Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.

Rabu, 12 September 2012

Muhammad Ibnu Qasim, Sang Perintis Peradaban Islam di Asia Selatan

Bersenjatakan ketapel raksasa dan batu berapi, pasukan Muslim membebaskan Asia Selatan. Di bawah Muhammad Ibnu Qasim, Asia Tengah mulai mengenal Peradaban Islam
Masuknya Islam ke kawasan Asia Selatan – India dan Pakistan sekarang – di motori oleh seorang tokoh Mujahid bernama Muhammad Ibn Qasim. Pada abad ke delapan Masehi, dalam waktu kurang dari dua tahun, panglima perang muslim itu dengan gagah berani berhasil mematahkan perlawanan pasukan beberapa kerajaan yang masih beragama Hindu di wilayah itu. Dan sejak itulah, Islam mulai berkembang dengan pesat di anak benua Asia tersebut.
Muhammad ibn Qasim lahir pada tahun 695 M dizaman keemasan dinasti Bani Umayah. Ketika itu, kaum muslimin sudah mulai menguasai beberapa wilayah di Timur dan Barat. Di kawasan Timur, Qutaiba Ibnu Muslim menghancurkan perlawanan pasukan Tartar sehingga sebagian kawasan Asia tengah memeluk Islam. Sementara di Barat, Musa Ibn Nusair membebaskan hampir seluruh kawasan Afrika Utara. Bersama salah seorang jenderalnya, Thariq bin Ziyad, ia berhasil menduduki semananjung Liberia kemudian masuk ke Spanyol dan selanjutnya menembus ke jantung Eropa.
Ibnu Qasim tumbuh sebagai anak muda yang cerdas dan pemberani. Tak mengherankan bila Hajjaj bin Yusuf, Gubernur ketika itu, mengangkat Ibnu Qaim , yang kebetulan kemenakannya sendiri, sebagai panglima perang. Ibnu Qasim yang saat itu belum genap berusia 17 tahun, dipercaya memimpin sebuah pasukan beranggotakan 6.000 parajurit. Pasukan besar ini segera berangkat ke medan perang untuk merebut Debal, ibukota Sind (sekarang Pakistan).
Ketika Sind diperintah oleh Dahir Charch, seorang raja yang otoriter bukan hanya menguasai Sind, ia juga menguasai Baluchistan, Makram, Gujarat, marwar dan sebagian Punjab, kawasan-kawasan yang beribukotakan Debal, yang terletak di jalur barat sungai Indus. Hubungan dengan kekhalifahan Islam agak kurang serasi, karena ia terlalu suka melindungi sejumlah pemberontak. Bahkan tentaranya sering merampas barang-barang milik pedagang Muslim di Debal, dalam perjalanan mereka dari Ceylon ke Jazirah Arab. Tidak hanya itu, mereka juga sering menahan anak-anak dan perempuan keluarga pedagang Muslim. Raja Dahir selalu menolak membebaskan mereka, meskipun beberapa kali Khalifah memperotes.
Bisa dimaklumi jika kemudian pasukan Ibnu Qasim menyerang mereka. Dengan bersenjatakan ketapel raksasa dan batu besar berapi, 6.000 pasukan muslim mengepung dan menggempur Debal. Perang yang sangat dahsyat pun pecah hingga berlangsung beberapa hari. Pada awalnya Raja Dahir mampu mengimbangi serbuan itu karena mendapat dukungan sebagian raja kecil Hindu di beberapa kawasan di anak benua itu.
Pasukan Dahir berjumlah 10.000 tentara, terdiri dari pasukan gajah dan pemanah yang sangat mahir. Dahir sendiri mahir mengatir strategi perang. Ketika pasukan muslim mulai letih, ia menggerakkan pasukannya untuk menyerang habis-habisan. Tapi ketika terdesak ia sempat mengunci diri dibalik benteng kota Debal yang kukuh dan sangat sulit ditembus.
Meski begitu pasukan muslim dengan siasat perang yang jitu, bisa merubah situasi. Pasukan muslim mendadak menguasai medan pertempuran dan mengalahkan musuh. Mereka bersenjatakan katapel raksasa yang di sebut Uroos. Sebuah batu besar berapi menyala-nyala yang dilontarkan dengan Uroos berhasil mematahkan tiang bendera musuh di puncak benteng. Pasukan yang terkepung dalam benteng membaca hal itu sebagai pertanda buruk. Maka akhirnya mereka keluar dari benteng, dan disambut pasukan muslim dengan gempuran habis-habisan. Pasukan musuhpun bertekuk lutut.
Setelah berhasikl membebaskan Debal, pasukan Ibnu Qasim menyerbu kerajaan Nerwal. Dalam waktu tak terlalu lama, Raja Nerwal menyerah tanpa perlawanan berarti. Dari Nerwal Ibnu Qasim bergerak ke Bherah. Tapi disana pasukannya merndapat perlawanan dahsyat, meski akhirnya mampu mengalahkan Raja Vijay Ray. Setelah itu berturut-turut Ibnu Qasim merebut Sehwan, benteng Sesam, dan Sahihah, tampa perlawanan berarti. Ia juga bergerak ke sisi barat sungai Indus. Sampai disebuah kawasan dekat Jhimpir, sisi Timur sungai Indus, pasukan Ibnu Qasim berhadapan lagi dengan sebagian pasukan Raja Dahir yang berkekuatan besar yang dipimpin oleh Jenderal Jay Singh.
Di tengah pertempuran dahsyat, pasukan Ibnu Qasim menyebrangi Sungai Indus yang lebar dan berarus kuat. Mereka menggunakan beberapa perahu kecil di ikat satu dengan yang lain. Setiap perahu diawaki oleh lima pemanah pilihan, perahu paling depan ditarik dengan Mangonel semacam mesin penggerak. Pasukan berparahu itupun bergerak mengikuti arus, menyerang musuh diseberang sungai dengan ribuan anak panah. Walhasil, musuhpun dapat dipukul mundur.
Dari sisi sungai diseberang sana, pasukan Ibnu Qasim merangsek masuk ke jantung pertahanan musuh, dan akhirnya berhasil merebut Jhimpir. Dari sana mereka menguntit pasukan pengawal Raja Dahir yang berlindung di benteng Rawar. Dengan mudah pasukan Dahir dikalahkan dan menyerah, sementara sang Raja terbunuh.. pertempuran lainnya pecah di Brahmanabad, dan dimenangkan oleh pasukan muslim. Mereka berhasil memukul mundur pasukan Hindu di bawah pimpinan Jay Singh, yang buru-buru melarikan diri kearah Kashmir.
Pasukan muslim lalu bergerak maju lagi untuk merebut wilayah-wilayah di sekitar Rohri, dan seterusnya merangsek ke Sikka. Dalam pertempuran dahsyat selama beberapa hari, banyak korban jatuh di kedua belah pihak. Dan akhirnya dengan sekuat tenaga, pasukan muslim menggempur Multan, basis pasukan Hindu yang cukup kuat.
Walhasil hanya dalam waktu dua tahun (712-714) pasukan muslim di bawah komando Muhammad Ibnu Qasim berhasil memenangkan 11 kali pertempuran dahsyat melawan pasukan Raja Dahir. Ibnu Qasim sendiri tgernyata tidak hanya hebat di medan pertempuran, tapi juga piawai sebagai pemimpin di masa damai. Ia memerintah kawasan luas yang dikuasainya dengan adil. Tak mengherankan jika rakyat, baik muslim maupun non-muslim, sangat menghormatinya.
Pada masa Ibnu Qasim, sesungguhnya awal kebijakan daerah diterapkan, kebijakan otonomi daerah pertama kali dalam sejarah ketatanegaraan diterapkan. Masa itu adalah masa peralihan antara pemerintahan dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah, ketika hukum dan perundang-undangan diperluas pelaksanaannya sampai ke kawasan selatan seperti Karachi. Selain itu sejumlah kota dibangun dengan tujuan untuk memperluas dakwah. Sementara Bahasa Arab mulai diperkenalkan sebagai bahasa resmi.
Beberapa abad kemudian, ketika Ghaznavids (976-1148) dua penguasa pribumi India yang bergama Islam, memerintah wilayah-wilayah tersebut, pelaksanaan hukum dan perundang-undangan berdasarkan syariat Islam diperluas hingga ke Dehli. Dan sejak tahun 1206 sampai 1526, lima dinasti secara bergantian memerintah dengan tetap mempertahankan hukum dan perundang-undangan Islam. Begitu juga ketika Sultan Moghal (1526-1707) memerintah kawasan yang sudah dibebaskan itu.
Bersamaan dengan itu pula ada kecendrungan mengembangkan bahasa Persia sebagai bahasa Resmi, meskipun leteratur agama masih banyak yang menggunakan bahasa Arab. Dan selaras dengan perkembangan politik, saat itu pemerintah Islam juga mengembangkan institusi-institusi politik, eknomi, sosial dan agama.

KH Hamim Jazuli (Gus Mik): Kiai Nyentrik dan Musafir Pecinta Al-Quran

Panggilan akrabnya Gus Mik. Ia pelindung rakyat jelata. Kebeningan hati Kiai ini mempu menembus batas kelas dan agama
Di Hotel Elmi Surabaya, suasana kafe gaduh. Hentakan musik menggebrak setiap sudut ruangan. Kepulan asap rokok menyesakkan dada. Bau alkohol menusuk hidung. Seorang lelaki berwajah teduh duduk mengobrol di pojok kafe, tubuhnya sedang, rambutnya ikal. Sebatang rokok terselip di antara jari-jarinya. Ia ditemani beberapa orang.
Dari mulutnya meluncur kalimat-kalimat menyejukkan. Terkadang terdengar tawa segar. Kata banyak orang lelaki itu sering menghabiskan waktunya di kafe tersebut. Bahkan tidak hanya di Kafe Elmi, di beberapa diskotik Surabaya pun namanya banyak dikenal. Ia juga dikenal sebagai Kiai yang nyentrik.
Itulah dunia Kiai Hamim Jazuli alias Gus Mik. Ia adalah tokoh sentral kegiatan Semaan Al-Quran yang pengikutnya ribuan orang. Semaan adalah kegiatan membaca dan mendengarkan Al-Quran bersama-sama, dilakukan oleh banyak orang dalam sebuah majelis. Ia dikenal sebagai Kiai yang mengayomi umat, terutama rakyat jelata. Kekhasan gayanya dalam menyebarkan kebenaran sangat unik. Tidak seperti ulama lainnya, lahan garapannya adalah orang-orang pinggiran yang sering disebut “Manusia Malam.”
Banyak cerita yang beredar tentang almarhum Gus Mik. Mulai dari kehidupan sehari-harinya sampai keanehan-keanehan yang sering di luar nalar. Ia memang memiliki kelebihan yang unik. Hampir di sepanjang hayatnya ia dekat dengan kaum lemah dan papa, kaum pinggiran atau yang terpinggirkan. Ia lebih suka berpakaian trendi ketimbang surban, jubah atau sarung. Pergaulannya sangat luas. “Saya merasa dituntut untuk menguasai bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati,” katanya suatu ketika.
Tentang hal ini ia pernah berkata kepada sebuah majalah, “Kalau saya masuk ke tempat-tempat seperti diskotik, karaoke, saya hanya tertawa. Saya sendiri senang. Tetapi saya lebih tertarik pada pendapat seorang ulama terdahulu, jika tidak salah namanya Imam Ahmad bin Hambal. Kalau masuk ke tempat hiburan yang diharamkan oleh Islam, justru Imam Ahmad bin Hambal berdoa, di pintu pertama ia berdoa: Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta-pora di tempat seperti ini, semoga berpesta poralah di akhirat nanti.”
Sewaktu ia masih hidup, banyak orang memburunya, bahkan tidak sedikit yang merelakan waktunya berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk dapat bertemu dengannya, walau hanya sekedar bersalaman. Tamunya berdatangan dari berbagai golongan, mulai dari tukang becak, santri, politikus, pejabat sampai jenderal. Mereka percaya bertemu dengan Gus Mik akan membawa berkah tersendiri. Mereka kebanyakan datang untuk minta nasihat tentang berbagai persoalan hidup.
Gus Mik juga sering diminta memberikan nama seorang bayi yang baru lahir. “Dulu, pada usia 10 tahun, saya banyak didekati orang. Entah dikira saya itu apa, atau bagaimana. Bahasa orang-orang yang datang kepada saya ya ini-itu saja, minta restu, mengungkapkan kekurangan, banyak juga yang meminta doa supaya banyak rezeki. Orang yang mau melahirkan juga datang kepada saya, dikira saya ini bidan,” tuturnya suatu ketika.
Meski dikenal sebagai kiai kondang, Gus Mik sesungguhnya rendah hati. “Saya ini bukan kiai, bukan ulama. Saya adalah orang yang dipaksakan untuk dipanggil kiai. Saya cuma ingin benar dan tak ingin terlalu banyak salah,” katanya. Ia juga tak segan-segan membantu orang yang dalam kesusahan. Bisa dimakluni jika tamunya berjubel. Sampai-sampai pernah 18 hari 18 malam tidak tidur karena sibuk menerima tamu. Ia mengaku tak kuasa menolak tamu, yang minta doa untuk menyelesaikan berbagai masalah, mulai dari bisnis sampai soal perjodohan.
Selain rendah hati, sesungguhnya ia adalah orang yang sangat sederhana. Meski keluarganya tinggal di Kediri –dan tak seorangpun tahu alamatnya– jika suatu saat ia berada di Surabaya lebih suka tidur beralaskan kertas koran di rumah Pak Syafii, salah seorang sahabatnya. Kadang-kadang tidur di kursi plastik jebol ditemani sebuah teko kuningan berisi teh kental dan dua gelasnya, tak lupa sebuah asbak pebuh puntung rokok kretek. Ia memang perokok berat.
Dalam sebuah wawancara Gus Mik bilang, dia bukan apa-apa. “Kita jangan sekali-kali sok suci atau super bersih. Sebab di bumi ini ada dua penampilan. Pertama, penampilan sebagai manusia satu-satunya di bumi yang paling top, paling sukses, paling suci, paling bersih. Kedua, sebaliknya, sebagai manusia penghuni bumi yang bukan apa-apa. Saya hanyalah saya. Insyaallah kalau dalam jiwa kita sudah tertanam perasaan sebagai hamba Allah, akan tertanam pula rasa dosa, rasa salah, rasa kekurangan, sehingga keinginan untuk mohon pengampunan kepada Allah akan lebih besar dan meningkat, dan itu ternyata sulit. Termasuk saya sendiri, yang ngomong belum tentu bisa apa-apa,” katanya.
Gus Mik lahir di Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, sekitar 1940. Tanggal lahirnya tidak pernah disebutkan. Ia adalah anak lelaki ketiga KH. Ahmad Jazuli, pendiri Pondok Pesantren Al-Falah di kampung halamannya, Ploso. Sejak kecil ia memang sudah terlihat aneh. Ia mengaku sering dianggap aneh, bahkan tidak jarang ada yang mengatakan tidak waras. “Dari usia 11 tahun saya seperti orang sakit. Saya dianggap tidak waras. Kerja saya hanya di sungai, mancing terus menerus,” tuturnya.
Memang sejak kecil ia suka mengembara, sehingga orang tuanya tidak tahu di mana Khamim kecil berada. Bahkan oleh ayahnya ia pernah dianggap sebagai anak hilang, kebiasaan ini berlanjut hingga masa tuanya. Bukan rahasia lagi, orang sulit mencarinya. Bahkan banyak orang mengatakan, bisa bertemu dengan Gus Mik “jodoh-jodohan”. Kalau memang jodoh ya gampang. Kalau jodoh tak dicaripun ia muncul. Tetapi kalau tidak jodoh, dicari sampai sebulan pun belum tentu ketemu, ujar seorang wartawan yang pernah mengubernya.
Salah satu peninggalan Gus Mik yang tumbuh pesat sampai saat ini ialah semaan Al-Quran. Forum semaan mula-mula didirikan pada 1986 di Kampung Burengen, Kediri. Mula-mula pengikutnya hanya 10-15 orang, lama kelamaan ribuan. Tempatnya pun tidak hanya di masjid atau di rumah, tetapi sudah memasuki pendopo Kabupaten sampai Keraton. Tentang berdirinya jemaah semaan ini, Gus Mik bercerita:
“Dari berkelana, timbullah gagasan semaan Al-Quran. Saya ingin benar dan tak ingin salah terlalu banyak. Lalu saya mengambil langkah silang dengan mengatakan kepada pafa santri agar berkumpul sebulan sekali, mengobrol, guyon, santai. Syukur-syukur bisa menghibur diri dengan hiburan yang berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan pakem bahwa pertemuan seperti itu dibarengi membaca dan mendengarkan Al-Quran. Syukur dari awal sampai akhir Allah akan memberikan rahmat dan nikmat-Nya. Jadi secara batiniyah, semaan Al-Quran adalah hiburan yang hasanah, yang baik, juga sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah, sebagai tabungan di hari akhir. Itu harus benar-benar diyakini oleh jemaah semaan Al-Quran.”
Al_Quran memang mempunyai barakah. Dan menurut Gus Mik, orang yang mendengarkan dan membaca Al-Quran mendapat pahala yang sama. “Malah dalam sebuah ulasan, seorang ulama dikatakan, orang yang mendengarkan bacaan Al-Quran pahalanya lebih besar daripada yang membaca. Sebab yang mendengar lebih main hati, pikiran dan telinga. Pendengar dituntut lebih menata hati, pikiran, dan lebih memfokuskan pendekatan diri kepada Allah,” katanya. “Satu-satunya upaya untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah majelis semaan Al-Quran. Hal ini berdasarkan sebuah hadits, “Barang siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, beradalah dia dalam alunan Al-Quran.”
Sewaktu Gus Mik masih hidup, para samiin, pengikut jemaah samaan, selalu menunggu kehadirannya. Tetapi dalam banyak kesempatan Gus Mik jarang hadir pada acara semaan itu, kalaupun hadir, ia hanya sebentar. Itupun biasanya diakhir acara. “Saya ini samiin yang tidak konsekuen,” katanya merendah dengan nada lirih. Begitu ia datang, Gus Mik langsung dikerubuti ribuan jemaah. Sampai-sampai suatu kali ia pernah diselundupkan ke jemaah wanita untuk menghindari serbuan para samiin.
Di samping semaan Al-Quran, beliau juga mendirikan majelis “Dzikrul Ghafilin”. Maksudnya, dzikir orang-orang yang lupa kepada Allah. Seperti halnya majelis semaan, acar dzikir bersama yang lazim disebut mujahadah ini juga di ikuti ribuan orang dengan sangat khusuk. Orang berdatangan dari berbagai pelosok desa. Sampai sekarang, baik semaan maupun majlis dzikir tetap diminati ribuan kaum muslimin, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sayang dua kegiatan rohaniah yang semula dimaksudkan sebagai ritus di kalangan kaum yang terpinggirkan ini kini berkembang menjadi “upacara” resmi di kalangan pejabat.
Banyak cerita tentang karamah atau kemuliaan yang muncul di sekitar kehidupan Gus Mik, yang oleh kalangan awam dianggap aneh. Di antaranya, kemampuan Gus Mik bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan air putih. Banyak juga yang percaya, Gus Mik bisa terlihat di dua tempat. Salah satunya ketika KH Mustain Romli, pendiri Pesantren darul Ulum Jombang, dan seorang Mursyid sebuah tarekat, meninggal dunia.
Ketika itu, KH Ahmad Jazuli, ayahnda Gus Mik, berangkat untuk takziyah bersama keluarganya. Gus Mik kecil yang diajak ikut serta menolak, ia memilih tinggal di rumah. Tetapi setelah keluarga KH Jazuli tiba di rumah duka, betapa terkejutnya, karena mendapatkan Gus Mik sudah berada di sana. Yang lebih mengherankan lagi, keluarga KH Mustain menuturkan, Gus Mik sudah menemani KH. Mustain sejak seminggu sebelum almarhum wafat.
Ada cerita unik lainnya, suatu hari ketika shalat jumat tiba, Gus Mik hilang. Orang-orangpun bingung dibuatnya, setelah salat jumat usai, mereka berusaha mencari Gus Mik, tiba-tiba Gus Mik muncul dengan membawa seonggok kurma yang ranting-rantingnya masih meneteskan getah segar. Mereka meyakini, Gus Mik shalat Jumat di Makkah.
Banyak orang yang pernah melihat Gus Mik Memberi uang kepada fakir miskin. Anehnya uang tersebut diberikan setelah ia secepat kilat menggerakkan tangan kanannya ke udara. Secara mendadak ia sudah menggenggam segepok uang. Meski dikenal nyentrik, Gus Mik banyak melakukan aktivitas rekigius.
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, pernah menulis Gus Mik sering terlihat berziarah ke makam Syekh Ihsan di Jampes, Kediri, 40 hari sekali. Syekh Ihsan dikenal sebagai ulama yang sangat rajin menulis kitab-kitab agama. Atau berziarah ke makam Mbah Mesir di Trenggalek, pembawa tarekat Syadziliyah, dua abad lampau. Menurut Gus Dur, Gus Mik mengidolakan ulama yang perduli kepada kaum dhuafa atau kaum lemah.
Kiai kharismatik yang hidupnya sangat sederhana, kaya dengan karamah, sangat dekat dengan orang-orang kebanyakan pembela dan pelindung kaum papa dan miskin ini, tak ayal lagi dianggap sebagai orang wali, orang suci, sosok yang pergaulannya sangat luas ini wafat di Rumah Sakit Budi Mulia, Surabaya, pada 5 Juni 1993, dan dimakamkan di pemakaman para wali di Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kediri.

Sumber : http://www.sufiz.com/jejak-wali/kh-hamim-jazuli-gus-mik-kiai-nyentrik-dan-musafir-pecinta-al-quran.html

Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas, Sang Penyusun Ratib Al-Aththas

Karomahnya sudah tampak sejak dalam kandungan ibundanya. Meski kehilangan penglihatan sejak kecil, ia giat menuntut  ilmu. Dialah salah seorang ulama besar Hadramaut.
Di Hadramaut ada seorang ulama besar, seorang wali yang sangat termasyhur karena karomah-karomahnya. Dialah Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas. Lahir pada 992 H / 1572 M di Desa Lisk, dekat Kota Inat, Hadramaut. Dia juga yang mula-mula mendapat gelar Al-Aththas, “orang yang bersin”. Disebut demikian karena, konon, ketika masih berada dalam kandungan ibundanya, Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri, ia sering bersin. Janin yang masih dalam kandungan bisa bersin, tentu hal ini merupakan hal yang luar biasa.
Meski sejak kecil ia sudah kehilangan penglihatan, Allah menerangi hatinya, sehingga ia mampu menyerap dengan baik semua pengetahuan tentang agama yang diajarkan oleh ayahnya, Al-Imam Abdurrahman bin Aqil. Semangat belajarnya memang sangat besar. Tak bosan-bosannya ia menuntut ilmu kepada beberapa ulama besar, seperti Syekh Abu Bakar bin Salim, Muhammad bin Abdurrahman Al-Hadi, Syekh Umar bin Isa As Samarqandi. Sementara guru utama yang paling ia hormati, ialah Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim.
Ia banyak belajar tasawuf, terutama dari Syekh Umar bin Isa Barakwah As-Samarqandi. Setelah merasa cukup menuntut ilmu, ia membuka majlis taklim dengan mengajarkan ilmu agama. Dakwahnya pun menyebar ke segala penjuru Hadramaut.
Belakangan ia dikenal sebagai seorang sufi yang banyak menguasai ilmu lahir dan batin, pengayom anak yatim piatu, janda dan fakir miskin. Siang mengajar, malamnya ia gunakan untuk melakukan Riyadhah, beribadah, bermunajat kepada Allah SWT, dan sangat jarang sekali tidur.
Sebagai ulama besar dan sufi, Habib Umar dikenal dengan beberapa karomahnya. Ia sangat termasyhur, bahkan sampai ke negeri Cina. Suatu hari salah seorang anak Habib Abdurrahman melawat ke Cina di sana ia bertemu dengan seorang sufi yang memberi salam dan hormat, padahal ia tidak mengenalnya.
“Bagaimana engkau mengenalku, padahal kita belum pernah bertemu?” tanyanya.
“Bagaimana aku tidak mengenal engkau? Ayahmu, Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas, adalah guru kami, dan kami sangat menghormatinya. Habib Umar sering datang ke negeri kami, dan ia sangat terkenal di sini,” jawab sufi tersebut. Padahal jarak antara Hadramaut dan Cina sangat jauh, tapi Habib Umar telah berdakwah sampai ke sana.
Syekh Muhammad Baqais, salah seorang muridnya, bercerita, “Suatu kali Habib Umar mendamaikan beberapa suku yang berperang sampai berkali-kali. Tapi tetap saja ia tidak mendapatkan tanggapan yang baik. Karena itu ia pun melemparkan biji tasbihnya kepada mereka. Dengan izin Allah, biji tasbih itu menjadi ular, barulah mereka sadar dan minta maaf.”
Nama Habib Umar tidak bisa dipisahkan dari karya agung yang diberi judul: Azizul Manal wa Fathu Babil Wishal (Anugrah nan Agung dan Pembuka Pintu Tujuan),” yang belakangan sangat terkenal sebagai Ratib Al-Aththas. Habib Umar sendiri berwasiat, “Rahasia dan hikmah telah kutitipkan di dalam Ratib ini.
Menurut Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang, Jakarta), Ratib Al-Aththas lebih tua dibanding dengan Ratib Al-Haddad. Ratib Al-Haddad disusun pada 1071 H / 1651 M oleh Habib Abdullah Al-Haddad. Sedang Ratib Al-Aththas disusun jauh sebelumnya. Ada beberapa wirid atau doa yang tidak ada dalam Ratib Al-Aththas tapi terdapat dalam Ratib Al-Haddad, demikian pula sebaliknya. Namun seperti ratib-ratib yang lain, keduanya tetap mengacu pada doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Ratib Al-Aththas biasa dibaca usai shalat maghrib, tapi boleh juga di baca setiap pagi, siang atau tengah malam. Bisa dibaca sendiri atau berjema’ah. Manfaat ratib ini sangat besar. Bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan, dengan membaca Ratib Al-Aththas atau Ratib Al-Haddad setiap malam, Allah akan menjaga dan memelihara seluruh penghuni kota tempat tinggal kita, menganugerahkan kesehatan, dan memudahkan rezeki-Nya kepada setiap penduduk.
Dalam keadaan sangat khusus dan mendesak, Ratib tersebut bisa dibaca 7 hingga 41 kali berturut-turut pendapat ini mengacu kepada beberapa hadits Rasulullah SAW tentang manfaat istighfar dan doa-doa lainnya. Sebab, dalam Ratib-ratib tersebut antara lain terdapat shalawat, tahlil, tasbih, tahmid dan istighfar.
Orang yang mengamalkan ratib ini tidak akan terluka jika pada suatu hari dipatuk ular, tidak akan merasa takut, ia akan selamat dari segala yang ditakuti.
Betapa hormat para ulama kepada Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas. Hal ini terlihat ketika suatu hari seorang ulama, Syekh Salim bin Ali, mengunjungi Imam Msjidilharam, Habib Muhammad bin Alwi Assegaf, dan menyampaikan salam dari Habib Umar. Seketika itu juga Habib Muhammad menundukan kepala sejenak, lalu berkata, “Layak setiap orang menundukkan kepala kepada Habib Umar. Demi Allah, saya mendengar suara gemuruh di langit untuk menghormati beliau. Sementara di bawah langit ini, tidak ada orang lebih utama daripada beliau.”
Habib Umar bin Muhammad Al-Aththas wafat pada 23 Rabiul Akhir 1072 H / 1652 M. jenazahnya dimakamkan di Hadramaut. Sampai sekarang makamnya selalu dikunjungi banyak peziarah dari berbagai belahan dunia.

Senin, 10 September 2012

Sayyid Arif Abdurrahim Basyaiban

Cerita napak tilas Sayyid Arif Abdurrahim tidak akan lepas dari sang kakak Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban, yang makamnya berada di Mojoagung Jombang Jawa Timur.
Perjuangan keduanya dalam membabat kawasan pesisir Pulau Jawa, menjadi daerah yang kental dengan nilai-nilai religius menorehkan masa keemasan.
Sekitar pertengahan abad ke-16 Masehi adalah gencar-gencarnya orang-orang Arab berimigrasi ke tanah Jawa melalui jalur laut. Dan salah satu dari mereka adalah Sayid Sulaiman Basyaiban.
Basyaiban adalah gelar warga habib keturunan Sayid Abu Bakar Syaiban, seorang ulama terkemuka di Tarim, Hadhramaut yang terkenal alim dan sakti.
Dan ayahanda Sayid Sulaiman dan Sayid Arif yang bernama Sayid Abdurrahman masih tergolong cicit dari Sayid Abu Bakar Ba Syaiban. Ia putra sulung Sayid Umar bin Muhammad bin Abu Bakar Ba Syaiban. Lahir pada abad ke-16 M di Tarim, Yaman bagian selatan sebuah perkampungan sejuk yang terkenal sebagai gudang para wali dan auliya’ Allah.
Ketika dewasa ia merantau ke Nusantara, tepatnya di Pulau Jawa. Sayid Abdurrahman memilih tempat tinggal di Cirebon, Jawa Barat. Beberapa waktu kemudian ia mempersunting putri Maulana Sultan Hasanuddin, Demak, bernama Syarifah Khadijah. Seorang putri bangsawan yang masih keturunan Rasulullah dan masih cucu Raden Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Buah dari pernikahan mereka dikaruniai tiga putra, yakni Sayid Sulaiman, Sayid Abdurrahim (Sayid Arif), dan Sayid Abdul Karim. Ketiganya mewarisi keturunan leluhurnya dalam hal berdakwah menyebarkan ajaran Islam di Jawa.
Tempat syiar pertama mereka adalah Krapyak, Pekalongan, Jawa Tengah. Lalu berkelana ke Solo, di sini mereka terkenal kesaktiannya. Hingga suatu ketika seorang Ratu Mataram Solo merasa iri. Di kota inilah mereka berpisah, Sayid Sulaiman memilih pergi ke Surabaya tepatnya di Ampel Denta, sedangkan sang adik memilih untuk menetap.
Sayid Sulaiman kemudian berguru pada santri-santri Raden Rahmat (Sunan Ampel). Tak berselang lama, kabar keberadaan Sayid Sulaiman akhirnya sampai ke telinga Ratu Mataram. Lalu sang ratu mengirim utusan ke Surabaya untuk memanggilnya. Salah satu utusan adalah Sayid Abdurrahim (Sayid Arif), adik kandungnya sendiri.
Sesampainya di Ampel, Sayid Arif sangat terharu bertemu kembali dengan kakak tercinta. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram, dan memilih belajar kepada santri-santri Sunan Ampel bersama Sayid Sulaiman.
Setelah nyantri di Ampel, kakak beradik ini pergi ke Pasuruan untuk nyantri kepada Mbah Sholeh Semendi di Desa Segoropuro, seorang ulama besar asal Banten, Jawa Barat, yang menyebarkan Islam di Pasuruan pada abad ke-17.
Lepas dari itu Sayid Sulaiman memilih tinggal di Kanigoro, Pasuruan. Hingga akhirnya mendapat julukan Pangeran Kanigoro dan sempat pula menjadi penasehat Untung Surapati, seorang tokoh terkemuka Pasuruan dan tercatat sebagai pahlawan yang berjasa mengusir penjajah Belanda dari Nusantara.
Melihat kecerdikan dari keduanya, membuat Mbah Soleh tertarik untuk menjadikan menantu keduanya. Namun, Sayid Sulaiman diminta untuk kembali ke Cirebon oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Karena kala itu terjadi pertempuran sengit antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya sendiri Sultan Haji, tepatnya pada 1681-1683. Sedangkan Sayid Arif diminta Mbah Soleh untuk tetap di Pasuruan membantu penyebaran Islam.
Dari sinilah mulai terbentuk beberapa sentra besar penyebaran Islam. Seperti berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Sidoresmo Surabaya dan Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. Kini pesantren-pesantren itu masih ada, di bawah pengelolaan yang masih satu garis keturunan dari Sayid Sulaiman dan Sayid Arif. Untuk terus menjaga kemilau fajar penyebaran Islam yang telah dirintis mereka berdua.

Sumber : http://kleponews.wordpress.com/2009/04/08/kilau-fajar-di-ufuk-timur-jawa/

K.H. Abdullah As‐Sajjad

K.H. Abdullah As‐Sajjad dilahirkan di Guluk‐Guluk Sumenep dari pasangan Nyai Mariyah Idris Patapan dengan K.H. Muhammad  Asy‐Syarqawi  Al‐Qudusi pada sekitar tahun 1895 M. Nyai Aisyah, adik beliau, lahir pada Jumadil Awal 1316 H./September/Oktober  1898.  Tidak  diperoleh data  yang  pasti  mengenai  tanggal  kelahiran beliau.
Berdasarkan dugaan dimaksud, sewaktu  K.H.  Muhammad  Asy‐Syarqawi meninggal  pada  bulan Muharram  tahun  1329 H/Januari  1911  M  beliau  masih  sangat  muda. Sebagai  putra  tokoh agama  dan  mendapat dukungan  serta  fasilitas  dari  ibu  beliau,  beliau mengembara dan menuntut ilmu di Banyuanyar,  Bangkalan,  kemudian  di  Panji Siwalan Sidoarjo, di Tebuireng dan cukup lama di  Sidogiri.  Seperti  kakak  beliau,  pada  waktu menunaikan ibadah haji, beliau juga menggunakan  sebagian  waktu  beliau  untuk menuntut  ilmu‐ilmu  keagamaan.  Sewaktu  di Tebuireng  antara  lain  beliau  mempelajari  ilmu falak. Ditulisnya ilmu itu dengan tangan beliau sendiri.  Setelah  diteliti,  ternyata  kebanyakan kitab‐kitab  yang  beliau  tinggalkan  beliau  beli sesudah pulang dari pondok.

Kemudian  beberapa  waktu  sepulang menuntut  ilmu,  beliau  kawin  dengan  sepupu beliau, Nyai Shafiyah Munawwar dari Kembang Kuning, Talang, Pamekasan. Sesudah itu  beliau  menempati lahan  baru  dari  hibah salah seorang anggota masyarakat pada beliau. Di tempat yang baru ini beliau mulai mengajar mengaji  Al‐Qur'an  dan  ilmu‐ilmu  agama, antara  lain  beliau  mengajar kitab  setiap  Sabtu malam  Minggu  kepada  masyarakat  yang  juga datang  dari  luar  desa bahkan  luar  kecamatan seperti  dari  Desa  Penanggungan,  Beragung, Dundang, Payudan Daleman, Jaddung, Moncek, Gilang, Karang Cempaka, dan sebagainya. Pada  umumnya  mereka datang dengan  berjalan  kaki,  satu  dua  ada  yang  naik kuda  dan  hanya  seorang  yang  naik sepeda motor yaitu yang dari Karang Cempaka, karena dia  tergolong  orang  kaya  pada zamannya. Kemudian  tempat  ini  menjadi  pesantren sampai  sekarang  dan  dikenal  dengan  sebutan Latee. Konon,  kata  Latee  diambil  dari  nama pemilik asal tanah tersebut.

Beliau  dikenal  sangat  rajin  mengajar membaca  Al‐Qur'an  dengan  baik.  Untuk  itu ilmu Tajwid tidak lupa diajarkannya juga pada para  santri.  Dalam  mengajar  Al‐Qur'an  beliau menerapkan sistem  sorogan,  yaitu  santri  satu persatu  membaca  dan  kiai  mendengarkannya serta membetulkan  apabila  ada  bacaan  yang salah  dan  kurang  baik.  Ini  dilaksanakan  setiap harisampai  santri  menyelesaikan  30  juz. Sesudah  itu  santri  yang  telah  lulus  di‐“wisuda”. Mereka diharuskan berpidato dalam bahasa  Arab  yang    beliau  susun  sendiri. Dengan  demikian beliau  banyak  mengambil manfaat.  Setiap  hari,  selama  bertatahun  tahun, dari sumber yang beraneka ragam menginformasikan isi Al‐Qur'an kepada beliau. Sekalipun beliau tidak hafal sepenuhnya, tetapi topik‐topik dan pokok bahasan yang ada dalam Al‐Qur’an  beliau  hafal  dan tentu  memahami isinya.  Setiap  waktu  shalat  eliau  membaca Surat‐Surat  dalam  juz  Amma semisal  Surat  Al‐A'la,  Al‐Ghasyiyah,  At‐Takatsur,  Al‐Humazah, Al‐Ma'un  dan  lain  sebagainya. Khusus  pada Shalat Subuh hari Jum’at beliau suka membaca Surat  As‐Sajadah  pada  rakaat pertama  dan surah  Al‐Insan  pada  rakaat  kedua.  Sedangkan pada  Shalat  Isya'  Malam  jum'at beliau  suka membaca  Surat  Al‐Jumu'ah  pada  rakaat pertama  dan  Surat  Al‐Munafiqun  pada rakaat kedua.  Itu  dibaca  secara  tuntas  dari  awal sampai  akhir  surah.  Dari  itu  pola  hidup yang beliau  perlihatkan  sehari‐hari  sesuai  dengan apa yang beliau pahami dari Al‐Qur'an dan Al‐Hadits.  Pada  saat  itu  tantangan  modernisasi belum  begitu  kuat  dan  globalisasi  belum seperti sekarang.

Menurut  salah  seorang  informan, beliau  lebih  mengutamakan  bacaan  yang  baik dari  pada menghafal  seluruh  isi  Al‐Qur'an. Bahkan  terkesan  beliau  kurang  setuju  pada santri  yang  akan menghafalkan  seluruh  isi  Al‐Qur'an.  Barangkali  hal  ini  disebabkan  karena bacaan  para  santri menurut  pemikiran  beliau masih  kurang  baik  dan  terutama  beliau khawatir  kalau‐kalau  setelah di  masyarakat dilupakannya  sebagian  saja  oleh  mereka.  Pada saat  itu,  Annuqayah  dikenal dengan  santrinya yang  pandai  dan  baik  dalam  membaca  Al‐Qur'an  di  samping  baik  dalam tata  kramanya. Beruntunglah  Pondok  Pesantren  Salafiyah Syafi’iyah  Sukorejo,  karena  dahulu alumni‐alumni  Annuqayah  mengajar  membaca  Al‐Qur'an  dengan  baik. Mereka  itu  antara  lain K.H. Dhofir Munawwar, KH Ihsan Munawwar, K.   Musta’ien   dan   K.  Mahalli.

Selain  beliau  dikenal  sangat  rajin mengajar  Al‐Qur'an,  beliau  sangat  senang  juga mengajar ilmu‐ilmu  alat,  khususnya  ilmu sharraf. Untuk itu beliau sendiri mengajar para santri  senior  yang kemudian  mereka  itulah yang  melanjutkan  mengajar  pada  junior‐junior mereka.  Beliau banyakmeninggalkan  kitab yang  berhubungan  dengan  ilmu  ini,  bahkan bukan  hanya kitab‐kitab nahwu  dan  sharraf yang  beliau  tinggalkan,  tetapi  juga  kitab balaghah, 'arudl dan qawafi.

Beliau  juga  tidak  lupa  mengajarkan ilmu‐ilmu agama yang lain, bahkan dalam ilmu tauhid  untuk kebutuhan  para  santri,  beliau memudahkan  untuk  mempelajari  ilmu  ini dengan menadzamkannya.  Kitab  Qatrul  Ghaits peninggalan  ayah  beliau  yang  berupa  tulisan tangan dengan  dilengkapi  syakal  dan  arti  bagi mufradat  yang  dianggap  sulit,  beliau  nazham‐kan untuk  diajarkan  pada  santri‐santri  beliau. Ilmu  fiqh  dan  tasawuf  juga  beliau  ajarkan  di samping  matan  hadits.  Nampaknya  beliau sangat   senang  dan  antusias  mengajar  kitab Al‐Hikam.  Beliau  sering  menulis  istighasah  yang terdapat pada akhir kitab tersebut serta dibagi‐bagikan  kepada  sebagian  santri  kalong  yang terdiri  dari  anggota  masyarakat.  Untuk  Hadits beliau  meninggalkan  empat  kitab  syarah  Al‐Arba’în  an‐Nawâwiyah  yang  merupakan  kitab hadits  permulaan  yang  sangat  penting  untuk dipelajari. Di samping itu beliau suka mengajar kitab Al‐Jâmi'ush Shaghîr sehingga beliau sangat lancar   membaca  kode‐kode  yang  selalu terdapat pada  setiap  akhir  hadits.

Setelah  santri  bertambah  banyak, beliau  dibantu  oleh  santri‐santri  senior. Lahanpun  harus diperluas  dan  madrasah diadakan.  Madrasah  ini  hanya  mengajarkan ilmu‐ilmu  agama.  Ada beberapa  santri  senior yang  sangat  beliau  cintai  dan  dikader  untuk mengembangkan perjuangan  beliau.  Dalam perkembangan  selanjutnya  mereka  menjadi tokoh‐tokoh masyarakat yang sebagian mendirikan  atau  mengasuh  pesantren  yang terus  berkembang  sampai  saat  ini. Sebagai contoh  di  Banyuangi  K.H.  Ali  Mufi,  di  Jember K.H.  Syamsul  Arifin  Karangharjo,  K.H. Bakar Dukuh  Mencek,  K.H.  Munir  Kemuning,  di Situbondo  K.H.  Dhafir  Munawwar  dan  di beberapa desa dan kecamatan-kecamatan Kabupaten  Sumenep  semisal  di  kecamatan Guluk‐guluk K.H. Idrisi, di kecamatan Ganding K.H.  Hasyim  Thabrani,  di  kecamatan  Lenteng K.H.  Syamsul  Arifin,  di  kecamatan  Bluto  K.H. Raudlah,  di  kecamatan  Pragaan  K.H.  Jauhari dan  K.H.  Ali,  di  kecamatan  Dasuk  K.H.  Abdul Mannan  dan  lain  sebagainya.  Visi  makro pendidikan  yang  beliau  idam‐idamkan  adalah masyarakat  Islam  lewat  pengkaderan  santri‐santri  di  pesantren,  sesuai  dengan  paham  ayah beliau  yaitu  Ahlussunnah  Wal  Jamâ'ah Madzhab Syafi'i.

Beliau  sangat  pemberani.  Pada  waktu penjajahan  Jepang  beliau  tetap  mengadakan pengajian umum  dan  hataman  Al‐Qur'an, sekalipun  hal  tersebut  dilarang  oleh  penjajah Jepang.  Sewaktu Belanda  ingin  menguasai kembali  daerah‐daerah  di  Sumenep  Madura, beliau  bergerilya  dan memimpin  organisasi Sabilillah  untuk  kawasan  Sumenep.  Beliau dicari‐cari  oleh  penjajah Belanda.  Dan  innâ lillâhi  wa  innâ  ilaihi  râji’ûn  pada  tanggal  20 Muharram 1368 bertepatan dengan 3 September 1947 beliau dieksekusi oleh penjajah Belanda  di  lapangan  Guluk‐guluk.

Semasa  beliau  masih  hidup,  beberapa waktu  setelah  kemerdekaan  17  Agustus  1945, pada saat  harapan‐harapan  keagamaan  mulai tumbuh  mekar  di  dada  para  pejuang  yang benar‐benar  ikhlas  li  i'lâ'i  kalimâtillâh,  beliau mencalonkan  dan  terpilih  sebagai  kepala  desa Guluk‐guluk.  Pada  waktu  itu  hal  ini  sangat wajar  karena  beliau  dikenal  orang  di  samping kepiawaiannya  dalam  ilmu‐ilmu  agama  juga mempunyai  sifat  sosial  yang  sangat tinggi.Bengkok  atau  tanah  catoh  dalam  istilah  Madura sebagai  ganti  gaji  pegawai  pemerintah hanya beliau  gunakan  seperlunya,  sebagian  beliau  berikan  garapannya  pada  orang‐orang  yang beliau anggap pantas untuk memanfaatkannya. Pada  masa  hidupnya  seperti  di  sebutkan  di atas,  beliau  mengadakan  pengajian  umum untuk  tokoh‐tokoh  masyarakat  di  Pondok Pesantren Latee dan perkumpulan-perkumpulan  membaca  burdah  di  hampir seluruh  kampung  di  desa Guluk‐guluk.  Dikala ada  tetangga  sakit  beliau  mengajak  beberapa orang santri untuk membacakan burdah dengan doa semoga ia akan segera sembuh atau segera diambil  oleh  Tuhan jika  sudah  tiba  waktunya. Beliau  juga  sangat  senang  bersilaturrahmi terutama pada famili‐famili beliau.

Sebagai  tokoh  masyarakat  dan  guru agama,  penampilan  beliau  agak  perlente, sarung  dan baju  yang  beliau  kenakan  hanya yang  baik‐baik  saja.  Beliau  tentunya  selalu ingat terhadap hadits yang mengatakan tentang Jibril sewaktu mengajar tentang agama. Namun demikian  beliau tidak  senang  terhadap  dunia dan  rela  apa  adanya.  Konon,  diwaktu  beliau mempunyai  uang, beliau  menyewa  dokar  dan membawa  anak‐anak  beliau  ke  pasar  untuk membelikan  sesuatu, sehingga  uang  itu  habis untuk  kepentingan  keluarga.  Demikian  juga waktu beliau meninggal, beliau tidak meninggalkan harta untuk istri beliau. Menurut penuturan istri beliau yang dinikahi sepeninggal istri beliau yang pertama, segala pakaian  yang  beliau  tingggalkan  habis  dicuri maling  sewaktu  masih  tinggal  bersama  ibu mertuanya, sehingga harus memulai kehidupannya dari nol dalam keadaan miskin. Tetapi alhamdulillâh selanjutnya semua dikaruniai  kelebihan  oleh Allah  sehingga  yang pantas  terucap  hanya  syukur,  syukur  dan syukur kepada‐Nya. (Hz)

Sumber : Buku Sejarah, Visi dan Misi Pondok Pesantren Annuqayah
              © KH. A. BasithAS., BA., 2008

AL-HABIB HUSIN BIN AHMAD BARAQBAH

Nasab Al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah

Nasab beliau ra : Husin bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Umar Baraqbah bin Ahmad al-Aksah bin Muhammad bin Abdullah Ba’alawi bin Alwi al-Ghuyyur bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa al-Rumi bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shaddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein al-Syahid bin Ali bin Abi Thalib binti Sayyidatina Fathimah al-Batul binti Muhammad SAW.


Asal-usul Gelar Baraqbah

Bermula gelar Baraqbah dinisbahkan kepada keturunan waliyullah Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Mengenai gelar ini tidak didapat keterangan yang jelas, apakah beliau mempunyai Pundak yang kuat, yang dalam bahasa Arab disebut  “Raqbah” atau berhubungan dengan suatu tempat yang terdapat sumur dan pohon kurma dekat kota Tarim yang disebut “Baraqbah”.

Shohibul Manaqib al-Habib Husin adalah putra dari al-Habib Ahmad cucu dari al-Habib Abdurrahman yang wafat pada tahun 1070 hijriyah di negeri Zaila’. Al-Habib Abdurrahman yang merupakan putra dari al-Habib Ahmad cucu dari al-Habib Abdurrahman yang wafat pada tahun 913 hijriyah. Al-Habib Abdurrahman ini putra dari al-Habib Umar Baraqbah penyandang gelar  Baraqbah. Al-Habib Umar Baraqbah putra dari al-Habib Ahmad al-Aksah yang wafat pada tahun 814 hijriyah yang merupakan cucu dari al-Habib Muhammad yang bergelar al-Majdub yang terkenal keluasan ilmu dan kewaliannya. Al-Habib Muhammad al-Majdub ini putra dari Sayyiduna as-Syaikh Abdullah Ba’alawi pewaris Masjid  Ba’alawi  kota Tarim – Hadramaut.

Kehidupannya

Habib Husin bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Umar Baraqbah lahir pada akhir abad 11 Hijriyah (17 Masehi) atau sekitar tahun 1095 H (1683 M) di Tarim, sebuah kota kecil di Negeri Hadramaut yang merupakan kota asal seluruh Bani Alawi yang diberkahi yang merupakan tempat bermunculannya para wali. Pada masa kelahirannya merupakan zaman keemasan dimana saat itu hidup para ulama semisal Al Imam Alqathub Alhabib Abdullah bin Alwi Alhaddad.

Ketika habib Husin bin Ahmad Baraqbah lahir, beliau dibawa oleh ayahnya kehadapan sohibur ratib, quthbil irysad wal bilad : al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad untuk tabarrukan, sebagaimana kebiasaan penduduk Kota Tarim membawa anak mereka yang baru lahir kepada / kehadapan orang alim.

Beliau tumbuh dalam asuhan ayahnya dan dididik dalam lingkungan para ahli ilmu. Waktunya dihabiskan dengan menuntu ilmu pengetahuan agama, mendalami ilmu fiqh madzhab Syafi’i dan menghafal al-Qur’an. Guru utamanya adalah orang tuanya sendiri.

Di masa kecilnya beliau hidup di lingkungan para wali Allah dan para faqih seperti al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Masyhur, al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, al-Habib Abdullah bin Ahmad Bilfaqih, al-Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan, al-Habib Zainal Abidin bin Musthafa al-Aydrus, al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi, Syeikh  Muhammad bin Abdullah Bajamal, Syeikh Ahmad bin Abdullah Basyarahil, Syeikh Salim bin Umar Bafadhal, dan lainnya.

Pada saat beranjak dewasa beliau sering hadir pada majlis-majlis ilmu yang ada di  Tarim, khususnya majlis ilmu yang diasuh oleh al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Selain di Tarim, beliau juga menuntut ilmu di kota-kota lain, seperti : Siwun, Sibam, Taris, Zilak, Sihr dan lainnya.

Akhlaq al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah

Akhlaq beliau adalah sebagaimana akhlaq kakeknya al-Habib Abdullah Ba’alawi bin Alwi al-Ghuyyur bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang memiliki sifat-sifat zuhud, wara’, hafal al-Qur’an, alim, banyak beribadah, semangat dalam mengerjakan amal kebajikan, berkhidmat untuk lingkungannya, selalu disibukkan oleh dzikir kepada Allah SWT, dermawan, tawadhu dalam berbicara, bertindak maupun berpakaian, sehingga beliau tidak terlihat lebih menonjol dari yang lainnya. Jika beliau berkumpul bersama-sama para sahabat dan guru-gurunya, orang tidak mengetahui kalau beliau adalah seorang yang mempunyai kemuliaan yang tinggi, beliau melebur menjadi satu dengan kumpulan jamaah tersebut.

Hijrahnya ke Jambi

Pada sekitar tahun 1120 hijriyah (1710 masehi) al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah meninggalkan Kota Tarim dan melakukan perjalanan menuju India bersama saudaranya  bernama al-Habib Zein bin Ahmad Baraqbah. Di India mereka berdua berdakwah di beberapa kota seperti Ahmad Abad, Surat, Baijavur dan lain-lain, selanjutnya menetap untuk beberapa waktu di india.

Setelah sekian lama di India, al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah melanjutkan perjalanannya menuju ke Indonesia, sementara saudaranya al-Habib Zein bin Ahmad Baraqbah menetap di India.

Rute perjalanan habib Husin bin Ahmad Baraqbah dari India menuju Kolombo terus ke Aceh. Al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah tiba pertama kali menjejakkan kakinya di tanah Aceh dimana kerajaan Aceh saat itu dipimpin oleh Syarif Ibrahim Jamaluddin dengan gelar Sultan Perkasa Alam. Selanjutnya beliau melanjutkan perjalanannya ke Kota Palembang Darussalam. Latar belakang masuknya habib Husin bin Ahmad Baraqbah ke Palembang disebabkan antara lain : pada masa itu para habaib mendapatkan tempat yang khusus di kesultanan Palembang Darussalam dan juga di kota tersebut terdapat perkampungan alawiyyin.

Al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah tiba di kota Palembang Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (1118-1124 hijriyah / 1706-1714 masehi). Al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah tinggal di Kota Palembang dan menikah dengan anak pembesar kesultanan Palembang Darussalam. Hal ini dapat dimaklumi dan juga dibuktikan dengan diberi gelarnya cucu beliau yaitu al-Habib Qasim bin Ali bin Husin Baraqbah sebagai Pangeran oleh Sultan Mahmud Badaruddin I  Jayo Wikromo.

Disekitar medio 1138 Hijriyah al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah memasuki Kota Jambi dan menyebarkan agama Islam selama lebih kurang 35 tahun.

Kepindahan al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah diperkirakan selain untuk tujuan da’wah, juga mempunyai latar belakang lain yaitu agar anak cucu keluarga Baraqbah dapat berkembang biak di Nusantara ini. Ini terbukti dengan keberadaan anak keturunannya yang tersebar di hampir seluruh daerah di Indonesia, Singapura dan Malaysia.

Penyebaran Keluarga Baraqbah

Bila mengkaji lebih lanjut tentang keturunan Baraqbah di dunia ini, akan didapati bahwa keturunan Baraqbah yang terbanyak jumlahnya hanya di Indonesia saja dibandingkan dengan negeri-negeri lainnya, sehingga di nengeri-negeri lain seperti Tarim-Hadramaut dan Surat-India sangat sedikit dan nyaris tidak ditemukan lagi. Mungkin kita bertanya mengapa hal ini bisa terjadi?

Perpindahan al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah ke Indonesia khususnya Jambi merupakan salah satu anugerah yang amat besar, mengapa demikian? Setelah menelusuri silsilah beliau baik ke atas (ayah dan kakeknya) maupun ke bawah (anak cucunya), didapati mulai dari waliyullah Umar bin Ahmad al-Aksah bin Muhammad bin Abdullah Ba’alawi bin Alwi al-Ghuyyur bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, anak cucu beliau (Habib Umar Baraqbah) banyak memiliki tanda    ( ض )   yang dalam ilmu nasab berarti tidak mempunyai keturunan. Hal itu terus berlanjut kepada ayah al-Habib Husin yaitu al-Habib Ahmad bin Abdurraham Baraqbah yang memiliki 5 (lima) anak lelaki, yaitu :




1. Zen berada di Surat-India (tidak mempunyai keturunan)
2. Umar berada di Tarim-Hadramaut (tidak mempunyai keturunan)
3. Alwi berada di Tarim-Hadramaut (tidak mempunyai keturunan)
4. Abdurrahman berada di Tarim-Hadramaut (tidak mempunyai keturunan)
5. Husin berada di Jambi-Indonesia (keturunannya tersebar di seluruh nusantara)

Kepindahan anak cucu al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah dimulai pada pertengahan abad ke 18. Pada tahun itu telah bermunculan kerajaan-kerajaan bercorak maritim yang tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia, seperti Samudera Pasai, Indragiri, Jambi, Demak, Palembang, Banten, Cirebon, Gowa, Banjar, Ternate. Hubungan perdagangan antara Jambi sebagai penghasil lada terbesar di Sumatera Timur dengan kerajaan-kerajaan lainnya, memudahkan persebaran anak keturunan dari al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah ke seluruh antero nusantara.

Di Kota Jambi sendiri, al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah menyebarkan da’wahnya mengajak ummat ke jalan Allah SWT bil hikmah wal mau’izhotil hasanah. Dikarenakan keberadaan beliau sebagai orang yang pertama kali masuk Kota Jambi dari kalangan ahlil bait, maka di tangan beliulah tanggung jawab da’wah kepada ummat disampaikan dengan kesabaran dan kegigihan hingga beliau mendapat tempat dan simpati dikalangan ummat baik masyarakat kecil, menengah maupun penguasanya.

Hidup pada masa itu seorang saudagar kaya keturunan Cina yang tinggal ditengah keluarga istana yang mempunyai anak gadis dari perkawinannya dengan putri kesultanan Jambi. Nama saudagar tersebut yang sekaligus mantu kerajaan Jambi adalah Datuk Sintai. Tergerak di hati Datuk Sintai untuk mengambil mantu al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah untuk dikawinkan dengan putrinya bernama Nyai Resik.  Diriwayatkan bahwa selain Nyai Resik, al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah juga menikah dengan 3 (tiga) istri di tempat yang terpisah yang masing-masing mempunyai anak dari perkawinan tersebut.

Al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah mempunyai 13 (tiga belas) anak laki-laki dan 3 (tiga) anak perempuan.

13 (tiga belas) anak laki-laki al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah adalah :





1. Zubair wafat pada tahun 1232 hijriyah di kota Surabaya keturunannya tersebar di Surabaya
2. Muhammad wafat pada tahun 1204 hijriyah di kota Jambi keturunannya tersebar di Jambi
3. Abdurrahman keturunannya tersebar di Jambi dan Trengganu
4.Hamid wafat di kota Jambi keturunannya tersebar di Jambi
5.Qasim wafat di kota Jambi keturunannya tersebar di Jambi dan Pontianak
6.Ahmad wafat di kota Kutai keturunannya tersebar di Kutai, Cirebon dan Pekalongan
7.Hamzah wafat di kota Pontianak keturunannya tersebar di Pontianak, Kubu
8.Sya’ban wafat di Siak keturunannya tersebar di Siak, Riau
9.Abdullah wafat di Palembang keturunannya tersebar di Palembang, Jambi
10.Hasan tidak mempunyai keturunan
11.Kholid wafat di kota Jambi keturunannya tersebar di Indragiri
12.Ali wafat di kota Palembang keturunannya tersebar di Palembang, Surabaya, Lampung, Madura, Banjar dan Makasar
13.Hasyim wafat pada tahun 1206 hijriyah.

3 (tiga) anak perempuan al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah adalah :
  1. Aisyah
  2. Alwiyah
  3. Ruqayyah

Wafat al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah

Al-Habib Husin bin Ahmad Baraqbah pulang ke rahmatullah pada tahun 1173 Hijriyah/1760 Masehi, ditempat beliau berda’wah yang hidup bersama keluarga yaitu di Kota Jambi tercinta. Beliau di maqamkan di pemaqaman Tambak Kelurahan Tahtul Yaman Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi. Maqam beliau ini dikenal sebagai maqam Keramat Tambak. Jazahullah ‘anil muslimin khairon. Semoga Allah turunkan pada maqam beliau rahmat, berkah dan futuhat yang dapat memberikan pada lingkungan sekitarnya terlebih penziarahnya berupa asror, berkah, ijabah wa qobul hajat.

Rangkuman dari seminar sehari yang dilaksanakan oleh Rabithah Alawiyyah Cabang Jambi pada tanggal 25 April 2009.

http://amalimuadz.blogspot.com/2012/04/al-habib-husin-bin-ahmad-baraqbah.html

Sayyid Hasan bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Alwi bin ‘Ali bin Husein Baroqbah

“Hakim Melayu Zaman Pemerintahan Sultan ‘Abdul Hamid Halim Syah Kedah”

Sayyid Hasan bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Alwi bin ‘Ali bin Husein Baroqbah dilahirkan di Madura sekitar tahun 1868 M. Ayahanda beliau Sayyid Muhammad bin ‘Ali Baroqbah tinggal didua kota yakni Palembang dan Surabaya/Sumenep. Bunda beliau Syarifah Nafisah meninggal dunia semasa umur beliau 8 tahun. Sewaktu itu ayah beliau berada di Palembang. Sebelum beliau meninggal, Sayyid Muhammad telah berpesan kepada anak sulungnya Sayyid Utsman supaya pergi ke Madura untuk mengambil adiknya Sayyid Hasan dan membawa pulang ke Palembang, hidup bersama keluarganya disana.

Sayyid Muhammad mempunyai 3 orang anak lelaki yaitu Sayyid Utsman, Sayyid Hasan dan Sayyid Husein, dan 4 orang anak perempuan yaitu Syarifah Ruqoyyah (kawin dengan Habib Seggaf bin Ahmad Syahab), Syarifah ‘Alawiyah (kawin dengan Habib Zein bin ‘Abdullah Al Hadi), Syarifah Nur (kawin dengan Habib Muhammad Al Kaff) dan Syarifah Sidah.

Perbedaan umur antara Sayyid Utsman dan Sayyid Hasan adalah 20 tahun. Pada tahun 1878 Sayyid Utsman bersama-sama adiknya Sayyid Hasan berhijrah ke Kedah. Semasa itu sudah ada keluarga ‘Alawiyyin yang menetap di Kedah, walaupun tidak begitu besar bilangannya diantaranya Bangsa Jamalullail, Syahabuddin, Al Qodri, Bin Yahya, Al Jufri dan lain-lain.

Sayyid Hasan dibesarkan oleh kakak angkat beliau yaitu Tengku Sa’adah adik ipar Sultan ‘Abdul Hamid. Beliau belajar di Sekolah Melayu di kota Star dan pada waktu yang sambil bekerja sambilan sebagai 'ticket conductor' di Kuala Kedah untuk membiayai sekolah beliau.

Menurut anak Sayyid Hasan yaitu Sayyid Agil Baroqbah, semasa bertugas didalam Kedah Civil Service, Sayyid Hasan belajar sempat belajar di Madrasah Al Hamidiah di Limbong Kapal dibawah yang dipimpin oleh Syeikh Sulaiman Sidiq.
Isteri pertama beliau ialah Syarifah Nur binti Sayyid Syech bin Yahya. Sayyid Syech ini beliau berasal dari Palembang dan berhijrah ke Kedah sekitar tahun 1890an. Beliau kawin dengan janda dari Muhammad Samman (Perdana Menteri Kedah) yaitu Kamaliah binti Muhammad Akib bin Dato' Seri Paduka Laksamana.

Dengan Syarifah Nur beliau memiliki 8 orang anak diantaranya:

1.Sayyid Ahmad (kawin dengan Syarifah Sa'adiah bin Zein Syahabuddin dan memiliki 11 orang anak yaitu Sayyid Utsman, Sayyid Zubir, Syarifah Syam, Sayyid Husein, Sayyid Mahazir, Sayyid Hasan, Syarifah Pok, Sayyid Hamzah, Syarifah Faridah, Syarifah Aminah, Syarifah Asma dan Sayyid Harun.

2. Sayyid Muhammad (kawin dengan Syarifah Ruqoyyah Al Qadri dan memiliki 1 anak lelaki dan 4 anak perempuan.

3. Sayyid ‘Ali (kawin dengan Syarifah Ruqoyyah bin Ahmad Al Jufri dan memiliki 3 anak yaitu Sayyid Syahabuddin, Syarifah Zawiyah dan Syarifah Sepora.

4. Sayyid ‘Alwi (kawin dengan Syarifah Maharom dan Syarifah Chik dan memiliki 6 anak yaitu Sayyid Ja’afar, Sayyid ‘Umar, Sayyid Abu Bakar, Sayyid Hasan, Syarifah ‘Aisyah dan Syarifah Rodziah.

5. Sayyid Zein (kawin dengan Syarifah Ruqoyyah dan memiliki 5 anak yaitu Sayyid Nuh, Syarifah Fatimah, Sayyid Sholeh, Sayyid Hud,Syarifah Zamrud.

6. Syarifah Mastura

7. Syarifah Mahani

8. Sayyid Syech,( kawin dengan Syarifah Fatimah bin Ahmad Al Jufri dan memiliki 6 anak yaitu Sayyid Farouq, Sayyid Faisal, Sayyid Fauzi, Sayyid Fakhri, Syarifah Faizah dan Syarifah Faridah.
Isteri kedua beliau Chek Sawi tidak mempunyai zuriat. Setelah Syarifah Nur meninggal Sayyid Hasan kawin dengan Syarifah Salmah binti Sayyid Hasyim bin Yahya sekitar tahun 1910/11. Pada masa itu beliau sudah memegang jabatan Hakim Melayu.

Dengan Syarifah Salmah beliau dikaruniai 11 orang anak diantaranya:

1. Syarifah Maryam (kawin dengan Sayyid Utsman Baroqbah.

2. Syarifah Zahro’(kawin dengan Sayyid Salim Baroqbah. Dan memiliki 10 anak yaitu Sayyid Hamzah, Sayyid Kholid, Syarifah Rofi’ah,Syarifah Shifa, Syarifah Rahmah, Syarifah Azizah, Syarifah Zaitun, Syarifah Nur, Sayyid Muhsin dan Sayyid Azizan.

3. Syarifah Sofiah (kawin dengan Sayyid ‘Alwi Al Kaff

4. Syarifah Sholehah (kawin dengan Sayyid ‘Alwi Baroqbah dan memiliki 10 anak yaitu Syarifah Lathifah, Sayyid Salim, Syarifah Rosyada, Sayyid Anwar, Syarifah Maryam, Sayyid ‘Abdullah, Syarifah Anizah, Sayyid Zainal Rosyid, Syarifah Syahrizah dan Syarifah Syahiran.

5. Syarifah Hasyimah (kawin dengan Sayyid Abu Bakar Al ‘Idrus
6. Syarifah Rosyidah (kawin dengan Sayyid Ahmad Al Kaff
7. Syarifah Maznah (kawin dengan Sayyid Ahmad Baroqbah dan memilki 16 anak yaitu Sayyid Abu Bakar, Sayyid Faisal, Syarifah Hindun, Syarifah Mahani, Syarifah Loklok, Syarifah Musyida, Syarifah Muniroh, Syarifah Noriah, Syarifah Asma, Sayyid Syahar, Sayyid Mukhtar, Syarifah Husna, Sayyid Husni, Sayyid Sobri, Sayyid Nazri dan Syarifah Adila.

8. Syarifah Nafisah (kawin dengan Sayyid Utsman Al Kaff dan memiliki 10 anak yaitu Sayyid Ahmad, Syarifah Fauziah, Syarifah Faizah, Syarifah faridah, Sayyid Mahadi, Sayyid Iskandar, Sayyid Muhammad Anis, Syarifah Fazlina, Syarifah Arfah dan Syarifah Khadijah.

9. Sayyd Agil (kawin dengan Syarifah Maznah bin Abu Bakar Al Kaff dan memilki 9 anak yaitu Syarifah Anisah, Sayyid Azhar, Syarifah Maryam, Syarifah Muniroh, Syarifah Hafizah, Sayyid Hidzir, Sayyid Anas, Syarifah Suffiah dan Sayyid Hasan.

10. Sayyid Hasyim (kawin dengan Syarifah Mahani dan memiliki 2 anak yaitu Sayyid Thohir dan Sayyid Sa’ad.

11. Sayyid ‘Idrus (kawin dengan Syarifah Hasnah binti Sayyid Salim Al Qodri dan memiliki 3 anak yaitu Sayyid Muhammad Haris, Sayyid Hamdan dan Syarifah Nurzihan.

Sayyid Hasan juga memiliki beberapa tugas diluar profesi sebagai hakim yaitu diantaranya sebagai Ahli Majlis State Council yang dipimpin oleh Tengku Mahmud sebagai Presiden.

Menurut cerita Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Ahmad Baroqbah (cucu Sayyid Hasan Baroqbah) pada tahun 1920an dan seterusnya, Sayyid Hasan telah menjemput beberapa orang keluarga dari Palembang datang untuk menetap di Kedah. Sayyid ‘Abdullah bin Sayyid ‘Alwi Baroqbah anak oleh saudara Sayyid Hasan,mereka datang berlima, isterinya Syarifah ‘Aisyah, ibunya Syarifah Maimunah, Syarifah Halimah adiknya Syarifah ‘Aisyah dan dua orang anak Sayyid ‘Abdullah yaitu Sayyid Ahmad dan Sayyid ‘Alwi.

Sayyid ‘Alwi bin Sayyid ‘Abdullah kawin dengan Syarifah Sholehah binti Sayyid Hasan pada waktu itu dan Sayyid Ahmad bin Sayyid ‘Abdullah pun juga kawin dengan Syarifah Maznah binti Sayyid Hasan.

Anak Sayyid Utsman(abang Sayyid Hasan) yang bernama Sayyid Ibrohim yang telah dibesarkan di Palembang ikut juga berhijrah ke Kedah, diikuti dengan anaknya Sayyid ‘Abdurrohman sekeluarga yang bermukim di Banjarmasin.

Sayyid Salim bin Sayyid Ibrohim telah dikawinkan dengan Syarifah Zahro’ binti Sayyid Hasan. Dan anak perempuan Sayyid Hasan yang lain, yang juga telah dikawinkan dengan keluarga ‘Alawiyyin Palembang termasuk Syarifah Sofiah kawin dengan Sayyid ‘Alwi Al Kaff, Syarifah Rosyidah kawin dengan Sayyid Ahmad Al Kaff, Syarifah Nafisah kawin dengan Sayyid Utsman Al Kaff dan Syarifah Hasyimah kawin dengan Sayyid Abu Bakar Al ‘Idrus.

Sayyid Hasan bin Sayyid Muhammad Baroqbah meninggal di Pulau Pinang pada tahun 1931 dan dikebumikan di Pekuburan Islam Bayan Lepas.

Leluhur Sayyid Hasan Baroqbah yang berhijrah ke Nusantara dari Tarim Yaman ialah Sayyid Husein bin Sayyid Ahmad bin ‘Abdurrohman bin Ahmad bin ‘Abdurrohman bin ‘Umar bin ‘Abdurrohman bin ‘Umar Baroqbah bin Sayyid Ahmad Al Aksah bin Muhammad bin Abdullah Ba‘Alawi bin ‘Alwi Al Ghoyur bin Muhammad Al Faqih Muqoddam bin ‘Ali bin Muhammad Shohib Mirbat bin ‘Ali Khola’ Qasam bin ‘Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin ‘Isa Ar Rumi bin Muhammad An Naqib bin ‘Ali Uraidhi bin Ja'far As Sodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin Husein bin ‘Ali bin Abi Tholib dan Sayyidatina Fatimah Az Zahro binti Rosulillah Saw.

Habib Husein Baroqbah meninggalkan kota Tarim menuju ke India bersama abang beliau yang bernama Habib Zein bin Ahmad Baroqbah. Mereka berdakwah dibeberapa tempat di India, kemudian Habib Husein melanjutkan perjalanannya ke Indonesia. Beliau menginjakkan kakinya di tanah Aceh dahulu kemudian menuju ke Palembang, Disana beliau diterima baik di lingkungan keraton Sultan dan dihormati sebagai ‘ulama keraton.

Cukup lama Habib Husein menetap di kota Palembang dan beliau telah kawin dengan anak pembesar kesultanan Palembang. Hal ini dapat dimaklumi dan juga dibuktikan dengan penganugerahan gelaran Pangeran kepada cucu beliau yaitu Habib Qasim bin ‘Ali bin Husein Baroqbah oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikromo.

Setelah berada di Palembang selama 20 tahun Sayyid Husein Baroqbah berpindah ke kota Jambi dan menyebar agama Islam selama 35 tahun. Di Jambi beliau telah kawin dengan anak saudagar keturunan Cina yang tinggal ditengah keluarga istana yang bernama Nyai Resek binti Datuk Sintai. Beliau juga berdakwah ke Kepulauan Riau, dan mempunyai hubungan yang rapat dengan kesultanan Siak. Salah seorang anaknya yang bernama Sayyid Sya'ban telah kawin dengan adinda Sultan Syarif ‘Ali Jalil Syaifuddin, Sultan Siak yang ke-VII yang bernama Tengku Long Tieh bin Utsman bin ‘Abdurrohman Syahab.

Sayyid Husein bin Sayyid Ahmad Baroqbah meninggal pada tahun 1760 dan dikebumikan di Pemakaman Tambak kelurahan Tahtul Yaman, kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi. Makam beliau dikenal sebagai “makam keramat tambak”.

Syeikh Muhammad Zainuddin Al Baweyani

Kelahiran dan pertumbuhan beliau

Syeikh Muhammad Zainuddin di lahirkan pada tahun 1334 hijriyah, dengan begitu beliau lebih tua satu tahun dari Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani yang lahir pada tahun 1335 hijriyah.

Beliau di besarkan oleh kedua orang tuanya dan tumbuh membesar di kalangan masyarakat yang penuh dengan agama, sehingga jiwa dan raganya di serahkan untuk beribadah dan menutut ilmu semata, tidak berbeda dengan anak-anak yang lain beliau juga memasuki maktab al-Qur`an untuk belajar al-Qur`an dan tajwidnya,

Pendidikkan beliau

Setelah belajar dasar-dasar agama maka beliau memulai memasuki bangku sekolah secara Formal , mka beliau memasuki madrasah al-Fakhriyyah sehingga berhasil menamatkan pendidikkannya di sekolah tersebut, kemudian beliau melanjutkan pendidikkannya ke jenjang yang lebih tinggi, sekolah yang beliau pilih sebagai lanjutan pendidikkannya adalah Madrasah Solatiyyah al-Hindiyyah yang ketika itu telah banyak mencetak ulama-ulama besar, diantara ulama-ulama Indonesia yang telah berhasil menamatkan pengajiannya di Solatiyah dan menjadi ulama besar sebelum masa Syeikh al-Baweyani adalah Syeikh Hasyim Asy`ari pendiri Nahdhtul Ulama, Syeikh Musthafa Husein pendiri Pondok pesantren Musthafawiyah, dan banyak lagi.

Beliau memulai memasuki bangku sekolah Madrasah Solatiyyah pada tahun 1351 hijriyah, ketika itu umur beliau masih beranjak tujuh belas tahun, tetapi kebijakkan beliau membuat beliau berhasil menghabiskan pengajiannya dengan secara singkat, sehingga pada tahun 1353 hijriyah beliau berhasil menamatkan pengajiannya.

Di samping pendidikkannya secara formal, beliau juga mengikuti pendidikkan non formal di Masjid al-Haram dan di rumah-rumah ulama yang berada di Makkah, diantara pengajian yang beliau ikuti adalah pengajian Syeikh Muhammad Amin al-Kutubi, Syeikh Hasan Fad`aq, dan Syeikh Umar Hamdan al-Mahrisi, aktivitas beliau selalu di isi dengan berbagai kegiatan yang berguna untuk agamanya.

Syeikh Zainuddin juga memiliki suara yang sangat merdu sehingga mampu memukau para pendengarnya, qasidah-qasidah yang beliau selalu lantunkan mampu menyerap perasaan orang, sehingga beliau selalu melantunkan qasidah memuji-muji Nabi di pengajian Syeikh Amin al-Kutubi, hal ini membuat beliau di senangi banyak orang.

Pekerjaan dan kegiatan beliau

Setelah Syeikh Zainuddin berhasil menamatkan pendidikkannya di Madrasah Solatiyah, maka beliau beserta Syeikh Sayyid Muhsin al-Musawa al-Palembani dan kawan-kawannya mendirikan madrasah Darul Ulum , sekolah ini merupakan madrasah pertama untuk anak-anak pendatang dari Nusantara, dan sebagai bentuk dari protes pelajar-pelajar Nusantara terhadap Madrasah Solatiyah .

Di madrasah Darul Ulum ini beliau mengajar dan mendidik pelajar-pelajar yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Fathoni, dan lain-lainya, Madrasah Darul Ulum terus berjaya mendidik dan mengeluarkan banyak ulama, di samping karena para tenaga pengajarnya yang hebat dan alim, kecemerlangan ini sampai kepada masa Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani, yang mana banyak diantara ulama di dunia yang singgah ke Madrasah ini untuk mengambil riwayat hadis dari Syeikh al-Fadani, namun setelah Syeikh al-Fadani meninggal dunia maka madrasah ini terus di bekukkan oleh pemerintah, dan namanya hanya tinggal di dalam kitab sejarah saja.

Di samping itu Syeikh Zainuddin juga mengadakan lawatan untuk berjumpa para ulama dan mengambil ijazah ammah dari mereka, diantara negara yang pernah beliau kunjungi adalah Yaman dan Indonesia, sehingga didalam perjalanan ini beliau banyak mendapat sanad-sanad yang tinggi dan faedah yang banyak.

Ulama-ulama yang memberikan ijazah ammah :

Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweyani mendapat banyak ijazah ammah dari ulama-ulama besar di dunia ini , diantara ulama-ulama yang telah memberikan ijazah ammah adalah :

1 - Syeikh Muhammad Amin al-Kutubi al-Makki.
2 - Syeikh Sayyid Ahmad al-Abutiji.
3 - Syeikh Hasan as-Sya`ir.
4 - Syeikh Muhammad Ibrahim al-Mulla.
5 - Syeikh Ibrahim bin Muhammad Khair bin Ibrahim al-Ghulayaini.
6 - Syeikh Habib Hamid bin Abdul Hadi bin Abdullah bin Umar al-Jailani .
7 - Syeikh Sayyid Muhammad bin Hadi as-Saqaf.
8 - Syeikh Muhammad Abdul Hayy al-Kattani .
9 - Syeikh Muhammad Ali bin Husein al-Maliki.
10 - Syeikh Abdul Qadir bin Taufiq al-Syalabi.
11 - Syeikh Umar Hamdan al-Mahrisi.
12 - Syeikh al-Habib Abdurrahman bin Ubaidillah as-Saqaf.
13 - Syeikh al-Habib Alawi bin Thohir al-Haddad.
14 - Syeikh al-Habib Abdullah bin Thohir al-Haddad.
15 - Syeikh Muhammad Abdul Baqi al-Ayyubi al-Laknowi.
16 - Syeikh Muhammad bin Muhammad Idris Ahyad al-Bogori.
17 - Syeikh Baqir bin Muhammad Nur al-Jogjawi.
18 - Syeikh Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki.
19 - Syeikh Habib Aidrus bin Salim al-Baar.
20 - Syeikh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa al-Falimbani.
21 - Syeikh HUsein bin Abdullah bin Hasan bin Ahmad Aidid....
22 - Syeikh Khalifah bin Hamad bin Musa bin Nabhan an-Nabhani al-Bahraini.
23 - Syeikh Soleh bin Muhammad bin Abdullah Idris al-Kelantani.
24 - Syeikh Ahmad bin Abdullah al-Baar.
25 - Dan lain-lain.

Diantara hasil karya beliau adalah :

1 - al-Fawaidu az-Zainiyyah Ala al-Manzumati ar-Rahbiyyah.
2 - Faidhul Mannan Fi Wajibati Hamili al-Qur`an.
3 - al-Ulumu al-WAhbiyyah Fi Manazili al-Qurbiyyah.
4 - Ghayatu as-Sul Liman Yuridu al-Ushul Ila Barri al-Usul.
5- Musyahadatu al-Mahbub Fi Tathhiri al-Qawalibi Wa al-Qulub.
6 - Ghayatu al-Wadad Fima Li Haza Wujudi Mina al-Murad.

Diantara murid-murid beliau adalah :

1 - Syeikh Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki al-Makki, beliau mendapat ijazah Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweyani seminggu sebelum wafatnya beliau, setelah berulang-ulang kali meminta dan memohon akhirnya Syeikh Baweyani memberikan ijazah tersebut, Sayyid Muhammad Alawi sepertinya enggan menghembuskan nafas terakhir sebelum mendapatkan ijazah ammah dari Syeikh Baweyan, sebab sebelum wafatnya Syeikh Muhammad Alawi Maliki beliau memesankan agar murid-muridnya yang di Indonesia datang Umrah bulan Ramadhan, karena beliau telah mengetahui waktu ajalnya telah tiba pada hari yang mulai, bulan yang mulia, dan di tempat yang mulia pula.

2 - Syeikhuna Sayyid Nabil bin Hasyim Ala Ghamri as-Syafi`i al-Makki, beliau mendapatkan ijazah Syeikh Muhammad Zainuddin Baweyani sebulan sebelum kewafatan Syeikh Muhammad Zainuddin, dan Syeikh Baweyani berpesan kepada beliau : " Siapa diantara kita yang terlepas dari azab neraka maka hendaklah dia menolong temannya " . demikianlah ketawadukkan Syeikh Zainuddin, syukurlah Syeikh Muhammad Alawi dan Syeikh Nabil mendapatkan ijazah dari beliau sehingga berambung sanad kita kepada Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweyani al-Indonesi al-Makki.

Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweyani al-Indonesi al-Makki meninggal dunia pada tahun 1426 hijriyyah, jenazah beliau di shalatkan di Masjid Haram Makkah dan di kuburkan di perkuburan Ma`la, semoga Allah memberikn rahmat yang luas kepadanya.

http://mentarinusantara.blogspot.com/

HABIB UMAR BIN UTSMAN BANAHSAN

Ketika pertama kali Habib Umar Banahsan hendak mengaji kepada Guru Marzuqi, sang guru berkata kepadanya sambil menunjuk murid-muridnya, “Wan, mereka mengaji sama Abang dengan membayar, tapi Wan mengaji sama Abang, nanti Abang bayar.“
Beberapa ratus tahun belakangan hingga sekarang tampaknya tak ada ulama dari kalangan habaib di Jakarta yang ketokohan, keulamaan, pengaruh, dan karya-karyanya melebihi Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya (wafat 1912) yang biasa disebut Mufti Betawi. Azyumardi Azra dalam bukunya Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (20021 menyebutnya sebagai ulama paling terkemuka abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Nusantara. Sedangkan di kalangan ulama pribumi, salah seorang tokoh besar yang pernah hadir di Betawi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 adalah KH. Ahmad Marzuqi bin Mirshod yang akrab disebut Guru Marzuqi. Habib Umar Banahsan dari segi keturunan adalah cucu Habib Utsman bin Yahya, sedangkan dari segi keilmuan ia salah seorang murid terdekat dari Guru Marzuqi. Lebih dari itu, ayahandanya juga memiliki kaitan yang istimewa pula dengan Guru Marzuqi.
Siapa sesungguhnya Habib Umar Banahsan ini? Apa pula hubungan ayahnya dengan Guru Marzuqi? Bagi masyarakat daerah Sawah Barat, Pondok Bambu, Mender, dan Duren Sawit pada umumnya, Habib Umar Banahsan bukanlah nama yang asing. Mereka sangat mengenalnya karena beliau sangat berjasa bagi mereka.
Tokoh ini dilahirkan di Jatinegara – dulu disebut Mester, dari kata Mesteer atau lengkapnya Mesteer Cornelis – Jakarta Timur, sekitar tahun 1915 atau 1916.. Ayahnya, Habib Utsman Banahsan adalah putra Habib Muhammad bin Ahmad bin Hamid bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar bin Ali bin Umar bin Syaikh Hasan (datuk keluarga Banahsan) bin al-Imam asy-Syaikh Ali bin al-Imam Abu Bakar as-Sakran bin al-Faqih al-Muqaddam ats-Tsani al-Quthb al-Imam Abdur Rahman as-Saggaf.
Kabilah (marga) Banahsan bagi sebagian orang memang tidak sepopuler kabilah-kabilah seperti as-Seggaf, al-Attas, al-Habsyi, al-Haddad, al-Aydrus, dan beberapa kabilah habaib yang lainnya. Meskipun demikian, di beberapa daerah di Nusantara, kabilah ini tidak asing, bahkan cukup terkenal. Di Siak, Riau misalnya, beberapa sultan dari Kerajaan Siak Sri Indapura, termasuk sultan yang sekarang berasal dari keluarga Banahsan, meskipun tidak mencantumkan nama kabilah Banahsan. Jumlah komunitas keluarga Banahsan di Indonesia pun sesungguhnya tidak terlalu sedikit dan ada di beberapa daerah. AI-Mak’ab ad-Daimi, lembaga di bawah ar-Rabithah al-Alawiyyah yang mengurus pemeliharaan sejarah dan statistik Alawiyyin melaporkan dalam sensusnya yang diadakan tahun 1950-an bahwa keluarga Banahsan paling banyak berada di Banyuwangi, kemudian Gresik, Jakarta, dan beberapa kota yang lain.
Ayah beliau sering disebut Habib Utsman Muda untuk membedakan dengan Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya, Mufti Betawi yang disebut Habib Utsman Tua. Ada juga yang menyebut Habib Utsman Banahsan dengan sebutan Habib Utsman Mester, sedangkan Habib Utsman bin Yahya disebut Habib Utsman Petamburan.
Sedangkan ibundanya adalah Syarifah Khadijah, putri Habib Utsman bin Yahya. Jadi, Habib Utsman Banahsan atau Habib Utsman Muda adalah menantu dari Habib Utsman bin Yahya. Selain itu sebagaimana ditulis oleh Alwi Shahab di harian Republika (8 Mei 2005) dan keterangan dari pihak keluarga, Habib Utsman Banahsan adalah saudara sepupu dari Habib Utsman bin Yahya. Ibu mereka, yakni Fathmah (ibunda Habib Utsman Banahsan) dan Aminah (ibunda Habib Utsman bin Yahya) adalah putri Syaikh Abdur Rahman al-Mishri, seorang ulama yang tinggal di Jakarta yang dari narnanya dapat diketahui berasal dari Mesir, bukan Hadramaut. Aminah dipersunting oleh Habib Abdullah bin Yahya (ayah Habib Utsman bin Yahya) sedangkan Fathmah menikah dengan Habib Muhammad Banahsan (ayah dari Habib Utsman Banahsan).
Sebelum menikah dengan Fathmah, Habib Utsman Banahsan sebelumnya pernah menikah dengan wanita lain dan mendapatkan anak bernama Hasan. Setelah itu beliau menikah lagi-kemungkinan di Sumatera-dan kabarnya juga mendapatkan anak. Tetapi tidak diperoleh keterangan yang lebih rinci tentang perkawinannya tersebut karena anak cucu beliau di Jakarta tidak banyak mengetahuinya. Sedangkan dari perkawinannya yang ketiga dengan Syarifah Khadijah, Habib Utsman Banahsan mendapatkan empat orang anak: Syarifah Hasinah Banahsan, Habib Sidi Ahmad Banahsan, Habib Abdul Qadir Banahsan, dan Habib Umar Banahsan. Syarifah Khadijah sendiri, sebelum menikah dengannya pernah menikah dengan Habib Husain al-Aydrus.
Dalam usia masih teramat muda, kemungkinan belum mencapai setahun;, Habib Umar Banahsan telah ditinggal wafat oleh ayahnya pada tahun 1916, sehingga tak sempat mengenalnya. Maka ia pun hidup sebagai seorang yatim di bawah asuhan sang bunda. Meski yatim, ia tak ketinggalan dalam pendidikannya. Sejak kecil, ia telah serius menuntut ilmu-ilmu agama. Pertama-tama, ia mengaji di daerah Jatinegara kepada seorang guru bernama Muallim Abdullah. Setelah itu belajar kepada guru utamanya, KH. Ahmad Marzuqi bin Mirshod (kelahiran Jakarta tahun 1876, wafat pada hari Jumat tanggal 24 Rajab 1353 H/2 November 1934 M). Sebagaimana telah disinggung di awal tulisan, Guru Marzuqi adalah salah seorang ulama terkemuka Betawi akhir abad 19 sampai awal abad 20. Sebuah makalah yang ditulis oleh Abdul Aziz dan diterbitkan oleh Divisi Penelitian LP3ES (1998) menyebutkan bahwa pada periode itu di Betawi setidaknya ada 6 (enam) ulama terkemuka yang berhasil melebarkan pengaruh keulamaan hingga menjangkau hampir seluruh wilayah di Batavia dan mempunyai murid-murid yang kemudian menjadi para ulama terkemuka. Salah satu di antara mereka adalah KH. Ahmad Marzuqi.
Habib Umar sangat dekat dengan gurunya ini. Kedekatan itu bukan hanya karena beliau belajar kepadanya. Yang lebih penting, gurunya ini adalah murid dari ayah beliau, Habib Utsman Banahsan. Bahkan, Habib Utsman Banahsan pula yang memberangkatkan Guru Marzuqi belajar ke Mekkah. Karena rasa sayangnya terhadap muridnya, Habib Utsman Banahsan kemudian menikahi ibu dari Guru Marzuqi. Kelak, Guru Marzuqi menyebut dirinya sebagai “abang” dari Habib Umar Banahsan.
Ketika pertama kali Habib Umar Banahsan hendak mengaji kepada Guru Marzuqi, sang guru berkata kepadanya sambil menunjuk kepada murid-muridnya, “Wan, mereka mengaji sama Abang dengan membayar (maksudnya memberikan hadiah), tapi Wan mengaji sama Abang, nanti Abang yang bayar.” Maka kemudian setiap selesai mengaji, Guru Marzuqi memberinya uang. Selain itu, Guru Marzuqi pun menyiapkan satu kotak khusus di majlisnya yang digunakan untuk mengumpulkan uang hadiah bagi keluarga Habib Utsman Banahsan. (Wan adalah panggilan orang Betawi kepada keturunan Arab). Demikianlah kecintaan Guru Marzuqi kepada keluarga gurunya. Kecintaan itu juga tergambar dari perhatiannya yang khusus terhadap Habib Umar. Setiap Habib Umar datang mengaji kepada Guru Marzuqi, sang guru menghentikan taklimnya dengan murid-muridnya yang lain dan waktunya khusus diberikan untuk Habib Umar.
Selain belajar kepada Guru Marzuqi, Habib Umar Banahsan juga rajin menghadiri majlis ta’Iim Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Kwitang dan mernpunyai hubungan yang erat dengannya. Pernah dalam suatu kesempatan di majlis ta’limnya, Habib Ali al-Habsyi mengatakan kepada para jamaah, “Bagi mereka yang berada di sebelah timur (maksudnya, Jakarta bagian timur) silakan mengaji kepada Habib Umar Banahsan, bagi yang berada di sebelah barat silakan mengaji kepada Habib Zain al-Aydrus, …. dan seterusnya.”
Suatu ketika Habib Umar Banahsan pernah datang berkunjung kepada Habib Ali al-Habsyi sambil membawa hadiah beras seraya berkata, “Ya Habib, ini beras Umar tanam sendiri di sawah Umar.” Habib Ali al-Habsyi terkejut mendengar Habib Umar menanam padi di sawah. Maka beliau berteriak gembira, “Oh”, lalu mengangkat beras tersebut ke atas kepalanya. Setiap kali Habib Umar mengadakan acara peringatan maulid di Masjid al-Abidin, Habib Ali al-Habsvi selalu diundang dan beliau memenuhinya. Bila sudah tiba di jalan menuju masjid, Habib Ali diarak sepanjang jalan sampai ke masjid sambil ditandu, dipukulkan rebana, dan disambut dengan ucapan, “Marhaban Ya Bani Zahra.” Begitulah kedekatan Habib Umar Banahsan dan murid-muridnya dengan Habib Ali al-Habsyi, seorang ulama kecintaan masyarakat Jakarta-demikian Prof. Dr. Hamka menyebutnya–yang lahir di tahun 1879 dan wafat di Jakarta pada malam Senin tanggal 21 Rajab 1388 H bertepatan dengan 14 Oktober 1968 sekitar pukul 2 0.45Awal pengabdian Habib Umar bermula pada usia sekitar 16 tahun- ketika menjadi khatib sekaligus imam dan guru di Masjid A1-Anwar yang terletak di Rawabening, depan Stasiun Jatinegara. Kiprahnya di masjid ini terus berlanjut dan semakin meningkat sampai kemudian jadwal khatib-khatib yang lain pun beliau yang mengaturnya. Di masa lalu, pengaturan dan penentuan orang yang menjadi khatib Jumat di sebuah masjid bukanlah perkara yang sederhana karena tidak sembarang orang bisa menjadi khatib atau imam. Sehingga, orang yang mengaturnya mempunyai kedudukan tersendiri.
Orang-orang dari daerah Pondok Bambu telah mulai belajar kepada Habib Umar sejak beliau masih tinggal di Jatinegara, di antaranya Ustadz Abdullah, H. Ali Muara, H. Abdul Hamid, dan sebagainya. Menurut Ustadz Abdullah, sebagaimana dituturkan oleh Habib Ahyad Banahsan, cucu Habib Umar, murid-murid beliau dari Pondok Bambu dalam perjalanan mengaji ke Jatinegara, mereka berjalan menghafalkan satu fasal dari kitab Ajurumiyah-kitab standar tingkat dasar dalam ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab)-dan sesampainya di Jatinegara mereka telah dapat menghafalnya.
Dalam perkembangan kemudian, murid-murid di Pondok Bambu meminta Habib Umar mengajar di daerah mereka. Maka beliau pun kemudian mengajar di Mushalla al-Huda di Jaian Pahlawan Revolusi, dekat dengan kantor cabang BCA Pondok Bambu sekarang. Ternyata pengajian di Pondok Bambu ini juga diikuti oleh jamaah dari Sawah Barat, sebuah kampung yang sebenarnya masih termasuk daerah Pondok Bambu, tetapi terpisah lokasinya dan juga berbeda kondisi masyarakatnya. Mereka kemudian mengajak Habib Umar mengajar di Sawah Barat. Tokoh Sawah Barat yang banyak berjasa dalam hal ini adalah Ki Demang yang kemudian memberikan hadiah tanah kepada Habib Umar, sehingga beliau akhirnya pindah dari Jatinegara ke Sawah Barat dengan mengajak ibunya, Syarifah Khadijah. Ibunya ini . wafat di daerah ini pada hari Kamis pukul 9.03 tanggal 11 Rabiul Awal 1394 H bertepatan dengan 4 April 1974 dan dimakamkan di pemakaman keluarga yang terletak di lokasi Masjid Al-Abidin yang lama.
Di Sawah Barat, sebagian besar waktu Habib Umar digunakan untuk mengajar murid-muridnya yang datang dari berbagai tempat di antaranya Pondok Bambu, Duren Sawit, Jatibening, bahkan Cilincing, Ciledug, dan lain-lain. Di tempat ini pula beliau kemudian membangun Masjid Al-Abidin. Di masa beliau, Masjid Al-Abidin dua kali diperluas. Di masa putranya, Habib Abdullah yang kini menggantikannya, masjid yang semula menempati lahan seluas 900 meter 2.300 meter2 di antaranya terkena proyek jalan, sehingga yang tersisa tinggal 600 meter2. Mengingat lahan telah maka menyempit, Habib Abdullah memindahkan masjid ke sebelah utara bertempat di lahan baru seluas ± 3000 meter 2. Lahan Masjid Al-Abidin yang lama adalah wakaf dari Ki Demang, sedangkan lahan yang baru merupakan wakaf Ki Demang (± 1000 m2), wakaf H. Abdul Hamid (± 1000 m2), serta wakaf Habib Abdullah Banahsan dan Habib Fadhil Banahsan (± 1000 m2).
Setelah pindah ke Sawah Barat, Habib Umar menikah dengan Syarifah Fathum binti Muhammad bin Abdullah Banahsan. Mereka dikaruniai empat orang anak: Habib Abdullah Banahsan, Syarifah ‘Amira Banahsan, Habib Fadhil Banahsan, dan seorang lagi yang meninggal setelah dilahirkan tahun 1949 bernama Muhammad. Habib Umar juga pernah menikah dengan seorang syarifah dari keluarga al-Attas di Bogor, namun pernikahan itu sangat singkat dan tidak mendapatkan anak.
Syarifah Fathum Banahsan adalah seorang yatim yang dipelihara oleh Syarifah Khadijah (ibunda Habib Umar) di Sawah Barat. Sebelum menikah, Syarifah Fathum pindah ke rumah Habib Hasan, putra Habib Utsman bin Yahya. Lalu atas prakarsa Habib Hasan ini, ia dinikahkan dengan Habib Umar. Penyelenggaraan pernikahannya ditangani oleh murid-murid Habib Umar di Sawah Barat terutama= keluarga Ki Demang, salah satu tokoh masyarakat Sawah Barat saat itu, di antaranya salah seorang anaknya, H. Nu’man bin Demang, suami Ustadzah Salamah binti Soleh.
Dalam mendidik dan membesarkan putra-putrinya, Habib Umar sangat menekankan keteladanan. Apa yang beliau perintahkan kepada anak-anaknya, beliau jalankan lebih dahulu, misalnya shalat berjamaah. Selain itu pesan untuk benar-benar memelihara shalat dalam keadaan bagaimanapun menjadi pesan yang terus terngiang di telinga putra-putrinya. “Mau ke langit, juga boleh, asal jangan nggak sembahyang,” kata beliau. Maksudnya, kemana saja untuk mencari penghidupan dunia, boleh saja, asal tidak meninggalkan shalat.
Beliau juga selalu mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan dengan beribadah kepada Allah dan melakukan apa yang diwajibkan sesungguhnya merupakan hak Allah, meskipun tidak berarti Allah mendapatkan manfaat atau keuntungan dari apa yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Raqqullahi an yu’bad wa haqqul-’ibadi an yurzaq (hak Allah untuk disembah, dan hak hamba-hamba Allah untuk diberi rezeki) adalah kalimat yang sering dituturkannya. Selama kita beribadah, Insya Allah, rezeki dari Allah tidak sulit untuk diperoleh. Kepada anak cucunya, beliau juga mengingatkan tanggung jawab mereka, “Kita, para habaib, dalam masalah agama adalah pewaris, bukan penganut.” Beliau menegaskan itu untuk menekankan bahwa para habaib mempunyai kewajiban yang besar untuk menjaga agama.
Dalam mengajar murid-muridnya, beliau memberikan perhatian yang sangat besar kepada mereka. Beliau lebih suka mengajar mereka satu persatu. Maka ketika mengaji, setiap murid, satu demi satu, meskipun yang sudah tua, datang menghadap beliau untuk membaca kitab yang telah beliau tentukan untuk masing-masing. Sedangkan ilmu yang sangat ditekankan olehnya dan selalu diajarkannya adalah ilmu tauhid. Karenanya, sampai sekarang masyarakat Sawah Barat dari generasi-generasi yang agak tua yang pernah mengalami didikan langsung Habib Umar masih hafal definisi-definisi tentang hukum aqii, hukum syar’i, hukum ‘adi, dan berbagai istilah yang dibahas dalam ilmu tauhid. “Mereka yang tidak bisa menulis pun, hafal definisi-definisi itu,” begitu kata Habib Abdullah, putra Habib Umar. Pemahaman tentang hukum aqli sangat ditekankan olehnya, sebab menurutnya, orang-orang yang tidak berbahasa Arab mesti mengenal dan paham hukum aqli untuk bisa mengenal Tuhan dengan sebenarnya.
Penekanan terhadap ilmu tauhid tidak berarti beliau mengabaikan ilmu-ilmu yang lain. Beliau tetap mengajarkan yang lain sesuai kebutuhan murid-muridnya, termasuk anak-anaknya sendiri. Habib Abdullah menceritakan bahwa ia khatam mengaji kitab fiqih Kasyifatus-Saja pada ayahandanya, di samping kitab-kitab lainnya. Bahkan, meski tidak sampai tamat, ia sempat membaca padanya kitab Mughnil-Labib, salah satu rujukan sangat penting dalam ilmu nahwu.
Bahasa Arab dengan segala seluk beluknya terutama nahwu (sintaksis), shorof (morfologi), dan lughah (bahasa)nya sendiri terutama mufradat (vocabulary, perbendaharaan kata) memang ditekankan pula olehnya. Alasan beliau, tanpa menguasai ilmu-ilmu itu, seseorang tidak dapat membaca Al-Qur’an dengan benar.
Apa yang ditekankannya memang sangat beralasan. Seandainya pun seseorang yang tidak mengetahui bahasa Arab dapat membaca Al-Qur’an dengan pas sebagaimana semestinya, mungkin itu karena hafal, karena mengikuti bacaan orang lain, atau karena kebetulan tidak pernah salah dalam mengikuti harakat-harakat yang ada, bukan karena memahaminya. Maka seandainya ada tulisan AI-Qur’an yang ditulis orang dengan keliru atau ada orang yang salah dalam membaca AI-Qur’an maka orang yang tidak mengerti bahasa Arab tak dapat mengetahuinya.
Beberapa kelebihan dan keunikan beliau sering dikisahkan , oleh murid-muridnya. Di antaranya, bila dalam pengajian di majlisnya ada kesulitan – kesulitan mengenai suatu persoalan, maka sebelum muthala’ah (melakukan pengkajian terhadap suatu kitab), Habib Umar suka berkomentar demikian, “Mungkin masalah ini jawabannya begini.” Ternyata setelah masing-masing melakukan muthala’ah, keterangan di dalam kitab sama seperti yang dikemukakan olehnya.
Salah seorang muridnya, Ustadz H. Abdul Rozak, sebagaimana dikatakan oleh Habib Ahyad, menceritakan bahwa jika Habib Umar sedang mengajar, suasana sangat khusyu’ dan hening. “Cecak pun tak berbunyi,” katanya mengisahkan. Selain itu, ilmu-ilmu yang disampaikan langsung dari lisan Habib Umar walaupun hanya satu kali penyampaian, dapat dihafal dan diingat oleh murid-muridnya meskipun telah berpuluh-puluh tahun, sedangkan ilmu-ilmu yang sengaja dihafalkan sendiri sudah banyak yang terlupa dan hilang. Menurut penyaksian banyak orang, seringkali ketika Habib Umar sedang mengajar, hujan mulai turun, lalu Habib Umar mengajak jamaah membaca surah al-Fatihah dan ternyata dengan izin Allah hujan berhenti.
Habib Umar Banahsan sangat mencintai kakeknya, Habib Utsman bin Yahya. Dalam majlis-majlis taklimnya beliau banyak mengajarkan kitab-kitab karangan kakeknya ini. Kecintaan itu pula yang membuatnya mengambil inisiatif untuk memindahkan makam Habib Utsman bin Yahya ke Sawah Barat. Ketika makam Habib Utsman bin Yahya dipindahkan dari Tanah Abang ke TPU Jeruk Purut oleh Pemda DKI, Habib Umar Banahsan bersama Habib Utsman bin Alwi bin Utsrnan bin Yahya (cucu Habib Utsman Mufti yang dimakamkan di al-Hawi, Condet) dan putra beliau, Habib Fadhil Banahsan serta beberapa murid senior datang ke TPU Jeruk Purut. Habib Umar Banahsan dan rombongan menggali kubur kakek tercinta, Habib Utsman bin Yahya dan membawa atsar atau bekas-bekas yang tertinggal dari jasad Habib Utsman bin Yahya serta nisan kubur yang ditanam oleh Pemda di tempat tersebut. Sesampainya di rumah beliau di Sawah Barat, Pondok Bambu, Habib ‘Umar menanamnya di masjid beliau, Masjid Al-Abidin ketika masjid ini masih berada di lokasi yang lama. Saat ini, karena proyek Jalan Casablanca-oleh masyarakat setempat disebut Jalan Baru– Masjid Al-Abidin sudah dipindahkan ke lahan baru di seberangnya sedangkan kubur Habib Utsman bin Yahya yang berada di tengah pekuburan keluarga Habib Umar Banahsan tetap berada di tempatnya karena tidak seluruh area masjid terkena proyek pernbangunan jalan tersebut.
Semasa hidupnya, Habib Umar Banahsan mempunyai hubungan yang dekat dengan para ulama seangkatannya terutama dengan sesama murid Guru Marzuqi. Di antara mereka adalah Alm. KH. Ahmad Mursyidi (1915-2003), pendiri dan pemimpin Perguruan al-Falah, Mender, KH. Hasbiyallah (1914-1982), pemimpin Perguruan al-Wathoniyah, Mender. Mereka berdua dan beberapa ulama lainnya sering mengunjungi Habib Umar. “Kalau KH. Hasbiyallah datang berkunjung, saya biasanya diberi uang seringgit,” kata Habib Abdullah mengenang pengalaman masa kecilnya. Uang sekian cukup besar untuk ukuran saat itu, sekitar awal tahun 1950-an.
Setelah puluhan tahun mengabdikan dirinya untuk agama dengan mendidik dan membimbing masyarakat Pondok Bambu, Sawah Barat, dan sekitarnya,. pada 1 Januari 1982 Habib Umar Banahsan berpulang ke rahmatullah dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Masjid Al-Abidin yang lama. Harapan beliau agar anak cucunya dapat meneruskan perjuangannya tidak sia-sia karena setelah beliau tiada maka putra-putranya, Habib Abdullah dan Habib Fadhil melanjutkan peran sang ayah dalam mendidik dan membimbing masyarakat Pondok Bambu, Sawah Barat, bahkan Duren Sawit dan sekitarnya, terutama dalam masalah-masalah agama.
Pengajian di Masjid AI-Abidin sejak dulu menjadi harapan masyarakat di daerah ini. Meskipun pengajian, jangan Anda bayangkan kegiatannya seperti rnajlis-majlis taklim umum yang banyak diadakan di masjid atau mushalla di daerah-daerah lain. Pengajian di sini tak ubahnya seperti di madrasah bahkan seperti di pesantren, hanya saja para santri tidak menginap. Kegiatan majlis taklim yang sifatnya umum dan mingguan memang ada, tetapi kegiatan utama di masjid ini adalah pengajian kitab-kitab yang diadakan setiap malam, kecuali malam Jumat, sejak sesudah maghrib sampai sekitar jam 22.00 yang diikuti oleh ratusan santri laki-laki dan perempuan. Mereka mempelajari berbagai ilmu, mulai dari AI-Qur’an, hadits, tauhid, fiqih, tafsir, nahwu, shorof, balaghah, dan sebagainya. Santri-santri ini terbagi ke dalam beberapa kelas dan kelompok. Masing-masing kelas setiap malam mempelajari ilmu-ilmu tertentu dengan pegangan kitab yang telah ditentukan. Kini, lebih dari 40 guru yang membimbing mereka yang sebagian besarnya adalah alumni dari Al-Abidin sendiri.
Sejak tahun 1990-an peran Habib Abdullah dan Habib Fadhil diperkuat oleh generasi cucu, terutama Ir. Sayyid Ahyad bin Abdullah Banahsan yang peranannya, baik di dalam maupun di luar Masjid al-Abidin sangat menonjol dan diakui banyak pihak. Juga Sayyid Miftah bin Sidi Ali Banahsan yang meskipun telah pindah ke daerah Cibening, Pondok Gede, masih tetap meluangkan waktu untuk mengajar dan memberikan khutbah di Masjid al-Abidin.

http://gofurkhan.blogspot.com/2010_12_01_archive.html

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons