajaran dan pemikiran madzhab fiqih dan aqidah Ahlussunnah, terutama terhadap tudingan kelompok yang menisbahkan dirinya sebagai golongan Salafiyah dan Wahabiyah.

Dalam hal yang disebut terakhir, ia menulis dua karya yang meng-counter berbagai tudingan dan klaim-klaim mereka, yakni kitab berjudul Al-Lamadzhabiyyah Akbar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’ah al-Islamiyyah dan kitab As-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Mubarakah wa Laysat Madzhab Islamiyy. Begitu pula hubungannya dengan gerakan-gerakan propaganda keislaman seperti Ikhwanul Muslimin Suriah yang tampak kurang baik, tentunya dengan berbagai perbedaan pandangan, yang menjadikan ketidaksetujuannya itu tampak dalam sebuah karya yang berjudul Al-Jihad fi al-Islam, yang terbit pada tahun 1993.

Tawassuth
Di era 1990-an, Al-Buthi telah menampakkan intelektualitasnya dengan menggunakan sarana media informasi, seperti televisi dan radio. Ini demi mengusung pemikiran-pemikirannya yang ta­wassuth (menengah) di tengah gerakan-gerakan fundamentalisme Islam yang bermunculan.

Sayangnya, kedekatannya dengan penguasa politik Suriah saat itu, Hafizh Al-Asad, menjadi bumbu tak sedap di kalangan pemerhati politik. Namun kedekatannya itu juga menjadi siasat politik Suriah dalam menyokong perjuangan Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) dalam menghadapi aneksasi Israel, sekalipun beberapa pandangannya bertolak belakang dengan gerakan-gerakan semacam itu.

Kini, di usia yang semakin senja, Syaikh Al-Buthi masih tetap menulis, baik lewat website yang diasuhnya maupun beberapa media massa dan elektronik lainnya. Betapa besar harapan umat ini, khususnya kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, menanti karya-karyanya yang lain terlahir, untuk memenuhi dahaga ilmu yang tak pernah habis-habisnya. Di mata beberapa ulama dan ustadz-ustadz yang pernah menimba ilmu di Suriah, saat ini Al Buthi lebih dikenal sebagai tokoh ulama sufi dibanding tokoh pergerakan. Buku-buku karya Al Buthi banyak beredar di Indonesia dan karyanya banyak menjadi rujukan. Salah satu bukunya berisi kritik terhadap gerakan kelompok Salafy Wahabi berjudul Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun....Kata Al-Habib Ali-Al-Jufri "Aku telah menelefonnya dua minggu lepas dan beliau (Dr Ramadhan Al-Buti) berkata pada akhir kalamnya:"Tidak tinggal lagi umur bagi aku melainkan beberapa hari yang boleh dikira. Sesungguhnya aku sedang mencium bau syurga dari belakangnya. Jangan lupa wahai saudaraku untuk mendoakan aku"

Pada beberapa hari sebelum kewafatannya, beliau berkata "Setiap apa yang berlaku padaku atau yang menuduhku daripada ijtihadku, maka aku harap ia tidak terlepas dari ganjaran ijtihad" (yang betul mendapat dua ganjaran dan yang tidak mendapat satu ganjaran). Semoga Allah senantiasa memberikan ampunan dan Rahmat yang agung kepada beliau, amiin

Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4160382706675&set=a.2127297480815.79724.1797291145&type=1&theater

Jumat, 22 Februari 2013

KH. Ahmad Basyir Jekulo Kudus

KH. Ahmad Basyir, Ngaji Riwayah dan Diroyah

بدلائل الخيرات كن متمسكا والزم قرأتها تنل ما تبتغى
Ulama’ adalah pewaris para nabi. Ia mamainkan peran yang tidak sedikit dalam masyrakat. Sebagai center of attention in Islamic civilization (figure sentral dalam masyarakat Islam ) ulama’ tak obahnya pengayom masyarakat yang perannya selalu dirindukan. Dalam lokalitas masyarakat manapun keberadan ulama’ menjadi unsur yang paling menentukan bagi nafas hidup wilayah itu. Kudus, eksistensinya sebagai kota santri tetap survive karena keberadaan para ulama’ yang selalu mengayomi. Maka tak heran jika Kudus menjadi simpul keilmuan para santri baik dari dalam, maupun luar daerah. Tak ubahnya Kudus menjadisurga bagi santri mengapa? Karena Kudus adalah gudang ulama’ khos. Banyak ulama’ di Kudus yang menjadi simpul peraduan masyarakat salah satu diantaranya adalah KH. Ahmad Basyir.
Masa kecil
30 november 1924 M silam adalah hari yang paling indah bagi pasutri Kyai Muhammad Mubin dan Nyai Dasireh. Hari itu, lahir seorang bayi mungil yang kelak menjadi orang besar, ulama’yang berpengaruh di tengah masyarakat, menjadi rujukan banyak orang dari berbagia penjuru tanah air. Oleh kedua orang tuanya, bayi itu dititihkan nama Ahmad Basyir, orang yang menyuguhkan nafas kebahagian bagi umat. Kelahiran beliau adalah “anugerah” terindah, bukan hanya bagi kedua orang tuanya, namun juga banyak kaum muslimin diseluruh tanah air.
Memburu ilmu
Saat usia kanak-kanak, KH. Ahmad Basyir mengenyam pendidikan formal di Veer Folex Schooll (sekarang SD) dan menamatkan jenjang kelas V. Pada saat itu belum ada jenjang kelas VI. Sekolah tempat KH.Ahmad Basyir mengenyam pendidikan formal itu sekarang menjadi SD Negeri 1 Jekulo. Selama mengenyam pendidikan di sana, beliau acapkali menjadi juara kelas. Karena prestansinya yang begitu gemilang, beliau pernah ditawari untuk diambil anak oleh gurunya di sekolah itu. Tujuannya akan dididik untuk jadi guru di sekolah itu.
Usai menamatkan pendidikan di Veer FolexSchooll, beliau melanjutkan pendidikan non formal di madrasah Diniyyah yang sekarang bernama Tarbiyatus Sibyan. Di madrasah ini beliau dididik oleh para Kyai sepuh, diantaranya adalah KH.Dahlan. di luar aktifitas belajar di madrasah Diniyyah, beliau mengaji kepada KH. Mansyur Kaelani, KH. Yasin, K. Hudlori dan KH. Zainuddin.
Dalam bidang Al-Qur’an, masa muda beliau berguru kepada Kyai Muhammad Mubin (ayahnya sendiri) dan Kyai Mukhib, dan pentashihan Al-Qur’an kepada KH. Mansyur Jekulo.
Selain rasa haus beliau terhadap ilmu, ketika masih remaja, beliau juga mulai gemar berziarah kemakam-makam para wali, seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, makam mbah Ahmad Mutamakkin Kajen, dan makam para wali di Jekulo, diantaranya, Mbah Abdul Jalil, Mbah Abdul Qohhar, Mbah Sewonegoro, Mbah Sanusi, Mbah Yasin, Mbah Ahmad, Mbah Rifa’I dan Mbah Suryo Kusumo (Mejobo), yang tidak pernah beliau tinggalkan hingga sekarang. Itu adalah perwujudan rasa ta’dzim beliau kepada para Masyayeh dan Auliya’.
Termasuk tradisi beliau saat masa mudanya adalah silaturrahim kepada para Ulama’, seperti KH. Hamid Pasuruan. Beliau juga sering mengikuti khataman Al Qur’an bersama Mbah Arwani Kudus, baik di Kudus maupun di luar daerah.
Sebelum betul-betul menetap dalam menimba ilmu di PP. Bareng 1923 (sekarang PP. Al Qaumaniyah), pada tahun 1940 M beliau juga sempat nyantri dan menghatamkan Alfiyah di PP.Kenepan Langgar Dalem Kudus, waktu itu beliau berguru dengan KH. Ma’mun Ahmad, menghatamkan Al Qur’an kepada KH. Arwani Amin serta berguru kepada para Masyayeh di sekitar Kudus, diantaranya adalah KH. Irsyad danKH. Khandiq, kakak dari KH. Turaichan Adjhuri Kudus.
Saat beliau masih usia remaja, Mbah basyir seringmengikuti Romonya mengajar di Pesantren, oleh ibunya Nyai Dasireh Kyai Basyir kecil juga sering diajak sowan kepada Mbah Yasin saat itulah beliau diwejangi oleh Mbah Yasin agar beliau mengurungkan niatnya menjadi guru sekolah. Beliau diajak oleh mbah Yasin agar nyantri pada mbah beliau, si mbah yasin itulah yang mengukir jiwa mbah Basyir.
Mulai saat itu mbah Basyir mengabdi pada mbah Yasin mulai dari abdi dalem hingga jadi qori’, menjadi badal mbah Yasin mengajar para santri. Sejak saat itu, terkenal tiga serangkai ulama’ yang termasyhur, yaitu Kyai Muhammad, putra mbah Yasin, Kyai Hanafi menantunya, dan mbah Basyir sebagai lurah pondoknya. Pada waktu nyantri pada mbah Yasin beliau juga menimba ilmu pada KH. Muhammadun Pondohan Tayu.
Aktivis
Semas mudanya sekitar tahun 1944-1945 M. beliau bergabung dalam BPRI ( badan perjuanganrepublic Indonesia) sebuah organisasi pemuda yang gigih memperjuangkan kemerdekaan RI saat itu BPRI dipimpin oleh bapak karmain dan bapak mulyadi jekulo. Sebelum masuk BPRI beliau masuk organisasi GPII ( gerkan pemuda islam Indonesia)
Masa perjuangan kemerdekaan saat itu, beliau faham betul, karena beliau adalah pelaku sejarah. Saat itu, kiayi basyir menjabat ketua pondok. Setiap ada pejuang yang ditahan direndenga, beliau bergegas mengupayakan sesuatu untuk membebaskannya.
Dalam pengembaraannya untuk tolabul ilmi pada tahun 1949 M. beliau kembali ke daerah jekulo dan kembali nyantri di popes bareng jekulo asuhan kiayi H yasin. Sembari menimba ilmu, beliau mengabdi kepada kh. Yasin. Semua urusan mbah yasin beliau yang mengurusi. Bahkan, menyimpan uang sekalipun dipercayakan kepada mbah basyir. Suatu ketika mbah yasin waktu itu menderita penyakit bawasir. Dalam kondisi ini, mbbah basir selalu ada untuk merawat beliau.
Kiayi basir dapat banyak mendapatkan pelajaran berharga dari pengabdiannya pada simbah yasin. Beliau tidak hanya mengaji riwayah, tetapi juga mengaji dirayah.
Sembari mengaji dan mengabdi, beliau melakukan riyadhah puasa tahunan, ijazah dari mbah yasin. Adab beliau pada sang guru begitu luar biasa. Konon, setiap merampungkan riyadah puasa berliau tidak berani meminta khizib ibi atau itu. Beliau matur kepada simbah yasin,” kulo sampun ba’do siyam”, tidak “nyuwun niki niku”
“Ini rasa ta’dhim kepada guru” inilah cara orang dahulu dalam ta’dhgim kepada guru, bagaimana mereka merasakan ilmunya,” ujuar kiayi KH. Ahmad badawi (putra kiayi basyir).
KH basyir menghabiskan masa mudanya sebagai santri, abdi kiayi, hari beliau dipenuhi dengan rutinitas berlajar, pekerjaan keseharian danpuasa. Rutin dengan riyadha selama puluhan thahun, pada th 1958 M oleh KH yasin beliau diserahi ijaZah dalail khoiroit beserta khizib-khizibnya.
Mendirikan pesantren
Pada tahun 1969M. bersama dengan kiayi lain, beliau mendirikan madrasah diniyah Nurul Ulum Jekulo Kudus. Nama nurul ulum merupakan pemberian KH. Cholil. Madrasah tersebut dipimpin kyai Khalimi dengan guru-gurunya adalah K. Cholil, KH. Khalimi, KH. Ahmad Basyir, dan K Mahin
Tahun 1970 M. beliau mendirikan pesantren Darul Falah yang bertempat disebelah utara masjid kauman jekulo. Cikal pesantren ini merupakan wakaf dari H. Basyir. H. Basyir memberi wakaf bangunan kuno kepada K AhmadBasyir. Kemudian bangunan itu dijadikan pondok pesantren yang diberi nama DARUL FALAH, tepatnya pada tanggal 1 januari 1970 M.
Berkeluarga
KH. Ahmad Basyir menikah dengan Hj. Sholikhah binti KH. Abdul Ghoni yang lahir didesa Hadiwarno Mejobo Kudus pada tanggal 31 desember 1946 M. pernikahannya dengan Nyai Hj. Sholihah ini dikaruniai Sembilan anak.
Dimata keluarga, kyai Basyir adalah sosok ayah yang penyanyang. Beliau selalu memberi teladan kepada keluaganya. Keuletan dan kesabaran beliau menjadi inspirasi bagi putra putrinya. Sosok K Basyir di tengah keluarga tidak sekedar kepala rumah tangga, tetapi juga sosok idola yang menjadi inspirasi teladan putra-putrinya.
K. Basyir adalah sosok ayah yang bertanggung jawab, penuh dedikasi dan berfikir progresif. Perjuangan beliau untuk keluarga tak pernah letih, apalagi putus asa. Tidak sedikit perjuangan beliau untuk anak anaknya. Pada saatitu dibareng tidak ada tradisi sekolah. Sekolah formal di mata masyarakat bareng adalah tabu. Kendati demikian K Basyir menyurau anaknya sekolah. Setiap pagi beliau menggayuh sepeda hingga kudus kulon untuk mengantarkan putrinya sekolah. Saat itu beliau menyekolahkan putrinya dimadrasah Mualimat. Di mata masyarakat. KH. Ahmad Basyir , sosok yang moderat dan menjadi pembaharu.
Menghadapi masyarakat beliau tampil khas dan kharismatik. Kedatangan tamu yang beragam jenis dari berbagai penjuru, dengan karakte masing masing, dengan membawa masalah yang kompleks, beliau menghadapinya dengan santun dan hormat tanpa membedakan.
Beliau orang yang tidak pemarah, dikerutan wajahnya yang bersinar itu, beliau selalu tersenyum segar. Senyum itu menjadi siraman rohani bagi orang yang beliau temui. Di mata santri dan masyarakat beliau adalah dermawan. Komitmen beliau jangan sampai santri rekoso dalam belajar. Beliau menangisi (memperjuangkan) anak dan santri (sungguh) luar biasa. Ujar KH. Badawi. KH. Ahmad Basyir memegang falsafah ilmu itu harus diamalkan walau hanya satu kali, kalau ingin manfaat.
Teladan
KH. Ahmad Basyir adalah teladan yang patut kita contoh. Beliau adalah seorang ulama’ yang mentradisikan riyadhoh (laku prihatin) sejak mudanya hingga sekarang. Tradisi itu masih beliau pegangi hingga usia ke 88 tahun ini. Keseharian beliau dihabiskan untuk beribadah, berjama'ah, ngucal kitab kuning, ziarah, menyuguh tamu serta selebihnya untuk keluarga dan masyrakat.
Saat malam hari sehabis mendidik santri beliau istirahat sesaat. Disaat orang tertidur lelep beliaudipastikan bangun ba’da nisfu lail beliau melakukan rutinitas beliau seperti wirid, sholat malam dan ibadah lainnya hingga waktu subuh tiba. Saya tidak pernah melihat mbah Basyir tidursetelah jam dua belas malam. Ujar KH M. Jazuli.
Sehabis menjadi imam jamaah sholat subuh di Masjid baitussalam, rutinitas beliau adalah berziarah ke makam masyayeh dan auliaya' sebagai guru beliau, yang sampai saat initidak pernah beliau tinggalkan. Itu adalah bentukta’dhim beliau tehadap para ulama’ yang telah mewariskan ilmu kepada beliau. Pada masa muda beliau terbiasa dengan puasa Dalail Khairatdan riyadhah lainnya, sampai akhirnya beliau diutus menjadi mujiz Dalail Khairat.
Enome riyalat, tuwo nemu derajat, riyalat kuwi jiret weteng nyengkal moto demikian beliau memberi penyegaran rohani kepada para santri yang hendak mengamalkan tradisi riyadhah. Baik puasa dalail maupun riyadhah lainnya. Menurut KH. Jazuli ungkapan itu diartikan sebagai bentuk usaha yang sungguh ketika masih muda baik dalam menuntut ilmu dan riyadah, ketika sampai waktunya orang tersebut akan mendapat kesuksesan baik dunia maupun akhirat. Rasa ta’dhim yang beliau agungkan saat ini juga merupakan suri teladan yang niscaya kita teladani. Yang beliau tradisikan hingga saat ini adalah berziarah ke makam para auliya di lingkungan Jekulo, yang merupakan guru guru beliau. Disinilah simpul hubungan guru dan murid yang tak pernah putus, terus berkesinambungan.
Banyak hal kida dapat teladani dari beliau, mulai dari kegigihan menuntut ilmu, kreatifitas hidup, perjuangan hingga akhlaqul karimah yang menjadi tempat kita berkiblat.


Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=216266841850340&set=a.136312209845804.40121.100004010769061&type=1&theater

Minggu, 03 Februari 2013

Habib Ja’far bin Idrus Al-Musawa: Bekerja untuk Allah SWT


www.majalah-alkisah.comIa berdakwah di kalangan menengah ke bawah. Jadwalnya padat, sehingga pekerjaan sebagai pedagang pakaian ditinggalkannya. “Saya bekerja untuk Allah, dan Allah-lah yang akan menggaji saya,” ujarnya.

Habib Ja’far bin Idrus Al-Musawa, yang tinggal di Kauman, Semarang, lebih banyak terlibat dak­wah untuk masyarakat menengah ke bawah. Peran ini diambilnya karena banyak di antara masyarakat mene­ngah ke bawah yang sebetulnya haus akan siraman ruhani dakwah.
“Mereka sibuk bekerja mencari naf­kah sehari-hari, sehingga kadang tidak sempat untuk mengaji, sedang ilmu itu penting untuk melakukan amalan iba­dah. Tanpa mengetahui  ilmu ibadah, tindakan kita akan menjadi kosong,” ujar bapak empat anak ini.
Muballigh kampung ini, begitulah ia sering menyebut dirinya, lahir di Kauman, Bangunharjo, pada tahun 1964. Yang di­ingatnya, sebagaimana kata-kata abah­nya, ia lahir pada bulan Sya’ban.
Sejak kecil ia dididik agama oleh ke­dua orangtuanya. Ibunya, Hajjah Wildun, adalah guru pertamanya. Sang ibu, anak K.H. Sahli, ulama asal Kalimantan yang kemudian tinggal di Kauman, Semarang, adalah murid Kiai Ageng Saleh Darat, yang sangat terkenal itu.
Ibunya ini dulu memiliki 40 saudara yang tinggal di satu rumah besar, dan setelah dewasa semuanya bergerak di bidang dakwah.
Di Kauman, banyak sekali ulama, se­perti K.H. Ahmad Abdullah, K.H. Wasiq, dan K.H. Mastur. Kepada para ulama sepuh itulah ia belajar mengaji kitab ku­ning. Namun untuk memperluas wawas­an, Habib Ja’far Musawa juga pernah mondok di PP Saketan, Kaliwungu, Ken­dal, yang diasuh K.H. Suyuthi. Sedang sekolah umumnya dari SD sampai SMA ditempuh di Semarang.
Pada tahun 1995, Habib Ja’far me­nikah dengan Syarifah Asmah Muthohar, adik Habib Umar Muthohar, dan dika­runia tiga anak. Mereka adalah Zahra Atika, Hadi Muhammad, dan Aqila Zah­wa. Namun sang istri wafat tiga bulan yang lalu.
Sebelum terjun di bidang dakwah, Habib Ja’far berdagang pakaian. Tapi setelah jadwal ta’limnya bertambah dan lebih padat, ia memutuskan untuk sepe­nuhnya berdakwah, enam hari dalam se­minggu, sedang Sabtu libur, khusus un­tuk acara keluarga.
“Saya ingat pesan Ibunda: Kalau kamu bekerja untuk Allah, Allah-lah yang akan menggajimu, di dunia maupun di akhirat,” ujar Habib Ja’far.
Jadwal ta’lim Habib Ja’far, Senin mem­­berikan kajian umum di Masjid Be­sar Kauman Semarang ba’da maghrib. Se­lasa pagi jam 10.00 WIB mengajar ki­tab Nashihul Ibad di PP Raudhatul Qur­an Kauman Glondong, Semarang. Pada hari Rabu ba’da ashar mengaji di Majelis Ta’lim Habib Toha bin Syech Almunawar atau Toha Putra, Jalan Kauman Krendo 32-32, Semarang, mengaji kitab Ri­ya­dhus Shalihin. Disusul ba’da maghrib pada hari Rabu, kajian hadits di Masjid Az-Zahra. Hari Kamis pengajian di ru­mah­­nya, Kauman, Semarang, ba’da magh­rib dengan tema umum. Hari Jumat ba’da maghrib di Majid An-Nur Palebon, kajian fiqih, serta menjadi khatib shalat Jum’at di berbagai masjid di Semarang. Hari Ahad pengajian untuk ibu-ibu di Kam­­pung Gending Semarang ba’da asyar.
Selain berdakwah, di organisasi, Habib Ja’far sekarang pun duduk di seksi dakwah MUI Semarang. Sebelumnya ia juga pernah menjadi wakil rais Syuriah NU PC Semarang.
Bagaimana dakwah untuk wong cilik, terekam dalam pengajian Rabu sore di Majelis Ta’lim Habib Toha bin Syech Almunawar Kauman Krendo, yang lalu Rabu (3/10). Pengajian yang dihadiri sekitar 100 jama’ah yang justru datang dari luar Kauman ini mengambil kajian kitab Riyadhus Shalihin.
Mengaji kitab Riyadhus Shalihin, su­sunan Imam Nawawi, baru saja dimulai setelah Syawwal 1433 H lalu. Pengajian diawali dari bab tentang niat dan ikhlas dalam beramal. Kitab ini dipilih karena ayat dan hadits yang dicantumkannya sangat kuat kedudukannya dan menjadi dasar akhlaq al-karimah dan beramal. Imam Nawawi memulai pembahasan dalam kitab ini meniru Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari, yaitu dimulai dari bab niat.
Imam Nawawi mengutip ayat tentang niat dan ikhlas, misalnya tentang qurban. Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah sampai kepada Allah daging dan darah qurban, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah taqwa dari kamu sekalian.” – QS Al-Hajj (22): 37.
Hadits pertama yang dibahas dalam kitab ini yaitu ihawl dalil mengapa kita dalam memulai suatu ibadah harus de­ngan niat dan ikhlas. Dari Amirul Mu’minin Abu Hafsh Umar bin Khaththab RA, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ’Semua amal itu tergantung niatnya, dan apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya, hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkan dalam hijrahnya itu’.” (HR Bukhari-Muslim).
Dalam berdakwah, Habib Ja’far meng­gunakan bahasa Jawa ngoko. Di sam­ping karena dari sisi budaya orang yang dianggap lebih tinggi kedudukan­nya boleh berbahasa ngoko kepada yang yang lebih rendah kedudukannya, penggunaan bahsa Jawa ngoko itu juga bertujuan agar lebih akrab di telinga ja­ma’ah, yang memang kebanyakan dari kalangan bawah pinggir kota Semarang. Pengajian tidak sekadar berpatok pada teks kitab, tetapi juga menerima per­tanyaan dari hadirin tentang berbagai hal, khususnya yang aktual dan menjadi problem jama’ah sehari-hari.
Misalnya, Habib Ja’far menjawab per­tanyaan apa bedanya aqiqah dengan qur­ban. Memang umumnya sama-sama me­nyembelih kambing, meski dalam qur­ban boleh juga dengan sapi dan unta. Kalau aqiqah menyembelih kambing, kalau bayi perempuan satu ekor, sedang bayi laki-laki dua ekor. Ketentuannya dari bayi sam­pai baligh. Namun kalau qurban tertuju kepada yang mampu, di­mulai dari baligh sampai menjelang ajal. Yang dimaksud baligh adalah umur se­kitar 15 tahun, atau ditandai dengan mim­pi basah untuk laki-laki dan haidh un­tuk perempuan.
Begitulah dakwahnya, sederhana tetapi mengena.

Sumber : http://www.majalah-alkisah.com/index.php/figur/26-profile-tokoh/1955-habib-jafar-bin-idrus-al-musawa-bekerja-untuk-allah-swt

Habib Muhammad bin Abdullah Al-Junaid: Antara Islam dan Kaum Muslimin






www.majalah-alkisah.comJawaban bijak Habib Umar itu bagai air sejuk yang membasahi kerongkongannya yang tengah dahaga di tengah padang sahara. Jawaban itu pula yang seakan menjadi titik awal dari fase baru dalam kehidupannya.

Gagasan sang Guru Mulia Habib Umar Bin Hafidz beberapa tahun silam untuk membentuk sebuah wadah bersama bagi para ulama agar dapat duduk bersama dalam mengatasi berbagai problematik umat mendapat sambutan hangat di berbagai tempat. Kini, Majelis Muwasholah Antar Ulama Mus­limin, nama lembaga yang mewadahi para ulama tersebut, telah memasuki ta­hun kelima. Meski masih seumur jagung, lembaga tersebut sedemikian cepat me­lesat dan memiliki gaung yang besar, baik di Nusantara maupun mancanegara.
Sebagaimana yang pernah disampai­kan Habib Umar sendiri, lembaga ini di­harapkan dapat mengorganisir semua unsur yang terkait untuk kepentingan umat dengan didasari kerangka dan lan­dasan agama yang lurus dan terbuka tan­pa sikap fanatisme berlebihan atau hal yang membingungkan umat agar semua usaha dakwah dari semua unsur dapat lebih tercurahkan untuk kebutuhan yang ter­penting bagi umat dalam menjaga te­gaknya persatuan dan kebersamaan de­ngan mendahulukan sikap lentur dan meng­hargai yang lain. Karena, memang, Islam bukanlah agama yang sempit.
Mensinergikan berbagai unsur umat yang terkait dalam lembaga ini tentu bu­kan perkara yang mudah. Di sini berkum­pul para ulama yang datang dari berbagai latar belakang. Perlu kesungguhan yang ekstra keras, di samping pengalaman yang teruji dan wawasan yang luas bagi para penggiatnya agar kesemua unsur potensial itu dapat secara maksimal sa­ling bersinergi. Amanah berat tersebut kini terutama diemban Habib Muhammad bin Abdullah Al-Junaid, yang duduk se­bagai mudir (direktur) Majelis Muwa­sho­lah Antar Ulama Muslimin.

Menguasai Empat Bahasa
Terlahir pada tahun 1965 di Hadhra­maut, Habib Muhammad melewati masa kecil yang kurang beruntung. Saat mema­suki usia bersekolah, negerinya kala itu tengah dalam cengkeraman penguasa komunis, yang sangat membatasi ruang gerak para ulama. Rubath-rubath (lem­baga-lembaga pendidikan agama) di kota Tarim maupun kota-kota lainnya di Hadh­ramaut tak boleh beraktivitas.
Akibatnya, ia pun melewati pendi­dik­an dari masa kecil hingga remajanya ha­nya di madrasah umum di kota kelahir­an­nya itu. Bahkan selepas pendidikan se­tingkat SLTA, ia sempat ikut pelatihan wa­jib militer selama tiga tahun. Di sela-sela waktunya, bila situasinya memungkinkan, ia menyempatkan diri menghadiri majelis ilmu di tempat Habib Masyhur Bin Hafidz, kakanda Habib Umar Bin Hafidz.
Langkah kaki Habib Muhammad be­rikutnya mengantarkannya hingga sam­pai ke Ukraina. Di sana, selama enam ta­hun, ia menjadi mahasiswa di negeri yang saat itu menjadi salah satu negara bagian Uni Soviet itu. Ilmu kimia, itulah jurusan yang dipilihnya hingga ia lulus dan menggondol gelar sarjana sebagai se­orang insinyur ilmu kimia.
Selepas pendidikan di Ukraina, tahun 1993, ia kembali ke tanah kelahirannya dan mengabdikan diri sebagai salah se­orang tenaga pengajar pada sebuah insti­tusi pendidikan di sana. Tentunya, dalam bi­dang studi yang telah digelutinya sela­ma bertahun-tahun di Ukraina, yaitu ilmu kimia. Saat itu negerinya, Yaman Selatan, telah bersatu dengan Yaman Utara, dan hingga kini gabungan dua negara menye­but negara mereka sebagai Republik Yaman.
Kesungguhannya dalam belajar dan perjalanan hidupnya yang akrab dengan dunia akademis membuatnya memiliki kemampuan berbagai bahasa dunia se­cara aktif. Setidaknya, selain bahasa Arab tentunya, ia menguasai dengan baik ba­hasa Inggris, bahasa Rusia, dan bahasa Spanyol. Karena saat ini ia sering bolak-balik Hadhramaut-Jakarta dan kemudian memiliki banyak aktivitas di sini, yaitu da­lam kapasitasnya sebagai mudir di Maje­lis Muwasholah Antar Ulama Muslimin, tak mustahil bila ke depannya ia dapat pula berkomunikasi dalam bahasa Indo­nesia.

Mematikan Hati?
Selain bekerja sebagai seorang peng­ajar, ternyata Habib Muhammad adalah seorang pebisnis. Di negerinya sana, dulu, ia memiliki usaha sampingan, yaitu membuka sebuah toko yang menjual per­lengkapan suvenir khas Yaman. Sehari-hari, tokonya banyak dikunjungi turis man­canegara yang ingin membawa oleh-oleh suvenir setelah berkunjung ke Ya­man.
Saat itu, yaitu ketika ia mempunyai usaha toko suvenir itu, sesekali ia men­dengar ceramah agama yang disampai­kan beberapa pendakwah di sana. Na­mun hatinya terkadang bimbang dengan perkataan beberapa dai yang didengar­nya pernah menyatakan bahwa sering ber­interaksi dengan orang-orang kafir itu dapat mematikan hati.
Bagaimana tidak bimbang, ia memiliki usaha toko suvenir yang pelanggannya terbanyak adalah kalangan turis manca­negara, yang notabene non-muslim. Lalu, agar ia tak sampai memiliki hati yang mati, apakah ia harus menutup usaha toko su­venirnya itu?
Dalam kebimbangan hati yang ia alami, suatu ketika ia menghadiri sebuah majelis ilmu yang diisi oleh Habib Umar Bin Hafidz. Saat itu kebimbangan hati yang tengah melandanya tampak jelas dari raut wajahnya. Rupanya, Habib Umar memperhatikan hal itu.
Usai majelis, saat berdekatan de­ngan­nya, Habib Umar pun mengatakan kepadanya bahwa sejak tadi sepertinya ia sedang bingung memikirkan sesuatu. ”Ada apa gerangan?” tanya Habib Umar kepada Habib Muhammad.
Habib Muhammad pun mencurahkan isi hatinya saat itu. Ia menuturkan, ia te­ngah dilanda kebimbangan hati. Di satu sisi ia memiliki usaha yang konsekuen­si­nya ia harus sering-sering berinteraksi de­ngan para turis dari Eropa dan berbagai belahan dunia lainnya yang kebanyakan mereka adalah non-muslim, sementara pada sisi lain ia juga mendengar bahwa sering berinteraksi dengan orang-orang kafir dapat mematikan hati. ”Ya Habib...,” ia pun bertanya kepada Habib Umar, ”...apakah saya harus menutup usaha toko suvenir saya ini?”

Fase Baru Kehidupannya
Habib Umar tersenyum. Ia mencoba memahami kebimbangan hati Habib Mu­hammad sekaligus mencoba menenang­kan hatinya. Sejurus kemudian Habib Umar berkata, ”Perkataan itu adalah bagi kebanyakan awam, bukan dalam konteks umum yang membuat setiap kita dapat di­kenai perkataan itu. Bagi orang awam, yang tidak memiliki bekal agama yang cu­kup, sering berinteraksi dengan orang ka­fir dapat membawa alam berpikir mereka kepada pola pikir yang mengakrabi keka­firan, mengingkari ajaran syari’at. Itu artinya membuat hati mereka menjadi mati.
Sedangkan bagi kita, yang telah da­pat mengetahui dan meyakini hakikat ke­benaran agama ini, berinteraksi dengan mereka tidak menjadi masalah. Bahkan, semestinya kita memandang setiap pi­hak, termasuk orang-orang kafir itu, seba­gai lahan dakwah bagi kita. Di situlah pe­luang kita untuk dapat berdakwah terha­dap mereka, setidaknya dengan menun­jukkan akhlaq mulia kita sebagai muslim.”
Jawaban bijak Habib Umar itu bagai air sejuk yang membasahi kerongkong­annya yang tengah dahaga di tengah pa­dang sahara. Jawaban itu pula yang se­akan menjadi titik awal dari fase baru da­lam kehidupannya.
Dalam kesempatan itu pula, Habib Umar menghadiahinya buku-buku ka­rangan Syaikh Nuh Hamim Keller, se­orang mualaf asal Amerika yang menjadi seorang ulama besar dan terkenal. Tak tanggung-tanggung, saat itu ia sampai menerima 27 naskah karya Syaikh Nuh Hamim Keller. Di dalam buku tersebut, ba­nyak hal yang ia dapat, seperti keyakin­an terhadap kebenaran ajaran agama suci ini hingga hal-hal yang dapat mem­bawa inspirasi dakwah dalam kehidupan setiap insan muslim.
Keluar dari majelis Habib Umar itu, di dadanya tumbuh bergumpal-gumpal se­mangat dakwah yang kian hari kian mem­besar, menguat, dan menggelora. Ada tekad yang membara di hatinya saat itu. Ya, tekad dakwah, di mana pun dan ka­pan pun. Sejak itu, ia pun bertekad untuk berada dalam barisan dakwah bersama sang guru mulia, Habib Umar Bin Hafidz. Sejak itu pula, ia semakin intens terlibat dalam setiap majelis dan kegiatan dak­wah yang digerakkan Habib Umar.
Tak seberapa lama, ia pun sampai menyewa sebuah gedung untuk dijadikan tempat baginya dalam membantu gerak langkah dakwah sang guru, di antaranya de­ngan menerbitkan sejumlah media dak­wah yang dapat beredar di tengah masyarakat.
Allah SWT telah mentaqdirkannya se­bagai seorang ahli dalam ilmu kimia, yang ternyata hal itu sangat bermanfaat dalam salah satu aktivitasnya melestarikan nas­kah-naskah kitab tua yang masih dapat terselamatkan.
Berbasiskan ilmu pengetahuan yang ia miliki, bahkan ia berhasil menciptakan metode dan mesin tersendiri dengan for­mula kimia yang ia temukan, cara untuk memperbaiki kondisi naskah-naskah ki­tab tua yang masih dapat diselamatkan. Ia pun tercatat sebagai salah seorang mudir di Markaz An-Nur, sebuah lembaga yang bergerak secara khusus dalam pe­nelitian dan pelestarian kitab-kitab atau manuskrip kuno di Hadhramaut.
Beberapa tahun terakhir, ia aktif ter­libat dalam Majelis Muwasholah Antar Ulama Muslimin, dan bahkan kini diper­caya sebagai mudirnya. Sebuah tantang­an dakwah yang amat berat, tentunya. Di bawah koordinasinya, kini Majelis Mu­washolah banyak menjalin hubungan de­ngan berbagai instansi, baik swasta mau­pun pemerintah, dalam kerja sama demi kemaslahatan umat.
Saat berbincang dengan alKisah, ia mengkritisi pola hidup umat Islam yang tak lagi mencerminkan pola hidup se­orang muslim. Hal ini membuat pandang­an tak tepat kerap dialamatkan kepada ajaran Islam. Padahal, bukan Islam-nya yang bermasalah. Agama ini adalah aga­ma yang sempurna, indah, dan menga­gumkan bagi setiap orang yang mau dengan jujur menilainya. Tapi kini, seakan ada jurang yang amat dalam, yang me­misahkan umat Islam dari ajaran agama Islam.

Kisah Syaikh Nuh di Mesir
Kembali pada buku-buku Syaikh Nuh yang pernah dihadiahkan Habib Umar kepadanya. Di antara buku-bukunya itu, Syaikh Nuh, yang pada awalnya adalah seorang Katholik taat yang berprofesi se­bagai pelaut, menceritakan pengalaman­nya ketika suatu saat berada di tengah lautan mendapat guncangan ombak yang amat dahsyat dan luar biasa besar.
Saat itu, sebagaimana dikisahkan kem­bali oleh Habib Muhammad, ia me­rasakan betapa dirinya begitu kecil dan tak berarti. Sedemikian tak berartinya, bah­kan diri seorang manusia itu sesung­guhnya tak memiliki kuasa apa pun dalam menentukan kehidupannya sendiri.
Alhamdulillah, beberapa waktu kemu­dian, ombak pun mereda. Ia selamat.
Setelah peristiwa itu, ia mulai melaku­kan pencarian terhadap tuntunan sebuah agama yang lurus dan benar. Ia mem­pelajari kajian berbagai agama, sampai ia pun tertarik pada ajaran agama Islam. Untuk mengetahui lebih jauh, ia pun pergi ke Mesir.
Sampai suatu ketika, dalam pencari­annya berjalan ke sana dan ke sini di Negeri Piramid itu, ia memperhatikan ting­kah polah umat Islam yang ada di sana. Ia, yang saat itu berpakaian sangat lusuh, bertemu seorang nenek yang mendekati­nya dan memberinya uang.
Ia terkejut. Ia katakan kepada nenek itu, ”Bu, kenapa Ibu memberi uang ini ke­pada saya? Ibu tak kenal saya dan saya pun tak memiliki hubungan apa-apa de­ngan Ibu.”
”Ini shadaqah,”jawab sang nenek dengan tegas. ”Saya tak berharap apa pun dari shadaqah dan shadaqah juga bukan karena masalah dekat atau jauh de­ngan siapa pun. Saya hanya berharap balasan dari Allah SWT.”
Hatinya terperanjat mendengar ja­waban si nenek. Betapa kuatnya jalinan hati antara nenek itu dan Tuhannya. Be­gitu mungkin yang saat itu ada dalam pi­kirannya.
Di lain kesempatan, salah seorang ka­wan yang banyak menemaninya di per­jalanan, yang dikenalnya bukanlah se­orang muslim yang taat, tengah meng­angkut banyak barang dengan semacam troli, kereta dorong. Saat membawa troli itu, tiba-tiba ada salah satu barangnya yang terjatuh.
Keller ingin membantu temannya itu. Secara refleks, ia membungkukkan ba­dannya dan ingin memungut barang milik temannya yang jatuh itu.
Namun, secara refleks pula, sang te­man cepat mencegahnya. ”Jangan, ini Al-Qur’an!!!” teriak sang teman. Ternyata yang terjatuh itu adalah Al-Qur’an.
Sang teman segera mengambil air wudhu tak jauh dari lokasi itu, kemudian memegang dan mengangkatnya secara perlahan.
Sebelum meletakkan kembali di tem­pat semula dan lebih aman, sang teman mencium kitab suci umat Islam tersebut.
Bagai sedang menyaksikan sebuah drama, detik demi detik kejadian itu di­perhatikannya dengan serius. Hatinya ka­gum, sekaligus terharu, betapa kawannya itu, yang notabene di matanya pun bukan termasuk seorang muslim yang taat, amat menghormati kitab sucinya. Peman­dangan semacam ini tak pernah ia da­patkan bahkan pada komunitas Katholik yang taat sewaktu di negerinya dulu.
Sementara, pada tulisannya yang lain, Syaikh Muh Hamim mengisahkan penga­laman seorang mualaf, yang ter­tarik de­ngan Islam dan kemudian menjadi mus­lim, yang pernah mengatakan, ”Se­gala puji hanya milik dan bagi Allah, yang telah lebih dulu mempertemukanku de­ngan Islam sebelum mempertemukanku de­ngan kaum muslimin.” Sebuah ung­kap­an keprihatinan sang mualaf atas si­kap hidup sebagian besar umat Islam di hari ini yang tak lagi mencerminkan ajaran agamanya.


Sumber : http://www.majalah-alkisah.com/index.php/figur/26-profile-tokoh/1747-habib-muhammad-bin-abdullah-al-junaid-antara-islam-dan-kaum-muslimin

Habib Abdullah bin Husein Al-Attas: Demi Amanah Tradisi Salaf





www.majalah-alkisah.comBila datang hari Kamis petang, Anda akan menyaksikan suasana di sekitar pemakaman Keramat Empang Bogor yang disesaki ribuan jama’ah. Saat ini, Habib Abdullah-lah yang mengasuh majelis peninggalan Habib Husein tersebut.

Habib Abdullah, putra ter-tua Habib Husein (lihat Manaqib), menerima kedatangan alKisah de­ngan penuh kehangatan. Wajahnya te­duh, cara bertuturnya amat santun, logat­nya terasa sekali Sunda-nya. Sesekali obrolan kami diselingi tawa canda yang semakin mencairkan suasana. Meski baru pertama kali berjumpa, rasanya se­perti sudah mengenal lama.
Demikian sosok Habib Abdullah bin Husein bin Abdullah bin Muhsin Al-Attas, yang saat ini dipercaya mengemban ama­nah sebagai munshib, atau pemimpin, da­lam kepengurusan di lingkungan makam kakeknya, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, ”Habib Keramat Empang Bogor”.
Terkadang orang menyebutnya se­bagai khalifah Keramat Empang Bogor. Tentunya, makna khalifah di sini tidak da­­lam pengertian kekhilafahan umat Islam. Khalifah di sini bermakna ”peng­ganti”, mak­sudnya, Habib Abdullah-lah saat ini yang tengah mengemban ama­nah berat untuk menggantikan posisi mun­shib sebelumnya, yaitu Habib Abdul­lah bin Zen Al-Attas, yang wafat setahun silam.
Manshabah (kemunshiban) di sini adalah amanah otoritas dalam mengurus hal-ihwal di lingkungan makam Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas berikut segala peninggalannya.
Wasiat Shahibul Maqam
Sepeninggal Habib Abdullah bin Zen Al-Attas, munshib Keramat Empang Bo­gor sebelumnya, Habib Abdullah bin Hu­sein Al-Attas ditunjuk menjadi khalifah­nya. Penunjukan ini tak lepas dari wasiat Ha­bib Abdullah bin Muhsin.
Sebelum wafat, Habib Abdullah bin Muhsin mewasiatkan pola penggantian ke­pemimpinan yang agak berbeda de­ngan kebiasaan di tempat-tempat lainnya. Bila di tempat-tempat lainnya, biasanya pola kepemimpinan adalah dari kakek ke ayah kemudian ke anak, lalu ke cucu, te­rus ke cicit, dan demikian seterusnya. Na­mun sesuai amanat tertulis dari Habib Ab­dullah bin Muhsin, yang tercantum dalam akta notaris yang ditandatangani oleh notaris Belanda bernama Thomas, ke­pe­mimpinan yang akan meneruskan estafet dakwahnya dimulai dari putra tertuanya, berlanjut kepada putra tertua berikutnya, hingga putra terakhir yang masih ada.
Kalau putra-putranya sudah wafat se­muanya, kepemimpinan dilanjutkan pada generasi cucu Habib Abdullah, yaitu pada cucu tertua, yang, kalau sudah wafat, ke­pemimpinan diserahkan pada cucu tertua berikutnya.
Demi menjalankan amanah yang di­gariskan Habib Abdullah bin Muhsin sen­diri, selama ini pergantian manshabah ber­jalan dengan mulus. Saat ini, giliran Habib Abdullah bin Husein Al-Attas-lah, sebagai cucu Habib Abdullah bin Muhsin, yang mengemban amanah memegang manshabah tersebut.
Tak Boleh Keluar Rumah
Sosok Habib Abdullah bin Husein memang sosok yang amat bersahaja. Se­perti halnya para munshib sebelumnya, sehari-hari Habib Abdullah berpakaian sederhana. Hanya pada acara-acara be­sar ia memakai jubah dan imamah.
Habib Abdullah, semasa mudanya, le­bih mendalami pendidikan umum, bah­kan sampai ia berhasil menggondol gelar sarjana. Namun demikian, ”Saya rasa­kan, ternyata pendidikan agama memang lebih bermanfaat untuk kehidupan kita semua. Pendidikan umum tetap penting, tapi pendidikan agama tetap lebih pen­ting. Ini yang saya rasakan sekarang. Yang ideal, tentunya kalau seseorang da­pat memiliki pengetahuan mendalam baik pada pendidikan umum maupun pendi­dikan agamanya,” ujar Habib Abdullah.
Di masa kecil, Habib Abdullah me­rasa­kan masa-masa indah selama ia da­lam didikan dan asuhan ayahandanya, Habib Husein bin Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Di matanya, sang ayah adalah so­sok orangtua sekaligus sahabat. Ayahnya tak pernah memaksakan kehendaknya sendiri, sebagai pertanda sikap bijak se­orangtua. Semua anaknya diberi kebe­basan pada bidang keilmuan yang di­sukainya.
Habib Abdullah juga merasakan ke­hangatan hubungan saat ayahnya masih hidup. ”Kepada anak-anak, Abah sering mengajak bergurau. Beliau memang se­orang yang senang bergurau, bahkan di tengah keluarga. Kami semua merasa se­gan kepadanya, tapi tak merasa sung­kan,” ujar Habib Abdullah mengenang si­kap sang ayah di tengah-tengah ke­luarga­nya.
Beranjak dewasa, sebagaimana sau­dara-saudaranya yang lain, Habib Ab­dullah mengutarakan keinginannya ke­pada sang ayah untuk dapat hidup man­diri dan tinggal di luar lingkungan keluarga besar Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Tapi apa yang dikatakan oleh Ha­bib Husein saat itu?
”Tidak perlu. Ente tidak perlu keluar dari rumah ini,” demikian kira-kira yang di­katakan Habib Husein kepada anak laki-laki tertuanya ini.
Habib Abdullah merasa keheranan dibuatnya. Kalau saudara-saudaranya yang lain diperbolehkan, mengapa dirinya sendiri yang tidak boleh keluar rumah?
”Meski dalam hati saya bertanya-ta­nya, saya tetap menuruti apa yang dikata­kan Abah. Ternyata sekarang saya tahu hik­mah apa di balik perkataan beliau. Saya memang tidak boleh keluar rumah, se­bab suatu saat nanti amanah meme­gang makam keramat Habib Abdullah bin Muhsin ini akan saya emban,” kata Habib Abdullah lagi.
Menapaki Jalan para Pendahulu
Mengemban amanah manshabah me­mang bukan hal ringan. ”Di satu sisi hati saya merasakan beratnya beban me­nerima amanah berat ini. Tapi di sisi lain saya merasa bahagia bahwa, di sisa-sisa umur saya, Allah masih memberi kesem­patan kepada saya untuk dapat berkhid­mah pada kakek saya,” ujar Habib Abdul­lah kemudian.
Kini, hari demi hari diisi Habib Abdul­lah dengan penuh kegiatan, setidaknya menerima tamu-tamu Habib Abdullah bin Muhsin yang sehari-harinya hampir tak pernah sepi dari para tamu dari berbagai daerah, dalam dan luar kota Bogor.
Selain peninggalan-peninggalan ka­keknya, Habib Abdullah bin Muhsin, ter­utama kepengurusan atas masjid dan ma­kamnya, peninggalan sang ayah, yaitu Majelis Ta’lim An-Nur juga terus ia mak­murkan.
Bila datang hari Kamis petang, Anda akan menyaksikan suasana di sekitar pemakaman Keramat Empang Bogor yang disesaki ribuan jama’ah. Saat ini, Habib Abdullah-lah yang mengasuh ma­jelis peninggalan Habib Husein tersebut.
Acara Majelis biasanya dimulai dari ba’da ashar, dengan pembacaan Maulid Nabi dan taushiyah-taushiyah dari para ulama kota Bogor dan sekitarnya. Ter­kadang, kalau ada tamu ulama dari luar, mereka dipersilakan untuk turut menyam­paikan mauizhah di majelis tersebut.
Seusai majelis, menjelang maghrib, para jama’ah bersama-sama, dipimpin oleh Habib Abdullah bin Husein, melang­sungkan ziarah ke makam Habib Abdul­lah bin Muhsin, yang letaknya bersebe­lahan dengan Masjid An-Nur, tempat di­selenggarakannya majelis An-Nur.
Selain melanjutkan Majelis An-Nur, saat ini Habib Abdullah juga aktif mene­rima undangan-undangan majelis di ber­bagai tempat, khususnya di kota Bogor dan sekitarnya.
Dalam perbincangan dengan alKisah, Habib Abdullah mengutarakan bahwa, se­lama mengemban amanah sebagai mun­shib, ia bertekad akan memelihara pe­ning­galan-peninggalan para salaf (pen­dahulu)-nya sekaligus melakukan perbaikan-per­baikan yang diperlukan, khususnya dalam hal fisik bangunan da­lam kompleks ma­kam, masjid, dan rumah peninggalan Ha­bib Abdullah bin Muhsin Al-Attas.
Pengembangan yang dilakukannya tentu dengan tetap memperhatikan ke­lestarian peninggalan sang datuk, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Seperti hal­nya saat ayahnya, Habib Husein bin Ab­dullah, mengganti bangunan rumah Ha­bib Abdullah bin Muhsin menjadi bangun­an yang lebih permanen. Namun demiki­an, beberapa bagian penting dari rumah itu tetap dipertahankan kelestariannya.
Dalam memelihara, melestarikan, dan mengembangkan peninggalan Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, Habib Ab­dullah juga memiliki visi seperti yang per­nah dilakukan ayahnya dan para munshib sebelumnya. Habib Abdullah berusaha se­dapatnya agar terus melakukan per­baikan dan perluasan yang diperlukan, demi kemaslahatan bersama, khususnya bagi para jama’ah dan tamu-tamu Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas.

Sumber : http://www.majalah-alkisah.com/index.php/figur/26-profile-tokoh/1489-habib-abdullah-bin-husein-al-attas-demi-amanah-tradisi-salaf

Habib Husein bin Muhammad Assegaf: Sinergi Dakwah dengan Tarbiyah






www.majalah-alkisah.comDakwah akan kering jika tanpa diairi dengan ta’lim. Dan dakwah akan menuai sukses jika bertanzhim.

Pembawaannya tenang, polos, murah senyum, apa adanya, senang bicara ilmu dan dakwah. Itulah  yang tampak padanya saat kita bersua pertama kalinya. Saat alKisah tiba di kediamannya, habib muda ini tengah mengajar beberapa orang muridnya membaca kitab pelajaran bahasa Arab dan fiqih. Dialah Habib Husein bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Assegaf.
Ia dikenal sebagai muballigh, guru, dan pendidik. Di kediamannya yang berukuran sedang dan sederhana itu juga terdapat beberapa anak santri yang mukim. Mereka belajar di bawah asuhan Habib Husein langsung, yang memang sangat perhatian dengan dunia pendi­dikan anak-anak dan remaja.
Habib Husein lahir di Jakarta, 21 September 1972, tepatnya di daerah Pasar Minggu. Ada kisah menarik ber­kaitan dengan kelahirannya di kampung keluarga Al-Haddad, yang terletak di belakang kantor Bakin saat ini.
Suatu ketika sang kakek, yang terkenal sebagai guru besar ulama-ulama Indonesia, ‘Allamah Al-Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf, hijrah dari Solo ke Jakarta. Ia diminta Habib Salim bin Thaha Al-Haddad Pasar Minggu untuk membantu kegiatan majelisnya dalam beberapa tahun. Habib Ahmad, yang memang berkecimpung di dunia pendidikan, tentu sangat senang men­dapatkan kehormatan besar itu. Selain mengajar, Habib Ahmad juga menjadi direktur madrasah Jamiat Kheir.
Setelah sekian tahun berada di Ja­karta dan beberapa kota besar di Jawa, ia memutuskan untuk pulang ke kam­pung halamannya, Hadhramaut.
Habib Ahmad wafat dalam perjalan­an pulangnya tersebut. Agar tak mati obor, kata orang Betawi, putra Habib Ahmad yakni Habib Muhammad men­coba merajut silaturahim yang telah dibangun ayahandanya dengan Habib Salim bin Thaha Al-Haddad. Ia rajin men­datangi majelis Habib Salim dan mem­bantu kegiatan ta’lim di kampung Al-Haddad ini. Di situlah Allah menakdir­kan­nya berumah tangga. Habib Mu­ham­­mad menikah dengan seorang wa­nita dari keluarga Al-Haddad, Syarifah Ni’mah binti Hasyim Al-Haddad. Dari per­nikahan itu, Habib Muhammad men­dapatkan beberapa orang anak, di an­taranya putra terkecilnya, tokoh figur kita kali ini, Habib Husein bin Muham­mad bin Ahmad bin Abdullah Assegaf.
Anak Angkat Habib Ali Johor
Habib Husein menempuh pendidikan dasarnya di Pasar Minggu. Saat baru be­berapa bulan melanjutkan pendidikan­nya di SMP, ayahandanya, Habib Mu­hammad, wafat.
Amminya (pamannya), Habib Abdul­lah, yang banyak aktif di Kantor Rabithah Alawiyah, sangat dekat dengan ketua Rabithah saat itu, Habib Syech bin Ali Al-Jufri. Habib Syech sering mondar-man­dir ke Malaysia, menemui salah se­orang sahabatnya, seorang alim dan pendidik yang kaya raya, Habib Ali bin Hasan Alatas, yang mengasuh madra­sah peninggalan kakeknya, Habib Ha­san bin Ahmad Alatas Johor.
Pada suatu kesempatan, Habib Ali bin Hasan Alatas meminta tolong ke­pada Habib Syech Al-Jufri agar dicarikan seorang anak untuk dijadikan anak angkatnya. Habib Syech meminta tolong kepada ‘Ammi Abdullah, apakah putra Habib Muhammad, yakni tokoh figur kita ini, bersedia menjadi anak angkat Habib Ali Johor dan tinggal bersamanya di Johor Malaysia.
Singkat cerita, Habib Husein muda menjadi anak angkat Habib Ali bin Hasan Alatas. Ia bersekolah di Madrasah Al-‘Attasiah, sekolah Islam tertua di Malay­sia, yang dibangun Habib Hasan bin Ahmad Alatas, seorang hartawan yang dikenal dermawan. Bahkan keterkenalan namanya diabadikan untuk sebuah pu­lau di kepulauan Malaysia dengan nama Pulau Hasan bin Ahmad Alatas. Habib Ali sendiri, yang tak lain cucu Habib Hasan, dikenal sebagai ketua jawatan pengusaha (seperti Kadin) se-Malaysia. Habib Ali sangat concern dengan dunia pendidikan. Ia juga senang berkumpul dengan para ulama.
Di madrasah Al-Attasiah, sering ada pertemuan ulama-ulama tingkat dunia. Tokoh-tokoh ulama besar seperti Habib Hasan Asy-Syathri, Habib Salim Asy-Syathri, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Habib Umar Bin Hafidz, dan ba­nyak kiai dari Indonesia sering hadir dalam berbagai kesempatan di Madra­sah Al-Attasiah. “Alhamdulillah, ana ber­kesempatan mengenal langsung mere­ka, menyentuh tangan mereka, tabarruk kepada mereka...,” katanya penuh syukur.
Di Al-Attasiah, Habib Husein belajar dengan sungguh-sungguh. Selama tujuh tahun ia bersekolah di sana, di bawah asuhan dan bimbingan sejumlah guru yang tak hanya pandai mengajar dengan pengetahuan­nya, tapi juga mendidik dengan akhlaq­nya. Di antara guru-gurunya ialah Habib Muhsin bin Umar Alatas Lawang, Habib Zein Al-Habsyi, Habib Ahmad Nasim Alatas. Semua guru sa­ngat berkesan baginya, namun, “Habib Muhsin Alatas-lah yang meng­asuh ana selama tujuh tahun dengan segala per­hatiannya,” ujarnya menge­nang masa-masa belajar.
Setelah menempuh pendidikan Tsa­nawiyah hingga lulus Aliyah, pada tahun 1993 ia disuruh memilih untuk melanjut­kan pendidikan, ke Mesir atau lainnya. “Pada saat itu Malaysia lebih banyak berhubungan dengan Al-Azhar Mesir, se­­hingga ana ikuti apa yang ditawarkan Habib Ali bin Hasan Alatas, yakni ke Al-Azhar,” kata Habib Husein.
Sebelumnya ia sempat mengajar se­lama setahun di Malaysia. Honor meng­ajar itu dikumpulkannya demi pulang kampung menengok ibu dan saudara-saudaranya di Jakarta.
Setelah itu ia kuliah di Al-Azhar, mengambil jurusan bahasa Arab. Inilah jurusan yang sangat tidak diminati mahasiswa asing (non-Arab), karena tingkat kesulitan pada hafalan-hafalan syair Jahili, Andalusi, dan sebagainya. Belum lagi hafalan Al-Qur’an, hadits, dan berbagai kerumitan dalam gramatika. “Tapi lantaran cinta dan suka, ana jalani itu. Ana paling hobi membaca. Jika ke perpustakaan atau toko buku, ana bisa berjam-jam menghabiskan satu buku untuk ana baca. Ke toko buku bisa dari pagi sampe sore, padahal yang dibeli cuma satu-dua buku,” kata Habib Husein sedikit bergurau.
Habib Husein rutin menyambangi majelis-majelis ilmu yang diasuh Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi, Syaikh As’ad, Syaikh Muhammad Hasan, dan bebe­rapa ulama lainnya. Bahkan ada rauhah (majelis) Habib Ali bin Abdurrahman Al-Jufri di Kairo yang rutin dihadirinya. Be­gitu pula jika Habib Umar Bin Hafizh da­tang berkunjung, ia tak akan menyia-nyiakan waktunya untuk ber-muwajahah (tatap muka). “Mesir itu kota ilmu, ilmu apa saja ada. Pokoknya, masya Allah... tapi ana tetap merajut hubungan dengan habaib yang alim-alim ini, agar tak putus dengan akar kita,” demikian kata Habib berputra tujuh orang ini.
Selama kuliah di Mesir, ia merasa­kan beban berat menuntut ilmu. Maha­siswa Indonesia, tak seperti mahasiswa Malaysia, umumnya agak sulit secara ekonomi. Kalau Malaysia sangat diper­hatikan, baik oleh pemerintahnya mau­pun pribadi-pribadi yang dermawan. Me­reka disokong bantuan dan beasiswa yang memadai.
Alhamdulillah, perhatian Habib Ali bin Hasan Alatas, ayah angkatnya, sa­ngat besar. Habib Ali banyak membantu­nya di tanah rantau, di Negeri Seribu Me­nara itu.
Setelah enam tahun menimba ilmu di Mesir dan berhasil menamatkan pen­didikannya, ia kembali ke Malaysia.
Panggilan Dakwah
Sebagaimana lazimnya, ia diharus­kan www.majalah-alkisah.commengabdi di almamaternya itu. Ia mengajar berbagai materi ilmu-ilmu Islam dengan kitab-kitabnya. Ia juga me­nyambi untuk mengajar di Singapura. Hingga hari ini ia masih berkunjung ke Singapura untuk keperluan mengajar tersebut.
Setelah mengabdi di Al-Attasiah, alma­maternya, selama tujuh tahun, pada tahun 2004 ia pulang ke tanah air.
Ia sempat mengajar agama dan ba­hasa Inggris di sebuah sekolah elite di kawasan utara Jakarta selama tiga tahun. Namun ia ingin fokus menggeluti dakwah, mengajar anak-anak pribumi muslim, yang terpinggirkan.
Ia sadar, kehidupan ekonominya akan berbalik 180 derajat. Namun pang­gilan dakwah itu begitu besar, “Hati ana hanya mau berkhidmah untuk dakwah dan mengajar anak-anak negeri ana, Indo­nesia, yang ana cintai. Karena me­rekalah yang butuh sentuhan tarbiyah dari kita, sebagaimana habaib kita di masa lalu mencontohkan,” katanya. Sehingga ia mengajukan pengunduran diri dari sekolah elite tersebut.
Suatu ketika ia bermimpi. Dalam mim­pinya itu, ada suara berkata, “Ya Husein, ente sebaiknya jualan genteng aja.”
Setelah bermusyawarah dengan sang istri, ia mendapat jawaban, “Habib kan Assaggaf, atap, nah atap itu berkait dengan genteng. Genteng dan atap itu menaungi yang di bawahnya, agar tak kehujanan dan kepanasan.” Dari mimpi itulah ia mendapati makna yang men­da­lam bahwa ia memang harus berkhid­mah dalam dakwah. Menaungi masya­rakat dengan ilmu dan dakwah agar se­lamat dari murka dan adzab, membim­bing mereka ke jalan Allah, Rasul, dan salaf yang shalih.
Habib Husein lalu membuat payung bagi kegiatan dakwahnya ini dengan nama “Ahbabu Rasulillah SAW”. Kegiat­annya pun beragam. Memadukan tab­ligh, ta’lim, dan tanzhim. Dengan  me­laku­kan ta’lim, misalnya, ia membimbing santri-santrinya dengan pengajian kitab secara keliling, membangun pondok tahfizh Qur’an, hadits, fiqih, serta bahasa.
“Santri-santri ana emang belum seberapa banyak. Tapi di antara mereka ada yang sudah piawai dalam bahasa Arab, hafal sekian juz Al-Qur’an, hafal kitab Matn Zubad, dan seratus hadits. Target ana, mereka bisa memimpin masyarakat dalam hal dakwah dan ibadah,” kata habib yang juga pernah menangani sebuah pondok di Mega­mendung, Bogor, ini. Putranya sendiri, yang digemblengnya sejak dua tahun belakangan ini, telah hafal 10 juz Al-Qur’an, kitab Zubad, dan setengah bagian dari kitab hadits Riyadhush Shalihin. Begitu juga dengan beberapa anaknya yang lain, dengan hafalan Al-Qur’an yang beragam jumlah juznya.
Selain mengajarkan bahasa Arab, Habib Husein juga membekali santrinya dengan bahasa Inggris. Tetapi dari itu semua, yang ia tekankan adalah hafalan Al-Qur’an dan hadits. Karena itu pintu gerbang bagi pendalaman ilmu-ilmu lainnya.
Dakwah dengan Tanzhim
Selain concern pada pendidikan, Habib Husein juga menekankan dak­wah­nya dengan tanzhim. Yaitu berlatih berorganisasi, aktif melakukan hubung­an sosial, menjalin hubungan erat de­ngan berbagai komponen masyarakat.
Misalnya, ia menjalin komunikasi yang intens dengan FPI (Front Pembela Islam), MER-C, Majelis Ustadz Arifin Ilham, dan berbagai kompenen dakwah lainnya, untuk bersinergi. “Kita ini jangan eksklusif. Kita kudu peka dengan apa yang terjadi di masyarakat. Lihat tuh, anak-anak yatim, Palestina, kemak­siat­an di masyarakat... siapa yang harus tu­run  tangan kalau bukan kita semua. Kita sentuh mereka dengan dakwah bil hik­mah wal maw’izhatil hasanah,” ujarnya.
Habib Husein pernah didatangi se­orang pendeta, yang ingin mengujinya dan mengkritisi gerakan dakwahnya. Ia pun menyambut kedatangan si pendeta. Ia hanya berkata, “Silakan buka Injil Anda, biar saya menyimaknya. Lalu akan saya jawab kekeliruan-kekeliruan Anda, dengan dalil dari Injil Anda juga.”
Si pendeta terkesiap dengan kata-kata sang habib, dan dia pun ngeloyor pergi begitu saja, seolah menyadari bah­wa dia telah kalah sebelum bertanding.
Habib Husein bin Muhammad Asse­gaf memang seorang dai dan pendidik sejati. Dakwah baginya kering jika tanpa diairi dengan ta’lim. Dan dakwah akan sukses jika bertanzhim. Kini ia  ber­dakwah seperti halnya datuknya, ‘Alimul ‘Allamah Faqidul ‘Ilm Wattarbiyah Asy-Sya’ir Al-Adib Al-Habib Ahmad bin Abdullah Asseggaf rahimahullah rahma­tal abrar, yang disebut murabbi dan mu’allim yang penuh inspirasi.

Sumber : http://www.majalah-alkisah.com/index.php/figur/26-profile-tokoh/1431-habib-husein-bin-muhammad-assegaf-sinergi-dakwah-dengan-tarbiyah

Habib Abubakar bin Abdul Qadir Mauladdawilah: Dari Kuta sampai Kerala






www.majalah-alkisah.comKetika seseorang hendak menuntut ilmu, mereka mendapatkannya di kitab-kitab. Ketika hendak mencari keberkahan, tidaklah mereka mendapatkannya kecuali dalam diri orang-orang shalih. Ahli ilmu banyak, tapi ahli keberkahan itu sedikit.

Kerala adalah sebuah negara bagian di India bagian barat daya. Meski minoritas dari segi jumlah, sejarah membuktikan, umat Islam telah memberi kontribusi yang begitu be¬sar dalam kehidupan masyarakat wilayah yang berada di Asia Selatan itu.

Riwayat Islam di Negeri Hindustan ter¬bilang amat panjang. Ada banyak versi tentang masuknya Islam ke India. Meski begitu, datangnya ajaran Islam ke anak benua India itu bisa diklasifikasikan dalam tiga gelombang. Yakni dibawa orang Arab pada 8 M, orang Turki pada 12 M, dan abad ke-16 M oleh orang Afghanistan.

Menurut satu versi sejarah, Islam awal¬nya tiba di India pada abad ke-7 M. Adalah Malik Ibnu Dinar dan 20 sahabat Rasulullah SAW yang kali pertama me¬nyebarkan ajaran Islam di negeri itu. Saat itu, Malik dan sahabatnya menginjakkan kaki di Kodungallur, Kerala. Kedatangan Islam pun disambut penduduk wilayah itu dengan suka cita.

Malik lalu membangun masjid per¬tama di daratan India, yakni di wilayah Kerala. Masjid pertama yang dibangun umat Islam itu bentuknya mirip dengan can¬di, tempat ibadah umat Hindu. Ba¬ngunan masjid itu diyakini dibangun pada tahun 629 M.

Ada yang meyakini, masjid di Ko¬dung¬allur, Kerala, itu merupakan masjid kedua di dunia yang digunakan shalat Jum’at, setelah masjid yang dibangun Ra¬sulullah di Madinah.

Konon, dari Kerala-lah Islam lalu me¬nyebar ke seantero India. Dan di Kerala pula figur kita, Habib Abubakar bin Abdul Qadir Mauladdawilah, berlabuh sekitar dua bulan yang lalu, kurang lebih dua pe¬kan lamanya. Atas undangan sebuah in¬stitusi pendidikan di Kerala, Habib Abu¬bakar pun membulatkan tekad untuk be¬rangkat dan berdakwah di sana, dan kini berkenan berbagi sedikit cerita dengan segenap pembaca alKisah.

Melebarkan Sayap Dakwah
Dua tahun lebih sudah berlalu, saat Ha¬bib Abubakar mengisi rubrik Figur di alKisah pertama kalinya. Tepatnya bulan Juni 2010. Kini, Habib Abubakar hadir kem¬¬bali di tengah-tengah kita dengan mem¬-bawa segudang cerita dakwah yang menarik.

Pada edisi dua tahun lalu itu, disebut¬kan, Habib Abubakar, yang lahir dan me¬netap di Malang, sudah punya majelis di Banjarmasin, Kalimantan, yang berjalan secara rutin setiap bulan. Hingga saat ini majelisnya itu masih berjalan, bahkan pengunjungnya bertambah banyak. Ka¬lau dulu sekitar ratusan, sekarang ini bisa mencapai seribu orang.

Dari Banjarmasin, sayap dakwah Ha¬bib Abubakar terus dikepakkan. Sekitar setahun ini ia membuka majelis lagi di Kuta, Bali. Namanya sama dengan yang di Banjarmasin, Majelis An-Nur. Bisa di-katakan, Majelis An-Nur yang di Bali ini adalah cabang dari Majelis An-Nur yang di Banjarmasin. Materi yang dibawakan di sana juga kurang lebih sama, mem¬baca Maulid Nabi, dzikir Asmaul Husna, dan kajian kitab An-Nashaih ad-Diniyyah, karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

”An-Nur”, yang artinya cahaya, adalah nama yang diberikan oleh Habib Abdul Qadir bin Hasan Bin Quthban, salah se¬orang tokoh muda habaib Tuban saat ini. Dari Habib Abdul Qadir Bin Quthban ini pula ia mendapat bekal nasihat yang amat berharga, “Kalau berdakwah, terus enak-enakan, tidak ada ujiannya, dikha¬wa¬tirkan itu adalah istidraj dari Allah SWT.” Tanda-tandanya, awalnya memang terli¬hat menakjubkan. Tapi terakhirnya nanti akan hancur. Na’udzu billah min dzalik.

Karenanya, dalam berdakwah yang ia kedepankan adalah sikap istiqamah. Untuk bisa istiqamah, cobaan dan rin¬tangan dakwah selalu ada saja. Baik yang di Banjarmasin maupun di Bali, posisi majelisnya tak berjauhan dengan posisi diskotek besar.

”Menjelang puasa kemarin, di Banjar¬masin, berbarengan dengan ketika saya tawaqufan (penutupan sementara) ma¬jelis, tetangga di sana itu juga tawaqufan diskotek,” ujarnya setengah bergurau.

Dahsyatnya maksiat di sejumlah kota di Indonesia membuatnya terus bertekad menebar ajaran syari’at Rasulullah SAW di berbagai tempat. Ia kemudian menga¬takan, ”Apa lagi yang bisa kita perbuat un-tuk menyenangkan hati Rasulullah ka¬lau tidak dengan membuka majelis-maje¬lis yang di dalamnya disebut-sebut nama Allah SWT, menghidupkan sunnah be¬liau, dan mengisahkan perjalanan para kekasih Allah dan rasul-Nya sebagai be¬kal hidup bagi orang-orang terkemudian.”


Kagum pada Dakwah Salaf
www.majalah-alkisah.comKunjungan dakwah Habib Abubakar ke Kerala merupakan bagian dari rangkai¬an acara haul Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang diselenggarakan di sana. Sewaktu tiba di sana, kedatangan Habib Abubakar juga diiringi tabuhan hadhrah ala India.

Mungkin karena sudah menjadi ma¬sya¬rakat Islam sejak dulu sekali, kehidup¬an religius di sana termasuk membang-gakan. ”Masyarakatnya sangat religius. Hampir mirip seperti di sini, setiap habis magh¬rib mereka membaca Ratib Al-Haddad. Mereka juga membaca Maulid Simthud Durar,” kata Habib Abubakar.

Beberapa kali Habib Abubakar me¬nye¬but-nyebut nama Habib Hasyim, se¬orang tokoh ulama di sana. Nama leng¬kapnya Hasyim bin Abdurrahman Al-Had¬dad. Ia memperkirakan, usia Habib Hasyim antara 50 hingga 60 tahun. Meski dari keluarga Al-Haddad, Habib Hasyim dan beberapa leluhurnya sudah kelahiran India.

”Beliau gemar meneliti sejarah. Orangnya penuh wibawa. Sikapnya me¬nunjukkan bahwa ia seorang ahlul ’ilm (ter¬pelajar). Dari caranya menerima tamu, berdoa, berbicara, tampak sekali bahwa sikapnya adalah sikap seorang ahlul ’ilm, dan beliau ahlul ’ilm yang mutawadhi’ (ren¬dah hati),” kata Habib Abubakar lagi.

”Di sekolah itu”, yaitu sekolah yang di¬asuh Habib Hasyim, ”pelajaran keislam¬an amat dikembangkan sedemikian rupa.”

Saat acara haul berjalan, Habib Abu¬bakar bertutur tentang sejumlah kisah ter¬kait Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad se¬bagaimana yang ia dengar dari guru-gurunya, di lingkungan Ma’had Darul Ha¬dits Al-Faqihiyyah, Malang. Di antaranya, sebagaimana yang ia tukil dari kalam Ha¬bib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, betapa Rasulullah SAW sangat mencintai Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, sampai-sam¬pai dikatakan bahwa, di mata Rasul¬ullah SAW, Habib Abdullah ini termasuk sebaik-baik keturunan beliau.

Selain menghadiri acara haul, selama di sana ia banyak diajak menziarahi kom¬pleks pemakaman awliya’ dan shalihin. Subhanallah, ternyata tak sedikit di antara makam-makam awliya’ yang diziarahinya itu adalah kaum Sadah Alawiyyin. Sekitar tujuh kompleks pemakaman para wali di sana ia ziarahi, memanfaatkan waktu ko¬song selama dua pekan kunjungannya di Kerala.

Di antara makam para awliya’ di sana yang ia ziarahi adalah makam Habib Mu¬hammad bin Abdurrahman Bahasan Ja¬malullail dan makam Habib Alwi bin Sahl Mauladdawilah. Sepulangnya dari India, Habib Abubakar membawa oleh-oleh sejumlah risalah berisi manaqib sejumlah orang shalih yang makamnya menjadi tem¬pat ziarah kaum muslimin di sana, yang masih menghargai dan mengenang jasa-jasa yang telah diberikan oleh para ulama dan shalihin tempo dulu itu.

Selama di sana, hampir tak ada ken¬dala yang berarti yang ia dapati. Sesekali ada kesulitan dalam hal bahasa, terutama ketika ia sedang ada keperluan berbicara dengan penduduk setempat, sedangkan pendamping penerjemahnya sedang ti¬dak ada di sampingnya, seperti saat ia sedang di penginapan.

Dari perjalanannya itu, Habib Abu¬bakar merasa beroleh hikmah yang be¬sar. Ia menyampaikan rasa kagumnya yang luar biasa kepada para pendahulu Alawiyyin.

”Bayangkan luar biasanya para pen¬dahulu, kaum Alawiyyin, dari Hadhramaut itu. Mereka datang ke berbagai negeri, ter¬masuk ke India sini, tanpa memakai pe¬nerjemah sama sekali. Mereka datang ke suatu negeri yang tak mengenal me¬reka sama sekali, bahkan mereka tak mengerti bahasa penduduk negeri itu.

Mereka juga menggunakan peralatan transportasi yang masih sangat jauh ke¬tinggalan dibanding zaman sekarang. Pa¬dahal kita sekarang naik pesawat saja ka¬lau perjalanannya jauh tetap saja rasanya badan-badan ini cepat lelah.

Tapi, mereka yang hidup dan ber¬juang dengan segala keterbatasan itu, subhanallah, justru berhasil menyebar¬kan Islam di banyak tempat, termasuk di India. Bahkan juga sampai di seantero Nusantara.

Jadi, kita ini memang tidak ada apa-apanya dibanding mereka,” kata Habib Abubakar menyimpulkan.

Ahli Barakah
Berbicara tentang ziarah ke makam-makam para waliyullah, para kekasih Allah, Habib Abubakar menyampaikan bah¬wa para kekasih Allah itu memang pan¬tas didatangi dan dikunjungi. Semasa hidup, mereka adalah para ulama yang ha¬nya dengan memandang wajah me-reka saja dapat menggiring hati sese¬orang untuk ingat kepada Allah.

Sekarang mereka telah wafat. Tapi, bukan berarti di kubur mereka mati seperti kebanyakan orang. Tidak. Para kekasih Allah itu tetap hidup dalam kubur mereka, dan ini jelas dinyatakan dalam Al-Qur’an. Jasad mereka juga tak termakan oleh bumi. Itu artinya, kita mendatangi mereka saat ini ketika mereka sudah wafat sama halnya dengan mendatangi mereka dulu ketika mereka masih hidup.

Mereka, kaum shalihin kekasih-ke¬kasih Allah itu, bukan hanya ahlul ‘ilm, tapi juga ahlul barakah. Sebab, perlu di¬cermati, seorang ahlul ’ilm belum tentu ahlul barakah.

Kemudian Habib Abubakar mengutip perkataan Al-Musnid Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, ”Ketika seseorang hen¬dak menuntut ilmu, mereka menda¬pat¬kannya di kitab-kitab. Ketika hendak mencari keberkahan, tidaklah mereka men¬dapatkannya kecuali dalam diri orang-orang shalih. Ahli ilmu banyak, tapi ahli keberkahan itu sedikit.”

Bagi Habib Abubakar, kalau ada ber¬bagai kejadian luar biasa dalam kisah ke¬hidupan para kekasih Allah SWT, se¬sungguhnya itu tergantung cara pandang. Contohnya Imam Ali Zainal Abidin, tokoh besar yang sampai dijuluki ”perhiasan ham¬ba-hamba Allah”. Saat ia wafat, ada tanda kehitaman di bagian bawah mata¬nya, karena begitu banyaknya ia mena¬ngis di waktu malam.

Tak diragukan, ia adalah seorang wali¬yullah. Dalam banyak biografi yang menyebutkan riwayat hidup Imam Ali Zainal Abidin, disebutkan, setiap malam, ia shalat sampai seribu rakaat.

Mungkin kita bertanya-tanya, bisakah tercapai bilangan seribu rakaat di setiap malam pada malam-malam Imam Ali Zainal Abidin? Padahal dalam bagian lain dari biografi Imam Ali Zainal Abidin juga disebutkan betapa di sebagian malamnya ia selalu berkeliling kota Madinah untuk membagikan bahan-bahan makanan lang¬sung sampai di depan pintu para penduduk Madinah yang membutuhkan bantuan. Lalu kapan waktunya ia shalat sampai seribu rakaat?

Menjawab pertanyaan itu, Habib Abu¬bakar hanya mengatakan, ”Imam Ali Zainal Abidin seorang kekasih Allah, se¬dangkan Allah adalah Sang Pencipta waktu.”

Jawaban yang singkat namun padat.

Sumber : http://www.majalah-alkisah.com/index.php/figur/26-profile-tokoh/1393-habib-abubakar-bin-abdul-qadir-mauladdawilah-dari-kuta-sampai-kerala

Pertemuan Kiai Wahid dengan Jenderal Sudirman

Suatu hari, aku diajak K.H.A Wahid Hasyim menengok Pak Dirman, Panglima Besar. Sudah beberapa hari beliau sakit yang sangat keras.

"Saya sakit, Mas Wahid...," Pak Dirman sambil berbaring mengulurkan tangan kepada K.H.A. Wahid Hasyim.

"Semoga lekas sembuh...," sambut K.H.A. Wahid Hasyim.

"Apa kabar Saudara?" Pak Dirman memalingkan pandangannya kepadaku dan tangannya kusalami.

"Apa sakitnya Mas Dirman?" tanya K.H.A. Wahid Hasyim.

"Paru-paruku. Kata dokter, tinggal satu yang berfungsi," Pak Dirman menjawab sambil batuk-batuk.

Kami semuanya diam, amat terharu aku melihat Panglima Besar yang sedang berbaring.

Badannya bertambah kurus saja, dan kelihatan pucatkarena kekurangan tidur. Beliau melayangkan pandangannya kepadaku sambil bertanya:

"Sudah lama kita tidak saling ketemu. Apa masih memimpin Hizbullah?"

"Pak Dirman kelewat sibuk, aku tidak sampai hati mengganggu Pak Dirman. Danaku masih bersama anak-anak Hizbullah," jawabku.

Aku dan Pak Dirman telah lama berkenalan, sejak sebelum Jepang datang. Kami berasal dari satu daerah, Banyumas, dan sama-sama menjadi guru sekolah swasta. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan "Mas", tetapi sejak beliau menjadi Panglima Besar, rasanya panggilan "Mas" itu tak begitu sedap lagi. Sejak itu aku memakai panggilan "Pak" kepadanya. Mula-mula beliau keberatan atas perubahan ini, tetapi aku katakan, biarlah demikian, soalnya wajar saja. Aku berpikir,yang harus menghormati seorang pemimpin, mula-mula hendaklah kawannya sendiri.

"Mas Wahid, saya kira Mas baik sekali kalau datang lagi ke Bung Karno, untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya dewasa ini.

Kemarin dahulu saya katakan kepada beliau tentang persoalan kita dengan Belanda. Janganlah hendaknya pemerintah meremehkan kemungkinan Belanda melakukan serbuan ke Yogya. Saya seorang militer, saya menghargai pandangan politik pemerintahan, akan tetapi padangan secara militer juga hendaknya dipertimbangkan," Pak Dirman memulai dengan pembicaraan tingkat berat. Karena yang perlu menanggapi masalah berat ini K.H.A. Wahid Hasyim, maka aku ingin menjadi seorang pendengar saja.

"Saya sudah ketemu Bung Karno, juga Bung Hatta. Saya bisa mengerti politik diplomasi pemerintah, akan tetapi diplomasi tanpa kekuatan militer hampir tak ada gunanya. Sebab itu, menurut saya, biarkan saja kalau terjadi pertempuran-pertempuran antara Belanda dan anak-anak kita, agar Belanda menyadari bahwa kita juga mempunyai kemampuan tempur. Kekuatan kita berangsur-angsur lebih dibanggakan, hal itu perlu bantuan moril dari kaum diplomat kita," demikian K.H.A. Wahid Hasyim.

"Yang sudah lama saya khawatirkan, kini benar-benar terjadi. Orang-orang komunis menusuk dengan belati di punggung kita, ketika kita sedang menghadapi Belanda. Yang saya pikirkan, bila sewaktu-waktu Belanda menyerbu ke Yogya, kekuatan militer kita jangan tercerai berai. Itu sebabnya saya perintahkan kepada Markas Besar untuk mempercepat penghancuran terhadap pemberontakan PKI di Madiun.

Alhamdulillah, Tuhan merahmati perjuangan kita," Pak Dirman berhenti bicara, air matanya mulai menggenang. Kami semua terharu.

Aku sudah cukup lama duduk menyertai dua orang penting ini. Yang satu Panglima Besar dan satunya penasehatnya. Barangkali akan ada pembicaraan yang hanya berdua saja boleh tahu, maka aku permisi akan keluar sebentar dengan alasan akan telepon. Aku berada di kamar ajudan untuk mengadakan pembicaraan telepon dengan K.H. Masykur, Menteri Agama. Aku katakan kepada beliau bahwa ada sebuah pesan dari K.H.A. Wahid Hasyim agar beliau menanti di hotel"Merdeka".

Aku kira-kirakan bahwa pembicaraan empat mata sudah selesai. Aku segera masuk ke ruang tidur Pak Dirman, di manabeliau menerima kami sambil berbaring sejak tadi.

Ternyata pembicaraan empat mata tinggal ekornya saja. Aku cuma menangkap pembicaraan K.H.A. Wahid Hasyim, beliau berjanji setelah menjumpai Presiden akan menemui Pak Dirman lagi dirumahnya.

Kami berpamitan. Pak Dirman memegang tanganku lama ketika kami bersalaman. Beliau meminta didoakan semoga lekas sembuh, dan meminta aku sering-sering datang. Aku sanggupi dengan ucapan Insya Allah!

( KH Saifuddin Zuhri , Guruku Orang-orang dari Pesantren )
sumber: NU Online

KH. Abdul Hamid dan KH. Moh. Said

Pagi itu hampir beranjak siang, al-Arif Billah KH. Abdul Hamid Abdullah Umar Pasuruan, sdh berada di depan ndalem (kediaman) KH. Mohammad Said, pengasuh pondok PPAI Ketapang Kepanjen Malang, seraya mengucapkan "Assalamualaikum ...". Sampai 3 kali beliau mengucap salam, tapi tak ada jawaban.

Tak lama kemudian, mucul seorang santri datang dari bilik yg tak jauh dari ndalem Romo Kyai Said mendatangi Romo Kyai Hamid yg berada di serambi ndalem.

"Romo Kyai Said wonten?" Tanya Kyai Hamid

"Romo Kyai Said kadose tindakan kolowau kaleh bunyai. Ngapunten, saking pundi?" Tanya santri tadi

"Kulo Abdul Hamid saking Pasuruan .."

Mendengar jawaban itu santri tadi langsung bingung tak tahu harus berbuat apa karena tahu yg dihadapannya bukan orang biasa, tetapi Kyai panutan banyak org. Melihat hal itu Kyai Hamid pun langsung berkata kpd santri tadi;

"Menawi ngaten kulo tak ngrantosi Romo Kyai Said ten masjid mawon mpun nak geh .."

Akhirnya Kyai Hamid pun berjalan menuju masjid, sholat dua roka'at dan kemudian tidur-tiduran di depan mihrob masjid yg tak jauh dari ndalem itu. Sedangkan santri tadi sambil bingung kembali ke bilik memberi tahu teman-temannya bahwa tamu tadi adalah Kyai Hamid dari Pasuruan yg alim dan waro' itu.

Selang hampir satu jam, melihat kondisi Romo Kyai Hamid yg sedang tidur-tiduran di depan mihrob masjid pondok menunggu kedatangan Romo Kyai Said yg tengah 'tindakan' (bepergian), akhirnya santri tadi berinisiatif utk mencari keluarga atau abdi ndalem yg ada agar bisa membukakan pintu ndalem Kyai Said agar Kyai Hamid bisa menunggu di ndalem saja.

Maka tdk lama kemudian, keluarlah Gus Kholidul Azhar, putera angkat Romo Kyai Said, dari dalam ndalem sambil kelihatan layu nampak habis bangun tidur. Maka tanpa basa-basi santri tadi langsung berkata kepada Gus Kholid.

"Gus, wonten Yai Hamid Pasuruan bade sowan dateng Romo Yai .. (KH. Moh. Said)"

"Iyo wis mari ketemu kok .." jawab Gus Kholid

"Lho, kepanggih pripun tho gus .. Lha wong Yai Hamid sak meniko tasik nenggo Romo Yai Said kundur saking tindakan ten masjid ngantos sare wonten ngajenge mihrob .."

"Lho, sopo sing ngomong Abah (Yai Said) tindak? Wong iki maeng lho aku metu teko kamar (habis tidur) abah karo Yai Hamid isik temon-temonan ndek mbale (ruang tamu) omah .."

"Lho, saestu gus .. Romo Yai (Said) tasik tindakan, kulo ningali piambak wau mios ipun (keluarnya) .. Pramilo Yai Hamid nenggo Romo Yai kundur sakniki ten masjid .."

"Koen iki yokpo se, dikandani lek abah karo Yai Hamid isik temon-temonan ndek mbale kok gak percoyo?"

"Mosok nggeh gus .. Saestu tah? Wong nembe mawon kulo tasik ningali Yai Hamid wonten masjid, sare ten ngajenge mihrob. Lan kulo ningali Yai tindakan lan dereng kundur .."

"Koen iki, dikandani kok gak percoyo .."

Di tengah perdebatan antara santri tadi dgn Gus Kholid, tiba-tiba datang mobil Holden Romo Kyai Said datang dan berhenti di depan ndalem, seraya keluarlah dari dalam mobil tadi Romo Kyai Said dan Ibunyai.

Melihat pemandangan itu, gus Kholid dan santri tadi menjadi bingung ..

"Lho gus .. niku lho Romo Yai nembe kundur saking tindakan .." tukas santri tadi

"Lha terus, sing tak delok temon-temonan ndek mbale omah iki maeng sopo?" Sela Gus Kholid

"Lha geh duko gus .." jawab santri tadi

Di tengah kebingungan keduanya, maka Gus Kholid langsung menghampiri Romo Kyai Said yang baru keluar dari mobil, seraya berkata ..

"Abah, wonten .."

Belum selesai berkata, Kyai Said pun menjawab ..

"Yai Hamid? Wis .. wis .. Abah wis ketemu kok .." jawab Yai Said kpd gus Kholid sambil berjalan menuju dalam ndalem.

Maka makin bingunglah gus Kholid dan santri tadi mendengar jawaban Romo Kyai Said tersebut. Dan untuk menghilangkan kebingungan tadi, santri tadi langsung berlari ke masjid untuk memastikan Kyai Hamid masih di depan mihrob. Tapi justru kebingungannya semakin menjadi ketika dia menemukan Romo Kyai Hamid sdh tidak ada di dalam masjid, dan dicari kemana-mana tidak ketemu.

Maka disampaikanlah cerita tadi ke teman-teman santri di pondok oleh santri tadi.

"Lha terus, sing temon-temonan ndek mbale ndalem maeng sopo, kang?" Tanya santri tadi

"Kang, ojo kathek bingung karo wali-waline gusti Allah. Sebab wali iku lelakone ora kenek diakal, tapi kenek didelok lan dipercoyoi .." jawab santri yg lain.

(Sumber; KH. Achmad Muchtar Gz, santri Romo KH. Moh. Said)

Karena itu, bagi kawan-kawan yang ingin tabarrukan dengan wilayah al-arif billah, Romo KH. Abdul Hamid bin Abdullah Umar.

Sumber : http://www.facebook.com/abu.yazid.albusthomi/posts/10200338498562662

Sabtu, 29 September 2012

AL HABIB ZEIN BIN ‘ALI BIN AHMAD BIN ‘UMAR AL JUFRI (Semarang)


Habib Zein Al Jufri dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara, suka beramal shalih, dan akhlaqnya sangat tinggi, la menghormati para ulama, menyayangi para pemuda, dan lembut kepada anak-anak.

Diantara ciri khas akhlak beliau yang terlihat ialah “Kalau datang di suatu majelis, beliau duduk di belakang, dan tidak ingin merepotkan orang lain dengan melangkahi tempat duduk orang lain,” ujar Habib Ahmad Al-Jufri.

Banyak orang merasa ditolongnya. Seperti ketika terjadi banjir di Semarang, ada seseorang yang kebanjiran mendapatkan bantuan beras dan pakaian dari Habib Zen. Di lain waktu orang itu datang ke Habib Zen dan berterima kasih karena sudah dibantu ketika banjir. la mengatakan, ia bertemu Habib Zen pada waktu banjir itu. Saat itu Habib Zen mengenakan sarung, baju, dan peel putih, persis seperti yang dimiliki Habib Zen. “Padahal pada saat itu, saya tahu, Abah ada di dalam kamar rumah karena sakit,” kata Habib Ahmad.

Habib Zen Al-Jufri lahir di Kawasan Petek, Semarang Utara, pada 1911, la adalah salah satu dari empat anak Habib Ali bin Ahmad bin Umar Al-Jufri, Leluhurnya, Habib Umar Al-Jufri, berasal dari Taris, kota kecil antara Seiwun dan Syibam, datang ke Semarang bersama anaknya yang masih kecil, Ahmad. Habib Umar lalu berdagang dan berdakwah di Semarang. Kemudian ia mengawinkan anaknya, Ahmad, dengan putri patih Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kakeknya inilah yang kemudian membangun rumah gedung di Jalan Petek, yang pada waktu itu merupakan rumah yang tergolong mewah dan besar. Ahmad adalah seorang pedagang yang berhasil, sehingga banyak meninggalkan harta benda.

Zen Al-Jufri kecil bersekolah di madrasah di Semarang, kemudian melanjutkan ke Madrasah Syama’il Al-Huda di Pekalongan dan di Surabaya.

Pada umur belasan tahun, ia pernah belajar ke Hadhramaut, tepatnya di kota Taris, dan salah satu gurunya adalah Habib Idrus Al-Jufri, Palu, pendiri Perguruan Al-Khairat. Di Hadhramaut, ia hanya belajar selama tiga bulan. Kemudi¬an ia diajak pulang ke Indonesia oleh Habib Idrus Al-Jufri.

Di tanah air, Habib Zen masih melanjutkan belajarnya kepada banyak guru, khususnya di Jakarta. Di antaranya, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Kwitang, tetapi yang cukup teratur ia mengaji kepada Habib Abdur¬rahman Assegaf. Sedang di Pekalong¬an, ia belajar kepada Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas. Setelah itu ia kembali ke Semarang.

Rumahnya di Jalan Petek di Se¬marang merupakan persinggahan para habib bila lewat ke ibu kota Jawa Tengah itu. Hampir setiap Sya’ban, Habib Abubakar Assegaf, Gresik, Habib Salim Bin Jindan, Jakarta, Habib Ali bin Husein Alatas, Bungur, Habib Soleh Tanggul, dan yang lainnya, menginap di rumah¬nya. “Kalau para pembesar dari kalangan habaib datang ke rumah Abah, pasti kami adakan pembacaan Maulid dan rauhah,” tutur Habib Ahmad.

Kepada para tokoh habaib itu, Habib Zen selalu berujar, “Masukkan nama ana di hati antum, supaya antum cintai.”
Habib Abubakar Assegaf Gresik menjawab, “Melihat langsung wajah antum, nama antum tersimpan dalam hati ana.” Waliyullah dari Gresik itu menambahkan, “Akhlaqmu, Zen, sebagaimana namamu.” (Zen dalam bahasa Arab berarti “perhiasan” atau “bagus”).

Pada tahun 1950-an, Habib Zen membaca kitab Ihya’ Ulumiddin untuk beberapa pendengar, dan menjelaskan dalam bahasa Arab. Namun karena jama’ah semakin bertambah, pengajian diganti de¬ngan membaca kitab-kitab Habib Abdullah Al-Haddad, seperti An-Nashaih Ad- Diniyyah, dan ditambah Tanbihul Ghafilin.
Pengajian itu berjalan hingga Habib Zen meninggal pada Desember 1992, dimakamkan di Pemakaman Bergota, Semarang.
Seorang janda di Gresik sehari sebelum Habib Zen meninggal berujar, “Orang yang menjatah saya sekarang sudah tidak ke sini lagi.”

Habib Zen memang tidak pemah meninggalkan Haul Habib Abubakar Assegaf Gresik. Di tempat itu, ia suka memberikan jatah uang kepada orang miskin.

Kini banyak generasi muda yang hanya mengenal namanya tetapi belum tahu manaqibnya. Menurut Habib Hasan Al-Jufri dan dua rekannya, Habib Abddurahman Bin Smith, M.A., dan Habib Ghazi Shahab, Habib Zen Al-Jufri adalah ulama besar yang dikenang umatnya bukan karena semata-mata ilmunya, melainkan lebih karena akhlaqnya yang luhur.

Narasumber : “Habib Ahmad bin Zein Al Jufri” (Anak Habib Zein Al Jufri)

HABIB ALWI BIN SALIM ALAYDRUS


Lahir Di Malang  pada Tahun 1341 H/1923 M. Wafat 22 Rabiul Tsani 1416 H (19 September 1995). Dimakamkan di pemakaman umum Kasin, Malang. Pendidikan Madrasah Attaraqqie Malang. Putra/Putri 4 Orang.
Perjuangan/Pengabdian :
Kepala Madrasah Attaraqqie Malang, Ketua Majelis Tahkim Masjid Agung Jami' Malang, Rois Syuriyah NU Cabang Kota Malang, Perintis Majelis Taklim Al Islami Kota dan Kabupaten Malang, dan mengajar di beberapa masjid, termasuk di Masjid Agung Jami' Malang.
Ulama Kharismatik, yang Gigih Berdakwah
Nama Al Ustadz Al Habib Alwi bin Salim bin Ahmad Alaydrus di kalangan masyarakat Kota dan Kabupaten Malang sangat berpengaruh. Bahkan, karena kealiman ilmunya, tokoh ulama kharismatik, yang akrab dipanggil Ustadz Alwi ini sangat disegani. Tidak hanya para habaib, kiai, ustadz, dan tokoh masyarakat, tapi para pejabat. Karenanya, beliau dijadikan panutan dalam menentukan suatu hukum Islam yang berkembang saat itu.   
Ustadz Alwi dilahirkan di Malang pada tahun 1341 Hijriyah, bertepatan pada tahun 1923 M. Ketika usia 4 tahun, beliau telah ditinggal wafat ayahnya, Al Habib Salim bin Ahmad Alaydrus. Beliau merupakan putra kedua, dari tiga bersaudara, masing-masing Habib Ahmad bin Salim Alaydrus, dan Habib Hasan bin Salim Alaydrus, semuanya telah dipanggil Allah SWT.
Menurut Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus, keponakan Ustadz Alwi, sewaktu kecil, Ustadz Alwi belajar Al Qur'an dari Syekh Ahmad Kodah, dan menuntut ilmu di Madrasah Attaraqqie di Embong Arab, yang kini menjadi Jl Syarif Al Qodri. Diantara guru-guru beliau, Habib Hasyim, Habib Muhammad, Habib Aqil bin Ali bin Yahya (mereka bertiga itu bersaudara).
Sekitar akhir tahun 1944 M, Ustadz Alwi belajar kepada Al Ustadz Imam Al Habr Al Quthub Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih ra, Pendiri dan Pengasuh Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang. Pada waktu itu, Habib Abdul Qodir Bilfaqih baru pindah dari Mojokerto ke Malang, dan kemudian oleh Habib Sholeh bin Muhammad Mauladdawilah (ayahanda Habib Baqir bin Sholeh Mauladdawilah) diangkat menjadi Kepala Madrasah Attaraqqie.
Sejak itu, Ustadz Alwi mendapat perhatian khusus dari Habib Abdul Qodir Bilfaqih. Sebab Habib Abdul Qodir mengetahui, jika Ustadz Alwi bakal mewarisi ilmu kakeknya, yakni Al Imam Al Kutub Al Habib Abdullah bin Abi Bakar Alaydrus Al Akbar, seorang ulama besar yang meninggal di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan.
"Karenanya, kemanapun Habib Abdul Qodir Bilfaqih berdakwah dan mengajar, ustadz Alwi selalu bersamanya. Hal tersebut berjalan sekitar 18 tahun. Selama itu, beliau menggali berbagai macam ilmu agama, baik yang tersurat maupun yang tersirat dari Habib Abdul Qodir. Kemudian, Ustadz Alwi diminta menggantikan posisi Habib Abdul Qodir sebagai Kepala Madrasah Attaraqqie,'' kata Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus, yang juga cucu menantu Habib Abdul Qodir Bilfaqih.

Namun, dalam perjalanannya, karena selain mengajar di Attaraqqie beliau juga mengajar ngaji di masjid-masjid dan berbagai daerah di Kota dan Kabupaten Malang, jabatan Kepala Madrasah Attaraqqie digantikan kakaknya, yakni Habib Ahmad bin Salim Alaydrus (ayahanda Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus) pada 1968. Itupun karena permintaan umat Islam di Malang yang haus akan ilmu-ilmu dan hikmah yang disampaikan Ustadz Alwi.
Setelah itu, beliau mencurahkan waktu dan harta bendanya untuk kepentingan dakwah dan kajian-kajian ilmu, terutama akhlak dan fiqih. Banyak para kiai sepuh, dan kiai muda, termasuk juga para ustadz dan masyarakat yang mengkaji ilmu di kediaman rumah beliau di Tanjung No 7, yang sekarang menjadi Jl. IR Rais Malang.
Beliau juga mengajar di Masjid Agung Jami' Malang mulai sekitar tahun 1969-an, dengan rujukan kitab Riyadhus Sholihin. Di sela-sela kesibukan berdakwah, beliau juga menjadi Ketua Majlis Tahkim Masjid Agung Jami' Malang pada 1986-1995, dan menjadi Rois Syuriyah NU Cabang Kota Malang mulai tahun 1971 sampai 1977.
Pada 1 Oktober 1981, Ustadz Alwi bersama H. Samsul Arif  Zaki dan 11 orang lainnya, yang waktu itu masih aktif di Pengurus NU, GP Ansor Cabang Kota Malang mendirikan Majlis Taklim Al Islami, yang kemudian kelompok pengajian itu menyebar ke berbagai daerah.
Upaya menegakkan ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jama'ah, yang bernafas Islamiyah, Sunni, dan Syafi'iyah, pada tahun 1989 ustadz Alwi mendirikan Pesantren Darut Taklim wad Dakwah di Bumiayu, Kedungkandang, yang tanahnya dibeli sendiri, dan kini diteruskan keluarganya, terutama untuk pengajian ibu-ibu muslimat, yang diasuh oleh ustadah (istri Ustadz Alwi).
Tokoh ulama, yang hidup sederhana dan ahli fiqih ini, menurut Habib Sholeh, sangat berhati-hati dalam menerapkan hukum Islam. ''Beliau tidak pernah m
Bahkan, saking hati-hatinya ulama yang mempunyai referensi ribuan kitab ini, dalam menerapkan syariat Islam, sewaktu gigi depannya tanggal (patah). Beliau tidak mau mengimami shalat berjamaah, karena dikhawatirkan ketika melafalkan ayat-ayat Al Qur'an itu tidak fasih.
Kegigihan beliau dalam berdakwah untuk menyebarkan ajaran Rasulullah SAW memang sangat tinggi. Meski dalam keadaan kurang sehat, ataupun keadaan hujan, perjalanan ke daerah-daerah pelosok desa, jika sudah waktunya,  maka dalam keadaan apapun akan berangkat. Tak peduli harus berjalan kaki, hingga naik kuda ke daerah Baran, Tajinan, Buring dan beberapa daerah pegunungan di kawasan Buring.
Pernah suatu ketika, setelah ngaji di Ponpes Darus Sa'adah, Gubugklakah, Poncokusumo, Ustadz Alwi malam itu memaksa harus pulang. Padahal waktu itu sudah pukul 20.30 WIB, dengan alasan karena bakda Shubuh harus mengajar ngaji di rumahnya. ''Akhirnya beliau diantar mobil. Namun, sekitar 15 menit kemudian sopir sudah datang. Sewaktu melihat jam, ternyata masih pukul 20.45 WIB, dengan terheran-heran sopir itu mengatakan, jika ia telah mengantarkan bukan orang sembarangan. Mengingat perjalanan Poncokusumo-Malang yang biasanya ditempuh sekitar 2 jam PP itu hanya ditempuh sekitar 15 menit,'' kata Ustadz H Nur Hasanuddin, santri Ustadz Alwi, yang juga Pengasuh Ponpes Darus Sa'adah, seraya menambahkan jika sejak saat itu, sopir yang 'nakal' tersebut langsung tobat dan taat beribadah.
Ustadz Alwi dipanggil Allah SWT pada Selasa 22 Rabiul Tsani 1416 H, bertepatan pada 19 September 1995 sekitar pukul 04.30 WIB, setelah adzan Shubuh di kediamannya dalam usia 72 tahun, dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kasin. Beliau wafat karena sakit gagal ginjal, sempat dirawat di rumah sakit RST Soepraoen, Sukun Malang. Beliau meninggalkan seorang istri dan empat anak, diantaranya dua putra, yakni Habib Abdullah bin Alwi Alaydrus, dan Asadullah bin Alwi Alaydrus, yang belajar di Hadramaut, Yaman, serta dua orang putri. (*)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons