Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.

Jumat, 24 Juni 2011

Al-habib Al-Imam Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam (Wadi-Al-ahqaf) Al-habib Umar bin Segaf Assegaf

SANG PEMILIK DERAJAT YANG TINGGI
Tempat Berlabuhnya Para Auliya’

Alkisah tentang seorang Imam Al-Qutb yang tunggal dan merupakan qiblat para auliya’ di zamannya, sebagai perantara tali temali bagi para pembesar yang disucikan Allah jiwanya, bagai tiang yang berdiri kokoh dan laksana batu karang yang tegarditerpa samudera, seorang yang telah terkumpul dalam dirinya antara Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, beliau adalah Al-habib Al-Imam Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam (Wadi-Al-ahqaf) Al-habib Umar bin Segaf Assegaf.

Nasab yang mulia ini terus bersambung dari para pembesar ke kelompok pembesar lainnya, bagai untaian rantai emas hingga sampailah kepada tuan para pendahulu dan yang terakhir, kekasih yang agung junjungan Nabi Muhammad SAW.

Habib Abubakar dilahirkan di kota Besuki, sebuah, kota keci di kabupaten Sitibondo Jawa Timur, pada tanggal 16 Dzulhijjah 1285 H. Dlm pertumbuhan hidupnya yang masih kanak-kanak, ayahanda beliau tercinta telah wafat dan meninggalkannya di kota Gresik. Sedang disaat-saat itu beliau masih membutuhkan dan haus akan kasih sayang seorang ayah. Namun demikian beliau pun tumbuh dewasa di pangkuan Inayah Ilahi dlm lingkungan keluarga yang bertaqwa yang telah menempanya dengan pendidikan yang sempurna, hingga nampaklah dalam diri beliau pertanda kebaikan dan kewalian.

Konon diceritakan bahwa beliau mampu mengingat segala kejadian yang dialaminya ketika dalam usia tiga tahun dengan secara detail. Hal ini tak lain sebagai isyarat akan kekuatan Ruhaniahnya yang telah siap untuk menampung luapan anugerah dan futuh dari Rabbnya Yang Maha Mulia.

Pada tahun 1293 H. segeralah beliau bersiap untuk melakukan perjalanan jauh menuju kota asal para leluhurnya, “Hadramaut”. Kota yang bersinar dengan cahaya para auliya’. Perjalanan pertama ini adalah atas titah dari nenek beliau (Ibu dari ayahnya) seorang wanita salihah “Fatimah binti Abdullah Allan”. Dengan ditemani seorang yang mulia, Assyaikh Muhammad Bazmul, beliaupun berangkat meninggalkan kota kelahiran dan keluarga tercintanya. Setelah menempuh jarak yang begitu jauh dan kepayahan yang tak terbayangkan maka sampailah beliau di kota “Siwuun”. sedang pamannya tercinta “Al-allamah Al-habibAbdillah bin Umar” beserta kerabat yang lain telah menyambut kedatangannya di luar kota tersebut.

Tempat tujuan pertamanya adalah kediaman seorang Allamah yang terpandang di masanya, Al-Arif billah “Al-habib syaikh bin Umar bin Seggaf”. Sesampainya di sana Habib Syaikh langsung menyambut seraya memeluk dan menciuminya, tanpa terasa air mata pun bercucuran dari kedua matanya, sebagai ungkapan bahagia atas kedatangan dan atas apa yang dilihatnya dari tanda-tanda wilayah di wajah beliau yang bersinar itu. Demikianlah seorang penyair berkata: “hati para auliya’ memiliki mata yang dapat memandang apa saja yang tak dapat dipandang oleh manusia lainnya”. Dengan penuh kasih sayang, Habib Syaikh mencurahkan segala perhatian kepadanya, termasuk pendidikannya yang maksimal telah membuahkan kebaikan dalam diri Habib Abubakar yang baru beranjak dewasa. Bagi Habib Bakar menuntut ilmu adalah segala-galanya dan melalui pamannya “Al-habib Umar” beliau mempelajari Ilmu fiqih dan tasawwuf.

Ketika menempa pendidikan dari sang paman inilah, pada setiap malam beliau dibangunkan untuk shalat tahajjud bersamanya dalam usia yang masih belia. Hal ini sebagai upaya mentradisikan qiyamul-lail yang telah menjadi kebiasaan orang-orang mulia di sisi Allah atas dasar keteladanan dari Baginda Rasulillah SAW. Hingga apa yang dipelajari beliau tidak hanya sebatas teori ilmiah namun telah dipraktekkan dalam amaliah kesehariannya.

Rupanya dalam kamus beliau tak ada istilah kenyang dalam menuntut ilmu, selain dari pamannya ini, beliau juga berkeliling di seantero Hadramaut untuk belajar dan mengambil ijazah dari para ulama’ dan pembesar yang tersebar di seluruh kota tersebut. Salah seorang dari sederetan para gurunya yang paling utama, adalah seorang arif billah yang namanya termasyhur di jagad raya ini, guru dari para guru di zamannya ” Al-Imam Al-Qutub Al-habib Ali bin Muhammad Al-habsyi” r.a. sebagai Syaikhun-Nadzar. (Guru Pemerhati).

Perhatian dari maha gurunya ini telah tertumpahkan pd murid kesayangannya jauh sebelum kedatangannya ke Hadramaut, ketika beliau masih berada di tanah Jawa. Hal ini terbukti dengan sebuah kisah yang sangat menarik antara Al-habib Ali dengan salah seorang muridnya yang lain. Pada suatu hari Habib Ali memanggil salah satu murid setianya. Beliau lalu berkata “Ingatlah ada tiga auliya’ yang nama, haliah dan maqam mereka sama”. Wali yang pertama telah berada di alam barzakh, yakni Al-habib Qutbul-Mala’ Abubakar bin Abdullah alydrus, dan yang kedua engkau pernah melihatnya di masa kecilmu, yaitu Al-habib Abubakar bin Abdullah at-Attas, adapun yang ketiga akan engkau lihat dia di akhir usia kamu. Habib Ali pun tidak menjelaskan lebih lanjut siapakah wali ketiga yang dimaksud olehnya.

Selang waktu beberapa tahun kemudian, tiba-tiba sang murid tersebut mengalami sebuah mimpi yang luar biasa. Dalam sebuah tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, kala itu dalam mimpinya Nabi SAW menuntun seorang anak yang masih kecil sembari berkata kepada orang tersebut, lihatlah aku bawa cucuku yang shaleh “Abubakar bin Muhammad Assegaf”! Mimpi ini terulang sebanyak lima kali dalam lima malam berturut-turut, padahal orang tersebut tak pernah kenal dengan Habib Abubakar sebelumnya. Kecuali setelah diperkenalkan oleh Nabi SAW.

Pada saat ia kemudian bersua dengan Habib Abubakar Assegaf, iapun menjadi teringat ucapan gurunya tentang tiga auliya’ yang nama, haliah dan maqamnya sama. Lalu ia ceritakan mimpi tersebut dan apa yang pernah dikatakan oleh Habib Ali Al-habsyi kepada beliau. Kiranya tak meleset apa yang diucapkan Habib Ali beberapa tahun silam bahwa ia akan melihat wali yang ketiga di akhir usianya, karena setelah pertemuannya dengan Habib Abubakar ia pun meninggalkan dunia yang fana ini, berpulang ke Rahmatullah, Takdiragukan lagi perhatian yang khusus dari sang guru yang rnulia ini telah tercurahkan kepada murid kesayangannya, hingga suatu saat Al-habib Ali Al-habsyi menikahkan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dengan salah seorang wanita pilihan gurunya ini di kota Siwuun, bahkan Habib Ali sendirilah yang meminang dan menanggung seluruh biaya perkawinannya.

Selain Habib Ali, masih ada lagi yang menjadi “Syaikhut-Tarbiah” (Guru pendidiknya) yakni pamannya tercinta Al-habib Abdillah bin Umar Assegaf. Adapun yang menjadi “Syaikhut-Tasliik” (Guru pembimbing beliau) Al-habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi. Sedang yang menjadi “Sya’ikul-Fath” (Guru pembuka) adalah Al-wali- Al-mukasyif Al-habib Abdulqadir bin Ahmad bin Qutban yang acap kali memberinya kabar gembira dengan mengatakan:
“Engkau adalah pewaris haliah kakekmu Umar bin Segaf”.

Demikianlah beliau menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, mengambil ijazah serta ilbas dengan berpindah dari pangkuan para auliya’ dan pembesar yang satu dan yang lainnya di seluruh Hadramaut, Siwuun, Tarim dan sekitarnya yang tak dapat kami sebutkan satu persatu nama mereka. Setelah semuanya dirasa cukup dan atas izin dari para gu¬runya, beliaupun mulai meninggal-kan kota para. auliya’ itu untuk kembali ke tanah Jawa, tepatnya pada tahun 1302 H.

Dengan ditemani Al-Arif billah Alhabib Alwi bin Segaf Assegaf (dimakamkan di Turbah Kebon-Agung Pasuruan) berangkatlah beliau ke Indonesia. Adapun tujuan pertamanya adalah kota kelahirannya Besuki -Jawa timur, setelah tiga tahun tinggal di sana, beliau lalu berhijrah ke kota Gresik pada tahun 1305 H dalam usia dua puluh tahun. Dan di kota inilah beliau bermukim. Mengingat usianya yang masih sangat muda, maka kegiatan menuntut Ilmu, Ijazah dan Ilbas masih terus dilakoninya tanpa kenal lelah.

Beliaupun terus menerus berkunjung kepada para auliya’ dan ulama’yang telah menyinari bumi pertiwi ini dengan kesalehannya. Sebagaimana Al-habib Abdullah bin Muhsin Al-attas, Alhabib Ahmad bin Abdullah Al-attas, Alhabib Ahmad bin Muhsin Alhaddar, Alhabib Abdullah bin Ali Alhaddad, Alhabib Abubakar bin Umar bin Yahya, Alhabib Muham¬mad bin Ahmad Almuhdar dan masih banyak lagi yang lainnya, Radhiallahu anhum ajmaiin.

Pada tahun yang sama tepatnya pada hari Jum’at, telah terjadi sebuah peristiwa yang di luar jangkauan akal manusia dalam diri beliau. Yaitu di saat beliau tengah khusuk mendengarkan seorang khatib yang menyampaikan khutbahnya di atas mimbar, tiba-tiba beliau mendapat lintasan hati Rahmani dan sebuah izin Rabbaniy, ketika itu nuraninya berkata agar beliau segera mengasingkan diri dari manusia sekitarnya. Hatinya pun menjadi lapang untuk melakukan uzlah menjauhkan diri dari kehidupan dunia.

Seketika itu juga beliau beranjak meninggalkan Masjid Jami’ langsung menuju rumah, dan sejak saat itu beliau tidak lagi menemui seorang pun dan tidak pula memberi kesempatan orang untuk menemuinya. Hal ini beliau lakukan tiada lagi hanya untuk mengabdikan diri dan beribadah kepada Rabbnya dengan segenap jiwa raganya, dan berlangsung sampai lima belas tahun lamanya. Hingga tibanya izin dari Allah agar beliau keluar dari khalwatnya untuk kembali berinteraksi dengan manusia di sekitarnya.

Pada saat menjelang keluar dari khalwatnya, beliau disambut oleh gurunya Alhabib Muhammad bin Idrus Alhabsyi, seraya berkata. “Aku telah memohon dan bertawajjuh pada Allah selama tiga hari tiga malam untuk mengeluarkan Abubakar bin Muhammad Assegaf”. Habib Muhammad lalu menuntunnya keluar dan membawanya berziarah ke makam seorang wali yang tersohor dan menjadi mahkota bagi segala kemuliaan di zamannya, yakni Alhabib Alwiy bin Muhammad Hasyim r.a.

Setelah ziarah, beliau berdua lalu berangkat menuju kota Surabaya ke kediaman Alhabib Abdullah bin Umar Assegaf. Di tengah- tengah orang-orang yang hadir pada saat itu, berkatalah Alhabib Muhammad bin Idrus sembari tangannya menunjuk ke arah Habib Abubakar “Ini adalah khasanah dari seluruh khasanah Bani Alawiy yang telah kami buka untuk memberi manfaat kepada orang khusus dan umum”.

Pasca kejadian tersebut, mulailah Alhabib Abubakar menetapkan jadwal Qira’ah (pembacaan kitab-kitab salaf) di rumahnya. Dalam waktu yg singkat beliau telah menjadi tumpuan bagi umat di zamannya, bagaikan Ka’bah yang tak pernah sepi dari peziarah yang datang mengunjunginya dari berbagai penjuru dunia. Siapa saja yang datang kepada beliau disertai dg HusnudDzan (berbaik-sangka) maka ia akan beruntung dengan tercapai segala maksudnya dalam waktu yang dekat.

Di Majlis yang diadakannya itu beliau telah mengkhatamkan kitab “Ihya’ Ulumuddin” sebanyak lebih dari empat puluh kali. Dan disetiap mengkhatamkannya, beliau selalu mengadakan jamuan besar-besaran untuk orang yang hadir di majlisnya. Alhabib Abubakar dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sirah dan jejak para salafnya, bahkan pada segala adat istiadatnya. Seluruh majlis beliau senantiasa dimakmurkan dengan kajian-kajian ilmiah yang bersumber dari semua kitab karya para salafnya.

Jika kita berbicara tentang Maqam dan kedudukan beliau, maka tak satupun dari para Auliya’ pada masa beliau yang menyangsikannya. Beliau telah mencapai tingkatan “Asshiddiqiyyah-Alkubra” yang telah diisyaratkan sebagai “Sahibulwaqt” {panglima tertinggi para Auliya’ di masanya). Keluhuran maqamnya telah diakui oleh seluruh yang hidup di zaman beliau. Telah berkata Alhabib Muhammad bin Ahmad Almuhdar dalam sebuah suratnya kepada beliau (dengan mengutip beberapa ayat Alqur’an).
“Demi fajar “Dan malam yang sepuluh” dan yang genap dan yang ganjil” (Sesungguhnya Saudaraku Abubakar bin Muham¬mad Assegaf adalah permata yang lembut yang beredar dan beterbangan menjelajah seluruh maqam para leluhur-nya)..

Berkata pula panutan kita, seorang yang telah diakui keunggulan dan keilmuannya Al-habib Alwiy bin Muhammad Alhaddad :
“Sesungguhnya Alhabib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah “Alqutbul Ghauts” dan sesungguhnya ia adalah tempat tumpuan pandangan Allah”.

Pada kesempatan lain beliau berkata:
“Aku tidak takut (segan) kepada satu pun makhluk Allah kecuali kepada habib Abubakar bin Muhammad Assegaf”.
Sebenarnya pada masa keemasan itu banyak sekali orang-orang yang patut disegani, namun kini mereka semua telah berpulang ke rahmat Allah SWT. Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan beliau yang tak dapat kami torehkan dalam tulisan ini.

Berkata juga seorang sumber kebaikan di zamannya, dan kebanggaan pada masanya, seorang da’i yang selalu mengajak kejalan Allah dengan ucapan dan perbuatannya, Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (Kwitang-Jakarta). Ketika itu di kediaman Habib Abubakar (Gresik), pada saat beliau menjalin persaudaraan dengannya, seraya memberi isyarat kepada Habib Abubakar dan air matanya berlinang, berkata kepada para hadirin saat itu “Ini (habib Abubakar) adalah raja lebah (raja para auliya’) ia saudaraku di jalan Allah, lihatlah kepadanya! Karena memandangnya adalah ibadah”.

Berkata seorang panutan orang-orang yang arif Alhabib Husain bin Muhammad Alhaddad, sesungguhnya Alhabib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah, dialah pemimpin para auliya’ di masanya, ia telah mencapai “Maqam as-Syuhud” hingga beliau mampu menerawang hakekat dari segala sesuatu. Beliau melanjutkan ungkapannya dengan mengutip sebuah ayat al-Qur’an “Sungguh patut jika dikatakan padanya; Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) (QS: Azzukruf59).

Maksudnya beliau tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah dilimpahi nikmat dan anugerah Allah SWT. Kiranya telah cukup sebagai bukti keluhuran maqam beliau yang telah mencapai kedudukan bersua dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga. Berkata yang mulia r.a. bahwa:
“Arrasul SAW telah masuk menemuiku sedang aku dalam keadaan terjaga, beliau lalu memelukku dan akupun memeluknya”.

Para auliya’ bersepakat, bahwa Maqam Ijtima’ (bertemu) dengan Nabi SAW dalam waktu terjaga, adalah sebuah maqam yang melampaui seluruh maqam yang lain. Hal ini tidak lain adalah buah dari Ittiba’ (keteladanan) beliau yang tinggi terhadap Nabinya SAW. Adapun kesempurnaan Istiqamah merupakan puncak segala karamah. Seorang yang dekat dengan beliau berujar bahwa aku sering kali mendengar beliau mengatakan:
“Aku adalah Ahluddarak, barang siapa yang memohon pertolongan Allah melaluiku maka dengan izin Allah aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin Allah”.

Pada saat menjelang ajalnya, seringkali beliau berkata “Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah” maka sebelum kemangkatannya ke rahmat Allah, beliau mencegah diri dari makan dan minum selama lima belas hari, namun hal itu tak mengurangi sedikitpun semangat ibadahnya kepada Allah SWT. Setelah ajal kian dekat menghampirinya, diiringi kerinduan berjumpa dengan khaliqnya, Allah pun rindu bertemu dengannya, maka beliau pasrahkan ruhnya yang suci kepada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi

Beliau wafat pada hari Ahad malam Senin, hari ke tujuh belas di bulan Dzulhijjah 1376 H, dalam usia 91 tahun.

Asy Syaikh Ubaid Al-Jabiri

Nama dan Nasab



Beliau adalah Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al-Hamdani Al-Jabiri. Suku Hamdan termasuk dalam keluarga suku Jabir dan suku Jabir termasuk ke dalam keluarga suku Harb Al-Hijaz. Beliau adalah kepala suku Hamdan.



Kelahiran



Beliau dilahirkan di Hijaz pada tahun 1357 H di desa Al Faqir (yang sekarang telah menjadi kota administratif)[1] yang berada di kabupaten Wadi Fura’ (suatu lembah yang dikelilingi oleh gunug-gunung dan dilalui oleh wadi-wadi/tempat aliran air saat hujan turun dan daerah tersebut terkenal dengan perkebunan kormanya) yang masih termasuk propinsi Madinah. [2]



Masa kecil



Pada tahun 1365 H, beliau mengikuti orang tuanya pindah ke Mahd Adz-Dzahab (salah satu kabupaten dalam propinsi Madinah). Beliau tinggal di kabupaten ini selama 8 tahun.



Masa pendidikan



Beliau mulai mengenyam pendidikan dasar di madrasah Mahd Adz-Dzahab antara tahun 1371 – 1373 H.



Di akhir tahun ini beliau kembali ke Wadi Fura’. Kemudian beliau berpindah ke kota Madinah pada tahun 1374 hingga sekarang.



Karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan, beliau tidak dapat melanjutkan studi beliau selama 6 tahun.



Pada tahun 1381, beliau kembali belajar di Darul Hadits Madinah Nabawiyah yang saat itu dipimpin oleh Syaikh Umar bin Muhammad Fallatah rahimahullah. Beliau menempuh studinya selama 2 tahun.



Kemudian beliau melanjutkan ke tingkat Ma’had Al-Ilmi yang sekarang dinamakan Ma’had Al Madinah Al Ilmi. Di dalamnya, beliau mempelajari ilmu-ilmu syar’i dan bahasa arab mulai tahun 1383-1387 H.



Kemudian setelah itu beliau kuliah di Universitas Islam Madinah Nabawiyah pada tahun 1388-1392 H. Beliau lulus di tahun 1392 H dengan predikat ‘excellent’ dan terbaik di angkatan beliau.



Masa tugas



Kemudian beliau diangkat menjadi pembina di Departemen Penerangan wilayah Jeddah. Beliau bertugas selama 4 tahun.



Kemudian beliau berpindah tugas di Markas Dakwah di Madinah. Saat itu lembaga ini dibawah naungan Dewan Pimpinan Riset Ilmiah, Dakwah wal Irsyad yang saat itu dipimpin oleh Al Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.



Beliau bertugas selama 8 tahun membantu Direktur Markas dan menggantikannya saat berhalangan.



Kemudian beliau berpindah tugas ke Universitas Islam pada hari Ahad 28 Dzulhijjah tahun 1404 dan ditetapkan sebagai guru di Ma’had Ats-Tsanawi dilingkungan Universitas.



Pada tahun 1407 H, beliau diangkat sebagai guru bidang ushul fikih.



Beliau tetap mengajar di Ma’had Ats-Tsanawi di lingkungan Universitas sampai beliau meminta pindah bagian di fakultas dakwah. Dan beliau tetap mengajar di fakultas ini hingga memasuki masa pensiun pada umur 60 tahun pada tahun 1417 H di awal bulan Rajab.



Studi lanjutan



Di tengah masa tugas, beliau berhasil mendapatkan gelar master dengan desertasi beliau tentang studi tafsir Muhammad bin Ka’b Al Qurazhi pada tahun 1409 H.



Keistimewaan



Penting untuk disebutkan bahwa beliau hafizhahullah dengan biografinya yang harum dan penuh dengan manfaat dan berkah, telah kehilangan penglihatannya di bulan-bulan pertama sejak kelahirannya.



Guru-guru beliau



Beliau hafizhahullah belajar di bawah bimbingan para ulama yang memiliki keutamaan dalam bidang pendidikan, akhlak dan ilmu agama. Diantara guru-guru beliau yang terkenal adalah :



- Di Darul Hadits:

1. Syaikh Saifur-Rahmaan bin Ahmad

2. Syaikh Ammaar bin Abdillaah



- Di Ma’had Al-Ilmi:

1. Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Al-Khudhairi

2. Syaikh Audah bin Talqah Al-Ahmadi

3. Syaikh Dakhil bin Khalifah Al-Khalithi

4. Syaikh Abdur-Rahmaan bin Abdillah Al-Ajlan

5. Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Ajlan



- Di Universitas Islam Madinah:

1. Syaikh Allamah Muhaddits Hammad bin Muhammad Al-Anshari

2. Syaikh Allamah Muhaddits Abdul-Muhsin Al-Abbad

3. Syaikh Abdul Lathif Al Bani.



Dan diantara guru-guru yang sangat berpengaruh terhadap beliau adalah Syaikh Allamah Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Allamah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, dimana beliau sering bertemu keduanya dan banyak belajar dari pribadi dan akhlak keduanya.



Perjumpaan beliau dengan Syaikh Abdul Aziz bin Baz lebih sering, hal ini sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya karena hubungan kerja. Beliau banyak mendapatkan perhatian khusus dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.



Karya beliau



Beliau memiliki beberapa karya, kami sebutkan diantaranya adalah :



1- Taisirul Ilah bi Syarh Adillati Syuruth ‘Laa Ilaaha Illallah’.



2- Tanbihu Dzawil Uqul As-Salimah Ila Fawaid Mustanbathah Min As-Sittah Al Ushul Al Azhimah.



3- Imdadul Qari bi Syarh Kitab At-Tafsir min Shahih Al Bukhari.



4- Fath Al Aziz Al A’la bi Syarh Al Qawa’id Al Mutsla.



5- Syarh Muntaqa Ibnil Jarud –semoga Allah mudahkan penyempurnaannya-.



6- Kumpulan Fatwa beliau. Sekarang dalam proses pengumpulan dan penyusunan –semoga Allah mudahkan penyempurnaannya-.



7- Tanwirul Mubtadi syarh Qawaid Fiqhiyah ibn Si’di. dll



Tugas-tugas :



1. Imam masjid As-Sabq di Madinah Nabawiyah (sekarang lokasinya dekat terminal bus SAPTCO ([3]) selama lima tahun antara 1387-1392 H. Kemudian menjadi khathib di masjid Al Iman. Dan sekarang beliau menjadi khatib di masjid Naffa’ Al ‘Amri dekat jl. Amir Abdul Majid.[4]

2. Guru di sekolah Mutawassithah Umar bin Abdil Aziz di Jeddah tahun 1392-1397 H.

3. Da’i di Markas Dakwah wal Irsyad di Madinah Nabawiyah sekaligus asisten direktur Markas dan penggantinya jika berhalangan. Tugas ini diemban di akhir 1396-1404 H.

4. Dosen di Universitas Islam Madinah di akhir 1404-awal bulan Rajab 1417. Dan ini adalah tugas terakhir yang beliau emban. Pada saat inilah beliau memasuki masa pensiun sesuai dengan peraturan yang berlaku.

5. Dosen I’dad Al Muallimat di Masjid Nabawi bagian sampai sekarang.

6. Aktif di berbagai seminar, kajian dan daurah ilmiah yang digelar di Saudi Arabia dan negara tetangga.



Pujian para ulama :



Kedudukan beliau dalam ranah ilmiah dan kapasitas serta aktifitas beliau dalam dakwah salafiyah banyak mengundang pujian para ulama. Diantara mereka adalah Syaikh Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah, Syaikh Allamah Muhammad Al Banna, Syaikh Allamah Zaid Al Madkhali, Syaikh Allamah Shalih As-Suhaimi hafizhahumullah dll.



Syaikh Allamah Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah pernah ditanya oleh sejumlah pemuda dari kota Manchester : Apa pendapat anda tentang Syaikh Ubaid Al Jabiri ? Apakah beliau bukan seorang alim, hanya penuntut ilmu biasa saja ?



Beliau menjawab : Barangsiapa yang mencela beliau dan mengatakannya bodoh, (maka) orang ini telah menempuh jalan setan dan mengikuti pola-pola hizbiyyah dalam mencela ulama yang bermanhaj salafi.



Syaikh Ubaid termasuk ulama salafiyyin yang terkenal dengan sikap wara’, zuhud dan berkata kebenaran barakallahu fikum. (sumber : muhadharah yang disampaikan kepada pemuda Manchester pada tanggal 9 Dzulhijjah 1425 H).



Demikianlah sekilas tentang biografi Syaikh Allamah Ubaid Al Jabiri hafizhahullah yang sekarang ini telah berumur 72 tahun. Beliau telah menginfakkan hidupnya dalam dunia pendidikan dan dakwah di jalan Allah. Semoga apa yang telah beliau tempuh diterima oleh Allah Ta’ala sebagai timbangan kebaikan di sisi-Nya dan semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan mewafatkannya dalam husnul khatimah. Aamiin.



Abu Abdillah Muhammad Yahya



Madinah Nabawiyah

25 Shafar 1430 H

sumber:http://www.facebook.com/notes/biografi-ulama/asy-syaikh-ubaid-al-jabiri-hafidzahullahu-taala-/459890890601

____________

[1] Sekitar 140 Km dari kota Madinah Nabawiyah. Terletak diantara Makkah dan Madinah.

[2]. Saya pernah berkunjung ke Al Faqir bersama beliau dan dikenalkan pada beberapa tempat.

[3] Di Indonesia dikenal dengan DAMRI.

[4] Kurang lebih 50 M dari rumah beliau.

Habib Sangeng Al Haddad

Beliau adalah Habib 'Abdullah bin 'Ali bin Hasan bin Husain bin Ahmad bin Hasan bin Shohibur Ratib Habib 'Abdullah al-Haddad.

Dilahirkan pada tanggal 2 Shafar al-Khair 1261H di Kota Hawi, Tarim, Hadhramaut. Habib 'Abdullah bin 'Ali al-Haddad @ Habib Sangeng lahir dalam keluarga yang kuat berpegang dengan agama, keluarga keharuman ahlul bait dan kewalian semerbak mewangi. Sejak kecil lagi beliau dididik dan diasuh sendiri oleh ayahanda beliau sehingga dalam usia kecil tersebut beliau telah hafal al-Quran.

Kemudian beliau berguru pula dengan berbilang ulama besar di Hadhramaut, antara guru beliau adalah:-

Habib 'Abdur Rahman al-Masyhur, mufti Hadhramaut, pengarang kitab "Bughyatul Mustarsyidin";
Habib 'Umar bin Hasan al-Haddad;
Habib 'Aidrus bin Umar al-Habsyi, pengarang "Iqdul Yawaaqit";
Habib Muhsin bin 'Alwi as-Saqqaf;
Habib Muhammad bin Ibrahim BilFaqih;
Habib Thahir bin 'Umar al-Haddad;
Syaikh Muhammad bin 'Abdullah BaSaudan;
Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar;

Pada tahun 1295 H, berangkatlah beliau menuju ke Haramain untuk menunaikan ibadah haji. Di kota Makkah, beliau tinggal di kediaman Al-Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi, ayahanda Shohibul Mawlid Habib 'Ali bin Muhammad al-Habsyi, yang berada di daerah Jarwal. Di sana keduanya saling mengisi dengan membaca bersama-sama kitab-kitab agama. Pada saat di kota Madinah, beliau bertemu dengan Asy-Syaikh Muhammad Abdul Mu''thi bin Muhammad Al-'Azab, seorang faqih dan pakar bahasa dan kesusasteraan Arab, serta pengarang kitab Mawlid al-'Azab. Di sana juga keduanya saling mengisi dengan saling memberikan ijazah. Di Kota Madinah juga, kemuliaan dan ketinggian maqam beliau tersingkap apabila Mufti Haramain, Sayyid 'Umar Syatha datang kepada beliau dan sangat-sangat memuliakan beliau. Diceritakan bahawa sebelumnya, Sayyid 'Umar telah bermimpikan Junjungan Nabi SAW yang memerintahkan beliau untuk menziarahi Habib 'Abdullah bin 'Ali al-Haddad dan Junjungan SAW turut memaklumkannya bahawa Habib 'Abdullah al-Haddad ini adalah cucu baginda yang sebenar.

Pada tahun 1297 H, beliau melakukan hijrah dalam rangka berdakwah ke negeri Melayu. Tempat awal yang beliau tuju adalah Singapura, kemudian beliau menuju ke Johor. Di Johor beliau tinggal selama 4 tahun. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan dakwahnya ke pulau Jawa. Sampailah beliau di daerah Betawi. Beliau lalu meneruskan perjalanan ke kota Bogor, Solo dan Surabaya. Beliau tidak tertarik tinggal di kota-kota tersebut, walaupun diajak penduduk setempat untuk menetap di kotanya.

Sampai akhirnya pada tahun 1301 H, tepatnya akhir Syawal, beliau tiba di kota Bangil. Disanalah beliau menemukan tempat yang cocok untuk menetap dan berdakwah. Mulailah beliau membuka majlis taklim dan rauhah di kediaman beliau di kota Bangil. Beliau juga mengembangkan dakwah Islamiyyah di daerah-daerah lain di sekitar kota Bangil. Di sana juga beliau mengamalkan ilmunya dengan mengajar kepada murid-murid beliau. Keberadaan beliau di kota Bangil banyak membawa kemanfaatan bagi masyarakat di kota tersebut. Tidak jarang pula, masyarakat dari luar kota datang ke kota itu dengan tujuan untuk mengambil manfaat dari beliau. Di antara murid-murid beliau yang menjadi ulama dan kiyai besar adalah:-

Kiyai Kholil Bangkalan;
Kiyai Zayadi;
Kiyai Husein;
Kiyai Mustafa;
Kiyai Muhammad Thahir;
Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar;
Habib 'Alwi bin Muhammad al-Haddad;
Habib 'Ali bin Abdur Rahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang);
Habib Ahmad bin Muhsin al-Haddar.

Beliau juga ada mengarang beberapa karya tulis, antaranya:-

Hujjatul Mukminin fit Tawassul bi Sayyidil Mursalin;
Maulidil Haddad, nazam maulid Junjungan Nabi SAW.

Habib 'Abdullah bin Ali al-Haddad adalah seorang yang sangat pemurah dan sangat memperhatikan para fakir miskin. Bahkan setelah bermastautin di Kota Bangil, beliau bukan sahaja menyara keluarga dan murid-muridnya bahkan puluhan lagi keluarga miskin yang berada di sekitarnya dibiayai belanja mereka pada setiap bulan. Dan sering pada waktu malam, ketika orang tidur, beliau akan meronda sekitar Kota Bangil untuk mencari orang yang perlukan bantuan.

Habib 'Abdullah adalah seorang yang tidak suka dengan kemasyhuran. Beliau tidak suka difoto atau dilukis. Beberapa kali dicoba untuk difoto tanpa sepengetahuan beliau, tetapi foto tersebut tidak jadi atau rusak. Beliau adalah seorang yang mempunyai sifat tawadhu. Beliau selalu menekankan kepada para muridnya untuk tidak takabur, sombong dan riya. Dakwah yang beliau jalankan adalah semata-mata hanya mengharapkan keridhaan Allah Azza wa Jalla. Dan inilah bendera dakwah beliau yang tidak lain itu semua mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh para pendahulunya.

Pada hari Jum'at, 15 Shafar 1331 H, sesudah melaksanakan shalat Ashar, berpulanglah Habib 'Abdullah bin 'Ali al-Haddad kepada Tuhan Rabbul Alamin dengan amal baik beliau yang beliau tanam semasa hidupnya. Beliau disemadikan di daerah Sangeng, Bangil. Moga-moga Allah meredhai dan merahmatinya sentiasa dan menghubungkan keberkatan beliau kepada kita sekalian.... al-Fatihah.

*********************************************
Qasidah karangan Habib Sangeng
Dikatakan bahawa bait-bait istighatsah ini adalah mujarrab sebagai wasilah untuk menarik rezeki, menyembuhkan penyakit, menolak bala`, fitnah, pancaroba, wabak dan kejahatan musuh. Boleh dibaca setiap malam selepas membaca ratib.

Kamis, 23 Juni 2011

Kucing Belang


Apakah sudah ada teori pendidikan ala pesantren? Silahkan dibikin kalau ada yang kober.

Kiyai Umar Abdulmannan rahimahullah, Mangkuyudan, Solo, mengajar dengan tekun tapi tak pernah sama sekali memarahi santrinya. Sembeling apa pun santri, beliau biarkan saja. Beliau cuma menyuruh pengurus pondok membuat daftar santri-santri yang paling kebangetan mbelingnya. Daftar itulah “bekal” beliau dalam setiap munajat malam. Santri-santri di daftar itu secara khusus beliau doakan.

Entah apakah waktu itu santri-santri tahu atau tidak. Seandainya saya mondok disana waktu itu, pastilah saya berjuang mati-matian untuk menjadi mbeling sembeling-mbelingnya, supaya selalu masuk daftar munajat malamnya Kiyai Umar Abdulmannan.

Kyai Kholil Harun, Kasingan, Rembang, kira-kira satu generasi dengan Hadlratusy Syaikh Kiyai Hasyim Asy’ari, Tebuireng, dan Kiyai Dimyathi, Termas, Pacitan. Santri-santri seangkatan kakek saya belum merasa sempurna ngajinya kalau belum berguru kepada ketiga “mahakiyai” tersebut: kepada Kiyai Dimyathi untuk memperdalam fiqih, kepada Kiyai Hasyim menimba ilmu Hadits, dan kepada Kiyai Kholil untuk mematangkan ilmu alat.

Syahdan salah seorang santri Kiyai Kholil begitu mbelingnya sehingga amat sering dimarahi. Setiap kali memarahi, Kiyai Kholil mengatainya dengan: “kucing belang”!

Teman-teman si santri prihatin,

“Akan jadi apa nasib anak itu nanti… dimarahi Kiyai berkali-kali kok tidak kapok-kapok… sampai dikata-katai begitu…”

Siapa sangka, belakangan si santri mbeling menjadi kiyai yang disegani. Teman-temannya heran, sampai-sampai ada yang memerlukan datang untuk bertanya,

“Kok bisa?”

Kiyai-mantan-santri-mbeling tercenung, mengenang gurunya.

“Kalian nggak tahu”, katanya, “dulu itu, setiap Kiyai Kholil mengataiku ‘kucing belang’, aku malah tambah bersemangat…”

“Kok bisa?”

“Kamu tahu enggak, kucing belang itu apa?”

“Kucing mbeling?”

Kiyai-mantan-santri-mbeling tertawa.

“Itu menurut pengertianmu…”, katanya, “aku sendiri memaknainya: macan!”

sumber: www.teronggosong.com

Manaqib KH. M. Cholil Bisri

FRAGMEN I: SANTRI MBELING DI LIRBOYO

Sewaktu mondok di Lirboyo, partner mbeling terdekat Kyai Kholil adalah Gus Mik (Kyai Hamim Jazuli). Pernah, ditengah pelajaran Madrasah, Santri Kholil yang tempat duduknya didekat jendela, disapa Gus Mik dari luar.

“Keluar, Gus!” kata Gus Mik, setengah berbisik.

“Ada apa?”

“Nonton bioskop… ada filem bagus!”

Santri Kholil ragu,

“Masih pelajaran ini…”

“Lompat saja!”

Ketika guru menghadap papan tulis, Santri Kholil melompat keluar dari jendela. Santri-santri lain tak berani menegur tingkah gus-gus itu.

Jauh di belakang hari, ketika Gus Mik sudah melejit reputasinya sebagai seorang wali keramat yang khoriqul ‘aadah, ditengah-tengah Konbes NU di Pondok Pesantren Ihya ‘Ulumuddin, Kesugihan, Cilacap, seorang kyai Kediri yang dulunya juga anggota geng santri mbeling di Lirboyo mendatangi Kyai Kholil di penginapan.

“Dapat salam dari Gus Mik, Gus”.

“Lhah, dia nggak ikut Konbes?”

“Datang sih…”

“Mana orangnya? Kok nggak nemuin aku?”

“Nggak mau. Sampeyan tukang nggasak (tukang meledek) sih… kalau sampeyan ledek, bisa-bisa badar (gagal) kewaliannya…”

***

FRAGMEN II: WALI ANYAR (WALI BARU)

Suatu kali, Mbah Lim (Kyai Muslim Rifa’i Imam Puro, Klaten) yang terkenal wali, datang mengunjungi Gus Mus. Seorang pendhereknya (santri yang mengikutinya) diutus untuk memberi tahu Kyai Kholil.

“Mbah Lim ada di rumah Gus Mus, ‘Yai”, kata si pendherek, “panjenengan dimohon menemui…”

“Nggak mau! Sama-sama walinya kok!”

Setelah dilapori, Mbah Lim segera beranjak menemui Kyai Kholil. “Sesama wali” berangkulan sambil tertawa-tawa.

“Wali anyar… wali anyar…”, kata Mbah Lim, “bodong ‘ki… bodong ‘ki…”

***

FRAGMEN III: VOTING

Konbes NU di Bandarlampung kebingungan memilih Rais ‘Aam baru. Kyai Achmad Shiddiq telah wafat, Kyai Ali Yafie mengundurkan diri. Kyai Yusuf Hasyim, calon terkuat, didelegitimasi keponakannya sendiri.

“Pak Ud itu bukan ulama, tapi zu’ama”, kata Gus Dur, “beliau termasuk santri korban revolusi… ngajinya kocar-kacir!”

Konbes pun kehilangan arah.

Dikerumuni wartawan, Kyai Kholil melontarkan statement,

“Istikhoroh saja!”

“Bagaimana caranya?” wartawan bertanya.

“Pilih 40 orang kyai ahli riyadloh (tirakat). Beri kesempatan mereka beristikhoroh. Sesudah itu, saling mecocokkan isyaroh yang didapat masing-masing…”

Wartawan tak puas,

“Kalau diantara 40 kyai itu hasil istikhorohnya berbeda-beda bagaimana?”

Jawaban Kyai Kholil mantap:

“Ya divoting!”

Hakikat Waliyulloh dan Karomahnya

Tulisan-tulisan saya yang mengungkap tentang perjalanan hidup wali-waliyalloh dalam web site ini( categori manaqib) mendapat sanggahan dari beberapa kawan saya yang memang kurang percaya tentang seseorang yang menjadi waliyulloh dan tentang karomah-karomah yang diberikan Alloh kepada hamba Pilihan Alloh ( waliyulloh). Saya coba akan jelaskan tentang hakikat para Waliyulloh dan karomahnya dari berbagai sumber referensi yang saya temukan.

A.Pengertian Waliyulloh

Dalam Kitab Jami’u karamatil Aulia Juz 1 hal 7 Syech Yusup bin sulaiman berpendapat bahwa “wali ialah orang yang sangat dekat kepada Alloh lantaran penuh ketaatannya dan oleh karena itu Alloh memberikan kuasa kepadanya dengan Karomah dan penjagaan”

maksudnya adalah orang yang menjadi dekat keadaan jiwanya kepada Alloh karena ketaatan dia akibatnya Alloh menjadi dekat orang tersebut dan diberikan anugrah oleh Alloh berupa “karomah” dan penjagaan untuk tidak terjerumus berbuat maksiat,apabila dia terjerumus berbuat maksiat maka cepat-cepat dia bertaubat.

Kh.Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Ad Durarul Muntatsirah pada halaman 2 beliau mengungkapkan bahwa Wali adalah orang yang terpelihara dari ;

a. Melakukan dosa besar dan kecil

b.Terjerumus oleh hawa nafsunya sekalipun hanya sekejap dan apabila melakukan dosa maka dia cepat-cepat bertaubat kepada Alloh.sebagaimana tersebut didalam alquran(Q.S.YUNUS AYAT 62-64)

Hakim At-Tirmidzi mendefinisikan Wali Allah adalah seorang yang demikian kokoh di dalam peringkat kedekatannya kepada Allah (fi martabtih), memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti bersikap shidq (jujur dan benar) dalam perilakunya, sabar dalam ketaatan kepada Allah, menunaikan segala kewajiban, menjaga hukum dan perundang-undangan (al-hudud) Allah, mempertahankan posisi (al-) kedekatannya kepada Allah.menurut at-Tirmidzi, seorang wali mengalami kenaikan peringkat sehingga berada pada posisi yang demikian dekat dengan Allah, kemudian ia berada di hadapan-Nya, dan menyibukkan diri dengan Allah sehingga lupa dari segala sesuatu selain Allah.

Karena kedekatannya dengan Allah, seorang wali memperoleh ‘ishmah (pemeliharaan) dan karamah (kemuliaan) dari Allah. menurutnya, ada tiga jenis ‘ishmah dalam Islam. Pertama, ‘ishmah al-anbiya’ (ishmah para Nabi) merupakan sesuatu yang wajib, baik berdasarkan argumentasi ‘aqliyyah seperti dikemukakan Mu’tazilah maupun berdasarkan argumentasi sam‘iyyah. Kedua, ‘ishmah al-awliya’ (merupakan sesuatu yang mungkin); tidak ada keharusan untuk menetapkan ‘ishmah bagi para wali dan tidak berdosa untuk menafikannya dari diri mereka, tidak juga termasuk ke dalam keyakinan agama (‘aqa’id al-din); melainkan merupakan karamah dari Allah kepada mereka. Allah melimpahkan ‘ishmah ke dalam hati siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara mereka. Ketiga, ‘ishmah al-‘ammah, ‘ishmah secara umum , melalui jalan al-asbab, sebab-sebab tertentu yang menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan maksiat.

‘Ishmah yang dimiliki para wali dan orang-orang beriman, menurut at-Tirmidzi, bertingkat-tingkat. Bagi umumnya orang-orang yang beriman, ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan dari terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi para wali ‘ishmah berarti terjaga (mahfuzh) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Masing-masing mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya. Inti pengertian ‘ishmah al-awliya’ terletak pada makna al-hirasah (pengawasan), berupa cahaya ‘ishmah (anwar al-ishmah) yang menyinari relung jiwa (hanaya al-nafs) dan berbagai gejala yang muncul dari kedalaman al-nafs, tempat persembunyian al-nafs (makamin al-nafs), sehingga al-nafs tidak menemukan jalan untuk mengambil bagian dalam aktivitas seorang wali. Ia dalam keadaan suci dan tidak tercemari berbagai kotoran al-nafs ( adnas al-nafs ).

jadi dari berbagai pendapat diatas bahwa Derajat ke” Wali” an pada hakekatnya dapat diperoleh atau dicapai oleh sesorang mukmin yang bertaqwa dengan jalan melaksanakan dan menta’ati segala peraturan dan tuntunan sya’ra yang diwajibkan dan yang disukai Alloh SWT dikerjakan dengan penuh ketekunan . Dan yang Haram atau yang tidak disukai Alloh dijauhkan dan dihindarkan dari dirinya supaya jangan sampai jatuh tergelincir melakukannya. Apabila tergelincir melakukan dosa kecil sekejap saja cepat-cepat diikuti dengan bertaubat yang sebenar-benarnya.dan terus segera kembali kepada yang haq (benar).

B.PENGERTIAN “KAROMAH”

Karomah menurut bahasa/lughoh sama dengan Aza-zah artinya kemuliaan (munjid hal 682) . Pengertian karomah menurut Syeck Ibrahim Al Bajuri dalam kitabnya “tuhfatul Murid” hal 91 bahwa karomah adalah” sesuatu luar biasa yang tampak dari kekuasaan seorang hamba yang telah jelas kebaikannya yang diteyapkan karena adanya ketekunan didalam mengikuti syariat nabi dam mempunyai i’tiqod yang benar”

Menurut Hakim At-Tirmidz Adapun yang dimaksud karamah al-awliya’ tiada lain, kemuliaan, kehormatan,(al-ikram); penghargaan (al-taqdir); dan persahabatan (al-wala) yang dimiliki para wali Allah berkat penghargaan, kecintaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Karamah al-awliya itu, dalam pandangan Hakim at-Tirmidzi, merupakan salah satu ciri para wali secara lahiriah (‘alamat al-awliya’ fi al-zhahir) yang juga dinamakannya al-ayat atau tanda-tanda.

Hakim at-Tirmidzi membagi karamat al-awliya ke dalam dua bagian. Pertama, karamah yang bersifat ma‘nawi atau al-karamat al-ma‘nawiyyah. Karamah yang pertama merupakan sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan secara fisik-inderawi, seperti kemampuan seseorang unrtuk berjalan di atas air atau berjalan di udara. Sedangkan karamah yang kedua merupakan ke-istiqamah-an seorang hamba di dalam menjalin hubungan dengan Allah, baik secara lahiriah maupun secara batiniah yang menyebabkan hijab tersingkap dari kalbunya hingga ia mengenal kekasihnya, serta merasa ketentraman dengan Allah. At-Tirmidzi memaparkan karamah yang kedua sebagai yang berikut:

Kemudian Tuhan memandang wali Allah dengan pandangan rahmat. Maka Tuhan pun dari perbendaharaan rububiyyah menaburkan karamah yang bersifat khusus kepadanya sehingga ia (wali Allah) itu berada pada maqam hakikat kehambaan (al-haqiqah al-ubudiyyah). Kemudian Tuhan pun mendekatkan kepada-Nya, memanggilnya, menghormati dan meninggikannya. Menyayanginya dan menyerunya. Maka wali pun menghampiri Tuhan ketika ia mendengar seru-Nya. Mengokohkan (posisi)-nya dan menguatkannya; memelihara dan menolongnya; sehingga ia meresponi dan menyambut seruan-Nya. Dalam kesunyian ia memanggil-Nya. Setiap saat ia munajat kepada-Nya. Ia pun memanggil kekasihnya. Ia tidak mengenal Tuhan selain Allah.

Jadi karomah adalah merupakan sesuatu perkara yang terjadi diluar kemampuan akal manusia biasa untuk memikirkan atau menciptakan .perkara itu ( karomah) diberikan Alloh kepada hambanya yang sudah terang kebaikannya( shalehnya), setiap sikap perbuatan dan ucapannya serta keadaan hatinya selalu bergerak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang dibawa oleh Rosululloh SAW baik dalam segi syaria’t atau aqidah serta akhlaknya.

Oleh karena itu bagi Waliyulloh dengan Karomahnya kadang-kadang tampak keanehan-keanehan baik dalam sikap tindakan dan ucapan yang tidak begitu saja mudah bagi akal manusia biasa untuk memahaminya. Sebagai contoh karomah ialah seperti dapat dilihat adanya peristiwa Maryam yang disebut dalam surat Ali Imron ayat 37, juga peristiwa Ashabul Kahfi dalam surat al kahfi ayat 25 dan tidak berbeda pula halnya dengan Karomah-karomah Para Habaib dan Para Ulama yang saya tulis tersebut seperti karomahnya Al Habib Abduloh bil Faqih yang selalu bertemu langsung dengan Rosululloh begitu pula dengan KH.Hamim Djazuli (Gus Miek) yang melakukan dakwahnya ditempat hiburan malam.

Orang yang menolak karamah al-awliya’, disebabkan mereka tidak mengetahui persoalan ini kecuali kulitnya saja. Mereka tidak mengetahui perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya orang tersebut mengetahui hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah terhadap mereka; niscaya mereka tidak akan menolaknya. Penolakan mereka terhadap karamah al-awliya’, disebabkan oleh kadar akses mereka terhadap Allah hanya sebatas menegaskan-Nya; bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan kejujuran (al-shidq); bersikap benar dalam mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi al-qurbah (dekat dengan Allah). Sementara mereka buta terhadap karunia dan akses Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta (mahabbah) dan kelembutan (ra’fah) Allah kepada para wali. Apabila mereka mendengar sedikit tentang hal ini, mereka bingung dan menolaknya.

C.HIERARKI KEWALIAAN

Syaikhul Akbar Ibnu Araby dalam kitab Futuhatul Makkiyah membuat klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut :

1. Wali Aqthab atau Wali Quthub

Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.
3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Haiyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid.
4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.
5. Wali Nuqoba’
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.
6. Wali Nujaba’
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.
7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair bin Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.
8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.
9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd,saw.

derajat Wali yang disandang sesorang itu adalah merupakan anugrah dari Alloh yang telah dicapai seorang hamba dalam mencari Hakekat Alloh ( Aripbillah). Bahkan ibadahnya seorang wali itu lebih utama dibandingkan dengan ibadahnya seorang Ulama yang A’lim.Kenapa demikian ? seorang Wali telah mencapai hakekat Alloh sedangkan seorang ulama baru tahap mencari jalan untuk mencapai hakekat Alloh. wali dapat diketahui dengan wali yang lain ada juga seseorang yang menjadi wali Alloh tapi dirinya tidak tahu bahwa dia seorang Wali. Wallulloh a’lam
sumber : http://www.sachrony.wordpress.com

KH Muhammad Cholil Bisri

KH Muhammad Cholil Bisri (1942-2004)

Meninggal dalam Suasana Damai

Kiai Haji Cholil Bisri (62), Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, meninggal dunia dalam usia 62 tahun Senin 23 Agustus 2004 pukul 20.40 di rumahnya di Kampung Leteh, Kota Rembang, Jawa Tengah. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, itu meninggalkan, seorang istri Hj Muhsinah, delapan anak, dan sejumlah cucu. Dimakamkan Selasa siang di Pemakaman Keluarga Bisri Mustofa di Kota Rembang.

Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB itu meninggal dalam suasana tenang, damai, bagai seorang yang tengah tidur nyenyak. Dia meninggal akibat sakit kanker hati yang diderita sejak lama. Kakak kandung KH Mustofa Bisri, sejak Mei dirawat di Rumah Sakit Umum Karyadi, Semarang. Kemudian dirawat di Rumah Sakit MMC, Jakarta, tetapi kondisinya tidak bertambah baik dan malahan minta dirawat di rumah saja.

Jumat pagi sekitar pukul 10.15, dia tiba di Stadion Krida (Rembang) dengan pesawat helikopter, lalu dengan mobil ambulans diangkut ke rumah pribadinya.

Saat detik-detik mengembuskan napas terakhir, Cholil Bisri selain didampingi Dr Sugeng Ibrahim, juga didampingi kedua anaknya, Gus Tutut dan Gus Ipul, yang masing-masing didampingi istri.

Kyai yang Membidani Kelahiran PKB

Sesungguhnya KH Cholil Bisri lebih patut disebut sebagai deklarator PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) ketimbang Gus Dur. Sebab dialah yang memimpin sebuah tim membidani pendirian partai sebagai wadah aspirasi politik warga Nahdlatul Ulama (NU) atas desakan para kyai. Sementara Gus Dur selaku Ketua Umum NU ketika itu malah menolak pendirian partai. Maka pada mulanya, ada 72 deklarator PKB, tidak termasuk Gus Dur. Namun ketika deklarasi pendirian PKB itu disampaikan kepada PB NU, nama-nama deklarator itu pun dicoret dan berobah menjadi hanya lima orang.

Sebenarnya dari sejarah PKB, yang harus muncul sebagai deklarator adalah Kyai Iliyas Ruhyat. Tapi, menurut KH Cholil Bisri, Kyai Iliyas Ruhyat orangnya lugu, tak mau tampil-tampil seperti itu. Itulah sebabnya ia mengatakan, sejarah perlu diluruskan. Yang benar sebagai penggagas pertama terbentuknya PKB adalah para kyai, pada tanggal 11 Mei 1998 bersamaan dengan rapat meminta Soeharto lengser. Gagasan pertama dimulai di Rembang bukan di PB NU atau Ciganjur.

Sehubungan dengan itu, ditegaskan adalah salah jika ada orang mengatakan bahwa yang mendirikan PKB adalah Gus Dur. Bukan! Gus Dur malah pada mulanya menolak pendirian PKB. Ketika itu, KH Cholil Bisri mengajukan rapat atas adanya desakan para kyai agar NU membentuk partai, PBNU malah mengeluarkan surat resmi bahwa NU tidak perlu membuat partai. Pada saat itu Ketua Umum PBNU adalah Gus Dur.

Kisah pendirian PKB dimulai pada 11 Mei 1998. Ketika para kyai sesepuh di Langitan mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan situasi terakhir yang menuntut perlu diadakan perubahan untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Saat itu para kyai membuat surat resmi kepada Pak Harto yang isinya meminta agar beliau turun atau lengser dari jabatan presiden. Pertemuan itu mengutus Kyai Mu’hid Mujadid dari Jember dan Gus Yusuf Muhammad menghadap Pak Harto untuk menyampaikan surat itu. Mereka berangkat ke Jakarta, meminta waktu tetapi belum dapat jadwal. Sehingga sebelum surat itu diterima, Pak Harto sudah mengundurkan diri terlebih dahulu, tanggal 23 Mei 1998.

Setelah itu, pada tanggal 30 Mei 1998, diadakan istiqosah akbar di Jawa Timur. Lalu semua kyai berkumpul di kantor PBNU Jatim. Para kyai itu mendesak KH Cholil Bisri supaya menggagas dan membidani pendirian partai bagi wadah aspirasi politik NU. “Tapi saya mengatakan, jangan saya,” kata KH Cholil Bisri. Sebab ia merasa sudah capek jadi orang politik. Ia merasa lebih baik di pesantren saja. Tetapi para kyai terus mendorongnya karena dinilai lebih berpengalaman dalam hal politik. Ketika itu Gus Dur belum ikut. Makanya ia terus dipaksa.

Kemudian, tanggal 6 Juni 1998, ia mengundang 20 kyai untuk membicarakan hal tersebut. Undangan hanya lewat telepon. Tetapi pada hari H-nya yang datang lebih 200 kyai. Sehingga rumahnya sebagai tempat pertemuan penuh. Dalam pertemuan itu terbentuklah sebuah panitia yang disebut dengan Tim “Lajenah” karena terdiri dari 11 orang. Ia sendiri menjadi ketua. Sekretarisnya Gus Yus. Panitia ini bekerja secara maraton untuk menyusun platform dan komponen-komponen partai. Selain itu terbentuk juga Tim Asistensi Lajenah terdiri dari 14 orang yang diketuai oleh Matori Abdul Djalil dan sekretarisnya Asnan Mulatif.

Pada tanggal 18 Juni 1998, panitia mengadakan pertemuan dengan PBNU. Dilanjutkan audiensi dengan tokoh-tokoh politik (NU) yang ada di Golkar, PDI dan PPP. Panitia menawarkan untuk bergabung, tanpa paksaan. PBNU sendiri menolak pendirian partai. Setelah itu, pada tanggal 4 Juli 1998, Tim ‘Lajenah’ beserta Tim dari NU mengadakan semacam konfrensi besar di Bandung dengan mengundang seluruh PW NU se-Indonesia. 27 perwakilan datang semua.

Hari itu diputuskan nama partai. Usulan nama adalah Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Kebangitan Ummat dan Partai Nahdlatul Ummat. Akhirnya hasil musyawarah memilih nama PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Lalu ditentukan siapa-siapa yang menjadi deklarator partai. Disepakati 72 deklarator, sesuai dengan usia NU ketika itu. Jumlah itu terdiri dari Tim Lajenah (11), Tim Asistensi Lajenah (14), Tim NU (5), Tim Asistensi NU (7), Perwakilan Wilayah (27 x 2), Ketua–ketua Event Organisasi NU, tokoh-tokoh Pesantren dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua deklarator membubuhkan tandatangan dilengkapi naskah deklarasi. Lalu diserahkan ke PBNU untuk mencari “kapten” partai ini.

Ketika masuk ke PBNU, dinyatakan bahwa yang menjadi deklaratornya 5 orang saja, bukan 72 orang. Kelima orang itu yakni Kyai Munasir Allahilham, Kyai Eliyas Ruhyat, Kyai Muhid Mujadid dan Mustofa Bisri dan ditambah Abddurahman Wahid sebagai ketua PBNU. Nama 72 deklarator dari Tim Lajenah itu dicoreti semua oleh PBNU. “Ya terima saja. Sebab saya berpikir untuk dapat berjuang bukanlah harus ada di dalam struktur,” ujar KH Cholil Bisri, ketika Wartawan Tokoh Indonesia mengonfirmasi hal ini dalam percakapan dengannya di ruang kerjanya di Gedung MPR-RI (22/10/02).

Setelah itu, semua terus berjalan hingga muktamar pertama. Banyak orang menghendaki Gus Dur. “Iya sudahlah, saya jadi orang kedua saja,” kata KH Cholil Bisri pasrah. Dalam Pemilu 1999, PKB berhasil meraih posisi ketiga dalam perolehan suara, setelah PDIP dan Golkar. Tapi menjadi posisi keempat dalam perolehan kursi, setelah PDIP, Golkar dan PPP. Namun demikian, PKB berhasil mengantarkan KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden pada Sidang Umum MPR 1999.

Dalam Mukernas PKB yang pertama, sebenarnya telah diputuskan bahwa PKB akan mendukung siapa saja pemenang Pemilu untuk menjadi Presiden, tanpa menyebutkan nama dan jender. Sementara pada waktu itu juga sedang bergulir berbagai pendapat tentang presiden wanita. Tetapi, PKB akan mendukung pemenang Pemilu menjadi presiden, siapa pun orangnya, apakah wanita ataupun pria. Sementara, di lain pihak, para kyai berkeinginan agar PKB mencalonkan presiden yang berasal dari PKB bukan dari partai lain.

Setelah itu KH Cholil Bisri, Gus Yus dan Muhaimin Iskandar menemui Mbak Mega. Mereka menyampaikan apa yang menjadi keputusan Mukernas PKB, serta keinginan para kyai untuk mencalonkan orang PKB menjadi pesiden. Jadi mereka mohon ‘ijin’ untuk tidak mencalonkan presiden dari PDI-P tetapi Gus Dur. Lalu Mbak Mega mengatakan, “Nggak apa-apa. Memang seharusnya PKB mencalonkan Gus Dur. Kalau PKB punya calon, calonkan saja pilihannya jangan orang lain.”

Setelah itu mereka melapor kepada para kyai. Putusan akhirnya, PKB mencalonkan Gus Dur. Gus Dur pun menang dalam pemilihan Presiden RI. Setelah Gus Dur terpilih jadi presiden, mereka bertemu lagi dengan Mbak Mega. Mereka menyatakan PKB siap mendukung Mbak Mega untuk maju sebagai calon Wakil Presiden. Dan demi memudahkan jalannya Megawati, mereka juga mengadakan pendekatan dengan para calon dan partai lain. Tetapi Hamzah Haz tetap bertahan. Sebab banyak pendukungnya mengatakan Hamzah Haz harus tetap maju, karena ini amanah ummat. Namun akhirnya Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden.

Semenjak itu, praktis ia tidak pernah lagi ketemu dengan Gus Dur atau Ibu Megawati. Hanya sekali ia ke istana bersama 15 kyai untuk bertemu dengan Gus Dur. Ketika itu, para kyai menyampaikan nasehat kepada Gus Dur. Tetapi Gus Dur tetap dalam pendiriannya. Para kyai itu pun tak mau ngotot.

Mengenai jabatannya sebagai Wakil Ketua MPR dari PKB menggantikan Matori Abdul Djalil, ia mengatakan bahwa sejak semula kawan-kawan sudah memintanya berada dalam pimpinan MPR atau DPR. Tetapi ia sendiri yang tak mau. Sebab ia masih berpikir ke pesantren yang mulai berkembang. Maka, ia juga yang mengusulkan pertama kali untuk memajukan Matori sebagai calon ketua MPR, yang akhirnya menjadi wakil ketua.

Karena perhatiannya yang lebih banyak ke pesantren, ia sebagai anggota DPR/MPR jarang sekali mengikuti sidang. Sehingga ia sempat berpikir untuk mundur saja. Bahkan ia sudah bikin surat pengunduran diri dengan materai. Tapi teman-temannya malah merobek-robek surat itu.

Malah ia diajukan menjadi Wakil Ketua MPR mewakili PKB. Karena selama delapan bulan perwakilan PKB dalam pimpinan MPR kosong. Semenjak Matori diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Setelah sebelumnya Matori dipecat dari jabatan Ketua Umum PKB karena menghadiri SI-MPR yang memberhentikan Gus Dur dari jabatan presiden. Lalu PKB pecah dua. PKB pimpinan Matori dan PKB pimpinan Alwi Sihab.

Matori menginginkan dari pihaknya yang harus mengisi pimpinan MPR itu. Di lain pihak, PKB Alwi-Gus Dur menginginkan yang lain. Dalam pertikaian seperti itu, KH Cholil Bisri didorong untuk bersedia mengisi kekosongan itu dari kubu PKB Alwi Sihab. “Waktu itu, Matori sempat tetap ngotot. Tapi ketika ia tahu saya yang dicalonkan, dia jadi tidak berani. Karena yang menggiring Matori selama ini dari Jawa Tengah ya saya,” kata KH Cholil Bisri. Menurutnya, diberhentikannya Matori dari Ketua Umum PKB adalah tidak terlepas dari pihak ketiga yang memprovokasi agar PKB terganggu.

Belajar dari berbagai pengalaman hidup, ia melihat bahwa ada tiga orang yang patut dikasihani dalam dunia. Pertama, orang kaya yang jatuh melarat. Kedua, orang yang terhormat yang jatuh hina. Dan, ketiga, orang yang pintar yang dipermainkan oleh orang-orang bodoh.

Sementara pandangannya tentang demokrasi, ia melihat masih perlu didefinisikan di Indonesia. Demokrasi itu bukan berarti kebebasan tanpa batas. Bahkan di sebuah negara seperti Amerika saja tidak selamanya murni, masih bercampur dengan otoriter. Sementara dalam Al-quran atau Hadis tidak ada tertulis kata demokrasi. Yang ada adalah kesetaraan berbicara atau sering disebut sebagai musyawarah. Jadi sebenarnya inti demokrasi adalah musyawarah.

Mengenai reformasi, menurutnya, agar reformasi terus berjalan, setiap orang harus mau melangkah bersama. Jangan membawa dan menempatkan kepentingan pribadi atau kelompok di atas segalanya. Nanti akan menjadi sirik dan Tuhan pasti akan menghukum bangsa ini. Ia mengimbau agar setiap orang mawas diri dan selalu melihat apa yang telah diperbuat untuk bangsa dan negeri ini, di mana ia makan dan hidup.

Dalam menjalani hidup ini, salah satu cara pandang yang ia pegang adalah ‘jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa’. Hal inilah yang selalu mendorongnya selalu berusaha melakukan yang terbaik. Namun, ia juga percaya kepada takdir. “Kalau itu adalah bagian kamu, pasti kamu akan memperolehnya, tetapi kalau itu bukan milikmu, biar dikerjakan juga pasti sia-sia.”

Cara berpikir lelaki kelahiran Rembang 12 Agustus 1942, ini sangat banyak dipengaruhi oleh didikan orangtua, terutama ayahnya. Ayahnya seorang yang sangat berdisiplin kepada anak-anaknya. Ayahnya sering berpesan agar tidak pernah berhenti belajar dan jangan pernah berhenti mengaji. Ayahnya juga selalu mengajarkan agar selalu mengahormati ‘orang kecil’. Ia juga selalu diingatkan bahwa manusia ditempatkan di dunia ini untuk berbuat, dan insyaallah akan menuainya di surga.

Ayahnya seorang pendiri pesantren yang terkenal sesudah Kyai Cholil Bangkalan, Kyai Tremas dan Kyai Hasyim Asy’ari Tebuireng. Pada saat itu Kyai Cholil dibantu oleh dua kyai yaitu Kyai Mas’ud dan Kyai Mastur, mbahnya. Ketika mbahnya wafat, mereka pindah ke desa Leteh, masih di sekitar Rembang juga. Sampai sekarang ia masih tinggal di situ.

Ia tamat Sekolah Rakyat 6 Kartioso, hanya 5 tahun. Sebab ia langsung diterima di kelas dua, karena ia tidak mau satu kelas dengan adiknya (Mustofa), yang pada saat bersamaan masuk kelas satu.

Ketika itu terjadi peristiwa PKI di Madiun 1948. Ayahnya termasuk orang yang diburu oleh PKI saat itu. Sehingga mereka harus mengungsi ke arah timur, tepatnya ke Pare, sekitar Kediri. Pada masa pegungsian itu, ayahnya punya usaha kecil, membuat kertas daur ulang. Dari kertas bekas koran diolah menjadi bubur, dibentuk dan dijemur menjadi kertas. Kemudian dipotong untuk dibuat kertas buku-buku catatan kecil (notes). Lalu dijual. Cholil Bisri sendiri sering ikut menjualnya. Di sini jiwa wirausahanya mulai terbangun.

Setahun setelah itu, ketika keamanan sudah pulih, mereka kembali lagi ke Rembang. Tahun 1950 ia melanjutkan sekolah SR dan tamat tahun 1954. Tahun 1956 ia diminta ayahnya pergi ke Krapyak, Yokyakarta, tinggal di Pesantren Ali Mas’shum. Selama satu tahun tinggal di Krapyak, ia merasakan betapa demokratisnya Kyai Ali Mas’shum. Ia pun merasa cukup dimanjakan oleh Kyai Ali. Kemudian, ia kembali ke Rembang, bertepatan kedatangan Kyai Mahrus yang masih satu generasi dengan ayahnya. Teman ngaji ayahnya ketika masih kecil. Kyai Ma’rus berbicara dengan ayahnya dan meminta agar ia ikut bersamanya ke Kediri. Akhirnya 1957 ia berangkat ke Kediri. Tapi hanya satu tahun. Kemudian ia kembali lagi dibawa oleh Kyai Ali ke Krapyak.

Sekembalinya ke Krapyak, Kyai Ali memperlakukannya sangat disiplin. Ia tidak lagi dimanjakan seperti pertama kali. Setiap membuat kesalahan, ia diberi ganjaran. Salah satu ganjarannya, disuruh untuk menulis kitab tertentu 2 kuras berserta dengan artinya. Terkadang ia sampai dirantai agar tidak boleh keluar berkeliaran.

Ketika usianya mencapai 19 tahun (tahun 1961), ia mengutarakan kepada ayahnya keinginan tinggal di Makkah. Ayahnya mengabulkan lalu menitipkannya kepada 3 orang kyai dari Lasem untuk berangkat ke Makkah. Selama 2 tahun ia tinggal di Makkah . Namun kemudian ia disuruh kembali ke tanah air, karena jika terlalu lama hormat terhadap Ka’bah itu kurang. Tiga-empat hari setibanya di tanah air, ia bertemu dengan Kyai Ali. Ia ditanya apakah sudah mau kawin atau belum? Ia ketawa lalu menjawab, belum.

Sekitar 1963 ia kembali lagi ke Krapyak. Di sana dibuka sekolah persiapan IAIN, setingkat Ahliyah. Setelah mengikuti ujian, ia lulus dan diterima masuk IAIN itu. Lokasi sekolah ini berada di Demangan, jaraknya ± 8 kilometer dari Krapyak. Krapyak wilayah paling selatan sedangkan Demangan di wilayah paling utara Yokyakarta. Pada waktu itu satu-satunya transportasi yang memadai hanya sepeda. Sehingga hampir setiap hari ia harus mengayuh sepeda 8 km. Akibatnya setelah 3 bulan ia harus mengganti celana, karena sudah robek.

Pada tiga bulan pertama, ia merasa tidak kuat jika begitu terus. Lalu ia pun meminta kepada Kyai Ali untuk mencarikan sebuah kost di sekitar kampus. Tetapi Kyai Ali malah menjawab: “Ora!, Ora ridho aku!” Maka ia terpaksa menurut saja. Tetapi kemudian ia punya ide lain. Ia berbicara dengan ayahnya agar sepedanya dipasangkan mesin (mobilet). Ayahnya mengabulkan. Tetapi masalah belum berakhir, mesin motor itu perlu bensin. Sementara uang bensin sering ia pakai untuk membeli rokok. Akhirnya ia terkadang mengayuh sepeda lagi. Dengan memiliki mobilet, ia bergaya dan mulai mengenal perempuan. Tidak heran karena memang mobilet pada waktu itu cukup bergengsi. Pada waktu itu orang yang punya mobilet sangat jarang, mungkin di sekolahnya cuma dia.

Tetapi perubahan terjadi. Ia tidak begitu lama di IAIN. Selain karena jaraknya yang begitu jauh, juga keahliannya dalam bahasa Arab sangat dibutuhkan oleh pesantren. Bisa membantu Kyai Ali mengajar bahasa Arab. Sehingga hanya dalam satu semester lebih dua bulan, ia terpaksa mengundurkan diri dari IAIN dan lebih berfokus kepada kegiatan pendidikan pesantren.

Kemudian sekitar tahun 1963, ia juga banyak berjuang di dalam gerakan-gerakan organisasi kepemudaan Islam. Termasuk di antaranya, sebagai salah satu pendiri PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia) di IAIN Yokya. Selain itu, ia juga sangat senang dalam banyak kegiatan yang berhubungan dengan olahraga dan seni. Ia suka bermain badminton. Suka juga menulis puisi. Sejak kecil ia paling suka menulis dan merenung.

Beberapa karya tulisnya ketika itu antara lain: “Kami bukan Kuda Tunggang” dan “Ketika Biru Langit”. Sebagian besar karya tulisnya bertemakan keadaan sosial dan politik kontemporer. Dimana sering kali rakyat dimafaatkan oleh penguasa.

Kesukaan terhadap seni itu juga yang mempertemukannya dengan isterinya. Kejadiannya terjadi ketika ia mengikuti perlombaan karya seni dan puisi yang diselenggarakan oleh IPNU. Kebetulan ia menjadi juara pertama. Saat menerima piala, ia melihat seorang gadis yang amat menawan hatinya. Gadis itu bernama Muchsinah, puteri Kyai Sa’muri. Dalam hati ia berkata, “Saya mau ia menjadi isteriku.” Lalu, keinginan itu diutarakan kepada ayahnya.

Waktu terus berjalan, hingga tanggal 17 Oktober 1964. Saat itu ia sedang mengajar di pesantren. Tiba-tiba ayahnya mengajak ke rumah Kyai Sa’muri, untuk melamar gadis idamannya itu. Dua hari setelah itu, tepatnya tanggal 19 Oktober 1964, mereka menikah. Sedangkan resepsinya diadakan tanggal 25 Juli 1965.

Setelah menikah, ia memutuskan untuk berhenti dari kegiatan mengajar di pesantren dan sekolah lain. Ia menyerahkan semuanya kepada Kyai Ali dengan alasan karena sudah menikah, ia mau kembali ke kampung. Setelah kembali ke Rembang, kegiatannya masih sangat banyak di lingkungan pemuda. Baik itu olahraga maupun musik dan teater. Ia memimpin sebuah band, walaupun orang banyak berpikir, anak kyai koq seperti itu. Tapi ia tidak banyak ambil pusing. Ayahnya sendiri tidak pernah mempersoalkan.

Keadaan setelah G30/S/PKI, sangat ramai gerakan pemberantasan anggota PKI. Saat itu ia aktif sebagai Ketua Anshor. Sementara isterinya saat itu sedang hamil. Jadi entah suara nurani atau apa, ia melarang kawan-kawannya menganiaya orang-orang PKI. Ia sendiri tidak mau melakukannya. Sebab orang-orang tua mengatakan: “Sing ati-ati loh, bojomu meteng, itu harus kamu inget”. Nuraninya juga tidak merasa tega. Karena mereka juga adalah kawan-kawan bermainnya.

“Saya ini seorang olahragawan, sedangkan olahragawan berkawan dengan siapa saja. Jadi saya tidak mau menggangu mereka. Memang mereka berbeda dalam ideologi, tetapi mereka juga adalah tetangga saya, bahkan tetangga dekat yang hanya dipisahkan oleh sekat dinding,” katanya mengingat suasana ketika itu. Ia memang bertetangga dengan ketua PKI cabang Rembang yang isterinya juga ketua Gerwani.

GP Anshor waktu itu ikut membantu RPKAD memberantas PKI. Tetapi ia meminta kepada komandan pasukan untuk tidak menganiaya mereka. Kalaupun mereka salah, lebih baik mereka dihukuman sesuai dengan hukum yang berlaku. Tetangganya yang ketua PKI itu akhirnya tertangkap. Rumah dan segala kepemilikannnya disita oleh ABRI. Sehingga waktu itu pesantren punya tetangga baru, yaitu ABRI.

Pada tahun 1967 anaknya lahir, sehingga kebutuhan keluarga bertambah. Untuk mengatasi kebutuhan itu, ia membuat usaha kecil-kecilan. Ketika itu ia berpikir, tak masalah mengerjakan apa saja, yang penting ada kerjaan. Ia pun meminjam modal dari ayahnya. Kendati ia tahu ayahnya bukan orang yang banyak uang. Tapi ayahnya memberinya kesempatan menjualkan kitab-kitab di pesantren-pesantren. Lalu hasil penjualannnya dikumpulkan untuk membuat usaha baru.

Waktu itu ia mulai dengan menjual minyak wangi dari Arab. Ia bersama isteri mengelolanya bersama-sama. Malam hari mengolah, mencampurkan bahan-bahannya dan mengisi bolol bersama isteri. Pagi harinya ia sendiri berangkat menjual. Sore hari pulang. Setiap hasil yang ia dapat dicatat. Ia kerjakan itu, pulang pergi Semarang-Rembang. Terkumpulah uang sedikit-sedikit. Ia pun menghemat. Kalau sebelumnya biasanya beli rokok, tetapi waktu itu ia “melinting” saja.

Pernah juga terpikir untuk mencari rumah sendiri, berpisah dari orang tua. Tapi ayahnya melarang. Karena ayahnya merasa bahwa rumahnya masih sangat cukup untuk tinggal bersama. Ia bahkan berkata “Aku ora butuh ombo-ombo aku satu kamar saja cukup”. Barulah setelah anaknya yang kedua lahir tahun 1969, ia dijinkan mandiri. Tetapi tidak keluar Rembang. Ia diberi tempat tinggal di sekitar komplek pesantren, para santri di situ dipindahkan. Jadi mulailah ia mandiri tahun 1970.

Pada masa itu banyak usaha yang ia kerjakan. Menjadi makelar radio, sepeda dan segala macam. Hampir terlihat serabutan. Pernah ia mau melamar jadi pegawai negeri. Tapi tidak bisa karena tidak punya ijazah. Maka sejak saat itulah, sekitar tahun 1971, ia mulai masuk ke partai. Karena ada ikatan dengan Kyai Bisri, ia diangkat menjadi Wakil Ketua Partai NU Cabang Rembang.

Saat Pemilu dimulai, terjadi “gegeran” dengan tentara sehingga banyak kawan-kawan yang mengungsi ke rumahnya, karena takut mengalami tekanan dan kesulitan. Keadaan ini terjadi karena anggota-anggota NU diminta masuk Golkar. Situasi ketika itu menjadi sangat tegang. Nuansa saling mencurigai sangat tinggi. Bahkan sampai-sampai jika ada aparat pemerintah desa yang tak mau bergabung dengan Golkar akan dipecat.

Sehingga tugasnya waktu itu banyak berurusan dengan Kodim untuk membebaskan kawan-kawannya yang ditangkap tanpa proses hukum yang jelas. Ia dibantu juga oleh beberapa polisi. Karena banyak dari anggota polisi di daerah itu adalah kawannya satu sekolah. Bahkan ada seorang polisi diturunkan pangkatnya karena ketahuan pernah mengawalnya. Padahal waktu itu ia adalah anggota DPRD tingkat II dari Partai NU.

Kemudian, pada tahun 1973 lahirlah keputusan Presiden Soehato menetapkan hanya 3 partai yang boleh mengikuti Pemilu, yakni PPP, PDI dan Golkar. Sehingga NU harus bergabung dalam PPP. Akhirnya, ia pun ikut menggalang munculnya PPP. Ia menjadi Ketua PPP pertama di Rembang.

Menjelang Pemilu 1977, seminggu sebelum kegiatan masa kampanye, ayahnya wafat, tepatnya tanggal 27 Febuari 1977. Pada masa kampanye itu, ia masih dalam keadaan berkabung. Bukan hanya itu, ia juga diberi peninggalan pesantren dari ayahnya. Sementara, saat itu bisnisnya mulai berkembang. Salah satu usahanya waktu itu adalah mengembangkan pemeliharaan perternakan kambing dan memasok ke pasar-pasar (Cobong Gamping). Saat itu ia sudah memiliki 6 Cobong Gamping, yang hampir setiap satu jam ada transaksi jual-beli. Bahkan ia sudah memiliki truk dan mampu membeli motor.

Sepeninggal ayahnya, ia sempat menyuruh semua santri pulang ke rumahnya masing-masing. Tapi tidak ada yang mau pulang. Mereka baru mau pulang jika pelajaran Al-quran yang selama ini diajarkan sudah rampung. Hal itu ia bicarakan kepada adiknya, Mustofa. Ia meminta agar adiknya saja yang menjadi kyai pesantren. Karena ia mau menjadi pengusaha. Tetapi adiknya tidak mau, malah memilih menjadi seniman.

Ketika itu posisinya dalam usaha dan politik mulai membaik. Dalam politik ia menjadi wakil ketua DPRD Tingkat II. Tetapi karena ia anak tertua, maka ia berkewajiban mengambil amanah itu untuk menjadi kyai pesantren. Akhirnya ia menjadi kyai, mengasuh para santri. Usahanya ditinggalkan sehingga tutup. Tetapi jabatan wakil ketua DPRD II dipertahankan.

Pada Pemilu 1982, ia diminta untuk menjadi anggota DPRD tingkat I. Tetapi ia tolak. Karena ia mempuyai pesantren yang harus diurus. Waktu itu ia hanya mau di DPRD tingkat II, seumur hidup. Tawaran menjadi anggota DPRD Tingkat I itu diserahkan kepada adiknya, Mustofa. Adiknya menerima tawaran itu setelah didorong dengan berbagai penjelasan.

Sedangkan adiknya yang satu lagi adalah seorang PNS, mengajar di PGA lalu dipindahkan ke SMA di Rembang. Oleh pimpinan sekolahnya dipaksa masuk Golkar. Adiknya datang kepadanya, bertanya apa yang harus dilakukan? Ia hanya mengatakan, lakukan saja apa yang patut kamu lakukan dan jangan ragu. Akhirnya adiknya pergi ke makam ayah mereka. Setelah itu, adiknya menceritakan bahwa ia bertemu dengan ayah, dan memberi wangsit supaya tidak masuk ke Golkar. Besok paginya adiknya menyerahkan surat-surat formulir dan lainnya ke pimpinan sekolah dan pergi begitu saja. Adiknya memilih lebih baik berhenti dari pegawai negeri daripada masuk Golkar.

Anak-anak muridnya tidak mau ditinggalkan, karena ia adalah guru teladan dengan pembawaan dan sikap yang menyenangkan dan juga ganteng. Tapi setelah keluar sebagai guru, adiknya malah mendapat pekerjaan baru yang lebih baik, menerjemahkan buku-buku, penghasilannya lebih baik sampai mampu menyekolahkan anak ke UGM.

Pada tahun 1984 ia telah berada di lingkungan tokoh-tokoh NU tingkat Nasional. Ia juga tergabung dalam penyusunan konsep Khitoh NU di rumahnya. Pada tahun 1987 diangkat menjadi Ketua MPW (Majelis Pertimbangan Wilayah). Sedangkan Mustofa, adiknya, sudah tak mau lagi jadi anggota DPRD Tingkat I. Mustofa mau memfokuskan diri pada bidang budaya. Sementara ia sendiri belum mau untuk naik ke DPRD tingkat I. Posisinya di Rembang masih Wakil Ketua DPRD Tingkat II. “Waktu itu tunjangan sudah membaik, tetapi masih banyak teman di DPRD yang cari-cari proyek. Tapi saya tidak mau karena tanggung jawabnya kepada Tuhan,” katanya. Sebab ia sudah merasa cukup koq. Ia memang selalu berpendirian tidak mau “dipoyoi” orang.

Pada tahun 1992, ia mulai merasa jenuh di DPRD tingkat II. Sementara ia ditawarkan oleh ketua wilayah untuk masuk ke tingkat I. Tapi ia malah berpikir untuk masuk ke DPR RI. Dan pada tahun itu ia menjadi anggota DPR RI dari PPP.

Pada Muktamar PPP 1992, ia mulai berpikir bahwa PPP ini besar karena dukungan warga NU. Tetapi mengapa ketuanya bukan orang NU? Sehingga pada tahun 1994, ia mulai mengadakan gerakan di PPP, yang akhirnya dikenal dengan nama ‘Gerakan Kelompok Rembang’. Ia dengan teman-teman berusaha keras untuk bisa menggolkan orang NU menjadi Ketua Umum PPP. Tetapi ada wartawan yang menanyakan kepadanya, apakah tidak lebih baik minta restu dari Pak Harto? Entah kenapa ia menjawab: “Saya tak butuh Pak Harto, Tapi saya hanya butuh Tuhan!”

Jawaban itu menjadi berita dan ramai dibicarakan. Koq Cholil berani ngomong begitu? Akibatnya, gagallah upaya menempatkan seorang figur NU menjadi Ketua Umum PPP. Hanya diberikan kesempatan menduduki Sekjen. Untuk jabatan Sekjen, orang pilihan yang ia sodorkan waktu itu ialah Matori. Tetapi ditolak oleh Pak Ismael Hasan. Figur tandingannya adalah Tosari. “Saya merasa kalah total, sebab setiap saya menyodorkan orang-orang NU, setiap kali juga ditampik dengan menyodorkan orang-orang NU juga. Jadi orang-orang saya semuanya ditolak,” kenang Cholil Bisri.

Kemudian menjelang Pemilu 1997, ia dicalonkan dari Jawa tengah dalam urutan 10 besar. Tetapi setibanya di Jakarta, karena ada pengaruh Pak Harto, ia ditempatkan menjadi nomor 53. Sehingga tidak jadi anggota DPR. Setelah itu, walaupun kecewa, ia kembali bertekun di pesantren. Ia pun banyak menulis. Ia benar-benar menjadi orang desa, tetapi masih aktif di partai sebagai MPW. Saat itu, ia pernah diajukan oleh partai supaya ke MPP. Tetapi ditolak oleh Pak Ismael Hasan. Walaupun demikian ia tetap diangkat menjadi anggota MPR RI dalam Badan Pekerja sebagai wakil utusan daerah, bukan dari partai.

Antara Ali bin Abi Thalib dan Ali bin Ma’shum


Mbah Kyai Ali Ma’shum rahimahullah terlahir dengan kecerdasan istimewa. Pada usia remaja, beliau sudah menjadi amat ahli dalam bahasa dan sastra Arab. Kefashihan beliau sulit dicari tandingannya. Pada usia 18 tahun, sewaktu mondok di Termas, Pacitan, dibawah asuhan Kyai Dimyathi rahimahullah, Kyai Ali diberi hak untuk mengajar di Masjid pondok. Suatu previles yang tidak didapatkan bahkan oleh santri-santri yang jauh lebih senior. Bukan karena Kyai Ali putera seorang kyai besar (Mbah Kyai Ma’shum, Lasem). Dari segi nasab, Kyai Ali masih “kalah bobot” dibanding, misalnya, Kyai Abdul Hamid (Pasuruan) yang pada waktu itu juga mondok bareng di Termas. Previles itu diberikan sebagai pengakuan atas ke’aliman Kyai Ali. Di kemudian hari, Kyai Ali Ma’shum pun diakui sebagai kyai ahli Ilmu Tafsir paling otoritatif pada masanya.

Tidak heran jika, sesudah trio pendiri Nahdlatul Ulama (Hadlratusy Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Abdul Wahab Hasbullah dan Kyai Bisri Syansuri) “habis” dengan wafatnya Kyai Bisri Syansuri, semua kyai yang hadir dalam Kombes NU 1981 di Kaliurang, Yogyakarta, secara aklamasi menyetujui usul Kyai Achmad Siddiq (Jember) untuk mendaulat Kyai Ali Ma’shum sebagai Rais ‘Aam menggantikan Kyai Bisri Syansuri. Semula Mbah Ali menolak. Tapi semua kyai mendesak beliau bertubi-tubi. Dari pagi hingga malam Gus Mus menunggui di kediaman beliau di Krapyak, dengan tekad tak akan beringsut sebelum beliau menyatakan kesediaan. Dengan berlinangan air mata, Mbah Ali akhirnya menyerah.

“Aku tak mau jabatan”, beliau berkata, “tapi agama melarangku menghindari tanggung jawab…”

Selanjutnya, Kyai Ali Ma’shum pun menjadi patron dari gairah pembaharuan NU. Beliau pelindung utama —kalau bukan satu-satunya— anak-anak muda yang getol dengan pembaharuan, ketika gagasan-gagasan kreatif mereka memanaskan telinga kebanyakan kyai karena dianggap terlampau berani.

Barangkali orang masih ingat, bagaimana Kyai As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, suatu ketika merasa tak kuat lagi menenggang “keliaran” Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU sehingga hubungan diantara keduanya tegang luar biasa. Kyai As’ad memanggil Kyai Muhith Muzadi ke Situbondo.

“Tolonglah”, beliau berujar kepada Kyai Muhith, “sampiyan ingatkan Abdurrahman itu… dia sudah kelewatan”.

Kyai Muhith angkat tangan.

“Kok saya to, ‘Yai” jawabnya, “mestinya kan yang sepuh-sepuh seperti panjenengan yang lebih berhak…”

“Wah, saya ’dak biisa… yang bisa itu Kyai Ali Ma’sum!”

Pada kesempatan lain, Kyai As’ad mengundang kyai-kyai berkumpul di Surabaya. Mbah Kyai Ali Ma’shum berhalangan, hanya mengutus Abdurrahman, seorang santri Krapyak asal Pasuruan, membawa surat beliau untuk para kyai yang hadir di Surabaya.

“Kalau rapat kyai-kyai itu sudah selesai, serahkan surat ini kepada Kyai As’ad dan sampaikan bahwa saya minta surat ini dibacakan didepan majlis”. Demikian pesan Mbah Ali.

Rapat itu rupanya membahas Gus Dur dengan segala kembelingannya, sehingga akhirnya kyai-kyai sepakat untuk membuat petisi, menuntut Gus Dur mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU.

Abdurrahman Pasuruan patuh, begitu rapat hendak ditutup, ia beranikan diri menyerobot kehadapan Kyai As’ad untuk menyerahkan surat titipan Mbah Ali berikut pesan beliau. Surat yang kemudian benar-benar dibaca didepan majlis itu ternyata berisi pernyataan tegas bahwa Mbah Ali menolak pemberhentian Gus Dur dari jabatannya. Kyai As’ad tak punya pilihan.

“Kalau Kyai Ali Ma’shum ’dak setuju… saya ’dak berani…”

Keputusan rapat pun batal.

Sebagai Rais ‘Aam, walaupun hanya separuh masa bakti (1982 – 1984), Mbah Kyai Ali Ma’shum berhasil mengantarkan NU melewati masa transisi dari NU-politik ke NU-kultural. Perjalanan menuju deklarasi “Kembali ke Khittah NU 1926” pada Muktamar Situbondo (1984) berhutang sepenuhnya pada jasa kepemimpinan beliau. Itu memang bukan perjalanan yang mudah. Di tengah-tengahnya, konflik besar yang mengguncang antara kubu kyai-kyai dan kubu para politisi (Situbondo versus Cipete) harus dilalui dengan segala pahit-getirnya. Sampai-sampai seorang kyai muda berani melontarkan keluhan berbau protes ke hadapan Mbah Ali.

“Selama kepemimpinan tiga Rais ‘Aam sebelumnya, NU adem-ayem, bersatu penuh harmoni”, kata kyai muda itu, “tapi setelah panjengan jadi Rais ‘Aam… kok terjadi perpecahan begini?”.

Mbah Ali tersenyum bijak.

“Bagus sekali kamu bertanya begitu”, ujar beliau, “pertanyaanmu itu persis yang dilontarkan orang kepada Sayyidina ‘Ali”.

Maka Mbah Ali pun meriwayatkan keluhan orang kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, bahwa pada masa kepemimpinan tiga Khulafa Ar Rasyidin sebelum beliau (Saadaatina Abu Bakar, Umar ibn Al Khatthab dan ‘Utsman ibn ‘Affan radliyallahu ‘anhum) tidak terjadi perpecahan ummat seperti pada masa kekhalifahan Sayyidina ‘Ali.

Bagaimana jawaban Sayyidina ‘Ali?

“Pada masa beliau bertiga itu, yang dipimpin adalah orang-orang macam aku, sedangkan sekarang ini yang kupimpin adalah orang-orang macam kamu!!”
Sumber: www.teronggosong.com

Jendela Cak Jahlun

Humor adalah salah satu jendela untuk melongok kondisi dan budaya masyarakat.

Diantara yang paling terkenal dari humor-humor Rusia era Soviet adalah kisah tentang sebuah keluarga yang menggigil ketakutan ketika ada yang mengetuk pintu malam-malam.

“Siapa?” si empunya rumah bertanya dengan gemetar.

“Malaikat Maut!”

Seisi rumah pun lega luar biasa.

“Syukurlah!” pintu dibukakan dengan riang, “kami kira KGB…”

KGB –seperti kita ketahui—adalah dinas rahasia milik Pemerintah Uni Soviet yang amat terkenal kekejamannya.

Di Inggris pada masa-masa menjelang Perang Dunia II, berlangsung kompetisi politik yang panas. Winston Churchill dari Partai Konserfatif ngotot dengan “peran Pemerintah untuk menjamin pasar bebas“. Sedangkan lawannya dari Partai Buruh yang liberal, Clement Atlee, menggembar-gemborkan nasionalisasi industri besar.

Maka lahirlah sebuah humor. Suatu ketika, di sela-sela perdebatan yang panas di parlemen, Churchill bersirobok dengan Atlee di toilet dan terpaksa harus pipis bersebelahan. Ditengah “kegiatan bersama” itu, Atlee kedapatan melirik-lirik ke arah Churchil agak kebawah sedikit. Churchill pun berang,

“Jangan melirik-lirik!” bentaknya, dilanjutkan dengan gerutuan, “kamu ini sukanya menasionalisasi yang besar-besar….”

Gus Dur pernah menciptakan –atau mengadaptasi—sebuah humor era Soeharto. Alkisah, Soeharto hanyut di sungai sampai hampir mati tenggelam. Seorang tukang mancing menolongnya. Dan Soeharto pun amat sangat berterimakasih.

“Mintalah apa saja, aku akan memberimu”.

“Sudahlah. Aku tak punya pamrih apa-apa”, tukang mancing itu ternyata ikhlas sekali.

“Mintalah! Aku pasti bisa memenuhinya!”

“Jangan sombong. Kamu bukan Tuhan!”

“Tahukah kau, siapa aku?”

“Memangnya kamu siapa?”

“Aku ini Soeharto. Presiden Republik Indonesia!”

Tukang mancing mendadak ketakutan. Gemetaran ia tengok kiri-kanan.

“Sssttt…” akhirnya ia berbisik dengan khawatir sekali, “jangan bilang siapa-siapa kalau aku yang menolongmu ya…”

Para pemerhati dagelan tradisional Jawa tentu bisa menandai perbedaan gaya antara ludruk (Jawa Timur) dan dagelan Mataram (Yogya) yang mencerminkan perbedaan budaya. Ludruk cenderung blak-blakan dan egaliter, dagelan Mataram penuh sindiran dan “hirarkis”.

Kartolo terang-terangan meledek Mariyam alias Karjo AC-DC,

“Wong wédok gêdhéné sak buto!” (Perempuan segede raksasa!)

“Sing dadi lak dudu gêdhéné sé, Lo!” (Yang berlaku ‘kan bukan besarnya, Lo!) Jawab Mariyam.

“Lha… apané?”

“Solahé!” (Solah-bawanya!)

Lain halnya Basiyo, yang meledek lawan mainnya dengan sindiran,

“Kulá niku butuh indhên… grobak kulá tugêl. Gandhèng pun mbotên wontên sing dodol… sampéyan mawon nápá? Samang’ niku seminggu rak dèrèng putung tá?” (Saya ini butuh pasak as roda [indhên]… gerobak saya patah. Karena sudah nggak ada yang jualan… bagaimana kalau sampeyan saja? Sampeyan itu seminggu ‘gitu belum patah ‘kan?)

Ledekan itu diungkapkan dengan krámá inggil (bahasa Jawa halus).

Dalam konteks kejendelaan itulah, saya kira, buku “Guyon Bareng Cak Jahlun” ini hadir. Tema-tema yang diangkat dalam kisah-kisah humornya menggambarkan kehidupan pesantren yang –karena keunikannya—oleh Gus Dur dijelaskan dengan terma “subkultur”. Jarak antara gaya hidup di lingkungan pesantren dengan arus utama gaya hidup masyarakat pada umumnya, sudah menjadi sumber inspirasi humor yang tak ada habis-habisnya. Dalam buku ini bertebaran kisah-kisah lucu tentang kesalahpahaman santri baru terhadap hal-hal yang khas pesantren, dan sebaliknya, “salipan” antara logika pesantren dan “logika populer”. Kesenjangan-kesenjangan semacam itu selama ini menjadi modal utama para pelawak untuk mengocok perut audiensnya.

Lebih menarik lagi, dalam buku ini kita temui pula jejak-jejak satu unsur utama dalam pola pikir pesantren, yaitu permainan logika itu sendiri. Lihatlah, misalnya, dialog antara Cak Jahlun yang memeriksakan diri karena terkena muntaber dengan dokternya:

“Buang air besarnya bagaimana?” tanya dokter.

“Seperti biasa, Dok: jongkok!”

Itu adalah jawaban yang sangat logis. Bahwa itu bukan jawaban yang diharapkan Pak Dokter, “logika pertanyaan” Pak Dokter-lah yang tidak tepat.

Dari mana asal-usul permainan logika itu?

Saya kira dari salah satu mata pelajaran utama di pesantren, yaitu nahwu-shorof (gramatika bahasa Arab). Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat rigid dengan logika. Sebagian ahli menuduh Imam Syafi’i dalam menyusun ushul fiqihnya dipengaruhi oleh logika Aristotelian. Padahal belum tentu begitu. Basis logika yang kuat dalam ijtihad Iman Syafi’i saya kira lebih dipengaruhi keahlian beliau dalam bahasa Arab. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa beliau telah menjadi salah seorang yang paling ahli dalam bahasa dan sastra Arab pada jamannya, sejak sebelum beliau mendalami fiqih syari’at itu sendiri. Cara berpikir serba logika itulah yang kemudian tertransmisi kedalam dunia pesantren, baik melalui pengajaran bahasa Arab maupun karya-karya fiqih dari madzhab Syafi’i.

Diatas segalanya, nama “Cak Jahlun” sebagai tokoh utama buku ini dipilih dengan cerdik sekali. Saya menduga, pilihan itu ditetapkan melalui suatu pemikiran yang mendalam. “Jahlun” (bahasa Arab) artinya “bodoh”. Ini mewakili etos kependidikan di Pesantren: bahwa menuntut ilmu itu harus diniyati untuk “menghilangkan kebodohan”, persis berbarengan dengan kesadaran bahwa kebodohan itu tidak mungkin hilang karena, semakin orang bertambah ilmunya, maka semakin ia merasa bodoh. Kontradiksi filosofis dalam etos ini mendalam sekali maknanya, sebagaimana berbagai kontradiksi lain yang menjadi “soko-guru” dalam ajaran tasawwuf: ikhtiar-takdir, roja’-khouf, ni’mat-mushibah, shabar-syukur, dan seterusnya.

Akhirul kalam, selamat membaca, selamat belajar, selamat berjuang menghilangkan kebodohan untuk menjadi lebih bodoh lagi, dan… selamat tertawa!



Rembang, 6 April 2011
by KH.Yahya Cholil Tsaquf

Rabu, 22 Juni 2011

SYEIKH ABDUL MUHYI PAMIJAHAN(1650-1730)

SILSILAH SYEH ABDUL MUHYI PAMIJAHAN(1650-1730)

Abdul Muhyi, Syeikh Haji (Mataram, Lombok, 1071 H/1650 M-Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat 1151 H/1730 M). Ulama tarekat Syattariah, penyebar agama Islam di Jawa Barat bagian selatan. Karena dipandang sebagai wali, makmnya di Pamijahan di keramatkan orang.
Abdul Muhyi datang dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya dari ayahnya sendiri dan kemudian dari para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Kuala, Aceh, untuk melanjutkan pendidikannya dan berguru pada Syeikh Adur Rauf Singkel, seorang ulama sufi dan guru tarekat Syattariah. Syeikh Abdur Rauf Singkel adalah ulama Aceh yang berupaya mendamaikan ajaran martabat alam tujuh -yang dikenal di Aceh sebagai paham wahdatul wujud atau wujudiyyah (panteisme dalam Islam)-dengan paham sunah. Meskipun begitu Syeikh Abdur Rauf Singkel tetap menolak paham wujudiyyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba. Ajaran inilah yang kemudian dibawa Syeikh Abdul Muhyi ke Jawa.
Masa studinya di Aceh dihabiskannya dalam tempo enam tahun (1090 H/1669 M-1096 H/1675 M). Setelah itu bersama teman-teman seperguruannya, ia dibawa oleh gurunya ke Baghdad dan kemudian ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan agama dan menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Syeikh Haji Abdul Muhyi kembali ke Ampel. Setelah menikah, ia meninggalkan Ampel dan mulai melakukan pengembaraan ke arah barat bersama isteri dan orang tuanya. Mereka kemudian tiba di Darma, termasuk daerah Kuningan, Jawa Barat. Atas permintaan masyarakat muslim setempat, ia menetap di sana selama tujuh tahun (1678-1685) untuk mendidik masyarakat dengan ajaran Islam. Setelah itu ia kembali mengembara dan sampai ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ia mentap di Pameungpeuk slama 1 tahun (1685-1686) untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu. Pada tahun 1986 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari setelah pemakaman ayahnya, ia melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi. Ia bermukim beberapa waktu di sana atas permintaan masyarakat. Setelah itu ia ke Lebaksiuh, tidak jauh dari Batuwangi. Lagi-lagi atas permintaan masyarakat ia bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690). Pada masa empat tahun itu ia berjasa mengislamkan penduduk yang sebelumnya menganut agama Hindu. Menurut cerita rakyat, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama karena kekeramatannya yang mampu mengalahkan aliran hitam. Di sini Syeikh Haji Abdul Muhyi mendirikan masjid tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia lebih memilih bermukim di dalam gua yang sekarang dikenal sebagai Gua Safar Wadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Menurut salah satu tradisi lisan, kehadirannya di Gua Safar Wadi itu adalah atas undangan bupati Sukapura yang meminta bantuannya untuk menumpas aji-aji hitam Batara Karang di Pamijahan. Di sana terdapat sebuah gua tempat pertapaan orang-orang yang menuntut aji-aji hitam itu. Syeikh Haji Abdul Muhyi memenangkan pertarungan melawan orang-orang tersebut hingga ia dapat menguasai gua itu. Ia menjadikan gua itu sebagai tempat pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya, di samping tempat ia memberikan pengajian agama dan mendidik kader-kader dakhwah Islam. Gua tersebut sangat sesuai baginya dan para pengikutnya untuk melakukan semadi menurut ajaran tarekat Syattariah. Sekarang gua tersebut banyak diziarahi orang sebagai tempat mendapatkan “berkah”. Syeikh Haji Abdul Muhyi juga bertindak sebagai guru agama Islam bagi keluarga bupati Sukapura, bupati Wiradadaha IV, R. Subamanggala.
Setelah sekian lama bermukim dan mendidik para santrinya di dalam gua, ia dan para pengikutnya berangkat menyebarkan agama Islam di kampung Bojong (sekitar 6 km dari gua, sekarang lebih dikenal sebagai kampung Bengkok) sambil sesekali kembali ke Gua Safar Wadi. Sekitar 2 km dari Bojong ia mendirikan perkampungan baru yang disebut kampung Safar Wadi. Di kampung itu ia mendirikan masjid (sekarang menjadi kompleks Masjid Agung Pamijahan) sebagai tempat beribadah dan pusat pendidikan Islam. Di samping masjid ia mendirikan rumah tinggalnya. Sementara itu, para pengikutnya aktif menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat bagian selatan. Melalui para pengikutnya, namanya terkenal ke berbagai penjuru jawa Barat.
Menurut tradisi lisan, Syeikh Maulana Mansur berulang kali datang ke Pamijahan untuk berdialog dengan Syeikh Haji Abdul Muhyi. Syeikh Maulana Mansur adalah putra Sultan Abdul Fattah Tirtayasa dari kesultanan Banten. Sultan Tirtayasa sendiri adalah keturunan Maulana Hasanuddin, sultan pertama kesultanan Banten yang juga putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, salah seorang Wali Songo.
Berita tentang ketinggian ilmunya itu sampai juga ke telinga sultan Mataram. Sultan kemudian mengundang Syeikh Haji Abdul Muhyi untuk menjadi guru bagi putra-putrinya di istana Mataram. Sultan Mataram Paku Buwono II (1727-1749) ketika itu bahkan menjanjikan akan memberi piagam yang memerdekakan daerah Pamijahan dan menjadikannya daerah “perdikan”, daerah yang dibebaskan dari pembayaran pajak. Undangan sultan Mataram itu tidak pernah dilaksanakannya, karena pada tahun 1151 H (1730 M) Syeikh Haji Abdul Muhyi meninggal dunia karena sakit di Pamijahan. Berdasarkan keputusan sultan Mataram itulah, oleh pemerintah kolonial Belanda, melalui keputusan residen Priangan, Pamijahan sejak tahun 1899 dijadikan daerah “pasidkah”, daerah yang dikuasai secara turun temurun dan bebas memungut zakat, pajak, dan pungutan lain untuk keperluan daerah itu sendiri.
Makam Syeikh Haji Abdul Muhyi yang terdapat di Pamijahan diurus dan dikuasai oleh keturunannya. Makamnya itu ramai diziarai orang sampai sekarang karena dikeramatkan. Sampai saat ini desa Pamijahan dipimpin oleh seorang khalifah, jabatan yang diwariskan secara turun-temurun, yang juga merangkap sebagai juru kunci makam dan mendapat penghasilan sedekah dari para peziarah.
Karya tulis Syeikh Haji Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya oleh putra sulungnya sendiri, Syeikh Haji Muhyiddin yang menjadi tokoh tarekat Syattariah sepeninggal ayahnya. Syeikh Haji Muhyiddin menikah dengan seorang putri Cirebon dan lama menetap di Cirebon. Ajaran Syeikh Haji Abdul Muhyi versi Syeikh Haji Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Syeikh Haji Muhyiddin itu berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.
Ajaran “martabat alam tujuh” ini berawal dari ajaran tasawuf wahdatul wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Tidak begitu jelas kapan ajaran ini pertama kali masuk ke Indonesia. Yang jelas, sebelum Syeikh Haji Abdul Muhyi, beberapa ulama sufi Indonesia sudah ada yang menulis ajaran ini, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani (tokoh sufi, w. 1630), dan Abdur Rauf Singkel, dengan variasi masing-masing. Oleh karena itu sangat lemah untuk mengatakan bahwa karya Syeikh Haji Abdul Muhyi yang berjudul Martabat Kang Pitutu ini sebagai karya orsinilnya, tetapi besar kemungkinan berupa saduran dari karya yang sudah terdapat sebelumnya dengan penafsiran tertentu darinya.
Menurut ajaran “martabat alam tujuh”, seperti yang tertuang dalam Martabat kang Pitutu, wujud yang hakiki mempunyai tujuh martabat, yaitu (1) Ahadiyyah, hakikat sejati Allah Swt., (2) Wahdah, hakikat Muhammad Saw., (3) Wahidiyyah, hakikat Adam As., (4) alam arwah, hakikat nyawa, (5) alam misal, hakikat segala bentuk, (6) alam ajsam, hakikat tubuh, dan (7) alam insan, hakikat manusia. Kesemuanya bermuara pada yang satu, yaitu Ahadiyyah, Allah Swt. Dalam menjelaskan ketujuh martabat ini Syeikh Haji Abdul Muhyi pertama-tama menggarisbawahi perbedaan antara Tuhan dan hamba, agar -sesuai dengan ajaran Syeikh Abdur Rauf Singkel-orang tidak terjebak pada identiknya alam dengan Tuhan. Ia mengatakan bahwa wujud Tuhan itu qadim (azali dan abadi), sementara keadaan hamba adalah muhdas (baru). Dari tujuh martabat itu, yang qadim itu meliputi martabat Ahadiyyah, Wahdah, dan Wahidiyyah, semuanya merupakan martabat-martabat “keesaan” Allah Swt. yang tersembunyi dari pengetahuan manusia. Inilah yang disebut sebagai wujudullah. Empat martabat lainnya termasuk dalam apa yang disebut muhdas, yaitu martabat-martabat yang serba mungkin, yang baru terwujud setelah Allah Swt. memfirmankan “kun” (jadilah).
Selanjutnya melalui martabat tujuh itu Syeikh Haji Abdul Muhyi menjelaskan konsep insan kamil (manusia sempurna). Konsep ini merupakan tujuan pencapaian aktivitas sufi yang hanya bisa diraih dengan penyempurnaan martabat manusia agar sedekat-dekatnya “mirip” dengan Allah Swt.
Melalui usaha Syeikh Haji Muhyiddin, ajaran martabat tujuh yang dikembangkan Syeikh Abdul Muhyi tersebar luas di Jawa pada abad ke-18.*** (Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 5-8.)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons