Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.

Senin, 18 Oktober 2010

KH. R. Asnawi Kudus

Kyai Haji Raden Asnawi itulah nama yang digunakan setelah menunaikan ibadah haji yang ketiga hingga wafat. Adapun nama sebelumnya ialah Raden Ahmad Syamsi, kemudian sesudah beliau menunaikan ibadah haji yang pertama berganti nama Raden Haji Ilyas dan nama inilah yang terkenal di Mekah.
KH.R. Asnawi adalah putra yang pertama dari H. Abdullah Husnin seorang pedagang konveksi yang tergolong besar di Kudus pada waktu itu, sedang ibunya bernama R. Sarbinah. KH. R. Asnawi lahir di kampung Damaran, Kudus pada tahun 1281 H (+1861 M), beliau termasuk keturunan ke-14 dari Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 dari Kyai Haji Mutamakin seorang wali yang kramat di desa Kajen Margoyoso Pati, yang hidup pada zaman Sultan Agung Mataram.

Sejak kecil beliau diajar oleh orang tuanya sendiri, terutama dalam mengaji Al-Qur’an. Setelah berumur 15 tahun beliau diajak oleh orang tuanya ke Tulungagung Jawa Timur untuk mengaji sambil belajar berdagang. Sesudah mendapat asuhan dan didikan dari orang tuanya, beliau kemudian mengaji di pondok pesantren Tulungagung, lalu berguru dengan Kyai H. Irsyad Naib Mayong Jepara sebelum pergi haji. Selama di Mekah beliau berguru antara lain dengan Kyai H. Saleh Darat Semarang, Kyai H. Mahfudz Termas dan Sayid Umar Shatha.

Menunaikan Ibadah Haji
Sewaktu umur 25 tahun beliau menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, beliau mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. Diantaranya pada setiap hari Jum’ah Pahing sesudah shalat Jum’ah beliau mengajar ilmu tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) yang berjarak 18 Km dari kota Kudus, dan ini dilakukan dengan jalan kaki. Beliau berkeliling di masjid-masjid sekitar kota bila melakukan shalat subuh.

Kira-kira umur 30 tahun beliau diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu beliau juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu beliau telah kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.

Mukim Di Tanah Suci
Semula beliau tingal di rumah Syekh Hamid Manan Kudus, kemudian setelah kawin dengan ibu Nyai Hajjah Hamdanah (janda Almaghfurlah Kyai Nawawi Banten), beliau pindah tempatdi kampung Syamiah Mekah dengan dikaruniai 9 orang anak, tetapi yang hidup sampai tua hanya 3 orang yaitu: H. Zuhri, H. Azizah istri KH. Shaleh Tayu dan Alawiyah istri R.Maskub Kudus.

Selama bermukim di tanah suci, di samping menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, beliau masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dengan para ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, baik di Masjidil Haram maupun di rumah. Beliau juga pernah mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya, diantara yangikut belajar antara lain: KH. Abdul Wahab Hasbullah Jombang, KH. Bisyri Samsuri Jombang, KH. Dahlan Pekalongan, KH. Shaleh Tayu, KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus dan KH. A. Mukhit Sidoarjo. Disamping belajar dan mengajar agama Islam, beliau turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI (Syariat Islam) di Mekah bersama dengan kawannya yang lain.

Pada waktu beliau bermukim ini, pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syekh Ahmad Khatib Minangkabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan secara tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu beliau bermaksud ingin memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik dari tulisan beliau dan Syekh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu tidak sanggup memberi ifta’-nya. (sayang, catatan-catatan itu ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga KH. R. Asnawi lupa masalah apa yang dibahas beliau, meskipun sudah diberitahu).

Melihat tulisan dan jawaban beliau terhadap tulisan Syekh Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan beliau. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan Syekh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KH. Asnawi Kudus. Akhirnya disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada beliau dan diatur agar beliau nanti yang melayani mengeluarkan jamuan. Sesudah shalat Jum’ah datanglah Sayyid Husain Bek kerumah Syekh Hamid Manan dan beliau sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk beliau yang sedang duduk di pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat beliau, seraya membuka kopiah dan diciumlah kepala beliau sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: "Sungguh saya telah salah sangka, setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapuh".

Pada tahun 1916 beliau meninjau tanah airnya yang ada di Kudus, serta mengadakan hubungan dengan kawan-kawannya antara lain Bapak Sema’un, H. Agus Salim, Hos Cokroaminoto dan lain-lain dari tokoh SI. Berangkatlah beliau sendiri, sedang anak istri ditinggal di Mekah. Sesampainya di Kudus beliau bersama dengan kawan-kawannya mendirikan sebuah Madrasah yang di beri nama Madrasah Qudsiyyah pada tahun 1916 M. Dan tidak lama kemudian diadakan pembangunan Masjid Menara Kudus yang dilakukan secara gotong royong. Kalau malam para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya.

Di tengah-tengah melaksanakan pembangunan itu, terjadi suatu peristiwa huru-hara Kudus pada tahun 1918, dimana beliau dengan kawan-kawannya yang lain terpaksa harus menghadapi tantangan kaki tangan kaum penjajah yang menghina Islam. Itulah sebabnya niat kembali ke tanah suci menjadi gagal, sedang istri dan anak masih di Mekah.Huru-Hara Kudus
Di tengah-tengah umat Islam mengadakan gotong royong untuk membangun Masjid Menara yang dikerjakan siang dan malam, oleh orang-orang Cina diadakan pawai yang akan melewati depan Masjid Menara. Oleh Ulama dan pemimpin-pemimpin Islam telah mengirim surat kepada pemimpin Cina, agar tidak menjalankan pawainya di muka Masjid Menara, mengingat banyak umat Islam yang melakukan pengambilan batu dan pasir pada malam hari. Permintaan itu ternyata tidak digubris, bahkan dalam rentetan pawai itu ada adegan dua orang Cina yang memakai pakaian haji dengan merangkul seorang wanita yang berpakaian seperti wanita nakal. Orang awam menamakan Cengge.

Pawai Cina yang datang dari muka Masjid Manara menuju ke selatan kemudian berpapasan dengan santri-santri yang sedang bekerja bakti mengambil pasir dan batu dengan kendaraan gerobak dorong (Jawa=songkro). Kedua-duanya tidak ada yang mau mundur. Akhirnya seorang santri yang menarik songkro itu dipukul oleh orang Cina. Dengan adanya pemukulan terhadap orang Islam yang dilakukan oleh orang Cina, ditambah adanya Cengge yang menusuk perasaan umat Islam, maka terjadilah pertikaian antara para peserta pawai orang Cina dengan orang Islam yang sedang bekerja bakti mengambil pasir dan batu.

Sekalipun pertikaian ini dapat dihentikan dan selanjutnya diadakan perdamaian, namun orang-orang Cina belum mau menunjukkan sikap damai, bahkan masih sering melontarkan ejekan terhadap orang Islam yang tengah mengambil pasir dan batu sepanjang jalan yang dilalui dari Kaligelis sampai menuju ke Masjid Manara Kudus. Karena itulah orang-orang Islam terpaksa mengadakan perlawanan terhadap penghinaan orang-orang Cina. Para ulama memandang beralasan untuk menyetujui adanya penyerangan pembelaan, tetapi tidak diadakan pembunuhan terhadap orang-orang Cina, pembakaran rumah maupun perampasan barang-barang milik orang Cina. Tetapi ada pihak ketiga yang mengambil kesempatan untuk mengambil barang-barang orang Cina dan tersentuhnya lampu gas pom sehingga menimbulkan kebakaran beberapa rumah, baik milik orang Cina maupun orang Jawa.

Dengan dalih telah mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah, maka para Ulama ditangkap dan dimasukkan dalam penjara. Akhirnya KH. R. Asnawi yang dituduh sebagai salah satu penggerak, dijatuhi hukuman selama 3 tahun. Semula di penjara Kudus, kemudian pindah di penjara Semarang bersama-sama dengan KH. Ahmad Kamal Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid Sunggingan dan lain-lain.

Pada saat di penjara, istrinya (Nyai Hj. Hamdanah) beserta 3 orang putra-putrinya datang ke Kudus dari Mekah. Menurut cerita beliau, selama berada di penjara Kudus padasetiap malam Jum’ah, beliau mengadakan berjanjenan (membawa kitab Al-Barjanji) bersama dengan penghuni penjara dan selalu mengadakan shalat jama'ah lima waktu. Di sampingitu, beliau sempat menterjemahkan kitab Al Jurumiyah (ilmu Nahwu) ke dalam bahasa Jawa, sayang karangan ini tidak dicetak dan disiarkan.

Sesudah Keluar Dari Penjara
Sebagai seorang yang memiliki jiwa pejuang, setelah keluar dari penjara beliau langsung terjun di tengah masyarakat untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang pemimpin masyarakat, diantaranya dengan berda’wah mengajar agama dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Diantara ilmu yang diutamakan oleh beliau adalah Tauhid dan Fiqih. Pada tahun 1927 berdiri pondok pesantren yang diasuh oleh beliau di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan mendapat dukungan dari para dermawan dan umat Islam di Kudus. Kegiatan beliau dalam melakukan tabligh tidak terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, akan tetapi meluas ke daerah lain untuk menyebarkan aqidah Ahlusunnah Wa al Jamaah antara lain sampai ke Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, dan Blora. Demikian halnya dalam mengadakan pengajian meliputi daerah Demak, Jepara, dan Kudus.

Di pondok pesantrennya sendiri setiap tanggal 14 bulan hijriyah diadakan majelis ta’lim yang disebut Patbelasan, ribuan Muslimin dan Muslimat mendatangi majelis ini. Sayang majelis ini terhenti karena dihapus oleh pemerintah Jepang. Juga setiap tanggal 29 Rabiul Awal beliau menyelenggarakan peringatan maulud Nabi Muhammad Saw. Bersamaan mengadakan majelis khataman Al-Quran baik binnadzar maupun bil-ghaib yang diasuh oleh putranya (HM. Zuhri).

Di samping melayani kebutuhan para santri yang ada di pondok pesantren tentang pengajian kitab, secara khusus beliau juga mengadakan wiridan, antara lain: Khataman TafsirJalalain dalam bulan Ramadlan di pondok pesantren Bendan Kudus. Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan Hikam dalam bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Membaca kitab Hadist Bukhari yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh selama bulan Ramadhan bertempat di Masjid Al-Aqsha Kauman Menara Kudus, sampai beliau wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh Al-Hafidh KH. M. Arwani Amin sampai khatam.

Sesudah selesai mendirikan pondok pesantren pada tahun 1927 M, pernah datang ke rumah beliau seorang tokoh Belanda yang faham tentang agama Islam bernama Van Der Plas. Kedatangannya di rumah untuk minta agar dilayani dengan bahasa Arab, demikian ujar petugas Kabupaten yang memberitahukan akan datangnya Van Der Plas dan menyampaikan kehendaknya. Adapun maksud Van Der Plas menemui beliau adalah bermaksud minta kesediaan beliau untuk memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas penawaran itu ditolaknya, sebab kalau diangkat sebagai penghulu tidak bebas lagi dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat, lain kalau saya menjadi orang partikelir, dapat melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap siapapun tanpa ada rasa segan (ewuh pekewuh).

Perjuangannya
Pada tahun 1924 M beliau ditemui oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah Jombang untuk bermusyawarah untuk membuat benteng pertahanan Aqidah Ahlussunah Wal Jamaah. Akhirnya beliau menyetujui gagasan KH. A. Wahab Hasbullah dan selanjutnya bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Pada zaman penjajahan Belanda beliau sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya yang mempertahankan kesucian Islam serta menanamkan nasionalisme terhadap umat Islam, baik di Kudus maupun di Jepara. Pada zaman penjajahan Jepang pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok beliau dikepung oleh tentara Dai Nippon, akhirnya beliau dibawa ke markas, Kempetai di Pati.

Pada zaman penjajahan Belanda beliau sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya yang mempertahankan kesucian Islam serta menanamkan nasionalisme terhadap umat Islam, baik di Kudus maupun di Jepara. Pada zaman penjajahan Jepang pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok beliau dikepung oleh tentara Dai Nippon, akhirnya beliau dibawa ke markas, Kempetai di Pati.

Pulang Ke Rahmatullah
Hari Sabtu Kliwon tanggal 25 Jumadil Akhir 1378 H, bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M, tepatnya jam 03.00 fajar beliau telah dipanggil pulang ke rahmatullah. KH. R. Asnawi, seorang ulama besar dan salah seorang pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama wafat dalam usia 98 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. [Diolah dari berbagai sumber]

Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al-Attas

Di kediamannya di Jl Condet Raya, Jakarta Timur, Habib Umar Alatas, seorang kiai sepuh yang telah berusia 108 tahun tampak tidur telentang hampir tidak bergerak. Hanya matanya saja yang selalu terpejam, sesekali berusaha menatap mesra kepada para tamunya yang tidak henti-hentinya berdatangan. Baik para tokoh habaib, ulama maupun kiai, hingga masyarakat kurang mampu.

Di kamarnya yang cukup luas itu, di antara para tamu itu, bukan saja datang dari Jakarta. Tapi juga dari berbagai tempat di Tanah Air, sambil membacakan surat Yasin agar Allah mempercepat kesembuhan ulama tertua di Tanah Air ini."Sejak habis mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di pesantrennya di Cipayung, Bogor, 18 Juli lalu, kondisi habib memburuk karena sakit tua. Dan hingga kini keadaannya masih antara sadar dan tidak sadar," kata Haji Ismet Alhabsji, seorang yang dekat dan merupakan kepercayaan habib Umar kepada Republika Selasa (27/7). Pada acara maulid di Cipayung, yang sudah 17 tahun diselenggarakan di tempat ini, menurut Ismet, Habib Umar sudah tidak bisa hadir lagi di tengah-tengah jamaah yang jumlahnya puluhan ribu orang. Ia hanya mengikuti dari kamarnya.
"Setelah acara maulid Nabi, Habib Umar yang fisiknya dalam keadaan lemah itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Bahkan, saat dibawa kembali ke kediamannya di Condet, dia ditidurkan di mobil dan diinfus," kata Ismet yang selama belasan tahun dekat dengan habib Umar.
Rupanya, sakitnya ulama tertua di Jakarta ini cepat luas tersebar. Dan mengingat begitu antusiasnya masyarakat yang ingin menjenguknya, maka sejak minggu lalu kediamannya di Condet menjadi semacam open house, terbuka hampir sepanjang hari.
Habib Umar, kata Alwi Edrus Alaydrus, salah seorang cucunya memang terbuka, mengulurkan tangan serta menyambut dengan baik tiap tamu yang datang ke kediamannya. Tidak membedakan status dan kedudukan mereka. Apakah rakyat kecil, atau pejabat tinggi negara, kata Alwi Edrus.
Karenanya tidak heran, di antara penjenguk terdapat artis-artis seperti Elvie Sukaesih dan putrinya Fitria, Muchsin Alatas dan istrinya Titiek Sandhora serta putranya Bobby.
Seperti hari Senin (26/7) lalu. Pengunjung dari Jakarta dan luar kota tampak lebih banyak lagi yang mendatanginya. Karena waktu itu, entah dari mana asalnya, Habib Umar diisukan telah meninggal dunia. Sedangkan para murid dan pengikutnya, di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam yang mengetahui sakitnya, terus memantau kesehatannya.
"Mereka minta kepada kita agar cepat diberitahukan bila terjadi apa-apa dengan Habib Umar," kata Alwi Edrus. "Mereka menyatakan kepada saya siap untuk datang ke Jakarta bila terjadi apa-apa dengan habib." Sedangkan Ismet menambahkan, mereka terus memantau kesehatan Habib Umar, karena tahu kalau beliau sakit. Pasalnya, mereka hadir pada waktu peringatan maulid yang baru lalu.
Banyaknya umat Islam dari mancanegara yang selalu datang tiap tahun ke acara maulid Habib Umar, karena ia pernah tinggal di Singapura dan Malaysia selama beberapa tahun. Selama di kedua negara itu, Habib Umar rupanya punya berpengaruh besar di kalangan masyarakat dan pejabat pemerintahan. Hingga tidak heran, kalau banyak ulama dan pejabat di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam menjadi akrab dengannya.
Seperti dikatakan oleh Alwi Edrus, Sultan Johor, Tengku Mahmudsyah sudah beberapa kali mendatangi habib Umar selama berada di Jakarta. Pada tahun 1993 dan 1994, sultan dan keluarga datang dengan menggunakan pesawat pribadi. "Tentu saja, kedatangan sultan Johor itu membuat repot pemerintah RI, yang terpaksa mengerahkan protokol dan pengawal dari kepresidenan," kata salah seorang pihak keluarga.
Habib, yang kelahiran Hadramaut, Yaman Selatan, sejak usia muda telah datang ke Indonesia. Mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat. Di sini, sambil berdakwah, ia juga berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Kemudian membuka pengajian dan majelis maulid di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.
Pada tahun 1950-an, ia ke Mekkah dan bermukim selama beberapa tahun. Tapi, sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia tertahan di Singapura. Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI - Malaysia, sementara Singapura merupakan bagian negara itu. Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai konfrontasi, pada awal masa Orde Baru.
Tapi, rupanya banyak hikmah yang diperolehnya di balik kejadian tersebut. Karena, selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata ia sangat dihormati oleh umat Islam setempat. Termasuk Brunei Darussalam.
Seperti dikatakan oleh pihak keluarga, Habib Umar bukan saja dihormati oleh Sultan Johor, tapi sultan-sultan lainnya di Malaysia. Sedangkan di antara pejabat Malaysia yang sering mendatangi kegiatan Habib Umar di Indonesia, di antaranya Menteri Pendidikan Naguib Tun Razak.
Sedangkan dari Singapura, Achmad Mathar, Menteri Lingkungan Hidup juga beberapa kali mendatangi Habib Umar. Juga menteri dari Brunei, termasuk beberapa anggota kerajaannya. Sedangkan menurut Haji Ismet, mereka itu umumnya datang ke Habib Umar, bukan pada saat-saat peringatan maulid.
Habib Umar sendiri banyak dikenal oleh pejabat, baik sipil maupun militer di Tanah Air yang pernah berkunjung kepadanya. "Tapi, kita tidak mau menyebutkannya," kata Alwi Edrus.
Baik para tamu luar negeri, maupun para pejabatnya datang ke Habib Umar atas kemauan sendiri untuk berziarah. Habib sendiri tidak pernah mengundang dan mendatanginya. Karena ia berprinsip, ulama atau ilmu didatangi, bukan mendatangi.
Maulid Internasional
Maulid Nabi di Cipayung, yang tiap tahun dihadiri sekitar 100.000 jamaah, termasuk ratusan jamaah dari mancanegara, tidak heran hingga oleh banyak pihak dianggap sebagai maulid internasional.
"Setidak-tidaknya acara maulid habib Umar tiap tahun ini sudah menjadi agenda di beberapa negara, khususnya Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Mereka tahu sendiri kapan acara itu diselenggarakan, dan kami tidak pernah mengundangnya lagi," ujar Ismet.
Habib Umar sendiri, yang kini dalam keadaan uzur akibat usianya yang sudah sangat lanjut, sudah dua tahun ini tidak banyak lagi terlibat dalam menangani kegiatan maulid. Acara ini dan acara-acara keagamaan lainnya, kini dipimpin oleh putranya, Habib Salim Alatas (60).
Dahulunya, kata H Ismet, tiap kegiatan maulid beliau sendiri yang menanganinya. Termasuk upaya-upaya untuk menyediakan persediaan makan dan lauk pauk bagi puluhan ribu jamaah yang hadir. "Kalau ditanya oleh orang dari mana dananya, habib Umar selalu bilang dari Allah," ujar Ismet.
Ihwal persediaan makan untuk para jamaah yang menghadiri maulid ini, Alwi Edrus menyatakan, dua tahun lalu tidak kurang dari 1.400 ekor kambing dan dua ekor sapi yang dipotong. Sedangkan beras yang digunakan untuk memasak nasi kebuli sebanyak 11 ton. Yang kesemuanya ditangani oleh seribu tukang masak.
Khusus untuk para tamu luar negeri yang berjumlah sekitar 400-500 jamaah, menurut Ismet, mereka disediakan tempat penginapan khusus di Cipayung, rumah Mayjen TNI (Purn) Eddie Marzuki Nalapraya, yang juga sering mendampingi Habib Umar.
"Selama empat atau lima hari mereka di Cipayung, mulai dari sarapan pagi, makan siang dan malam, ditanggung dari kocek Habib Umar sendiri. Paling-paling mereka mengeluarkan uang untuk tiket. Mereka, biasanya datang berombongan. Tiap kepala rombongan ada yang membawa 10-15 orang.
Memang, kegiatan Habib Umar lebih-lebih sebelum menderita sakit, cukup padat. Di kediamannya di Condet, tiap hari terdapat sekitar 300 jamaah subuh. Khusus pada hari Jumat, meningkat menjadi sekitar 1.000 orang. Khusus Sabtu subuh, mereka diberikan pelajaran fikih dari sejumlah ulama terkenal. Sedangkan di Cipayung, tiap Kamis malam diadakan pembacaan maulid Diba.
Yang unik, setelah mengikuti kegiatan, para jamaah selalu makan bersama yang dijamu oleh Habib Umar. Tidak peduli pada masa krismon sekarang, jamuan makan yang berlangsung sejak lama itu tidak pernah henti. Menu makanannya hampir selalu nasi uduk berikut lauknya, seperti tahu dan telur.
Sesuatu yang mungkin lain dibandingkan dengan acara-acara di majelis lain adalah, acara-acara di Habib Umar, termasuk Maulud Nabi tidak ada pidato-pidato. Acaranya sangat simple, yakni baca maulud, zikir dan ditutup dengan do'a. Ismet menjelaskan, tidak adanya pidato-pidato yang sudah tradisi sejak lama itu, karena habib takut akan menimbulkan saling serang dan fitnah memfitnah.
Selama belasan tahun dekat dengan ulama Betawi ini, Ismet meyakini, bahwa Habib Umar untuk kegiatan-kegiatan keagamaan tidak pernah mau meminta sumbangan. "Kalau pun orang mau memberi hadiah, harus benar-benar ikhlas. Kalau tidak dia akan menolaknya. Apalagi kalau sumbangan itu punya tujuan khusus." Karena itulah, kata Ismet, tidak ada satu pejabat pun yang bisa mempengaruhi Habib Umar.
Sedangkan bagi KH Zainuddin, seorang ulama Betawi yang tiap Ahad memberikan ceramah di Majelis Taklim Kwitang berpendapat, kecintaan para kiai dan ulama Betawi terhadap Habib Umar, karena ia adalah seorang yang saleh, berakhlak mulia dan penuh keberkahan.
"Para kiai mendatangi Habib Umar bukan sekali-kali untuk menyembahnya, tapi untuk mendapatkan berkah dan doanya," ujar kiai, yang juga anggota MPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
Yang juga menarik dari pesan-pesan Habib Umar kepada mereka yang mendatanginya, sangat sederhana sekali. Seperti anjuran untuk berbakti kepada kedua orangtua, lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Penyanyi Muchsin Alatas sendiri merasa sangat terkesan akan keramahtamahannya. "Saya merasakan seolah-olah saya dan keluarga dianggap sebagai anaknya sendiri," kata Muchsin yang mengaku hatinya lebih tenteram dan sejuk setelah bertemu Habib Umar.
H Marullah (65), yang rumahnya tidak berjauhan dengan kediaman Habib Umar, terkesan dengan cara bertetangga yang baik. Karena rumah habib selalu terbuka dan dapat didatangi tiap waktu. "Habib menganggap semua orang yang datang kepadanya adalah orang-orang baik, tidak peduli orang itu preman sekalipun," kata putra asali Betawi ini.
Menurut Ismet, Habib Umar sejak beberapa tahun lalu telah mewakafkan tempat kegiatan keagamaannya di Cipayung yang luas itu untuk kegiatan-kegiatan Islam. Untuk itu, di tempat ini tengah dibangun sebuah pesantren terpadu Hamid Umar bin Hoed Alatas, dan sudah mulai beroperasi mulai 8 Agustus mendatang. Pesantren terpadu ini didirikan oleh Yayasan Pendidikan Islam Assaadah, yang diketuai oleh Alwi bin Edrus Alaydrus. Sedangkan pendirinya Habib Umar, Mayjen TNI (Pur) Eddie Nalapraya dan H Ismet Alhabsji. Pesantren ini dibangun melalui tiga tahap, yang seluruhnya akan menelan biaya Rp 14,5 miliar.
Di samping mewakafkan tanah dan pesantren di Cipayung, menurut Ismet, habib juga berwasiat bila ia meninggal dunia agar dimakamkan di makam wakaf Al-Hawi, Kalibata.

dipetik dari: Republika Online edisi: 30 Jul 1999 oleh Alwi Shahab

Sumber: http://alawiyyin.cjb.net/

Jumat, 08 Oktober 2010

Ir. AS-SAYID AL HABIB AHYAD BIN ABDULLAH BANAHSAN

la masih muda, tapi semangat dakwahnya luar biasa. la berhasil meyakinkan masyarakat akan bahaya kemaksiatan. Dan para preman pun segan, tak berani membuka tempat-tempat maksiat.

Kalau Anda lewat di Jln. Pahlawan Revolusi, Jakarta Timur, mulai dari Klender sampai perempatan Pangkalan Jati menuju Pondok Gede, Bekasi, perhatikanlah sebelah kiri dan kanan jalan dengan cermat. Di sana Anda tidak akan menemukan tempat-tempat perjudian, narkoba, biliar, penjual minuman keras, dan tempat-tempat hiburan lain yang akrab dengan maksiat.

Apalagi jika Anda masuk ke dalam perkampungan di dalam. Secara sembunyi-sembunyi, mungkin saja ada orang yang membuka tempat-tempat seperti itu. Tapi, jangan harap mereka berani terang-terangan melakukannya. Mengapa? Sebab, jika hal itu terdengar oleh Habib Ahyad bin Abdullah Banahsan, dalam tempo singkat ia bersama masyarakat Pondok Bambu dan sekitarnya akan segera menggusurnya. Tak peduli siapa yang membuka tempat maksiat dan yang menjadi backing-nya. Ketokohan Habib Ahyad Banahsan dan kekompakan masyarakat Islam setempat membuat lingkungan tersebut relatif bersih dari maksiat – hal yang cukup sulit dilakukan di tempat-tempat lain di Jakarta.

Kaum muslimin, khususnya yang bermukim di Pondok Bambu dan sekitarnya, patut bersyukur. Sebab, anak-anak mereka relatif lebih aman dari pengaruh yang dapat merusak masa depan mereka, meskipun hal itu tidak menjamin mereka tidak akan terpengaruh sama sekali. Sebab, bisa saja mereka melakukannya di tempat lain atau secara sembunyi-sembunyi. Tapi, upaya seperti itu setidaknya bisa menjadi pagar yang cukup penting buat melindungi mereka.

Habib Ahyad memang dikenal sangat keras – bahkan ada yang menilainya nekat – dalam memberantas kemaksiatan. Jika membasmi tempat-tempat maksiat, ia tidak seperti jenderal di medan tempur yang mengerahkan pasukan sementara ia hanya menonton di belakang. Tidak. la selalu maju memimpin murid-murid dan para pengikutnya dalam memperjuangkan kebenaran menurut keyakinannya. Bahkan, terkadang ia sendiri tampil melakukannya, sementara yang lain cuma mengamati dari jauh.

Sikapnya yang konsisten dan keberaniannya memberantas kemaksiatan didasari keyakinannya yang kuat bahwa Allah SWT niscaya akan membantu dan menolong orang-orang yang berjuang di jalan-Nya. Keyakinan itu semakin mantap, terutama karena langkahnya tidak hanya didukung oleh para santrinya, melainkan juga berbagai elemen masyarakat di sekitarnya, termasuk para tokohnya.

Meski demikian, tidak berarti ia bersikap semena-mena atau serampangan tanpa pertimbangan dan perhitungan matang. Sebelum bertindak, ia selalu menjalin komunikasi dengan berbagai pihak. Selain itu, ia terlebih dahulu juga memberikan peringatan kepada mereka yang menggelar praktik-praktik kemaksiatan. Jika peringatan itu tidak diindahkan, barulah ia mengambil tindakan. Memang tidak semua orang setuju. Terhadap orang-orang yang tak sepakat, jawaban Habib Ahyad singkat saja, “Anda lebih sayang kepada anak-anak Anda, atau kepada mereka yang membuka tempat-tempat seperti itu?”

Dalam melakukan dakwah dan mendidik masyarakat, ulama ini bukan tak pernah mengalami kendala. “Kadang-kadang kami didatangi bos – bos biliar yang membawa segepok duit,” tuturnya. Bukan hanya dengan cara halus, caracara keras pun sering dihadapinya. “Ini Arab sialan! Nanti kita bawain pistol aja, Bos,” katanya menirukan ucapan seorang preman kepada bosnya.

Itu semua hanya salah satu dari beberapa aktivitasnya. Itu pun terbatas di wilayah yang masuk dalam pengaruh-nya. la tak mau mencampuri wilayah orang lain. Paling-paling, ia mengingatkan dan memberi saran kepada para tokoh masyarakat yang bersangkutan. Selebihnya, ia serahkan kepada kebijaksanaan masing-masing. Dan sampai sejauh ini aktivitas – utama insinyur lulusan Institut Pertanian Bogor kelahiran 7 Juli 1969 ini ialah berdakwah dan mendidik masyarakat.

Menurut warga setempat , mereka merasa terayomi oleh kehadiran habib muda ini. Hal itu tiada lain disebabkan oleh upayanya yang sungguh-sungguh agar perbuatannya senantiasa sejalan dengan ucapannya. “Kalau saya menulis se suatu yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat, saya minta murid saya membaca dulu, lalu saya bertanya, “Menurut ente saya ini bagaimana?” Setelah membaca, muridnya bilang, `Ya, seperti yang antum tulis.’ Jadi, saya menghindari menulis atau menyampaikan sesuatu yang saya sendiri tidak mampu melaksanakannya. Kalau kita mengajarkan sesuatu yang kita enggak laksanakan, ilmu kita tidak bermanfaat, dan jauh dari hidayah. Kalau kita memberikan ilmu yang biasa kita amalkan, Insya Allah murid bisa menerimanya. Tapi kalau ceramah tidak disertai amal saleh, tentu tidak berwibawa”, katanya.

Siapakah tokoh muda yang disegani, yang selalu menjaga keseimbangan dalam berbagai hal ini? Ia, anak sulung dari lima bersaudara, putra-putri pasangan Habib Abdullah bin Umar bin Utsman Banahsan dan Syarifah Husna binti Ahmad bin Utsman Banahsan. Ayahnya, yang masih gagah dan energik dalam usia 60-an, juga dikenal sebagai ulama yang disegani. Ayah dan anak ini memang pasangan serasi, mereka berjalan beriringan dalam membina dan mengayomi masyarakat. Jika Habib Abdullah menjadi sesepuh bagi orang-orang tua, Habib Ahyad menjadi pemimpin anak-anak muda. Pada hari-hari tertentu, sang ayah menggelar pengajian untuk kaum bapak dan di hari lainnya untuk kaum ibu.

Habib Abdullah bin Umar Banahsan adalah orang yang sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka semua, termasuk putri-putrinya, dibekali pendidikan yang memadai agar dapat menjalani kehidupan dan menghadapi tantangan zaman dengan baik. Semua didorong untuk menguasai ilmu. Uniknya, tidak seperti sebagian habib yang lebih cenderung memasukkan anak-anaknya ke sekolah agama, Habib Abdullah lebih memilih pendidikan umum bagi putra-putrinya, terutama untuk tingkat dasar. Salah seorang adik Habib Ahyad, Sayid Kamil, setelah menyelesaikan pendidikannya di jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UI menjadi dosen di almamaternya. Kini ia sedang menyelesaikan program doktornya di Jerman. Adik-adik Habib Ahyad yang lain semuanya juga menempuh pendidikannya dengan baik hingga jenjang perguruan tinggi. Mereka adalah Syarifah ‘Abidah, Syarifah Mahmudah, dan Sayid Syafiq.

Meskipun pendidikan anak-anaknya adalah pendidikan umum, tidak berarti ia tidak peduli akan bekal pendidikan agama bagi mereka. Justru ia benar-benar mengarahkan dan membina mereka secara langsung agar dapat menguasai ilmu agama, minimal untuk kebutuhan pribadi. Khusus bagi anak-anaknya yang diharapkan dapat berperan mendidik masyarakat, dorongan dan arahan yang diberikan lebih besar lagi.

Di antara anak-anak Habib Abdullah Banahsan, Habib Ahyad sejak masih duduk di bangku sekolah menengah memang telah menunjukkan kecenderungan yang kuat sebagai calon penerus kepemimpinan Ma’had AI-`Abidin, baik dari segi kecerdasan, minat keilmuan, semangat perjuangan, bakat kepemimpinan, maupun aspek-aspek lainnya.

Sejak kecil, di samping menjalani sekolah formalnya, ia juga terus membekali diri dengan ilmu-ilmu agama. Ketika masih duduk di bangku SD, tepatnya di SD PR V Pondok Bambu, Jakarta Timur, ia telah mulai serius mempelajari AI-Quran dan kitab-kitab dasar, seperti :

Kitab Sifat Dua Puluh, Irsyadul-Anam, Adabul-Insan, dan sebagainya kepada Ustaz H. Sanusi dan H. Musa. Kemudian ia belajar kepada guru-guru lain, termasuk kepada ayahnya sendiri dan kepada pamannya, Habib Fadhil bin Umar Banahsan.

Kepada ayahnya, ia mengaji kitab-kitab dasar yang menjadi standar di lembaga-lembaga pendidikan tradisional, di antaranya kitab Jurumiyah, Mukhtashar Jiddan, Kailani, Kafrawi, Kasyifatus-Saja, Kifayatul`Awam. Sebelumnya, kepada pamannya ia mempelajari berbagai kitab Maulid dan kitab Safinatun-Naja di samping terus mem-pelajari AI-Quran. Selain kepada mereka, di waktu kecil ia juga belajar kepada kakeknya, Habib Umar bin Utsman Banahsan dan kepada Syekhah Salamah binti Soleh (guru perempuan).

Di samping dari ayahnya, kitab-kitab dasar menengah ia pelajari juga dari Ustaz H. Abdullah, antara lain kitab Fathul-Qarib, Fathul-Majid, IbnuAqil. Setelah itu ia menimba ilmu dari K.H. Mundzir Tamam dengan mempelajari Shafwatut-Tafasir dan Asybah wan-Nazhair dan kepada Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf dengan membaca Qaidah al-Asasiyah dan Tarikh Ibn Hisyam. Antara tahun 1996 sampai tahun 2000, ia mengaji kitab-kitab kepada K.H. Rodhi Soleh, yang pernah menjadi wakil rais am. Kepada ipar K.H. M.A. Sahal Mahfudh ini ia mempelajari kitab-kitab al-Manhalul-Lathif, Adabul – Alim wal-Muta`allim, Lathaiful-Isyarah, LubbulUshul, dan Faraidul-Bahiyyah.

Syafi’I Hadzami sejak tahun 1996 hingga kini, Habib Ahyad, yang menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMPN 51 dan kemudian SMAN 12 Jakarta, belajar kepada K.H. Drs. Saifuddin Amsir, yang kini menjadi salah seorang rais PBNU periode sekarang. Kepadanya ia mempelajari beberapa kitab, diantaranya Qawaidul-Lughah al-Arabiyyah dan Ushul al-Fiqh al-Islamiy. Sejak tahun 1983 ia juga menghadiri majelis Habib Syekh bin Ali Al-Jufri, yang memberikan pelajarannya di Masjid Al-Abidin.

Di samping itu, ia pun sering mengikuti majelis-majelis K.H. Syafi’i Hadzami, seorang ulama terkemuka, panutan kaum muslimin di Jakarta dan sekitarnya, utamanya pada pengajian-pengajian pasarannya di bulan Ramadan, di antaranya ketika membaca kitab Idhahul-Mubham dan kitab Jauharul-Maknun.

Ketika ditanya siapa di antara para gurunya yang paling berpengaruh dan berjasa baginya, ia menjawab, “Semua guru sama berjasa dan berpengaruhnya bagi perkembangan diri saya. Tetapi yang paling banyak membantu saya tentu saja aba saya.”

Habib Ahyad dibesarkan dalam dua kultur yang berkaitan erat, habaib dan nahdliyin. Sejak muda ayahnya adalah aktivis Anshor, bahkan sang kakek juga memiliki kedekatan dengan salah satu pendiri NU, K.H. A. Wahab Hasbullah, yang juga menjadi rais am sepeninggal K.H. Hasyim Asy’ari.

Mereka berdua juga menggerakkan kegiatan Ma’had AI-`Abidin, lembaga pendidikan di masjid dengan nama sama di Jalan Kol. Sugiyono, Sawah Barat, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kegiatan utamanya pengajian anak-anak dan remaja yang diselenggarakan setiap malam, kecuali malam Jumat. Meskipun dilangsungkan di masjid, pelajarannya tidak kalah dibanding pelajaran di madrasah atau pondok-pondok pesantren. la berusaha mempertahankan tradisi dan sistem yang telah diwariskan oleh kakeknya, Habib Umar Banahsan. Beliau berasal dari daerah Mesteer Cornelis, yang sekarang lebih dikenal sebagai Jatinegara. Kemudian pada tahun 1935, oleh Ki Demang, beliau diminta pindah ke daerah Sawah Barat untuk mengajar warga setempat. Sawah Barat adalah sebuah wilayah yang masih masuk Kelurahan Pondok Bambu.

Murid-murid di pengajian ini sekarang jumlahnya sekitar 500 orang putra-putri di bawah bimbingan 50 orang guru. Mereka dibagi ke dalam kelas athfal (kanak-kanak) dan kelas lanjutan yang dibagi lagi menjadi lima tingkatan.

Untuk kelas-kelas athfal, para murid dibimbing oleh seorang guru; sedangkan untuk kelas-kelas berikutnya, mereka dibimbing oleh banyak guru, tergantung pelajarannya. Jadi, ada guru yang khusus mengajar fikih, tauhid, nahu, saraf, tarikh, dan sebagainya.

Selain melestarikan pendidikan agama yang memadukan sistem halakah dengan sistem madrasah, AI-Abidin juga menyelenggarakan pendidikan umum untuk jenjang TK dan SD dengan kurikulum Depdiknas, dan sudah berjalan hampir 10 tahun. Mengapa tidak membuka sekolah agama saja? “Kalau ada anak-anak yang mau mendalami agama, silakan datang ke Masjid Abidin. Jika pendidikan umum dan agama disatukan dibawah sebuah lembaga pendidikan, biasanya ada salah satu yang kalah,” kata Habib Ahyad.

Selain itu, menurutnya, sistem halakah punya kelebihan tersendiri. “Pendidikan halakah di masjid punya beberapa kelebihan. Kalau diadakan di kelas, kita kan harus membangun ruang kelas dulu. Kedua, murid-murid dengan bebas mengenakan kain sarung dan kopiah, sehingga bisa langsung salat berjemaah, bisa langsung mengikuti Maulid atau berzikir. Jadi, ilmu dan amal bisa berlangsung sekaligus. Sebab, masjidlah laboratorium yang sebenarnya. Kalau mereka sudah di situ, kan bisa langsung praktik,” katanya lagi.

Sasaran dakwahnya memang generasi muda. Apalagi, katanya, pemikiran orang tua sudah sulit diubah. “Saya baru 15 tahun terjun di masyarakat. Kebanyakan orang tua itu kan agak sulit kita ubah. Tapi, kalau anak-anak muda, setelah beberapa tahun kita ajak mengaji, Insya Allah ada perubahan. Lebih mudah lagi kalau kita menggarap anak-anak kecil, yang memang bisa menjadi lahan dakwah. Anak-anak kecil itu, seperti kata orang Betawi, pegimane maunye kite,” tambahnya.

Menurut perhitungannya, untuk mendidik anak muda diperlukan waktu 10 tahun agar mereka punya sebuah kesadaran, merasakan, dan menyadari ajaran agama sebagai kewajiban. Sedangkan untuk mendidik anak-anak, perlu waktu sekitar 20 tahun.

Namun, di lain pihak, cara Habib Ahyad yang keras dan berdisiplin dalam mendidik terkadang diprotes oleh sebagian orangtua murid. Tapi, karena orangtua yang mendukungnya lebih banyak, dan yakin bahwa cara yang ditempuhnya benar, ia tetap pada kebijakannya. “Sebenarnya ada sebagian orangtua murid yang pusing melihat kebijakan saya. Tapi, Alhamdulillah, Ayah, yang cukup berpengaruh di lingkungan sini, mendukung saya,” ujarnya.

Meskipun keras dalam mendidik, Habib Ahyad – ayah dua putri dari pernikahannya dengan Syarifah, Yuli Atikah Yahya pada 1994 – selalu mencoba mencari cara yang pas agar murid-muridnya tetap dekat dengannya. Salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan yang disukai anak-anak muda tapi tidak bertentangan dengan agama.

“Di Jakarta ini musuh dalam mendidik anak-anak ialah lingkungan dan pergaulan bebas. Untuk benar-benar memutuskan hubungan mereka dari hal-hal negatif itu, tentu cukup berat. Akhirnya, saya melakukan kan beberapa kegiatan yang ngepop. Misalnya, kompetisi sepak bola antar majelis taklim, juga camping setiap akhir tahun. Kalau tahun baru, kami biasanya ke pantai. Setelah salat Magrib dan Isya, kami ke pantai hingga pukul 02.00 dini hari. Itulah antara lain yang kami coba lakukan agar mereka tidak jenuh,” tuturnya.

Ulama dan mubalig muda ini tidak alergi politik. “Politik itu bagian dari perjuangan Islam, sebab Nabi dulu juga menjadi kepala negara. Kalau orang Islam enggak ngerti politik, berarti ada salah satu sisi ilmu Islam yang tidak ia ketahui. Islam kan lengkap, di dalamnya termasuk ilmu politik dan ilmu perang. Selain itu, kaum muslimin kan sudah memiliki jemaah. Baik NU, Muhammadiyah, maupun partai-partai Islam. Menurut saya, semua partai berbasis Islam itu bagus. Tinggal kita memilih mana yang paling tepat dan paling sesuai dengan jemaah kita,” ujarnya.

Habib Ahyad, dalam bidang ilmu, agama, dan dakwah, mengidolakan Sayid Muhammad bin Alwi AI-Maliki, Dr. Yusuf Qaradhawi, dan Syekh Muhammad AlGhazali. Sedangkan dalam politik dan perjuangan, tokoh favoritnya adalah pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini. “Saya mengidolakan beliau karena keberaniannya menegakkan kebenaran dan menentang negara adi-awwa daya yang zalim. Meski orang alim saat ini banyak, yang berani berjuang kan enggak banyak.”

Berbeda dengan banyak ulama dan mubalig muda, Habib Ahyad lebih banyak ber-dakwah dengan tindakan. Di samping memberi contoh, ia juga dikenal tegas bersikap ketika sesuatu yang menurutnya tidak benar.

“Saya cuma tidak ingin jarkoni,” katanya merendah. “MisaInya masa, saya nyuruh teman-teman tidak merokok sementara saya sendiri merokok?”

Bagaimana ia memandang kondisi Indonesia saat ini, khususnya kota Jakarta, yang sudah sarat dengan kemaksiatan? Bagaimana resep menghadapinya? “Menurut saya, setiap orang mendapat beban dari Allah SWT sesuai kedudukan, kekuatan, dan kemampuan masing-masing. Silakan masing-masing berkaca sampai di mana ruang lingkup yang Allah bebankan kepadanya. Lalu, masing-masing bekerja sesuai kemampuannya. Jika itu sudah dilakukan, selesailah tanggung jawabnya. Di lingkungan yang bagus ada tanggung jawab kita, di lingkungan yang jelek pun ada tanggung jawab kita,” katanya.

Tapi, ia tidak setuju jika dikatakan Jakarta sudah benar-benar rusak. Mengapa? Habib Ahyad menyatakan, “Kita wajib bersyukur karena

di Jakarta ada ribuan masjid, majelis taklim, dengan sekian ribu habib dan kiai. Memang, panti pijat, diskotek, bar, dan tempat-tempat maksiat lain juga banyak. Kalau dihitung, mungkin ada ribuan. Tapi, secara garis besar saya melihat, Jakarta ini bagus. Saya bersyukur dilahirkan di Jakarta. Mau mengaji, banyak gurunya. Mau salat, di mana saja bisa. Jadi, menurut saya, Jakarta itu kota yang bagus. Tapi, itu juga tergantung bagaimana orang memandangnya.”

Disinggung mengenai pola dakwah yang tepat untuk masyarakat Indonesia, ada yang keras tapi ada juga yang lebih toleran, Habib Ahyad dengan arif mengatakan, “Biar saja semua berjalan, karena dua-duanya perlu. Kadang-kadang umat memerlukan figur yang tegas tanpa kompromi seperti Habib Riziq, tapi suatu ketika umat juga memerlukan tokoh dengan pendekatan yang lembut dan toleran seperti Habib Alwi Shihab.”Habib Ahyad sendiri mengaku menempuh kedua jalan itu sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi.
http://www.alabidin.org/ir-as-sayid-al-habib-ahyad-bin-abdullah-banahsan/

Al-Habib Abdullah Ba’alawi Ibnul Ustadzul A’dzam


Beliau dikenali sebagai salah seorang ulama besar dan wali yang kenamaan di masanya. Tentang karamahnya pernah diceritakan bahawasanya pada suatu hari beliau melihat seorang minum Khamer di Mekkah. Beliau memperingatkan orang itu agar berhenti dari perbuatan mungkarnya. Namun peminum Khamer itu menjawab: “Aku adalah seorang penjahit, aku minum Khamer ini agar membantu daya khayalku dalam menjahit”. Tanya beliau: “Maka Allah memberimu kekayaan apakah anda akan mengulangi perbuatanmu yang semacam ini?” Jawab peminum itu: “Tidak”. Mendengar ucapan orang itu beliau segera mendoakan agar ia diberi kekayaan dan dibukakan jalan untuk bertaubat. Berkat doa beliau orang itu bertaubat dan Allah pun memberinya kekayaan yang berlimpah-limpah.
Sebahagian riwayat mengatakan bahawa Ahmad bin Abdullah Ba’amir pernah bercerita: “Aku pernah menitipkan wang beberapa Dirham kepada Muhammad Ba’ubaid. Kebetulan rumah Muhammad Ba’ubaid terbakar dan hartaku pun ikut terbakar sehingga aku sangat susah kerananya. Aku datang kepada guruku Sayid Abdullah Ba’alawi untuk kuadukan persoalanku tersebut. Narnun beliau tidak menanggapi persoalanku itu. Isterinya memohon pertolongan pada beliau agar beliau mau menolong padaku. Beliau mengatakan sesuatu pada pelayannya. Pelayan itu segera meninggalkan beliau. Tidak seberapa lama ia datang dengan membawa sebuah kantung yang berisi wang Dirham. Sekantung wang Dirham itu segera diserahkan padaku. Waktu kuperhatikan seluruh wang Dirham yang ada dalam kantung itu ternyata adalah wangku yang terbakar di rumah Muhammad Ba’ubaid”.
Diriwayatkan bahawasanya ada serombongan kaum fakir yang lapar datang kepada beliau. Beliau menyuruh pelayannya untuk pergi tempat penyimpanan kurma. lawab pelayannya: “Tempat penyimpanan kurma itu telah habis isinya”. Beliau tetap menyuruh pelayannya untuk pergi mengambil kurma dari tempat tersebut. Narnun pelayan itu tetap menjawab seperti jawabannya semula. Setelah itu beliau berkata: “Pergilah ke tempat penyimpanan kurma itu nanti kamu akan mendapatkan kurma di tempat tersebut”. Waktu pelayan itu pergi ke tempat penyimpanan kurma yang ditunjukkan oleh beliau ternyata ia dapatkan kurma dalam tempat itu cukup untuk memberi makan sekelompok kaum fakir yang berkumpul di rumah beliau. Bahkan setiap orang dari mereka pulang dengan perut kenyang dan membawa sisa kurma yang masih banyak itu ke rumahnya masing-masing.mendamaikannya dengan keluarga Bani Ahmad yang mengancam untuk merosak ladangnya. Beliau segera menunggang kudanya pergi ke tempat Bani Ahmad dan menganjurkan mereka untuk mengurungkan niat mereka. Namun mereka menolak anjuran beliau. Untuk merendahkan keterangan itu beliau berkata: “Ladang orang itu adalah milikku jangan kamu berani mengganggunya kalau ingin selamat”. Kemudian beliau pergi meninggalkan keluarga Bani Ahmad. Mendengar tentangan yang sedemikian itu sebahagian orang tua dari keluarga Bani Ahmad berkata: “Sebenarnya kamu telah mendengar apa yang diucapkan oleh Sayid Abdullah dan aku takut kamu akan merasakan akibatnya jika kamu sampai berani melaksanakan niat kamu, sebaiknya kamu kirimkan keldai kamu untuk makan dari hasil ladang petani itu, jika ia selamat maka kamu boleh melaksanakan niat kamu, namun jika ia terkena musibah maka kamu harus meninggalkan niat kamu”. Usul baik itu diterima dan segera mereka mengirirnkan keldai mereka untuk merosak tanaman dari ladang petani itu. Waktu keldai mereka makan sebahagian dari tanaman yang ada dalam ladang petani itu, dengan izin Allah keldai itu jatuh tersungkur mati seketika itu juga. Sehingga mereka tidak jadi melaksanakan niat mereka.
Diriwayatkan bahawa salah seorang murid beliau yang bernama Syeikh Muflih bin Abdillah bin Fahd pernah menceritakan tentang pengalamannya dengan beliau: “Di suatu tahun ketika aku akan berangkat ke Haji aku datang pada Sayid Abdullah bin Alwi untuk minta izin dan minta bantuan wang buat ongkos dalam perjalanan. Jawab beliau: “Apakah kamu mau menerimanya di sini ataukah aku pesankan pada salah seorang kawan kami yang berada di Mina untuk memberikan segala macam keperluanmu?” Jawabku: “Biar aku minta di Mina saja”. Jawab beliau: “Jika kamu telah sampai di Mina carilah si Fulan bin Fulan kelak ia akan memberikan segala apa yang kamu minta”. Tepat setelah selesai menjalankan ibadat Haji waktu kami tanyakan orang yang disebutkan oleh Sayid Abdullah itu, kami ditunjukkan ke tempatnya oleh orang yang mengenalnya. Setelah bertemu dengan orang yang kucari, aku terangkan apa yang dikatakan oleh Sayid Abdullah padaku. Orang tersebut menanyakan padaku dimanakah beliau sekarang berada?” Aku jawab: “Beliau kini sedang berada di kota Tarim (Hadramaut)”. Orang itu hanya meniawab: “Kelmarin di hari Wuquf beliau berkumpul dengan kami di Arafah sambil memakai pakaian ihram”. Kemudian orang itu memberikan apa yang kuminta padanya. Waktu aku tiba di kota Tarim beliau menyambut kedatanganku dari Haji sambil mengucapkan selamat. Jawabku: “Aku ucapkan selamat pula bagimu, aku dengar dari orang itu bahawa Sayid kelmarin berwuquf di Arafah juga”. Jawab beliau: “Jangan kamu beritahukan pada seorangpun tentang kehadiranku di Arafah selama aku masih hidup”.
Sayid Abdullah bin Alwi ini wafat di tahun 731 H, dalam usia sembilan puluh tiga tahun.
Dipetik dari: Kemuliaan Para Wali - karangan Zulkifli Mat Isa, terbitan Perniagaan Jahabersa

Kamis, 07 Oktober 2010

MBAH KH. DALHAR WATUCONGOL

Ditulis oleh : Muhammad Wava Al-Hasani
Berikut ini adalah ringkasan manaqib beliau yang penulis peroleh dari keterangan keluarga. Terutama kakek penulis yaitu KH Ahmad Abdul Haq dan beberapa petikan catatan yang penulis peroleh dari catatan – catatan Mbah Kyai Dalhar.
Kelahiran & NasabnyaMbah Kyai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H atau 10 Syawal 1798 – Je (12 Januari 1870 M). Ketika lahir beliau diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang mudda'i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Kyai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kyai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kyai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.
Diriwayatkan, Kyai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton karena beliau memang lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Belakangan waktu baru diketahui jika beliau hidup menyepi didaerah Godean, Yogyakarta. Sekarang desa tempat beliau tinggal dikenal dengan nama desa Tetuko. Sementara itu salah seorang putera beliau yang bernama Abdurrauf juga mengikuti jejak ayahnya yaitu senang mengkaji ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan beliau untuk bersama – sama memerangi penjajah Belanda, Abdurrauf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran.
Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan secara habis – habisan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan figure – figure yang dapat membantu perjuangan beliau melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad dimasyarakat. Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau lalu membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kyai Abdurrauf.
Pesantren Kyai Abdurrauf ini dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Abdurrahman. Namun letaknya bergeser ke sebelah utara ditempat yang sekarang dikenal dengan dukuh Santren (masih dalam desa Gunung Pring). Sementara ketika masa dewasa mbah Kyai Dalhar, beliau juga meneruskan pesantren ayahnya (Kyai Abdurrahman) hanya saja letaknya juga dieser kearah sebelah barat ditempat yang sekarang bernama Watu Congol. Adapun kisah ini ada uraiannya secara tersendiri.
Ta'lim dan rihlahnyaMbah Kyai Dalhar adalah seorang yang dilahirkan dalam ruang lingkup kehidupan pesantren. Oleh karenanya semenjak kecil beliau telah diarahkan oleh ayahnya untuk senantiasa mencintai ilmu agama. Pada masa kanak – kanaknya, beliau belajar Al-Qur'an dan beberapa dasar ilmu keagamaan pada ayahnya sendiri yaitu Kyai Abdurrahman. Menginjak usia 13 tahun, mbah Kyai Dalhar mulia belajar mondok. Ia dititipkan oleh sang ayah pada Mbah Kyai Mad Ushul (begitu sebutan masyhurnya) di Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Disini beliau belajar ilmu tauhid selama kurang lebih 2 tahun.
Sesudah dari Salaman, mbah Kyai Dalhar dibawa oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen. Saat itu beliau berusia 15 tahun. Oleh ayahnya, mbah Kyai Dalhar diserahkan pendidikannya pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang ma'ruf dengan laqobnya Syeikh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Delapan tahun mbah Kyai Dalhar belajar di pesantren ini. Dan selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh. Itu terjadi karena atas dasar permintaan ayah beliau sendiri pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani.
Kurang lebih pada tahun 1314 H/1896 M, mbah Kyai Dalhar diminta oleh gurunya yaitu Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani untuk menemani putera laki – laki tertuanya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani thalabul ilmi ke Makkah Musyarrafah. Dalam kejadian bersejarah ini ada kisah menarik yang perlu disuri tauladani atas ketaatan dan keta'dziman mbah Kyai Dalhar pada gurunya. Namun akan kita tulis pada segmen lainnya.
Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani punya keinginan menyerahkan pendidikan puteranya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani kepada shahib beliau yang berada di Makkah dan menjadi mufti syafi'iyyah waktu itu bernama Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani (ayah Syeikh As_Sayid Muhammad Sa'id Babashol Al-Hasani). Sayid Abdurrahman Al-Hasani bersama mbah Kyai Dalhar berangkat ke Makkah dengan menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Dikisahkan selama perjalanan dari Kebumen, singgah di Muntilan dan kemudian lanjut sampai di Semarang, saking ta'dzimnya mbah Kyai Dalhar kepada putera gurunya, beliau memilih tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayid Abdurrahman. Padahal Sayid Abdurrahman telah mempersilahkan mbah Kyai Dalhar agar naik kuda bersama. Namun itulah sikap yang diambil oleh sosok mbah Kyai Dalhar. Subhanallah.
Sesampainya di Makkah (waktu itu masih bernama Hejaz), mbah Kyai Dalhar dan Sayid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri tinggal) Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani yaitu didaerah Misfalah. Sayid Abdurrahman dalam rihlah ini hanya sempat belajar pada Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani selama 3 bulan, karena beliau diminta oleh gurunya dan para ulama Hejaz untuk memimpin kaum muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu. Sementara itu mbah Kyai Dalhar diuntungkan dengan dapat belajar ditanah suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun.
Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani inilah yang kemudian memberi nama "Dalhar" pada mbah Kyai Dalhar. Hingga ahirnya beliau memakai nama Nahrowi Dalhar. Dimana nama Nahrowi adalah nama asli beliau. Dan Dalhar adalah nama yang diberikan untuk beliau oleh Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani. Rupanya atas kehendak Allah Swt, mbah Kyai Nahrowi Dalhar dibelakang waktu lebih masyhur namanya dengan nama pemberian sang guru yaitu Mbah Kyai "Dalhar". Allahu Akbar.
Ketika berada di Hejaz inilah mbah Kyai Dalhar memperoleh ijazah kemusrsyidan Thariqah As-Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah aurad Dalailil Khoerat dari Sayid Muhammad Amin Al-Madani. Dimana kedua amaliyah ini dibelakang waktu menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan nama beliau di Jawa.
Riyadhah dan amaliahnyaMbah Kyai Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan riyadhah. Sehingga pantas saja jika menurut riwayat shahih yang berasal dari para ulama ahli hakikat sahabat – sahabatnya, beliau adalah orang yang amat akrab dengan nabiyullah Khidhr as. Sampai – sampai ada putera beliau yang diberi nama Khidr karena tafaullan dengan nabiyullah tersebut. Sayang putera beliau ini yang cukup 'alim walau masih amat muda dikehendaki kembali oleh Allah Swt ketika usianya belum menginjak dewasa.
Selama di tanah suci, mbah Kyai Dalhar pernah melakukan khalwat selama 3 tahun disuatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3 buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunan beliau serta para santri – santrinya. Dalam hal adab selama ditanah suci, mbah Kyai Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk qadhil hajat, beliau lari keluar tanah Haram.
Selain mengamalkan dzikir jahr 'ala thariqatis syadziliyyah, mbah Kyai Dalhar juga senang melakukan dzikir sirr. Ketika sudah tagharruq dengan dzikir sirnya ini, mbah Kyai Dalhar dapat mencapai 3 hari 3 malam tak dapat diganggu oleh siapapun. Dalam hal thariqah As-Syadziliyyah ini menurut kakek penulis KH Ahmad Abdul Haq, beliau mbah Kyai Dalhar menurunkan ijazah kemursyidan hanya kepada 3 orang. Yaitu, Kyai Iskandar, Salatiga ; KH Dimyathi, Banten ; dan kakek penulis sendiri yaitu KH Ahmad Abdul Haq.
Sahrallayal (meninggalkan tidur malam) adalah juga bagian dari riyadhah mbah Kyai Dalhar. Sampai dengan sekarang, meninggalkan tidur malam ini menjadi bagian adat kebiasaan yang berlaku bagi para putera – putera di Watucongol.
KaramahnyaSebagai seorang auliyaillah, mbah Kyai Dalhar mempunyai banyak karamah. Diantara karamah yang dimiliki oleh beliau ialah :
Suaranya apabila memberikan pengajian dapat didengar sampai jarak sekitar 300 meter walau tidak menggunakan pengeras suara
Mengetahui makam – makam auliyaillah yang sempat dilupakan oleh para ahli, santri atau masyarakat sekitar dimana beliau – beliau tersebut pernah bertempat tinggal
Dll
Karya – karyanyaKarya mbah Kyai Dalhar yang sementara ini dikenal dan telah beredar secara umum adalah Kitab Tanwirul Ma'ani. Sebuah karya tulis berbahasa Arab tentang manaqib Syeikh As-Sayid Abil Hasan 'Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, imam thariqah As-Syadziliyyah. Selain daripada itu sementara ini masih dalam penelitian. Karena salah sebuah karya tulis tentang sharaf yang sempat diduga sebagai karya beliau setelah ditashih kepada KH Ahmad Abdul Haq ternyata yang benar adalah kitab sharaf susunan Syeikh As-Sayid Mahfudz bin Abdurrahman Somalangu. Karena beliau pernah mengajar di Watucongol, setelah menyusun kitab tersebut di Tremas. Dimana pada saat tersebut belum muncul tashrifan ala Jombang.
Murid – muridnyaBanyak sekali tokoh – tokoh ulama terkenal negara ini yang sempat berguru kepada beliau semenjak sekitar tahun 1920 – 1959. Diantaranya adalah KH Mahrus, Lirboyo ; KH Dimyathi, Banten ; KH Marzuki, Giriloyo dll.
WafatnyaSesudah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, Mbah Kyai Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H) atau bertepatan dengan 8 April 1959 M. Ada yang meriwayatkan jika beliau wafat pada 23 Ramadhan 1959. Akan tetapi 23 Ramadhan 1959 bukanlah hari Rabu namun jatuh hari Kamis Pahing. Menurut kakek penulis yaitu KH Ahmad Abdul Haq (putera laki-laki mbah Kyai Dalhar), yang benar mbah Kyai Dalhar itu wafat pada hari Rabu Pon.
Demikianlah manaqib singkat yang sebenarnya ditulis semoga menjadikan faham pada semua pihak. Penulis adalah cucu dari Mbah Kyai Dalhar dari jalur ibu. Adapun nasabnya yang sampai pada beliau dengan tartib adalah ibu penulis sendiri bernama Fitriyati binti KH Ahmad Abdul Haq bin KH Nahrowi Dalhar.
(sumber: http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=129213379833)

Senin, 04 Oktober 2010

KH. Bisri Syansuri

Faqih yang Tegas nan Santun

Pertengahan Juni ini, Ponpes Mambaul Maarif Denanyar, Jombang memiliki hajat besar. Ribuan orang diperkirakan memadati lokasi pesatren untuk menghadiri agenda acara tahunan Haul ke-31 wafatnya KH Bisri Syansuri dan bersama-sama meneladani keteguhan prinsip dan kecintaannya kepada ilmu fiqih, Islam dan bangsa.

Pembicarakan kisah hidup Kiai Bisri berarti membicarakan kecintaan seorang ulama terhadap ilmu fiqih. Karena saking cintanya, Kiai Bisri dikenal sebagai ulama yang tegas memegang prinsip. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga cucunya sendiri, menyebut Kiai Bisri sebagai “Pecinta Fiqih Sepanjang Hayat” yang ter-muat sebagai judul buku yang ia tulis.

Ada kisah menarik yang termuat dalam buku Gus Dur. KH Abdul Wahab Chasbullah sering sekali berbeda pendapat dengan Kiai Bisri. Kiai Wahab, menurut Gus Dur, lahir sebagai anak kaya di Bibis, Kota Surabaya. Ibunya memiliki ratusan rumah di daerah tersebut yang disewa oleh orang-orang Arab pada paruh kedua abad ke-19 Masehi.
Sebaliknya, Kiai Bisri lahir beberapa tahun kemudian, di tengah-tengah keluarga miskin di kawasan Tayu Wetan, Pati, Jawa Tengah. Dia belajar di pesantren lokal dan kemudian di pesantren KH Cholil Demangan, Bangkalan. Di sanalah dia bertemu dengan Kiai Wahab.

Kiai Bisri muda dapat terus menjadi santri karena ia mencuci pakaian dan menanak nasi untuk kawan barunya itu, Kiai Wahab muda. Segera Kiai Bisri muda menjadi orang kepercayaan Wahab muda karena jujur dan rajin. Jadi, urusannya sudah bukan lagi menyangkut pakaian dan makanan, tetapi sudah berkaitan dengan watak dan tempramen. Walaupun begitu, keahlian ilmu agama Islam kedua orang itu juga saling berbeda.
Perbedaannya terletak pada bidang ilmu agama yang mereka senangi. Kiai Wahab senang pada ilmu ushul fiqh, sedangkan Kiai Bisri menyukai tafsir dan hadits Nabi Muhammad SAW. Bidang itu juga dinamai kajian naqly, bertumpu kepada ayat-ayat Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, Kiai Bisri tidak banyak berkutat dengan penggunaan akal (rasio) sebagaimana Kiai Wahab. Pernah Kiai Wahab bertanya kepada Gus Dur; “Saya dengar kakekmu itu tidak pernah makan di warung?” Gus Dur menjawab, “Memang benar demikian.”

Kiai Wahab kembali bertanya, “Mengapa?” Gus Dur menjawab, “Kiai Bisri tidak menemukan hadits yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah makan di warung.” Kiai Abdul Wahab menga-takan; “Ya, tentu saja karena waktu itu belum ada warung.”
Tetapi pergaulan mereka, tokoh tekstual di satu sisi dan tokoh satunya yang senang menggunakan rasio, ternyata sangat erat. Hal ini tampak ketika ada bahtsul masail. Gus Dur pernah menyaksikan sekitar 40-an orang kiai berkumpul dari pagi hingga sore hari di ruang tamu Kiai Bisri.Ternyata, keduanya berdebat seru, yang satu membolehkan dan yang satu lagi melarang sebuah perbuatan.

Demikian seru mereka berbeda, hingga akhirnya semua kiai yang lain menutup buku/kitab mereka dan mengikuti saja kedua orang itu berdebat. Sampai-sampai, baik Kiai Abdul Wahab maupun Kiai Bisri berdiri dari tempat duduk mereka sambil memukul-mukul meja marmer yang mereka gunakan berdiskusi. Muka keduanya me-merah karena bertahan pada pen-dirian masing-masing.

Akhirnya kemudian Kiai Abdul Wahab menyerang, “Kitab yang Sampeyan gunakan adalah cetakan Kudus, sedangkan kitab saya adalah cetakan Kairo.” Ini adalah tanda Kiai Abdul Wahab kalah argumentasi dan akan menerima pandangan Kiai Bisri. Walau pada forum bahtsul masail itu mereka berbicara sampai memukul-mukul meja dengan wajah memerah, namun ketika tiba-tiba beduk ber-bunyi, Kiai Bisri segera berlari ke sumur di dekat ruang pertemuan tersebut. Di sana, dia naik ke pinggiran sumur dan menimbakan air wudhu bagi iparnya itu. Beda pendapat boleh tapi harus tetap rukun. Demikian kira-kira pegangan mereka.

Kisah menarik lainnya terdapat di buku “Menapak Jejak Mengenal Watak, Sekilas Biografi 26 Tokoh NU”. Dalam resepsi penutupan Kongres Gerakan Pemuda Ansor di Surabaya, April 1980, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) membisiki seseorang, “Sakitnya KH Bisri Syansuri semakin parah. Beliau dalam keadaan tidak sadar siang tadi ketika saya tinggalkan berangkat kemari,” ujarnya. Orang yang diberitahu tersentak mendengar bisikan itu. Sebab tiga hari sebelumnya, dia ikut hadir di ruang tamu rumahnya, sewaktu pendiri dan pemimpin Ponpes Mambaul Maarif itu menerima Probosutedjo, pengusaha kenamaan dan adik Presiden Soeharto.
Probosutedjo diundang untuk memberikan ceramah tentang kewiraswastaan dalam Kongres Ansor di Surabaya. Kehadirannya memenuhi undangan tersebut di-manfaatkan sekaligus untuk me-ngunjungi Kiai Bisri yang sedang dalam keadaan sakit. Ketika itu Kiai Bisri menjemput sendiri tamunya di teras tempat kediamannya. Bersa-rung putih dengan garis kotak-kotak kebiruan, mengenakan baju putih dan berkopiah haji. Kiai Bisri mem-persilakan tamu dari Jakarta itu me-masuki ruang depan rumahnya yang tua dan berperabotan sederhana.

Wajahnya, seperti biasa, tampak jernih. Dengan sabar penuh perhatian ia mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh tamunya. Dan dengan suara lembut ia menjawab setiap pertanyaan, menjawab salam dari Presiden Soeharto yang disampaikan oleh Probosutedjo dan dengan halus menolak tawaran berobat ke luar negeri.
Terdapat pula kisah Kiai Bisri dalam buku “Antologi NU; Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah” jilid I. Saat berlangsung Sidang Umum MPR tahun 1978 ada peristiwa luar biasa. Fraksi PPP tidak sepakat dengan keputusan fraksi lain. Setelah berkali-kali adu argumentasi mengenai rancangan ketetapan MPR tentang P4 namun tetap tidak membuahkan hasil. Sementara partai sudah meng-gariskan untuk memegang teguh ama-nat itu, mereka pun keluar sidang.

Seluruh anggota Fraksi PPP segera berdiri. Dipimpin langsung oleh KH Bisri Syansuri, mereka beriringan walk out sebagai tanda tidak setuju terhadap hasil keputusan. Meski sudah berusia 92 tahun, kiai yang menciptakan lambang ka’bah bagi PPP itu malah berjalan paling depan.

Ketegasan lain nampak tatkala DPR membahas RUU tentang perkawinan. Secara kesluruhan RUU itu dinilai banyak bertentangan dengan ketentuan hukum agama Islam. Maka, di mata Kiai Bisri, menghadapi kasus itu, tidak ada alternatif lain kecuali menolaknya.

Langkah pertama yang Kiai Bisri lakukan adalah dengan mengumpulkan sejumlah ulama di daerah Jombang untuk membuat RUU tandingan yang akan diajukan ke DPR-RI. Setelah RUU tandingan itu selesai dibahas, lalu disampaikan ke PBNU, yang diterima secara aklamasi.

Setelah itu amandemen RUU itu diajukan ke Majelis Syuro PPP dan diterima. DPP PPP memerintahkan Fraksi PPP DPR-RI agar menjadikan RUU tandingan itu sebagai rancangan yang diterima dan harus diperjuangkan. Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, serta lebih banyak dilakukan di luar gedung DPR-RI, akhirnya RUU itu disahkan setelah ada revisi dan tidak lagi bertentangan dengan hukum Islam.

Pecinta Ilmu Sejati
Kiai Bisri dilahirkan di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah, tanggal 18 September 1886. Ayahnya bernama Syansuri dan ibunya bernama Mariah. Kiai Bisri adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang memperoleh pendidikan awal di beberapa pesantren lokal, antara lain pada KH Abdul Salam di Kajen.

Kiai Bisri kemudian berguru kepada KH Kholil di Bangkalan dan KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.

Kiai Bisri kemudian mendalami pendidikannya di Mekkah dan belajar ke pada sejumlah ulama terkemuka antara lain Syekh Muhammad Baqir, Syekh Muhammad Sa’id Yamani, Syekh Ibrahim Madani, Syekh Jamal Maliki, Syekh Ahmad Khatib Padang, Syekh Syu’aib Daghistani, dan Kiai Mahfuz Termas. Ketika berada di Mekkah, Kiai Bisri menikahi adik perempuan Kiai Wahab. Di kemudian hari, anak perempuan Kiai Bisri menikah dengan putra KH Hasyim As’ari, KH Wahid Hasyim dan memiliki putra Gus Dur dan KH Solahuddin Wahid (Gus Sholah).

Sepulangnya dari Mekkah, Kiai Bisri menetap di pesantren mertuanya di Tambak Beras, Jombang, selama dua tahun. Kiai Bisri ke-mudian mendirikan Ponpes Mam-baul Maarif di Denanyar, Jombang pada 1917. Saat itu, Kiai Bisri adalah kiai pertama yang mendirikan kelas khusus untuk santri-santri wanita di pesantren yang didirikannya.
Di sisi pergerakan, Kiai Bisri bersama-sama para kiai muda saat itu antara lain Kiai Wahab, KH Mas Mansyur, KH Dahlan Kebondalem dan KH Ridwan, membentuk klub kajian yang diberi nama Taswirul Afkar (konseptualisasi pemikiran) dan sekolah agama dengan nama yang sama, yaitu Madrasah Taswirul Afkar. Sedangkan keterlibatannya dalam upaya pengembangan organisasi NU antara lain berupa pendirian rumah-rumah yatim piatu dan pelayanan kesehatan yang dirintis-nya di berbagai tempat.

Di masa penjajahan Jepang, Kiai Bisri terlibat dalam pertahanan negara, yakni menjadi Kepala Staf Markas Oelama Djawa Timur (MODT), yang berkedudukan di Waru, dekat Surabaya.

Pada masa kemerdekaan Kiai Bisri pun terlibat dalam lembaga peme-rintahan, antara lain dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), me-wakili unsur Masyumi. Kiai Bisri juga menjadi anggota Dewan Konstitu-ante tahun 1956 hingga ke masa pemilihan umum tahun 1971. Ketika NU bergabung ke PPP, Kiai Bisri pernah menjadi ketua Majelis Syuro-nya. Kiai Bisri terpilih menjadi ang-gota DPR sampai tahun 1980. Kiai Bisri kemudian wafat dalam usia 94 tahun pada 25 April 1980 atau berte-patan dengan bulan Rajab di Denanyar.

Mundur dari Jabatan Rais Am
Jasa Kiai Bisri dalam membesarkan NU juga tak patut dilupakan. Kiai Bisri turut terlibat terlibat dalam pertemuan pada 31 Januari 1926 di Surabaya saat para ulama menye-pakati berdirinya NU. Pada periode pertama, Kiai Bisri menjadi A’wan Syuriah PBNU dan kemudian pada periode-periode berikutnya Kiai Bisri pernah menjadi Rais Syuriah, Wakil Rais Am dan menjadi Rais Am hingga akhir hayatnya.

Meski dikenal tegas dalam mem-pertahankan prinsip, kesantunan Kiai Bisri juga tak perlu diragukan. Saat berlangsungnya Muktamar NU ke-24 pada tahun 1967 di Bandung, Kiai Bisri menunjukkan sikap tawadlu’ yang perlu kita teladani.

Ketika itu sedang terjadi pemili-han Rais Am yang melibatkan “rivalitas” antara dua kiai sepuh yang sama-sama berwibawa, yaitu Kiai Wahab yang saat itu menjabat Rais Am (incumbent) dengan Kiai Bisri yang menjadi salah satu Rais Syuriah PBNU. Hasil pemilihan ternyata di luar dugaan. Walaupun lebih muda, tiba-tiba Kiai Bisri bisa meraih suara terbanyak. Kiai Wahab pun menerima kekalahan dengan berbesar hati, apalagi yang menga-lahkan sahabat dekatnya sekaligus adik iparnya sendiri.
Demikian halnya Kiai Bisri yang memperoleh kemenangan juga sangat rendah hati. Walaupun telah dipilih oleh muktamirin, tetapi kemudian Kiai Bisri segera memberikan sambutan, selama masih ada Kiai Wahab yang lebih senior dan lebih alim Kiai Bisri tidak bersedKiai Bisri menduduki jabatan itu. “Karena itu saya menyatakan untuk mengundurkan diri dan kembali menyerah-kan jabatan itu kepada Kiai Wahab Chasbullah.”

Menanggapi sikap Kiai Bisri, Kiai Wahab menerima amanah itu. Tidak perlu merasa tersinggung, karena walaupun sudah uzur tetapi merasa masih dibutuhkan untuk memimpin NU dalam menghadapi situasi sulit masa orde baru. Sementara Kiai Bisri dipercaya sebagai Wakil Rais Am. Kemudian ketika Kiai Wahab wafat pada tahun 1971, baru Kiai Bisri menduduki posisi sebagai Rais Am hingga wafat pada tahun 1980. (AULA Juni 2010)

K.H. Wahab Chasbullah

Ia lahir pada bulan Maret 1888 di Tambakberas, Jombang. Nasabnya tidak jauh dari Hasyim Asy`ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan dari Kiai Abdus Salam (Siapa dia?).

Ayahnya, Chasbullah, adalah pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas. Ibunya, Nyai Lathifah, juga putri kiai kondang (Siapa?).

Pendidikannya dihabiskan di pesantren, mulai dari Pesantren Langitan (Tuban), Mojosari, Nganjuk, di bawah bimbingan Kiai Sholeh, Pesantren Cepoko, Tawangsari (Surabaya), hingga Pesantren Kademangan, Bangkalan (Madura), langsung berguru kepada Mbah Cholil. Kiai Cholil kemudian menganjurkannya belajar ke Pesantren Tebuireng (Jombang).

Pada umur 27, ia pergi ke Makkah dan berguru kepada ulama-ulama besar Indonesia yang bermukim di sana, seperti Kiai Mahfudz Termas, Kiai Muhtarom Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabaw, Kiai Bakir Yogya, Kiai Asy`ari Bawean. Ia juga belajar kepada tokoh-tokoh besar lain di sana yang bukan orang Indonesia, seperti Syaikh Sa`id Al-Yamani dan Syaikh Umar Bajened.

Tahun 1921, sewaktu menunaikan ibadah haji bersama istri, sang istri meninggal di Makkah. Kemudian ia menikah dengan Alawiyah binti Alwi. Setelah melahirkan seorang anak, istri kedua ini juga meninggal. Setelah itu ia menikah berturut-turut dengan tiga wanita yang semuanya tidak memberikan keturunan. Empat anak diperolehnya dari istri berikutnya, Asnah binti Kiai Said.

Setelah Asnah meninggal, ia menikah lagi dengan Fatimah binti H. Burhan, seorang janda yang punya anak bernama Syaichu, yang kelak menjadi ketua DPR pada masa Orde Baru. Sesudah itu ia menikah lagi dengan Masnah, dikaruniai seorang anak, lalu dengan Ashikhah binti Kiai Abdul Majid (Bangil), meninggal di Makkah setelah memberinya empat anak, dan yang terakhir dengan Sa`diyah, kakak sang istri, yang mendampinginya sampai akhir hayatnya dan memberinya keturunan lima anak.

Sedikit mundur ke belakang, tahun 1914, ketika berumur 26 tahun, ia mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) bersama K.H. Mas Mansur.

Pada tahun 1916, ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri) di Surabaya. Pengajarnya terdiri dari banyak ulama tradisional muda, seperti K.H. Bisri Syansuri (1886-1980) dan K.H. Abdullah Ubaid (1899-1938), yang di kemudian hari memainkan peranan penting di NU.

Masih pada tahun yang sama, bersama Kiai Hasyim Asy’ari (1871-1947), ia mendirikan koperasi dagang Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) untuk kalangan tradisionalis di kisaran Surabaya-Jombang.
Pada tahun 1920, ia juga aktif dalam Islam Studie Club, jembatan untuk menghubungkan dirinya dengan tokoh-tokoh nasionalis modernis, seperti dr. Soetomo.

Sejak 1924, Wahab Chasbullah telah mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis.

Pada 31 Januari 1926, atas persetujuan Hasyim Asy`ari, ia mengundang para ulama terkemuka dari kalangan tradisionalis ke Surabaya untuk mengesahkan terbentuknya Komite Hijaz, yang akan mengirim delegasi ke kongres di Makkah untuk mempertahankan praktek-praktek keagamaan yang dianut kaum tradisionalis. Pertemuan 15 kiai terkemuka dari Jawa dan Madura itu dilakukan di rumah Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya.

Pertemuan tersebut akhirnya juga menghasilkan kesepakatan mendirikan NU, sebagai representasi Islam tradisional, untuk mewakili dan memperkukuh Islam tradisional di Hindia Belanda.

Kemudian, MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia, Dewan Tertinggi Islam di Indonesia), yang terbentuk pada September 1937, juga merupakan gagasan Wahab Chasbullah dan Ahmad Dahlan Kebondalem (NU), Mas Mansur (Muhammadiyah), dan Wondoamiseno (SI). Federasi organisasi Islam ini bertujuan meningkatkan komunikasi dan kerja sama di antara umat Islam.

Namun kemudian MIAI dibubarkan oleh Jepang dan dibentuklah Masyumi pada November 1943. Hasyim Asy`ari ditunjuk sebagai ketua umum dan Whab Chasbullah sebagai penasihat dewan pelaksananya.

Meski Masyumi adalah organisasi non-politik, pada kenyataannya fungsinya setengah politis, dimaksudkan untuk memperkuat dukungan umat Islam terhadap pemerintahan Jepang.

November 1945, Masyumi berubah menjadi parpol. Masyumi menjadi satu-satunya kendaraan politik umat Islam. Hasyim Asy`ari menjadi ketua umum Majelis Syuro (Dewan Penasihat Keagamaan), Wahid Hasyim, putra Hasyim Asy`ari, menjadi wakilnya, dan Wahab Chasbullah menjadi anggota dewan.

Selanjutnya, setelah NU menyetujui peran politik bagi Masyumi lewat muktamar di Purwokerto (1946), orang-orang NU tampil di pemerintahan, yakni Wahid Hasyim, Kiai Masykur, dan K.H. Fathurahman Kafrawi. Sedang Wahab Chasbullah menjadi anggota DPA.

Tahun 1947, Wahab Chasbullah menjabat rais am NU.

Benih-benih krisis NU-Masyumi mulai tumbuh pada 1952. Saat itu Wahab Chasbullah menjadi ketua Dewan Syuro. Maka ia sangat gencar mengkampanyekan penarikan diri NU dari Masyumi. Dan secara resmi NU menarik diri dari Masyumi pada 31 Juli 1952. Pada sidang parlemen 17 September 1952, tujuh anggota parlemen dari NU menarik diri dari Masyumi. Di antaranya Wahab Chasbullah, Idham Chalid, Zainul Arifin.

Mereka kemudian membentuk partai sendiri, NU. Akibatnya, Masyumi bukan lagi partai terbesar. “Gelar” itu jatuh ke tangan PNI.

Pada Pemilu 1955, di luar dugaan, NU meraih tempat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Sejak itu kesibukan Wahab Chasbullah lebih banyak pada bidang politik praktis di Jakarta, terutama sebagai anggota parlemen dan rais am NU.

K.H. Wahab Chasbullah wafat tanggal 29 Desember 1971, pada usia 83 tahun, di rumahnya di Kompleks Pesantren Tambakberas, Jombang.

Jumat, 01 Oktober 2010

Habib Syekh Al-Musawa Surabaya (Guru para Kiai dan Habaib)

Ia dikenal sebagai guru para ulama dan habaib. Seperti ulama yang lain, masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu. Meski sudah berusia 85 tahun, ia masih membuka taklim di Surabaya.

Sore itu langit cerah. Suasana di sekitar sebuah gedung di perkampungan Arab Jalan Kalimasudik II Surabaya tampak lengang. Melalui lorong gang sempit di kawasan yang tak jauh dari kompleks Ampel, alKisah sempat berziarah ke rumah Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa, seorang ulama yang kini sudah berusia 85 tahun. Dulu, ia dikenal sebagai muballigh di berbagai majelis taklim di Jakarta. Bisa dimaklumi jika cukup banyak santrinya yang kini menjadi ulama di Jakarta, seperti K.H. Abdurrahman Nawawi, K.H. Thoyib Izzi, K.H. Zain, dan lain-lain.
Lahir di Purwakarta, Jawa Barat, pada 1921, Habib Syekh Al-Musawa putra pasangan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Musawa dan Sayidah Sa’diyah. Sejak kecil, putra kedua dari tiga bersaudara ini dididik langsung oleh ayahandanya, seorang ulama yang cukup terkenal di masanya. Pada 1930, menginjak usia sembilan tahun, ia belajar ke sebuah rubath (pesantren) di Tarim, Hadramaut. Di sana ia berguru kepada Habib Ahmad bin Umar Asy-Syathiry, pengarang kitab Al-Yaqut an-Nafis, dan Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiry, pengasuh Rubath Tarim. Ia belajar fiqih, tafsir, nahwu, sharaf, balaghah, dan tasawuf, selama 10 tahun.
Namun yang paling ia senangi ialah tasawuf. ”Pelajaran tasawuf sangat saya senangi, karena merupakan salah satu jalan manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf juga menganjurkan orang menjadi bijaksana dan lebih berakhlak,” kata Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa. Selain itu, menurut dia, tasawuf mudah dipelajari – baik dalam keadaan senang maupun susah. Maka ia pun dengan tekun mempelajari kitab tasawuf karya Imam Ghazali, seperti Ihya’ Ulumiddin, Bidayah al-Hidayah, dan lain-lain.Semangat belajarnya yang tinggi membawanya belajar ke Makkah Al-Mukarramah. Meski waktu itu Timur Tengah tak lepas dari imbas suasana Perang Dunia I, tekadnya yang besar tak menyurutkan langkahnya menuju Makkah. Di tengah kecamuk perang itulah, dengan mengendarai unta ia berangkat dari Tarim ke Makkah. Di tengah perjalanan Habib Syekh Al-Musawa terpaksa singgah di beberapa desa, bahkan sempat pula mengajar di perkampungan Arab Badui. Bisa dimaklumi jika perjalanan itu makan waktu sekitar dua bulan.
Di Tanah Suci, ia langsung belajar kepada Sayid Alwy bin Muhammad Al-Maliky. Bermukim di Makkah sekitar lima tahun, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa juga berguru kepada Habib Alwy Shahab, Habib Abdulbari bin Syekh Alaydrus, dan Sayid Amin Al-Kutbi. Di Makkah, ia sempat bertemu para santri asal Indonesia, seperti Habib Ali bin Zain Shahab (Pekalongan), Habib Abdullah Alkaf (Tegal), Habib Abdullah Syami Alatas (Jakarta), Habib Husein bin Abdullah Alatas (Bogor).

Islamic Centre
Pada 1947 Habib Syekh Al-Musawa pulang, lalu menikah dengan Sayidah Nur binti Zubaid di Surabaya. Tak lama kemudian ia mengajar di Madrasah Al-Khairiyah, sambil berguru kepada Habib Muhammad Assegaf di Kapasan, Surabaya. Setelah gurunya itu wafat, ia menggantikan mengajar di majelis taklim almarhum. Tiga tahun kemudian Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa pindah ke Jakarta, mengajar setiap Minggu pagi di majelis taklim Kwitang yang diasuh oleh Habib Muhammad Alhabsyi selama enam tahun. Ia membantu Habib Muhammad membangun Islamic Centre Indonesia (ICI), antara lain berangkat ke beberapa negara Islam di Timur Tengah pada 1967 untuk mencari dana pembangunan ICI.
Setelah pembangunan ICI selesai, Habib Syekh Al-Musawa mengajar majelis taklim asuhan K.H. Muhammad Zein di Kampung Makassar, Kramat Jati, selama setahun. Dan sejak 1971 ia mengajar di Madrasah Az-Ziyadah asuhan K.H. Zayadi Muhajir selama 30 tahun. Setelah Kiai Muhajir wafat, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa menggantikan almarhum mengasuh taklim sampai 2003. Selain mengajar di Az-Ziyadah, ia juga mengajar di majelis taklim Habib Muhammad bin Aqil bin Yahya di Jalan Pedati, Jakarta Timur. Bukan hanya itu, ketika itu ia juga mengajar di 30 majelis taklim lain di berbagai tempat di Jakarta.
Pada 2003, Habib Syekh Al-Musawa kembali ke Surabaya, tinggal di rumahnya yang sekarang di Jalan Kalimasudik II. Bapak delapan anak ini (dua putra, enam putri) sekarang lebih banyak beristirahat di rumah. Meski begitu, banyak santri dari sekitar Surabaya yang datang mengaji kepadanya. Ia mengajar fiqih, nahwu, sharaf, balaghah, tafsir, dan tasawuf.
Saat ini fisiknya memang sudah berubah. Dulu gagah dan tampan, kini agak kurus, sementara wajahnya tampak agak cekung. Hanya dua-tiga patah kata yang ia bisa ucapkan, itu pun tentu saja tak lagi lantang seperti dulu ketika masih muda, saat ia masih bergiat sebagai muballigh. Jalannya pun tak lagi gesit.
Meski begitu, semangatnya untuk membangkitkan dakwah masih bergelora. Ia, misalnya, tetap menyampaikan tausiah, meski hanya kepada para tamunya.
Sorot matanya pun masih jernih, pertanda jiwa dan kalbunya bersih pula. Dengan segala keterbatasannya, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa menerima tamu dengan hangat. Meski sulit berbicara, ulama yang selalu mengenakan gamis dan serban putih ini justru lebih sering menanyakan kondisi kesehatan tamunya.
Selain mengajar privat para santri yang datang ke rumah, ia masih sempat mengajar tasawuf di Majelis Burdah asuhan Habib Syekh bin Muhammad Alaydrus di Jalan Ketapang Kecil setiap Kamis sore sampai menjelang maghrib. Salah satu buah karyanya yang mutakhir ialah kitab Muqtathafat fi al-Masail al-Khilafiyyah (Beberapa Petikan Masalah Khilafiah). Dan kini, meski sudah agak uzur, ia masih bersemangat menyelesaikan sebuah kitab tentang pernikahan dalam pandangan empat ulama madzhab.

http://ajisetiawan.blogspot.com/

KH. Drs. Achmad Masduqi Machfudz

KH. Drs. Achmad Masduqi Machfudz dilahirkan di desa Saripan (Syarifan) Jepara Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. Di desa tersebut, terdapat sebuah makam kuno yang banyak dikenal orang dengan Mbah Jenggolo. Alkisah, berkat karomah dari Mbah Jenggolo ini, dulu ketika baru ada radio dan televisi, siapa saja yang membawa ke desa ini pasti gila. Penyakit gila ini baru akan sembuh kalau kedua alat elektronik dikeluarkan dari Saripan. Keadaan seperti ini masih bisa ditemui semasa Kyai Masduqi masih kecil. Namun perlahan-perlahan seiring dengan perubahan zaman, karomah ini berangsur surut hingga hilang sama sekali.

Kamis, 30 September 2010

Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih Al-Alawy

Hafal Ribuan Hadits
Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.
diringkas dari manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur

Selasa, 21 September 2010

KH. Hasyim Asy'ari

A. Riwayat Hidup K.H. Hasyim Asya’ari
K.H. Hasyim Asy’ari lahr di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari selasa 24 Dzuhijjah 1287 H atau bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, ulama asli Demak, sedang ibunya bernama Halimah, putrid Kyai Usman pengasuh pesantren Gedang, tempat ia dilahirkan .
Masa kecil Asy’ari dijalani di pesantren kakeknya di Gedang, sampai usia 6 tahun. Tahun 1976, ia di ajak pindah ayahnya ke pesantren keras, pesantren yang dibangun ayahnya sendiri. Di pesantren ini, Hasyim kecil menerima pelajaran dasar-dasar keagamaan yang diberikan ayahnya sendiri.
Usia 15 tahun (1886 M), Hasyim berkelana dari pesantren, yaitu pesantren Wonokoyo, Probolinggo, Pelangitan, Tuban, Trenggilin, Madura, Pesantren Demangan dan terakhir dipesantren Siwalan, Surabaya. Di sawalan Hasyim menetap selama 2 tahun dan karena kecerdasannya, oleh Kyai Ya’kub, pengasuh pesantren tersebut, Hasyim dinikahkan dengan putrinya yaitu Khadijah.
Setelah menikah, Hasyim dikirim ke makkah oleh mertuanya untuk menuntut ilmu disana. Hasyim bermukim di makkah selama 7 tahun 1892-1899 M.
Selama itu beliau tidak pernah pulang, kecuali pada tahun pertama saat putranya yang baru lahir meninggal, yang kemudian disusul istrinya.
Selama di makkah. Hasyim belajar di bawah bimbingan ulama terkenal, seperti syekh Ahmad Amin Al-Athor, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawi, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Sa’id Yamani, Syekh Soleh Bafadhol, Syekh Sultan Hasyim Daghastani, dan lain sebagainya.
Selain belajar kepada ulama Hijaz, di tanah suci, Hasyim juga berguru kepada ulama Indonesia sendiri yang mengajar disana, antara lain Syekh Ahmad Minangkabau dan Syekh Mahfuz Al-Termasi asal Jawa Timur. Setelah 7 tahun di makkah. Hasyim kembali ke tanah air dengan membawa bekal pengetahuan dan jiwa yang matang untuk berjuang menegakkan agama dan mengangkat derajat masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan.
Mula-mula hasyim mengajar di pesantren kakeknya, tapi kemudian mendirikan pesantren sendiri di daerah Tebu Ireng, Jombang, dengan santri mula-mula 28 orang. Desa Tebu Ireng adalah daerah rawan karena Masyarakatnya yang belum beragama. Mereka mempunyai mempunyai kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dengan kondisi social yang demikian, pesantren yang didirikan K.H. Hasyim Asy’ari banyak menghadapi tantangan dan gangguan. Akhirnya, bersamaan dengan perjalanan waktu, Tebu Ireng yang demikian kotor berubah menjadi daerah agamis.
K.H. Hasyim Asy’ari tidak hanya berjuang dalam bidang pendidikan. Tapi juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Beliau pernah menduduki jabatan rais akbar pertama NU, tahun 1926-1946 M. K.H. Hasyim Asy’ari juga pernah menduduki jabatan ketua Dewan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), kemudian sebagai pimpinan tertinggi Majelis Syura Muslim Indonesia (MASYUMI)
K.H. Hasyim Asy’ari meninggal pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H / 25 Juli 1947, saat menerima utusan jenderal Sudirman dan Bung Tomo yang menggambarkan situasi di medan pertempuran di Surabaya dan Singosari, Malang. Menurut Kyai Ghufran, saat mendengar di Singosari, belanda banyak membantai rakyat tidak berdosa, K.H. Hasyim Asy’ari pingsan dan menjelang subuh hari ke 7 Ramadhan, K.H. Hasyim Asy’ari berpulang ke Rahmatullah, menurut dokter K.H. Hasyim Asy’ari terkena serangan hersembloending (pendarahan otak secara tiba-tiba). Guna mengenang jasa-jasa Almarhum, pemerintah Indonesia menganugerahkan penghargaan sebagai pahlawan kemerdekaan, berdasarkan keputusan presiden No 294 / 1964.

B. Pemikiran K.H. Hasyim asy’ari
1. Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari di bidang pendidikan
“suatu bangsa tidak akan maju jika warganya bodoh. Hanya dengan pengetahuan, suatu bangsa akan menjadi baik” . Ini pernyataa K.H. Hasyim Asy’ari ketika menyikapi kondisi pendidikan kita yang tebelakang, dan beliau membuktikannya dengan membuat pengajian-pengajian dan membangun pesantren. Diawali dengan 28 santri pada tahun 1899 M, dan telah mempunyai 2000 santri pada tahun 1909.
Dalm pendidikan pesantren K.H. Hasyim Asy’ari membawa perubahan baru sepulangnya dari makkah, antara lain beliau mengenalkan system madrasah, pada tahun 1916 M yang sebelumnya Tebu Ireng menggunakan system Sorogan dan Bandungan dan pada tahun 1919 M, mulai dimasukkan mata pelajaran umum.
Kurikulum madrasah sendiri, sejak tahun 1916 hanya terdiri atas pengetahuan keagamaan saja, tapi sejak tahun 1919 M, mulai ditambah dengan pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Bumi. Disamping itu K.H. Hasyim Asy’ari juga memperkenalkan system musyawarah dan diskusi kelas. System ini ternyata efektif untuk menumbuhkan kreatifitas santri. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari kenyataan bahwa para santri senior yang telah menyelesaikan kelas musyawarah, dikemudian hari ternyata banyak yang menjadi Kyai ternama dan ulama seperti K.H. Abbas Buntet dan dari kelas santri terdapat nama-nama seperti K.H. Masykur, K.H. Syuki Ghazali dan K.H. Asim.
2. Tanggapan terhadap ide reformasi Muhammad Abduh
Saat Hasyim belajar di Makkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran islam. Inti gagasan reformasi Muhammad Abduh adalah :
1) Mengajak umat islam untuk memurnikan kembali islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari islam.
2) Reformasi pendidikan islam di tingkat universitas.
3) Mengkaji dan merumuskan kembali doktrin islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern.
4) Mempertahankan islam.
Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern dimaksudkan agar supaya islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan social, politik, dan pendidikan. Dengan alas an ini, Abduh melancarkan ide agar ummat islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para madzhab dan agar ummat islam meninggalkan segala praktek tarekat .
KH. Hasyim Asy’ari setuju dengan gagasan Muhammad Abduh tersebut guna membangkitkan semangat islam, tetapi beliau tidak setuju dengan “pelepasan diri dari madzhab”. Beliau berkeyakinan bahwa kita tidak mungkin memahami maksud sebenarnya dari Al-Qur’an dan Hadits tanpa mempelajari dan meneliti pemikiran para ulama madzhab hanya akan menghasilkan pemutar balikan ajaran islam yang sebenarnya .
Mengenai tarekat, KH. Hasyim Asy’ari tidak menganggap bahwa semua tarekat salah dan bertentangan dengan ajaran islam. Ada tarekat yang benar dan sesuai dengan ajaran islam, dan ini dijelaskan dalam buku beliau yang berjudul “Al durar Al muntasyirah fi Masail Al-Tis’a’asyarah”.
3. Pemikiran tentang perjuangan melawan kolonialisme
Perjuangan melawan kolonialisme telah dilakukan bangsa Indonesia sejak datangnya penjajah, demi kebebasan agama dan bangsanya.
Sebagai seorang ulama yang anti penjajah, Hasyim Asy’ari senantiasa menanamkan rasa nasionalisme dan semangat perjuangan melawan penjajah. Hal ini dibuktikan dengan seringnya beliau mengeluarkan fatwa-fatwa yang non kooperatif terhadap colonial, seperti pengharaman transfuse dari darah dari ummat islam terhadap Belanda yang berperang melawan Jepang.
Juga tatkala masa revolusi Belanda memberikan ongkos murah bagi ummat islam untuk melakukan ibadah haji, KH. Hasyim Asy’ari justru mengeluarkan fatwa tentang keharaman pergi haji dengan kapal Belanda.
KH. Hasyim Asy’ari juga mengeluarkan fatwa yang sangat penting yang dikenal dengan “fatwa resolusi jihad” yang juga mendorong lahirnya sikap NU terhadap situasi bangsa saat itu. Isi dari fatwa tersebut adalah :
1. Bagi umat islam yang telah dewasa berjuang melawan Belanda adalah fardhu ‘ain
2. Mati di medan perang dalam rangka memerangi musuh islam adalah syahid dan masuk surga.
4. Karya-karya K.H. Hasyim Asy’ari
Beberapa karya buku yang ditulis K.H. Hasyim Asy’ari :
1) Adab Al ‘Alim Wa Al Muta’alim
Berisi uraian tentang tata cara murid dalam belajar dan kewajiban guru sebagai pendidik.
2) Ziyadah Al-Ta’liqat
Berisi jawaban terhadap syair syekh Abdullah ibn Yasin yang menghina NU
3) Al-Tanbihat Al Wajibah Liman Yasna’ Al Mulid bi Al Munkarat
4) Risalah Al Jama’ah
Berisi uraian tentang keadaan orang mati, tanda-tanda kiamat dan sunnah bid’ah
5) An Nur Al Mubin fi Mahabbah Sayid Al-Mursalin
Berisi tentang arti cinta rasul dan cara mengikuti rosul
6) Hasyiyah ‘ala fathi Syekh Zakaria Al Anshori Al Rahman bi Syarkh Risalah Al Wali
7) Al Durar Al Munqatirah fi Masa’il Tisa’ ‘asyara
Berisi tentang tariqat dan hal-hal yang berhubungan dengan tariqat
8) Al Tibyan fi Al Nahyi ‘an Muqatiati Al Arkam wa Al ‘Aqarib wa Al Ikhwan
Berisi penjelasan tentang pentingnya menyambung persaudaraan
9) Al Risalah Al Taihidiyah
Berisi tentang aqidah ahli sunnah wa al jama’ah
10) Al Qalaid fi Bayani ma Yajibu Min ‘alaqaid
Berisi tentang kewajiban-kewajiban dalam beraqidah

Senin, 20 September 2010

PROF. KH. ALI YAFIE

Ulama Ahli Fiqh

Prof. KH Ali Yafie, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), seorang ulama ahli Fiqh (hukum Islam). Dia ulama yang berpenampilan lembut, ramah dan bijak. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulsel, ini juga terbilang tegas dan konsisten dalam memegang hukum-hukum Islam.
Selain aktif di MUI, ulama kelahiran Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Dewan Penasehat The Habibie Centre.
Dia sudah menekuni dunia pendidikan sejak usia 23 tahun hingga hari tuanya. Diatas usia 70 tahun pun ulama yang hobi sepak bola, itu masih aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ali berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.
Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.
Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian dieruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.
Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauiddin, Makassar (1966-1972), ini mendirikan pesantren itu tahun 1947. Sudah banyak mantan santrinya yang kini telah menjadi orang. Di antaranya Mantan Menteri Agama Quraisy Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab.
Dia seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang produktif menulis buku. Dia telah menulis beberapa judul buku. Dia ulama yang berpola pikir modern dan tidak tradisional, seperti sebagian pemimpin pondok pesantren.
Kiai Ali (panggilan akrabnya), selalu mengedepankan Ukuwah Islamiyah di kalangan umat Islam Indonesia, dan tidak membeda-bedakan dari golongan Islam mana. Kearifan ini membuatnya diterima oleh semua pihak, baik dari kalangan Muhammaddiyah maupun kalangan Nahdatul Ulama, dan lain-lain
Salah satu tokoh pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini sudah menikah sejak usia 19 tahun. Saat itu, isterinya Hj Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Keluarga ini dikaruniai empat anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.
Selain pernah aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA), Ketua Umum Majelis Ulama (MUI), Ketua Dewan Penasehat MUI, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (BDN) dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.
Mantan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang, ini juga menjadi Anggota DPR/MPR (1971–1987), Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Ketua Dewan Syariah Nasional MUI.
Atas berbagai pengabdiannya, Kiai Ali, telah menerima Tanda Jasa/Penghargaan Bintang Maha Putra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah RI.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons