Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.

Kamis, 22 Juli 2010

Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdhor

Ulama Bondowoso kelahiran Hadro maut merupakan sosok ulama karismatik yang menjadi panutan masyarakat serta rujukan ilmu dari para ulama. Putra dari seorang ulama besar lahir di desa Quwairoh Hadro maut sekitar tahun 1280 H atau 1859 M. Ayah beliau bernama Habib Ahmad bin Muhammad al muhdhar seorang ulama besar di hadro maut. sejak kecil habib Muhammad bin Ahmad Al muhdhor menuntut ilmu dari ayahnya, kecerdasan dan penguasaan materi yang di berikan Ayahnya membuat Ayahnya merasa bangga terhadap putranya. Menginjak Remaja Habib Muhammad Muhdhor belajar kepada seorang Ulama dan Waliyulloh bernama Habib Ahmad bin Hasan Al athos. Gurunya walaupun buta namun mampu melihat dengan pandangan Batiniyyah yang telah dikaruniakan Alloh SWt.

Sewaktu Gurunya Habib Ahmad bin Hasan Al athos pergi ke suatu daerah untuk berdakwah , beliau mengajak Muridnya Habib Muhammad Al muhdhor untuk menemaninya. Mereka menunggang kuda bersebelahan, dalam perjalanan Habib Muhammad minta izin gurunya untuk membacakan Kitab Al Muhadzdzab karya Imam Abu Ishak. Dan sepanjang Perjalanan Habib Muhammad Al Muhdhor membaca Kitab Muhadzdzab sedangkan gurunya menyimak bacaan Muridnya sampai khatam. Selesai menghatamkan Kitab Muhadzadzab gurunyapun mendo’akan habib Muhammad al muhdhor .

Tahun 1886 M Habib Ahmad Al muhdhor ayah Habib Muhmmad al muhdhor meninggal dunia , Orang yang selama ini menjadi sugesti dan tempat mengadu telah dipanggil Alloh SWt. Setelah itu pula habib Muhammad al muhdhor mulai melakukan ritual Dakwahnya ke berbagai daerah. Gaya bahasa dan tutur kata yang lembut mampu meluluhkan hati setiap orang. Setiap kali daerah yang dikunjungi nya selalu ramai orang berbondong -bondong mengelilinginya untuk belajar kepadanya.
Setelah sekian lama melakukan ritual dakwahnya kebebagai daerah hingga akhirnya Beliau menetap di Bondowoso Jawa timur. Keharuman namanya serta kedalaman ilmu yang dimiliki mampu membuat simpatik masyarakat serta para ulama dari berbagai daerah Ditanah air. Salah seorang ulama Surabaya Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi sangat mengagumi habib Muhammad Al Muhdor hingga Menikahkan dengan salah seorang putrinya. Mertua dan Menantu yang memang seorang ulama bahu membahu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kepada masyarakat, pendirian Madrasah Al Khaeiriyyah Surabaya dan darul Aitam Jakarta adalah juga merupakan usaha dari Habib Muhammad Muhdhor untuk mengajak para Donatur menyisihkan hartanya membangun tempat tersebut.

Majlisnya tak pernah sepi dari para Muhiibin yang menghadirinya , kepedulian Habib Muhammad al muhdhor terhadap ilmu sangat besar maka tak heran bila beliau mendapat tempat tersendiri di hati para ulama . tak jarang beliau menghabiskan waktunya untuk menelaah kitab -kitab dan mengajarkannya kepada umat. Perhatian beliau terhadap umatpun sangat besar, tak segan segan Habib Muhammad membantu kesulitan umat baik berupa materi mapun imateril. Begitupun terhadap tamu yang berkunjung ke rumahnya, beliau akan sambut tamu tersebut di depan pintu dengan senyumnya yang bersahaja, maka tak jarang para tamu yang berkunjung kerumahnya untuk datang kembali karena keramah tamahan yang dimilki Habib Muhammad Al muhdhor.
Tanggal 4 may 1926 Habib Muhammad al muhdhor Wafat setelah beberapa hari di rawat di Rumah sakit di surabaya, beliau meninggalkan 5 orang putra dan 3 anak perempuan. Masyarakat dan para ulama baik dari Ahli bait maupun ahwal merasa sangat kehilangan sosok ulama yang sangat perduli dengan umat. Beliau dimaqomkan disamping maqom mertuanya Habib muhammad al habsy.
sumber : http://pondokhabib.wordpress.com

Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya)

Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi lahir di kota Khola’ Rasyid, Hadramaut, pada tahun 1265 H. Ayah beliau, Al-Imam Al-‘Arifbillah Al-habib Idrus bin Muhammad Al-Habsyi telah dahulu datang ke Indonesia untuk berdakwah. Beliau wafat dan di makamkan di kota CIrebon. Sedangkan ibu beliau di asuh oleh pamannya, Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Habsyi. Sejak itu beliau besar dalam didikan pamannya. Sang paman inilah yang membentuk jiwa dan kepribadian Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi.



Pada mudanya, Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi giat dalam menuntut ilmu. Walaupun usianya masih muda, beliau mampu dengan mudah menguasai dan memahaminya. Berbagai ilmu agama yang beliau dapatkan dari para ilama dan auliya’, diantaranya ilmu tafsir, hadis dan fikih. Para gurunya telah menyaksikan ketaqwaan dan kedudukan beliau sebagai seorang yang tak kenal lelah dalam mengamalkan ilmunya.



Salah seorang auliya’ Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Shahib Maulid Simtudurrar) telah mengutarakan dalam surat-menyurat beliau : “Sesungguhnya orang-orang berpergian ke Indonesia untuk bekerja dan mencari harta keduniaan, akan tetapi, putra kami Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi bekerja untuk Allah, dia berdakwah untuk mencapai Ash-Shidiqiyyah Al-kubra.” (Tingkat tertinggi dikalangan Auliya).



Ketika beranjak remaja beliau pergi ke tanah suci untuk menunaikan obadah haji dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di Madinah. Disana beliau menetap beberapa waktu. Hal itu dipergunakan oleh beliau untuk menimba ilmu dari para ulama yang berada di Haramain (Mekkah dan Madinah), diantaranya kepada Al-Imam Al-habib Husein bin Muhammad Al-Habsy.



Sebagaimana para pendahulunya, beliau berdakwah dari satu daerah ke daerah yang lain. Dalam setiap kali perjalanannya itu, beliau tidak bermalam di sebuah tempat yang di singgahi kecuali di tempat tersebut terdapat Ahlul Bait Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam.


Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi di kenal memiliki akhlak serta budi pekerti yang luhur, beliau murah tangan dan kasih saying terhadap sesame. Hrta miliknya tidak segan-segan diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya. Beliau adalah seorang tutur katanya lemah lembut serta penuh dengan hikmah dan selalu tersenyum bila bertemu dengan siapapun. Ahklak dan perangainya meneladani datuknya, Rasulullah shallahu ‘alaiyhi wassalam.



Beliau memelihara anak-anak yatim di rumahnya. Anak-anak yatim menganggap Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi adalah ayah mereka sendiri, di dalam memberikan pakaian, makanan, minuman dan tempat tidur. Apabila anak-anak yatim itu telah beranjak dewasabeliau yang mengurus perkawinan mereka dan memberikan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Tidak mengherankan, jika beliau dianggap sebagai ayah dari anak-anak yatim tersebut.



Rumah beliau selalu terbuka bagi para tetamu yang dating. Tidak sedikit para tamu tersebut yang menginap di rumah beliau, dan beliau sendirilah yang menyiapkan dan melayani kebutuhan para tamunya itu. Setiap tamu yang dating ke tempat beliau, baik dalam maupun luar kota selalu disambut dengan ramah dan sendang hati, bahkan apabila tamu yang dating orang yang tidak mampu, maka diberikan kepadanya ongkos untuk pulang dengan disertai hadiah utnuk anak dan istrinya. Hal ini yang menjadikan Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi begitu disegani dan dicintai masyarakat luas. Beliau memiliki kebiasaan mendamaikan dua belah pihak yang bertengkar dan berselisih faham. Meskipun masalah itu besar dan sulit, tapi dapat beliau selesaikan dengan baik. Sebagian amal jariyah beliau, diantaranya adalah, pembangunan masjid di Purwakarta, pembangunan Masjid Ar-Raudhah di kota Jombang, dan lain-lainnya. Beliau sebagai perintis pertama pengadaan haul para auliya’ dan kaum shalihin baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Untuk pertama kalinya, beliau mengadakan haul guru beliau Al-Imam Al-hHabib Muhammad bin Thohir Al-Haddad, yang makamnya berada di kota Tegal. Beliau senantiasa berziarah ke tempat para auliya’ dan shalihin, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal yang di ikuti oleh khalaya ramai.



Semasa hidurpnya, beliau selalu taat dan takwa kepada Allah dan Rasul-Nya, serta senantiasa menladani para shalaf bani alawi yang merupakan leluhurnya. Beliau selalu memberikan maanfaat kepada para hamba Allah, dengan memanfaakan waktu, umur, serta membelanjakan hartanya di jalan Allah hingga akhir hayatnya.



Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi wafat pada pertengahan malam, hari rabu, 12 Rabiul Tsani 1337 H, di Kota Surabaya. Jasad beliau di makamkan dalam Qubbha di pemakaman Al-Habib Hasan Al-Habsyi di kawasan Masjdi Ampel Surabaya, pada hari Rabu waktu Ashar. Bertindak sebagai imam dalam shalat jenazah beliau adalah, Al-habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhorm, yang merupakan menantu, murid sekaligus sahabat beliau.

Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Keramat Empang)

Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Keramat Empang) pernah berkata kepada santri kesayangannya Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad: “Ya Alwi, ilmu ana bakal ana kasih kepada semua murid, tapi sir ana gak akan ana kasih kepada anak dan murid ana. Kecuali kepada orang yang bisa menggali sir ana.” Memang, pada kenyataannya semua anak didik Habib Abdullah bin Muhsin adalah orang alim, tidak ada yang tidak alim. Semua termasuk golongan min Kibaril ulama pada masanya, yaitu: Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad, Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi, Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad, Habib Usman bin Abdullah bin Agil bin Yahya (Mufti Betawi), Habib Muhsin Keramat Jati, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik).
Meskipun Habib Hasan bin Ja’far dari jalur ayahnya adalah golongan Assegaf, namun di kalangan umat beliau dikenal sebagai bangsa Alattas. Mungkin, karena sir kakeknya itu terwariskan ke dalam dirinya, maka ia lebih dikenal sebagai Alattas daripada Assegaf. Dari jalur ibu Habib Hasan memiliki jalur silsilah: Fatimah binti Hasan, bin Muhsin bin Abdullah bin Muhsin Allattas. Jadi Habib Abdullah (Keramat Empang-Bogor) merupakan kakek buyutnya.

Kalangan awam lebih mengenal habib Abdullah bin Muhsin Alattas dengan sebutan Habib Keramat Empang. Konon nama empang berasal dari sebuah kolam yang berada di depan rumah beliau. Dengan izin Allah, melalui perantara empang inilah beliau banyak menyembuhkan orang sakit. Sehingga beliau terkenal dengan sebutan Habib Keramat Empang.
Nasab beliau adalah: Al-Habib Abdullah bin Muhsin bin Muhammad bin Muhsin bin Husein bin Al-Qutub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala' Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin 'Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin 'Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-'Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal 'Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam.
Beliau lahir di Al-Kasri, sebuah desa di Hadramaut, pada hari Selasa 20 Jumadil Awwal 1265 H bertepatan dengan tahun 1849 M. Semenjak kecil Al-Habib Abdullah belajar ilmu agama dan Al-Qur'an di bawah didikan Asy-Syeikh Umar bin Faraj bin Sabbah. Kemudian oleh sang ayah beliau dikirim ke beberapa ulama di Hadramaut untuk mempelajari berbagai ilmu keislaman. Diantaranya beliau berguru kepada Al-Qutub36 Al-Habib Abubakar bin Abdullah Al-Attas dan Al-Imam Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas.
Melalui pendidikan agama dan lingkungan salaf yang kental, membentuk sosok Habib Abdullah kecil memiliki perilaku shaleh dan berakhlak luhur. Sehingga pada suatu waktu, seorang tokoh auliya’ di Hadramaut saat itu Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi ketika melihat Al-Habib Abdullah, beliau mengatakan: ”Sungguh anak kecil ini kelak akan menjadi orang yang mulia kedudukannya.”
Ketika remaja beliau sangat gemar berziarah kepada para ulama untuk belajar dan mengambil ijazah kepada mereka. Di antara ulama yang sering beliau kunjungi adalah: Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar, Al-Habib Ahmad bin Abdillah Al-Baar dan Asy-Syeikh Muhammad bin Abdullah Basudan.
Sekitar tahun 1282 H, kala itu usianya 18 tahun, beliau pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji untuk yang pertama kalinya dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam di Madinah. Di sana beliau berkesempatan menimba ilmu kepada para ulama yang berada di Makkah dan Madinah. Seusai menjalankan ibadah haji beliau pulang ke Hadramaut dengan membawa ilmu dan keberkahan. Sesampainya di Hadramaut, Al-Habib Abdullah menimba ilmu di Kota Tarim dan sekitarnya. Disana beliau bertemu para ulama dan auliya’, dalam kesempatan ini beliau pergunakan untuk meminta do’a dan ijazah kepada mereka.
sumber : http://muslimnas.blogspot.com

Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas

Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas dilahirkan di kota Hajeriem, Hadramaut, pada tahun 1255 H. Pada masa kecilnya, beliau mendapat didikan langsung dari ayah beliau Al-Habib Abdullah bin Thalib Alatas. Setelah dirasakan cukup menimba ilmu dari ayahnya, beliau kemudian meneruskan menuntut ilmu kepada para ulama besar yang ada di Hadramaut. Diantara para guru beliau adalah :
Al-Habib Hasan bin Ali Alkaff
Al-Habib Al-Qutub Sholeh bin Abdullah Alatas
Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Abdullah Alatas
Al-Habib Al-Qutub Thahir bin Umar Alhaddad
Al-Habib Al-Qutub Idrus bin Umar Alhabsyi
Al-Habib Ahmad bin Hasan bin Sholeh Al-Bahar
Al-Habib Muhammad bin Ibrahim Balfagih

Setelah ditempa oleh para ulama besar bahkan para Qutub yang ada di Hadramaut saat itu, keinginan beliau untuk menuntut ilmu seakan tak pernah luntur dan pupus. Hasrat beliau untuk menambah ilmu sedemikian hebat, sehingga untuk itu beliau kemudian melakukan perjalanan ke kota Makkah. Beliau banyak menjumpai ulama-ulama besar yang tinggal di kota Makkah saat itu. Kesempatan baik ini tak beliau sia-siakan. Beliau berguru kepada mereka. Diantara ulama-ulama besar yang menjadi guru beliau disana adalah :
As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan (Mufti Makkah saat itu)
Al-Habib Abdullah bin Muhammad Alhabsyi
Asy-Syaikh Muhammad bin Said Babsail
Al-Habib Salim bin Ahmad Alatas

Beliau Al-Habib Ahmad dengan giat dan tekun mengambil ilmu dari mereka. Sehingga tak terasa sudah 12 tahun beliau jalani untuk menimba ilmu disana. Beliau terus mengembangkan keilmuannya, sehingga kapasitas beliau sebagai seorang ulama diakui oleh para ulama kota Makkah saat itu.

Beliau kemudian dianjurkan oleh guru beliau, As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan, untuk memulai terjun ke masyarakat, mengajarkan ilmu dan berdakwah. Mula-mula beliau berdakwah di pinggiran kota Makkah. Beliau tinggal disana selama 7 tahun. Dalam kurun waktu itu, kegiatan dakwah selalu aktif beliau lakukan disana.

Kemudian beliau berkeinginan untuk melanjutkan perjalanan dakwah beliau ke Indonesia. Beliau sampai disini diperkirakan sekitar tahun 1295-1300 H. Setibanya beliau di Indonesia, beliau menuju ke kota Pekalongan dan menetap disana.

Di kota Pekalongan beliau selalu aktif meneruskan kegiatan-kegiatan dakwahnya. Beliau tidak ambil pusing dengan urusan-urusan duniawi. Semua fikrah beliau semata ditujukan untuk kepentingan dakwah. Waktu beliau selalu terisi dengan dakwah, ibadah, dzikir kepada Allah dan rajin membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Selain itu, ilmu beliau selalu tampak bercahaya, terpancar melalui akhlak beliau yang mulia. Beliau selalu berperilaku baik, penyayang dan lemah lembut terhadap sesama.

Akan tetapi itupun tidak meniadakan sikap beliau yang selalu ber-nahi mungkar. Jika beliau melihat seseorang yang melakukan suatu kemungkaran, beliau tidak segan-segan untuk menegurnya. Perkataan-perkataan yang keluar dari mulut beliau, selalu beliau ucapkan dengan shidq. Beliau tidak perduli terhadap siapapun jika ada hak-hak Allah yang dilanggar di hadapan beliau. Sehingga berkat beliau, izzul Islam wal Muslimin tampak terang benderang, menyinari kota Pekalongan.

Disamping itu, dari sebagian jasa-jasa baik beliau, beliau membangun beberapa masjid dan madrasah Salafiyah, yang berjalan pada thariqah para salaf beliau yang shaleh. Rumah beliau selalu penuh dengan tamu dan beliau sambut dengan ramah-tamah. Inilah akhlak beliau yang mensuri-tauladani akhlak dan perilaku datuk-datuk beliau.

Sampai akhirnya beliau dipangil ke hadratillah, pergi menuju keridhaan Allah. Beliau wafat pada tanggal 24 Rajab 1347 H di kota Pekalongan dan dimakamkan disana. Masyarakat berbondong-bondong mengiringi kepergian beliau menghadap Allah. Derai keharuan sangat terasa, membawa suasana syahdu…

Selang setahun kepergian beliau, untuk menghidupkan kembali kesuri-tauladan dan mengenang jasa-jasa baik beliau, setiap tahun di kota tersebut diadakan Haul beliau. Haul tersebut banyak dihadiri oleh berbagai kalangan umat Islam. Mereka berduyun-duyun dari berbagai kota hadir disana, demi mengenang kehidupan beliau…demi menjemput datangnya nafaahat dan imdaadat.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

Al Habib Husein bin Abu Bakar Al 'Aydrus (Luar Batang)

Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus dilahirkan di Yaman Selatan, tepatnya di daerah Hadhramaut, tiga abad yang silam. Ia dilahirkan sebagai anak yatim, yang dibesarkan oleh seorang ibu dimana sehari-harinya hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Husein kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.

Setelah memasuki usia belia, sang ibu menitipkan Habib Husein pada seorang “Alim Shufi”. Disanalah ia menerima tempaan pembelajaran thariqah. Di tengah-tengah kehidupan di antara murid-murid yang lain, tampak Habib Husein memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih dari teman-temannya.

Kini, Al Habib Husein telah menginjak usia dewasa. Setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensiarkan islam ke belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut Habib Husein tidak kekurangan akal, ia bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang melakukan jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.

Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kafilah yang hendak bertolak ke India, maka Habib Husein segera menghampiri ibunya untuk meminta ijin.

Walau dengan berat hati, seorang ibu harus melepaskan dan merelakan kepergian puteranya. Habib Husein mencoba membesarkan hati ibunya sambil berkata : “janganlah takut dan berkecil hati, apapun akan ku hadapi, senantiasa bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya ia bersama kita.” Akhirnya berangkatlah Al Habib Husein menuju daratan India.

Sampailah Al Habib Husein di sebuah kota bernama “Surati” atau lebih dikenal kota Gujarat, sedangkan penduduknya beragama Budha. Mulailah Habib Husein mensi’arkan Islam dikota tersebut dan kota-kota sekitarnya.

Kedatangan Habib Husein di kota tersebut membawa Rahmatan Lil-Alamin. Karena daerah yang asalnya kering dan tandus, kemudian dengan kebesaran Allah maka berubah menjadi daerah yang subur. Agama Islam pun tumbuh berkembang.

Hingga kini belum ditemukan sumber yang pasti berapa lama Habib Husein bermukim di India. Tidak lama kemudian ia melanjutkan misi hijrahnya menuju wilayah Asia Tenggara, hingga sampai di pulau Jawa, dan menetap di kota Batavia, sebutan kota Jakarta tempo dulu.

Batavia adalah pusat pemerintahan Belanda, dan pelabuhannya adalah Sunda Kelapa. Maka tidak heran kalau pelabuhan itu dikenal sebagai pelabuhan yang teramai dan terbesar di jamannya. Pada tahun 1736 M datanglah Al-Habib Husein bersama para pedagang dari Gujarat di pelabuhan Sunda Kelapa.

Disinilah tempat persinggahan terakhir dalam mensyiarkan Islam. Beliau mendirikan Surau sebagai pusat pengembangan ajaran Islam. Ia banyak di kunjungi bukan saja dari daerah sekitarnya, melainkan juga datang dari berbagai daerah untuk belajar Islam atau banyak juga yang datang untuk di do’akan.

Pesatnya pertumbuhan dan minat orang yang datang untuk belajar agama Islam ke Habib Husein mengundang kesinisan dari pemerintah VOC, yang di pandang akan menggangu ketertiban dan keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya di jatuhi hukuman, dan ditahan di penjara Glodok.

Istilah karomah secara estimologi dalam bahasa arab berarti mulia, sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (terbitan balai pustaka, Jakarta 1995, hal 483) menyebutkan karomah dengan keramat, diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam ajaran Islam karomah di maksudkan sebagai khariqun lil adat yang berarti kejadian luar biasa pada seseorang wali Allah. Karomah merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan tingkah laku seseorang, yang merupakan anugrah Allah karena ketakwaannya, berikut ini terdapat beberapa karomah yang dimiliki oleh Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus atau yang kita kenal Habib Luar Batang, seorang wali Allah yang lahir di Jasirah Arab dan telah ditakdirkan wafat di Pulau Jawa, tepatnya di Jakarta Utara.

1. Menjadi mesin pemintal

Di masa belia, ditanah kelahirannya yaitu di daerah Hadhramaut – Yaman Selatan, Habib Husein berguru pada seorang Alim Shufi. Di hari-hari libur ia pulang untuk menyambang ibunya.

Pada suatu malam ketika ia berada di rumahnya, ibu Habib Husein meminta tolong agar ia bersedia membantu mengerjakan pintalan benang yang ada di gudang. Habib Husein segera menyanggupi, dan ia segera ke gudang untuk mengerjakan apa yang di perintahkan oleh ibunya. Makan malam juga telah disediakan. Menjelang pagi hari, ibu Husein membuka pintu gudang. Ia sangat heran karena makanan yang disediakan masih utuh belum dimakan husein. Selanjutnya ia sangat kaget melihat hasil pintalan benang begitu banyaknya. Si ibu tercengang melihat kejadian ini. Dalam benaknya terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, malah hanya dikerjakan kurang dari semalam, padahal Habib Husein dijumpai dalam keadaan tidur pulas disudut gudang.

Kejadian ini oleh ibunya diceritakan kepada guru thariqah yang membimbing Habib Husein. Mendengar cerita itu maka ia bertakbir sambil berucap : “ sungguh Allah berkehendak pada anakmu, untuk di perolehnya derajat yang besar disisi-Nya, hendaklah ibu berbesar hati dan jangan bertindak keras kepadanya, rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi pada anakmu.”

2. Menyuburkan Kota Gujarat

Hijrah pertama yang di singgahi oleh Habib Husein adalah di daratan India, tepatnya di kota Surati atau lebih dikenal Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati karena dilanda kekeringan dan wabah kolera.

Kedatangan Habib Husein di kota tersebut di sambut oleh ketua adat setempat, kemudian ia dibawa kepada kepala wilayah serta beberapa penasehat para normal, dan Habib Husein di perkenalkan sebagai titisan Dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana.

Habib Husein menyangupi bahwa dengan pertolongan Allah, ia akan merubah negeri ini menjadi sebuah negeri yang subur, asal dengan syarat mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

Akhirnya mereka di perintahkan untuk membangun sumur dan sebuah kolam. Setelah pembangunan keduanya di selesaikan, maka dengan kekuasaan Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh, dengan cara mandi di kolam buatan tersebut. Dengan demikian kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur kehidupan masyarakatnya menjadi sejahtera.

3. Mengislamkan tawanan

Setelah tatanan kehidupan masyarakat Gujarat berubah dari kehidupan yang kekeringan dan hidup miskin menjadi subur serta masyarakatnya hidup sejahtera, maka Habib Husein melanjutkan hijrahnya ke daratan Asia Tenggara untuk tetap mensiarkan Islam. Beliau menuju pulau Jawa, dan akhirnya menetap di Batavia. Pada masa itu hidup dalam jajahan pemerintahan VOC Belanda.

Pada suatu malam Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang yang berlari padanya karena di kejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah kuyub ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia adalah tawanan dari sebuah kapal dagang Tionghoa.

Keesokan harinya datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib Husein untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Beliau tetap melindungi tawanan tersebut, sambil berkata : “Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya.”

Rupanya ucapan tersebut sangat di dengar oleh pasukan VOC. Semua menundukkan kepala dan akhirnya pergi, sedangkan tawanan Tionghoa itu sangat berterima kasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam.

4. Menjadi Imam di Penjara

Dalam masa sekejab telah banyak orang yang datang untuk belajar agama Islam. Rumah Habib Husein banyak dikunjungi para muridnya dan masyarakat luas. Hilir mudiknya umat yang datang membuat penguasa VOC menjadi khawatir akan menggangu keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya ditangkap dan di masukan ke penjara Glodok. Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan “Seksi Dua.”

Rupanya dalam tahanan Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit, sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang besar bersama tahanan yang lain.

Polisi penjara dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat Habib Husein menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin shalat bersama-sama para pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luar pun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar ruangan yang sempit itu, dalam keadaan tetap terkunci.

Kejadian tersebut berkembang menjadi buah bibir dikalangan pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan akhirnya pemerintah Belanda meminta maaf atas penahanan tersebut, Habib Husein beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.

5. Si Sinyo menjadi Gubernur

Pada suatu hari Habib Husein dengan ditemani oleh seorang mualaf Tionghoa yang telah berubah nama Abdul Kadir duduk berteduh di daerah Gambir. Disaat mereka beristirahat lewatlah seorang Sinyo (anak Belanda) dan mendekat ke Habib Husein. Dengan seketika Habib Husein menghentakan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo kaget dan berlari ke arah pembantunya.

Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di negeri ini.

Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di negeri Belanda. Kemudian setelah lulus ia di percaya di angkat menjadi Gubernur Batavia.

6. Cara Berkirim Uang

Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husein bahwa kelak akan menjadi orang besar di negeri ini, ternyata memang benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Di wasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan diminta agar ia membalas budi dan jangan melupakan jasa Habib Husein.

Akhirnya Gubernur Batavia menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husein. Uang itu diterimanya, tetapi dibuangnya ke laut. Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husein selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya selalu di buang ke laut. Dijawabnya oleh Habib Husein bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunya ke Yaman.

Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam untuk mencari karung uang yang di buang ke laut, walhasil tak satu keeping uang pun diketemukan. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut, maka ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada ibu Habib Husein.

Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang di buang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

7. Kampung Luar Batang

Makam+Luar+Batang Al Habib Husein Bin Abubakar Alaydrus (Habib Keramat Luar Batang)Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husein. Jawabnya : “Saya tidak mengharapkan apapun dari tuan.” Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak, dihadiahkanlah sebidang tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir.

Habib Husein telah di panggil dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari kamis tanggal 17 Ramadhan 1169 atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing harus di kuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang.

Sebagai mana layaknya, jenasah Habib Husein di usung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan jenasa Habib Husein tidak ada dalam kurung batang. Anehnya jenasah Habib Husein kembali berada di tempat tinggal semula. Dalam bahasa lain jenasah Habib Husein keluar dari kurung batang, pengantar jenasah mencoba kembali mengusung jenasah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud, namun demikian jenasah Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.

Akhirnya para pengantar jenasah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenasa Habib Husein di tempat yang merupakan tempat rumah tinggalnya sendiri. Kemudian orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang” dan kini dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

Kamis, 15 Juli 2010

Al-Habib Ali bin Shalih Al-Attas (Pelantun Diba' dari Bekasi)

Dari sebuah toko kaset di Jalan Kartini, salah satu sudut kota Bekasi, terdengar lantunan Maulid yang mendayu berlanggam hadhrami, berirama khas Hadramaut. Syair tersebut, meski sangat populer, tak cukup akrab di telinga muhibin, yang lebih sering mendengar maulid Simthud Durar, yaitu Maulid Diba’. Sang pelantun seorang habib bersuara emas asal Bekasi yang sering kali melantunkannya tanpa sedikit pun membaca. Ratusan bait syair tentang sejarah kehidupan Rasulullah itu ia hafal di luar kepala. Tak tanggung-tanggung, empat buah album kaset maulid, ratib, dan selawat telah diluncurkannya sejak tahun 1993 lalu.
Figur kita, yang kerap tampak di perhelatan spiritual para habib, kali ini adalah Habib Ali bin Soleh Alatas, ulama yang kental berdialek Betawi, pengasuh Majelis Taklim Ar-Ridwan, Bekasi Kidul. Ihwal kepiawaian Habib Ali membaca maulid karya Syekh Abdurrahman Ad-Diba’i ini berasal dari sang kakek, Habib Muhammad bin Muhsin Alatas, generasi pertama habaib yang menjejakkan kaki di Bekasi, dan ayahnya, Habib Soleh bin Abdullah Alatas.
Sang ayah, Habib Soleh Alatas, adalah kemenakan sekaligus menantu Habib Muhammad bin Muhsin Alatas. Sebelum menetap di Bekasi, ia pernah merantau ke Jambi, dan sempat menikah dengan seorang gadis yang memberinya lima orang anak. Beberapa tahun kemudian, Habib Soleh kemudian menetap di Bekasi dan mendirikan majelis taklim Ar-Ridwan, yang diasuhnya hingga wafat pada malam Kamis, 10 Muharam, atau 23 Januari tahun 1975.
Di Bekasi, Habib Soleh menikah dengan putri pamannya, Habib Muhammad bin Muhsin Alatas, Syarifah Nur, yang kemudian memberinya tujuh orang putra-putri. Habib Ali sendiri lahir pada tahun 1950, putra sulung pasangan tersebut.
Dari sang mertua pula Habib Soleh pertama kali belajar melantunkan bait-bait maulid Ad-Diba’i, yang kemudian diturunkan kepada semua putra-putrinya. Meski kemudian hanya Habib Ali yang mewarisi kepiawaian sang ayahanda, menghafal dan melantunkan maulid Diba’.
Ketika Habib Soleh wafat pada 10 Muharam atau 23 Januari 1975, Habib Ali pun mulai sering diminta membaca maulid Diba’ di berbagai tempat. Ia juga melanjutkan kebiasaan sang Ayah, membaca maulid tersebut setiap malam Jumat di musala sebelah rumahnya. Dari seringnya membaca, Habib Ali pun akhirnya hafal di luar kepala.
Berbincang dengan ulama yang satu ini memang terasa segar. Derai tawa renyah sering mengiringi ungkapan-ungkapannya yang penuh hikmah. Di beranda rumahnya di Jalan Kartini/Mayor Oking, Bekasi Kidul, Habib Ali bertutur tentang perjalanan hidupnya.
Habib Ali bin Soleh Alatas mulai belajar agama kepada sang ayah, yang menurutnya sangat keras dalam mendidik. Selain itu, di waktu kecil, ia juga mengaji fikih kepada mualim Mu’thi dan belajar membaca Al-Quran kepada Ustaz Muhammad Ali, guru ngaji setempat. Ketika beranjak dewasa, secara intensif Habib Ali mengikuti pengajian Habib Abdurrahman Asegaf, Bukitduri.
Ayahnya, Habib Soleh, sangat menekankan pendidikan keluarga pada bidang akhlak dan moralitas. Menurut Habib Ali, abanya sering sekali mengatakan, “Orang berilmu belum tentu berakhlak, tetapi orang yang berakhlak sudah tentu berilmu. Biar ilmunya banyak kalau akhlaknya rendah, rendah derajatnya. Dan sebaliknya, biarpun sedikit ilmunya tetapi tinggi akhlaknya, tinggi pula derajatnya.”
Habib Ali kemudian mengutip perumpamaan orang yang berilmu tetapi tidak berakhlak, yang sering diucapkan sang aba waktu mengajarnya, “Kalau ente berjalan di tempat terbuka waktu hujan sambil membawa payung, kehujanan nggak? Ya tetep kehujanan, kecuali kalau payungnya dibuka dan dipakai.”
Akhlak, tandas Habib Ali, adalah wujud pengamalan ilmu, dan saat ini banyak orang yang ke mana-mana membawa ilmu tetapi tidak pernah memakainya. “Bukankah Rasulullah sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak umatnya?” ungkap Habib Ali. Orang yang belajar tetapi tanpa akhlak dan ihtiram, penghormatan terhadap ilmu, tidak akan mendapat berkah.
Dari perkawinannya dengan Syarifah Lu’lu binti Abdullah Alatas, Habib Ali dikaruniai tujuh orang anak. Beberapa tahun lalu hatinya sempat gundah, saat putra sulungnya, penghafal Diba’ yang diharapkan akan meneruskan jejaknya, meninggal. Ia baru lega, ketika mengetahui bahwa Abdullah, anak keempatnya yang baru pulang dari Hadramaut, ternyata juga sudah menguasai maulid Diba’ dan siap meneruskan jejaknya.
Dalam mendidik putra-putrinya, Habib Ali memang cukup demokrat. Ia tidak pernah memaksa anaknya untuk menjadi ini-itu. “Biar anak yang memilih jalannya sendiri, orangtua tinggal mendukung. Yang penting mereka tetap berada di jalan Allah,” tuturnya. Seyogianya orangtua, tambah Habib Ali, tidak mendidik anak agar takut kepada mereka, melainkan agar secara sadar dan ikhlas menghormati.
Mulai Rekaman
Tahun 1990, Habib Ali bin Soleh Alatas diminta oleh Radio Asyafi’iyyah, Jatiwaringin, untuk membacakan maulid Diba’ dan disyiarkan secara luas. Langgam, irama maulidnya, yang khas, segera menarik perhatian para pendengar. Sejak itu pula undangan membaca maulid Diba’ semakin membanjir. Bahkan pada tahun 1993, ia diminta rekaman oleh perusahaan Virgo Record.
Setelah album perdananya, berturut-turut permintaan rekaman berdatangan dari Naviri Record dan beberapa studio rekaman lain, untuk melantunkan ratib, Simthud Durar, dan terakhir kumpulan selawat yang diiringi organ tunggal. Sebagian album kaset tersebut hingga kini masih terpajang rapi di etalase toko minyak wangi dan peralatan muslim miliknya yang tak terlalu jauh dari rumah.
Dengan kepiawaiannya, banyak orang yang meminta Habib Ali mengajari pembacaan maulid Diba’ secara khusus. Namun, keterbatasan waktunya, yang padat dengan kegiatan mengajar dan berdakwah, membuat Habib Ali belum bisa memenuhi permintaan tersebut. Di luar aktivitas mengasuh majelis taklim peninggalan sang ayah, ia juga mengajar di beberapa majelis taklim di Pengasinan, Kemayoran, Cikuning, Pondok Kelapa, dan Jatimakmur, Bekasi. Ia, tuturnya merendah, ingin mengamalkan sedikit ilmunya, seraya berharap keberkahan.
Kanker Payudara
Kini, anggota jemaah pengajian Habib Ali mencapai seribuan orang, termasuk pengajian setiap malam Jumat di musala sebelah rumahnya. Ia mengaku materi pengajiannya sangat ringan dan mudah dicerna, karena kebanyakan tentang akhlak dan perilaku sehari-hari.
Materi yang paling sering diangkatnya adalah persoalan keluarga. Ini karena ia mulai sangat khawatir dengan kondisi anak-anak zaman sekarang. Misalnya motivasi sekolah yang lebih kepada nilai ijazah daripada pengamalan dan keberkahan ilmu.
Faktor terbesar yang menunjang proses demoralisasi ini, ungkap Habib Ali berapi-api, adalah keteledoran orangtua yang seharusnya menjadi murabbi, pendidik, bagi anak-anaknya. Kesalahan itu biasanya dimulai dari penyerahan pengasuhan anak kepada baby sitter atau orang lain, yang tentu tidak akan sebaik ibu kandungnya. Lalu ditambah dengan dirampasnya rezeki anak yang paling mendasar, yang telah diamanatkan Allah melalui orangtua, pemberian ASI.
Belakangan, karena alasan berkarier atau kesibukan, banyak orangtua yang tidak mau terlalu lama terbebani tugas menyusui. Ibu-ibu pun kemudian mempercepat penghentian pemberian ASI dan menggantinya dengan susu sapi. Padahal, menurut konsep Al-Quran, anak mempunyai hak disusui oleh ibunya selama dua tahun.
“Bukankah ini sebuah kezaliman orangtua terhadap anak?” tambah Habib Ali keras. “Maka jangan salahkan anak, jika setelah besar berbuat zalim kepada orangtuanya.” Akhirnya, ketika tidak menyukuri rezeki alami yang diberikan Allah, kaum perempuan pun mulai menuai peringatan dan azab, dengan datangnya berbagai macam penyakit, seperti kanker payudara.
Dakwah Bil Hal
Materi-materi sederhana memang selalu ditekankan Habib yang selalu berusaha memberikan contoh dalam kebaikan ini, setiap kali mengajar. “Justru karena sederhana, sering disepelekan,” ungkapnya. Habib yang masih tampak energik ini juga menambahkan, “Padahal konsep baldatun thayyibah wa rabbun ghafur, atau dalam bahasa kita disebut negara adil makmur sejahtera, itu dimulai dari keluarga yang saleh dan bahagia.”
Konsep ajaran Islam itu indah, dan penuh penghormatan. Anak harus menghormati orangtua, orangtua menyayangi yang lebih muda; antar-tetangga, meskipun bukan muslim tetap harus saling menghormati.
Kini di usianya yang telah melewati separuh abad, Habib Ali merasa bersyukur tinggal di tengah masyarakat yang rata-rata muhibin. Untuk itulah ia berusaha melayani mereka semampunya.
Para tetangga mengakui, Habib Ali sangat peduli dengan kondisi masyarakat sekitar. Ia sering kali menjadi pelopor dalam setiap kegiatan. Setiap kali ada tetangga yang meronda atau berjaga di sekitar rumahnya, dengan sigap Habib Ali selalu menyediakan konsumsi, bahkan terkadang ikut menemani.
Habib Ali menyadari, sebagian besar masyarakat sekitarnya adalah golongan ekonomi lemah. Karena itu pula, ia ingin selalu berbagi rezeki dengan mereka. Ia berprinsip, khairur rizqi ma yakfi, sebaik-baiknya rezeki adalah yang bisa mencukupi. Dan merasa cukup itu adalah kekayaan dan keberkahan terbesar manusia. AIS
(sumber : http://mbakdloh.wordpress.com)

Minggu, 11 Juli 2010

Gus Miek Bertemu KH. Mas’ud, Pagerwojo

Ketika Gus Miek masih berusia 9 tahun, Gus Miek sowan ke rumah Gus Ud (KH. Mas’ud) Pagerwojo, Sidoarjo. Gus Ud adalah seorang tokoh kharismatik yang diyakini sebagai seorang wali. Dia sering dikunjungi olah sejumlah ulama untuk meminta doanya. Di rumah Gus Ud inilah untuk pertama kalinya Gus Miek bertemu KH. Ahmad Siddiq, yang di kemudian hari menjadi orang kepercayaannya dan sekaligus besannya.
Saat itu, Kiai Ahmad Siddiq masih berusia 23 tahun, dan tengah menjadi sekretaris pribadi KH. Wahid Hasyim yang saat itu menjabat sebagai menteri agama. Sebagaimana para ulama yang berkunjung ke ndalem Gus ud, kedatangan Kiai Ahmad Siddiq ke ndalem Gus Ud jugauntuk mengharapkan doa dan dibacakan Al-fatehah untuk keselamatan dan kesuksesan hidupnya. Tetapi, Gus Ud menolak karena merasa ada yang lebih pantas membaca Al-Fatehan. Gus Ud kemudian menunjuk Gus Miek yang saat itu tengah berada di luar rumah. Gus Miek dengan terpaksa membacakan Al-Fatehah setelah diminta oleh Gus Ud.
KH. Ahmad Siddiq, sebelum dekat dengan Gus Miek, pernah menemui Gus Ud untuk bicara empat mata menanyakan tentang siapakah Gus Miek itu.
“Mbah, saya sowan karena ingin tahu Gus Miek itu siapa, kok banyak orang besar seperti KH. Hamid menghormatinya?” Tanya KH. Ahmad Siddiq.
“Di sekitar tahun 1950-an, kamu dating ke rumahku meminta doa. Aku menyuruh seorang bocah untuk mendoakan kamu. Itulah Gus Miek. Jadi, siapa saja, termasuk kamu, bias berkumpul dengan Gus Miek itu seperti mendpatkan Lailatul Qodar,” jawab Gus Ud.
Begitu GusUd selesai mengucapan kata Lailatul Qodar, Gus Miek tiba-tiba turun dari langit-langit kamar lalu duduk di antara keduanya. Sama sekali tidak terlihat bekas atap yang runtuh karena dilewati Gus Miek. Setelah mengucapkan salam, Gus Miek kembali menghilang.
Suatu hari, Gus Miek tiba di Jember bersama Syafi’I dan KH. Hamid Kajoran, mengendarai mobil Fiat 2300 milik Sekda Jember. Sehabis Ashar, Gus Miek mengajak pergi ke Sidoarjo. Rombongan bertambah Mulyadi dan Sunyoto. Tiba di Sidoarjo, Gus Miek mengajak istirahat di salah satu masjid. Gus Miek hanya duduk di tengah masjid, sementara KH. Hamid Kajoran dan Syafi’I tengah bersiap-siap menjalankan shalat jamak ta’khir (Magrib dan Isya).
Ketika Syafi’I iqomat, Gus Miek menyela, “Mbah, Mbah, shalanya nanti saja di Ampel.” KH. Hamid dan Syafi’i pun tidak berani melanjudkan.
Tiba-tiba, dri sebuah gang terlihat seorang anak laki-laki keluar, sedang berjalan perlahan. Gus Miek memanggilnya.
“Mas, beri tahu Mbah Ud, ada Gus Hamim dari kediri,” kata Gus Miek kepada anak itu.
Anak itu lalu pergi ke rumah Mbah Ud. Tidak beberapa lama, Mbah Ud dating dengan dipapah dua orang santri.
“Masya Allah, Gus Hamim, sini ini Kauman ya, Gus. Kaumnya orang-orang beriman ya, Gus. Ini masjid Kauman, Gus. Anda doakan saya selamat ya, Gus,” teriak Mbah Ud sambil terus berjalan kea rah Gus Miek.
Ketika sudah dekat, Gus Miek dan Mbah Ud terlihat saling berebut untuk lebih dulu menyalami dan mencium tangan. Kemudian Gus Miek mengajak semuanya ke ruamah Mbah Ud. Tiba di ruamh, Mbah Ud dan Gus Miek duduk bersila di atas kursi, kemudian dengan lantang keduanya menyanyikan shalawat dengan tabuhan tangan. Seperti orang kesurupan, keduanya terus bernyanyi dan memukul-mukul tangan  dan kaki sebagai musik iringan. Setelah puas, keduanya terdiam. “Silakan, Gus, berdoa,” kata Mbah Ud kepada Gus miek. Gus miek pun berdoa dan Mbah Ud mengamini sambil menangis.
Di sepanjang perjalanan menuju ruamah Syafi’I di Ampel, Sunyoto berbisik-bisik dengan Mulyadi. Keduanya penasaran dengan kejadian yang baru saja mereka alam. Karena Mbah Ud Pagerwojo terkenal sebagai wali dan khariqul ‘adah (di luar kebiasaan). Hampir semua orang di Jawa Timur segan terhadapnya. “Mas, misalnya ada seorang camat yang kedatangan tamu, lalu camat tersebut mengatakan silakan-silakan dengan penuh hormat, itu kalau menurut kepangkatan, bukankah tinggi pangkat tamunya?” Tanya Sunyoto kepada Mulyadi.
Mbah Ud adalah salah seorang tokoh di Jawa Timur yang sangat disegani dan dihormati Gus Miek selain KH. Hamid Pasuruan. Hampir pada setiap acara haulnya, Gus Miek selalu hadir sebagai wujud penghormatan kepada orang yang sangat dicintainya itu.
(Sumber : http://zidniagus.wordpress.com)

Habib Zein bin Ibrahim bin Smith

Habib Zain lahir di ibukota Jakarta pada 1357/1936. Ayahnya, Habib Ibrahim adalah ulama besar di bumi Betawi kala itu. Selain keluarga, lingkungan tempat di mana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius.

Guru-gurunya ialah Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz, Habib Umar bin Alwi al-Kaf, al-Allamah al-Sheikh Mahfuz bin Salim, Sheikh Salim Said Bukayyir Bagistan, Habib Salim bin Alwi al-Khird, Habib Ja’far bin Ahmad al-Aydrus, Habib Muhammad al-Haddar (mertuanya) dan ramai lagi.
Selanjutnya, pada usia empat belas tahun (1950), ayahnya memberangkatkan
Zain ke Hadramaut, tepatnya kota Tarim. Di bumi awliya’ itu Zain tinggal
di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan.


Menyadari mahalnya waktu untuk disia-siakan, Zain berguru kepada
sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah
lainnya, hingga pada akhirnya mengkhususkan belajar di ribath Tarim.
Di pesantren ini nampaknya Zain merasa cocok dengan keinginannya. Di
sana ia memperdalam ilmu agama, antara lain mengaji kitab ringkasan
(mukhtashar) dalam bidang fikih kepada Habib Muhammad bin Salim bin
Hafidz. Di bawah asuhan Habib Muhammad pula, Zain berhasil menghapalkan
kitab fikih buah karya Imam Ibn Ruslan, “Zubad”, dan “Al-Irsyad” karya
Asy-Syarraf Ibn al-Muqri.
Tak cukup di situ, Zain belajar kitab “Al-Minhaj” yang disusun oleh
Habib Muhammad sendiri, menghapal bait-bait (nazham) “Hadiyyah
as-Shadiq” karya Habib Abdullah bin Husain bin Thahir dan lainnya.
Dalam penyampaiannya, di Tarim beliau sempat berguru kepada sejumlah
ulama besar. Seperti Habib Umar bin Alwi al-Kaf, Syekh Salim Sa’id
Bukhayyir Bagitsan, Habib Salim bin Alwi al-Khird, Syekh Fadhl bin
Muhammad Bafadhl, Habib Abdurrahman bin Hamid as-Sirri, Habib Ja’far bin
Ahmad al-Aydrus, Habib Ibrahim bin Umar bin Agil dan Habib Abubakar
al-Atthas bin Abdullah al-Habsyi.
Selain menimba ilmu, di sana Habib Zain banyak mendatangi majlis para
ulama demi mendapat ijazah, semisal Habib Muhammad bin Hadi as-Seggaf,
Habib Ahmad bin Musa al-Habsyi, Habib Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki,
Habib Umar bin Ahmad bin Sumaith, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha
al-Haddad, Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Seggaf dan Habib Muhammad bin
Ahmad as-Syatiri.
Demikianlah. Melihat begitu banyaknya ulama yang didatangi, dapat
disimpulkan, betapa besar semangat Zain dalam rangka merengkuh ilmu
pengetahuan agama, apalagi melihat lama waktu beliau tinggal di sana,
yaitu kurang lebih delapan tahun.
Dirasa ilmu yang didapatkan cukup, salah seorang gurunya bernama Habib
Muhammad bin Salim bin Hafidz menyarankannya pindah ke kota Baidhah,
salah satu wilayah pelosok bagian negeri Yaman, utuk mengajar di ribath
di sana sekaligus berdakwah. Ini dilakukan menyusul permohonan mufti
Baidhah, Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar.
Dalam perjalanan ke sana, Habib Zain singgah dulu di kediaman seorang
teman dekatnya di wilayah Aden, Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri,
yang saat itu menjadi khatib dan imam di daerah Khaur Maksar. Di sana
Zain tinggal beberapa saat.
Selanjutnya, Habib Zain melanjutkan perjalanannya. Maka dapat ditebak,
sesampai di Baidhah, Habib Zain pun mendapat sambutan hangat dari sang
tuan rumah, Habib Muhammad al-Haddar. Di sanalah untuk pertama kali ia
mengamalkan ilmunya lewat mengajar.

Habib Zain menetap lebih dari 20 tahun di Rubath Baidha’ menjadi khadam ilmu kepada para penuntutnya. Beliau juga menjadi mufti dalam Mazhab Syafi’e. Setelah itu beliau berpindah ke negeri Hijaz.

Selama 12 tahun Habib Zain telah bersama-sama dengan Habib Salim al-Syatiri menguruskan Rubath di Madinah. Setelah itu Habib Salim telah berpindah ke Tarim, Hadhramaut untuk menguruskan Rubath Tarim.

Habib Zain di Madinah diterima ramai. Keterampilan dan wibawanya terserlah. Muridnya banyak dan terus bertambah. Dalam kesibukan mengajar dan usianya yang juga semakin meningkat, keinginan untuk terus menuntut ilmu tidak pernah pudar.

Beliau mendalami ilmu Usul daripada Sheikh Zaydan al-Syanqiti al-Maliki. Habib Zain terus menyibukkan diri menuntut dengan Al-Allamah Ahmaddu bin Muhammad Hamid al-Hasani al-Syanqiti dalam ilmu bahasa dan Usuluddin.

Habib Zain seorang yang tinggi kurus. Lidahnya basah, tidak henti berzikrullah. Beliau sentiasa menghidupkan malamnya. Di waktu pagi Habib Zain keluar bersolat Subuh di Masjid Nabawi. Beliau beriktikaf di Masjid Nabawi sehingga matahari terbit, setelah itu beliau menuju ke Rubath untuk mengajar. Majlis Rauhah setelah asar sehingga maghrib.

Kamis, 01 Juli 2010

Al - Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf


Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Imam Wadi al-Ahkaf al-Habib Umar bin Saggaf Assegaf lahir di kota Besuki, Jawa timur, pada tanggal 16 dzul-Hijjah 1285 H. beliau kemudian dibawa ayahnya pindah ke Gresik.

Rabu, 30 Juni 2010

KH. Abdul Ghofur Maimoen (Kader NU Mesir Raih Gelar Doktor Tafsir dari Univ. Al-Azhar)


Gus Ghofur, demikian Putra kelima KH. Maimoen Zubair dari istri kedua, Ibu Nyai HJ Masthi'ah, biasa dipanggil. Pemilik nama lengkap Abdul Ghofur ini dikenal bandel semasa kecilnya. Tidak seperti kakak-kakaknya, Ghofur kecil terhitung sering bermain seperti layaknya anak-anak di kampung nelayan. Namun, sebagai putra Ulama, sifat sifat kesalehan yang ditanamkan orang tuanya, membuat ia berbeda dari anak kampung sebayanya.
Pendidikan dasar hingga menengah dituntaskannya di Madrasah Ghazaliyah Syafi'iyyah Sarang Rembang. Semasa belajar di Ghozaliyah, putra Mbah Moen yang sudah dikenal cerdas dan kritis sejak belia ini banyak meraih prestasi. Bintang Kelas dan Rais kelas, sebuah jabatan prestisius di lingkungan pesantren Sarang, hampir tidak pernah luput dari genggamannya.
Tidak hanya urusan pelajaran, di bidang organisasi pun prestasinya cukup mengkilap. Selama dua periode berturut-turut Ghofur remaja dipercaya sebagai ketua Demu MGS (OSIS-nya MGS).
Seabrek prestasi ditambah kedudukannya sebagai putra Ulama, tidak membuatnya angkuh, sombong dan dumeh (mentang-mentang). Memang demikianlah putra-putri Mbah Moen dididik. Untuk ukuran agagis dengan santri ribuan, putra-putri Mbah Moen realtif dapat bersikap egaliter.
Usai menyelesaikan pendidikan di MGS tahun 1992, Gus Ghofur sempat membantu Abahnya mengajar di pondok dan mengomandai keamanan Pusat. Pada 1993 beliau melanjutkan studinya di Al-Azhar University Cairo. Ini merupakan hal baru dalam tradisi pendidikan putra-putri Mbah Moen.
Di Cairo kecerdasannya kembali menorehkan prestai mengkilap. Selama empat tahun menyelesaikan program S1 Usuhuludin jurusan Tafsir di Al-Azhar, semua ujian dilaluinya dengan nilai Jayiid Jiddan, sebuah prestai langka di kalangan mahasiswa Indonesia di Cairo. Materi Program S2 di jurusan yang sama selama dua tahun juga dilahap dengan hasil akhir Jayyid Jiddan.
Keberhasilan itu tidak lepas dari ketekunan dan kesabaran yang "tiba tiba" menjadi kebiasaan beliau selama belajar di Cairo. Ketika di MGS Sarang, beliau tidak termasuk orang yang rajin. Tetapi sejak di Cairo beliau bisa dan biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memelototi kitab. Dan ketika ketekunan dan kesabaran itu dipadu dengan karunia Allah, kecerdasan, maka prestai akademik adalah sesuatu yang niscaya terjadi.

Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, pada 2002 gelar Magister berhasil diraihnya. Dikatakan melelahkan karena untuk mencapi gelar itu Gus Ghofur harus menulis tesis setebal 700 halaman dan harus mencantumkan banyak maraji'. Padahal tradisi menulis baru ia tekuni sejak tahun keempatnya di Cairo. Orang yang mengenal Ghofur kecil dan tidak mengikuti perkembangannya di Cairo pasti terheran-heran ketika googling "Abdul Ghofur Maimoen" di internet. Sebab hasil googling itu akan menampilkan berbagai tulisan beliau yang pernah di muat di dunia maya. Ya, dari Abdul Ghofur yang gagap tulis menjadi Abdul Ghofur yang produktif menulis.
Gus Ghofur mengakhiri masa lajangnya pada tahun 2003. Gadis yang beruntung dipersuntingnya adalah Nadia, putri KH Jirijis bin Ali Ma'shum Karpyak Yogyakarta. Dari perkawinannya beliau telah dikaruniai seorang putra bernama Nabil.
dan sekarang Salah satu kader terbaik Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir itu kembali telah mengharumkan nama baik Indonesia dan menambah deretan peraih gelar Doktor di bidang ilmu tafsir.

Ia lulus setelah dapat mempertahankan dari desertasinya yang berjudul Hasyiah Al-Syekh Zakaria Al-Anshary Ala Tafsir Al-Baidhawy, Min Awwal Surah Yusuf Ila Akhir Surah l-Sajdah dengan hasil yang mumtaz ma'a martabati syarafil ula (summa cumlaude) dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Yang menarik adalah prakata dan kutipan akhir sebelum pengukuhan gelar dari para guru besar dan tim penguji terhadap desertasi putra kiai kharismatik asal Sarang, Jawa Tengah, KH Maemun Zubair ini adalah "Syarah dan komentar yang ditulis Syeikh Abdul Ghofur ini lebih baik dari yang di tulis Syeikhul Islam, Syekh Zakaria al-Anshori".

Sementara Rais Syuriyah PCNU Mesir Dr Fadlolan Musyaffa berkomentar "Ini sungguh luar biasa. Andai ada nilai di atas summa cumlaude, mungkin akan dianugerahkan pada sidang disertasi Gus Ghofur. Sayang, hasil itu sudah mentok paling atas," terangnya seusai acara.

Desertasi setebal 1700 halaman dan terbagi menjadi 2 jilid ini disidangkan pada hari Sabtu (12/6) di Auditorium Abdul Halim Mahmud, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar.

Sebagai tim pengujinya adalah Prof Dr Muhammad Hasan Sabatan, guru besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fakultas Ushuluddin Kairo (penguji dari dalam), Prof Dr Ali Hasan Muhammad Sulaiman, guru besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fakultas Dirasat Islamiyyah Banin Kairo (Penguji dari Luar) dan dua pembimbing Prof Dr Sayid Mursi Ibrahim Al-Bayumi, Guru Besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fak.Ushuluddin Kairo dan Prof Dr Abdurrahman Muhammad Aly Uways, guru besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fak. Ushuluddin Kairo.

Selain itu juga, sidang yang dimulai pukul 14.00 waktu setempat dihadiri sekitar seratusan lebih mahasiswa/i dan simpatisan baik warga Indonesia maupun Mesir.

(Sumber:www.ppalanwar.com dan NUOnline.com)

KH. Maimun Zubair (Matahari Dari Sarang)

Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah, dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.
Dalam forum seperti itu, Pondok Pesantren Al-Anwar (di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah) sangat disegani. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah K.H. Maimoen Zoebair.
Meski sudah sangat sepuh, 78 tahun, alumnus Ma’had Syaikh Yasin Al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da subuh dan ashar, Mbah Maimoen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.
Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.
Ia memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren, dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah, dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.
Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU dan PPP, yang sowan minta fatwa politik, nasihat, atau sekadar silaturahmi. Ia memang salah seorang sesepuh warga nahdliyin yang bernaung di bawah partai berlambang Ka’bah itu.
Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa di antara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti K.H. Habib Abdullah Zaki bin Syaikh Al-Kaff (Bandung), K.H. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), K.H. Hafidz (Mojokerto), K.H. Hamzah Ibrahim, K.H. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), K.H. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), dan masih banyak lagi.

Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.
Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.
Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.
Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.
Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara' yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa'id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.
Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, Beliau sudah hafal diluar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi'I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.
Pada tahun kemerdekaan, Beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi.
Di pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.
Tanpa kenal batas, Beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu'aib.
Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain Sayyid 'Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani dan masih banyak lagi.
Dua tahun lebih Beliau menetap di Makkah Al- Mukarromah. Sekembalinya dari Tanah suci, Beliau masih melanjutkan semangatnya untuk "ngangsu kaweruh" yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, Belaiau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama' besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidlowi (mertua beliau), serta KH. Ma'shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma'shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori.
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.
Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jawharut Tauhid, Ba’dul ‘Amali, Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah, Syarah ‘Imriti. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren Al-Anwar.
Keharuman nama dan kebesaran Beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil "jadi orang" karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren Beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang Belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa Beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau.
Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi Beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Amin.
(Sumber: http://www.ppalanwar.com,http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/kh-maimoen-zubair.html)

Sabtu, 26 Juni 2010

KH. Turaihan Adjhuri Es Syarofi (Guru para Ahli Falak Indonesia)

I. Nama, Nasab dan Kelahirannya
Diantara ulama besar kota Kudus yang kharismatik dan terkenal pada akhir abad 20 adalah Al Maghfurlah KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Mbah Tur yang masih dianggap tedak turun Syaikh Ja`far Shadiq atau Sunan Kudus.
KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi dikenal sebagai pakar ilmu Falak atau Astronomi. Selain itu juga dikenal sebagai tokoh yang terkenal keteguhannya memegang prinsip dan akidah. Pendapat-pendapatnya dalam masalah fiqih juga sering mengejutkan kalangan ulama. Beliau lahir di Kuduspada tanggal 22 Rabiul Akhir 1334 H atau 10 Maret 1915 M. Ayah beliau bernama KH. Adjhuri sedangkan ibu beliau bernama Nyai Dewi Sukainah.

II. Masa Pertumbuhan dan Dewasa
KH. Turaikhan Adjhuri pada masa kanak-kanaknya tumbuh dan berkembang seperti anak-anak pada umumnya. Turaikhan kecil hidup dalam lingkungan keluarga yang cinta agama dan ilmu pengetahuan. Sejak kecil sudah tampak kecintaannya pada ilmu agama. Waktunya banyak dihabiskan untuk belajar, mengaji dan muthalaah kitab. Beliau terkenal dengan anak yang cerdas, tegas dan teliti. Inilah ciri khas beliau yang dimiliki sejak kecil dan melekat sampai dewasa.

Saat kanak-kanak, Turaikhan kecil tidak begitu suka pada olah raga fisik. Namun ada satu jenis permainan olah otak dan pikiran yang sangat beliau gemari yaitu catur. Beliau terkenal sangat pandai dalam bermain catur. Bahkan di masa kolonial Belanda beliau pernah diberi penghargaan karena kepiawaiannya dalam bermain catur.

Selain gemar bermain catur, sejak kecil beliau sudah menyukai seni bermain rebana. Kegemarannya bermain rebana ini terus berlanjut sampai beliau dewasa dan menjadi ulama besar. Maka ketika Madrasah TBS, tempat beliau mengajar, membuat Group Rebana beliau sangat mendukungnya. Bahkan akhirnya Group Rabana TBS ini pernah menjuarai lomba rebana IPNU-IPPNU Kota Kudus.

Dan tidak seperti ulama besar pada umumnya, KH. Turaikhan tidak pernah secara resmi menjadi santri di pesantren manapun. Hanya saja beliau memang hidup di kota santri Kudus dan dilingkungan pesantren. Beliau memanfaatkan pengajian-pengajian yang digelar ulama kota Kudus. Bagi beliau belajar pada ulama di maa saja itu sama. Yang paling penting adalah keikhlasan niat dan kesungguhan belajarnya. Dalam lingkup formal, beliau belajar di Madrasah Tasywiquth Thulab As Salafiyah atau disingkat TBS, di Kudus. Tepatnya sejak mulai berdirinya Madrasah TBS tahun 1928. Di madrasah TBS ini, beliau mendapat kesempatan belajar ilmu alat pada KH. Abdullah Aljufri, ilmu fiqih pada KH Muhit, ilmu falak pada KH. Abdul Jalil Hamid dan ilmu pengetahuan dan agama yang lainnya dari para kyai yang mengajar di TBS pada waktu itu.

Selain belajar di Madrasah TBS, di luar jam madrasah beliau juga belajar pada ulama terkemuka Kudus pada zamannya, semisal. KH. R. Asnawi, K. Maksum bin Ali Kuaron dari Jombang yang merupakan menantu dari KH. Hasyim Asy`ari, K. Fauzan, K. Ma`sum, ayah Kyai Fauzan, Kyai Muslim yang merupakan kakak dari Kyai Amin Said dan masih banyak lagi.

Bagitu selesai belajar di TSB beliau langsung mengabdikan diri secara total dengan ikut serta mengajar di almamaternya. Selain itu juga membuka pengajian kitab kuning di rumahnya. Pada tahun 1942, ketika KH. Turaihan tepat berumur 27 tahun ia membangun rumah tangga dan menyunting seorang gadis shalehah bernama Masni`ah binti Marwan untuk dijadikan pendamping hidupnya. Dari pernikahannya dengan Nyai Masni`ah beliau dikaruniai 10 orang putera puteri. Namun kini yang tinggal hanya 4 orang (2 putra dan 2 puteri) yaitu KH. Choirozad yang sekarang mengajar di Madrasah TBS Kudus. Anak beliau yang kedua dan ketiga adalah perempuan yang bernama Fihris dan Naila. Putra beliau yang terakhir bernama Drs. Sirril Wafa, MA yang sekarang menjadi dosen di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Pada tahun 1969 untuk pertama kalinya beliau berangkat ibadah haji untuk pertama kalinya. Dan pada tahun 1992 beliau kembali berangkat haji ke tanah suci bersama puteranya yang bernama KH. Choirozad dan ulama Kudus lainnya.

III. Aktifitas Keumatan dan Perjuangan Mbah Tur
Dalam dunia pendidikan dedikasi Mbah Tur yang dipersembahkan untuk generasi penerus bangsa dan agama sangatlah besar. Kapasitas keilmuannya juga sulit dicari padanan dan gantinya. Pasalnya ketika beliau berumur 14 tahun beliau sudah mampu mengajar di Madrasah TBS Kudus. Khususnya dalam bidang ilmu Falak dan Faraidh, sampai sekarang banyak kalangan ulama di Kudus yang merasakan belum menemukan pengganti beliau.

Selain mengajar di madrasah TBS, beliau juga membuka pengajian kitab kuning di rumahnya. Sehari-harinya beliau juga sibuk memberikan pengajaran dan pengajian di masjid dan majlis-majlis pengajian di kota Kudus dan sekitarnya. Dalam bulan-bulan tertentu, misalnya Sya`ban dan Ramadan beliau mengajar kitab-kitab khusus. Misalnya pada bulan Sya`ban, beliau mengajar kitab-kitab yang beliau ajarkan di Madrasah TBS tapi belum khatam. Biasanya untuk kesempatan ini banyak santri-santri TBS mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Mereka datang berduyun-duyun untuk mengaji di kediaman beliau demi mengkhatamkan sebuah kitab. Bagi santri mengkhatamkan sebuah kitab langsung dibawah asuhan seorang ulama besar adalah suatu kebahagiaan dan keberuntungan yang tiada taranya. Lain halnya di bulan Ramadhan, beliau mengajarkan kitab-kitab tertentu seperti kitab Adzkiya, Isyadul Ibad, dan Hikam yang digunakan sebagai aurod atau wirid tetap pada bulan Ramadhan. Namun pada tahun-tahun beliau menginjak usia senja dan menjelang wafat, beliau selalu mengajarkan kitab-kitab tentang akidah atau teologi mulai dari yang kecil seperti Tuhfah al Murid sampai yang besar seperti Dasuqi.

Tak hanya dalam dunia pendidikan, KH. Turaihan atau Mbah Tur pun ikut aktif dan andil bagian dalam organisasi kemasyarakatan maupun politik. Untuk memperlancar manuver dakwahnya dalam jangkauan yang lebih luas beliau aktif sebagai pengurus di NU Kudus. Beliau bahkan pernah ditunjuk sebagai musytasyar dalam muktamar NU. Juga pernah sebagai anggota Tim Lajnah Falakiyah NU. Pernah ditunjuk sebagai panitia Ad Hoc PBNU Pusat dan juga pernah menjabat Rais Syuriah NU Cabang Kudus. Partisipasi Mbah Tur dalam Muktamar NU merupakan suatu keistimewaa tersendiri bagi ulama yang terkenal dengan teguhnya memegang prinsip dan pendapat ini. Pada saat beliau yang baru berumur 15 tahun sudah ikut andil dalam berbagai Muktamar yang digelar oleh Jam`iyyah NU, yang keikutsertaanya bukan sebagai partisipan pasif tapi sebagai seorang musyawir aktif. Dalam usia beliau beliau telah ikut memberikan pendapat dalam pelbagai forum bahtsul masail yang digelar dalam muktamar. Seringkali pendapat beliau bergesekan dengan ulama yang yang lebih tua dari beliau.

Selain pengabdian beliau pada NU, beliau juga ikut menyumbangkan pikiran, tenaga dengan ditunjuknya beliau sebagai hakim agama di Kudus. Beliau juga pernah ditunjuk sebagai tim rukyah dan hisab oleh Depag. Juga pernah berkiprah dalam dunia politik sekitar tahun 1955. Karir politik tertinggi yang pernah beliau capai adalah terpilihnya beliau anggota konstituante mewakili NU yang kala itu menjadi parpol.

IV. Pemikiran dan Karyanya
Dalam hal karya, sumbangan beliau yang paling besar bagi ummat adalah penerbitan Almanak Menara Kudus setiap tahunnya sampai beliau wafat. Almanak Menara Kudus ini adalah trade mark beliau dan mendapat kepercayaan dari masyarakat luas di penjuru pulau Jawa. Kepercayaan ini tak lepas dari kepakaran beliau dalam ilmu Falak atau ilmu Astronomi yang telah terbukti pada ketepatan hisab beliau. Misalnya mengenai hisab prediksi akan terjadinya gerhana bulan pada hari ini jam ini menit ini detik ini dan akan terjadi selama sekian lama, ternyata terbukti nyata. Bahkan sebelum wafat, beliau telah membuat almanak dua ratus tahun ke depan atau dua abad. Sehingga setelah beliau wafat almanak yang beliau buat terus diterbitkan setiap tahunnya oleh Penerbit Manara Kudus. Beliau juga telah membimbing muridnya untuk membuat Hisab Urfi Hijriyah dari tahun 0 sampai tahun 4329 H, yang berarti telah membuat hisab urfi untuk dua ribu lima ratus tahun ke depan.

Jika berbicara masalah ilmu Falak di Indonesia tidak bisa meninggalkan nama KH. Turaihan. Namanya bahkan sering ditulis oleh media massa baik lokal maupun nasional tatkala ada perbedaan penentuan hari raya antara pemerintah dan tim lajnah Falak NU yang beliau pimpin. Beliau bahkan pernah dipanggil oleh Kodim berkaitan dengan pendapat beliau yang berbeda dengan pemerintah mengenai jatuhnya hari raya Idul Fitri.

Dalam bentuk karya tertulis yang diterbitkan karya KH. Turaihan hanyakan sebuah “Jadwal Faraid” dan almanak yang setiap tahun diterbitkan oleh menara Kudus. Jadwal Faraid karya Mbah Tur ini menurut banyak kalangaan memiliki kelebihan dalam kepraktisan dan kemudahan penggunaannya.

Untuk ilmu Falak, KH. Turaihan tidak menuangkan buah pikirannya dalam bentuk buku. Namun di tangan beliau telah lahir ilmuan ahli Falak yang sangat mumpuni seperti Kyai Abu Saiful Mujab Nur Ahmad Ibn Shadiq Ibn Siryani, Ahmad Rofiq Chadziq, Sirril Wafa dan lain sebagainya.

Pada tahun 1985, KH. Turaihan mendorong salah seorang muridnya yang ikut mengajar di Madrasah TBS yaitu Kyai Abu Saiful Mujab Nur Ahmad Ibn Shadiq Ibn Siryani untuk mengkodifikasikan semua ilmu Falak yang telah beliau ajarkan kepadanya dalam bentuk sebuah karya yang sesuai dengan perkembangan zaman modern. Akhirnya pada tahun 1986, lewat tangan muridnya itu terbitlah buku-buku diktat pengajaran ilmu Falak yang merupakan buah ilmu yang telah diajarkan oleh KH. Turaihan. Buku diktat itu langsung dilihat dan diperiksa oleh KH. Turaihan setelah sebelumnya terlebih dahulu di periksa dan ditashhih oleh Ustadz Ahmad Rofiq yang juga murid KH. Turaihan. Melihat terbitnya buku-buku itu, KH. Turaihan merasa lega dan ia merasa tidak perlu lagi menulis karya dalam ilmu Falak, sebab tulisan muridnya yang merangkum semua yang telah dia ajarkan sudah dirasa cukup.

Di kalangan ulama dan warga Nahdhatul Ulama, KH. Turaihan tidak hanya dikenal kepakarannya dalam ilmu Falak dan Faraidh saja, namun juga dikenal sebagai ahli fiqih yang pendapatnya sering membuat kaget banyak orang. Dan dalam akidah atau keyakinan, beliau adalah sosok yang memiliki keteguhan memegang prinsip dan keyakinan yang telah ia imani kebenarannya.

Dalam majlis Bahtsul Masail yang digelar pada Muktamar NU Ke-26 pada tanggal 5 – 11 Juni 1979 di Semarang, KH. Turaihan mengutarakan pendapat yang cukup mengejutkan. Karena pendapat itu berseberangan dengan mayoritas ulama dan terutama berseberangan dengan pendapat KH. Bisri Samsuri, Rois `Am PBNU kala itu.

Masalah yang dijadikan musyawarah dalam majlis itu adalah, “Apakah Al Quran boleh ditulis atau dicetak dengan huruf latin (selain huruf Arab rasm Utsmani) atau dengan tanda baca lain selain huruf brail? Dan apakah sama hukumnya dengan mushaf?”

Dalam musyawarah itu, KH. Turaihan berpendapat boleh saja Al Quran ditulis atau dicetak dengan huruf latin (selain huruf Arab rasm Utsmani). Hanya saja beliau mensyaratkan saat membacanya harus tetap memakai kaidah tajwid yang benar. KH. Turaihan dalam melontarkan pendapat ini dengan tujuan untuk memudahkan orang yang tidak bisa membaca huruf Arab agar bisa dan berkesempatan membaca Al Quran. KH. Turaihan mendasarkan pendapatnya pada pendapat Imam Romli sebagaimana tertera dalam kitab Hasyiah al Tuhfah juz I hal 154, kitab Al Bijaerami `ala al Iqna` juz I halaman 304, Hasyiyah al Qalyubi juz I halaman 36, dan Hasyiyah al Jamal `ala al Minhaj juz I hal 76.

Pendapat ini tentu saja membuat kaget para ulama peserta musyawarah yang hadir. Tak ayal lagi, musyawarah itu memanas dan mayoritas ulama yang ada menentang pendapat KH. Turaihan itu temasuk KH. Bisri Samsuri. Mereka berpegangan pada fatwa Imam Ibnu Hajar yang mengharamkan penulisan Al Quran dengan selain huruf Arab sebagai mana tertera dalam kitab I`anatu al Thalibin juz I hal 67 dan 68.

Akhirnya majlis sepakat untuk memutuskan maslaah ini sebagai berikut :
a. Menulis Al Quran dengan tulisan selain huruf Arab termasuk tulisan latin sudah sepakat antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli tentang haramnya apabila merubah bunyi dan tulisan Al Quran. Bahwa menulis Al Quran dengan huruf latin ada manfaatnya terutama bagi orang yang buta huruf Arab. Tetapi bahayanya lebih banyak, antara lain akan mengurangi perhatian terhadap belajar membaca dan menulis huruf Arab. Juga, huruf latin tidak mencukupi bunyi-bunyi huruf Arab. Apabila Al Quran ditulis dengan huruf latin, maka bunyinya tidak akan sama dengan bunyi Al Quran yang berbahasa Arab itu dan akan merubah bunyi Al Quran dan tulisannya. Sedangkan merubah Al Quran itu dilarang (haram).
 
b. Apabila tidak merubah, maka menurut Imam Ibnu Hajar hukumnya tetap haram. Sedang menurut Imam Ramli hukumnya boleh. Pendapat Imam Ibnu Hajar inilah yang lebih mu`tamad (lebih kuat dan bisa dibuat pegangan).

Selanjutnya menurut pendapat Rais `Am PBNU, KH. Bisri Sansuri mengenai ketengan dalam kitab Hasyiyah al Qalyubi juz I halaman 36 atau sesamanya adalah sebagai berikut:

“Selanjutnya apabila menulis Al Quran dengan tulisan bukan tulisan Arab dianggap boleh, maka hukumnya sama dengan mushaf di dalam hal menyentuh dan membawa, dan sebaliknya. Dan berkenaan dengan penulisan Al Quran dengan huruf brail bagi orang buta, hukumnya boleh karena hajat. Dan mengenai penulisan Al Quran dengan huruf Arab bukan rasm Utsmani terdapat tiga pendapat. Dan yang kuat adalah pendapat Imam Malik serta Imam Ahmad, yaitu tidak boleh, sebagaimana keterangan yang ada dalam kitab I`anatu al Thalibin Juz I halaman 168” (Masykuri, 1996).

Dalam sebuah munazharah di masjid Menara Kudus, KH. Turaihan juga pernah mengeluarkan pendapat menentang arus dalam masalah wajib tidaknya membayar pajak. Menurutnya, membayar pajak tidak wajib zhahiran wa bathinan (baik secara lahir maupun batin), yang wajib adalah membayar zakat. Dalam masalah membayar pajak ini, di kalangan ulama Kudus memang ada tiga pendapat yaitu;

Pertama, wajib baik secara lahirnya maupun batin. Kedua, wajib secara lahir tetapi secara batin tidak wajib. Dan yang ketiga adalah tidak wajib baik secara lahir maupun batin. Adapun membayar zakat adalah termasuk hal yang ma`lum min al din bi dharurah akan kewajibannya jika telah sampai pada syarat-syaratnya (Awali, 2003).

Yang paling menyentak masyarakat kota Kudus adalah tatkala NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. Dengan terang-terangan KH. Turaihan tidak setuju NU berubah asas. Sebagai organisasi massa umat Islam maka asasnya harus tetap Islam dan dasar pijakannya harus istiqamah Al Quran dan Al Sunnah. Beliau menentang keras asas tunggal ini. Bahkan secara terbuka, demi mempertahankan prinsip dan keyakinan yang beliau anggap benar ini, beliau bersedia dan tidak merasa menyesal seandainya dikeluarkan dari NU. Keteguhan memegang prinsip ini sampai sekarang masih terus dikenang dan dijadikan semacam keteladanan oleh masyarakat santri kota Kudus.

V.Hari Wafat dan Wasiatnya
Pada malam Sabtu, 9 Jumadil Awal 1420 Hijriyah bertepatan 20 Agustus 1999 Miladiyyah pakar ilmu Falak di Jawa Tengah ini menghadap Allah SWT dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di Kudus. Karya, pemikiran dan perjuangannya telah dirasakan oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya, bahkan oleh masyarakat Indonesia secara lebih luas. Beliau wafat dengan meninggalkan pesan yang sampai sekarang masih diingat oleh banyak orang. Pesannya pada keluarga, santri dan umat Islam secara umum adalah :

1.  Segala langkah, prilaku dan perbuatan hendaklah ditimbang dengan timbangan syariah. Sesuai dengan syariat apa tidak? Melanggar syariat apa tidak?
2.  Di akhir zaman ini janganlah mudah heran, takjub dan terlena pada hal-hal yang baru. Bisa jadi hal yang baru itu ternyata merusak agama dan keimanan. Dalam bahasa Jawa beliau mengatakan dengan singkat, “Ojo gumunan ojo gampang kepencut.”
3.  Beliau berpesan dengan syair yang ditulis Imam Fudhail Ibn Iyad; “Alaika bi thariqil huda, Wala yadhurruka qillatus salikin Wa iyyaka wa turuwur rada, wala taghtar bikatsratil halikin Wazinu bil qistasil mustaqim. Dzalika khairun wa ahsanu ta`wila”, “Tetaplah pada jalur yang benar, sedikit orang yang menjalaninya tidak mengapa. Awas dan hindarilah jalan kerusakan, jangan terbujuk mesti banyak yang terjerumus ke dalamnya. Timbanglah dengan timbangan yang lurus itu lebih baik." (dari berbagai sumber)

Habib Ali bin Ja'far Alaydrus, Batu Pahat-Malaysia

Teladan dalam Kezuhudan
Belum hilang rasa sedih di hati atas wafatnya Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah, tersiarlah berita duka dari negeri jiran Malaysia. Kamis, 13 Mei 2010/28 Jumadil Ula 1431 H, sore menjelang maghrib, atau tepat 40 hari setelah Habib Abdul Qadir wafat, satu lagi pilar Bani Alawi, Habib Ali bin Ja'far bin Ahmad Alaydrus, atau yang sering disebut 'Habib Ali Batu Pahat', pergi menuju haribaan mulia Sang Pencipta.

Umat Islam kembali ditinggalkan seorang kekasih Allah yang mengajarkan kepada siapa pun bahwa di zaman yang sudah amat maju ini orang masih bisa hidup zuhud dan tawadhu. Dalam kesederhanaannya, ia mengarungi hidup dengan tegar.
Banyak di antara pecintanya ingin membangunkan rumah mewah sebagai kediaman yang layak bagi orang sebesar dirinya. Namun semuanya ia tolak secara halus. Demikianlah, setiap harinya dia mandi dan mengambil wudhu di kamar mandi yang bersatu dengan sumur tua dalam bangunan yang sangat sederhana.

Tanda keutamaan dalam dirinya sangat jelas. la adalah orang yang ketika wajahnya dipandang, dapat mengingatkan hati yang memandangnya kepada Allah SWT. Akhlaqnya amat luhur dan mulia, sebagai bias dari akhlaq datuknya, Baginda Rasulullah SAW.
Sikap zuhud terhadap dunia adalah hiasan terindah dalam kesehariannya. Begitu pula sifatnya yang teramat wara'.

Salah seorang kerabatnya dari Indonesia, yang masih terhitung cucunya, suatu saat mengunjunginya. Saat berada di sana, lewat jendela rumah sederhana itu, sang cucu memandangi buah kelapa yang menggantung di pohon kelapa di sisi rumahnya.

Memperhatikan hal itu, Habib Ali mendekat dan mengatakan kepadanya, "Kamu mau buah kelapa itu? Sebentar. Saya mintakan izin dulu sama si empunya tanah. Sebab, saya hanya menyewa rumahnya, tanahnya tidak ikut saya sewa." Subhanallah. Rumah sederhana yang ia tempati itu pun ternyata rumah sewaan, bukan rumah miliknya.


Sangat Memuliakan Tamu

Hatinya begitu lembut. la tak ingin ada sedikit pun rasa kecewa tumbuh di hati orang yang mengunjunginya. Di rumahnya yang amat sederhana, kecil, dan sempit itu, sedemikian rupa ia muliakan setiap tamu yang datang. Semua ia terima dengan penerimaan yang menyenangkan hati, tak peduli rupa apalagi harta. Berjumpa dengan sosok bersahaja itu, hati pun serasa menjadi lapang seketika.
Ruang tamunya pun tak pernah kosong dari ratusan botol kemasan air mineral para tamu yang berharap keberkahan dari doa-doa yang ia lafalkan. Meski amat banyak untuk ukuran seorang yang sudah sesepuh Habib Ali Batu Pahat, ia mendoai satu per satu air itu dengan penuh kekhusyu'an.
la amat santun kepada setiap tamunya. Kaya, miskin, ulama, ataupun awam. Siapa pun.

Meski hidup sederhana, ia bahkan hampir selalu memberikan uang kepada para tamunya. Jumlahnya terkadang tidak kecil. Jika mereka berkunjung pada jam makan, tak mungkin tamunya diizinkan pulang sebelum mereka makan bersamanya.
Sifat rendah hatinya kepada setiap tamunya amat mengagumkan. Sebelum sang tamu pulang, orang semulia dirinya ini justru selalu meminta doa dari mereka.

Kelahiran Purwakarta

Ayah Habib Ali, Habib Ja'far bin Ahmad Alaydrus, datang ke Singapura dari Purwarkarta dan menetap di Negeri Singa itu selama beberapa tahun pada dekade tahun 1930-an dan tinggal di Lorong 30 Geylang. Habib Ja'far kembali ke Hadhramaut pada tahun 1938.
la wafat pada tahun 1976 di kota Tarim. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Zanbal, berdekatan dengan makam datuknya, Habib Abdullah Alaydrus.
Berdasarkan kisah yang disampaikan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah, ketika ayah Habib Ali ini masih dalam kandungan ibunya, kakeknya, Habib Abdul Qadir bin Salim, berkata kepada istrinya, Hababah Aisyah Assegaf, jika putranya Ahmad dikaruniai anak laki-laki, akan ia namai "Salim", mengikut nama orangtua Habib Abdul Qadir sendiri. Namun istrinya, Hababah Aisyah, tidak setuju dengan usulan itu dan ia ingin menamainya Ja'far, mengikuti nama datuk sang istri, Habib Ja'far bin Ahmad bin Ali bin Abdullah Assegaf.
Mendengar usulan sang istri, Habib Abdul Qadir mengatakan, ia bersedia menamainya "Ja'far" sekiranya tampak nyata kelebihan yang ada pada diri anak itu kelak.

"Baik, kamu akan lihat kelebihannya, giginya akan tumbuh sebelum waktunya," kata. Hababah Aisyah saat itu.
Habib Abdul Qadir menimpali kembali, "Kalau memang demikian, aku akan sembelih tujuh ekor kambing."
Pada saatnya, benar saja, yang terlahir adalah seorang anak laki-laki. Dan tiba hari ketujuh, hari untuk menyelenggarakan aqiqah sekaligus untuk memberikan nama pada sang anak, nyatalah apa yang dikatakan Hababah Aisyah. Gigi si cucu mulai terlihat. Maka, sang cucu pun dinamai "Ja'far".
Habib Ja'far kemudian tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga yang shalih dan alim. la juga kemudian dikenal sebagai seorang alim pada masanya. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah termasuk yang ber-istifadah (mengambil faidah ilmu) darinya.

Di antara karyanya, Habib Ja'far meninggalkan sebuah diwan (kumpulan qashidah) yang kini telah dicetak oleh penerbit Darul Ushul, Yaman.
Habib Ja'far bin Ahmad mempunyai 10 putra, yakni Abdullah, Abdul Qadir, Ali, Salim, ldrus, Thaha, Ahmad, Abubakar, Thahir, dan Alwi, serta beberapa putri. Di antara putri Habib Ja'far yang masih hidup pada saat ini adalah adik Habib Ali yang bernama Syarifah Gamar.

Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa Habib Ali Batu Pahat ini kelahiran Nusantara, tepatnya di Purwakarta, Jawa Barat, pada tahun 1919. Sebagian keluarganya saat ini juga masih berada di sana.
Tahun 1926, yaitu saat berumur tujuh tahun, ia tiba di Singapura. Tapi hanya sebentar, lalu ia kembali lagi ke Indonesia. Tahun 1929, untuk kedua kalinya ia datang ke Singapura dan kemudian menetap di sana hingga tahun 1942.
Di Singapura, ia tinggal bersama ayah dan kakaknya, Habib Abdul Qadir bin Ja'far Alaydrus, di sebuah rumah di Arab Street. Ketika itu sang kakak barn datang dari Hadhramaut. Berdasarkan cerita yang pernah disampaikan Habib Ali sendiri, kedatangan sang kakak mendapat sambutan yang amat hangat dari penduduk Singapura pada saat itu. Habib Abdul Qadir sendiri wafat di Purwakarta dan dimakamkan di sana.

Tahun 1942, Habib Ali hijrah ke Batu Pahat, Johor, Malaysia. Semasa hidupnya di negeri rantaunya yang baru ini, Habib Ali menjadi tempat mengadu berbagai permasalahan banyak orang.


Tempat Ziarah para Ulama

Semasa hidupnya, Habib Ali menjadi tempat mengadu berbagai permasalahan banyak orang. Mereka yang berasal dari Nusantara dan negara-negara Arab, apabila berkunjung ke Malaysia, akan meluangkan waktu untuk mengunjunginya, demi mendapatkan mutiara nasihat dan keberkahan dari sosok yang jiwa dan raganya ini senantiasa bergantung kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Di antara petuah yang pernah ia sampaikan, "Allah SWT adalah Sang Khaliq. Manusia hanyalah makhluk. Maka, manusia harus mematuhi apa pun perintah Sang Maha Pencipta. Bukan Sang Maha Pencipta yang mematuhi perintah manusia."
Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki, bila berkunjung ke Malaysia, pun kerap menziarahi Habib Ali di Batu Pahat. Pada perjumpaan terakhirnya dengan Habib Ali, Al-Maliki mengatakan, ia meyakini bahwa Habib Ali adalah seorang yang diberi anugerah besar dari sisi Allah di negeri rantaunya ini. Sebelum pulang, Sayyid Muhammad Al-Maliki pun mengarang sebuah qashidah untuknya yang menggambarkan sifat-sifat mulia Habib Ali bin Ja'far Alaydrus.

Pernah suatu kali Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki rahimahullah berkunjung pada beliau, sepanjang jalan Sayyid Muhammad berbicara tentang rindunya pada Rasulullah saw, maka ketika sampai di kediaman beliau, maka semua tamu tidak diperkenankan masuk, kecuali Sayyid Muhammad Al Maliki, mereka masuk berdua cukup lama, lalu keluarlah Sayyid Muhammad Al Maliki dengan airmata yg bercucuran.., seraya berkata : hajat saya sudah terkabul… terkabul.., sambil menutup wajah beliau dengan linangan air mata.

Diantara Ulama yang pernah mengunjungi dan bersilaturrahmi kepada beliau antara lain, Al Habib Zein bin Ibrahim bin Semith dari Madinah, Al Habib Salim bin Abdullah Asy Syatiri (Hadramaut), Al Habib Umar bin Hafidh (Hadramaut), Al Habib Anis bin Alwi Al Habsyi dari Solo dan tokoh habaib dan ulama lainnya.


Tenggelamnya sebuah Bintang

Habib Ali wafat sekitar pukul 17.10 atau 17.15 petang waktu setempat. Syed Ibrahim dan Syed Ja'far, keduanya cucu Habib Ali, dari putranya yang bemama Syed Husein, di sampingnya ketika itu. Hari wafatnya ini menjelang lima hari sebelum haul ayahandanya, Habib Ja'far bin Ahmad, yaitu pada 3 Jumadil Akhirah.
Dari saat Habib Ali wafat waktu dimandikan keesokan harinya, jenazahnya tak putus-putus dikunjungi ribuan manusia dari segala penjuru dan lapisan masyarakat, terutama dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di antara yang hadir menyampaikan ta'ziyahnya pada saat itu adalah Syed Hamid bin Ja'far Al-Bar, mantan menteri luar negeri dan menteri dalam negeri Malaysia.
Begitu juga bacaan Al-Quran, Yaasin, dan tahlil tak putus-putusnya dibacakan hingga jenazahnya usai dimandikan oleh keluarga sekitar pukul 09.30, Jum'at pagi.

Karena begitu banyaknya penta'ziyah yang datang untuk dapat menghadiri prosesi shalat Jenazah, akhirnya jenazah Habib Ali dishalatkan sebanyak dua kali. Pertama, sebagaimana wasiatnya, dishalatkan di dalam rumah, yang diimami oleh Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alaydrus, dan kedua di luar rumah, dengan imam Habib Hasan bin Muhammad bin Salim Al-Attas.
Jenazahnya kemudian dimakamkan sebelum shalat Jum'at, 29 Jumadil Akhirah 1431 H/14 Mei 2010, di Tanah Pekuburan Islam Bukit Cermai, Batu Pahat, Johor, Malaysia. Habib Umar bin Hamid AI-Jilani dari Makkah yang membacakan talqin pada saat itu.

Habib Ali bin Ja'far Alaydrus meninggalkan seorang putri bernama Syarifah Khadijah dan tiga orang putra, yaitu Syed Muhammad, Syed Umar, dan Syed Husein. Semoga ketabahan dan ketawakalan mengiringi hati keluarga dan para pecintanya atas kepergian sosok yang amat mereka cintai dan muliakan ini.
Ulama adalah pewaris para nabi. Kepada para pewarisnya itu, Nabi SAW tidak mewariskan harta, tetapi beliau mewariskan ilmu kepada mereka, yang nilainya melebihi bilangan harta, seberapa pun besarnya. Siapa yang mengambil ilmu mereka, dia telah mengambil harta yang amat bernilai.
Oleh karenanya, wafatnya seorang ulama adalah musibah yang sulit tergantikan dan satu kelemahan yang susah ditutupi. Wafatnya seorang ulama ibarat sirnanya sebuah bintang di antara gugusan bintang-bintang lainnya. Rasulullah SAW mengatakan, "Sesungguhnya wafatnya satu kabilah lebih ringan musibahnya dibandingkan atas wafatnya seorang yang alim." (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Bayhaqi).

Kini Habib Ali telah tiada. Dengan segala kemuliaannya, ia telah berada di sisi Sang Khaliq. Tinggal kita semua yang saat ini telah ditinggalkannya. Kita yang masih banyak bergelimang dengan dosa. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah di atas jalan hidup kita, mengampuni kita atas dosa-dosa kita, dan mengumpulkan kita kelak di surga-Nya bersama orang-orang yang kita cintai.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons