Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.

Senin, 04 Oktober 2010

K.H. Wahab Chasbullah

Ia lahir pada bulan Maret 1888 di Tambakberas, Jombang. Nasabnya tidak jauh dari Hasyim Asy`ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan dari Kiai Abdus Salam (Siapa dia?).

Ayahnya, Chasbullah, adalah pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas. Ibunya, Nyai Lathifah, juga putri kiai kondang (Siapa?).

Pendidikannya dihabiskan di pesantren, mulai dari Pesantren Langitan (Tuban), Mojosari, Nganjuk, di bawah bimbingan Kiai Sholeh, Pesantren Cepoko, Tawangsari (Surabaya), hingga Pesantren Kademangan, Bangkalan (Madura), langsung berguru kepada Mbah Cholil. Kiai Cholil kemudian menganjurkannya belajar ke Pesantren Tebuireng (Jombang).

Pada umur 27, ia pergi ke Makkah dan berguru kepada ulama-ulama besar Indonesia yang bermukim di sana, seperti Kiai Mahfudz Termas, Kiai Muhtarom Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabaw, Kiai Bakir Yogya, Kiai Asy`ari Bawean. Ia juga belajar kepada tokoh-tokoh besar lain di sana yang bukan orang Indonesia, seperti Syaikh Sa`id Al-Yamani dan Syaikh Umar Bajened.

Tahun 1921, sewaktu menunaikan ibadah haji bersama istri, sang istri meninggal di Makkah. Kemudian ia menikah dengan Alawiyah binti Alwi. Setelah melahirkan seorang anak, istri kedua ini juga meninggal. Setelah itu ia menikah berturut-turut dengan tiga wanita yang semuanya tidak memberikan keturunan. Empat anak diperolehnya dari istri berikutnya, Asnah binti Kiai Said.

Setelah Asnah meninggal, ia menikah lagi dengan Fatimah binti H. Burhan, seorang janda yang punya anak bernama Syaichu, yang kelak menjadi ketua DPR pada masa Orde Baru. Sesudah itu ia menikah lagi dengan Masnah, dikaruniai seorang anak, lalu dengan Ashikhah binti Kiai Abdul Majid (Bangil), meninggal di Makkah setelah memberinya empat anak, dan yang terakhir dengan Sa`diyah, kakak sang istri, yang mendampinginya sampai akhir hayatnya dan memberinya keturunan lima anak.

Sedikit mundur ke belakang, tahun 1914, ketika berumur 26 tahun, ia mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) bersama K.H. Mas Mansur.

Pada tahun 1916, ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri) di Surabaya. Pengajarnya terdiri dari banyak ulama tradisional muda, seperti K.H. Bisri Syansuri (1886-1980) dan K.H. Abdullah Ubaid (1899-1938), yang di kemudian hari memainkan peranan penting di NU.

Masih pada tahun yang sama, bersama Kiai Hasyim Asy’ari (1871-1947), ia mendirikan koperasi dagang Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) untuk kalangan tradisionalis di kisaran Surabaya-Jombang.
Pada tahun 1920, ia juga aktif dalam Islam Studie Club, jembatan untuk menghubungkan dirinya dengan tokoh-tokoh nasionalis modernis, seperti dr. Soetomo.

Sejak 1924, Wahab Chasbullah telah mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis.

Pada 31 Januari 1926, atas persetujuan Hasyim Asy`ari, ia mengundang para ulama terkemuka dari kalangan tradisionalis ke Surabaya untuk mengesahkan terbentuknya Komite Hijaz, yang akan mengirim delegasi ke kongres di Makkah untuk mempertahankan praktek-praktek keagamaan yang dianut kaum tradisionalis. Pertemuan 15 kiai terkemuka dari Jawa dan Madura itu dilakukan di rumah Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya.

Pertemuan tersebut akhirnya juga menghasilkan kesepakatan mendirikan NU, sebagai representasi Islam tradisional, untuk mewakili dan memperkukuh Islam tradisional di Hindia Belanda.

Kemudian, MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia, Dewan Tertinggi Islam di Indonesia), yang terbentuk pada September 1937, juga merupakan gagasan Wahab Chasbullah dan Ahmad Dahlan Kebondalem (NU), Mas Mansur (Muhammadiyah), dan Wondoamiseno (SI). Federasi organisasi Islam ini bertujuan meningkatkan komunikasi dan kerja sama di antara umat Islam.

Namun kemudian MIAI dibubarkan oleh Jepang dan dibentuklah Masyumi pada November 1943. Hasyim Asy`ari ditunjuk sebagai ketua umum dan Whab Chasbullah sebagai penasihat dewan pelaksananya.

Meski Masyumi adalah organisasi non-politik, pada kenyataannya fungsinya setengah politis, dimaksudkan untuk memperkuat dukungan umat Islam terhadap pemerintahan Jepang.

November 1945, Masyumi berubah menjadi parpol. Masyumi menjadi satu-satunya kendaraan politik umat Islam. Hasyim Asy`ari menjadi ketua umum Majelis Syuro (Dewan Penasihat Keagamaan), Wahid Hasyim, putra Hasyim Asy`ari, menjadi wakilnya, dan Wahab Chasbullah menjadi anggota dewan.

Selanjutnya, setelah NU menyetujui peran politik bagi Masyumi lewat muktamar di Purwokerto (1946), orang-orang NU tampil di pemerintahan, yakni Wahid Hasyim, Kiai Masykur, dan K.H. Fathurahman Kafrawi. Sedang Wahab Chasbullah menjadi anggota DPA.

Tahun 1947, Wahab Chasbullah menjabat rais am NU.

Benih-benih krisis NU-Masyumi mulai tumbuh pada 1952. Saat itu Wahab Chasbullah menjadi ketua Dewan Syuro. Maka ia sangat gencar mengkampanyekan penarikan diri NU dari Masyumi. Dan secara resmi NU menarik diri dari Masyumi pada 31 Juli 1952. Pada sidang parlemen 17 September 1952, tujuh anggota parlemen dari NU menarik diri dari Masyumi. Di antaranya Wahab Chasbullah, Idham Chalid, Zainul Arifin.

Mereka kemudian membentuk partai sendiri, NU. Akibatnya, Masyumi bukan lagi partai terbesar. “Gelar” itu jatuh ke tangan PNI.

Pada Pemilu 1955, di luar dugaan, NU meraih tempat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Sejak itu kesibukan Wahab Chasbullah lebih banyak pada bidang politik praktis di Jakarta, terutama sebagai anggota parlemen dan rais am NU.

K.H. Wahab Chasbullah wafat tanggal 29 Desember 1971, pada usia 83 tahun, di rumahnya di Kompleks Pesantren Tambakberas, Jombang.

Jumat, 01 Oktober 2010

Habib Syekh Al-Musawa Surabaya (Guru para Kiai dan Habaib)

Ia dikenal sebagai guru para ulama dan habaib. Seperti ulama yang lain, masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu. Meski sudah berusia 85 tahun, ia masih membuka taklim di Surabaya.

Sore itu langit cerah. Suasana di sekitar sebuah gedung di perkampungan Arab Jalan Kalimasudik II Surabaya tampak lengang. Melalui lorong gang sempit di kawasan yang tak jauh dari kompleks Ampel, alKisah sempat berziarah ke rumah Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa, seorang ulama yang kini sudah berusia 85 tahun. Dulu, ia dikenal sebagai muballigh di berbagai majelis taklim di Jakarta. Bisa dimaklumi jika cukup banyak santrinya yang kini menjadi ulama di Jakarta, seperti K.H. Abdurrahman Nawawi, K.H. Thoyib Izzi, K.H. Zain, dan lain-lain.
Lahir di Purwakarta, Jawa Barat, pada 1921, Habib Syekh Al-Musawa putra pasangan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Musawa dan Sayidah Sa’diyah. Sejak kecil, putra kedua dari tiga bersaudara ini dididik langsung oleh ayahandanya, seorang ulama yang cukup terkenal di masanya. Pada 1930, menginjak usia sembilan tahun, ia belajar ke sebuah rubath (pesantren) di Tarim, Hadramaut. Di sana ia berguru kepada Habib Ahmad bin Umar Asy-Syathiry, pengarang kitab Al-Yaqut an-Nafis, dan Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiry, pengasuh Rubath Tarim. Ia belajar fiqih, tafsir, nahwu, sharaf, balaghah, dan tasawuf, selama 10 tahun.
Namun yang paling ia senangi ialah tasawuf. ”Pelajaran tasawuf sangat saya senangi, karena merupakan salah satu jalan manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf juga menganjurkan orang menjadi bijaksana dan lebih berakhlak,” kata Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa. Selain itu, menurut dia, tasawuf mudah dipelajari – baik dalam keadaan senang maupun susah. Maka ia pun dengan tekun mempelajari kitab tasawuf karya Imam Ghazali, seperti Ihya’ Ulumiddin, Bidayah al-Hidayah, dan lain-lain.Semangat belajarnya yang tinggi membawanya belajar ke Makkah Al-Mukarramah. Meski waktu itu Timur Tengah tak lepas dari imbas suasana Perang Dunia I, tekadnya yang besar tak menyurutkan langkahnya menuju Makkah. Di tengah kecamuk perang itulah, dengan mengendarai unta ia berangkat dari Tarim ke Makkah. Di tengah perjalanan Habib Syekh Al-Musawa terpaksa singgah di beberapa desa, bahkan sempat pula mengajar di perkampungan Arab Badui. Bisa dimaklumi jika perjalanan itu makan waktu sekitar dua bulan.
Di Tanah Suci, ia langsung belajar kepada Sayid Alwy bin Muhammad Al-Maliky. Bermukim di Makkah sekitar lima tahun, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa juga berguru kepada Habib Alwy Shahab, Habib Abdulbari bin Syekh Alaydrus, dan Sayid Amin Al-Kutbi. Di Makkah, ia sempat bertemu para santri asal Indonesia, seperti Habib Ali bin Zain Shahab (Pekalongan), Habib Abdullah Alkaf (Tegal), Habib Abdullah Syami Alatas (Jakarta), Habib Husein bin Abdullah Alatas (Bogor).

Islamic Centre
Pada 1947 Habib Syekh Al-Musawa pulang, lalu menikah dengan Sayidah Nur binti Zubaid di Surabaya. Tak lama kemudian ia mengajar di Madrasah Al-Khairiyah, sambil berguru kepada Habib Muhammad Assegaf di Kapasan, Surabaya. Setelah gurunya itu wafat, ia menggantikan mengajar di majelis taklim almarhum. Tiga tahun kemudian Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa pindah ke Jakarta, mengajar setiap Minggu pagi di majelis taklim Kwitang yang diasuh oleh Habib Muhammad Alhabsyi selama enam tahun. Ia membantu Habib Muhammad membangun Islamic Centre Indonesia (ICI), antara lain berangkat ke beberapa negara Islam di Timur Tengah pada 1967 untuk mencari dana pembangunan ICI.
Setelah pembangunan ICI selesai, Habib Syekh Al-Musawa mengajar majelis taklim asuhan K.H. Muhammad Zein di Kampung Makassar, Kramat Jati, selama setahun. Dan sejak 1971 ia mengajar di Madrasah Az-Ziyadah asuhan K.H. Zayadi Muhajir selama 30 tahun. Setelah Kiai Muhajir wafat, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa menggantikan almarhum mengasuh taklim sampai 2003. Selain mengajar di Az-Ziyadah, ia juga mengajar di majelis taklim Habib Muhammad bin Aqil bin Yahya di Jalan Pedati, Jakarta Timur. Bukan hanya itu, ketika itu ia juga mengajar di 30 majelis taklim lain di berbagai tempat di Jakarta.
Pada 2003, Habib Syekh Al-Musawa kembali ke Surabaya, tinggal di rumahnya yang sekarang di Jalan Kalimasudik II. Bapak delapan anak ini (dua putra, enam putri) sekarang lebih banyak beristirahat di rumah. Meski begitu, banyak santri dari sekitar Surabaya yang datang mengaji kepadanya. Ia mengajar fiqih, nahwu, sharaf, balaghah, tafsir, dan tasawuf.
Saat ini fisiknya memang sudah berubah. Dulu gagah dan tampan, kini agak kurus, sementara wajahnya tampak agak cekung. Hanya dua-tiga patah kata yang ia bisa ucapkan, itu pun tentu saja tak lagi lantang seperti dulu ketika masih muda, saat ia masih bergiat sebagai muballigh. Jalannya pun tak lagi gesit.
Meski begitu, semangatnya untuk membangkitkan dakwah masih bergelora. Ia, misalnya, tetap menyampaikan tausiah, meski hanya kepada para tamunya.
Sorot matanya pun masih jernih, pertanda jiwa dan kalbunya bersih pula. Dengan segala keterbatasannya, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa menerima tamu dengan hangat. Meski sulit berbicara, ulama yang selalu mengenakan gamis dan serban putih ini justru lebih sering menanyakan kondisi kesehatan tamunya.
Selain mengajar privat para santri yang datang ke rumah, ia masih sempat mengajar tasawuf di Majelis Burdah asuhan Habib Syekh bin Muhammad Alaydrus di Jalan Ketapang Kecil setiap Kamis sore sampai menjelang maghrib. Salah satu buah karyanya yang mutakhir ialah kitab Muqtathafat fi al-Masail al-Khilafiyyah (Beberapa Petikan Masalah Khilafiah). Dan kini, meski sudah agak uzur, ia masih bersemangat menyelesaikan sebuah kitab tentang pernikahan dalam pandangan empat ulama madzhab.

http://ajisetiawan.blogspot.com/

KH. Drs. Achmad Masduqi Machfudz

KH. Drs. Achmad Masduqi Machfudz dilahirkan di desa Saripan (Syarifan) Jepara Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. Di desa tersebut, terdapat sebuah makam kuno yang banyak dikenal orang dengan Mbah Jenggolo. Alkisah, berkat karomah dari Mbah Jenggolo ini, dulu ketika baru ada radio dan televisi, siapa saja yang membawa ke desa ini pasti gila. Penyakit gila ini baru akan sembuh kalau kedua alat elektronik dikeluarkan dari Saripan. Keadaan seperti ini masih bisa ditemui semasa Kyai Masduqi masih kecil. Namun perlahan-perlahan seiring dengan perubahan zaman, karomah ini berangsur surut hingga hilang sama sekali.

Kamis, 30 September 2010

Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih Al-Alawy

Hafal Ribuan Hadits
Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.
diringkas dari manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur

Selasa, 21 September 2010

KH. Hasyim Asy'ari

A. Riwayat Hidup K.H. Hasyim Asya’ari
K.H. Hasyim Asy’ari lahr di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari selasa 24 Dzuhijjah 1287 H atau bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, ulama asli Demak, sedang ibunya bernama Halimah, putrid Kyai Usman pengasuh pesantren Gedang, tempat ia dilahirkan .
Masa kecil Asy’ari dijalani di pesantren kakeknya di Gedang, sampai usia 6 tahun. Tahun 1976, ia di ajak pindah ayahnya ke pesantren keras, pesantren yang dibangun ayahnya sendiri. Di pesantren ini, Hasyim kecil menerima pelajaran dasar-dasar keagamaan yang diberikan ayahnya sendiri.
Usia 15 tahun (1886 M), Hasyim berkelana dari pesantren, yaitu pesantren Wonokoyo, Probolinggo, Pelangitan, Tuban, Trenggilin, Madura, Pesantren Demangan dan terakhir dipesantren Siwalan, Surabaya. Di sawalan Hasyim menetap selama 2 tahun dan karena kecerdasannya, oleh Kyai Ya’kub, pengasuh pesantren tersebut, Hasyim dinikahkan dengan putrinya yaitu Khadijah.
Setelah menikah, Hasyim dikirim ke makkah oleh mertuanya untuk menuntut ilmu disana. Hasyim bermukim di makkah selama 7 tahun 1892-1899 M.
Selama itu beliau tidak pernah pulang, kecuali pada tahun pertama saat putranya yang baru lahir meninggal, yang kemudian disusul istrinya.
Selama di makkah. Hasyim belajar di bawah bimbingan ulama terkenal, seperti syekh Ahmad Amin Al-Athor, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawi, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Sa’id Yamani, Syekh Soleh Bafadhol, Syekh Sultan Hasyim Daghastani, dan lain sebagainya.
Selain belajar kepada ulama Hijaz, di tanah suci, Hasyim juga berguru kepada ulama Indonesia sendiri yang mengajar disana, antara lain Syekh Ahmad Minangkabau dan Syekh Mahfuz Al-Termasi asal Jawa Timur. Setelah 7 tahun di makkah. Hasyim kembali ke tanah air dengan membawa bekal pengetahuan dan jiwa yang matang untuk berjuang menegakkan agama dan mengangkat derajat masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan.
Mula-mula hasyim mengajar di pesantren kakeknya, tapi kemudian mendirikan pesantren sendiri di daerah Tebu Ireng, Jombang, dengan santri mula-mula 28 orang. Desa Tebu Ireng adalah daerah rawan karena Masyarakatnya yang belum beragama. Mereka mempunyai mempunyai kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dengan kondisi social yang demikian, pesantren yang didirikan K.H. Hasyim Asy’ari banyak menghadapi tantangan dan gangguan. Akhirnya, bersamaan dengan perjalanan waktu, Tebu Ireng yang demikian kotor berubah menjadi daerah agamis.
K.H. Hasyim Asy’ari tidak hanya berjuang dalam bidang pendidikan. Tapi juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Beliau pernah menduduki jabatan rais akbar pertama NU, tahun 1926-1946 M. K.H. Hasyim Asy’ari juga pernah menduduki jabatan ketua Dewan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), kemudian sebagai pimpinan tertinggi Majelis Syura Muslim Indonesia (MASYUMI)
K.H. Hasyim Asy’ari meninggal pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H / 25 Juli 1947, saat menerima utusan jenderal Sudirman dan Bung Tomo yang menggambarkan situasi di medan pertempuran di Surabaya dan Singosari, Malang. Menurut Kyai Ghufran, saat mendengar di Singosari, belanda banyak membantai rakyat tidak berdosa, K.H. Hasyim Asy’ari pingsan dan menjelang subuh hari ke 7 Ramadhan, K.H. Hasyim Asy’ari berpulang ke Rahmatullah, menurut dokter K.H. Hasyim Asy’ari terkena serangan hersembloending (pendarahan otak secara tiba-tiba). Guna mengenang jasa-jasa Almarhum, pemerintah Indonesia menganugerahkan penghargaan sebagai pahlawan kemerdekaan, berdasarkan keputusan presiden No 294 / 1964.

B. Pemikiran K.H. Hasyim asy’ari
1. Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari di bidang pendidikan
“suatu bangsa tidak akan maju jika warganya bodoh. Hanya dengan pengetahuan, suatu bangsa akan menjadi baik” . Ini pernyataa K.H. Hasyim Asy’ari ketika menyikapi kondisi pendidikan kita yang tebelakang, dan beliau membuktikannya dengan membuat pengajian-pengajian dan membangun pesantren. Diawali dengan 28 santri pada tahun 1899 M, dan telah mempunyai 2000 santri pada tahun 1909.
Dalm pendidikan pesantren K.H. Hasyim Asy’ari membawa perubahan baru sepulangnya dari makkah, antara lain beliau mengenalkan system madrasah, pada tahun 1916 M yang sebelumnya Tebu Ireng menggunakan system Sorogan dan Bandungan dan pada tahun 1919 M, mulai dimasukkan mata pelajaran umum.
Kurikulum madrasah sendiri, sejak tahun 1916 hanya terdiri atas pengetahuan keagamaan saja, tapi sejak tahun 1919 M, mulai ditambah dengan pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Bumi. Disamping itu K.H. Hasyim Asy’ari juga memperkenalkan system musyawarah dan diskusi kelas. System ini ternyata efektif untuk menumbuhkan kreatifitas santri. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari kenyataan bahwa para santri senior yang telah menyelesaikan kelas musyawarah, dikemudian hari ternyata banyak yang menjadi Kyai ternama dan ulama seperti K.H. Abbas Buntet dan dari kelas santri terdapat nama-nama seperti K.H. Masykur, K.H. Syuki Ghazali dan K.H. Asim.
2. Tanggapan terhadap ide reformasi Muhammad Abduh
Saat Hasyim belajar di Makkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran islam. Inti gagasan reformasi Muhammad Abduh adalah :
1) Mengajak umat islam untuk memurnikan kembali islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari islam.
2) Reformasi pendidikan islam di tingkat universitas.
3) Mengkaji dan merumuskan kembali doktrin islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern.
4) Mempertahankan islam.
Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern dimaksudkan agar supaya islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan social, politik, dan pendidikan. Dengan alas an ini, Abduh melancarkan ide agar ummat islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para madzhab dan agar ummat islam meninggalkan segala praktek tarekat .
KH. Hasyim Asy’ari setuju dengan gagasan Muhammad Abduh tersebut guna membangkitkan semangat islam, tetapi beliau tidak setuju dengan “pelepasan diri dari madzhab”. Beliau berkeyakinan bahwa kita tidak mungkin memahami maksud sebenarnya dari Al-Qur’an dan Hadits tanpa mempelajari dan meneliti pemikiran para ulama madzhab hanya akan menghasilkan pemutar balikan ajaran islam yang sebenarnya .
Mengenai tarekat, KH. Hasyim Asy’ari tidak menganggap bahwa semua tarekat salah dan bertentangan dengan ajaran islam. Ada tarekat yang benar dan sesuai dengan ajaran islam, dan ini dijelaskan dalam buku beliau yang berjudul “Al durar Al muntasyirah fi Masail Al-Tis’a’asyarah”.
3. Pemikiran tentang perjuangan melawan kolonialisme
Perjuangan melawan kolonialisme telah dilakukan bangsa Indonesia sejak datangnya penjajah, demi kebebasan agama dan bangsanya.
Sebagai seorang ulama yang anti penjajah, Hasyim Asy’ari senantiasa menanamkan rasa nasionalisme dan semangat perjuangan melawan penjajah. Hal ini dibuktikan dengan seringnya beliau mengeluarkan fatwa-fatwa yang non kooperatif terhadap colonial, seperti pengharaman transfuse dari darah dari ummat islam terhadap Belanda yang berperang melawan Jepang.
Juga tatkala masa revolusi Belanda memberikan ongkos murah bagi ummat islam untuk melakukan ibadah haji, KH. Hasyim Asy’ari justru mengeluarkan fatwa tentang keharaman pergi haji dengan kapal Belanda.
KH. Hasyim Asy’ari juga mengeluarkan fatwa yang sangat penting yang dikenal dengan “fatwa resolusi jihad” yang juga mendorong lahirnya sikap NU terhadap situasi bangsa saat itu. Isi dari fatwa tersebut adalah :
1. Bagi umat islam yang telah dewasa berjuang melawan Belanda adalah fardhu ‘ain
2. Mati di medan perang dalam rangka memerangi musuh islam adalah syahid dan masuk surga.
4. Karya-karya K.H. Hasyim Asy’ari
Beberapa karya buku yang ditulis K.H. Hasyim Asy’ari :
1) Adab Al ‘Alim Wa Al Muta’alim
Berisi uraian tentang tata cara murid dalam belajar dan kewajiban guru sebagai pendidik.
2) Ziyadah Al-Ta’liqat
Berisi jawaban terhadap syair syekh Abdullah ibn Yasin yang menghina NU
3) Al-Tanbihat Al Wajibah Liman Yasna’ Al Mulid bi Al Munkarat
4) Risalah Al Jama’ah
Berisi uraian tentang keadaan orang mati, tanda-tanda kiamat dan sunnah bid’ah
5) An Nur Al Mubin fi Mahabbah Sayid Al-Mursalin
Berisi tentang arti cinta rasul dan cara mengikuti rosul
6) Hasyiyah ‘ala fathi Syekh Zakaria Al Anshori Al Rahman bi Syarkh Risalah Al Wali
7) Al Durar Al Munqatirah fi Masa’il Tisa’ ‘asyara
Berisi tentang tariqat dan hal-hal yang berhubungan dengan tariqat
8) Al Tibyan fi Al Nahyi ‘an Muqatiati Al Arkam wa Al ‘Aqarib wa Al Ikhwan
Berisi penjelasan tentang pentingnya menyambung persaudaraan
9) Al Risalah Al Taihidiyah
Berisi tentang aqidah ahli sunnah wa al jama’ah
10) Al Qalaid fi Bayani ma Yajibu Min ‘alaqaid
Berisi tentang kewajiban-kewajiban dalam beraqidah

Senin, 20 September 2010

PROF. KH. ALI YAFIE

Ulama Ahli Fiqh

Prof. KH Ali Yafie, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), seorang ulama ahli Fiqh (hukum Islam). Dia ulama yang berpenampilan lembut, ramah dan bijak. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulsel, ini juga terbilang tegas dan konsisten dalam memegang hukum-hukum Islam.
Selain aktif di MUI, ulama kelahiran Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Dewan Penasehat The Habibie Centre.
Dia sudah menekuni dunia pendidikan sejak usia 23 tahun hingga hari tuanya. Diatas usia 70 tahun pun ulama yang hobi sepak bola, itu masih aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ali berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.
Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.
Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian dieruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.
Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauiddin, Makassar (1966-1972), ini mendirikan pesantren itu tahun 1947. Sudah banyak mantan santrinya yang kini telah menjadi orang. Di antaranya Mantan Menteri Agama Quraisy Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab.
Dia seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang produktif menulis buku. Dia telah menulis beberapa judul buku. Dia ulama yang berpola pikir modern dan tidak tradisional, seperti sebagian pemimpin pondok pesantren.
Kiai Ali (panggilan akrabnya), selalu mengedepankan Ukuwah Islamiyah di kalangan umat Islam Indonesia, dan tidak membeda-bedakan dari golongan Islam mana. Kearifan ini membuatnya diterima oleh semua pihak, baik dari kalangan Muhammaddiyah maupun kalangan Nahdatul Ulama, dan lain-lain
Salah satu tokoh pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini sudah menikah sejak usia 19 tahun. Saat itu, isterinya Hj Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Keluarga ini dikaruniai empat anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.
Selain pernah aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA), Ketua Umum Majelis Ulama (MUI), Ketua Dewan Penasehat MUI, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (BDN) dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.
Mantan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang, ini juga menjadi Anggota DPR/MPR (1971–1987), Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Ketua Dewan Syariah Nasional MUI.
Atas berbagai pengabdiannya, Kiai Ali, telah menerima Tanda Jasa/Penghargaan Bintang Maha Putra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah RI.

Kamis, 19 Agustus 2010

Al-Habib ‘Umar bin Hafidz

Al-Imam Al-’Arifbillah Al-Musnid Al-Hafizh Al-Mufassir Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh. Beliau adalah al-Habib ‘Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abd-Allah putera dari Abi Bakr putera dari‘Aidarous putera dari al-Hussain putera dari al-Shaikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari ‘Abd-Allah putera dari ‘Abd-al-Rahman putera dari ‘Abd-Allah putera dari al-Shaikh ‘Abd-al-Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Daweela putera dari ‘Ali putera dari ‘Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari ‘Ali putera dari Muhammad Sahib al-Mirbat putera dari ‘Ali Khali‘ Qasam putera dari ‘Alawi putera dari Muhammad putera dari ‘Alawi putera dari ‘Ubaidallah putera dari al-Imam al-Muhajir to Allah Ahmad putera dari ‘Isa putera dari Muhammad putera dari ‘Ali al-‘Uraidi putera dari Ja’far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari ‘Ali Zain al-‘Abidin putera dari Hussain sang cucu laki-laki, putera dari pasangan ‘Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah al-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w.

Beliau terlahir di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim. Ayahnya adalah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran agama Islam dan pengajaran Hukum Suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua kakek beliau, al-Habib Salim bin Hafiz dan al-Habib Hafiz bin Abd-Allah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi al-Habib ‘Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.

Beliau telah mampu menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadith, Bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin ‘Alawi bin Shihab dan al-Shaikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, al-Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da’wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan dhikr.

Namun secara tragis, ketika al-Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk sholat Jum‘ah, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahwa tanggung jawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang Da‘wah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid. Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, ia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk Majelis-majelis dan da’wah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal Al Qur’an dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.

Ia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.

Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang Mulia al-Habib Muhammad bin ‘Abd-Allah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Shafi‘i al-Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya ia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Ia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang Da‘wah.

Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan sorban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah s.a.w.

Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan da‘wah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta’iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Shaikh al-Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agung.

Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya s.a.w dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni al-Habib Ahmed Mashur al-Haddad dan al-Habib ‘Attas al-Habashi.

Sejak itulah nama al-Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikarenakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopuleran dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan. Tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru.

Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman. Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan.

Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis. Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.

Habib ‘Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran agama Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.

Sumber: http://hotarticle.org/al-habib-umar-bin-hafiz/

KH. MANSHOER ANWAR

Hadrotus Syekh KH. Manshoer Anwar dilahirkan pada tanggal 20 Sya’ban 1325 H / 1907 M. Di dusun Paculgowang Diwek Jombang. Ketika itu ayahandanya Al Maghfurlah KH. Anwar Alwi telah mengasuh pondok pesantren. Kelahiran beliau di tengah-tengah keluarganya disambut dengan rasa syukur kehadirat Allah S.W.T. yang telah menganugrahkan seorang bayi yang mungil dan lucu yang kemudian diberi nama Abdul Barr. Beliau adalah putera keempat dari pasangan KH. Anwar Alwi dengan Nyai Hj. Khodijah yang berjumlah dua belas :
1. Noer 7. Azizah
2. Mabrur 8. Rumanah
3. Abdul Halim 9. Bariyyah/Robi’ah
4. Abdul Barr 10. Amjad
5. Afifah 11. ‘Alie
6. As’ad/KH. Mahfudz 12. Abdullah

Masa Kanak-kanak
Sebagaimana lazimnya orang-orang yang akan menjadi pemimpin dimasa yang akan datang, Manshoer kecilpun sudah menampakan keistimewahan pada dirinya. Hingga pada hal-hal yang sebenarnya tidak diterima oleh akal secara wajar, dan hal itu pernah terjadi pada beliau ketika berumur lima tahun.
Konon, beliau sedang bermain di bawah pohon kelapa di belakang di belakang rumah. Ketika beliau sedang asyik bermain, tiba-tiba sebuah kelapa jatuh menimpa kepalanya dari ketinggian kira-kira lima belas meter, tetapi anehnya beliau tidak terluka sedikitpun dikepala. Namun hanya tidak sadarkan diri, dalam sekejap kemudian beliau pulih kembali seperti semula. Padahal jelas peristiwa itu tidak masuk akal kalau kepala manusia ditimpa sebuah kelapa dengan ketinggian tersebut tidak mengalami luka sedikitpun. Kejadian aneh yang lain yang pernah terjadi pada beliau, ketika beliau terperosok kedalam kubangan kapur gamping yang dalam keadaan mendidih. Dan beliau tidak juga mengalami luka sedikitpun. Peristiwa ini jelaslah pertolongan Allah S.W.T. yang menghendaki pada salah seorang hambanya, yang akan menjadi panutan serta teladan bagi umat islam dalam masyarakat sekitarnya.
Demikian kejadian-kejadian aneh yang menimpa beliau dimasa kanak-kanak, yang beliau lalui dengan tabah meski penuh penderitaan yang jarang dialami oleh anak-anak kecil waktu itu. Walau begitu beliau sangat tekun memperdalam ilmu pengetahuan dibawah asuhan ayahandanya. Hari demi hari yang beliau lalui semata untuk belajar dan patuh pada orangtua.

Belajar Di Tanah Suci
Pada awalnya keberangkatan KH. Manshoer ke Tanah Suci dengan maksud menunaikan rukun islam yang kelima, yaitu ibadah haji bersama orangtuanya. Tetapi karena waktu itu beliau masih berumur empat belas tahun, maka oleh kedua orangtuanya beliau dititipkan kepada KH. Baidlowi, salah seorang menantu KH. Hasyim Asy’ari yang bermukim di Makkah. Sementara orangtuanya kembali ke Tanah Air.
Selama kurang lebih empat tahun dibawah asuhan dan bimbingan KH. Baidlowi, beliau hendak dikirim ke Mesir untuk meneruskan jenjang pendidikannya di Universitas Al Azhar Kairo. Pada saat itu terjadi perebutab kekuasaan di Tanah Suci antara Syarief Husein dan Ibnu Sa’ud. Maka atas anjuran KH. Baidlowi, beliau yang sudah bergelar haji segera mengirim surat kepada orangtuanya untuk mengutarakan niat dan anjuran KH. Baidlowi, akan tetapi dalam surat balasannya, orangtuanya menghendaki beliau pulang saja dan melanjutkan pendidikannya di Tabah Air. Setelah mengerti akan kehendak orangtuanya KH. Baidlowi pun tidak memaksa kehendak KH. Manshoer untuk belajar di Kairo. Akhirnya atas restu KH. Baidlowi yang selama kurang lebih empat tahun menjadi pengasuh sekaligus gurunya, KH. Manshoer meninggalkan Tanah Suci untuk kembali ke Tanah Air bersama rombongan.

Mondok Di Tanah Air
Sekembalinya beliau dari Tanah Suci, KH. Manshoer lalu meneruskan pelajarannya dipondok pesantren Tebuireng. Pondok yang berjarak dua kilometer dari arah barat Paculgowang yang kala itu diasuh oleh Hadrotus Syeh KH. Hasyim Asy’ari, seorang sahabat ayah beliau.
Di Pondok pesantren Tebuireng beliau sempat mengenyam pendidikan selama tiga tahun. Kemudian melanjutkan pendidikan belajarnnya di Pondok Lirboyo Kediri. Di Pondok ini pun beliau belajar selama tiga tahun. Namun dalam masa tiga tahun pendidikan tersebut cukup berpengaruh bagi perkembangan pribadi beliau yang luhur. Perilaku dan kepribadian beliau dalam kesehariannya telah tampak ciri-ciri keistimewah yang memancar dalam dirinya. Semangat serta ketekunan dalam mempelajari ilmu-ilmu agama membuat teman-teman merasa segan dan menaruh rasa hormat. Maklum selain beliau seorang putera Jombang, juga waktu itu beliau sudah bergelar haji, yang memang langka bagi kalangan santri pada waktu itu, tetapi bukan berarti beliau menjadi santri yang sombong karena faktor keturunan maupun gelar haji yang disandangnya. Bahkan satu sikap yang jarang dimiliki oleh santri pada waktu itu adalah pembawaan beliau yang tenang dan tidak ceroboh.
Maka tidak salah apabila Hadrotus Syeh KH. Abdul Kariem merasa simpati dan tertarik untuk dijadikan sebagai menantu. Sehingga pada waktu itu keluarga Lirboyo menghubungi KH. Anwar, ayahanda beliau. Dan ternyata keinginan KH. Abdul Kariem disambut hangat oleh pihak keluarga Paculgowang terutama KH. Anwar sendiri.

Pernikahan KH. Manshoer Anwar
Beberapa hari setelah peristiwa itu berlangsung kemudian KH. Manshoer pindah ke Pondok pesantren Panji Sidoarjo. Sebenarnya semua pihak keluarga menghendaki akan pernikahan segera dilaksanakan. Tapi keinginan ini oleh KH. Anwar ditolak secara halus dengan alasan KH. Manshoer belum pantas naik ke jenjang pelaminan, masih harus sabar menunggu waktu agar beliau tetap meneruskan pendidikannya di Pondok pesantren Panji Sidoarjo. Akan tetapi alas an itu tidak membuat pihak Lirboyo hilang harapan, karena bagaimanapun rencana untuk melangsungkan pernikahan KH. Manshoer telah disetujui oleh kedua belah pihak. Maka KH. Abdul Kariem mengirim sebuah surat kepada adik KH. Manshoer yaitu KH. Mahfud (pengasuh pondok pesantren Al-Khoiriah Seblak Kwaron Jombang sekarang), yang ketika itu sedang mondok di Tebuireng agar menjemput kakaknya yang ada di Pondok pesantren Panji untuk diajak ke Lirboyo untuk dinikahkan. Akhirnya dilangsungkan acara akad nikah antara KH. Manshoer dengan puteri kedua KH. Abdul Kariem bersamaan dengan peresmian berdirinya masjid pondok pesantren Lirboyo pada tahun 1928 M.
Pada sore harinya setelah akad pernikahan, datanglah KH. Anwar Alwi dengan maksud meminta KH. Manshoer kepada KH. Abdul Kariem untuk meneruskan mondok di Panji. Hal ini terjadi karena KH. Manshoer melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan pihak Paculgowang, sehingga tidak ada yang menghadiri acara pernikahan KH. Manshoer kecuali adik beliau. Ketidak hadiran keluarga Paculgowang bukan berarti tidak setuju dengan pernikahan KH. Manshoer, akan tetapi KH. Manshoer dibawa ke Lirboyo tanpa sepengetahuan dan izin dari ayahandanya.
Sungguh pada peristiwa yang jarang sekali ditemukan, sepasang pengantin baru harus menjalani hidup terpisah karena sang suami harus menuntut ilmu di Pondok pesantren. Tapi keadaan ini oleh KH. Manshoer dan Nyai Salamah diterima dengan sabar dan lapang dada, sebab beliau sadar dengan sepenuhnya bahwa ilmu agama sangat dibutuhkan oleh masyarakat disekitarnya yang memang ketika itu baik daerah Paculgowang maupun Lirboyo masih sangat awam masalah agama.
Di pondok Panji, KH. Manshoer memperdalam ilmunya selama tiga tahun. Rasa rindu dan gelisah beliau tahan dengan sabar, tawakkal dan qona’ah. Baru setelah ayahanda KH. Anwar Alwi wafat, beliau bertemu dengan Nyai Salamah sang istri yang ditinggalkan selama tiga tahun. Alangkah bahagia dan harmonisnya pertemuan itu.

Pengasuh Pondok
Setelah KH. Anwar Alwi wafat, beliau merupakan sosok yang dianggap mumpuni sebagai pengganti ayahnda beliau sebagai penerus cita-cita sang ayah seperti juga ayahndanya KH. Manshoer mewarisi ketekunan dan ketelatenan dari ayahnya dalam mendidik para santri dan muridnya, terutama dalam mengajarkan bacaan al-qur’an. Kefashihan dalam mambaca al-qur’an adalah tolak ukur dalam membaca kitab kuning. Beliau sangat rajin membaca al-qur’an sambil berkeliling dibagian dalam masjid. Meskipun beliau bukan seorang yang Hafidzul Qur’an 9orang yang hafal Al-qur’an) tapi beliau betul-betul menguasai dan mendalami tentang bacaan Al-qur’an serta menguasai tafsirnya.
Dedikasi dan semangat beliau dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas pada pengajian kitab kuning secara sarasehan. Bahkan lebih dari sekedar itu, beliau juga merintis system sekolah yang terbagi menjadi beberapa kelas.
Tepatnya pada tahun 1931 M, beliau mendirikan sekolah madrasah diniyah. Materi pelajarannya diambil dari kitab-kitab salaf. Kelebihan dari system ini, pelajaran disampaikan secara tertulis dan ditambahi keterangan secara mendalam.
Pada awal berdirinya, madrasah ini diselenggarakan di Serambi Masjid yang kemudaian dipindah ke Gedung baru yang terletak di depan masjid (sekarang kantor lama). Semula jam pertama dimulai setelah maghrib. Tetapi kemudian waktu itu dipindah setelah dzuhur, karena waktu maghrib dianggap terlalu sempit. Sejak mulai inilah siswa mulai bertambah.
Pada wal berdirinya, KH. Manshoer dibantu oleh diantara lain bapak Muhsin (pindah ke Sidoarjo yang kemudian menjadi kiyai disana) dan Almarhum Bapak Abdul Qodir.
Sementara itu KH. Manshoer sebagai pengasuh pondok sibuk mengisi pengajian-pengajian di pondok maupun di Masyarakat. Dalam kesehariannya, beliau selalu membaca kitab kuning. Dari sekian kitab yang dijadikan sebagai wiridan yaitu tafsir jalalain yang mengikuti kebiasaan ayahandanya.

Di Zaman Kolonial
Dalam masyarakat, KH. Manshoer selalu aktif di dalam organisasi. Beliau menjadi anggota jam’iyyah(perkumpulan). Baik ditingkat desa, kecamatan, kabupaten bahkan organisasi yang berskala nasional. Sehingga nama beliau masyhur dikalangan masayarakat Jombang dan diinstansi pemerintahan. Sebab selain beliau seorang ulama yang gigih memperjuangkan agama juga beliau termasuk kiyai militant dalam berjuang mengusir kaum penjajah.
Pada zaman kontra revolusi menghadapi agresi militer Belanda, beliau bergabung dengan Sabililah (Laskar Hizbulloh) yang beroperasi di daerah Tambak Oso, Sidoarjo. Bahkan pada waktu itu beliau menjadi komandan yang membawahi ratusan gerilyawan muslim. Kaum muslimin bertekad mengusir orang-orang bule dari bumi Indonesia.
Konon, ketika KH. Manshoer dan Kh. Thohir diperintahkan membawa surat oleh KH. Hasyim Asy’ari, ditengah-tengah perjalanan beliau diikuti oleh mata-mata serdadu Belanda, ketika hari mulai senja dan malampun mulai pekat beliau pun menginap di Rumah yang kosong. Tapi rupa-rupanya pihak Belanda telah mengetahui dimana beliau menginap. Ketika beliau berdua sedang beristirahat, maka sebuah bom pun meluncur memporak porandakan tempat penginapan beliau. Namun berkat perlindungan Allah maka beliau selamat dari mara bahaya. Kemudian pada pagi harinya beliau bangun, beliau kaget dan melihat rumahnya telah hancur porak poranda bahkan atap rumahnya pun telah berjatuhan dan menakjubkan adalah beliau selamat dari petaka. Setelah beliau merenung sejenak lalu beliau memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah S.W.T. yang melindungi beliau dari mara bahaya, lalu beliaupun keluar dari reruntuhan bangunan.
Pada waktu memimpin pertempuran di Tambak Oso beliau sakit pada bagian paha dan rahang yang mambengkak, ini disebabkan karena siang malam beliau berjuang di daerah Tambak Oso yang masih berupa rawa-rawa dan terkenal dengan sebutan daerah yang penuh dengan nyamuk malaria. Oleh karena penyakit beliau tidak kunjung sembuh, maka beliau terpaksa pulang untuk istirahat. Pada saat itulah dating satu kompi pasukan Belanda sampai di Desa Jatirejo dan bertemu dengan seorang warga Paculgowang. Orang itu pun masuk di Paculgowang, mereka sempat menangkap dua orang yang mereka curigai sebagai mata-mata RI. Sesampainya di Halaman rumah KH. Manshoer, beberapa serdadu diantar masuk untuk menggeledah dan mencari kiyai Manshoer dan yang lain berjaga-jaga diluar, karena waktu itu beliau sedang terbaring sakit pemimpin pasukan Belanda pun mengira bahwa beliau bukanlah orang yang mereka cari, akhirnya ia memerintahkan pasukannya meninggalkan rumah KH. Manshoer, dan akhirnya beliau lolos dari penangkapan. Padahal waktu itu beliau menyimpan dua pucuk senapan laras panjang, bayonet dan sepatu panjang. Ketika isteri baliau melihat serdadu belanda, maka segera barang-barang dibuang kedalam sumur sehingga pada waktu penggeledahan Belanda tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Aktifitas Perjuangan
Selain sebagai seorang pejuang yang ikut memperjuangkan Negara dari ke dzoliman penjajah, beliau juga seorang pemangku pondok pesantren Paculgowang. Beliau meluangkan waktu dan tenaganya demi terciptanya kwaliatas santri yang berilmu dan berbudi luhur. Sebagai aktifis organisasi, beliau selalu mencurahkan pikirannya demi kemajuan serta memberantas keterbelakangan umat islam melalui kegiatan-kegiatan yang tertampung dalam organisasi di daerah Jombang.
Kiprah beliau dalam segala hal selalu dilandasi tekad serta semangat keagamaan untuk menjalin tali Ikhuwwah Isalamiyah. Ketika itu salah satu seorang teman yang paling dekat dan selalu bertukar pikiran adalah Kiyai Adlan ‘Ali Almarhum (pengasuh ponok pesantren Wali Songo Cukir). Bersama beliau KH. Manshoer membina Jam’iyyah NU di daerah Jombang. Selain itu beliau juga aktif mengisi pengajian pada anggota muslimat di Kecamatan Diwek Jombang.
Kegiatan-kegiatan beliau ditengah masyarakat benar-benar merupakan andil besar bagi perkembangan islam di daerah Jombang. Bahkan beliau banyak mendirikan majlis-majlis ta’lim yang ada di Paculgowang danJatirejo. Sedangkan hari-hari selain itu beliau juga pernah menjabat penghulu ketua pengadilan agama Jombang.

Wafatnya KH. Manshoer Anwar
Dalam usia beliau yang sudah senja, beliau sering jatuh sakit. Ketika itu belia berusia sekitar 76 tahun. Namun demikian beliau tidak pernah berhenti dari kegiatan mengasuh pondok untuk mengajar para santrinya meski sambil berbaring. Bahkan beliau masih sempat mendirikan Madrasah Tsanawiyah ‘Aliyah yang diberi nama AL-ANWAR. Akan tetapi ketika lembaga ini akan diresmikan dan dibuka pada tahun 1983 M, kondisi beliau mulai menurun. Pada suatu malam kondisi beliau semakin kritis, tetapi beliau menolak untuk dibawa ke dokter. Oleh karena desakan dan permohonan sanak keluarga yang siang dan malam selalu setia menemani beliau, maka pada suatu malam beliau dibawa ke dokter dengan syarat dokter yang akan memeriksa beliau harus beragama islam. Namun karena disekitar Kecamatan Diwek tidak ada dokter yang beragama islam, maka beliau dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Jombang setelah dzuhur dalam keadaan setengah sadar, selama di Rumah Sakit beliau selalu mengatakan hal-hal yang beliau kerjakan sehari-hari seperti beliau mengutus para santri-santrinya agar selalu mengerjakan sholat ketika azan tiba. Bahkan pada suatu malam biasa dimana beliau memimpin kegiatan Lailatul Ijtima’ seakan-akan beliau menghadiri dan memimpin acara tersebut. Walaupun beliau berbaring di Rumah Sakit. Hal ini disebabkan karena beliau sangat cinta dengan kegiatan yang sangat erat hubungannya dengan agama dan masyarakat.
KH. Manshoer menjalani perawatan secara intensif di Rumah Sakit selama dua belas hari. Pada hari kesepuluh, beliau memanggil putera-puterinya dan member pesan serta nasehat tentang hal-hal yang menyangkut tentang warisan. Waktu itu putera-puteri beliau hadir kecuali ibu Nyai Sholhah (Banyuwangi), ibu Nyai Kariemah (Probolinggo), Kiyai Abdul Aziz(Lirboyo, Kediri) dan Agus Abdul Kariem yang ketika itu masih belajar di Kairo Mesir.
Pada suatu hari, rombongan yang dipimpin oleh Kiyai Adlan ‘Ali (Almarhum) dan Al mukarom KH. Syamsuri Badlowi yang telah selesai mengadakan rapat NU di Kab Jombang dating menjenguk beliau, dengan mengajak para anggota jama’ah. Karena pada waktu itu keadaan beliau sangat kritis, maka rombongan itu pun tidak dapat menemui beliau dan hanya bisa mendo’akan beliau, kemudian rombingan segera kembali. Selang beberapa saat ketika rombongan itu meninggalkan beliau tepat pukul 23.00, hari Ahad tanggal 15 Agustus 1983 M/ 6 Dzul Qo’dah 1402 H, Hadrotus Syekh Al Mukarrom KH. Manshoer Anwar pulang ke Hadirat Allah yang maha pencipta. Inna lilahi wa innailaihi Roji’un. Semoga semua amal perjuangan dan amal ibadah beliau diterima di sisi Allah S.W.T. Amin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Beberapa saat setelah beliau wafat, jenazah beliau dibawa dari rumah sakit dan baru tiba di Rumah duka sekitar pukul 24.00 dengan ambulance. Setelah jenazah beliau tiba di Rumah duka, disambut dengan isak tangis keharuan oleh keluarga dan masyarakat. Tak lama berselang, kemudian jenazah beliau dimandikan oleh KH. Anwar Manshoer, KH. Aziz Manshoer dan Agus H. An’im Falahuddin Machrus.
Pada keesokan harinya masyarakat berduyun-duyun untuk berta’ziyah yang hingga memadati halaman dan pekarangan rumah duka. Hampir disemua tempat para pelayat telah menunggu dengan sabar untuk bisa melaksanakan sholat jenazah. Sholat jenazah dilaksanakan sebanyak 27 kali, hal ini dikarenakan banyak orang yang menyolati. Yang bertindak menjadi imam pertama kali adalah Kiyai Adlan ‘Ali dan disusul oleh para kiyai yang lain yang kemudian diakhiri oleh Kiyai Machrus ‘Ali yang sekaligus memimpin acara pelepasan jenazah. Pelepasan jenazah ditunda karena puteri beliau Nyai Kariemah serta rombongannya belum melaksanakan sholat jenazah, maka jenazah yang sudah ada di Masjid dikembalikan lagi ke Rumah duka untuk disholati. Barulah setelah itu jenazah diantar ke Maqbaroh dengan diiringi ratusan kaum muslimin beliau pulang ke Rahmatulloh dengan meninggalkan tiga orang putera dan tujuh orang puteri, delapan menantu dan tiga puluh cucu serta tiga buyut.
sumber : http://paculgowang.wordpress.com/biografi-al-maghfurlah-kh-manshoer-anwar/

KH. Muhammad Kholil Bangkalan

KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrahatau 27 Januari 1820 Masihi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langasung oleh ayah Beliau menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai pondok pesantren. Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Khalil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya. Sewaktu menjadi Santri KH Muhammad Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). disamping itu juga beliau juga seorang hafiz al-Quran . Belia mampu membaca alqur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca al-Quran).

Pada 1276 Hijrah/1859 Masihi, KHMuhammad Khalil Belajar di Mekah. Di Mekah KH Muhammad Khalil al-Maduri belajar dengan Syeikh Nawawi al-Bantani(Guru Ulama Indonesia dari Banten). Di antara gurunya di Mekah ialah Syeikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud asy-Syarwani i. Beberapa sanad hadis yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail al-Bimawi (Bima, Sumbawa). Kh.Muhammad Kholil Sewaktu Belajar di Mekkah Seangkatan dengan KH.Hasym Asy’ari,Kh.Wahab Hasbullah dan KH.Muhammad Dahlan namum Ulama-ulama Dahulu punya kebiasaan Memanggil Guru sesama Rekannya, Dan Kh.Muhammad KHolil yang Dituakan dan dimuliakan diantara mereka.

Sewaktu berada di Mekah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Kh.Muhammad Khalil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi al-Bantani, Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang) menyusun kaedah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.

karena Kiyai Muhammad Khalil cukup lama belajar di beberapa pondok-pesantren di Jawa dan Mekah, maka sewaktu pulang dari Mekah, beliau terkenal sebagai ahli/pakar nahwu, fiqih, thariqat ilmu-ilmu lainnya. Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Kiyai Muhammad Khalil selanjutnya mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya. Kh. Muhammad Khalil al-Maduri adalah seorang ulama yang bertanggungjawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sedar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya. Beliau dan keseluruhan suku bangsa Madura seratus peratus memeluk agama Islam, sedangkan bangsa Belanda, bangsa yang menjajah itu memeluk agama Kristian. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekah telah berumur lanjut, tentunya Kiyai Muhammad Khalil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya. Kiyai Muhammad Khalil sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda kerana dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya. beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaana lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah mendapat pendidikan dari Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri .

Kh.Ghozi menambahkan, dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil bersama kiai-kiai besar seperti Bisri Syansuri, Hasyim Asy’ari, Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, menge-rahkan semua kekuatan gaibnya untuk melawan tentara Sekutu.

Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang bersenjatakan lengkap dan modern. Sebutir kerikil atau jagung pun, di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar.

Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar.

Saat konsentrasi lawan buyar itulah, pejuang kita gantian menghantam lawan. ”Hasilnya terbukti, dengan peralatan sederhana, kita bisa mengusir tentara lawan yang senjatanya super modern. Tapi sayang, peran ulama yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan,” papar Kiai Ghozi, cucu KH Wahab Chasbullah ini.

Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan.

Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyub,” cerita kh Ghozi.

Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti baju.

Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil.

”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,” papar kh Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.

di antara sekian banyak murid Kh Muhammad Khalil al-Maduri yang cukup menonjol dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah Kh Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok-pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama / NU) Kiyai Haji Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pondok-pesantren Tambakberas, Jombang); Kiyai Haji Bisri Syansuri (pendiri Pondok-pesantren Denanyar); Kiyai Haji Ma’shum (pendiri Pondok-pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda Kiyai Haji Ali Ma’shum), Kiyai Haji Bisri Mustofa (pendiri Pondok-pesantren Rembang); dan Kiyai Haji As’ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok-pesantren Asembagus, Situbondo).
Kh. Muhammad Khalil al-Maduri, wafat dalam usia yang lanjut 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah/14 Mei 1923 Masihi.
sumber : http://berdzikir.wordpress.com/2009/07/30/kh-kholil-bangkalan/

Senin, 16 Agustus 2010

BIOGRAFI HABIBINA AL HAFIDZ HABIB MUNZIR AL MUSAWWA

Berikut ini adalah biografi dari HABIB MUNZIR BIN FUAD AL-MUSAWA yang dijelaskan oleh beliau.
"Ayah saya bernama Fuad Abdurrahman Almusawa, yang lahir di Palembang, Sumatera selatan, dibesarkan di Makkah Al mukarramah, dan kemudian mengambil gelar sarjana di Newyork University, di bidang Jurnalistik, yang kemudian kembali ke Indonesia dan berkecimpung di bidang jurnalis, sebagai wartawan luar negeri, di harian Berita Yudha, yang kemudian di harian Berita Buana, beliau menjadi wartawan luar negeri selama kurang lebih empat puluh tahun, pada tahun 1996 beliau wafat dan dimakamkan di Cipanas cianjur jawa barat."
Nama saya Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa, saya dilahirkan di Cipanas Cianjur Jawa barat, pada hari jum'at 23 februari 1973, bertepatan 19 Muharram 1393 H, setelah saya menyelesaikan sekolah menengah atas, saya mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma'had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bhs.Arab di LPBA Assalafy Jakarta timur, lalu memperdalam lagi Ilmu Syari'ah Islamiyah di Ma'had Al Khairat, Bekasi Timur, kemudian saya meneruskan untuk lebih mendalami Syari'ah ke Ma'had Darul Musthafa, Tarim Hadhramaut Yaman, selama empat tahun, disana saya mendalami Ilmu Fiqh, Ilmu tafsir Al Qur'an, Ilmu hadits, Ilmu sejarah, Ilmu tauhid, Ilmu tasawuf, mahabbaturrasul saw, Ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.
Saya kembali ke Indonesia pada tahun 1998, dan mulai berdakwah, dengan mengunjungi rumah rumah, duduk dan bercengkerama dg mereka, memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan, lalu atas permintaan mereka maka mulailah saya membuka majlis, jumlah hadirin sekitar enam orang, saya terus berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah swt, yang membuat hati pendengar sejuk, saya tidak mencampuri urusan politik, dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kpd Allah swt, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak gerik kita dg kehidupan yang Nabawiy, kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang Nabawiy, kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawiy, pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan ummat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik, pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan, inilah Dakwah Nabi Muhammad saw yang hakiki, masing masing dg kesibukannya tapi hati mereka bergabung dg satu kemuliaan, inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam. Kini majlis taklim saya yang dulu hanya dihadiri enam orang, sudah berjumlah sekitar tiga ribu hadirin, saya sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta pusat, saya juga sudah membuka majlis di seputar pulau jawa, yaitu:
Jawa Barat :
Ujungkulon Banten, Cianjur, Bandung, Majalengka, Subang.
Jawa tengah :
Slawi Tegal, Purwokerto, Wonosobo, Jogjakarta, Solo, Sukoharjo, Jepara, Semarang,
Jawa timur :
Mojokerto, Malang, Sukorejo, Tretes, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo.
Bali :
Denpasar, Klungkung, Negara, Karangasem.
NTB
Mataram Ampenan
Luar Negeri :
Singapura, Johor, Kualalumpur.
namun kini kesemua kunjungan keluar jakarta telah saya cukupkan setahun sekali dengan perintah Guru saya.
Dan saya pun telah menjadi Narasumber di beberapa stasion TV swasta, yaitu di Indosiar untuk acara Embun Pagi tayangan 27 menit, di ANTV untuk acara Mutiara Pagi tayangan 27menit, RCTI, TPI, Trans TV dan La TV.
saya membina puluhan majelis di jakarta, yg kesemuanya mendapat giliran jadwal kunjungan sebulan sekali, selain Majelis Induk di Masjid Almunawar Pancoran jakarta selatan yg diadakan setiap senin malam dan setiap malam jumat di kediaman saya, maka padatlah jadwal saya setiap malamnya sebulan penuh, namun tuntutan dari wilayah wilayah baru terus mendesak saya, maka saya terus berusaha memberi kesempatan kunjungan walaupun dg keterbatasan waktu.
Email pribadi saya : munziralmusawa@yahoo.com
Demikianlah sekilas dari Biografi saya, untuk memperjelas gerakan dakwah yang saya jalankan, semoga limpahan rahmat Allah swt bagi mereka yang berminat menerima seruan seruan Kelembutan Allah swt, Amin Allahumma Amin.
Demikian Biografi ini saya buat,
Hormat Saya,
Khadim Majelis Rasulullah saw (Munzir Almusawa)
silsilah/ nasab habib munzir :
Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali' Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin ALi Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul saw.

Cerita dari jamaah Majelis Rasulullah tentang Karomah Habib Munzir Al Musawwa
Ketika ada orang yg iseng bertanya padanya : wahai habib, bukankah Rasul saw juga punya rumah walau sederhana??, beliau tertegun dan menangis, beliau berkata : iya betul, tapikan Rasul saw juga tidak beli tanah, beliau diberi tanah oleh kaum anshar, lalu bersama sama membangun rumah.., saya takut dipertanyakan Allah kalau ada orang muslim yg masih berumahkan koran di pinggir jalan dan di gusur gusur, sedangkan bumi menyaksikan saya tenang tenang dirumah saya..

pernah ada seorang wali besar di Tarim, guru dari Guru Mulia Almusnid alhabib Umar bin Hafidh, namanya Hb Abdulqadir Almasyhur, ketika hb munzir datang menjumpainya, maka habib itu yg sudah tua renta langsung menangis.. dan berkata : WAHAI MUHAMMAD…! (saw), maka Hb Munzir berkata : saya Munzir, nama saya bukan Muhammad.., maka habib itu berkata : ENGKAU MUHAMMAD SAW..!, ENGKAU MUHAMMAD.. SAW!, maka hb Munzir diam… lalu ketika ALhabib Umar bin Hafidh datang maka segera alhabib Abdulqadir almasyhur berkata : wahai umar, inilah Maula Jawa (Tuan Penguasa Pulau Jawa), maka Alhabib Umar bin Hafidh hanya senyam senyum.. (kalo ga percaya boleh tanya pada alumni pertama DM)

lihat kemanapun beliau pergi pasti disambut tangis ummat dan cinta, bahkan sampai ke pedalaman irian, ongkos sendiri, masuk ke daerah yg sudah ratusan tahun belum dijamah para da’i, ratusan orang yg sudah masuk islam ditangannya, banyak orang bermimpi Rasul saw selalu hadir di majelisnya,

bahkan ada orang wanita dari australia yg selalu mimpi Rasul saw, ia sudah bai’at dengan banyak thariqah, dan 10 tahun ia tak lagi bisa melihat Rasul saw entah kenapa, namun ketika ia hadir di Majelis Hb Munzir di masjid almunawar, ia bisa melihat lagi Rasulullah saw..

maka berkata orang itu, sungguh habib yg satu ini adalah syeikh Futuh ku, dia membuka hijabku tanpa ia mengenalku, dia benar benar dicintai oleh Rasul saw, kabar itu disampaikan pada hb munzir, dan beliau hanya menunduk malu..

beliau itu masyhur dalam dakwah syariah, namun mastur (menyembunyikan diri) dalam keluasan haqiqah dan makrifahnya. .

bukan orang yg sembarangan mengobral mimpi dan perjumpaan gaibnya ke khalayak umum

ketika orang ramai minta agar Hb Umar maulakhela didoakan karena sakit, maka beliau tenagn tenang saja, dan berkata : Hb Nofel bin Jindan yg akan wafat, dan Hb Umar Maulakhela masih panjang usianya.. benar saja, keesokan harinya Hb Nofel bin Jindan wafat, dan Hb Umar maulakhela sembuh dan keluar dari opname.., itu beberapa tahun yg lalu..

ketika Hb Anis Alhabsyi solo sakit keras dan dalam keadaan kritis, orang orang mendesak hb munzir untuk menyambangi dan mendoakan Hb Anis, maka beliau berkata pd orang orang dekatnya, hb anis akan sembuh dan keluar dari opname, Insya Allah kira kira masih sebulan lagi usia beliau,..

betul saja, Hb Anis sembuh, dan sebulan kemudian wafat..

ketika gunung papandayan bergolak dan sudah dinaikkan posisinya dari siaga 1 menjadi “awas”, maka Hb Munzir dg santai berangkat kesana, sampai ke ujung kawah, berdoa, dan melemparkan jubahnya ke kawah, kawah itu reda hingga kini dan kejadian itu adalah 7 tahun yg lalu (VCD nya disimpan di markas dan dilarang disebarkan)

demikian pula ketika beliau masuk ke wilayah Beji Depok, yg terkenal dg sihir dan dukun dukun jahatnya., maka selesai acara hb munzir malam itu, keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitya, ia berkata : saya ingin jumpa dg tuan guru yg semalam buat maulid disini..!, semua masyarakat kaget, karena dia dukun jahat dan tak pernah shalat dan tak mau dekat dg ulama dan sangat ditakuti, ketika ditanya kenapa??, ia berkata : saya mempunyai 4 Jin khodam, semalam mereka lenyap., lalu subuh tadi saya lihat mereka (Jin jin khodam itu) sudah pakai baju putih dan sorban, dan sudah masuk islam, ketika kutanya kenapa kalian masuk islam, dan jadi begini??, maka jin jin ku berkata : apakah juragan tidak tahu?, semalam ada Kanjeng Rasulullah saw hadir di acara Hb Munzir, kami masuk islam..!

kejadian serupa di Beji Depok seorang dukun yg mempunyai dua ekor macan jadi jadian yg menjaga rumahnya, malam itu Macan jejadiannya hilang, ia mencarinya, ia menemukan kedua macan jadi2an itu sedang duduk bersimpuh didepan pintu masjid mendengarkan ceramah hb munzir..

demikian pula ketika berapa muridnya berangkat ke Kuningan Cirebon, daerah yg terkenal ahli santet dan jago jago sihirnya, maka hb munzir menepuk bahu muridnya dan berkata : MA’ANNABIY.. !, berangkatlah, Rasul saw bersama kalian..

maka saat mereka membaca maulid, tiba tiba terjadi angin ribut yg mengguncang rumah itu dg dahsyat, lalu mereka mnta kepada Allah perlindungan, dan teringat hb munzir dalam hatinya, tiba tiba angin ribut reda, dan mereka semua mencium minyak wangi hb munzir yg seakan lewat dihadapan mereka, dan terdengarlah ledakan bola bola api diluar rumah yg tak bisa masuk kerumah itu..

ketika mereka pulang mereka cerita pd hb munzir, beliau hanya senyum dan menunduk malu..

demikian pula pedande pndande Bali, ketika Hb Munzir kunjung ke Bali, maka berkata muslimin disana, habib, semua hotel penuh, kami tempatkan hb ditempat yg dekat dengan kediaman Raja Leak (raja dukun leak) di Bali, maka hb munzir senyum senyum saja, keesokan harinya Raja Leak itu berkata : saya mencium wangi Raja dari pulau Jawa ada disekitar sini semalam..

maaf kalo gue ceplas ceplos, cuma gue lebih senang guru yg mengajar syariah namun tawadhu, tidak sesohor, sebagaimana Rasul saw yg hakikatnya sangat berkuasa di alam, namun membiarkan musuh musuhnya mencaci dan menghinanya, beliau tidak membuat mereka terpendam dibumi atau ditindih gunung, bahkan mendoakan mereka,

demikian pula ketika hb munzir dicaci maki dg sebutan Munzir ghulam ahmad..!, karena ia tidak mau ikut demo anti ahmadiyah, beliau tetap senyum dan bersabar, beliau memilih jalan damai dan membenahi ummat dg kedamaian daripada kekerasan, dan beliau sudah memaafkan pencaci itu sebelum orang itu minta maaf padanya, bahkan menginstruksikan agar jamaahnya jangan ada yg mengganggu pencaci itu,
kemarin beberapa minggu yg lalu di acara almakmur tebet hb munzir malah duduk berdampingan dg si pencaci itu, ia tetap ramah dan sesekali bercanda dg Da’i yg mencacinya sebagai murtad dan pengikut ahmadiyah..

Sumber : http://sang-pemujarahasia.blogspot.com/2009/03/biografi-habibina-al-hafidz-habib.html dan Mailing list Majelis Rasulullah pemudasuci@yahoo.com

Selasa, 10 Agustus 2010

Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry

Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry berguru kepada Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur (mufti Dhiyar Hadramaut). Setelah itu, beliau pergi ke Seiwun untuk belajar kepada Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi selama 4 bulan. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke kota Makkah dan belajar dari para ulama di kota tersebut selama 4 tahun.

Dalam sehari, tidak kurang dari 12 mata pelajaran yang dipelajari oleh beliau, diantaranya Nahwu, Tafsir, Figih, Tauhid dll. Seusai belajar, beliau pergi ke Multazam dan berdoa disana, “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar ilmuku dapat bermanfaat bagi seluruh penjuru dunia dari timur hingga ke barat”. Dan Allah akhirnya mengabulkan doa beliau. Setelah beliau menamatkan pelajarannya, beliau kembali pulang ke kota Tarim dan mengajar di Rubath Tarim selama 50 tahun.

RUBATH TARIM

Rubath Tarim adalah rubath yang tertua di Hadramaut dan terletak di kota Tarim. Rubath ini usianya mencapai 118 tahun. Asy-Syeikh Abubakar Bin Salim yang hidup jauh sebelum masa Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry setiap kali pergi ke kota Tarim, beliau selalu berhenti di suatu tanah sambil berkata, “Tanah ini nantinya akan menjadi sebuah Rubath…”.

Benarlah apa dikatakan oleh beliau, diatas tanah itu akhirnya terbangunlah Rubath Tarim. Dikatakan di sebagian riwayat bahwa 2 wali min Auliyaillah Al-Fagih Al-Muqoddam dan Asy-Syeikh Abubakar Bin Salim selalu menjaga Rubath Tarim. Juga dikatakan bahwa setiap harinya arwah para auliya turut menghadiri majlis-majlis taklim di Rubath.

MURID-MURID BELIAU

Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry memiliki banyak murid yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Tidak kurang dari 13.000 ulama tercatat sebagai alumni Rubath (ma’had/ponpes) Tarim yang diasuh oleh beliau. Bahkan riwayat lain menyebutkan lebih dari 500.000 ulama pernah belajar dari beliau. Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Alhaddad sempat berkata, “Tidak pernah aku masuk ke suatu desa, kota atau tempat lainnya, kecuali aku dapatkan bahwa ulama-ulama di tempat tersebut adalah murid dari Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry atau murid dari murid beliau”.

Sebagian ulama alumni Rubath pimpinan Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry diantaranya adalah :

Di Hadramaut

Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Bin Syeikh Abubakar
Beliau adalah pimpinan Rubath Syihir. Setelah beliau wafat, dilanjutkan oleh Al-Habib Kadhim bin Ja’far bin Muhammad Assegaf. Semasa belajar di Rubath Tarim, beliau Al-Habib Ahmad belum pernah tidur. Tempat tidur beliau selalu kosong dan rapi dan hal ini berlangsung selama 10 tahun.

Al-Habib Muhammad bin Abdullah Alhaddar
Beliau belajar kepada Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry selama 4 tahun. Semasa belajar, beliau selalu menghafal pelajaran di pinggiran atap (balkon) Rubath Tarim. Beliau pernah berkata, “Kalau saya masih mau hidup, saya harus menghafalkan pelajaran dan tidak boleh tidur”. Kalau hendak tidur, beliau selalu mengikat kakinya dengan tali dan diikatkan ke jendela kecil. Beliau hanya tidur selama beberapa jam. Sisanya dipergunakan untuk mendalami ilmu agama. Jika waktunya bangun, Al-Habib Alwi bin Abdullah Bin Syahab menarik tali yang terikat di kaki Al-Habib Muhammad sambil berseru, “Wahai Muhammad, bangunlah…!”, lalu terbangunlah beliau. Itulah sebagian mujahadah beliau sewaktu belajar di Rubath Tarim.

Al-Habib Hasan bin Ismail Alhamid
Beliau adalah pimpinan Rubath Inat. Di Rubath Tarim beliau belajar selama beberapa tahun, lalu beliau diperintahkan oleh Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry untuk membuka Rubath di kota Inat. Sampai sekarang Rubath Inat terus berkembang dan berkembang.

Di Indonesia

Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih.
Beliau adalah seorang wali Qutub dan pimpinan Ma’had Darul Hadits Malang. Dari sebagian murid beliau diantaranya putera beliau sendiri Al-Habib Abdullah, Al-Habib Salim bin Ahmad Bin Jindan dll.

Al-Habib Abdullah bin Husin Al-’Attas As-Syami
Beliau seorang wali min auliyaillah dan tinggal di Jakarta. Sampai sekarang beliau masih ada (semoga Alloh memanjangkan umurnya dan memberikan manfaat kepada kita dari keberadaannya)

Al-Habib Abdullah bin Ahmad Alkaf
Beliau tinggal di kota Tegal. Beliau adalah ayah dari Ustadz Thohir Alkaf, seorang dai yang melanjutkan tongkat estafet dakwah ayahnya.

Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Alkaf
Beliau adalah pengarang kitab Sullamut Taysir.

dan masih banyak lagi anak didik beliau Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry yang tak dapat ditulis satu persatu. Putera beliau Al-Habib Salim pernah ditanya oleh seseorang, “Kenapa Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry tidak mengarang kitab sebagaimana umumnya para ulama ?”. Beliau Al-Habib Salim menjawab, “Beliau tidak mengarang kitab, tapi mencetak ulama-ulama”.

Beliau RA dilahirkan pada bulan Romadhon tahun 1290 H di kota Tarim Al-Ghonna, tepatnya di sebelah Rubath Tarim. Beliau hidup dan tumbuh di lingkungan kalangan kaum Sholihin.

NASAB BELIAU

Abdulloh bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Ali bin Husin bin Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Alwi Asy-Syathiry bin Al-Fagih Ali bin Al-Qodhi Ahmad bin Muhammad Asaadulloh bin Hasan At-Turobi bin Ali bin Al-Fagih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali dan terus bersambung hingga sampai dengan datuk beliau yang termulia Rasululloh SAW.

Garis nasab beliau adalah pohon nasab yang penuh petunjuk dan hidayah. Sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam perkataan Al-Habib Abdulloh bin Alwi Alhaddad :

“Mereka mengikuti jejak Rasululloh dan para sahabatnya

serta para tabi’in maka berjalanlah kamu dan ikutilah mereka

Mereka berjalan menuju suatu jalan kemuliaan

generasi demi generasi dengan begitu kokohnya”

NASAB IBU DAN AYAH BELIAU

Adapun nasab ibu beliau yang sholihah afifah adalah Nur binti Umar bin Abdulloh bin Husin bin Syihabuddin.

Ayah beliau adalah Al-Habib Umar bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiry. Beliau Al-Habib Umar meninggal di kota Tarim pada tanggal 2 atau 4 Syawal 1350 H. Beliau adalah merupakan salah seorang pembesar kota Tarim yang terpandang, kaya raya, jenius dan pendapat-pendapatnya jitu dan diikuti.

Al-Habib Umar mempunyai andil yang cukup besar didalam mendidik anak-anaknya, memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu dan menyebarluaskannya dalam dakwah fisabilillah. Kemuliaan dan keutamaan beliau yang terbesar adalah didalam mendidik dan mendorong putra-putranya agar menjadi orang besar serta kemampuan keuangannya didalam mencukupi putra-putranya.

MASA BELAJAR BELIAU

Ketika Al-Habib Abdulloh bin Umar Asy-Syathiry mencapai usia tamyiz (mampu makan, minum dan istinja’ tanpa dibantu orang lain), beliau diperintahkan oleh ayah dan kakeknya untuk mempelajari ilmu agama, yaitu belajar kitab Syeikh Barosyid. Beliau kemudian belajar membaca dan menulis serta membaca Al-Qur’an kepada 2 orang ulama yang paling terkemuka di jaman itu. Mereka adalah Syeikh Muhammad bin Sulaiman Bahalmi dan putranya Syeikh Abdurrahman. Setelah tamat belajar pada Syeikh Muhammad dan putranya, beliau yang masih kecil pada saat itu mengatur waktu belajarnya sendiri di qubah Al-Habib Abdulloh bin Syeikh Alaydrus.

Teman akrab beliau saat belajar di qubah Al-Habib Abdulloh bin Syeikh Alaydrus adalah Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus. Begitu dekat hubungan antara keduanya hingga Habib Abdul Bari Alaydrus berkata, “Al-Habib Abdulloh Asy-Syathiry benar-benar belajar denganku di qubah Al-Habib Abdulloh bin Syeikh Alaydrus”.

Guru beliau yang mengajar disana waktu itu adalah Syihabuddin (lentera agama) Habib Ahmad bin Muhammad bin Abdulloh Alkaf. Habib Ahmad adalah orang yang sangat takwa. Selain Habib Ahmad Alkaf, guru beliau yang lain waktu itu adalah Al-Habib Syeikh bin Idrus bin Muhammad Alaydrus yang terkenal dengan selalu memakai pakaian yang terbaik. Beliau belajar dari kedua guru tersebut dalam bidang figih dan tasawuf, hingga beliau hafal beberapa juz Al-Qur’an. Beliau memiliki semangat belajar yang tinggi dan selalu mencurahkan waktunya untuk mendalami ilmu agama.

Setelah belajar dari kedua guru beliau tersebut, Al-Habib Abdulloh Asy-Syathiry melanjutkan belajar kepada Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur Mufti Dhiyar (pengarang kitab Bughyatul Murtarsyidin) dan juga belajar kepada Al-Habib Al-’Allamah penyebar bendera dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abubakar Almasyhur. Selain itu beliau juga mempelajari dari para ulama yang tinggal di kota Tarim ilmu-ilmu agama seperti figih, tafsir, hadits, tasawuf, mantiq (kalam) dan lain-lain.

Antusias beliau seakan tak pernah surut untuk semakin memperdalam ilmu agama. Untuk itu beliau pergi ke kota Seiwun. Disana beliau belajar kepada Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husin Alhabsyi (pengarang maulud Simthud Duror) selama 4 bulan. Meskipun tak seberapa lama, beliau benar-benar memanfaatkan waktu dan mengaturnya dengan baik, sehingga dengan waktu yang sedikit tersebut dapat menghasilkan ilmu yang lebih banyak dari yang beliau dapatkan sebelumnya. Selain itu beliau juga belajar kepada saudara Al-Habib Ali, yaitu Al-Habib Alwi bin Ali Miuhammad bin Husin Alhabsyi.

Setelah menamatkan pelajarannya, beliau kembali ke kota Tarim. Beliau tidak pernah merasa cukup untuk menuntut ilmu. Himmah (keinginan kuat) beliau untuk belajar tak pernah pudar, bahkan semakin bertambah, sehingga beliau dapat menghafalkan banyak matan terutama dalam ilmu figih seperti matan Al-Irsyad yang beliau hafalkan sampai bab Syuf’ah.

Demikianlah secuil manaqib yang diambil dari lautan kemuliaan beliau. Semoga bermanfaat bagi kita yang senantiasa mengharapkan kesempurnaan dan kemuliaan.

web : http://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com

Senin, 09 Agustus 2010

KH Idham Chalid

BIODATA

Nama : KH. Dr. Idham Chalid
Lahir : Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921
Alamt: Jalan Fatmawati,Komp.Darul Ma’arif Jakarta Selatan
Jabatan Penting :

Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU)
Ketua Partai Masyumi
Pendiri/Ketua Partai NU
Pendiri/Ketua Partai Persatuan Pembangunan ( PPP)
Wakil Perdana Menteri Indonesia
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan MPR
Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I 1968-1973)
Menteri Sosial
Tim Penasehat Presiden, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4)

PENGHARGAAN: Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, Mesir

BIOGRAFI

KH Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, seorang ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis. Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.

Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.

Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.

Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.

Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul “Idham Chalid: Guru Politik Orang NU” yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.

“Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal 55)

Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air, Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan. Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi: “Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah”, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.

Buku otobiografi Idham Chalid itu diterbitkan Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS) yang dipimpin Arief Mudatsir Mandan, yang juga anggota Komisi I DPR dari PPP, juga selaku editor buku tersebut. Idham Chalid sendiri tengah terbaring sakit di rumahnya Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

“Saya kira tidak ada tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP,” kata Wapres Jusuf Kalla mengapresiasi sosok Idham Chalid, saat memberi sambutan pada acara peluncuran buku tersebut.

”Beliau itu moderat, bisa diterima di ’segala cuaca’, berada di tengah, oleh sebab itu ia bisa diterima di mana-mana. Ia berada di tengah titik ekstrem yang ada,” ujar Kalla dihadapan sejumlah undangan, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, dan sejumlah anggota kabinet dan DPR.

Menurut Jusuf Kalla, sikapnya yang moderat hanya bisa dijalankan oleh orang yang santun. “Hanya orang santunlah yang bisa bersikap moderat,” puji Jusuf Kalla untuk menegaskan bahwa Idham Chalid merupakan sosok ulama dan politisi yang moderat dan santun. Itulah sebabnya, ia bisa diterima di berbagai era politik dan kepemimpinan bangsa.

Menurut Wapres, jika berada di titik yang sama ekstremnya, maka selain demokrat, sosok politik orang yang menjalani itu sudah pasti santun. ”Karena itu, sikap yang santun bisa menjaga suasana kemoderatan,” katanya.

Idham Chalid yang memulai karir politik dari anggota DPRD Kalsel, seorang ulama karismatik, yang selama 28 tahun memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada era pemerintahan Soekarno, Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto dan mantan Ketua DPR/MPR. Idham juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri/Ketua Partai Nahdlatul Ulama dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sementara itu, editor buku, Arief Mudatsir Mandan, mengemukakan, Idham Chalid satu-satunya Ketua Umum PBNU yang paling lama dan bukan ”berdarah biru” NU. Menurutnya, selama kepemimpinan Idham, NU tidak pernah bergejolak. Kendati ia sering dinilai lemah, tetapi sebenarnya itulah strateginya sehingga bisa diterima berbagai zaman,” ujar Arief Mudatsir Mandan.

Sumber: aatsafwat.blogspot.com

Riwayat Hidup KH Idham Chalid

Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.

Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Idham tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut.

Dalam ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karier yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan. Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun.

Selain itu, Idham juga tercatat sebagai “Bapak” pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.

Sumber: Antara

Selama 28 Tahun Almarhum Idham Chalid Pimpin NU

Tidak banyak orang yang memiliki pengalaman seperti almarhum Mantan Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid dengan berbagai peran dan jabatan yang disandangnya.

Idham Chalid yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.

Alamarhum memiliki pengabdian dan pengalaman yang begitu beragam. Setidak Idham Cholid yang telah memimpin NU selama 28 tahun ini dalam karirnya selalu berada dalam tiga sosok, yaitu ketua NU sebagai ormas, NU sebagai parpol dan sebagai pejabat negera. Dia juga pernah memimpin tiga partai yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Kiai Idham Chalid pernah menduduki tiga jabatan menteri, yaitu wakil perdana menteri, menkopolkam, dan menteri sosial. Di posisi legislatif, ia juga menduduki berbagai jabatan mulai dari anggota DPRD Kalsel, DPR dan MPR.

Mengenai kemampuannya membawa NU dalam berbagai situasi, hal ini dikarenakan ia merupakan orang moderat yang selalu berada ditengah, disertai sikap kesantunan sehingga bisa diterima oleh semua pihak. Kiai Idham Chalid juga telah berhasil membawa NU keluar dari masa-masa pelik, bahkan genting saat Indonesia masih berusia muda dengan dinamika politik yang luar biasa.

Kiai Idham tercatat sebagai tokoh yang paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut. Dalam ormas berlambang bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karir yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan.

Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Selanjutnya posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),

Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di Bilangan Cipete.

KH Idham Chalid Bukan Hanya Milik Warga NU

Meninggalnya KH Idham Chalid (88) menjadi kehilangan besar bagi warga NU se-Indonesia. Baik semasa Orla maupun Orba, Idham Chalid selalu mengabdikan hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Menurut tokoh NU Kabupaten Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), mengemukakan, almarhum telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia. Dia juga berjasa besar bagi pengembangan organisasi NU maupun partai yang pernah berafiliasi dengan NU seperti PPP.

“Beliau adalah tokoh panutan kami. Bangsa Indonesia kehilangan sosok dia karena beliau telah mewarnai sejarah bangsa ini lewat kiprahnya,” kata Gus Yusuf, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, kemarin.

Idham Chalid meninggal dunia pada Minggu (11/7), sekitar pukul 08.00 WIB, di rumah duka Pondok Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan. 10 tahun terakhir dia harus berjuang melawan serangan jantung dan stroke.

Rencananya, jenazah akan dimakamkan Senin (12/7) di Ponpes Darul Quran, milik keluarga, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat karena menunggu kehadiran sebagian putra-putri dan sanak saudara yang tinggal baik di Kalimantan Selatan maupun berbagai daerah lain di Tanah Air.

Perjuangkan Idealisme

Semasa hidupnya, KH Idham Chalid selalu memperjuangkan idealismenya bagi kemajuan bangsa dan negara tanpa meninggalkan posisi dirinya sebagai seorang kiai. Di tengah himpitan situasi politik terutama masa Orde Baru, dia memerankan diri sebagai politisi ulung namun tetap kukuh sebagai seorang kiai.

“Dia tidak meninggalkan jati diri sebagai ulama NU. Hal ini karena dia berpolitik dilandasi ketekunan menjalankan ibadah,” lanjut Gus Yusuf.

Karena itu, Gus Yusuf tak ragu menyebut Chalid sebagai pribadi yang seimbang antara kepentingan rohani dengan duniawi. “Tidak seperti politikus saat ini yang sibuk dengan urusan-urusan politik tetapi tidak menjalankan secara konsekuen ibadahnya,” kritik tokoh seniman Komunitas Lima Gunung Magelang ini.

Sumber: suaramerdeka.com,http://gp-ansor.org/biografi/biografi-k-h-idham-chalid

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons