Blog ini ditujukan kepada seluruh ummat Islam yang cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Para Sahabat RA, Auliya', Habaib, Ulama', dan sejarah kebudayaan Islam.

Rabu, 20 Juli 2011

AL-HABIB MUHAMMAD RAFIQ AL-KAFF

Gelar 100 hari Peringatan Maulid SAW

Selain sering mengisi taklim di berbagai daerah pinggiran Jakarta, Habib M Rafiq juga dikenal sebagai pemimpin Majelis Taklim Al Yusrain yang jamaahnya rata-rata banyak diikuti oleh anak-anak muda. Tahun ini, majlisnya menggelar 100 hari berturut-turut memperingati Maulid Rasulullah SAW dengan berkeliling dari kampung ke kampung


Usianya masih muda, tapi reputasinya sebagai dai keliling sudah diakui oleh jamaah anak-anak muda di Jakarta. Ilmu agamanya pun cukup mendalam. Wajar, karena ia adalah salah satu alumnus Ponpes Ar-Riyadh (Palembang). Wajah ulama muda yang shaleh ini, selain ganteng, juga bersih. Tutur katanya halus, dengan gaya yang enak didengar.

Di bulan maulid tahun ini, sebagaimana tahun-tahun kemarin, Majlis Taklim Al-Yusrain menyelenggarakan peringatan Maulid selama 100 hari berturut-turut dan telah dimulais sejak 21 April yang lalu. Acara peringatan maulid ini dilakukan berpindah-pindah tempat. Untuk acara puncaknya sendiri jatuh pada hari Minggu (22/7) yang akan datang dan mengambil tempat di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang diikuti oleh seluruh anggota majlis Al-Yusrain se-Jabodetabek.

Dialah Habib M Rafiq bin Lukman Al-Kaff salah seorang ulama yang terkenal di Jakarta. Habib M Rafiq juga dikenal sebagai penulis buku manakib yang produktif, tercatat sudah 5 buku manakib ia terbitkan. Lahir di Palembang, 23 September 1974, sejak kecil ia selalu berada di lingkungan yang taat beragama. “Sejak kecil saya sering diajak ke berbagai majelis taklim di Palembang oleh sang ayahanda, Habib Lukman Al-Kaff Gathmyr. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa kiai dan habib yang masyhur,” kenang Habib M Rafiq.

Wajar, sebab ayahandanya memang dikenal oleh kalangan Habaib dan Ulama di Palembang. Wajar, karena sang kakek Habib M Rafiq, yakni Habib Abdullah Al-Kaff Gatmyr adalah seorang pejuang kemerdekaan RI yang mempunyai kedekatan khusus dengan Presiden RI 1 yakni Soekarno. Habib Abdullah Al-Kaff pernah menjadi anggota DPR-GR dan DPRS/MPRS dari fraksi Nahdlatul Ulama. Sang kakek, wafat pada tahun 1974 dan dimakamkan di Bandung.

Pengalaman masa kecil itu juga yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama. “Ketika masih kecil, saya pernah dititipkan ke Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah, Palembang. Di Palembang, sehari-hari saya tekun belajar agama. Pengalaman yang sungguh mengesankan,” ujarnya dengan senyum khasnya.

Lepas dari Madrasah Ibtidaiyah, ia kemudian melanjutkan ke Ponpes Ar-Riyadh, Palembang.sampai tahun 1990-an. Ia kemudian melanjutkan kembali pendidikan pesantren ke Pondok Pesantren di Jawa Barat, namun tidak berlangsung lama. Habib M Rafiq kemudian belajar pada Habib Umar bin Ahmad bin Syahab belajar tahun 1991 sampai 1997 sampai beliau meninggal. Pelajaran thariqah dan tasawuf banyak ditimba dari salah satu habib yang disepuhkan di Palembang itu. ”Beliau adalah salah seorang ulama di kota ini. Cara mengajarnya mengesankan.Di mana Habib Umar bin Ahmad Syahab dalam mengajar dengan jalan kasyaf, yakni dengan tidak pernah membuka kitab di depannya, dan itu berlangsung selama tujuh tahun.”

Banyak pengalaman berkesan ditimba oleh Habib M Rafiq terhadap gurunya itu, menurutnya Habib Umar adalah seorang ahlu kasyaf (kasful jalli). Ia sempat khalwat di tangan Habib Umar selama beberapa tahun ala adab tariqah alawiyah dan adabnya yang benar. ”Diantara orang-orang mukasyifin, hanya beberapa orang saja yang mencapai maqam seperti itu. Dan Habib Umar adalah salah satunya. Setiap gerakan hati saya selalu terpantau, beliau tahu apa yang tersimpan. Itu yang sangat luar biasa.”

Pesan dari Habib Umar kepadanya yang masih terkesan sampai sekarang yakni ‘menjadi lelaki yang sejati’. ”Saya pertama menyangka itu adalah kata mutiara. Cuma setelah diteliti, itu istilah jadilah ahli suluk sejati.”

Dakwah keliling sudah dimulai dari umur 7 tahun, ia bersama Habib Umar bin Abdul Aziz dan Habib Novel bin Abdullah Al-Kaff ke daerah Telang, Musi Banyuasin(Muba), Sungsang dan daerah-daerah terpentil di sekitar Palembang. Pada 1990-an mulai aktif mengajar di sekolah malam , Baitul Ulum dan saat itu juga pernah menjadi penyiar Radio. Selama menempuh pendidikan di pesantren Ar-Riyadh, ia sebenarnya tertarik ke dunia Kaligrafi, kebetulan ia memang senang melukis sketsa tinta Cina dan pensil. Kebetulan ia belajar Kaligrafi dengan seorang guru lulusan dari Darul Ulum, Mekkah yakni Ustadz Abdul Karim (dari Lampung), bahkan sempat menjadi kaligrafer profesional. Selama menempuh pendidikan di Madrasah, ia sudah banyak prestasi mulai juara Kaligrafi se-Provinsi Sumatera Selatan, ceramah tingkat kecamatan.

Tahun 1991 ia ke Jakarta dan melakukan iktikaf di masjid Darus Sa’adah, Cempaka Putih sampai setengah tahun lamanya dan tinggal di menara masjid sambil berkhalwat. Baru pada tahun 1992 mendirikan Majelis Taklim Al-Yusrain dan mengajar di sekitar daerah Galur, Senin, Jakarta Pusat. Ia mengajar kitab fiqh Safinatul Najah dan Adab Sulukil Murid karya Imam Abdullah bin Alwi Al-Hadad.

Ia sempat pulang ke Palembang karena ibundanya sakit. Majelisnya di Jakarta kemudian dipegang oleh Adiknya Habib Ahmad Kazim. Selama di Palembang ia juga merintis 40 hari peringatan Maulid berkeliling kampung berpindah-pindah tempat.

Yang diinginkan dalam 100 malam Maulid, karena menipisnya pengetahuan kaum muslimin sendiri terhadap ajaran-ajaran Islam, hukum syariat Islam dan sunnah Rasulullah SAW, yang mengakibatkan kesalahan persepsi dan kesesatan di dalam menginterpretasikan Islam ideal yang diinginkan oleh Rasulullah SAW sendiri sebagai Nabi pembawa risalah. Contohnya, dalam perangpun ada batasan-batasan atau hukum perangpun itu ada. Dan di dalam hukum-hukum fiqh yang jelas, orang banyak tidak tahu bilamana shalat dengan tidak memakai rukun, maka shalatnya tidak akan sah. Hal inilah yang kita ingin kita angkat ke permukaan, supaya orang-orang muslim mengetahui betapa pentingnya nilai ilmu pengetahuan di dalam Islam. Kita menginginkan akan lahir dari MT Al-Yusrain muslim-muslim yang cerdas dan benar-benar mengetahui sunnah Rasulullah SAW. Bukan sekedar orang-orang muslim yang sebenarnya bodoh, tetapi menganggap dirinya cerdas.

Lebih lanjut Habib M Rafiq menjelaskan, kalau Islam yang diinginkan tentu adalah Islam yang membawa Rahmat bagi alam semesta. “Islam tidak mengajarkan terorisme, karena Rasulullah SAW sendiri sangat penyayang. Apa yang dinginkan dalam Islam adalah kedamaian dan ketentraman. Cuma persoalaannya di kalangan umat Islam sendiri ada sebagain kecil karena tidak ada pengetahuan dan pengenalan, terjadi kontradiksi di kalangan kaum muslimin sendiri.

Untuk itulah, lanjutnya, kita harus kembali ke sunnah Rasulullah SAW, dengan mendekat pada apa yang disampaikan oleh para ulama. “Kaum muslimin untuk saat ini mesti hati-hati mengamati dengan seksama pertumbuhan aliran-aliran atau pemikiran yang timbul di kalangan kaum muslimin. Ini mengkhawatirkan. Belum lagi di daerah-daerah banyak tumbuh aliran sesat.”


Produktif menulis

Saat ini ia telah menulis 5 buku manakib, diantaranya yakni Manakib Kiswah Habaib Palembang, Manakib Al Faqih Al Muqadam, Manakib Syekh Alwi Al Ghuyur, Manakib Habib Abdurrahman Assegaf dan Syekh Muhammad bin Ali Mauladawileh, Manakib Habib Abdullah Alaydrus dan Manakib Syekh Abu Bakar bin Salim. ”Saya rasa ada kepentingan sejarah, karena diantara kalangan habaib dan para pencintanya perlu untuk mengenali mereka ini dan orang-orang yang belum mengenal. Alhamdulilah, buku-buku itu sudah beredar ke Malaysia dan sedang dialihbahasakan dalam bahasa Inggris.” Selain dalam lima buku, ia juga sedang menyelesaikan novel tasawuf dan buku-buku sejarah (manakib).

Di tengah kesibukannya mengarang buku, ia tidak melalaikan tugas pokoknya, yakni berdakwah di Majlis Taklim Al-Yusrain yang semakin hari banyak diikuti oleh kalangan anak muda.”Saya ingin mengelola taklim yang mandiri dan membantu kaum muslimin. Paling tidak anak didik kita bisa hidup mandiri di dunia, guna menuju kebahagiaan di akhirat .”

Tantangan dalam mengelola majlis taklim ini, menjadi ringan, manakala hambatan dapat diminimalisir. “Yang terpenting, dalam jamaah selalu ditumbuhkan prinsip kekeluargaan, diantara jamaah dididik untuk menjalin rasa ukhuwah dan semangat gotong royong untuk membangun serta mengembangan majelis Al Yusrain. Kuncinya, kebersamaan, toleransi dan saling menghormati.”

Majelis Taklim Al- Yusrain ini sifatnya terbuka bagi anggota maupun jamaah yang lain ingin bergabung. ”Sebanyak mungkin kita bisa terbuka dan bermasyarakat yang baik dengan akhlak yang bagus sehingga bisa diterima oleh masyarakat luas dan yang paling penting ilmu yang didapat dipraktikan di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Taklim ini sifatnya mingguan di di Jakarta Selatan, Kebagusan, Kalibata, Manggarai, Jagakarsa, Pomade, Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan lain-lain. Majelis ini menempati pusat sekretariat yang terletak di Jl Dr Saharjo, Gang Swadaya II No.50 RT 9/ RW 8, Manggarai, Jakarta Selatan (021) 70022505. Sementara itu kepengurusan Majlis sebagai Ketua; Habib M Rafiq bin Lukman Al-Kaff, dibantu Wakil Ketua sekaligus Ketua Cabang Jakarta Selatan yakni Sayid Muhammad bin Alwi Syahab, Habib Ahmad Kazim (Ketua Cabang Jakarta Pusat), Ustadz Nurul Fajar (Ketua Jakarta Barat) serta dibantu petugas sekretariat yakni Taslim dan Fathurrahman.

Kajian agama yang diajarkan meliputi pelajaran tasawuf, fiqh, tafsir, sejarah dan lain-lain. Adapun kitab-kitab yang menjadi acuan di majlis Al-Yusrain yakni kitab Safinatun Najah (fiqh), Rukun Islam yang wajib diketahui sedang disusun oleh Habib Muhammad Syahab, Syarahnya Nailul Roja’, Tarih Anwarul Muhammadiyah (Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani), Kitabul As-Syifa (Imam Qadhi Iyadh), Tafsir Al Munir, Tasawuf Adabul Sulukil Murid, An-Nashoih Ad-Diniyah (Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad)
Untuk pendalaman kajian agama lebih lanjut, kitab yang diajarkan yakni kitab Al Kibritul Ahmar (Syarah Qusairiyah) yang dikarang oleh Habib Abdullah Alaydrus, Ihya Ulimiddin dengan ikhtisar (syarh) Ihya, seperti Bidayatul Hidayah, Sirus Salikin karya Syekh Abdusshomad Al Palembani dan kitab-kitab yang dianjurkan oleh para Habib dan para ulama.

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons