Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.
Tampilkan postingan dengan label Ulama'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama'. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 September 2012

Al Marhum Al Maghfurlah Muhammad Yunus (Mu’allim Yunus)

Mu’allimin Yunus adalah ulama nomor satu di tanah Betawi Kawasan Bukit Duri setelah beliau barulah yang lainnya. Ia lahir di Jakarta pada 31 November 1914 dengan nama Muhammad Yunus, anak pasangan Muhammad Sholeh dan Napsiah. Ibunya adalah seorang guru agama bagi hampir seluruh warga betawi di bukit duri dan sekitarnya pada saat itu, dengan sapaan akrab guru Nap. Sang ibu adalah tokoh masyarakat yang sangat disegani. Dari wanita inilah kemudian lahir banyak Ulama dan Habaib berdarah betawi di Bukit Duri Jakarta.
Mu’allim Yunus, demikianlah nama seorang tokoh yang pernah sangat akrab di dengar bagi masyarakat di kawasan Bukit Duri di masa lalu. Secara historis, peranan Mu’allim Yunus sangatlah sentral dalam membentuk masyarakat Bukit Duri sebagai salah satu wilayah dari sedikit wilayah di Jakarta ini yang memiliki asatidz dan keterkaitan keluarga dengan Guru Nap.
Salah satunya adalah keluarga Habib Abdurahman Bin Ahmad bin Abdul qodir Assegaf, termasuk di dalamnya. Karena Habib Abdurahman menikah dengan H.Barkah, yang tak lain adalah cucu dari Guru Nap. Sehingga seluruh putra Habib Abdurahman, yang saat ini juga menjadi ulama, pun tak lain keluarga besar Guru nap, ibunda dari Mu’allimin Yunus.
Setelah dididik dalam lingkungan keluarga yang penuh nuansa keilmuan, terutama dari tangan dingin sang ibu, ia melanjutkan pelajarannya kepada guru Marzuki inilah dirinya semakin terbentuk sehingga menjadi ulama besar pada beberapa dekade silam.
Teladan Kesabaran
Hampir semua masalahnya yang ada dihadapinya dengan penuh kesabaran ,kesabarannya tidak mengenal waktu dan tempat. Kepada murid-muridnya ,maupun di tengah keluarganya . Walhasil ,dalam kondisi apapun ia dapat tetap tampil sebagai seorang yang disegani ,karena kesabarannya yang luar biasa tinggi.
Suatu ketika sepeda yang iya gunakan di pengadilan agama hilang di curi orang. Sedikitpun tak keluar dari lisannya kata-kata keluhan apalagi celaan untuk orang yang mengambil sepedanya.di tengah perjalanan pulang seseorang yang sering melihat ia menaiki sepeda bertanya. Dengan ringan dia menjawab” Ada yang pinjam”
Pada saat yang lain sudah dua bulan beras jatah bulanan dari kantornya tidak ia ambi. Setelah lewat dua bulan , salah seorang karyawan lainya mengatakan,”Mu’allim berasnya kok gak diambil-ambil,saya bawa kerumah,ya.?
Mu’allim menerima jasa baik yang ditawarkan. Rupanya,entah salah paham atau memang maksudnya tidak baik,beras tersebut ternyata di bawa kerumahnya si karyawan itu.
Setelah beberapa hari istri Mu’allim mulai gusar dan emosinya meninggi,bahkan sampai marah-marah.”belajar bisa marah ma orang,jatah beras dua bulan di ambil diem aje!!!” Mu’allim tetap tenang dan tidak melayani kemarahan sang istri,bahkan ia menjawan”berarti itu bukan rizki kita,insya allah nanti ada gantinya.”
Tak berapa lama murid terdekatnya datang.H.Yunus mendengar ada sedikit kegaduhan di rumah itu, si murid memberaikan diri untuk bertanyagerangan apa yang terjadi. Istri Mu’allim menjawab”Ni…guru lu,beras jatah dua bulan di ambil,didiemin aje.”
Spontan sang murid berinisiatif menjawab,”O..beras yang itu ada di rumah saya .nanti saya ambilin” Bergegas H.Yunus berangkat ke pasar dan membeli dua karung beras,dan langsung diantarnya ke rumah Mu’allim.
Di keluarganya, Mu’allim juga mendidik anak-anaknya dengan penuh kesabaran.salah seorang putranya ,Ustadz Muhammad yang saat ini meneruskan jejak dakwahnya mengatakan,”orang tua saya tidak pernah ada marahnya sama sekali kepada anak-anaknya,bertolak belakang dengan ibu yang amat tegas.Ujar anaknya.
Di samping sabar, ia juga sosok orang tua yang sangat perhatian dengan keluarga besarnya. Sering kali ia membeli makan dalam jumlah yang agak banyak untuk kemudian di bagikan kepada kerabatnya yang tinggal di Bukit Duri.meski sudah menjadi sosok yang sangat dihormati ketika itu, namun ia tidak segan-segan untuk menghampiri rumah kerabatnya satu persatu.begitu pula bila menjelang lebaran,hampir semua kerabatnya mendapat hadiah darinya berupa sarung,baju atau bingkisan lainya. Padahal ia sendiri bukan orang yang berlebih,melainkan orang yang hidup dengan penuh kesederhanaan.
Saat tekanan penjajah Belanda sedang keras-kerasnya di wilayah Bukit Duri dan sekitarnya,seluruh ulama yang berdiam di sana sempat angkat kaki dari wilayah itu, dan pindah ke kampung lain. Tapi tak demikian halnya dengan Mu’allim Yunus ia tetap bersabar menetap dirumahnya,meskipun sempat ada suara-suara miring tentang dirinya karena pilihannya yang tetap untuk tidak pindah. Rupanya hal itu dikarenakan perhatiannya yang sangat mendalam terhadap masyarakatnya yang masih tetap tinggal di sana. Katanya pada waktu itu,” kalau saya ikut pindah juga, lalu kalau di sini ada yang berzina karena tidak ada yang menikahkan atau tidak ada yang mengajarkan akhlaq kepada mereka, bagaimana?
Isyarat menjelang wafat
Sebagai seorang ulama, Mu’allim Yunus sangat dikenal kealimannya. Lantaran keahliannya, tidaklah aneh bila pada waktu itu hampir seluruh acara keagamaan dan kemasyarakatan di wilayah Bukit Duri diselesaikan lewat keputusannya. Karena kealimannya itulah ia dipercaya untuk memangku jabata ketua pengadilan agama Jakarta selatan,bahkan kemudian untuk lingkup Jakarta. Pada masa itu, posisi strategis ketua pengadilan agama tidak diduduki oleh pejabat karier seperti saat ini, tapi dipercaya kepada seorang ulama yang memang diakui kedalaman ilmunya. Sebelum Mu’allim Yunus yang menjabat posisi itu adalah K.H Abdul Hamid. Saat ia bertemu Mu’allim Yunus yang kemudian ia dengar akan masuk dijajaran pengurus pengadilan agama pada waktu itu,spontan ia mengatakan mulai minggu besok Mu’allim Yunus yang akan memimpin pengadilan agama ini.
Di mata para ulama di masanya, ia juga memiliki kedudukan yang istimewa. Guru Mansur Jembatan Lima, seorang ulama besar tempo dulu di Jakarta misalnya, pernah mewasiatkan, bia ia telah wafat, hendaknya orang-orang yang biasa mengaji padanya melanjutkan pelajaran kepada Mu’allim Yunus.
Murid-muridnya tersebar di banyak tempat. Di Bukit Duri sendiri ia sempat mendirikan kumpulan dengan nama Jam’iyyah Syubbanul Muslimin. Ia juga sempat menulis beberapa kitab diantaranya
Yang masih tersimpan hingga kini adalah sebuah kitabnya dalam bahasa arab pada masalah ilmu arudh ( bagian dari ilmu syair ). Al-awzan Al-Asjadiyah.
Di antara muridnya yang menjadi ulama besar adalah Mu’allim Yunus dan K.H Abdullah Syafi’i . Bahkan K.H Abdullah Syafi’i pernah mengatakan bahwa gurunya Mu’allim Yunus adalah gurunya yang pertama kali, yang telah banyak membentuk dirinya, sebelum ia mengenal dan berguru kepada guru lainnya.
Selain alim, sebagimana para ulama jaman dahulu , ia juga memiliki ke istimewaan dalam hal spiritual . H yunus murid terdekatnya pernah bertanya kepadanya bagaimana gambaran tentang Lailatul Qodar. Saat ditanya hal itu Mu’allim Yunus sempat seperti tak dapat berkata, lantaran sulit menggambarkan keagungan malam itu. Selang beberapa saat ia menjawab dan bercerita,pada suatu malam di bulan ramadhan, sepulangnya ia dari masjid di tengah malam , sesampainya ia di rumah ia kaget menyaksikan ke agungan malam itu, ternyata rumahnya menjadi terang benderang. Dan ia segera mengambil air wudhu menuju sumur dekat rumahnya, kemudian ia kembali dikagetkan karena sumur yang biasanya di timba untuk mengambil airnya, di malam itu menjadi luber dan melimpah ruah. Hingga untuk mengambilnya ia cukup mencidukan gayung dengan tangannya. Rupanya malam itu ia memperoleh anugerah Lailatul Qodar.
Senin sore dibulan Dzulqad’dah 1415 H/Mei 1995, menjelang wafatnya Mu’allim Yunus yang sedang sakit keras, mengatakan kepada keluarganya bahwa ia ingin bertemu dengan Habib abdurahman Assegaf, atau yang biasa disapa Al-walid… sebelum keluarganya menyampaikan pesan itu, rupanya hubungan bathin di antara keduanya telah membawa langkah kaki Al-walid untuk segera menemuinya, seakan Al-Walid telah mendengar pesan Mu’allim Yunus.
Sesampainya di kamar Mu’allim Yunus, keduanya berbicang-bincang empat mata. Kemudian tak lama Al- Walid keluar dari kamar dan mengatakan kepada keluarganya agar segera mempersiapkan segala sesuatunya, karena waktunya sudah tidak lama lagi.
Jum’at dini harinya, sekitar pukul tiga malam. Ia mengatakan kepada H. Yunus agar menyampaikan pesan kepada muridnya K.H Abdullah Syafi’i, supaya bersedia menjadi imam dala sholad jenazah bagi dirinya. Untuk menyampaikan amanah itu,H.Yunus agak ragu, karena sudah ramai berita yang mengatakan K.H Abdullah Syafi’i akan segera pergi menunaikan ibadah haji. Maka tanpa menunda-nunda H.Yunus segera mendatangi rumah K.H Abdullah Syafi’i dan menyampaikan pesan Mu’allim Yunus.
K.H Adbullah Syafi’i menerima pesan itu sebagai isyarat bahwa wafatnya Mu’allim Yunus memang sudah dekat sangat dekat, oleh karenanya iapun tak ragu menunda keberangkatannya. Dengan tegas K.H Abdullah Syafi’i menjawab “ ya, insya allah bisa”
Kabar tentang akan wafatnya Mu’allim Yunus sudah menyebar kemana-mana sehingga jum’at pagi itu rumahnya dipenuhi orang banyak. Hampir semua Ulama besar di Jakarta berkumpul di rumah Mu’allim Yunus, mendampinginya dengan mengaji dan membacakan surah yasin dan yang lainnya saat itu, Al-Walid tidak tampak di tengah-tengah mereka dan Mu’allim Yunus pun sudah tidak dapat berkata apa-apa.
Ketika waktunya hampir dekat Al-walid tiba-tiba datang dan memberikan aba-aba untuk seluruh yang hadir agar bersama-sama membacakan tahlil dengan dipimpin oleh Al-walid sendiri. Anehnya Mu’allim Yunus, yang sedari tadi tidak dapat berkata apa-apa , seketika ikut bertahlil bersama dengan suara yang cukup jelas terdengar. Tidak lama, setelah kalimat tahlil di baca berulang-ulang secara bersama-sama sekitar lima menit, Mu’allim Yunus pun menghembuskan nafasnya yang terakhir
Selasa sore 30 Dzulqad’dah 1415 H / 30 Mei 1995, pukul 16.00 WIB, Mu’allim penyejuk hati umat ini kembali keharibaan Ilahi. Jenazahnya dimakamkan disamping mihrab Mesjid Al-Makmur Jalan K.H. Abdullah Syafi’I, Tebet, Jakarta Selatan.

Senin, 10 September 2012

K.H. Abdullah As‐Sajjad

K.H. Abdullah As‐Sajjad dilahirkan di Guluk‐Guluk Sumenep dari pasangan Nyai Mariyah Idris Patapan dengan K.H. Muhammad  Asy‐Syarqawi  Al‐Qudusi pada sekitar tahun 1895 M. Nyai Aisyah, adik beliau, lahir pada Jumadil Awal 1316 H./September/Oktober  1898.  Tidak  diperoleh data  yang  pasti  mengenai  tanggal  kelahiran beliau.
Berdasarkan dugaan dimaksud, sewaktu  K.H.  Muhammad  Asy‐Syarqawi meninggal  pada  bulan Muharram  tahun  1329 H/Januari  1911  M  beliau  masih  sangat  muda. Sebagai  putra  tokoh agama  dan  mendapat dukungan  serta  fasilitas  dari  ibu  beliau,  beliau mengembara dan menuntut ilmu di Banyuanyar,  Bangkalan,  kemudian  di  Panji Siwalan Sidoarjo, di Tebuireng dan cukup lama di  Sidogiri.  Seperti  kakak  beliau,  pada  waktu menunaikan ibadah haji, beliau juga menggunakan  sebagian  waktu  beliau  untuk menuntut  ilmu‐ilmu  keagamaan.  Sewaktu  di Tebuireng  antara  lain  beliau  mempelajari  ilmu falak. Ditulisnya ilmu itu dengan tangan beliau sendiri.  Setelah  diteliti,  ternyata  kebanyakan kitab‐kitab  yang  beliau  tinggalkan  beliau  beli sesudah pulang dari pondok.

Kemudian  beberapa  waktu  sepulang menuntut  ilmu,  beliau  kawin  dengan  sepupu beliau, Nyai Shafiyah Munawwar dari Kembang Kuning, Talang, Pamekasan. Sesudah itu  beliau  menempati lahan  baru  dari  hibah salah seorang anggota masyarakat pada beliau. Di tempat yang baru ini beliau mulai mengajar mengaji  Al‐Qur'an  dan  ilmu‐ilmu  agama, antara  lain  beliau  mengajar kitab  setiap  Sabtu malam  Minggu  kepada  masyarakat  yang  juga datang  dari  luar  desa bahkan  luar  kecamatan seperti  dari  Desa  Penanggungan,  Beragung, Dundang, Payudan Daleman, Jaddung, Moncek, Gilang, Karang Cempaka, dan sebagainya. Pada  umumnya  mereka datang dengan  berjalan  kaki,  satu  dua  ada  yang  naik kuda  dan  hanya  seorang  yang  naik sepeda motor yaitu yang dari Karang Cempaka, karena dia  tergolong  orang  kaya  pada zamannya. Kemudian  tempat  ini  menjadi  pesantren sampai  sekarang  dan  dikenal  dengan  sebutan Latee. Konon,  kata  Latee  diambil  dari  nama pemilik asal tanah tersebut.

Beliau  dikenal  sangat  rajin  mengajar membaca  Al‐Qur'an  dengan  baik.  Untuk  itu ilmu Tajwid tidak lupa diajarkannya juga pada para  santri.  Dalam  mengajar  Al‐Qur'an  beliau menerapkan sistem  sorogan,  yaitu  santri  satu persatu  membaca  dan  kiai  mendengarkannya serta membetulkan  apabila  ada  bacaan  yang salah  dan  kurang  baik.  Ini  dilaksanakan  setiap harisampai  santri  menyelesaikan  30  juz. Sesudah  itu  santri  yang  telah  lulus  di‐“wisuda”. Mereka diharuskan berpidato dalam bahasa  Arab  yang    beliau  susun  sendiri. Dengan  demikian beliau  banyak  mengambil manfaat.  Setiap  hari,  selama  bertatahun  tahun, dari sumber yang beraneka ragam menginformasikan isi Al‐Qur'an kepada beliau. Sekalipun beliau tidak hafal sepenuhnya, tetapi topik‐topik dan pokok bahasan yang ada dalam Al‐Qur’an  beliau  hafal  dan tentu  memahami isinya.  Setiap  waktu  shalat  eliau  membaca Surat‐Surat  dalam  juz  Amma semisal  Surat  Al‐A'la,  Al‐Ghasyiyah,  At‐Takatsur,  Al‐Humazah, Al‐Ma'un  dan  lain  sebagainya. Khusus  pada Shalat Subuh hari Jum’at beliau suka membaca Surat  As‐Sajadah  pada  rakaat pertama  dan surah  Al‐Insan  pada  rakaat  kedua.  Sedangkan pada  Shalat  Isya'  Malam  jum'at beliau  suka membaca  Surat  Al‐Jumu'ah  pada  rakaat pertama  dan  Surat  Al‐Munafiqun  pada rakaat kedua.  Itu  dibaca  secara  tuntas  dari  awal sampai  akhir  surah.  Dari  itu  pola  hidup yang beliau  perlihatkan  sehari‐hari  sesuai  dengan apa yang beliau pahami dari Al‐Qur'an dan Al‐Hadits.  Pada  saat  itu  tantangan  modernisasi belum  begitu  kuat  dan  globalisasi  belum seperti sekarang.

Menurut  salah  seorang  informan, beliau  lebih  mengutamakan  bacaan  yang  baik dari  pada menghafal  seluruh  isi  Al‐Qur'an. Bahkan  terkesan  beliau  kurang  setuju  pada santri  yang  akan menghafalkan  seluruh  isi  Al‐Qur'an.  Barangkali  hal  ini  disebabkan  karena bacaan  para  santri menurut  pemikiran  beliau masih  kurang  baik  dan  terutama  beliau khawatir  kalau‐kalau  setelah di  masyarakat dilupakannya  sebagian  saja  oleh  mereka.  Pada saat  itu,  Annuqayah  dikenal dengan  santrinya yang  pandai  dan  baik  dalam  membaca  Al‐Qur'an  di  samping  baik  dalam tata  kramanya. Beruntunglah  Pondok  Pesantren  Salafiyah Syafi’iyah  Sukorejo,  karena  dahulu alumni‐alumni  Annuqayah  mengajar  membaca  Al‐Qur'an  dengan  baik. Mereka  itu  antara  lain K.H. Dhofir Munawwar, KH Ihsan Munawwar, K.   Musta’ien   dan   K.  Mahalli.

Selain  beliau  dikenal  sangat  rajin mengajar  Al‐Qur'an,  beliau  sangat  senang  juga mengajar ilmu‐ilmu  alat,  khususnya  ilmu sharraf. Untuk itu beliau sendiri mengajar para santri  senior  yang kemudian  mereka  itulah yang  melanjutkan  mengajar  pada  junior‐junior mereka.  Beliau banyakmeninggalkan  kitab yang  berhubungan  dengan  ilmu  ini,  bahkan bukan  hanya kitab‐kitab nahwu  dan  sharraf yang  beliau  tinggalkan,  tetapi  juga  kitab balaghah, 'arudl dan qawafi.

Beliau  juga  tidak  lupa  mengajarkan ilmu‐ilmu agama yang lain, bahkan dalam ilmu tauhid  untuk kebutuhan  para  santri,  beliau memudahkan  untuk  mempelajari  ilmu  ini dengan menadzamkannya.  Kitab  Qatrul  Ghaits peninggalan  ayah  beliau  yang  berupa  tulisan tangan dengan  dilengkapi  syakal  dan  arti  bagi mufradat  yang  dianggap  sulit,  beliau  nazham‐kan untuk  diajarkan  pada  santri‐santri  beliau. Ilmu  fiqh  dan  tasawuf  juga  beliau  ajarkan  di samping  matan  hadits.  Nampaknya  beliau sangat   senang  dan  antusias  mengajar  kitab Al‐Hikam.  Beliau  sering  menulis  istighasah  yang terdapat pada akhir kitab tersebut serta dibagi‐bagikan  kepada  sebagian  santri  kalong  yang terdiri  dari  anggota  masyarakat.  Untuk  Hadits beliau  meninggalkan  empat  kitab  syarah  Al‐Arba’în  an‐Nawâwiyah  yang  merupakan  kitab hadits  permulaan  yang  sangat  penting  untuk dipelajari. Di samping itu beliau suka mengajar kitab Al‐Jâmi'ush Shaghîr sehingga beliau sangat lancar   membaca  kode‐kode  yang  selalu terdapat pada  setiap  akhir  hadits.

Setelah  santri  bertambah  banyak, beliau  dibantu  oleh  santri‐santri  senior. Lahanpun  harus diperluas  dan  madrasah diadakan.  Madrasah  ini  hanya  mengajarkan ilmu‐ilmu  agama.  Ada beberapa  santri  senior yang  sangat  beliau  cintai  dan  dikader  untuk mengembangkan perjuangan  beliau.  Dalam perkembangan  selanjutnya  mereka  menjadi tokoh‐tokoh masyarakat yang sebagian mendirikan  atau  mengasuh  pesantren  yang terus  berkembang  sampai  saat  ini. Sebagai contoh  di  Banyuangi  K.H.  Ali  Mufi,  di  Jember K.H.  Syamsul  Arifin  Karangharjo,  K.H. Bakar Dukuh  Mencek,  K.H.  Munir  Kemuning,  di Situbondo  K.H.  Dhafir  Munawwar  dan  di beberapa desa dan kecamatan-kecamatan Kabupaten  Sumenep  semisal  di  kecamatan Guluk‐guluk K.H. Idrisi, di kecamatan Ganding K.H.  Hasyim  Thabrani,  di  kecamatan  Lenteng K.H.  Syamsul  Arifin,  di  kecamatan  Bluto  K.H. Raudlah,  di  kecamatan  Pragaan  K.H.  Jauhari dan  K.H.  Ali,  di  kecamatan  Dasuk  K.H.  Abdul Mannan  dan  lain  sebagainya.  Visi  makro pendidikan  yang  beliau  idam‐idamkan  adalah masyarakat  Islam  lewat  pengkaderan  santri‐santri  di  pesantren,  sesuai  dengan  paham  ayah beliau  yaitu  Ahlussunnah  Wal  Jamâ'ah Madzhab Syafi'i.

Beliau  sangat  pemberani.  Pada  waktu penjajahan  Jepang  beliau  tetap  mengadakan pengajian umum  dan  hataman  Al‐Qur'an, sekalipun  hal  tersebut  dilarang  oleh  penjajah Jepang.  Sewaktu Belanda  ingin  menguasai kembali  daerah‐daerah  di  Sumenep  Madura, beliau  bergerilya  dan memimpin  organisasi Sabilillah  untuk  kawasan  Sumenep.  Beliau dicari‐cari  oleh  penjajah Belanda.  Dan  innâ lillâhi  wa  innâ  ilaihi  râji’ûn  pada  tanggal  20 Muharram 1368 bertepatan dengan 3 September 1947 beliau dieksekusi oleh penjajah Belanda  di  lapangan  Guluk‐guluk.

Semasa  beliau  masih  hidup,  beberapa waktu  setelah  kemerdekaan  17  Agustus  1945, pada saat  harapan‐harapan  keagamaan  mulai tumbuh  mekar  di  dada  para  pejuang  yang benar‐benar  ikhlas  li  i'lâ'i  kalimâtillâh,  beliau mencalonkan  dan  terpilih  sebagai  kepala  desa Guluk‐guluk.  Pada  waktu  itu  hal  ini  sangat wajar  karena  beliau  dikenal  orang  di  samping kepiawaiannya  dalam  ilmu‐ilmu  agama  juga mempunyai  sifat  sosial  yang  sangat tinggi.Bengkok  atau  tanah  catoh  dalam  istilah  Madura sebagai  ganti  gaji  pegawai  pemerintah hanya beliau  gunakan  seperlunya,  sebagian  beliau  berikan  garapannya  pada  orang‐orang  yang beliau anggap pantas untuk memanfaatkannya. Pada  masa  hidupnya  seperti  di  sebutkan  di atas,  beliau  mengadakan  pengajian  umum untuk  tokoh‐tokoh  masyarakat  di  Pondok Pesantren Latee dan perkumpulan-perkumpulan  membaca  burdah  di  hampir seluruh  kampung  di  desa Guluk‐guluk.  Dikala ada  tetangga  sakit  beliau  mengajak  beberapa orang santri untuk membacakan burdah dengan doa semoga ia akan segera sembuh atau segera diambil  oleh  Tuhan jika  sudah  tiba  waktunya. Beliau  juga  sangat  senang  bersilaturrahmi terutama pada famili‐famili beliau.

Sebagai  tokoh  masyarakat  dan  guru agama,  penampilan  beliau  agak  perlente, sarung  dan baju  yang  beliau  kenakan  hanya yang  baik‐baik  saja.  Beliau  tentunya  selalu ingat terhadap hadits yang mengatakan tentang Jibril sewaktu mengajar tentang agama. Namun demikian  beliau tidak  senang  terhadap  dunia dan  rela  apa  adanya.  Konon,  diwaktu  beliau mempunyai  uang, beliau  menyewa  dokar  dan membawa  anak‐anak  beliau  ke  pasar  untuk membelikan  sesuatu, sehingga  uang  itu  habis untuk  kepentingan  keluarga.  Demikian  juga waktu beliau meninggal, beliau tidak meninggalkan harta untuk istri beliau. Menurut penuturan istri beliau yang dinikahi sepeninggal istri beliau yang pertama, segala pakaian  yang  beliau  tingggalkan  habis  dicuri maling  sewaktu  masih  tinggal  bersama  ibu mertuanya, sehingga harus memulai kehidupannya dari nol dalam keadaan miskin. Tetapi alhamdulillâh selanjutnya semua dikaruniai  kelebihan  oleh Allah  sehingga  yang pantas  terucap  hanya  syukur,  syukur  dan syukur kepada‐Nya. (Hz)

Sumber : Buku Sejarah, Visi dan Misi Pondok Pesantren Annuqayah
              © KH. A. BasithAS., BA., 2008

Syeikh Muhammad Zainuddin Al Baweyani

Kelahiran dan pertumbuhan beliau

Syeikh Muhammad Zainuddin di lahirkan pada tahun 1334 hijriyah, dengan begitu beliau lebih tua satu tahun dari Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani yang lahir pada tahun 1335 hijriyah.

Beliau di besarkan oleh kedua orang tuanya dan tumbuh membesar di kalangan masyarakat yang penuh dengan agama, sehingga jiwa dan raganya di serahkan untuk beribadah dan menutut ilmu semata, tidak berbeda dengan anak-anak yang lain beliau juga memasuki maktab al-Qur`an untuk belajar al-Qur`an dan tajwidnya,

Pendidikkan beliau

Setelah belajar dasar-dasar agama maka beliau memulai memasuki bangku sekolah secara Formal , mka beliau memasuki madrasah al-Fakhriyyah sehingga berhasil menamatkan pendidikkannya di sekolah tersebut, kemudian beliau melanjutkan pendidikkannya ke jenjang yang lebih tinggi, sekolah yang beliau pilih sebagai lanjutan pendidikkannya adalah Madrasah Solatiyyah al-Hindiyyah yang ketika itu telah banyak mencetak ulama-ulama besar, diantara ulama-ulama Indonesia yang telah berhasil menamatkan pengajiannya di Solatiyah dan menjadi ulama besar sebelum masa Syeikh al-Baweyani adalah Syeikh Hasyim Asy`ari pendiri Nahdhtul Ulama, Syeikh Musthafa Husein pendiri Pondok pesantren Musthafawiyah, dan banyak lagi.

Beliau memulai memasuki bangku sekolah Madrasah Solatiyyah pada tahun 1351 hijriyah, ketika itu umur beliau masih beranjak tujuh belas tahun, tetapi kebijakkan beliau membuat beliau berhasil menghabiskan pengajiannya dengan secara singkat, sehingga pada tahun 1353 hijriyah beliau berhasil menamatkan pengajiannya.

Di samping pendidikkannya secara formal, beliau juga mengikuti pendidikkan non formal di Masjid al-Haram dan di rumah-rumah ulama yang berada di Makkah, diantara pengajian yang beliau ikuti adalah pengajian Syeikh Muhammad Amin al-Kutubi, Syeikh Hasan Fad`aq, dan Syeikh Umar Hamdan al-Mahrisi, aktivitas beliau selalu di isi dengan berbagai kegiatan yang berguna untuk agamanya.

Syeikh Zainuddin juga memiliki suara yang sangat merdu sehingga mampu memukau para pendengarnya, qasidah-qasidah yang beliau selalu lantunkan mampu menyerap perasaan orang, sehingga beliau selalu melantunkan qasidah memuji-muji Nabi di pengajian Syeikh Amin al-Kutubi, hal ini membuat beliau di senangi banyak orang.

Pekerjaan dan kegiatan beliau

Setelah Syeikh Zainuddin berhasil menamatkan pendidikkannya di Madrasah Solatiyah, maka beliau beserta Syeikh Sayyid Muhsin al-Musawa al-Palembani dan kawan-kawannya mendirikan madrasah Darul Ulum , sekolah ini merupakan madrasah pertama untuk anak-anak pendatang dari Nusantara, dan sebagai bentuk dari protes pelajar-pelajar Nusantara terhadap Madrasah Solatiyah .

Di madrasah Darul Ulum ini beliau mengajar dan mendidik pelajar-pelajar yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Fathoni, dan lain-lainya, Madrasah Darul Ulum terus berjaya mendidik dan mengeluarkan banyak ulama, di samping karena para tenaga pengajarnya yang hebat dan alim, kecemerlangan ini sampai kepada masa Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani, yang mana banyak diantara ulama di dunia yang singgah ke Madrasah ini untuk mengambil riwayat hadis dari Syeikh al-Fadani, namun setelah Syeikh al-Fadani meninggal dunia maka madrasah ini terus di bekukkan oleh pemerintah, dan namanya hanya tinggal di dalam kitab sejarah saja.

Di samping itu Syeikh Zainuddin juga mengadakan lawatan untuk berjumpa para ulama dan mengambil ijazah ammah dari mereka, diantara negara yang pernah beliau kunjungi adalah Yaman dan Indonesia, sehingga didalam perjalanan ini beliau banyak mendapat sanad-sanad yang tinggi dan faedah yang banyak.

Ulama-ulama yang memberikan ijazah ammah :

Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweyani mendapat banyak ijazah ammah dari ulama-ulama besar di dunia ini , diantara ulama-ulama yang telah memberikan ijazah ammah adalah :

1 - Syeikh Muhammad Amin al-Kutubi al-Makki.
2 - Syeikh Sayyid Ahmad al-Abutiji.
3 - Syeikh Hasan as-Sya`ir.
4 - Syeikh Muhammad Ibrahim al-Mulla.
5 - Syeikh Ibrahim bin Muhammad Khair bin Ibrahim al-Ghulayaini.
6 - Syeikh Habib Hamid bin Abdul Hadi bin Abdullah bin Umar al-Jailani .
7 - Syeikh Sayyid Muhammad bin Hadi as-Saqaf.
8 - Syeikh Muhammad Abdul Hayy al-Kattani .
9 - Syeikh Muhammad Ali bin Husein al-Maliki.
10 - Syeikh Abdul Qadir bin Taufiq al-Syalabi.
11 - Syeikh Umar Hamdan al-Mahrisi.
12 - Syeikh al-Habib Abdurrahman bin Ubaidillah as-Saqaf.
13 - Syeikh al-Habib Alawi bin Thohir al-Haddad.
14 - Syeikh al-Habib Abdullah bin Thohir al-Haddad.
15 - Syeikh Muhammad Abdul Baqi al-Ayyubi al-Laknowi.
16 - Syeikh Muhammad bin Muhammad Idris Ahyad al-Bogori.
17 - Syeikh Baqir bin Muhammad Nur al-Jogjawi.
18 - Syeikh Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki.
19 - Syeikh Habib Aidrus bin Salim al-Baar.
20 - Syeikh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa al-Falimbani.
21 - Syeikh HUsein bin Abdullah bin Hasan bin Ahmad Aidid....
22 - Syeikh Khalifah bin Hamad bin Musa bin Nabhan an-Nabhani al-Bahraini.
23 - Syeikh Soleh bin Muhammad bin Abdullah Idris al-Kelantani.
24 - Syeikh Ahmad bin Abdullah al-Baar.
25 - Dan lain-lain.

Diantara hasil karya beliau adalah :

1 - al-Fawaidu az-Zainiyyah Ala al-Manzumati ar-Rahbiyyah.
2 - Faidhul Mannan Fi Wajibati Hamili al-Qur`an.
3 - al-Ulumu al-WAhbiyyah Fi Manazili al-Qurbiyyah.
4 - Ghayatu as-Sul Liman Yuridu al-Ushul Ila Barri al-Usul.
5- Musyahadatu al-Mahbub Fi Tathhiri al-Qawalibi Wa al-Qulub.
6 - Ghayatu al-Wadad Fima Li Haza Wujudi Mina al-Murad.

Diantara murid-murid beliau adalah :

1 - Syeikh Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki al-Makki, beliau mendapat ijazah Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweyani seminggu sebelum wafatnya beliau, setelah berulang-ulang kali meminta dan memohon akhirnya Syeikh Baweyani memberikan ijazah tersebut, Sayyid Muhammad Alawi sepertinya enggan menghembuskan nafas terakhir sebelum mendapatkan ijazah ammah dari Syeikh Baweyan, sebab sebelum wafatnya Syeikh Muhammad Alawi Maliki beliau memesankan agar murid-muridnya yang di Indonesia datang Umrah bulan Ramadhan, karena beliau telah mengetahui waktu ajalnya telah tiba pada hari yang mulai, bulan yang mulia, dan di tempat yang mulia pula.

2 - Syeikhuna Sayyid Nabil bin Hasyim Ala Ghamri as-Syafi`i al-Makki, beliau mendapatkan ijazah Syeikh Muhammad Zainuddin Baweyani sebulan sebelum kewafatan Syeikh Muhammad Zainuddin, dan Syeikh Baweyani berpesan kepada beliau : " Siapa diantara kita yang terlepas dari azab neraka maka hendaklah dia menolong temannya " . demikianlah ketawadukkan Syeikh Zainuddin, syukurlah Syeikh Muhammad Alawi dan Syeikh Nabil mendapatkan ijazah dari beliau sehingga berambung sanad kita kepada Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweyani al-Indonesi al-Makki.

Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweyani al-Indonesi al-Makki meninggal dunia pada tahun 1426 hijriyyah, jenazah beliau di shalatkan di Masjid Haram Makkah dan di kuburkan di perkuburan Ma`la, semoga Allah memberikn rahmat yang luas kepadanya.

http://mentarinusantara.blogspot.com/

AL MAGHFURLAH KH GHUFRON ACHID

Haul Al Maghfurlah KH Ghufron Achid, bukan untuk mengkultus-individukan beliau, tetapi untuk mengenang keshalehan beliau, mengenang perilaku baik beliau, pengabdian beliau untuk Allah SWT, dan masyarakat, perjuangan beliau yang kadang – kadang harus menentang arus, menerjang ombak, tantangan dan rintangan yang tidak ringan.

Rasulullah SAW bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ وَرَّخَ مُسْلِمًا فَكَأَ نَّمَا اَحْيَاهُ وَمَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَ نَّمَا زَارَنِى وَمَنْ زَارَنِى بَعْدَ وَفَاتِى وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِى. روه ابو داود وترمذى

“Siapa saja yang membuat tarekh (Biografi) seorang muslim, maka sama dengan menghidupkannya. Dan barang siapa ziarah kepada seorang Alim, maka sama dengan ziarah kepadaku (Nabi SAW). Dan barang siapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka wajib baginya mendapat syafatku di Hari Qiyamat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Disebutkan dalam kitab Akhbar ashbihan Juz 10 halaman 264

أخبار أصبهان - (ج 10 / ص 264)

2107 - حدثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن جعفر ، ثنا يعرب بن خيران ، ثنا محمد بن الفضل بن العباس البلخي بسمرقند ، ثنا أبو محمد حمد بن نوح ، ثنا حفص بن عمر العدني ، عن الحكم ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

« من زار العلماء فكأنما زارني ، ومن صافح العلماء فكأنما صافحني ، ومن جالس العلماء فكأنما جالسني ، ومن جالسني في الدنيا أجلس إلى يوم القيامة »

أُذكروا محاسن موتاكم وكُفُّوا عن مساويهم { سنن الترمذي كتاب الجنائز حديث ٩٤٠ }
“ Sebutkan kebaikan Orang – Orang yang telah mati dari kamu, dan berhentilah mencela keburukan – keburukan mereka “

Beliau Almarhum, Al maghfurlah Bapak KH Ghufron Achid menurut catatan dilahirkan pada hari kamis pahing tanggal 15 Syawal 1349 H/tanggal 5 Maret 1931 M dari pasangan Bapak Achid dan Ibu Arifah di Kauman Pekalongan.

Beliau wafat/dipanggil oleh Allah SWT pada hari Rabu Wage tanggal 7 Pebruari 2001 M/13 Dzul Qo’dah 1421 H, berarti beliau pada waktu wafatnya berusia 69 tahun 11 bulan 2 hari menurut hitungan tahun Syamsiyah. Atau 73 tahun lebih 28 hari menurut hitungan tahun Qamariyah.

Beliau dinikahkan dengan Aisyah putri dari Al Markhum, Al Maghfurlah mbah KH Mudzakir bin KH Fadholi, adik kandung dari KH Ibnu Chadjar Mudzakir. Dari perkawinannya beliau dianugerahi 11 Putera ( anak ), 4 orang laki-laki dan 7 orang perempuan, dan sampai sekarang sudah bertambah 13 cucu dan 1 cicit. Putra/Putri dan menantu beliau :

1. Hj Aminah + KH Azizuddin Muzajjad (3 cucu + 2 cicit)

2. Khairiyah + Miftakhuz Zuhri (2 cucu)

3. Dhofiroh + H Zainudin (Payaman – 6 cucu)

4. Sa’duddin + Inayah

5. Labib + Novita

6. Ishmah + K Jamil (1 cucu)

7. Kamilah + Slamet Rahmat (1 cucu)

8. Akhiroh

9. Mismakhah al Khafidhoh

10. Muhammad (ndung)

11. Hamid

Beliau Orang yang sabar tapi penuh semangat.

Bapak beliau yaitu Bapak Achid Almarhum meninggal karena kekejaman Belanda, sehingga pada waktu kecil beliau dan Saudara–Saudaranya dalam keadaan yatim/miskin. Untuk menunjang kehidupan rumah tangga, beliau pernah berjualan ‘IDER ROKOK’ dan ‘BURUH NGUWUK BATIK’ meskipun umurnya masih relatif kecil / muda.

Pada masa mudanya, beliau menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu, bukan untuk berfoya – foya seperti layaknya anak muda yang lain. Dari keterangan keluarga, pada waktu kecil beliau pernah mengaji pada Ust Baidlowi Kauman, selanjutnya beliau menuntut ilmu pada para Ulama di berbagai Pondok Pesantren antara lain :

1. KH Ma’shum Ponpes Al Hidayah Lasem selama 6 tahun

2. KH Masduki Ponpes Al Ishlah Lasem

3. KH Baidlowi Lasem

4. KH Maftukhin Lasem

5. KH Cholil

6. KH Fatkhur Rohman

7. KH Manshur Lasem

8. KH Muhammadun Tayu

9. KH Arwani Kudus

10. KH Muhammad Hambali Sumardi

Beliau juga bertabarruk kepada mbah kyai Ahmad Asy’ari Poncol Salatiga, meskipun waktu itu sudah berkeluarga. Beliau juga penah bai’at thariqah An Naqsyabandiyah Al Khalidiyah sebagaimana pernah diceritakan oleh sahabat beliau KH Abdullah Faqih Langitan dalam kesempatan pertemuan di daerah Kudus.
Beliau orang yang waro’, qona’ah dan gigih

Beliau diserahi mengajar dan memimpin Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI) yang didirikan oleh Ayah Mertua beliau KH Mudzakir Fadholi bersama Pengurus Salafiyah yang lain. Tugas itu beliau laksanakan dengan baik dan penuh tanggungjawab meskipun dengan imbalan honor/gaji yang sangat – sangat sedikit, sangat kurang untuk menopang kehidupan beliau.

Dari MSI yang berlokasi di Kauman Pekalongan dengan 6 (enam) lokal kecil pada awalnya, dan selanjutnya berkat kegigihan beliau dan para Pengurus Yayasan SALAFIYAH Kauman Pekalongan, sekolah itu berkembang pesat dalam waktu yang tidak lama, dan pada saat ini terdiri dari :

o MSI 01 KAUMAN

o MSI 02 KEPUTRAN

o MSI 05 SAMPANGAN

o SMP SALAFIYAH KAUMAN

o MA SALAFIYAH

Pernah terjadi suatu hari beliau berkunjung ke rumah Wali Murid untuk berkonsultasi tentang anaknya, tiba–tiba beliau dilempar batu dari belakang oleh muridnya, sehingga orang tua murid tadi sangat malu dan memohon maaf kepada beliau, hal ini beliau hadapi dengan sabar dan tidak mempermasalahkan.

Beliau adalah seorang yang Alim Al Allamah

Setelah Ayah Mertua beliau yaitu Al Marhum Al Maghfurlah mbah KH Mudzakir wafat pada tahun 1975, disamping beliau memimpin sekolah, beliau juga melanjutkan pengajian Bapak Mertua bersama KH Ibnu Chajar bin KH Mudzakir yaitu pengajian kitab Ihya’ ‘Ulumuddin dan berhasil mengkhatamkan 4 ( empat ) jilid, dan beliau tambahkan pula pengajian kitab Shokhih Bukhori. Dan banyak lagi kitab – kitab lain yang diajarkan kepada para Santri beliau.

Beliau adalah seorang pejuang

Disamping kesibukannya memimpin sekolah, mengajar berbagai kitab kepada santri, beliau sempat pula terjun di berbagai kegiatan organisasi sosial seperti :

1. Rois Syuriyah PC NU Kota Pekalongan, dalam kapasitas sebagai Rais ini dalam Haul ke tujuh (2008) Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff menceritakan bahwa beliau pernah mendapatkan rekomendasi dari Al Maghfurlah untuk membahas masalah Ahlus sunnah wal jama’ah di PB NU dan berhasil meluruskan buku tentang ahlussunnah wal jama’ah yang akan diterbitkan oleh PB NU.

2. Ketua Umum MUI Kota Pekalongan pernah menjadi satu periode

3. Ketua I Yayasan SALAFIYAH Kauman Pekalongan menjadi,

4. salah satu pengurus Yayasan Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang membawahi SMP Wahid Hasyim dan SMA Hasyim Asy’ari, dan

5. Ketua Yayasan Khirzaddin yang didirikan oleh Almarhum Bpk H Kamaludin Bachir

6. Pengurus serta aktifis “Majlis Musyawarah Diniyah” Pekalongan yang didirikan oleh Almarhum Bpk H Junaid.

7. Beliau juga seorang yang sangat memperhatikan masalah ekonomi dengan aktif memberikan pertimbangan didirikannya Koperasi Pemuda Buana (KOPENA) dan mensupport gerakannya, dibuktikan dengan kesediaan beliau menjadi anggota Koperasi tersebut.

8. Beliau aktif pula memperhatikan permasalahan Haji yang antara lain dengan keikutsertaan beliau sebagai Penasehat di KBIH AS SALAMAH Kota Pekalongan.

9. beliau memprakarsai berdirinya Badan Amil Zakat ( BAZ ) di Kota Pekalongan dan menjadi salah seorang Pengurus yang tujuan utamanya untuk memberikan pemikiran santunan kepada Fuqara Masakin/ekonomi lemah,

Ada beberapa catatan yang perlu kami sampaikan di sini :

1. beliau pernah mengadakan penelitian secara pribadi bersama – sama pengurus MUI yang lain tentang proses pemotongan hewan di lokasi pemotongan hewan (blandong), apakah proses pemotongan hewan itu sudah sesuai dengan syari’at Islam.

2. beliau pernah mengadakan penelitian secara pribadi bersama – sama pengurus MUI yang lain ke tempat – tempat praktek SMOKE COUTHING ( dindong ), dan hasilnya MUI memberikan fatwa Permainan Dindong termasuk perjudian dan mengajukan permohonan kepada Walikota Pekalongan agar permainan itu dilarang. Dan Al Hamdu lillah permohonan itu dikabulkan, Walikota melarang dan menutup permainan dindong.

3. beliau bersama pengurus MUI lainnya dan didukung oleh Ormas – Ormas Islam serta Pon Pes – Pon Pes di Pekalongan mengajukan usulan kepada Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar Gedung Pemuda yang mempunyai sejarah heroik / kepahlawanan Orang – Orang Pekalongan, dijadikan Masjid. Dengan adanya usulan tersebut terpaksa beliau bersama dengan pengurus yang lain harus berhadapan dengan DPRD, Walikota dan Kejaksaan serta Orang – orang yang menentang waktu itu.

Memang nampaknya pada waktu itu, pada saat pemerintah sangat berkuasa, hal tersebut terasa merupakan hal yang sangat mustahil, tetapi Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesuatu yang kelihatannya tak mungkin terjadi, bisa saja terjadi atas ijin-Nya. Akhirnya terjadilah Reformasi di Indonesia, dan atas desakan para Pemuda dan seluruh lapisan Masyarakat, serta bantuan jasa dari Walikota Pekalongan bersama tokoh – tokoh lain, al hamdu lillah sekarang telah berdiri dengan megah sebuah Masjid dengan nama MASJID AS SYUHADA’ sebagai monumen perjuangan para Pahlawan/Syuhada Pekalongan mempertahankan kemerdekaan NKRI pada tanggal 3 Oktober 1945.

Itulah sekelumit catatan tentang biografi beliau. Masih banyak lagi prilaku baik yang belum tercatat, dan masih banyak lagi mahasin, Fadhilah dan maziyyah beliau yang belum terungkap.

Beliau Al Markhum Al Maghfurlah kini telah tiada, telah meninggalkan kita semua, kewajiban kita bukan untuk bersedih berkepanjangan yang tak berujung. Tetapi yang penting Akhlaqul Karimah, perilaku baik, kesabaran, kesholehan, kegigihan, kejelian, ketelitian, ketaqwaan dan perjuangan beliau patutlah kita teladani dan kita teruskan perjuangan beliau untuk Islam, Bangsa dan Negara.

Marilah kita berdo’a mudah-mudahan kesalahan beliau selama hayat, diampuni oleh Allah SWT, dan semua amal baik, keshalihan beliau diterima dan dibalas oleh – Nya dengan pahala yang berlipat ganda. Amin.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tim Penulis

Para Santri Al Maghfurlah


http://wahyudi085112080.blogspot.com/2012/04/biografi-ulama.html

KH. Suyuthi Abdul Qadir, Guyangan, Pati - Jawa Tengah

KH. Suyuthi Abdul Qadir (yang selanjutnya dipanggil Kyai Suyuthi) lahir pada tahun 1904 (tepatnya pada tanggal 4 Dzulqaidah) di desa Guyangan. Sebuah Desa di sebelah utara Kota Pati, di pinggiran pesisir kecamatan Trangkil. Beliau terlahir dari pasangan K.H. Abdul Qadir dengan Ibu Nyai Hj. Arum. Sejak kecil beliau sudah dikenal masyarakat luas sebagai sosok anak cerdas, jujur serta ramah pada sesamanya. Beliau adalah figur berbudi luhur dan bisa ngemong masyarkat. Sehinga tak heran jika penduduk disekelilingnya begitu kagum dan bangga kepadanya. Dan perjuangan dakwah semasa hayatnya mengantarkan beliau menjadi sosok kharismatik di dalam masyarakat.

Karir Pendidikan

Sejak kecil, Kyai Suyuthi sudah serius belajar agama melalui orang tuanya sendiri. Belajar dengan orang tua sendiri membuat dia merasa tidak cukup untuk menimba ilmu. Sehingga kemudian untuk mempertajam pengetahuannya beliau merasa perlu menimba ilmu di Pesantren. Setelah berumur 15 tahun, atas restu orang tua dan keluarganya beliau mengaji di Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum Jamseran Solo. Di pesantren ini beliau diasuh oleh Kyai H. Idris selama tiga tahun. Meskipun tergolong santri yang relatif muda, namun beliau mampu berkontestasi dengan teman-temannya dan tergolong santri yang berkualitas.

Pada tahun 1923-1924, beliau melanjutkan belajarnya di pondok Pesantren Kasingan Rembang, dan diasuh oleh Bapak K.H. Kholil dan K.H. Mas’ud selama 2 tahun. Selanjutnya pada tahun 1924-1926 beliau melanjutkan mengaji di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jatim, di bawah bimbingan K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Pada tahun 1926-1927, beliau melanjutkan mengaji di Pondok Pesantren Sampang Madura dan diasuh oleh K.H. Munawir selama dua tahun. Di Madura ini di samping belajar dan mengaji beliau juga menghafal al-Qur’an. Akhirnya pada tahun 1927, beliau berangkat ke Makkah untuk mengaji sekaligus menunaikan ibadah haji. Beliau berada di Makkah kurang lebih sekitar 5 tahun. Selama masa itu beliau juga turut membantu untuk mengajar di pondokan yang beliau tempati. Pada tahun 1931 sepulang dari Makkah, beliau kembali mengaji di Pondok Pesantren Sedayu Gresik Jatim dan diasuh oleh K. H. Munawir selama 3 tahun hingga tahun 1933.

Setelah sekian lama berekspedisi dari pesantren ke pesantren, pada tahun 1933-1937, beliau kembali lagi mengaji di Pondok Pesantren Tebuireng dan diasuh langsung oleh K.H. Hasyim Asy’ari selama empat tahun. Karena kecerdasan dan kualitas ilmunya, maka beliau mendapat kepercayaan dari K.H. Hasyim Asy’ari untuk membantu mengajar, bahkan sering ditunjuk mewakilinya dalam pertemuan-pertemuan tokoh ulama.

Membangun Pesantren, Mengurus Umat

Setelah berpetualang di berbagai Pondok Pesantren, beliau pulang dengan hasrat yang tinggi membangun pendidikan masyarakat desanya. Tanpa menunggu lama, beliau mulai mengajar para santri dan masyarakat di sekitar desa kelahirannya. Boleh dibilang, saat itu pendidikan masyarakat sekitar masih minim termasuk pendidikan agama belumlah begitu maju. Kondisi masyarakat yang seperti itu, justru semakin membakar spirit beliau untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh selama ini.

Hari demi hari jumlah santri yang menimba ilmu dengan beliau bertambah banyak. Rumah beliau yang dijadikan tempat mengaji pun tak mampu menampung para santrinya. Dengan kondisi seperti itu, akhirnya beliau mendirikan pondok pesantren dan madrasah sebagai wadah yang bisa menampung para santri dari berbagai penjuru. Karena yang mengaji dengan beliau tak terbatas hanya dari desa Guyangan. Sehingga eksistensi bangunan pondok pesantren dan madrasah tentu sangat krusial sebagai infrastruktur yang menunjang jalannya proses pendidikan. Akhirnya sekitar tahun 1932-1940 di masa penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang beliau mendirikan madrasah. Madrasah tersebut diberi nama Mambaul Ulum (sumber Ilmu). Bangunan pondok pesantren dan madrasah tersebut terletak di komplek masjid Desa Guyangan.

Karena situasi yang tidak kondusif saat itu, akhirnya aktivitas pendidikan di madrasah tersebut terbengkelai. Namun, hal tersebut tidak mengurangi tekad beliau dalam mengajar walau dalam keadaan yang serba sederhana. Sampai akhirnya pada masa kemerdekaan tepatnya pada awal tahun 1950 dengan dibantu rekan-rekan dan santri senior, madrasah tersebut bangkit kembali dengan berubah nama menjadi Madrasah Raudlatul Ulum (MRU).

Banyak harapan yang ingin beliau realisasikan melalui pendidikan di madrasah ini. Beliau mendambakan generasi bangsa ini memiliki moralitas dan budi pekerti yang baik serta menjadi manusia yang berkualitas. Madrasah ini diharapkan mampu menjadi media untuk memberantas kebodohan. Secara tidak langsung Kyai Suyuthi menginginkan agar pendidikan Islam memiliki visi untuk mencetak manusia yang kreatif dan produktif, karena manusia yang seperti inilah yang kemudian ditunggu kehadirannya baik secara individual maupun sosial. Sehingga dunia pendidikan harus mampu mencetak manusia-manusia yang bisa memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat.

Dalam perjalanannya, madrasah tersebut semakin menampakkan eksistensinya dan terlihat dominan. Dengan perkembangan sepesat ini pada tanggal 26 Januari 1972, Madrasah Raudlatul Ulum resmi menjadi Yayasan Perguruan Islam Raudlatul Ulum (YPRU) dengan akte tertanggal 26 Januari 1972 yang dibuat dihadapan notaris R.M. Poerbo Koesoemo di Kudus. Sekarang ini, tentu kita bisa menyaksikan bagaimana berkah yang ditinggalkan Kyai Suyuthi, YPRU kini dilengkapi dengan fasilitas infrastruktur yang megah, menjadi salah satu yayasan yang paling banyak diminati di Kabupaten Pati.

Sudah menjadi common sense bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kesalehan individual dan sosial. Kyai Suyuthi adalah sosok yang memegang kuat dua nilai tersebut. Beliau adalah seorang yang alim, suka menolong orang yang hidupnya kekurangan. Beliau senantiasa ikhlas memberi apa yang mampu diberikan.

Sebagai bagian dari wujud kepekaan sosialnya, ditengah kesibukannya, beliau selalu berusaha untuk menghadiri setiap undangan masyarakat. Ada cerita menarik di tahun 1970-an, beliau diundang kondangan (hajatan) oleh seorang penduduk yang rumahnya terpencil dan jauh dari jalan raya. Lebih parahnya lagi waktu itu kondisinya sedang banjir sehingga di sekitar rumah sohibul hajat tergenang air hingga lutut. Banyak yang menyangka dan bahkan memastikan bahwa Kyai Suyuthi tidak berkenan hadir karena banjir hampir masuk rumah. Namun tak terduga dari kejauhan Kyai Suyuthi nampak datang dengan mengangkat sarungnya sampai lutut beliau kelihatan. Begitu terharunya orang tersebut sampai menangis karena tak mengira Kyai Suyuthi masih menyempatkan hadir ke rumahnya.

Kyai Suyuthi dikenal sebagai ulama yang ramah, sehingga di kalangan Kyai saat itu beliau cukup disegani. Di antara Kyai yang dikenal dekat dengan beliau antara lain; K.H. Bisri Musthofa, K.H. Bisri Syamsuri (kakek Gus Dur). Masyarakat mengenal beliau sebagai pendiri Yayasan Perguruan Islam Raudlatul Ulum yang aktif aktif dalam beorganisasi. Beliau pernah menjabat sebagai Rais Syuriah NU cabang Pati pada tahun 1960-an sampai beliau wafat. Selain itu, beliau juga pernah terlibat dalam percaturan politik, beliau pernah menjadi aggota DPRD pada tahun 1960-an. Tidak seperti politisi sekarang ini yang sangat ambisius dengan kekuasaan, beliau justru mengundurkan diri, beliau menjabat kira-kira hanya setengah tahun. Pilihan ini membawa beliau lebih bekonsentrasi dalam mengelola pesantren. Dengan demikian masyarakat semakin percaya bahwa Kyai Suyuthi adalah seorang ulama yang benar-benar mengurusi umat dan berjuang untuk mereka sepi ing pamrih.

Wafat

Banyaknya kesibukan dan usia yang semakin bertambah membuat beliau mulai sakit-sakitan yang puncaknya sampai dirawat di rumah sakit dr. Karyadi Semarang. Akhirnya beliau dipanggil oleh Allah swt, tepatnya hari Selasa 25 September 1979 atau bertepatan 04 dzulqa’dah. Rasa pilu menghampiri keluarga, sahabat dan para santrinya. Puluhan ribu kepala tertunduk pilu kehilangan seorang ulama besar tempat sandaran meminta nasehat. Bagaianapun dukanya semua itu adalah ketetapan Allah yang harus diterima penuh keikhlasan. Berita wafatnya segera menyebar ke mana-mana sehingga seluruh masyarakat yang mengetahui perjuangan beliau berdatangan memberikan penghormatan terakhir. Pada saat beliau dikebumikan, puluhan ribu orang berduyun-duyun mengantarkan ke pemakaman.

Peran yang dilakukan oleh Kyai Suyuthi semasa hidupnya adalah bukti bahwa Kyai merupakan tokoh utama yang menjadi panutan masyarakat. Kyai tidak hanya menjadi tempat meminta nasehat dalam masalah agama, tapi juga dalam masalah sosial-kemasyarakatan. Sehingga tidak berlebihan jika kemudian kita menyebut kyai sosok pembawa agenda perubahan sosial keagamaan, karena sebuah perubahan sosial keagamaan tentu sangat membutuhkan partisipasi kiyai. Perjuangan Kiyai adalah perjuangan untuk umat, tidak untuk “yang lain”

http://

ziarahdipati.blogspot.com/
2011_04_01_archive.html

KH.ABDULLAH SCHAL BANGKALAN MADURA

Beliau adalah salah satu ulama kebanggan masyarakat Bangkalan yang andhap ashor atau tawadhu, Dulu ketika terjadi kerusuhan dan musibah yang mengandung unsur SARA di suatu daerah di kalimantan, beliau adalah kiai yang kata-katanya didengar oleh masy.bangkalan pada khususnya dan madura pada umumnya, beliau juga yang menenangkan sebagian kecil masyarakat madura yang hendak melakukan pembalasan dendam beliau dengan bijak menyuruh untuk tidak melakukan balas demdam tsb, karena sungguh akan merusak persatuan dan kesatuan Bangsa, merugikan kedua-belah pihak dan menyerahkannya semua nya kepada Allah tuhan semesta alam dan untuk tidak main hakim sendiri,

TS pribadi mendapatkan amalan yang diijazahkan oleh beliau hizib alquran untuk menunaikan hajat2 penting , dengan bertawassul memakai amal sholeh dengan menghatamkan alquran dalam jangka waktu selama 6 hari.

Ts juga sangat senang dengan ceramahnya karena beliau termasuk orang alim terutama dalam masalah fiqh dan tasawuf.
KH Abdul Karimselama masa mudanya pernah mondok disidogiri pasuruan dimana tempat kakek buyutnya (mbah yai kholil) pernah mondok. Selama mondok tersebut beliau pernah muthala’ah kitab kuning sampai 3 hari 3 malam karena saking merasa asyiknya dan hanya istirahat jika waktu sholat saja.

Kecintaan beliau terhadap ilmu agama dan pondok sidogiri sebagai tempat beliau menuntut ilmu bisa dilihat dari kejadian berikut, beliau mempunyaai seorang puteri yang dimondokkan di banat puteri ponpes sidogiri pasuruan, suatu ketika putri beliau sakit dan merasa tidak betah dan kemudian pulang ke ponpes demangan barat bangkalan.

Ketika kiai mengetahui hal tersebut (pulangnya puterinya ke rumah) beliau sangat marah kepada puterinya sambil berkata;

“SUNGGUH SAYA LEBIH SUKA MEMPUNYAI PUTERI YANG SAKIT DAN MATI (SYAHID) DALAM MENUNTUT ILMU AGAMA(DISIDOGIRI)”

Beliau adalah orang yang do’anya di ijabah oleh Allah / mandih pangocep (bhas.madura) / apa yang di katakannya terjadi atas izin Allah. Hal ini bisa kita lihat dari kisah di bawah ini:

Suatu ketika beliau berada di ndalem pondok dengan diteman khadam yang sekaligus santrinya, kebetulan dihari yang cerah dimusim kemarau angin bertiup tenang , cuaca yang mendukung inilah biasanya yang dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk menghibur diri dengan berbagai macam aktivitas salah satunya aktivitas menghibur diri dengan bermain layangan.

Kiai yang sedang santai merasa merasa penasaran dengan keramaian di dekat pondok yang ternyata banyak orang yang sedang bermain layangan.

Dan Beliaupun akhirnya memanggil khadamnya.

Kiai : “Wahai santri coba kamu lihat diluar pondok mengapa terdengar ramai sekali.?

Santri :” Enggi (iya) Kiai.

Dan dengan patuh sang khadam meninggalkan kiai pergi keluar untuk mengecek langsung atas keramain yang terjadi di luar.

Selang Tidak lama kemudian sang santri kembali mengahadap kiai.

Kiai :”Wahai santri ada apa diluar yang kamu lihat sehingga terdengar ramai”

Santri :“Kiai di Luar sedang ramai karena banyak orang bermain layangan”.

Kiai :”O bermain layangan”

Santri :”Enggi Kiai, tapi mereka bermain layangan sambil melakukan taruhan (berjudi) kiai”

Kiai :”O Mander Tak EpaDeddieh’

(Beliau Berdo’a Semoga judi taruhannya orang-orang yang bermain layangan oleh Allah berhentikan, setelah berdo’a sebentar santrinya pun di panggil)

Kiai : “Wahai santriku sekarang kamu perhatikan lagi apakah mereka masih tetap bermain layangan sambil taruhan”

Santri :”Enggi Kiai

(sang santri dengan patuh kembali keluar untuk kedua kali untuk mengecek apakah mereka masih melakukan aktivitas taruhan ataukah sudah berhenti)

Dan selang tak berapa lama beliau kembali lagi menghadap kiai dengan penuh rasa keheranan beliau menceritakan.

Santri :”Sungguh aneh kiai mereka orang yang melakukan taruhan semuanya berhenti, tatkala dan bersamaan ketika kiai berdo’a tiba-tiba muncul angin yang sangat kencang entah dari mana asalnya yang menerbangkan semua layang2 peserta (putus) sehingga mereka mau tidak mau harus berhenti menerbangkan layangan.

(Ketika Allah mencintai seorang hamba maka Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk mengumumkan berita gembira ini untuk seluruh mahluk penghuni bumi dan langit kecuali dari kalangan bangsa manusia dan jin yang terhijab darinya. Sungguh bagi orang orang yang dekat dengan Allah perkataannya akan di dengar oleh Mahluk-mahluq Allah yang dilangit, di lautan ataupun dibumi, termasuk tentara-tentara Allah yang bernama Angin yang menggagalkan ajang judi atau taruhan seperti kisah diatas . Dulu kakak beliau Alm.KH Fahrurrozi ketika terjadi hujan deras di tempat diselenggarakannya musyawarah NU di bangkalan madura, beliau berdo’a kepada Allah dan hujanpun menyingkir dari area musyawarah dan turun di diluar area musyawarah.

http://www.kaskus.co.id/

KH Abdul Karim, Pendiri Pondok Lirboyo

Pecinta Ilmu Yang Rendah Hati

Pertama kali menetap di Desa Lirboyo, ia langsung melantunkan adzan. Aneh, selepas itu, semalaman penduduk desa tak bisa tidur karena perpindahan makhluk halus yang lari tunggang langgang.

NAMA kiai ini KH Abdul Karim. Ia adalah pendatang dari Magelang yang kemudian diambil menantu Kiai Sholeh, Banjarmelati Kediri. Perpindahan Kiai Karim ke desa Lirboyo dilatarbelakangi atas dorongan dari mertuanya sendiri yang berharap dengan menetapnya Kiai Karim di Lirboyo akan menjadi tonggak penting syiar Islam di daerah itu. Gayung bersambut, kepala desa Lirboyo juga memohon kepada Kiai Sholeh agar berkenan menempatkan salah satu menantunya di desa Lirboyo. Dengan hal ini diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tentram. Benar, selepas Kiai Karim melantunkan adzan, Desa Lirboyo bebas dedemit. Dan, tiga puluh lima hari setelah menempati tanah tersebut, Kiai Karim mendirikan surau mungil nan sederhana. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada 1910.

Secara garis besar Kiai Karim adalah pribadi yang sangat sederhana dan bersahaja. Ia juga gemar mela-kukan riyadlah mengolah jiwa alias tirakat. Kealimannya juga mulai terdengar ke luar daerah. Adalah bocah bernama Umar asal Madiun, yang menjadi santri pertama yang menimba ilmu dari Kiai Karim. Kedatangannya disambut baik oleh shahibul bait, karena kedatangan musafir itu untuk menimba pengetahuan agama. Selama nyantri, Umar sangat ulet dan telaten. Ia benar-benar taat pada Kiai.

Selang beberapa waktu ada tiga santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang, daerah asal Kiai Karim. Masing-masing bernama Yusuf, Shomad dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernama Syamsuddin dan Maulana, yang sama-sama berasal dari Gurah Kediri. Seperti santri sebelumnya, kedatangan kedua santri ini bermaksud untuk mendalami ilmu agama dari Kiai Karim. Akan tetapi baru dua hari saja mereka berdua menetap di Lirboyo, semua barang-barangnya ludes disambar pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman. Di Lirboyo masih ada sisa-sisa perbuatan tangan-tangan jahil. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung halamannya.

Tahun demi tahun, Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin dibanjiri santri. Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami oleh Syamsuddin dan Maulana, dibentuk-lah satuan keamanan yang bertugas ronda keliling disekitar pondok.

Karena jumlah santri semakin membludak, dan musalla kecil tak lagi representatif, maka timbullah gagasan dari Kiai Karim untuk mendirikan masjid. Semula masjid itu amat sederhana, tidak lebih dari dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Namun setelah beberapa lama masjid itu digunakan, bangunan itu mengalami kerapuhan. Bahkan suatu ketika masjid sederhana itu porak poranda disapu angin puting beliung. Akhirnya, KH Muhammad, kakak ipar Kiai Karim, berinisiatif membangun kembali masjid yang telah rusak itu dengan bangunan yang lebih permanen. Setelah bermusyawarah dan meminta izin pada KH Ma’ruf Kedunglo Kediri, dalam tempo peng-garapan yang tidak terlalu lama, masjid itu sudah berdiri tegak dan megah (pada masa itu) dengan mustakanya yang menjulang tinggi. Dinding serta lantainya terbuat dari batu merah, gaya bangunannya bergaya klasik, yang merupakan perpaduan model arsitektur Jawa kuno dengan Timur Tengah. Peresmian dilakukan pada tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1347 H. / 1928 M. Acara itu bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri Kiai Karim yang kedua, Salamah dengan KH Manshur Paculgowang Jombang.

Murid Kiai Kholil Bangkalan

Kiai Karim lahir pada 1856, di sebuah desa terpencil bernama Diyangan Kawedanan Mertoyudan Magelang. Nama kecilnya adalah Manaf, putra ketiga dari empat bersaudara, dari pasangan Kiai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Pada saat Manaf berusia 14 tahun, mulailah ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Daerah pertama yang dituju adalah desa Babadan Gurah Kediri, lantas Karim meneruskan pengembaraannya di daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk. Di sini Karim menuntut ilmu kurang lebih selama 6 Tahun. Selanjutnya pindah lagi ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono Nganjuk, untuk memper-dalam pengkajian ilmu al-Quran. Karena tetap haus ilmu, ia kemudian meneruskan pengembaraannya ke Pesantren Sono, sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang ter-kenal dengan ilmu sharafnya. Tujuh tahun lamanya ia kerasan menuntut ilmu di pesantren ini. Periodenya selanjutnya diteruskan dengan nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro Surabaya. Era mondok yang paling berkesan adalah tatkala ia berguru pada ulama kharismatik yang menjadi guru para ulama Jawa dan Madura, Syaikhona Kholil Bangkalan. Tak tanggung-tanggung, Karim berguru di pesantren ini selama 23 tahun! Tak heran jika dalam usia yang terus bertambah, ia masih belum tertarik membina rumah tangga.

Pada saat berusia 40 tahun, Karim, yang mulai dipanggil kiai, memilih meneruskan pencarian ilmunya di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan, KH M Hasyim Asy’ari. Hingga pada suatu ketika Mbah Hasyim menjodohkan Kiai Karim dengan putri Kiai Sholeh dari Banjarmlati Kediri. Akhirnya pada tahun 1328 H/ 1908 M, Kiai Karim menikah dengan Siti Khodijah Binti KH Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh. Dua tahun kemudian Kiai karim bersama istri ter-cinta hijrah ke tempat baru, Lirboyo.

Sosok Kiai Karim dikenal sebagai sosok yang sangat istiqomah dan berdisiplin dalam beribadah, bahkan dalam segala kondisi apapun dan ke-adaan bagaimanapun. Hal ini terbukti tatkala menderita sakit, Kiai Karim masih saja istiqomah untuk mem-berikan pengajian dan memimpin shalat berjamaah, meski harus dipapah oleh para santri. Sebagai pengasuh ratusan santri, sikapnya yang kebapakan dan rendah hati, masih lekat diingatan para santri yang masih menangi zamannya.

Pernah, suatu ketika, ada pemuda yang berniat mondok di Lirboyo. Pakaiannya perlente sambil menen-teng koper, sebuah penanda kemewahan pada zaman itu. Di gerbang pondok, ia berpapasan dengan orang tua berpenampilan sederhana. Dengan seenaknya ia minta tolong pada orang tua itu untuk membawa-kan kopernya yang berat. “Antarkan aku ke ndalem Kiai Karim,” perintah-nya. Yang dimintai tolong segera mengiyakan. Setelah sampai di rumah kiai, orang tua itu meminta sang pemuda agar menunggu Kiai Karim barang sejenak. Alangkah terperanjatnya pemuda itu saat Kiai Karim muncul dari balik pintu ruang tengah, sebab orang tua yang ia suruh menenteng kopernya itu adalah Kiai Karim! Konon, saking malunya, pemuda perlente tersebut langsung mem-batalkan niatnya mondok di Lirboyo.

Mendung kedukaan menggelayut menaungi Lirboyo, saat Kiai Karim wafat pada 1954. Sepeninggal Kiai Karim, Ponpes Lirboyo dilanjutkan para menantunya, seperti KH Marzuqi Dahlan (adik KH Ihsan Dahlan Jampes, penulis Sirajut Thalibin), KH Mahrus Ali dan KH Jauhari. Adapun menantu yang lain, KH Abdullah mengasuh pesantren Turus Gurah Kediri, KH Manshur Anwar mengasuh pesantren Tarbiyatun Nasyiin Pacolgowang Jom-bang, sedangkan KH. Zaini mengasuh pesantren Krapyak Yogyakarta.

Sekarang, pesantren yang menapak usia seabad ini dihuni sekitar 10 ribu santri. Diasuh secara kolektif oleh para cucu Kiai Karim, seperti KH Idris Marzuqi, KH Anwar Manshur, KH Imam Yahya Mahrus, KH Habibullah Zaini, dll.

* Dimuat di Majalah AULA edisi Pebruari 2010 dalam rubrik 'USWAH'

KH. Nawawi Abdul Aziz

KH. Nawawi Abdul Aziz lahir pada tahun 1925. Beliau merupakan putra kedua dari Al Maghfurlah KH. Abdul Aziz, seorang petani yang tinggal di pelosok desa di daerah Kawedanan yang terkenal yaitu Kutoarjo tepatnya di desa Tulusrejo Grabag Kutoarjo Purworejo Jawa Tengah.

Karir keilmuan Beliau dirintis sejak beliau berumur tujuh tahun. Hari-hari beliau selalu dihiasi dengan berbagai kegiatan Tholabul ‘ilmi. Pagi hari Beliau belajar di Sekolah Dasar ( SR-red ) dan sorenya Beliau mengikuti Madrasah Diniyah Al Islam Jono. Sedangkan pada malam hari, Beliau mengaji Al Qur’an kepada sang Ayah dan juga beberapa disiplin ilmu seperti Ilmu Fiqh dan Ushuluddin.

Setelah Beliau berumur 13 tahun, Beliau meneruskan pengembaraannya ke Pondok Pesantren Lirap Kebumen Jawa Tengah untuk mengaji Ilmu Alat kepada Al Maghfurlah KH. Anshori selama 4 tahun. Kemudian setelah dirasa cukup, Beliau ditarik oleh Orang tua Beliau untuk selanjutnya diantar bersama kakak ke Pondok Pesantren Tugung Banyuwangi di bawah asuhan Al Maghfurlah KH. Abbas yang pada saat itu Indonesia masih dijajah oleh Jepang.

Setelah beberapa tahun menimba ilmu di sana, seperti Pemuda yang lainnya, Beliau merasa ingin sekali pulang ke kampung halaman sekedar melepaskan rasa rindu kepada keluarga. Untuk itulah, dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangakan, beliau pulang ke Kutoarjo. Tetapi bak pepatah, “ untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak ”, sebelum Beliau sempat kembali ke Pondok, serdadu Belanda dengan membonceng tentara Inggris mendarat di Surabaya dan menjarah Jawa TImur. Maka pupuslah harapan untuk kembali ke Pondok dan terpisahlah Beliau dengan Kakak yang masih di Banyuwangi.

Keadaan telah berubah, seluruh kitab yang dimiliki Beliau tertinggal di Banyuwangi. Tetapi hal tersebut tidak membuat Beliau patah semangat bahkan sebaliknya, Beliau semakin semangat dalam menuntut ilmu yang Beliau wujudkan dengan kembali mondok untuk menghafalkan Al Qur’an ke sebuah Pondok Pesantren di Yogyakarta tepatnya di Pondok Krapyak yang didirikan oleh Al Maghfurlah KH. Munawwir yang pada saat itu diasuh oleh Al Maghfurlah KH. R Abdul Qodir Munawwir. Nasehat, tausiah dan irsyad dari Al Maghfurlah KH.R Abdul Qodir M Beliau ikuti dan patuhi dengan ikhlas dan tekun, sehingga dalam waktu tiga bulan, Beliau berhasil menghafal tujuh juz setengah dengan hafalan yang sangat baik. Disaat Beliau sedang menikmati dan melatih keistiqomahan diri dalam menghafal dan menjaga Al Qur’an, tanpa diduga terdengar berondongan peluru mitraliur yang menghujani langit Yogyakarta yang disertai dengan diterjunkannya pasukan Belanda di lapangan terbang Maguo ( kini Adisucipto ) sebagai tanda dimulainya class kedua ( duurstuud ). Hari itu pula Beliau dan ketujuh orang temannya pulang ke kampung halaman ( Kutoarjo ) dengan berjalan kaki. Di rumah, Beliau tetap menjaga hafalan Al Qur’an yang telah didapat dan menambah hafalan walaupun harus ikut serta membantu para gerilyawan.

Setelah Yogayakarta aman kembali ( sekitar enam bulan ), Beliau kembali ke Krapyak untuk melajutkan tekatnya. Dengan berkat rahmat dari Allah SWT disertai dengan anugrah keistiqomahan yang Beliau miliki, Beliau mampu menyelesaikan hafalan dalam 15 bulan dengan hasil yang sangat memuaskan sehingga wajar saja jika Guru Beliau sangat menyayangi Beliau, bahkan sebagai puncak dari kasih sayang tersebut, Beliau diamanahi untuk menikahi adik sang Guru ( Al Maghfurlah KH.R Abdul Qodir Munawwir ) yang bernama Ibu Nyai Hj. Walidah Munawwir ( putri dari Al Maghfurlah KH Munawwir Pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta ).

Pengembaraan beliau tidak berhenti sampai di sini, setelah mendapat restu dari sang Guru sekaligus Kakak, pada hari ketujuh puluh dari hari kelahiran putra pertamanya, Beliau berangkat ke Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus untuk mengaji Al Qur’an dengan Qiroah As Sab’ah kepada Al Maghfurlah KH. Arwani Amin. Pada tahun 1955 M beliau berhasil menyelesaikan pelajaran dengan baik dan menerima Syahadah/Ijazah khatam mengaji Qiro’ah As Sab’ah secara hafalan kepada Al Maghfurlah KH. Arwani Amin Kudus.

Setelah selesai belajar di Kudus, Beliau memutuskan untuk kembali ke Kutoarjo untuk mengajarkan ilmu yang pernah didapat dan juga untuk membantu Orang tua yang telah menapaki usia senja. Di sana Beliau membuka pengajian Al Qur’an dan Madrasah Ibtidaiyah kelas I yang hanya dibantu oleh seorang tenaga pengajar sekaligus sebagai pengurusnya. Keterbatasan pengajar, tidaklah menjadi halangan bagi Beliau untuk berjuang dalam menyebarkan ilmu Agama. Beliau mensiasatinya dengan mengkader semua siswa sehingga siswa-siswi yang duduk di kelas IV sudah mampu untuk mengajar adik-adik kelas satu dan dua.

KH.R Abdul Qodir Munawwir pemegang tampuk kepemimpinan Pondok Krapyak wafat, yang kemudian digantikan oleh KH.R Abdullah Affandi Munawwir . Pada saat itulah Beliau ( KH. Nawawi Abdul Aziz ) dipanggil untuk membantu mengajarkan Al Qur’an di Pondok Pesantren Krapyak, Bersama dengan Al Maghfurlah KH. Mufid Mas’ud ( Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran ) dan Al Maghfurlah KH. Ali Ma’sum. Pembagian tugas dilakukan oleh KH.R Abdullah Affandi Munawwir sebagai pengasuh utama, KH. Ali Ma’sum bertanggungjawab atas pengajaran kitab sedangkan Beliau dan KH. Mufid Mas’ud memegang pengajaran Al Qur’an.


Setelah dua tahun tinggal di Krapyak, timbullah keinginan untuk pindah ke Dusun Ngrukem guna lebih dekat dari tempat Beliau berkerja sebagai Ketua Hakim Pengadilan Agama Bantul dan juga didorong oleh keinginan untuk mendirikan Pondok Pesantren sendiri, dan berkat Ridlo dari Allah SWT, beliau mampu mewujudka cita-cita Beliau untuk membangun Pondok Pesantren yang sampai saat ini masih eksis berdiri. Sekarang umur beliau telah mencapai 83 tahun dan telah dikaruniai 11 putra/putri dan 49 cucu serta 1 buyut, walaupun demikian Allah SWT masih meberikan nikmat sehat yang begitu besar sehingga di usianya yang senja Beliau masih kuat dalam membimbing sekitar 700 santri untuk mencapai derajat yang mulia secara langsung. Allahumma thowwil ‘umrohu wa shohhih jasadahu linantafi’a bi’ulumihi wa hikamihi. Aamiin . . .


http://

santrisarang.blogspot/

KH. ABDUL JALIL MUSTAQIM

KH. Abdul Jalil Mustaqim, KH. Mustaqim bin Husain, mursyid, PETA Tulungagung

Hadlratus Syaikh Mustaqim bin Husain lahir di desa Nawangan, kecamatan Keras, kabupaten Kediri, pada tahun 1901 M. Ayah beliau bernama Husain bin Abdul Djalil, yang merupakan keturunan ke 18 dari Mbah Panjalu, Ciamis, Jawa Barat (Ali bin Muhammad bin Umar).

Ketika masih berusia 12-13 tahun, Hadlratus Syaikh Mustaqim bin Husain mengabdi kepada Kiai Zarkasyi di dusun Tulungagung. Beliau mengabdi dan belajar membaca Al-Quran serta ilmu agama kepada Kiai Zarkasyi. Pada usia tersebut, Hadlratus Syaikh Mustaqim bin Husain dikaruniai oleh Allah hati yang dapat berdzikir Allah, Allah, Allah …… tanpa berhenti.

Dari kekuatan dzikir yang demikian tadi, Hadlratus Syaikh Mustaqim bin Husain juga dikaruniai oleh Allah ilmu sirri atau ilmu mukasyafah . Beliau bisa mengetahui ilmu ghaib, alam barzakh dan alam jin, serta keinginan-keinginan yang terbersit di hati orang lain. Pada saat itu, Allah selalu menjaga beliau dari sifat-sifat madzmumah (sifat yang tercela).

Setelah beliau dewasa, Hadlratus Syaikh dinikahkan oleh Kyai Zarkasyi dengan putri dari Mbah H. Rois yang juga berdomisili di Kauman, yang bernama Ibu Nyai Halimah Sa’diyyah. Mbah H. Rois hanya mempunyai 2 anak, yang pertama bernama Sholeh Sayuthi, yang terkenal dengan sebutan Wali Sayuti. Yang kedua bernama Ibu Nyai Halimah Sa’diyyah yang dinikahkan dengan Hadlratus Syaikh Mustaqim.

Sebagai seorang suami, Hadlratus Syaikh melakukan kewajibannya dengan mencari nafkah untuk keluarganya dengan menjadi tukang potong rambut , tukang jahit sepatu dan berdagang. Hadlratus Syaikh pernah mendirikan toko yang diberi nama Bintang Sembilan. Meskipun kehidupan ekonomi keluarganya selalu memprihatinkan, pada saat itu beliau tidak pernah meninggalkan kewajiban untuk berbuat amar ma’ruf, yaitu dengan mengajarkan dzikir yang dimasukkan ke dalam jurus-jurus pencak silat.

Di zaman penjajahan Jepang, Hadlratus Syaikh mengalami suatu ujian bersama dengan para ulama seluruh Indonesia. Pemerintah Jepang menganggap bahwa para Ulama akan melakukan pemberontakan, sehingga para Kyai ditangkap, ada yang disiksa, dan banyak yang disakiti. Setelah selamat dari penyiksaan Jepang, Hadlratus syaikh meneruskan pengajarannya, yaitu dengan mengajarkan dzikir di dalam hati, serta akhlaqul karimah, terutama akhlaq kepada Allah.

Rumusan amalan-amalan beliau menekankan bahwa sebelum dan sesudah wirid harus meminta pada Allah agar mendapat 4 hal:

1. Selamat di dunia dan akhirat.

2. Hati yang bersih dari sifat madzmumah (sifat tercela).

3. Kekalnya iman sampai sakaratul maut dan bisa membaca kalimat thayyibah, serta bisa husnul khatimah.

4. Semua hal yang barakah, maslahah, manfaat di dunia dan akhirat.

Sebab-sebab KH. Mustaqim Menerima Thariqah Syadzaliyyah

Menurut KH. Abdul Jalil Mustaqim, Romo KH. Mustaqim bin Husain sudah mempunyai hizib-hizib sebelumnya, seperti Hizib Baladiyyah, Hizib Kafi dan lain-lain. Pada suatu saat, murid Syaikh Mustaqim yang bernama Asfaham dari Ngadiluwih, Kediri, ketika riyadlah mengamalkan aurad Hizib Kafi dan masuk ke dalam maqam Jadzab Billah. Pada maqam jadzab tersebut, pak Asfaham berkelana sampai masuk Pondok Termas pacitan, Pak Asfaham berbicara banyak hal, termasuk mengajak beradu argumentasi (berdebat) kepada para Ustadz Pondok Termas Pacitan.

Pada saat itu, Syaikh Abdur Razzaq mengetahui bahwa ilmunya Pak Asfaham itu haq. Kemudian Syaikh Abdur Razzaq memanggil Pak Asfaham dan bertanya, “siapa gurumu?” kemudian Pak Asfaham menjawab bahwa gurunya adalah KH. Mustaqim dari Kauman Tulungagung.

Di lain waktu, Kyai Abdur Razzaq bertamu (sowan) kepada KH. Mustaqim. Dalam persowanan tersebut Kyai Abdur Razzaq meminta ijazah ‘ammah kepada KH. Mustaqim. Akan tetapi keduanya malah saling menghindar untuk menjadi guru. Pada akhirnya, keduanya sepakat untuk sama-sama saling memberikan ijazah. Romo KH. Mustaqim memberikan ijazah Hizib Baladiyah kepada Romo Kyai Abdur Razzaq. Dan Romo Kyai Abdur Razzaq memberikan baiat Aurad Syadzaliyyah.

Pada saat akan diberi baiat Aurad Syadzaliyyah, KH. Mustaqim menolak. Beliau berkata, “Aurad Syadzaliyyah itu berat, setahu saya ada amalan yang ngere (keluar dari rumah tidak boleh membawa bekal, makannya minta ke orang lain, membawa baju hanya satu setel saja untuk menutupi aurat)”. Romo Kyai Abdur Razzaq berkata, “Kalau anda pasti kuat”. Kemudian KH. Mustaqim jadi menerima baiat Aurad Syadzaliyyah dari Romo Kyai Abdur Razzaq. Setelah berjalan cukup lama, KH. Mustaqim sudah memberikan baiat kepada murid-murid yang menginginkan Aurad Syadzaliyyah. Romo Kyai Abdur Razzaq berkata, “Thariqah Syadzaliyyah ini nanti pusatnya akan pindah ke Kedung”, (yang dimaksud adalah akan pindah ke Syaikh Mustaqim Kauman, Tulungagung).

Pada tahun 1947 M, Romo Kyai Abdur Razzaq datang ke Tulungagung. Beliau sangat senang dengan KH. Abdul Jalil Mustaqim, dan pada saat itu KH. Abdul Jalil Mustaqim masih berusia 5 tahun. KH. Abdul Jalil Mustaqim digendong oleh Kyai Abdur Razzaq mengelilingi alun-alun Tulungagung. Sepertinya Romo Kyai Abdur Razzaq sudah mengetahui bahwa yang akan menjadi penerus guru mursyid setelah Syaikh Mustaqim adalah KH. Abdul Jalil Mustaqim.

Musibah di Zaman Penjajahan Jepang (1942-1945)

Pada saat Jepang menjajah bangsa Indonesia , Jepang memaksa bangsa Indonesia untuk melakukan Seikerei , yang artinya pada saat matahari terbit, menghadap ke timur untuk menyembah kepada matahari (ibadah agama Shinto ). Dan pada saat jam 07.00 pagi harus membungkuk seperti posisi ruku’ menghadap ke utara agak serong ke barat menghadap ke arah kota Tokyo Jepang , untuk menyembah Tenno Haika, Raja Jepang. Kedua perintah Jepang tersebut dianggap musyrik oleh agama Islam. Oleh karena itu, Syaikh Mustaqim dan ulama lainnya menentang hal tersebut dan tidak mau melakukannya. Pemerintah Jepang mempunyai anggapan bahwa para ulama dan kyai akan melakukan pemberontakan kepada pemerintah Jepang. Sehingga pemerintah Jepang dengan biadabnya melakukan penyiksaan kepada para ulama termasuk Syaikh Mustaqim. Penyiksaan Jepang yang dialami oleh Syaikh Mustaqim antara lain:

Tubuh beliau dijepit dengan satu bal es batu di dada, dan satu bal lagi di bagian belakang sambil tubuh beliau dirantai.

Beliau dijatuhkan dari ketinggian mencapai 10 meter.

Perut beliau diisi air lewat hidung dengan menggunakan pipa kecil, seperti yang dialami oleh kyai-kyai lainnya. Pada saat Jepang memasukkan air ke dalam hidung KH. Mustaqim, yang dimasuki air malah bukan hidung beliau, tetapi kantong ikat pinggang yang sedang beliau pakai.

KH. Mustaqim diberi keselamatan dari semua hal tersebut berkat perlindungan dari Allah.

Usaha Ekonomi

KH. Mustaqim bin Husain mempunyai istri dan putra-putri. Beliau juga melakukan usaha secara lahir, yaitu dengan berusaha mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Beliau pernah menjadi tukang potong rambut, penjahit sepatu dan sandal, dan membuka toko yang bernama Toko Bintang Sembilan.

Akan tetapi semua usaha lahir beliau tersebut tidak ada yang kelihatan menghasilkan banyak uang. Sepertinya beliau hanya melakukan ikhtiyar secara lahir saja. Buktinya, pada saat Kyai Muslim (Alm) akan pergi mondok ke Pondok Mojosari Loceret Nganjuk, Kyai Muslim meminta uang kepada KH. Mustaqim, dan KH. Mustaqim menyuruh beliau untuk mengambil sendiri uang yang terletak di bawah kasur. Pada saat Kyai Muslim membuka kasur tersebut, ternyata yang ada di bawah kasur tersebut adalah uang semua. Tetapi Kyai Muslim hanya mengambil seperlunya saja.

Perkataan-Perkataan Hikmah

Al-Maghfurullah KH. Mustaqim bin Husain jika berbicara (dawuh), banyak yang menggunakan kalam kinayah (kata sindiran) daripada kalam sharihah (kata terang-terangan). Begitu juga jika akan terjadi peristiwa yang aneh, beliau hanya memberikan isyarat saja.

KH. Mustaqim memelihara ayam yang sebelah kanan berwarna merah, dan yang sebelah kiri berwarna putih bersih. Pada bulan Rabi’ul Awal, KH. Mustaqim berkata, “Bangsa Jepang berada di Indonesia masih 6 bulan lagi”. Dan terbukti setelah sampai pada hari Jumat Legi tanggal 9 Ramadhan 1363 H, yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 M, Negara Indonesia merdeka dan mengibarkan bendera merah putih.

KH. Mustaqim bin Husain juga pernah mempunyai ayam yang berkaki satu, jika berjalan meloncat-loncat, di atas kepalanya dekat dengan jenggernya ditempati sarang lebah, jika ayam tersebut akan berpindah tempat, si lebah keluar dari sarangnya kemudian mengikuti ayam tersebut.

Begitu juga dengan KH. Abdul Jalil Mustaqim. Beliau pernah memelihara burung perkutut putih, dan selang beberapa tahun kemudian beliau memelihara burung gagak putih. Semua hal tersebut menunjukkan bahwa Mursyid Kamil itu tetap ada, tetapi sangat langka dan susah untuk dicari. Bisa ditemukan, tetapi harus lewat kesucian.

KH. Mustaqim bin Husain kalau dawuh kepada murid-muridnya kebanyakan memakai kalam kinayah , begitu juga dengan KH. Abdul Jalil Mustaqim. Menurut perkataan KH. Shadiq Muslih Al-Hajari, jika mendengarkan perkataan-perkataan KH. Mustaqim dan KH. Abdul Jalil Mustaqim, harus dengan berdzikir kepada Allah, supaya kita bisa memahami makna dari perkataan beliau tersebut, karena sumber-sumber perkataan beliau tersebut berasal dari asrarillah (dawuh sirri). Perkataan-perkataan tersebut antara lain:

1. “Menjadi orang mukmin itu harus sering memotong kuku”

Artinya: jadi orang mukmin itu harus menghilangkan sifat ‘ujub (merasa dirinya paling baik) dan supaya bisa ikhlas.

2. “Menjadi murid thariqah itu seperti orang yang antri karcis di loket. Terkadang didesak oleh temannya, diserobot gilirannya, dan ketetesan keringat temannya. Akan tetapi semua itu jangan dihiraukan, tetaplah menghadap ke loket”.

Artinya: menjadi murid thaariqah itu terkadang mendapatkan gangguan dari orang lain, keluarga, bahkan dari sesama murid. Jangan hiraukan dan tetap menghadap ke depan. Hanya berharap barakah kepada guru mursyid supaya bisa cepat mendapat tiket pesawat Thariqah Syadzaliyyah.

3. “Mencari ilmu di depan guru mursyid harus seperti orang yang mencari rumput, tapi jangan seperti orang yang mencari rumput”.

Artinya: orang yang mencari rumput jika melihat ke bawah, akan mendapat rumput yang banyak, wadahnya cepat penuh. Tetapi jika melihat ke tempat lain, sepertinya rumput yang kita lihat di tempat yang lebih jauh terlihat lebih subur daripada rumput yang ada di dekat kita. Kenyataannya, rumputnya sama saja, bahkan lebih sedikit. Karena kebanyakan pindah-pindah maka waktunya habis dan wadah rumputnya tetap kosong. Orang yang mencari ilmu haqiqat harus menghadap pada satu guru, jangan sampai melirik guru yang lainnya. Malah akan menjadi hijab (penghalang) keberhasilannya. Kecuali jika diizini oleh sang guru. KH. Abdul Jalil Mustaqim pernah berkata, “Jangan berpoligami!” . Artinya, jika mengamalkan amalan Syadziliyyah tidak boleh mengamalkan amalan lainnya yang batal, atau yang tidak seizin guru mursyid.

Maqam dan Derajat KH. Mustaqim bin Husain

Pada tahun 1953, KH. Mustaqim bin Husain menerima dawuh sirri, bahwa yang akan meneruskan kemursyidan nanti adalah KH. Abdul Jalil Mustaqim (putra KH. Mustaqim). Pada saat itu, KH. Abdul Jalil Mustaqim sudah mulai disuruh membaiat, meskipun pada saat itu beliau masih berusia 11 tahun.

Pada tahun 1981, Ibu Nyai Hj. Halimah Sa’diyah (istri KH. Mustaqim), Ibu Nyai Hj. Anni Siti Fatimah (putri KH. Mustaqim), serta Bapak H. Jam’an Prawiro, S.H (putra mantu KH. Mustaqim), bersama-sama melakukan ihram haji dan umrah. Ibu Nyai Hj. Anni Siti Fatimah dan Bapak H. Jam’an Prawiro, S.H mengamanatkan haji buat KH. Mustaqim yang dilaksanakan oleh H. Masduqi Tunjung, Udanawu, Blitar, di mana pada saat itu H. Masduqi masih bermukim di Makkah. Serban dan sertifikat KH. Mustaqim disimpan oleh KH. Arif Mustaqim. Sebelum menerima sertifikat tersebut, KH. Arif Mustaqim sudah inkisyaaf (diperlihatkan hal-hal sirri) bertemu dengan KH. Mustaqim yang menggunakan jubah, kopiah dan sorban (menggunakan pakaian haji).

KH. Mustaqim dikaruniai kelebihan oleh Allah bisa berbicara dengan menggunakan bahasa orang yang sedang bertamu (sowan). Menurut K. Lamri Kedung Sigit, Karangan, Trenggalek, KH. Mustaqim pernah menerima tamu dari India yang tidak membawa penerjemah bahasa. KH. Mustaqim langsung menemui tamu tersebut dan bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa India. K. Lamri tetap mendengarkan pembicaraan beliau sambil menyapu di halaman mushalla.

Menurut Pak Ahmad bin Badri Jeli, Karangrejo, Tulungagung, pada saat dia berkelana selama 18 tahun, hingga anak dan cucunya lahir dia tidak mengetahuinya. Di dalam perjalanan berkelananya, dia sempat bertamu (sowan) kepada KH. Muhammad Dalhar Magelang (yang makamnya ada di Gunung Pring), Pak Ahmad bin Badri ditanya oleh KH. Muhammad Dalhar, “Anda dari mana?”. Kemudian Pak Ahmad bin Badri menjawab bahwa dia berasal dari Jeli, Karangrejo, Tulungagung. Kemudian KH. Muhammad Dalhar bertanya lagi, “Sudah tahu KH. Mustaqim Kauman Tulungagung?. Pak Ahmad bin Badri menjawab, “Sudah, saya sudah tahu beliau. Malah bapak saya ikut amalan thariqah KH. Mustaqim”. Kemudian KH. Muhammad Dalhar berkata, “Bahwa KH. Mustaqim itu adalah Wali Quthub yang derajat kewaliannya mastur”.

Padahal di daerah Tulungagung dan sekitarnya, banyak yang tidak mengetahui KH. Mustaqim. Yang mereka ketahui hanya Pak Takim tukang potong rambut.

KH. Mustaqim juga membaiat Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Qadiriyah wa Al-Naqsyabandiyah. Beliau menerima baiat dari KH. Khudlari bin Hasan Malangbong, Garut, Jawa Barat. KH. Mustaqim menimba ilmu yang banyak sekali dari KH. Khudlari bin Hasan, termasuk belajar ilmu syari’at lengkap selama 6 bulan.

KH. Mustaqim bin Husain Wafat

Pada tahun 1970, pada hari Ahad tanggal 1 Muharram setelah Ashar, di mana di situ terdapat 4 orang yang menemani KH. Mustaqim yang sedang naza’ . Salah satunya adalah Mayor TNI AD Shomad Srianto (mantan komandan KODIM Tulungagung). Pada saat naza’ , KH. Mustaqim kelihatan nafasnya tersendat-sendat (idlthirob) dan sesak nafas. Akan tetapi sesak nafas beliau ini bukan berarti tanda-tanda su’ul khatimah . Menurut kitab Tanbihul Mughtarrin halaman 45, jika ada guru mursyid pada saat naza’ -nya terlihat kesakitan dan sesak nafas/nafas tersendat-sendat, itu dikarenakan dua hal:

1. Karena sangat senang akan bertemu dengan Allah.

2. Karena rasa kasihan beliau kepada semua murid beliau, ingin memberikan pendidikan (tarbiyah) kepada para murid hingga mencapai ma’rifat billah .

Oleh karena itu, karena saling tarik menariknya dua hal tersebut, sehingga jasad beliau terlihat mengalami nafas tersendat-sendat.

Putra-Putri KH. Mustaqim bin Husain dengan Ibu Nyai Hj. Halimah Sa’diyah

1. Ibu Nyai Thowilah Sumaranten.

2. Bapak KH. Arif.

3. Bapak Muhsin.

4. Bapak Yasin.

5. Ibu Maratun.

6. Bapak KH. Abdul Ghafur.

7. Ibu Nyai Hj. Anni Siti Fatimah.

8. Bapak KH. Kyai Ali Murtadlo.

9. Romo KH. Muhammad Abdul Jalil.

10. Ibu Nyai Siti Makhfiyah.

11. Bapak Hanshon Athlab.

http://

arcapasa3.blogspot.com/
2011/04/kh-abdul-jalil-mustaqim.html

Sheikh Fadhil Banten, Rujukan Istana Johor

Sheikh Fadhil Banten atau Syeikh Kiyai Haji Fadhil bin Haji Abu Bakar al-Banten dilahirkan di Banten, Jawa Barat sekitar tahun 1287 Hijrah/1870 Masihi dan meninggal dunia di Bakri, Muar, Johor pada 29 Jamadilawal 1369 Hijrah/18 Mac 1950 Masihi, dikebumikan di Batu 28 Langa, Muar.Sebelum riwayat ini diteruskan, dirasakan perlu menjelaskan nama `Banten' kerana ada orang memperkata bahawa ulama yang diceritakan ini berasal dari `Bentan'. Hal ini terjadi hanyalah kerana ada orang yang tidak dapat membezakan antara Banten dengan Bentan. Banten, kadang-kadang disebut juga dengan Bantan, kadang-kadang Bantam. Banten pada zaman dulu mempunyai kerajaan sendiri. Setelah Indonesia merdeka ia dimasukkan ke dalam Propinsi Jawa Barat dan setelah reformasi, menjadi propinsi sendiri yang dinamakan Propinsi Banten.Ada pun Bentan adalah sebuah pulau di Kepulauan Riau, yang kedua terbesar sesudah Pulau Natuna. Bentan sangat penting dalam sejarah dan geografi, sama ada zaman kerajaan Melaka mahu pun zaman pembentukan kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang dan takluknya, zaman Riau-Johor dan terakhir sekali menjadi Riau-Lingga.Ulama yang dikisahkan ini berasal dari Banten bukan dari Bentan. Banten memang ramai melahirkan ulama yang terkenal, antara yang terkenal di seluruh dunia Islam ialah Syeikh Nawawi al-Bantani yang diakui oleh dunia Islam dengan gelar Imam Nawawi ats-Tsani (Imam Nawawi yang ke-2). Sedang dari Bentan hingga kini belum diketahui nama ulamanya, yang ada hanyalah ulama Riau yang berasal dari pulau-pulau lainnya. Antara ulama Riau yang mengajar di Mekah peringkat guru pada Fadhil ialah Syeikh Ahmad bin Muhammad Yunus Lingga.

Pendidikan


Selain mendapat pendidikan dari kalangan keluarga sendiri, Fadhil juga memasuki pelbagai pondok pengajian di Banten. Sekitar usia tiga puluhan, barulah beliau melanjutkan pendidikannya di Mekah. Sewaktu masih berada di Banten lagi, Fadhil telah mengenal beberapa thariqat yang berada di Banten, antaranya ialah Thariqat Qadiriyah yang tersebar di seluruh Jawa yang dibawa oleh murid-murid Syeikh Ahmad Khathib bin Abdul Ghaffar Sambas (lahir 1217 Hijrah/ 1802 Masihi, wafat 1289 Hijrah/1872 Masihi). Salah seorang khalifahnya yang paling terkenal, yang berasal dari Banten ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani (wafat 18 Safar 1315 Hijrah/19 Julai 1897 Masihi). Thariqat Naqsyabandiyah yang tersebar di Banten juga berasal daripada ulama Sambas tersebut melalui Syeikh Abdul Karim al-Bantani. Oleh itu dipercayai bahawa Fadhil telah ditawajjuh dengan kedua-dua thariqat tersebut oleh Syeikh Abdul Karim al-Bantani, ulama Banten yang sangat terkenal itu. Setelah berada di Mekah, Fadhil menerima pula Thariqat Tijaniyah, walau bagaimana pun tidak jelas daripada siapa beliau menerima thariqat itu. Selain belajar, di Mekah beliau membantu saudara sepupunya Hajah Halimah mengurus jemaah haji.

Datang Ke Johor

Penghulu Mukim Langa bernama Haji Daud sangat tertarik pada keperibadian, keilmuan dan kerohanian yang ada pada Fadhil, maka penghulu itu berusaha memujuk ulama yang berasal dari Banten ini supaya datang ke Johor. Akhirnya hasrat Daud tercapai juga. Maka dalam tahun 1915 Masihi, Fadhil Banten sampai di Johor. Beliau mengajar di Kampung Langa, Muar. Selain pelbagai ilmu Islam yang asas seperti fardu ain, Fadhil lebih menekankan Wirid Khaujakan atau Khatam Khaujakan yang sangat terkenal dalam ajaran Thariqat Qadiriyah dan Thariqat Naqsyabandiyah.Fadhil melebarkan sayap dakwahnya bukan hanya di Kampung Langa tetapi juga termasuk dalam Bandar Maharani (Muar), Bakri, Bukit Kepong dan tempat-tempat lainnya. Pendek kata banyak surau dan masjid yang menjadi tempat beliau mengajar. Ajaran beliau dapat diterima oleh semua pihak termasuk Sultan Johor.

Sultan Johor Mohon Pertolongan

Perang dunia kedua meletus antara tahun 1939 hingga tahun 1945. Dalam masa darurat itulah Sultan Ibrahim, Sultan Johor merasa perlu menyelamatkan Kerajaan Johor, termasuk diri peribadi dan keluarganya dengan apa cara sekali pun. Atas nasihat beberapa insan yang arif, baginda mendekati seorang ulama sufi yang sangat mustajab doanya. Ulama yang dimaksudkan Syeikh Fadhil. Beliau tidak perlu didatangkan dari luar kerana beliau memang telah bermustautin di Johor. Baginda menitahkan Datuk Othman Buang, Pegawai Daerah Muar ketika itu untuk mencari dan menjemput ulama sufi itu datang ke istana baginda. Hajat Sultan Ibrahim itu dipersetujui oleh Syeikh Fadhil, namun walaupun sultan telah menyediakan sebuah rumah dekat dengan istana di Pasir Pelangi tetapi beliau lebih suka tinggal di Masjid Pasir Pelangi. Pada waktu malam beliau hadir di sebelah bilik peraduan Sultan Ibrahim membaca wirid untuk menjaga keselamatan sultan. Walau bagaimana pun untuk lebih mudah melakukan pelbagai amalan wirid dan munajat kepada Allah, beliau memilih masjid yang lebih banyak berkatnya dari rumah. Oleh itu Fadhil lebih banyak melakukannya di dalam masjid. Akhirnya Sultan Ibrahim memperoleh ketenangan jiwa kerana keberkesanan dan keberkatan doa Syeikh Fadhil. Selanjutnya perang dunia kedua selesai dan baginda memberikan anugerah kepada ulama sufi tersebut. Ustaz Haji Ahmad Tunggal dalam bukunya menyebut, ``Sultan telah menganugerahkan pangkat kepada Haji Fadhil, iaitu ia dilantik sebagai Mufti Peribadi Sultan. Jawatan ini berbeza dengan Mufti Kerajaan. Mufti Peribadi adalah bertanggungjawab kepada sultan. Ia memberi nasihat dan fatwa jika dikehendaki oleh sultan.''Selain anugerah yang berupa kedudukan itu, Sultan Ibrahim juga membiayai Fadhil dan isterinya menunaikan ibadah haji, dan memberikan hadiah-hadiah yang tidak terkira besar dan banyaknya. Sumbangan yang tiada terhingga besarnya kepada Sultan Ibrahim ialah beliau telah membuka pintu kebebasan seluas-luasnya kepada Kiyai Syeikh Fadhil untuk menubuhkan kumpulan-kumpulan Wirid Khaujakan di seluruh Kerajaan Johor tanpa sebarang halangan. Berdasarkan tulisan Ustaz Haji Ahmad Tunggal, peringkat awal pembentukan kumpulan tersebut di Pontian diketuai oleh Haji Ahmad Syah. Di Batu Pahat oleh Kiyai Saleh. Di Muar oleh Haji Abdul Majid dan di Mersing oleh Haji Siraj bin Marzuki.

Keturunan dan Murid

Daripada isteri yang pertama, Syeikh Fadhil memperoleh empat orang anak; seorang lelaki dan tiga perempuan. Anak lelakinya ialah Orang Kaya Penghulu Haji Abdul Hamid. Setelah isteri pertamanya meninggal dunia, beliau pindah ke Bandar Muar dan berkahwin lagi dengan seorang janda beranak dua. Kedua-duanya ialah Haji Othman bin Haji Azhari dan Haji Ali bin Haji Azhari yang meneruskan perjuangan Syeikh Fadhil. Antara murid Syeikh Fadhil ialah Sahibus Samahah Haji Ahmad Awang yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Johor. Murid dan anak tirinya, Haji Othman Azhari, dalam buku Amalan Wirid Khaujakan dan Huraiannya, pada tahun 1994 adalah sebagai Yang Dipertua Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan, dan ramai lagi. Daripada buku Amalan Wirid Khaujakan dan Huraiannya oleh Ustaz Ahmad Tunggal yang memperoleh pendidikan di Universiti Al-Azhar, Mesir itu banyak perkara yang dapat kita ketahui. Antaranya bahawa terasasnya Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan yang sangat meluas di seluruh Johor adalah bermula daripada Syeikh Fadhil. Amalan Wirid Khaujakan masih subur dan berkesinambungan di Johor seperti juga di beberapa tempat lain di seluruh dunia Islam.Pada pandangan penulis, walaupun ada golongan anti amalan sufi yang menuduh bahawa orang-orang sufi mengamalkan perkara-perkara bidaah dan khurafat, tuduhan melulu seperti itu tidak berasas sama sekali kerana Wirid Khaujakan dan beberapa amalan golongan sufi selainnya juga bersumberkan al- Quran dan as-sunah. Mereka yang beramal dengannya bukan terdiri daripada golongan awam saja tetapi juga termasuk ulama-ulama besar terkenal yang mampu membahas al-Quran dan hadis. Ia bukan diamalkan oleh orang-orang di dunia Melayu sahaja tetapi juga di tempat-tempat dalam belahan dunia. Penulis tidak sependapat dengan beberapa pandangan yang menuduh bahawa apabila beramal mengikut sufi mengakibatkan ketinggalan dalam membina kemajuan duniawi, kerana ternyata tidak sedikit golongan sufi yang menghasilkan karya, mencetuskan pemikiran yang bernas maju, menghasilkan sesuatu pemikiran baru pada setiap zaman dan lain-lain. Kebijakan Sultan Ibrahim yang memahami keadaan zaman darurat menghadapi huru-hara perang dunia kedua yang sukar diatasi dalam bentuk zahiri semata-mata, sehingga baginda memerlukan insan takwa seperti Syeikh Fadhil, patut dicontohi oleh pemimpin-pemimpin kita masa kini dan zaman-zaman yang akan datang. Setelah kita mengetahui dalam dunia sekarang bahawa nyawa seolah-olah tiada harganya, situasi dunia yang tiada ketentuannya, termasuk dunia Melayu juga, maka patutlah umat Islam Melayu memperbanyak zikir, wirid, selawat dan lain-lain sejenisnya demi kebaikan dan ketahanan diri Muslimin dan dunia Melayu sejagat.
Sumber:
Akhbar Utusan Malaysia, ruangan Ulama Nusantara, Sheikh Fadhil Banten, Penyebar Wirid Khaujakan Di Johor karya Ustaz Wan Mohd Shaghir Abdullah

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons